cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 288 Documents
Tidak ada seperti Engkau, Di Antara Para Ilah Ya tuhan (Mzm 86:8a) Siapakah allah Dan Siapakah Manusia itu? Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zaman kita adalah zaman berhala- berhala baru. Hal ini terasa sangat kuat di dunia Barat, tetapi kiranya akan mudah pula masuk Indo- nesia. Salah satu berhala baru itu ialah pandangan Homo-deus. Manusia mampu menciptakan manusia yang unggul sampai digunakan istilah homo- deus. Benar-benar suatu hujatan terhadap Tuhan yang kita imani. Tuhan Yesus sendiri sudah mengatakan: “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah” (Yoh 16:2). Kamu akan dikucilkan. Akan datang saatnya bahwa orang yang menyangka bahwa dia dapat menciptakan manusia unggul merasa diri menjadi dewa. Pandangan homo-deus menantang kita untuk memperdalam iman kita kepada Tuhan Yesus dan mengingat bahwa Dia sudah mengatakan semuanya itu (Yoh 16:4a). Tulisan ini mau menjawab pandangan sesat tersebut dan merenungkan keajaiban-keajaiban yang dikerjakan Allah bagi kita manusia. Tidak ada seperti Tuhan Allah kita. Di tengah dunia yang semakin canggih dan hebat ini kita tidak boleh menjadi,”orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini”, sehingga kita tidak dapat lagi “melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah” (lih. 2 Kor 4:4). Kemuliaan Kristus adalah kemuliaan kita karena kemuliaan-Nya telah dianugerahkan kepada kita yang percaya kepada- Nya. Beginilah penegasan St.Paulus: “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Kor 3:18).
Uang, Kenikmatan Dan Godaan Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi yang makin canggih membawa kemudahan dan kecepatan yang luar biasa dalam hidup bersama. Tentu saja kita harus bersyukur karena semuanya itu. Akan tetapi, di tengah kemudahan dan kecepatan itu kita perlu sadar diri. Kita adalah manusia dan sebagai manusia kita adalah insan yang lemah dan berdosa. Dewasa ini kita dibesarkan dalam kemudahan dan kecepatan. Apakah tidak ada dampaknya? Apa yang baik bisa membawa dampak yang sama sekali tidak diinginkan dan dipikirkan sebelumnya. Di sinilah kita harus waspada. Tulisan ini hanya berupa catatan- catatan tentang sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam setiap tawaran kemudahan dan kecepatan menghayati hidup.
Manusia menikmati Keterasingan Untuk Melewati Krisis Identitas Supriyono Venantius
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan banyak fakta dan gejala yang menuntut manusia melakukan penyesuaian diri. Misalnya, karena teknologi digital, Kitab Suci bisa diakses lewat sebuah telpon pintar. Kesulitan dalam memahami pesan teks atau makna sebuah kata dalam Kitab Suci dapat dengan mudah ditemukan solusinya lewat grup, atau ditelusuri di google. Fakta ini tidak gampang diterima oleh yang menjunjung kesakralan kitab. Akan tetapi teknologi tetap maju terus. Yang tidak menyesuaikan diri terhadap kemajuannya akan masuk dalam pengalaman krisis identitas. Krisis identitas itu dialami karena apa yang selama ini dijadikan pegangan mendadak menjadi hilang maknanya. Krisis identitas itu terjadi karena penolakan terhadap apa yang terasa asing. Krisis identitas itu disebabkan oleh ketidakmampuan menikmati keterasingan. Kitab Suci mengajari kita bagaimana keluar dari krisis identitas itu dengan cara menikmati keterasingan. Kitab Daniel Bab 1 adalah salah satu teks yang memberi inspirasi bagaimana manusia dapat menikmati keterasingan. Dikisahkan, Nebukadnezar, raja Babel, mendeportasi orang-orang penting dari bangsa Yahudi ke Babel. Lalu ia memilih beberapa pemuda yang dideportasi itu untuk dilatih selama tiga tahun untuk menjadi pelayan raja. Mereka tentu saja mengalami keterasingan dan krisis identitas berat akibat deportasi ini. Mereka hidup di tanah asing, dalam budaya asing, dengan raja asing, makanan asing, semuanya asing. Akan tetapi mereka bisa bertahan di dalam keterasingan itu. Bahkan hidup mereka memberi kontribusi bagi orang-orang asing. Di tanah asing itu mereka mendapat makna baru atau semacam identitas baru bagi hidup selanjutnya.
Manusia Tinggal Dalam Persekutuan Allah Tritunggal Supriyono Venantius
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap panitia yang meminta pembicaraan mengenai tema Hari Studi ke-44 STFT Widya Sasana Malang dari perspektif Kitab Suci. Tema Hari Studi ke-44 STFT Widya Sasana Malang adalah “Siapakah Manusia; Siapakah Allah di Era Industri 4.0?” Ada tiga hal yang mau dibahas oleh tema ini, yakni manusia, Allah, dan Era Industri 4.0. Tema ini menempatkan “manusia” di posisi pertama, urutan awal, lalu menyusul Allah, di posisi berikutnya. Sebaliknya, Kitab Suci, menempatkan Allah di posisi awal mula dan posisi manusia menyusul pada urutan sesudah Allah. Oleh karena itu, mengikuti alur Kitab Suci, tulisan ini akan berbicara pertama-tama mengenai Allah, lalu menyusul mengenai manusia. Sedangkan istilah “Era Industri 4.0” tidak pernah muncul dalam Kitab Suci. Istilah ini menjadi sesuatu yang asing dalam Kitab Suci. Oleh karena itu tulisan ini tidak membicarakannya secara khusus, namun tetap ada relevansinya untuk dicerna di era Industri 4.0 ini.
Immortalitas/Umur Panjang: Antara rencana manusia dan allah Gregorius Tri Wardoyo
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia, sampai saat ini, tercatat sebagai makhluk yang paling maju dibanding dengan makhluk-makhluk ciptaan lain. Kitab Kejadian memberikan bukti bahwa manusia merupakan mahkota dari kisah penciptaan yang dilakukan oleh Allah. Sejak awal mula, manusia dengan segala kebebasannya mudah jatuh dalam iming-imingan, sebagai contoh tawaran untuk menjadi seperti Allah. Sekali lagi, Kitab Kejadian, terutama Kej. 3:4-5, menyediakan bagi kita buktinya. Siapa kiranya manusia, termasuk kita, yang tidak tergiur oleh tawaran semacam itu? Fenomena ini jamak kita jumpai di zaman kita juga. Banyak produk, termasuk teologi, yang menawarkan kesehatan, umur panjang, kemakmuran, dll.
Soal eksistensial makna hidup, Titik-Temu Soal“Siapakah Manusia, Siapakah allah” Petrus Go Twan An
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertanyaan “Siapakah manusia, siapakah Allah itu” dapat dilihat lebih eksistensial dalam riwayat hidup beberapa tokoh, a.l.Edith Stein yang setelah pergumulannya memilih jalan tertentu. Soal ini bukanlah masalah satu dua tokoh, melainkan merupakan soal semua orang, umat manusia pada umumnya. Soal ini tak melulu teoretis, melainkan sudah ribuan tahun dibahas secara akademis dan lebih eksplisit dalam filsafat dan teologi, dan lebih implisit dalam aneka ilmu, sehingga bersifat interdisipliner. Tiada maksud hanya mengulangi pelbagai jawaban itu, melainkan lebih memusatkan perhatian pada sifat eksistensialnya. Selayang pandang nampaknya dua soal ini hanya berbeda dan masing- masing harus dibahas tersendiri, agar ciri khasya lebih tampak dan menjadi lebih mendalam serta lebih jelas; tetapi terutama dari sudut eksistensial, kedua soal itu juga dapat dilihat dalam kaitan timbal-baliknya, sejauh menyangkut relasi yang memang mengandaikan substansi subsisten, tetapi juga masih dapat “dilengkapi & diperkaya” oleh suatu substansi lain. Hasil penelitian kedua soal itu tak diabaikan, melainkan justru diandaikan sejauh bukan hanya teori, apalagi hanya hipotesa, melainkan sudah dianggap sebagai ajaran tradisional Gereja dan dirumuskan dalam katekismus: misalnya Katekismus Gereja Katolik (KGK) edisi final 1997, yang demi penghematan (tulisan ini jangan terlalu panjang) tak selalu dikutip, melainkan hanya ditunjuk Dalam tulisan ini fokus diarahkan pada segi eksistensial yang terutama mengacu pada relasi antara keduanya. maka kaitannya lebih diperhatikan, meskipun biasanya merupakan dua soal.
“Manusia” Dalam Perspektif Pengalaman Hidupkristianitasabad Ii-Iv Antonius Denny Firmanto
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerakan kerohanian merupakan salah satu warna dari kehidupan agama. Salah satu ekspresi keagamaan yang paling menarik perhatian or- ang adalah tema “beragama secara radikal”. Secara semantik, kata “radikal” berasal dari kata radix (bhs. Latin) yang berarti “akar”. Sesuai dengan konteks keagamaannya, sikap radikal adalah sikap penghayatan dan pengamalan hidup keagamaan secara berakar atau secara mendasar. Berkenaan dengan hal tersebut, Galen (2011:11) berpendapat bahwa sejarah agama-agama memperlihatkan bahwa setiap agama dari dirinya sendiri memiliki tendensi seperti itu. Tradisi keagamaan Kristiani pernah memiliki pengalaman dengan orang-orang yang seperti itu pada Abad II-IV. Mereka adalah orang-orang yang disebut en theos (bhs. Yunani, artinya: dalam Tuhan; turunan kata tersebut dalam bhs. Indonesia adalah entusias/antusias). Mereka yakin bahwa mereka memiliki Tuhan dalam diri mereka karena hidup yang berakar dalam hidupnya Tuhan. Ada yang terus berlanjut dalam bentuk yang dibarui; namun, ada pula yang tidak dapat diteruskan atau menghilang karena kurang selaras dengan visi hidup Kristiani. Penelitikan ini menggunakan metodologi inkuiri historis dengan menggunakan pustaka yang relevan, sahih, dan valid. Locus dari penelitian ini adalah persepsi mengenai hidup keagamaan dimana hidup Kristianitas pada Abad II-IV menjadi konteksnya. Fokus dari penelitian ini adalah gerakan radikal Kristiani yang diwakili oleh Montanisme, Asketisme, dan Donatisme. Apa yang menjadi penyebab kemunculannya? Apa persamaan dan perbedaan dari ketiganya? Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan gagasan antropologis yang menjadi penyebab munculnya gerakan kerohanian tersebut. Uraian dalam tulisan ini adalah sebagai berikut: (1) pemaparan latar belakang atau konteks dari setiap gerakan, apa yang terjadi dan siapa tokohnya, lalu gagasan yang ada atau yang diperjuangkan oleh pencetus tindakan radikal dari tiap-tiap gerakan, (2) pemaparan perbedaan dan persamaan dari ketiganya, (3) pemaparan kekhasan gerakan radikal dalam Kristianitas pada Abad II-IV, dan (4) tanggapan dari Kristianitas main- stream yang diwakili oleh Clement dari Alexandria (150-215), Agustinus dari Hippo (354-430), dan Vincentius dari Lérins († 450).
Cur Homo Deus? Tantangan Beriman Kepadaallah Di Revolusi Industri Era 4.0 Kristoforus Bala
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seperti terbangun dari mimpi buruk, kita disadarkan oleh para pakar ekonomi dan ilmu-ilmu sosial bahwa sekarang kita semua sedang memasuki era Revolusi Industri 4.0. Seperti dikejar-kejar oleh bayangan-bayangan yang menakutkan, kita diingatkan tentang dampak-dampak negatif dari revolusi industri keempat. Memang pasti ada dampak-dampak positif dari revolusi industri 4.0, tetapi hendaknya kita tidak mengabaikan dampak- dampak negatifnya terhadap kehidupan manusia. Kurang lebih ada dua kelompok manusia yang bereaksi terhadap revolusi industri itu: ada yang menyambutnya dengan semangat optimis, tetapi juga ada yang bersikap pesimis. Apa pun reaksinya, hempasan tsunami revolusi industri 4.0 terus menerpa dan efek-efeknnya sudah mulai dirasakan oleh umat manusia apa pun latarbelakangnya, entah dia seorang agnostik dan atheis, fundamentalis, moderat atau liberal. Daya hanyut tsunami revolusi industri semakin menakutkan dan membuat kita semua bertanya tentang bagaimana cara menghadapi dan memaknainya.
Pergulatan Batin Manusia Di Era Revolusi Industri Keempat (4ir) Gregorius Pasi
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi tidak bisa terlepas dari manusia. Teknologi dikembangkan dan digunakan oleh manusia. Pada teknologi manusia mengungkapkan kemanusiaannya. Karena itu, pada teknologi, manusia dapat mengenali siapa dirinya. Asal dan alasan bagi munculnya sebuah teknologi (aspek objektif dari teknologi) ditemukan dalam diri manusia yang mengembangkan dan menggunakannya (aspek subjektif dari teknologi). Itulah sebabnya, menurut Paus Benediktus XVI, teknologi tidak pernah hanyalah sekadar teknologi (ada dari dan demi teknologi itu sendiri). Teknologi selalu mengungkapkan siapa manusia dan apa yang hendak digapainya dalam hidup. Teknologi mengekspresikan pergulatan batin manusia.
Imago Dei Dan Masa Depan Kita Raymundus I Made Sudhiarsa
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di dalam komunitas umat beriman Kristiani, kita biasa mengatakan bahwa manusia itu adalah “gambar Allah”. Dengan mengatakan demikian, tidak berarti bahwa semuanya jelas dan final. Sebutan bahwa manusia itu “gambar Allah” (Latin: imago Dei), bagi umat Kristiani sesungguhnya mengungkapkan keluhuran jati diri manusia. Dalam kitab Kejadian (1:26- 27; 5:1; 9:6), dipakai dua pilihan kata untuk tujuan yang sama, yakni gambar (Latin: imago) dan rupa (Latin: similitudo). Pertanyaannya: “Apakah pilihan diksi seperti ini hendak mengungkapkan sebuah realitas ‘demikian adanya’ ataukah suatu imajinasi atau kondisi ideal yang harus dicapai? Apakah ada konsekuensi moral-etis atau sosio-religius dari pernyataan iman ini? Apakah ini sebuah theosis ataukah anthroposis?”

Page 4 of 29 | Total Record : 288