cover
Contact Name
Dwi Septian Wijaya
Contact Email
admin@jhtm.or.id
Phone
+6281334291827
Journal Mail Official
admin@jhtm.or.id
Editorial Address
Jl Gas Alam No 59 Depok
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Journal of Holistic and Traditional Medicine (JHTM)
ISSN : 25414178     EISSN : 25415409     DOI : -
Core Subject : Health,
Journal of Holistic and Traditional Medicine aims to stimulate the discovery and development of holistic care, complementer medicine, herbal and traditional medicine. We accept articles on the holistic care, complementer medicine, herbal, cultivation and extraction of raw materials, the analysis of these materials’ phytochemical/pharmacological effects or toxicity, or the potential applications of natural extracts, fractions, or compounds in the formulation of traditional medicine. Research articles, case studies, and short communications are accepted and literature reviews will be accepted.
Articles 135 Documents
PEMBERIAN PARE DAN PENURUNAN GLUKOSA DARAH PADA DIEBETES MELITUS Syifa Tiani Putri
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 02 (2021): Journal of Holistic and Traditional Medicine
Publisher : Perhimpunan Kesehatan Holistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronis,yang terjadi apabila pancreas tidak menghasilkan insulin yang adekuat, atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang diproduksi tubuh.Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar glukosa dalam darah yang atau dikenal dengan istilah hiperglikemia. Penyakit diabetes melitus saat ini merambah di seluruh dunia, tidak hanya Negara-negara maju saja yang terserang dengan penyakit ini, akan tetapi negara-negara berkembang sekarang juga memiliki resiko besar terserang penyakit ini, menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO). Penderita Diabetes Melitus memiliki resiko besar untuk menderita komplikasi akibat perjalanan penyakit ini. Untuk mencegah dan mengatasi diabetes telah dikembangkan berbagai macam cara,. Salah satunya adalah Tumbuhan Pare (momordica charantia).
FAKTOR – FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA ANEMIA PADA REMAJA PUTRI anjaya, putri ulayya; Rohmah, Zakiah Nur
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 02 (2021): Journal of Holistic and Traditional Medicine
Publisher : Perhimpunan Kesehatan Holistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia merupakan suatu keadaan dimana komponen di dalam darah yaitu hemoglobin (Hb) dalam darah jumlahnya kurang dari kadar normal. Remaja puteri memiliki risiko sepuluh kali lebih besar untuk menderita anemia dibandingkan dengan remaja putera. Hal ini dikarenakan remaja puteri mengalami menstruasi setiap bulannya dan sedang dalam masa pertumbuhan sehingga membutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak. faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya anemia pada remaja puteri secara umum adalah pengetahuan gizi, pola konsumsi, sosial ekonomi, status kesehatan, aktifitas fisik, pola menstruasi
NEW INNOVATION USING TOPICAL ITRACONAZOLS AS A SUPERFICIAL FUNGAL SKIN INFECTION THERAPY AND ITS SUPERIORITY COMPARED TO STANDARD THERAPY Tan, Sukmawati Tansil; Firmansyah, Yohanes
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 02 (2021): Journal of Holistic and Traditional Medicine
Publisher : Perhimpunan Kesehatan Holistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Fungal infection of the skin is a common clinical problem in the community, particularly in groups of people who practice poor hygiene or in populations with a low immune status. Microsporon audoinii and Trichophyton rubrum, can cause the disease to be chronic and residif. This is generally due to the fungus developing a mechanism of resistance to the commonly used drug regimens in the community. As a result, a novel innovation is required to expedite patients' healing from dermatophytosis. Method: The purpose of this study is to compare the efficacy of a new treatment therapy utilizing a combination of 2% itraconazole, 1% salicylic acid, and 2% sulfur to that of 2% ketoconazole (standard therapy). The samples for this study were all cases of fungal infections of the skin diagnosed at Indra's clinic between 2016 and 2017. The study's independent variable was the formulation of the drug, while the dependent variable was clinical improvement and the occurrence of side effects. Results: The cure rate was 91,7 percent for the 121 respondents who received a combination cream containing 2% itraconazole, and 80.7 percent for the 114 respondents who received a ccream containing 2% ketoconazole. There were no statistically significant differences in adverse events between the two intervention groups. Finally, Innovative drug formulations for fungal infections (2 percent itraconazole, 1% salicylic acid, and 2% sulfur) have been shown to be more effective and superior to standard therapy.
FROM LABORATORY TO CLINICAL - TREATMENT OF HYPERPIGMENTATION POST-INFLAMMATORY, ANTI-MICROBA AND BODY ODOR IN AXILLARY REGION WITH TISSUE INNOVATION COMPOSITED PIONIN, ALOE VERA, GLUTATHIONE, AND LAVENDER Tan, Sukmawati Tansil; Firmansyah, Yohanes
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 02 (2021): Journal of Holistic and Traditional Medicine
Publisher : Perhimpunan Kesehatan Holistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

It is generally recognized that hyperpigmentation post-inflammatory and body odor issues can be distressing. This will also have an effect on the overall quality of life. As a result, we require a therapy that may address both post-inflammatory hyperpigmentation and body odor issues. The goal of this study was to see if the invention's combination had any antibacterial properties, as well as if it might lessen or fade the signs of hyperpigmentation post-inflammatory. It is believed that the antibacterial action of the current innovation would minimize patients' body odor. This composition is in accordance with the Regulation of the Head of the Drug and Food Control Agency of the Republic of Indonesia Number 12 of 2019 concerning Contaminants in Cosmetic. The axillary tissue cleansing formulation comprises pionin, aloe vera, glutathion, and lavender, all of which have been shown in the laboratory to prevent bacterial development. Clinically, however, the administration of this intervention was demonstrated to be capable of reducing or fading the symptoms of hyperpigmentation post-inflammatory and relieving body odor with very little adverse effects.
PENGARUH BALANCE EXSERCISE TERHADAP KESEIMBANGAN PADA LANSIA DI WILAYAH PONDOK RANGGON Yuli Astuti
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 01 (2021): Journal of Holistic and Traditional Medicine
Publisher : Perhimpunan Kesehatan Holistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansia merupakan kelompok umur yang paling beresiko mengalami gangguan keseimbangan postural karena lansia mengalami kemunduran atau perubahan morfologis pada otot yang menyebabkan perubahan fungsional otot dengan terjadinya penurunan kekuatan dan kontraksi otot (Lazdia dkk, 2018). Lansia dengan gangguan keseimbangan postural akan sangat beresiko untuk terjadinya jatuh. Jatuh adalah ketidak mampuan untuk mempertahankan pusat kekuatan anti gravitasi pada dasar penyanggah tubuh (misalnya, kaki saat berdiri,) atau memberi respon secara cepat pada setiap perpindahan posisi atau keadaan statis (Lazdia dkk, 2018). Dengan mengetahui faktor resiko jatuh sendiri maka kita dapat mencegah terjadinya jatuh dan penyulitnya. Keseimbangan postural (balance/stability) didefinisikan sebagai kemampuan tubuh untuk memelihara pusat dari masa tubuh dengan batasan stabilitas yang ditentukan dengan dasar penyangga. Batasan stabilitas adalah tempat pada suatu ruang dimana tubuh dapat menjaga posisi tanpa berubah dari dasar penyangga. Batasan ini dapat berubah sesuai dengan tugas, biomekanik secara individual dan aspek lingkungan. Keseimbangan berdiri diartikan sebagai kemampuan untuk berdiri tanpa bantuan, tanpa terjatuh atau merubah dasar penyangga atau menggunakan tangan (Suhartono, 2009). Data di dunia tahun 2014 akibat gangguan keseimbangan pada lanjut usia diatas 65 tahun yaitu sekitar 28-35% dan usia diatas 70 tahun sekitar 34-42%. Sedangkan di Amerika Serikat 2,5 juta jiwa ditangani di ruang gawat darurat karena luka-luka akibat jatuh dan 700.000 jiwa dirawat setiap tahunnya. Gangguan keseimbangan tidak hanya menimbulkan jatuh tetapi dapat menimbulkan kematian, di setiap tahunnya ada kejadian jatuh yang menyebabkan cedera kepala (47%), tungkai atas (28%), tungkai bawah (26%) (kusnanto, 2015). Balance exercise merupakan intervensi fisioterapi yang dapat mengatasi permasalahan yang dihapi lansia yang mempengaruhi keseimbangan postural (Kusnanto, 2015). Latihan balance exercise merupakan aktifitas fisik yang dilakukan untuk meningkatkan kestabilan tubuh dengan meningkatkan kekuatan otot ekstremitas bawah (Noyman, 2013). Balance exercise dilakukan 3 kali dalam seminggu selama 5 minggu adalah frekuensi yang optimal, dan dapat meningkatkan keseimbangan postural lansia dan mencegah timbulnya jatuh (Skelton, 2015). Madureira et al., (2016) menyatakan bahwa latihan keseimbangan fungsional dan statis, mobility dan menurunkan frekuensi terjatuh pada lansia dengan osteoporosis. Keseimbangan tubuh lebih baik pada lansia yang diberikan Latihan keseimbangan dibandingkan kelompok. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian Latihan balance exsercise dapat berpengaruh terhadap keseimbangan pada Lansia. Dapat dilihat dari hasil penelitian ini bahwa Latihan balance exsercise pada lansia yang dilakukan 2 kali sehari selama 7 hari dapat meningkatkan keseimbangan dengan nilai keseimbangan sebelum intervensi 42,4 dan setelah intervensi 50,5 Terdapat hubungan balance exercise dengan peningkatan keseimbangan postural pada lansia (p value = 0.025 < 0.05). Balance exercise dapat meningkatkan keseimbangan khususnya pada ekstremitas bawah yang akan mengalami peningkatan massa otot.
PENGARUH JUS PARE DENGAN DAUN STEVIA UNTUK MENURUNKAN GULA DARAH PADA KLIEN DENGAN DIABETES MELLITUS Yuli Astuti
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 7 No. 01 Agustus (2022): Journal of Holistic and Traditional Medicine
Publisher : Perhimpunan Kesehatan Holistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus adalah penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal. Penyebab kenaikan kadar gula darah yang tersebut menjadi landasan pengelompokkan jenis diabetes mellitus (Riskesdas, 2018). . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jus pare dengan daun stevia dalam menurunkan kadar gula darah pasien diabetes mellitus. desain penelitian yang dilakukan adalah quasy experiment dengan metode total Sampling sebanyak 14 responden, dilaksanakan di kelurahan pondok ranggon. Variabel penelitian yaitu variabel dependen kadar gula darah, dan independen jus pare dengan daun stevia. Analisa bivariat yang dilakukan adalah uji t dependent dan uji t independen. Terdapat pengaruh jus pare terhadap penurunan kadar gula darah dengan nilai ρ-value = 0,000. Penurunan kadar gula darah ini akibat pemberian buah pare yang dikarenakan adanya kandungan senyawa kimia seperti tritpenoid (kharantin), saponin, tannin, fenolik, flavonoid, dan alkaloid. Kharantin termasuk dalam golongan trierpenoid yang berpotensi sebagaianti hiperglikemia (Grover,2013)..
RELAKSASI PROGRESIF PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN KECEMASAN DI PANTI WERDHA MULIA I CIPAYUNG Nova Riani
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 03 Februari (2022): Journal of Holistic and Traditional Medicine
Publisher : Perhimpunan Kesehatan Holistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ansietas atau kecemasan adalah suatu keadaan perasaan yang kompleks berkaitan dengan perasaan takut, sering disertai oleh sensasi fisik seperti jantung berdebar napas pendek atau nyeri nyeri dada. Gangguan ansietas mungkin juga akibat adanya gangguan di otak yang berhubungan dengan gangguan fisik atau gangguan kejiwaan (Keliat, 2011, hlm.15). Bagi orang yang penyesuaiannya baik, maka kecemasan dapat cepat diatasi dan ditanggulangi. Bagi orang yang penyesuaiannya kurang baik, maka kecemasan merupakan bagian terbesar dalam kehidupannya (Ari, 2010, 11). Lansia adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan, dan sosial. Perubahan ini akan memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan termasuk kesehatannya (Fatimah, 2010, hlm.3). Prevalensi dunia orang berusia 60 tahun atau lebih sebesar 900 juta pada tahun 2015 dan akan meningkat sekitar 2 miliar pada tahun 2050 (WHO, 2015). Pada tahun 2020 jumlah lansia di Indonesia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada tahun 2020 menjadi sebesar 11,34%. Proyeksi penduduk oleh Biro Pusat Statistik menggambarkan bahwa antara tahun 2005-2010 jumlah lansia akan sama dengan jumlah anak balita, yaitu sekitar 19 juta jiwa atau 8,5% dari seluruh jumlah penduduk (Maryam, 2011, hlm.9). Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwapersentase lansia di Indonesia sebesar 7,6 %. Pada tahun 2013 mengalami peningkatan menjadi 8,0 % dan masih akan bertambah pada tahun 2014 menjadi 8,2 % (BPS, 2013, hlm.29). Pada tahun 2015 jumlah lansia di Jawa Tengah adalah 11,8%. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2010 yang berjumlah 10,3% (BPS, 2013, hlm.30). Stres merupakan masalah kesehatan jiwa yang paling banyak dihadapi pada lanjut usia. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa angka prevalensi stres pada lanjut usia umumnya bervariasi antara 10% dan 20%, tergantung pada situasi budaya. Secara keseluruhan populasi lanjut usia dengan stres ringan, stres sedang, dan stres berat bervariasi dalam tingkat keparahan (Sapkota & Pandey, 2013). Dari hasil penelitian juga didapatkan prevalensi lansia yang mengalami stres di dunia berkisar 4,7-16% (Barua, 2011)). Manajemen stres adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika situasi, orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memberi tuntutan yang berlebihan. Relaksasi nafas dalam, relaksasi progresif, distraksi adalah tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres. Tindakan untuk mengatasi kecemasan ada 2 cara yaitu farmakologi dan nonfarmakologi. Tindakan nonfarmakologi diantaranya adalah relaksasi, distraksi, aromaterapi, dan massage. Relaksasi otot progresif merupakan salah satu Tindakan nonfarmakologi yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecemasan. Relaksasi otot progresif adalah Teknik relaksasi otot dalam yang tidak memerlukan imajinasi, ketekunan, atau sugesti. Teknik relaksasi otot progresif memusatkan perhatian pada suatu aktifitas otot dengan mengidentifikasi otot yang tegang kemudian menurunkan ketegangan dengan melakukan teknik relaksasi untuk mendapatkan perasaan rileks (Herodes, 2010, dalam Kushariyadi, 2011, hlm.107). Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Praptini (2012) dengan judul “Pengaruh relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pasien kemoterapi di rumah singgah kanker Denpasar” menggunakan uji tes MannWhitney diperoleh p value 0,002 (<0,05), maka didapatkan kesimpulan Ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan. Penelitian lain oleh Ari (2010) dengan “Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta” menggunakan uji Mann-Whitney U test berkesimpulan bahwa ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien skizofrenia. Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian relaksasi otot progresif dapat berpengaruh terhadap penurunan kecemasan pada lansia. Dapat dilihat dari hasil penelitian ini bahwa Relaksasi otot progresif yang dilakukan 1 kali sehari selama 7 hari dapat menurunkan ratarata kecemasan pada lansia dengan di panti Werdha Budhi Mulia 1 cipayung.
PENGARUH PEMBERIAN AROMATERAPI LEMON TERHADAP MUAL MUNTAH PADA IBU HAMIL TRIMESTER 1 Riadinni Alita
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 04 Mei (2022): Journal of Holistic and Traditional Medicine
Publisher : Perhimpunan Kesehatan Holistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering didapatkan pada kehamilan trimester pertama. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi setelah 6 minggu dari hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40- 60% terjadi pada multigravida. Mual biasanya dialami pada pagi hari, tetapi dapat pula terjadi setiap saat. Studi memperkirakan bahwa mual dan muntah terjadi pada 50-90% dari kehamilan. Mual dan muntah kehamilan biasanya dimulai pada usia kehamilan 9-10 minggu dengan puncak keluhan pada 11-13 minggu. Metode farmakologi bisa dengan pemberian vitamin B6 dan anti emetic untuk meringankan mual dan muntah ringan atau mual dan muntah berat. Namun, penggunaan obat-obatan farmakologi dapat menyebabkan efek samping baik pada ibu, kehamilan, maupun pada bayi efek samping dari mengonsumsi obat pada ibu hamil adalah obat dapat mempengaruhi tumbuh kembang janindalam kandungan dan dapat meningkatkan resiko terjadi kelainan bawaan lahir. Untuk itu pengobatan nonfamakologi merupakan salah satu pengobatan alternative untuk mengurangi mual dan muntah. Selain efeknya yang dapat mengurangi mual dan muntah (Kia, et al., 2014). Salah satu metode nonfarmakologi yang bisap diberikan adalah dengan aromaterapi lemon. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh England (2000) menyatakan bahwa satu atau dua tetesan minyak atsiri lemon dalam sebuah pembakaran minyak atau sebuah pemakaian atau menyebarkan di kamar tidur membantu untuk menenangkan dan meringankan mual dan muntah saat kehamilan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Solikha dkk (2011) dengan judul ” Pengaruh lemon inhalasi aroma therapy terhadap mual pada kehamilan” bahwa hasil penelitian ini menunjukkan Ada pengaruh yang menunjukkan bahwa frekuensi mual responden rata- rata sebelum dan sesudah pemberian aroma therapy memiliki perbedaan yang signifikan karena nilai p yang diperoleh p-value <0.05. Tujuan umum penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aroma terapi lemon terhadap mual munta pada ibu hamil trimester 1. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah Pra Eksperimental dengan rancangan yang digunakan adalah rancangan One Group Pre Test Post Test Design. Jumlah responden 6 orang. Analisis yang dilakukan menggunakan analisis univariat dan bivariat Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pengaruh aromatherapy lemon dapat berpengaruh terhadap mual muntah pada ibu hamil trimester 1. Dapat dilihat dari hasil penelitian ini bahwa aromatherapy lemon yang dilakukan 2 kali sehari selama 7 hari dapat karakteristik mual sedang sebanyak 4 responden (66,67%) berat sebanyak 2 responden (33,33% dan setelah intervensi karakteristik sedang sebanyak 2 responden (33,33%) dan karakteristik ringan sebanyak 4 reponden(66,67%) dengan p value 0,0001< 0,05 sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh aromatherapy terhadap mual muntah pada ibu hamil trimester 1.
PENGARUH RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI Yati Sumyati
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 7 No. 02 November (2022): Journal of Holistic and Traditional Medicine
Publisher : Perhimpunan Kesehatan Holistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi saat ini masih menjadi masalah kesehatan yang dialami oleh penduduk dunia terutama di Indonesia. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastole ≥ 90 mmHg saat dilakukan pemeriksaan sebanyak 2 kali dengan rentang waktu 5 menit dalam keadaan tenang (Baharuddin, 2016). Salah satu penanganan non-farmakologi yang dapat dilakukan pada penderita hipertensi adalah relaksasi otot progresif. Relaksasi otot progresif merupakan terapi dalam bentuk gerakan yang tersusun sistematis sehingga pikiran dan tubuh akan kembali ke kondisi yang lebih rileks. Relaksasi otot progresif bertujuan untuk membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi (Hasanah & Tri Pakarti, 2021) Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prasetyanti, (2019) bahwa setelah dilakukan terapi relaksasi otot progresif dapat menurunkan rata-rata tekanan darah sistolik 150,06 mmHg dan tekanan darah diastolik 89,83 mmHg. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Azwaldi et al., (2021) bahwa setelah dilakukan terapi relaksasi otot progresif dapat menurunkan rata-rata tekanan darah sistolik 130,00 mmHg dan tekanan darah diastolik 80,00mmHg. Begitu pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Nugroho, 2020) Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian relaksasi otot progresif dapat berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah pada penderita Hipertensi. Dapat dilihat dari hasil penelitian ini bahwa Relaksasi otot progresif yang dilakukan 2 kali sehari selama 7 hari dapat menurunkan rata-rata tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum intervensi sebesar 152,/95 mmHg dan setelah intervensi sebesar 131,/82 mmHg. Dengan rata-rata selisih nilai MAP sebelum dan sesudah intervensi 16,07 mmHg
PEMBERIAN DAUN KELOR TERHADAP PRODUKSI AIR SUSU IBU (ASI) Dwi Septian Wijaya
Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 03 Februari (2022): Journal of Holistic and Traditional Medicine
Publisher : Perhimpunan Kesehatan Holistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menyusui adalah hadiah yang sangat berharga yang dapat diberikan ibu kepada bayinya. Air Susu Ibu (ASI) adalah sumber nutrisi yang primer bagi anak sejak dilahirkan sampai ia mampu mencerna asupan lain setelah usia enam bulan. ASI mengandung lemak, karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan enzim. Faktor penyebab rendahnya pemberian ASI ekslusif, salah satu diantaranya adalah ibu menyusui merasa jumlah ASI yang diberikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan anak. Upaya dalam peningkatan produksi ASI bisa dilakukan dengan cara melakukan perawatan payudara sejak dini dan rutin, memperbaiki teknik menyusui, atau dengan mengkonsumsi makanan yang dapat mempengaruhi produksi ASI (galaktogogum). Beberapa tanaman dinyatakan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas dan melancarkan pengeluaran ASI salah satunya adalah daun kelor. Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan bahan pangan lokal yang dapat dibuat dalam kuliner ibu menyusui, karena mengandung fitosterol yang meningkatkan kemampuan untuk meningkatkan dan memperlancar produksi ASI (laktogogum).

Filter by Year

2016 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 7 No. 02 November (2022): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 7 No. 01 Agustus (2022): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 04 Mei (2022): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 03 Februari (2022): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 02 (2021): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 6 No. 01 (2021): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 5 No. 04 (2021): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 5 No. 03 (2021): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 5 No. 02 (2020): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 5 No. 01 (2020): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 4 No. 04 (2020): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 4 No. 03 (2020): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 4 No. 02 (2019): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 4 No. 01 (2019): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 3 No. 04 (2019): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 3 No. 03 (2019): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 3 No. 02 (2018): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 3 No. 01 (2018): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 2 No. 04 (2018): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 2 No. 03 (2018): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 2 No. 02 (2017): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 2 No. 01 (2017): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 1 No. 04 (2017): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 1 No. 03 (2017): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 1 No. 02 (2016): Journal of Holistic and Traditional Medicine Vol. 1 No. 01 (2016): Journal of Holistic and Traditional Medicine More Issue