cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
Makna Digital Activism bagi Generasi Z di Paroki Maria Ratu Semesta Alam Sungai Durian dalam Tinjauan Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer Aldeo, Vinsensius Mischa; Agung, Gregorius
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.294

Abstract

Studi ini berfokus pada makna aktivisme digital (AD) bagi Generasi Z di Paroki Maria Ratu Semesta Alam Sungai Durian, dengan menggunakan teori interaksionisme simbolik dari Herbert Blumer sebagai kerangka teoritis. Aktivisme digital adalah bentuk keterlibatan sosial-politik yang menggunakan teknologi digital untuk mengorganisasi, mengadvokasi, dan menyuarakan perubahan. AD bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan tindakan simbolik yang mencerminkan identitas, solidaritas, dan tanggung jawab moral. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam dengan lima informan Gen Z yang aktif di media sosial dan telah terlibat dalam kampanye AD. Analisis dilakukan dengan memosisikan makna sebagai konstruksi sosial yang dibentuk dan terus diperbarui melalui interaksi. Temuan menunjukkan bahwa AD dipahami dalam berbagai cara: sebagai simbol perjuangan dan kepedulian sosial, sebagai sarana solidaritas, serta sebagai bentuk ekspresi emosional. Makna-makna ini dibentuk melalui interaksi dengan teman sebaya, komunitas, dan wacana publik di platform digital. Dengan demikian, AD berfungsi sebagai arena simbolik tempat identitas dan solidaritas dinegosiasikan, meskipun tetap bersifat ambivalen karena dapat mendorong kesadaran kritis tetapi juga berisiko menjadi partisipasi dangkal. Studi ini menyarankan agar paroki memberikan panduan literasi digital dan mendorong keterkaitan antara aktivisme digital dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian lanjutan disarankan untuk memperluas jumlah responden dan mengeksplorasi hubungan antara AD dan keterlibatan sosial secara luring.
Menggali Makna Kegiatan Kumpul Bersama bagi Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Gembala Baik – Batu: Perspektif Interaksi Simbolik Dwi Kristiyanto , Albertus Agung; Manurung , Jona Dipa
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.295

Abstract

Penelitian ini berfokus pada mencari makna dibalik suatu fenomena sosial yang terjadi pada orang muda katolik (OMK) Paroki Gembala Baik – Batu. Fenomena yang dimaksud tersebut ialah, interaksi antarpribadi yang terdapat dalam kegiatan kumpul-kumpul bareng yang sering dilakukan di base camp paroki. Mereka para orang muda katolik paroki Gembala Baik – Batu, sering melakukan kumpul bersama – bareng. Kumpul tersebut bersifat santai, tidak formal sama sekali. Namun, kumpul tersebut kerap kali memunculkan kesan bahwa mereka kurang kerjaan. Fenomena inilah yang hendak digali maknanya oleh penulis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam paper ini terdapat dua cara yaitu, library research-penelitian kepustakaan dan wawancara. Dua metode tersebut digabungkan agar memperoleh hasil yang akurat, maksimal, dan faktual. Penelitian ini telah memperoleh hasil bahwa kumpul bersama – bareng yang dilakukan oleh orang muda katolik (OMK) Paroki Gembala Baik – Batu memiliki makna yang mendalam dan beragam. Selain makna kebersamaan, kerukunan, dan persaudaraan, juga terdapat makna belajar bersama, berbagi pengetahuan dan keterampilan bersama
Analisis Dramaturgi Erving Goffman: Panggung Iman Orang Muda Katolik di tanah Rantau dalam Era Digital Niko, Nestro Roki; Sueng, Lorensius
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.296

Abstract

Permasalahan menjaga identitas religius di era digital menjadi tantangan bagi orang muda Katolik Generasi Z, khususnya yang hidup di tanah rantau. Mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sambil tetap memelihara iman Katolik yang diwariskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana orang muda Katolik Generasi Z menampilkan dan mempraktikkan identitas iman mereka di ruang publik dan digital, serta strategi manajemen kesan yang digunakan dalam menghadapi tantangan budaya populer dan sekularisme. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposif dan data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur serta studi pustaka. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori dramaturgi Erving Goffman. Hasil menunjukkan bahwa para informan mengekspresikan iman melalui dua panggung: front stage (media sosial dan ruang publik) dan back stage (doa pribadi dan komunitas kecil). Identitas religius mereka ditampilkan secara strategis namun tetap berakar pada spiritualitas pribadi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa iman tidak hanya diwarisi, tetapi secara aktif dihidupi, ditampilkan, dan dimaknai ulang di tengah kehidupan digital dan diaspora
Eksistensialisme di Era Algoritma: Jean-Paul Sartre, TikTok, dan Krisis Identitas Diri Pandor, Pius
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.297

Abstract

Artikel ini membahas fenomena eksistensi manusia dalam dunia digital kontemporer dengan menyoroti platform TikTok sebagai ruang performatif yang dibentuk oleh algoritma, viralitas, dan estetika kurasi diri dalam lensa pemikiran Jean-Paul Sartre. Tujuan utama artikel ini adalah untuk menganalisis bagaimana kebebasan, tanggung jawab, dan kontruksi makna sebagai tema sentral dalam eksistensialisme Jean-Paul Sartre ditantang oleh struktur teknologis TikTok. Melalui metode pendekatan kualitatif-filosofis, artikel ini mengeksplorasi bagaimana pengguna TikTok kerap mengalami kondisi mauvaise foi ‘ketidakjujuran terhadap diri sendiri’, ketika tindakan dan identitas digital lebih ditentukan oleh algoritma dan ekspektasi eksternal daripada pilihan sadar dan reflektif. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa TikTok menciptakan bentuk baru dari krisis makna di mana kebebasan eksistensial terancam oleh siklus performa instan, pencitraan yang seragam, dan validasi algoritmik. Meski demikian, artikel ini juga menunjukkan bahwa TikTok bukanlah ruang yang sepenuhnya meniadakan eksistensi otentik sebaliknya ia menyimpan potensi sebagai medan pencarian makna jika digunakan dengan penuh kesadaran reflektif dan ditopang oleh nilai-nilai etis. Kebaruan yang ditawarkan artikel ini terletak pada penerapan langsung konsep-konsep kunci Sartrean—seperti kebebasan, tanggung jawab, mauvaise foi, dan kontruksi makna dalam melakukan analisis kritis terhadap dinamika media sosial, secara khusus TikTok.
Iman, Belarasa dan Solidaritas : Relevansi Beato Frederic Ozanam bagi Orang Muda Katolik di Era Digital Iswandir, Lorentius; Jimiardi , Timotius; Paulus Daniel, Andreas Christo
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.298

Abstract

Beato Frederic Ozanam (1813-1853) adalah seorang intelektual muda Katolik Perancis yang dikenal sebagai pendiri Serikat Sosial Vincentius (SSV) Di usia yang relatif singkat, ia berhasil mewariskan sebuah spiritualitas iman yang berbela rasa dan diwujudkan dalam solidaritas dengan kaum miskin. Artikel ini hendak menyoroti relevansi figur Ozanam bagi orang muda Katolik di era digital dengan menggunakan pendekatan historis, teologis, dan pastoral. Melalui penelusuran historis, ditampilkan konteks kehidupan Ozanam yang bergulat dengan persoalan sosial abad ke-19. Secara teologis, iman dan cintanya pada Kristus yang menemukan ekspresi nyata dalam pelayanan kepada orang miskin. Sedangkan dari sisi pastoral, pengalaman Ozanam menginspirasi keterlibatan kaum muda Katolik masa kini untuk membangun solidaritas melalui jejaring digital dan pelayanan nyata di tengah masyarakat. Tulisan ini menegaskan bahwa teladan Ozanam tetap relevan dalam mendampingi kaum muda Katolik, termasuk di Indonesia, agar semakin hidup dalam iman, belarasa, dan solidaritas.
Scroll, Like, Repeat: Analisis Kritis Komunikasi Orang Muda dalam Budaya Digital Kontemporer Mbake Woka , Agustino Basten; Doja , Alfredsius Ngese; Dwi Julio, Leonardo Rama; Abi , Maksimus; Doni , Romansyah
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.264

Abstract

Tulisan ini membahas fenomena pola komunikasi dangkal dan repetitif yang berkembang di kalangan orang muda dalam ekosistem budaya digital kontemporer. Fokus utama kajian ini adalah aktivitas “scroll, like, repeat” di media sosial seperti Instagram dan TikTok yang telah menggantikan bentuk komunikasi interpersonal yang reflektif dengan interaksi instan, simbolik dan minim makna. Penelitian ini mengevaluasi bagaimana budaya digital yang mengutamakan kecepatan, visualisasi dan reaksi cepat mendorong konsumsi konten pasif serta membentuk komunikasi yang lebih performatif daripada substansial. Dengan menggunakan pendekatan teori komunikasi kritis dari pemikir seperti Habermas, McLuhan, dan Baudrillard, analisis ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya sebagai saluran komunikasi, tetapi juga sebagai alat dominasi budaya dan konstruksi realitas sosial. Fenomena komunikasi instan telah menciptakan krisis makna, menurunkan kualitas dialog dan memunculkan dampak psikologis seperti alienasi dan ketergantungan terhadap validasi eksternal. Orang muda cenderung terjebak dalam pola interaksi yang mementingkan respons cepat ketimbang refleksi, yang berdampak pada kemampuan berpikir kritis dan berempati. Tulisan ini menekankan perlunya pengembangan literasi media dan pendidikan komunikasi kritis untuk membangun kembali kesadaran terhadap makna komunikasi. Komunikasi yang bermakna tidak hanya berfokus pada ekspresi, tetapi juga keterlibatan dalam dialog otentik yang memperkaya relasi sosial dan keberadaan bersama. Penemuan dari kajian ini adalah bahwa komunikasi digital di kalangan orang muda saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga kedalaman, refleksi dan keaslian. Upaya kolektif untuk memperlambat ritme komunikasi, meningkatkan kesadaran kritis dan mendorong praktik dialogis sangat penting untuk membentuk ruang digital yang lebih sehat, inklusif dan transformatif.
Menjadi Diri Sendiri di Dunia Yang Terkoneksi Ditinjau dari Perspektif Kierkegaard dan Krisis Subjektivitas ., Dendri; B. Lena Meo, Yohanes Wilson; Rohit , Urbanus; Koten , Santo Ignasius; Deva Hexanno , Sirilus Anantha
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.265

Abstract

Di era digital yang ditandai oleh konektivitas konstan dan dominasi media sosial, individu, khususnya kaum muda, menghadapi krisis subjektivitas yang mendalam. Identitas sering kali dibentuk oleh tuntutan performatif digital, pencarian validasi eksternal, dan pelarian dari kecemasan eksistensial melalui estetika citra diri. Artikel ini mengkaji krisis tersebut melalui lensa filsafat Søren Kierkegaard, yang menekankan pentingnya subjektivitas otentik, keberanian menghadapi kecemasan, dan relasi personal dengan Yang Mutlak. Dunia digital dibaca sebagai perwujudan dari tahap estetis dalam pemikiran Kierkegaard, di mana individu cenderung menghindari tanggung jawab eksistensial dan terjebak dalam keputusasaan tersembunyi. Dengan menggali tahap-tahap eksistensial estetis, etis, dan religius—artikel ini mengusulkan pendekatan reflektif terhadap penggunaan teknologi: bukan penolakan, melainkan transformasi. Filsafat Kierkegaard memberikan kerangka untuk membangun subjektivitas otentik di tengah distraksi digital, melalui kesadaran diri, pilihan etis, dan iman yang hidup. Akhirnya, menjadi diri sendiri di era digital memerlukan lebih dari sekadar manajemen citra; ia menuntut integritas batin, keberanian eksistensial, dan kesetiaan terhadap panggilan terdalam manusia.
Mindless Scrolling dalam Perspektif Filsafat Sartre sebagai Wujud Bad Faith Prasetyo Widi , Christophorus Rinovan; Prasetyo, Matias rico Adi; kevin Kurniawan, Paulus; Khong Wing, Benny Phang
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.266

Abstract

Fenomena mindless scrolling atau kebiasaan menggulir media sosial secara pasif tanpa tujuan menjadi ciri khas kehidupan digital masa kini. Kebiasaan ini bukan hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga mencerminkan persoalan eksistensial yang lebih dalam. Artikel ini menganalisis mindless scrolling sebagai bentuk bad faith dalam perspektif filsafat eksistensialis Jean- Paul Sartre. Sartre memandang bad faith sebagai penipuan diri, yaitu tindakan individu yang menyangkal kebebasannya dengan menyalahkan kekuatan eksternal atau larut dalam peran sosial. Dalam konteks digital, mindless scrolling dipahami sebagai mekanisme pelarian dari kecemasan eksistensial dan tanggung jawab untuk hidup secara otentik. Meskipun teknologi berperan dalam membentuk kebiasaan ini, Sartre menekankan bahwa manusia tetap memiliki kebebasan untuk memilih dan bertindak. Dengan demikian, kebiasaan ini tidak semata-mata disebabkan oleh desain algoritmik, tetapi juga oleh kecenderungan manusia untuk menghindari refleksi diri. Kajian ini menunjukkan bahwa untuk keluar dari bad faith digital, dibutuhkan kesadaran akan kebebasan eksistensial dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab atas waktu dan perhatian. Refleksi filosofis ini diharapkan memperkaya pendekatan terhadap literasi digital dan etika penggunaan teknologi
Menuju Eksistensi Otentik Orang Muda Indonesia di Era Digital: Tinjauan Filosofis Berdasarkan Konsep Dasein dan Das Man Martin Heidegge Babo , Alkuinus Ison; Anselo Ndama , Herminus Herwino; Savio Cimi , Severinus; Gon, Videlis; ., Susilo
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.267

Abstract

Era digital telah membentuk ruang eksistensial baru bagi kaum muda Indonesia, di mana media sosial menjadi medan utama pembentukan identitas dan relasi sosial. Studi ini menganalisis fenomena tersebut melalui lensa filsafat Martin Heidegger, khususnya konsep Dasein dan das Man. Heidegger memandang manusia sebagai Dasein—makhluk yang sadar akan keberadaannya, namun rentan kehilangan keotentikan ketika hidupnya dikendalikan oleh opini publik dan norma sosial (das Man). Media sosial memperkuat mode eksistensi tidak otentik ini melalui algoritma, budaya performatif, dan tekanan validasi eksternal. Melalui pendekatan kualitatif dan studi pustaka, penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman kecemasan eksistensial (Angst) dapat menjadi pintu menuju keotentikan. Kaum muda perlu membangun sikap reflektif dan kritis dalam menggunakan media sosial, dengan mengembangkan keberanian eksistensial (Entschlossenheit) dan sikap Gelassenheit—yakni penggunaan teknologi secara sadar dan merdeka. Studi ini juga menegaskan pentingnya peran pemerintah, lembaga pendidikan, dan keluarga dalam mendampingi kaum muda agar mampu hidup sebagai pribadi otentik di tengah dunia digital.
Manusia dalam Pemanfaatan AI Generative Menurut Filsafat Eksistensialisme Heidegger Ranubaya, Fransesco Agnes; Pan, Alpinus; Louis , Johannes; Mariano , Andreas; Kalistus Rangga, Werenfridus
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.268

Abstract

Penelitian ini mengkaji relevansi konsep Das Sein dalam pemikiran Martin Heidegger untuk memahami eksistensi manusia di era AI generatif. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah bagaimana Das Sein dapat digunakan untuk menafsirkan keberadaan manusia dalam interaksi dengan teknologi AI generatif, sejauh mana teknologi ini memengaruhi keterlemparan (Geworfenheit) manusia, serta apakah AI generatif menjadi ancaman atau justru memperluas dimensi eksistensial manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan perspektif filosofis terhadap hubungan manusia dan teknologi dalam era digital yang semakin kompleks. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan filosofis- hermeneutis. Analisis dilakukan terhadap konsep Das Sein dalam pemikiran Heidegger, dengan menelaah relevansinya dalam konteks pemanfaatan AI generatif. Studi ini bersifat eksploratif dan interpretatif terhadap teks-teks utama Heidegger, serta refleksi atas penerapannya dalam perkembangan teknologi saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI generatif dapat menjadi medium bagi manusia dalam mengungkapkan eksistensinya, tetapi juga berpotensi mengarah pada keterasingan jika manusia kehilangan kesadaran eksistensialnya. Oleh karena itu, pemahaman baru tentang hubungan manusia dan teknologi perlu dirumuskan dengan menekankan kesadaran akan keberadaan yang autentik agar AI generatif tidak hanya menjadi alat, tetapi juga ruang bagi manusia untuk memperdalam makna keberadaannya