cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
Komitmen Spiritual Gen-Z di Era Virtual Identity Crisis: Perspektif Intertekstual Alkitabiah dari Amsal 3:1–6 dan Yohanes 14:1–6 Jeraman, Gaspar Triono; Gunawan, Henricus Pidyarto
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.283

Abstract

Generasi Z (Gen-Z), hidup di tengah dunia digital yang menciptakan krisis identitas virtual yakni suatu ketegangan antara citra diri maya dan eksistensi nyata yang berdampak pada spiritualitas mereka. Artikel ini merespons fenomena tersebut dengan mengangkat dua teks Kitab Suci, Amsal 3:1–6 dan Yohanes 14:1–6, sebagai dasar refleksi teologis. Kajianya terdiri dari: isi dan tafsiran kedua teks, relasi intertekstual di antara keduanya, serta pesan teologisnya bagi Gen-Z yang mengalami krisis identitas spiritual. Metode yang digunakan adalah hermeneutika intertekstual, dengan menelusuri gema makna antara kedua teks berdasarkan pendekatan Richard B. Hays. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amsal menekankan hidup dalam kasih, setia, dan kepercayaan kepada Tuhan, sedangkan Yohanes menampilkan Yesus sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup, sebagai jawaban definitif atas pencarian eksistensial manusia. Keduanya memperlihatkan kesinambungan teologis dari hikmat menuju relasi personal dengan Kristus. Dalam kedua perikop ini, iman dipahami bukan sekadar landasan dan imperatif moral, melainkan proses dan pilihan definitif untuk hidup dalam kebenaran Allah, yang menjadi solusi spiritual bagi krisis identitas digital yang dialami Gen-Z.
Menjaga Hati, Menemukan Identitas Refleksi Teologi Biblis-Komparatif Amsal 4:23 dan Yoh 7:38 dan Implikasinya bagi Pergulatan Kaum Muda di Era Digital Ardhiatama, William Fortunatus Dani; Isharianto , Rafael
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.284

Abstract

Fokus artikel ini adalah menafsirkan dan merefleksikan makna “hati” sebagaimana dipresentasikan dalam Amsal 4, 23 dan Injil Yohanes 7, 38 dalam konteks perjuangan identitas yang dihadapi kaum muda dewasa ini. Realitas krisis identitas di antara kaum muda di era digital merupakan kenyataan yang tak terelakkan. Mereka sering gagal dalam menguasai diri dan kehidupan batin mereka, yang berujung pada perilaku yang merugikan.Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegese komparatif, dimana kedua teks biblis tersebut dikaji secara kritis dan dikaitkan dengan realitas sosial kontemporer yang dihadapi oleh kaum muda. Temuan utama dari kajian ini menunjukkan bahwa hati merupakan jantung kehidupan manusia, dari mana semua aktivitas manusia bersumber. Karena itu hati harus selalu dijaga dengan tekun dan diarahkan kepada Kristus. Hati yang diarahkan kepada Kristus akan menghasilkan banyak buah. Dalam konteks dewasa ini menjaga hati bagi kaum muda berarti mengembangkan disposisi batin untuk penguasaan diri. Dengan penguasaan diri kaum muda akan mampu merawat hati mereka di dalam Kristus, dan dengan demikian menemukan makna hidup, identitas sejati mereka, dan panggilan luhur hidupnya.
Takut Akan Tuhan Sebagai Dasar Hidup Kaum Muda: Telaah Amsal 1:7 dalam Konteks Milenial dan Gen Z Sianturi, Krisna Ricardo; Wardoyo, Gregorius Tri
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.285

Abstract

Generasi Milenial dan Gen Z hidup dalam era yang ditandai oleh kemajuan teknologi, arus informasi yang cepat, serta pergeseran nilai-nilai sosial dan spiritual. Di tengah realitas tersebut, mereka menghadapi tantangan serius dalam membentuk kehidupan yang bermakna dan berakar secara moral maupun spiritual. Relativisme moral, individualisme, dan sekularisme menjadi karakter dominan yang mengikis ketundukan terhadap otoritas ilahi, dan menyebabkan banyak kaum muda mengalami kebingungan nilai, kekosongan rohani, serta krisis makna hidup. Dalam konteks ini, Amsal 1:7 “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan yang bijaksana dan bertanggung jawab. Artikel ini bertujuan untuk menelaah makna “takut akan Tuhan” secara eksegetis dan teologis dalam terang Amsal 1:7, serta mengaitkannya dengan tantangan spiritual dan etika yang dihadapi generasi Milenial dan Gen Z. Penelitian ini menunjukkan bahwa “takut akan Tuhan” bukan sekadar rasa takut dalam arti negatif, melainkan sikap hormat, tunduk, dan kesadaran akan kehadiran dan otoritas Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Sikap ini merupakan dasar dari hikmat sejati, yang membimbing kaum muda untuk hidup dengan arah yang jelas, nilai-nilai yang kokoh, serta spiritualitas yang berakar. Dengan fondasi ini, kaum muda didorong untuk tidak hanya bertahan dalam arus zaman, tetapi juga menjadi agen transformasi yang membawa terang di tengah dunia yang gelap. Peran komunitas iman sangat penting dalam menanamkan nilai ini agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara spiritual dan etis.
Spiritualitas Kaum Muda di Tengah Perkotaan dalam Era Digital Manik, Robert Pius; I Made Sudhiarsa, Raymundus; B. Anggur, Evander; Oinik, Leni M.; Paleng, Marto Pusius
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.286

Abstract

Spiritualitas kaum muda di era digital sangatlah penting. Apalagi di tengah kemajuan teknologi yang mempermudah kaum muda dalam mencari berbagi informasi yang mereka perlukan. Melihat kemudahan seperti ini kaum muda mulai kurang menyadari spiritualitas yang mereka miliki. Hal ini membuat mereka terjebak di era digital dan terlihat dari sikap mereka yang individualis. Sikap seperti ini menjadi sebuah persoalan dalam mewujudkan spiritualitas dalam kehidupan di era digital. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka. Tujuan dari penulisan ini adalah melihat problem yang dialami oleh kaum muda tentang spiritualitas di era digital ini. Sebab mereka mulai kurang menyadari betapa pentingnya spiritualitas. Dalam penulisan ini penulis juga menemukan bahwa kaum muda masih memiliki sikap individualis. Maka perziarahan spiritualitas ini harus memiliki relasi, kerendahan hati dan kesadaran dari kaum muda di era digital
Formatio Generasi Milenial dalam Perspektif Teologi Proses Firmanto, Antonius Denny; R.D. Bory, Agustinus; Abin, Deni; Dial, Martina; Mario Nusa, Michael
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.287

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi milenial membangun relasi dan komunitas, menghadirkan problematika formasi iman seperti lemahnya ikatan antarindividu, kecenderungan individualisme, dan pengalaman keterasingan dalam komunitas virtual. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka terhadap literatur teologi proses Alfred North Whitehead, pemikiran Marjorie Suchocki, serta teori perkembangan manusia, untuk merumuskan kerangka konseptual human formation bagi generasi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa teologi proses, yang menekankan realitas sebagai proses dinamis dan relasional, membuka ruang untuk mendefinisikan ulang formasi iman bukan sebagai transfer doktrin statis, melainkan sebagai perjalanan berkesinambungan yang menekankan kebebasan, kreativitas, dan keterkaitan. Empat pilar formasi ditawarkan: katekese digital, komunitas proses, pedagogi partisipatif, dan spiritualitas dinamis. Dengan demikian, artikel ini memberi kontribusi baru bagi pastoral digital dengan menghadirkan teologi proses sebagai paradigma alternatif dalam merumuskan formasi iman generasi digital native.
Ilusi Kehendak Bebas: Algoritma dan Pilihan Moral di Era Digital, Telaah Teologi Moral Katolik ., Yustinus
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.288

Abstract

Artikel ini menelaah tantangan moral yang ditimbulkan oleh algoritma era digital terhadap kehendak bebas manusia dari perspektif Teologi Moral Katolik. Di era di mana algoritma semakin membentuk persepsi, preferensi, dan keputusan manusia, artikel ini berargumen bahwa mekanisme prediksi, personalisasi, dan optimasi algoritmik berpotensi mengikis otonomi moral manusia. Melalui analisis yang mendalam, artikel ini menunjukkan bagaimana algoritma menciptakan "filter bubble" yang membatasi pencarian kebenaran, mereduksi martabat manusia menjadi kumpulan data yang dapat dioptimasi, dan menimbulkan krisis tanggung jawab melalui sifatnya yang "black box" dan opaque. Kerangka antropologi Katolik, yang berpusat pada doktrin Imago Dei, kehendak bebas, dan panggilan untuk berelasi, digunakan untuk mendiagnosis gesekan-gesekan kritis ini. Sebagai respons, artikel ini mengusulkan sebuah etika Katolik untuk era algoritmik yang berlandaskan pada prinsip martabat manusia, kebijaksanaan (prudentia), kesejahteraan bersama (common good), solidaritas dan subsidiaritas. Kesimpulannya menegaskan bahwa meskipun algoritma adalah alat yang powerful, ia harus tunduk pada pertimbangan moral manusia agar dapat melayani panggilan manusia yang seutuhnya, bukan menggantikan atau merusaknya
Algoritma vs Kehendak Bebas: Pilihan Moral dalam Era Digital suwito, benny
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.290

Abstract

Perkembangan teknologi digital pada abad ke-21 telah mengubah secara mendasar cara manusia berpikir, berinteraksi, dan mengambil keputusan moral. Salah satu bentuk nyata dari kemajuan tersebut ialah hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau Akal Imitasi yang bekerja melalui sistem algoritma. Algoritma dirancang untuk membantu manusia dalam pengambilan keputusan, namun di sisi lain dapat memengaruhi kebebasan manusia dalam menentukan pilihan moralnya. Artikel ini menelaah secara kritis relasi antara algoritma dan kehendak bebas dalam konteks kehidupan kaum muda yang hidup di tengah budaya digital. Dengan menggunakan metode penelitian pustaka dan pendekatan fenomenologi budaya, tulisan ini menelusuri sejarah perkembangan AI, fungsi algoritma dalam media sosial, serta konsekuensi etis yang ditimbulkannya. Dalam terang ajaran Gereja Katolik, khususnya melalui dokumen Antiqua et Nova, manusia tetap memiliki martabat dan kebebasan sebagai citra Allah (imago Dei) untuk memilih yang baik berdasarkan hati nurani yang terformasi dengan benar. Oleh karena itu, pendampingan pastoral yang menekankan pembinaan hati nurani menjadi kunci bagi kaum muda agar dapat menggunakan teknologi digital secara bijak dan bertanggung jawab. Artikel ini menyimpulkan bahwa algoritma tidak boleh menggantikan peran kehendak bebas manusia, melainkan harus menjadi sarana yang dikelola secara etis demi perkembangan moral dan kemanusiaan yang otentik.
Kaum Muda sebagai Agen Demokrasi Digital: Analisis Peran Teknologi dalam Partisipasi Politik Generasi Digital Menurut Christian Fuchs Buru, Cosmas; Balzano Japa, Hendrikus; Patriano Vano, Matias; Musi, Ronaldo; Edison, Viktorinus
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.291

Abstract

Fokus tulisan ini adalah menelaah kehidupan kaum muda dalam dunia politik di tengah derasnya kemajuan media digital. Tulisan ini membahas partisipasi kaum muda (Gen Z) dalam menggunakan gadgad untuk berpartisipasi secara langsung menuju kehidupan ynag lebih demokratis. Tulisan ini didasarkan pada pemikiran kritis Christian Fuchs seorang filsuf sekaligus sosiolog asal Austria. Fuchs melihat peran penting media digital sebagai ruang perjumpaan yang baru bagi siapa pun pada zaman ini terutama kaum muda. Ia berpendapat bahwa media digital akan sangat berguna atau justru merusak keberadaan demokrasi dalam dunia politik tergantung bagaimana pengguna memakainya secara bijak dan bertanggung jawab. Dalam konteks ini, kaum muda memilik peran yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas demokrasi itu sendiri di tangah derasnya arus perubahan media digital dengan fitur-fitur yang ada. Di Pundak kaum muda, arus perubahan itu diletakkan. Di pundak kaum muda mutu demokrasi itu sendiri menjadi dasar untuk memperluas janngkauan demokrasi melalui kegiatan-kegiatan online terutama memajukan opini-opini publik yang bernuansa kritis dan membangun untuk menolak kebijakan pemerintah yang menyimpang dari konsep kehidupan bersama. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dan kajian daftar pustaka berdasarkan kajian pekimiaran Christian Fuchs. Temuan dari tulisan ini ialah bahwa di tengah arus perubahan media digital dan algoritma-algoritma yang termuat di dalamnya sangat penting untuk meningkatkan pendidikan literasi digital untuk kaum muda agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam menggunakan media digital
Virtual Environment : Tinjauan Psikologi pada Kehidupan di Ruang Digital Simanjuntak, Ermida
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.292

Abstract

The virtual environment is a cyberspace formed by the internet and is widely accessed by young people in Indonesia, particularly individuals in the developmental stages of adolescence and emerging adulthood. Internet access among youth has the potential to give rise to several challenges including : problematic internet use, online disinhibition, parasocial interaction, and media multitasking. Recommendations that can be provided to minimize the negative impacts of internet use include : conducting proper self-evaluation before engaging in media multitasking, identifying the root causes of individuals’ internet dependency behaviours, implementing gadget-based interventions to regulate internet use, applying digital detox programs, providing education on media literacy, and applying parental monitoring for internet use. Keywords : virtual environment, problematic internet use, online disinhibition, parasocial interaction, media multitasking
Kaum Muda Katolik Perantau Manggarai dan Tantangan Iman di Tengah Media Sosial Karwan, Alfonsius; Nino, Devantus; Panggut, Longginus Magul
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.293

Abstract

Tulisan ini berfokus pada bagaimana media sosial memengaruhi iman dan relasi kaum muda Katolik dengan Gereja. Media sosial di satu sisi menjadi sarana baru bagi kaum muda untuk mengakses informasi rohani, membangun komunitas iman secara daring, serta mengekspresikan identitas religius mereka. Namun, di sisi lain, media sosial juga menghadirkan tantangan berupa distraksi, informasi berlebih, dan gaya hidup instan yang berpotensi melemahkan kedalaman iman serta keterlibatan dalam kehidupan menggereja. Dengan menggunakan metode wawancara terhadap beberapa kaum muda Katolik, penelitian ini menemukan bahwa media sosial memberikan dampak ambivalen: membantu mereka memperkaya iman sekaligus menggiring mereka pada praktik beriman yang lebih dangkal dan terfragmentasi. Oleh karena itu, refleksi kritis terhadap penggunaan media sosial menjadi penting, baik bagi kaum muda itu sendiri maupun bagi Gereja dalam merancang strategi pastoral yang relevan dengan dunia digital