cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
Menjaga Hati, Menemukan Identitas Refleksi Teologi Biblis-Komparatif Amsal 4:23 Dan Yoh 7:38 Dan Implikasinya Bagi Pergulatan Kaum Muda Di Era Digital Ardhiatama, William Fortunatus Dani; Isharianto , Rafael
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.279

Abstract

Fokus artikel ini adalah menafsirkan dan merefleksikan makna “hati” sebagaimana dipresentasikan dalam Amsal 4, 23 dan Injil Yohanes 7, 38 dalam konteks perjuangan identitas yang dihadapi kaum muda dewasa ini. Realitas krisis identitas di antara kaum muda di era digital merupakan kenyataan yang tak terelakkan. Mereka sering gagal dalam menguasai diri dan kehidupan batin mereka, yang berujung pada perilaku yang merugikan.Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegese komparatif, dimana kedua teks biblis tersebut dikaji secara kritis dan dikaitkan dengan realitas sosial kontemporer yang dihadapi oleh kaum muda. Temuan utama dari kajian ini menunjukkan bahwa hati merupakan jantung kehidupan manusia, dari mana semua aktivitas manusia bersumber. Karena itu hati harus selalu dijaga dengan tekun dan diarahkan kepada Kristus. Hati yang diarahkan kepada Kristus akan menghasilkan banyak buah. Dalam konteks dewasa ini menjaga hati bagi kaum muda berarti mengembangkan disposisi batin untuk penguasaan diri. Dengan penguasaan diri kaum muda akan mampu merawat hati mereka di dalam Kristus, dan dengan demikian menemukan makna hidup, identitas sejati mereka, dan panggilan luhur hidupnya.
Komitmen Spiritual Gen-Z di Era Virtual Identity Crisis: Perspektif Intertekstual Alkitabiah dari Amsal 3:1–6 dan Yohanes 14:1–6 Jeraman , Gaspar Triono; Pidyarto Gunawan, Henricus
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.280

Abstract

Generasi Z (Gen-Z), hidup di tengah dunia digital yang menciptakan krisis identitas virtual yakni suatu ketegangan antara citra diri maya dan eksistensi nyata yang berdampak pada spiritualitas mereka. Artikel ini merespons fenomena tersebut dengan mengangkat dua teks Kitab Suci, Amsal 3:1–6 dan Yohanes 14:1–6, sebagai dasar refleksi teologis. Kajianya terdiri dari: isi dan tafsiran kedua teks, relasi intertekstual di antara keduanya, serta pesan teologisnya bagi Gen-Z yang mengalami krisis identitas spiritual. Metode yang digunakan adalah hermeneutika intertekstual, dengan menelusuri gema makna antara kedua teks berdasarkan pendekatan Richard B. Hays. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amsal menekankan hidup dalam kasih, setia, dan kepercayaan kepada Tuhan, sedangkan Yohanes menampilkan Yesus sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup, sebagai jawaban definitif atas pencarian eksistensial manusia. Keduanya memperlihatkan kesinambungan teologis dari hikmat menuju relasi personal dengan Kristus. Dalam kedua perikop ini, iman dipahami bukan sekadar landasan dan imperatif moral, melainkan proses dan pilihan definitif untuk hidup dalam kebenaran Allah, yang menjadi solusi spiritual bagi krisis identitas digital yang dialami Gen-Z.
Spiritualitas Awam dalam Penggunaan Media Sosial: Suatu Refleksi atas Amsal 4:18 dan Yohanes 8:12 dalam Konteks Menjadi Terang di Dunia Digital Fernandes , Stefanus; Gunawan, Henricus Pidyarto
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.281

Abstract

Era digital telah menjadi ruang baru bagi umat Kristiani dalam mengekspresikan iman dan identitas moralnya. Namun, dinamika media sosial juga membawa tantangan etis yang perlu ditanggapi secara spiritual. Artikel ini bertujuan untuk membangun pemahaman tentang pentingnya spiritualitas terang dalam kehidupan digital umat Kristiani dengan mendasarkan Refleksi pada dua teks Kitab Suci, yaitu Amsal 4:18 dan Yohanes 8:12. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutik biblis guna menafsirkan makna teks secara kontekstual dan aplikatif terhadap realitas media sosial. Kedua ayat tersebut dijadikan sebagai fondasi etis dan spiritual dalam membentuk karakter digital umat. Kajian ini = mengkaji relasi antara terang dan identitas moral umat, serta implikasinya terhadap komunikasi etis, kesaksian iman, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terang dalam pemahaman biblis bukan hanya simbol spiritual, tetapi menjadi pedoman konkret dalam membentuk kepribadian digital yang otentik dan bermisi. Kontribusi utama artikel ini adalah menyajikan kerangka spiritualitas terang yang dapat menjadi panduan praktis bagi umat awam untuk hidup setia pada nilai-nilai Injili di tengah kompleksitas dunia digital.
Ilusi Kehendak Bebas: Algoritma dan Pilihan Moral di Era Digital, Telaah Teologi Moral Katolik ., Yustinus
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.282

Abstract

Artikel ini menelaah tantangan moral yang ditimbulkan oleh algoritma era digital terhadap kehendak bebas manusia dari perspektif Teologi Moral Katolik. Di era di mana algoritma semakin membentuk persepsi, preferensi, dan keputusan manusia, artikel ini berargumen bahwa mekanisme prediksi, personalisasi, dan optimasi algoritmik berpotensi mengikis otonomi moral manusia. Melalui analisis yang mendalam, artikel ini menunjukkan bagaimana algoritma menciptakan "filter bubble" yang membatasi pencarian kebenaran, mereduksi martabat manusia menjadi kumpulan data yang dapat dioptimasi, dan menimbulkan krisis tanggung jawab melalui sifatnya yang "black box" dan opaque. Kerangka antropologi Katolik, yang berpusat pada doktrin Imago Dei, kehendak bebas, dan panggilan untuk berelasi, digunakan untuk mendiagnosis gesekan-gesekan kritis ini. Sebagai respons, artikel ini mengusulkan sebuah etika Katolik untuk era algoritmik yang berlandaskan pada prinsip martabat manusia, kebijaksanaan (prudentia), kesejahteraan bersama (common good), solidaritas dan subsidiaritas. Kesimpulannya menegaskan bahwa meskipun algoritma adalah alat yang powerful, ia harus tunduk pada pertimbangan moral manusia agar dapat melayani panggilan manusia yang seutuhnya, bukan menggantikan atau merusaknya
Algoritma vs Kehendak Bebas: Pilihan Moral dalam Era Digital Suwito, Benny
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.283

Abstract

Perkembangan teknologi digital pada abad ke-21 telah mengubah secara mendasar cara manusia berpikir, berinteraksi, dan mengambil keputusan moral. Salah satu bentuk nyata dari kemajuan tersebut ialah hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau Akal Imitasi yang bekerja melalui sistem algoritma. Algoritma dirancang untuk membantu manusia dalam pengambilan keputusan, namun di sisi lain dapat memengaruhi kebebasan manusia dalam menentukan pilihan moralnya. Artikel ini menelaah secara kritis relasi antara algoritma dan kehendak bebas dalam konteks kehidupan kaum muda yang hidup di tengah budaya digital. Dengan menggunakan metode penelitian pustaka dan pendekatan fenomenologi budaya, tulisan ini menelusuri sejarah perkembangan AI, fungsi algoritma dalam media sosial, serta konsekuensi etis yang ditimbulkannya. Dalam terang ajaran Gereja Katolik, khususnya melalui dokumen Antiqua et Nova, manusia tetap memiliki martabat dan kebebasan sebagai citra Allah (imago Dei) untuk memilih yang baik berdasarkan hati nurani yang terformasi dengan benar. Oleh karena itu, pendampingan pastoral yang menekankan pembinaan hati nurani menjadi kunci bagi kaum muda agar dapat menggunakan teknologi digital secara bijak dan bertanggung jawab. Artikel ini menyimpulkan bahwa algoritma tidak boleh menggantikan peran kehendak bebas manusia, melainkan harus menjadi sarana yang dikelola secara etis demi perkembangan moral dan kemanusiaan yang otentik.
Spiritualitas Kaum Muda di Tengah Perkotaan dalam Era Digital Pius Manik , Robert; Made Sudhiarsa , Raymundus I; B. Anggur , Evander; M. Oinik , Leni; Pusius Paleng , Marto
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.284

Abstract

Spiritualitas kaum muda di era digital sangatlah penting. Apalagi di tengah kemajuan teknologi yang mempermudah kaum muda dalam mencari berbagi informasi yang mereka perlukan. Melihat kemudahan seperti ini kaum muda mulai kurang menyadari spiritualitas yang mereka miliki. Hal ini membuat mereka terjebak di era digital dan terlihat dari sikap mereka yang individualis. Sikap seperti ini menjadi sebuah persoalan dalam mewujudkan spiritualitas dalam kehidupan di era digital. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka. Tujuan dari penulisan ini adalah melihat problem yang dialami oleh kaum muda tentang spiritualitas di era digital ini. Sebab mereka mulai kurang menyadari betapa pentingnya spiritualitas. Dalam penulisan ini penulis juga menemukan bahwa kaum muda masih memiliki sikap individualis. Maka perziarahan spiritualitas ini harus memiliki relasi, kerendahan hati dan kesadaran dari kaum muda di era digital
Pier Giorgio Frassati & Carlo Acutis: Darah Muda, Jiwa Kudus! Studi Kanonik tentang “Kanonisasi” Galed, Daniel Ortega
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.285

Abstract

Kajian kanonik ini membahas mengenai evolusi proses kanonisasi dalam Gereja dari masa ke masa. Pengetahuan mengenai para kudus mungkin adalah bagian historis yang paling unik, luar biasa dan menakjubkan, sebab ia bercerita tentang heroisme, dedikasi dan keberanian yang ditinggalkan oleh putra-putri Gereja. Dalam wajah Para Kudus, Gereja Kristus tak kehilangan arah. Teladan mereka memungkinkan kekudusan ditemukan kembali di tiap generasi. Penetapan legislasi kanonik dalam hal ini memegang peranan ganda: pertama, mendokumentasikan secara normatif dan sahih kekudusan para anggotanya, kedua, menunjukkan “jalan” kekudusan ini kepada semua anggota Gereja, tak terkecuali bagi kaum muda. Dalam berbagai bulla kanonisasi, para kudus sering disamakan sebagai “mereka” yang datang “pada waktu yang tepat” untuk menjawab kebutuhan Gereja dan dunia. Sintesis dari telaah kanonik ini menunjukkan bahwa kaum muda, tanpa diragukan, adalah “yang tepat” di era teknologi hari-hari ini. Karenanya, kekudusan bagi mereka bukanlah utopia. Carlo dan Giorgio, setidaknya, telah membuktikannya
Iman di Era Digital: Pengaruh Media Sosial terhadap Formasi Rohani Orang Muda Katolik Generasi Z di Malang Madyo Utomo, Kurniawan Dwi
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.286

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaruh media sosial terhadap pembentukan dan perkembangan iman orang muda Katolik Generasi Z. Latar belakang penelitian ini berangkat dari realitas bahwa media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda, memengaruhi cara mereka berelasi, mencari makna, dan mengekspresikan iman. Tujuan penelitian ini adalah memahami bagaimana media sosial membentuk kehidupan rohani orang muda serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memperkuat atau justru melemahkan pertumbuhan iman di tengah budaya digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, melalui wawancara mendalam terhadap enam belas mahasiswa Katolik yang aktif menggunakan media sosial. Analisis tematik dilakukan untuk menemukan pola pengalaman, persepsi, dan refleksi spiritual partisipan terhadap penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh ganda terhadap kehidupan iman. Di satu sisi, ia dapat melemahkan iman melalui perbandingan sosial, kecanduan digital, dan berkurangnya relasi tatap muka. Namun di sisi lain, media sosial juga memperkaya iman dengan menyediakan akses mudah terhadap Kitab Suci, homili, renungan rohani, dan komunitas iman daring. Ketahanan iman orang muda bergantung pada dukungan lingkungan, literasi digital, dan disiplin rohani pribadi.
Formatio Generasi Milenial dalam Perspektif Teologi Proses Firmanto , Antonius Denny; R.D. Bory , Agustinus; Abin, Deni; Dial , Martina; Mario Nusa, Michael
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.287

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi milenial membangun relasi dan komunitas, menghadirkan problematika formasi iman seperti lemahnya ikatan antarindividu, kecenderungan individualisme, dan pengalaman keterasingan dalam komunitas virtual. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka terhadap literatur teologi proses Alfred North Whitehead, pemikiran Marjorie Suchocki, serta teori perkembangan manusia, untuk merumuskan kerangka konseptual human formation bagi generasi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa teologi proses, yang menekankan realitas sebagai proses dinamis dan relasional, membuka ruang untuk mendefinisikan ulang formasi iman bukan sebagai transfer doktrin statis, melainkan sebagai perjalanan berkesinambungan yang menekankan kebebasan, kreativitas, dan keterkaitan. Empat pilar formasi ditawarkan: katekese digital, komunitas proses, pedagogi partisipatif, dan spiritualitas dinamis. Dengan demikian, artikel ini memberi kontribusi baru bagi pastoral digital dengan menghadirkan teologi proses sebagai paradigma alternatif dalam merumuskan formasi iman generasi digital native.
Virtual Environment : Tinjauan Psikologi pada Kehidupan di Ruang Digital Simanjuntak , Ermida
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.288

Abstract

Virtual environment adalah lingkungan dunia maya yang dibentuk oleh internet dan banyak diakses oleh kaum muda di Indonesia khususnya individu di tahap perkembangan remaja dan emerging adulthood. Akses internet yang dilakukan oleh kaum muda berpotensi menimbulkan beberapa tantangan antara lain : problematic internet use, online disinhibition, parasocial interaction dan media multitasking. Rekomendasi yang dapat diberikan untuk meminimalkan dampak negatif dari penggunaan internet antara lain : melakukan evaluasi diri yang tepat sebelum melaksanakan media multitasking, mengenali akar masalah dari perilaku ketergantungan internet yang dialami oleh individu, menerapkan intervensi pada gadget untuk mengendalikan penggunaan internet, menerapkan program digital detox, edukasi mengenai literasi media dan penerapan parental monitoring untuk penggunaan internet.