cover
Contact Name
Agni Susanti
Contact Email
agniesusanti2204@gmail.com
Phone
+6287722631615
Journal Mail Official
obstetrianestesi@gmail.com
Editorial Address
Department of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Sardjito General Hospital Yogyakarta Jl.Jl. Kesehatan No.1, Senolowo, Sinduadi, Yogyakarta
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia
ISSN : -     EISSN : 2615370X     DOI : https://doi.org/10.47507/obstetri.v3i2
Core Subject : Health, Science,
We accept manuscripts in the form of Original Articles, Case Reports, Literature Reviews, both from clinical or biomolecular fields, as well as letters to editors in regards to Obstetric Anesthesia and Critical Care. Manuscripts that are considered for publication are complete manuscripts that have not been published in other national journals. Manuscripts that have been published in the proceedings of the scientific meeting can still be accepted provided they have written permission from the organizing committee. This journal is published every 6 months with 8-10 articles (March, September) by Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC).
Articles 142 Documents
Konversi Epidural Labor Analgesia (ELA) menjadi Anestesi Epidural untuk Crash Seksio Sesarea pada Pasien Patent Ductus Arteriosus (PDA) dan Pulmonary Hypertension (PH) Pranata, Yoga; Fajar Apsari, Ratih Kumala
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.173

Abstract

Metode untuk mengatasi nyeri persalinan telah berkembang sejak tahun 1847. Epidural Labor Analgesia (ELA) tetap menjadi intervensi utama untuk mengatasi nyeri persalinan. ELA dapat dikonversi menjadi anestesi epidural untuk seksio sesarea bila diperlukan. Seorang wanita berusia 37 tahun hamil 32 minggu datang ke ruang gawat darurat dengan sesak napas. Selanjutnya diketahui pasien memiliki Patent Ductus Arteriosus (PDA) bidireksional dengan Pulmonary Hypertension (PH). Riwayat 2 kali persalinan sebelumnya tidak ada masalah. Pasien ini direncanakan partus pervaginam dengan ELA segera setelah pematangan paru janin. Kombinasi anestesi lokal konsentrasi rendah dan opioid diberikan sebagai dosis awal, dilanjutkan dosis intermiten setiap 3-6 jam. Setelah 22 jam, dilakukan crash seksio sesarea karena gawat janin. ELA dikonversi menjadi anestesi epidural untuk operasinya. Dosis anestesi lokal yang lebih tinggi diberikan saat persiapan operasi dilakukan. Vasopresor diberikan dalam dosis titrasi untuk menjaga agar resistensi vaskular sistemik tetap tinggi. Pasien stabil baik selama ELA maupun operasi. Skor Apgar bayi adalah 5/7. Setelah 48 jam di ICU, pasien dipindahkan ke HCU. ELA dapat dikonversi menjadi anestesi epidural untuk seksio sesaria emergensi. Konsentrasi anestesi lokal yang diberikan untuk operasi sedikit lebih tinggi dibanding untuk analgesia persalinan. Tujuannya bukan hanya untuk memberikan analgesia yang memadai tetapi juga untuk menjaga kestabilan hemodinamik pasien dengan PDA dan PH.
Penyakit Serebrovaskuler pada Preeklampsia Yulianti Bisri, Dewi; Bisri, Tatang
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.175

Abstract

Preeklamsia, penyakit hipertensi yang mempengaruhi 5% hingga 8% kehamilan, adalah gangguan multisistem, dengan disfungsi pembuluh darah menjadi pusat penyakit. Pembuluh darah otak ibu sangat rentan terhadap efek samping preeklampsia. Komplikasi serebrovaskular jangka pendek dan jangka panjang dari preeklampsi termasuk sindrom ensefalopati reversibel posterior (posterior reversible encephalopathy syndrome/PRES), sindrom vasokonstriksi serebral reversibel (reversible cerebral vasoconstriction syndrome/RCVS), stroke hemoragik dan iskemik, penyakit vasokonstriksi serebral, dan demensia vaskular. Gangguan serebrovaskular akut, termasuk PRES, RCVS, stroke iskemik dan hemoragik, dan trombosis sinus vena serebral (cerebral venous sinus thrombosis/CVST), adalah komplikasi preeklampsia yang ditakuti yang dapat mengakibatkan kecacatan ibu permanen atau kematian. Risiko penyakit serebrovaskular akut pada kehamilan yang dipersulit oleh preeklampsi sebesar 1 dari 500 persalinan; sebagai perbandingan, risiko keseluruhan penyakit serebrovaskular akut terkait kehamilan adalah ≈30 per 100.000 persalinan. PRES adalah sindrom edema vasogenik dan kerusakan sawar darah otak, yang mempengaruhi struktur kortikal dan subkortikal dan semua daerah otak. Ada kecenderungan pada lobus parietal dan oksipital, kadang-kadang mengakibatkan gangguan penglihatan atau kebutaan kortikal. Hadir dengan keluhan sakit kepala thunderclap yang parah, RCVS menyebabkan vasospasme arteri sirkulus Willisi dan dapat dikaitkan dengan stroke iskemik dan subarachnoid hemorrhagic (SAH) nonaneurisma, biasanya di atas convexitas serebral.
Efek Vitamin B1, B6, dan B12 terhadap Intensitas Nyeri, Kadar Interleukin 6 (IL-6), dan Interleukin 10 (IL-10) Pasca Seksio Sesarea Mahmud, Agung Suryadi; Ramli Ahmad, Muhammad; Ambo Ala Husain, Alamsyah; Husni Tanra, Andi; Ratnawati, Ratnawati; Wijaya Tan, Charles
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 2 (2024): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i2.180

Abstract

ABSTRAK: Latar Belakang: Nyeri pembedahan menjadi permasalahan yang dijumpai pada wanita pasca seksio sesarea/ Sectio Caesarea (SC). Manajemen nyeri pascabedah yang tidak optimal dapat meningkatkan morbiditas. Salah satu penanganan untuk nyeri akut pascabedah adalah penggunaan vitamin B1, B6, dan B12. Vitamin ini memiliki efek pada nyeri dan inflamasi. Tujuan: Mengetahui peran vitamin B1, B6, dan B12 terhadap intensitas nyeri, kadar interleukin 6 (IL-6) dan interleukin 10 (IL-10) pada SC. Subjek dan metode: Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal. Sampel terdiri atas 2 kelompok yaitu kelompok yang diberikan vitamin B1 100 mg, B6 100 mg, dan B12 1000 mcg secara intravena 1 jam sebelum pembedahan. Kelompok kontrol tidak diberikan vitamin B1, B6, dan B12. Sampel masing- masing kelompok 10 orang. Data dianalisis menggunakan uji statistik dengan tingkat kemaknaan α<0,05. Hasil: Tidak ada perbedaan bermakna antara kedua kelompok pada numeric rating scale (NRS) dan kadar IL-6 (p>0,05). Meski demikian, intensitas nyeri dan kadar IL-6 pada semua waktu pengukuran cenderung lebih rendah pada kelompok intervensi. Terdapat perbedaan yang bermakna kadar IL-10 antara kedua kelompok pada 8 jam pasca SC (p< 0,05). Simpulan: Vitamin B1, B6, dan B12 mampu meningkatkan kadar IL-10
Manajemen Anestesi pada Pasien Laparotomi Kista Ovarium Permagna dengan Teknik Rapid Sequence Induction Pardede, Annisaa Shafira; Hidayat, Nopian; Irawan, Dino
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.181

Abstract

Kasus kista ovarium permagna merupakan kasus yang jarang. Laporan kasus ini melaporkan manajemen anestesi pada pasien dengan kista ovarium permagna yang dilakukan tindakan laparotomi kistektomi dengan teknik anestesi umum. Pasien perempuan 51 tahun dikonsulkan dengan perut tampak membesar sejak lima belas tahun sebelum masuk rumah sakit. Saat ini pasien terasa sulit berjalan dan berbaring akibat masa yang sangat besar pada abdomen. Pasien direncanakan untuk menjalani laparotomi kistektomi dengan teknik anestesi umum. Tanda-tanda vital dan hasil pemeriksaan durante dan pasca laparotomi kistektomi dalam batas normal. Dalam berbagai literatur, anestesi umum selalu menjadi pilihan utama untuk pasien dengan massa abdomen yang besar. Periode praoperasi adalah periode yang paling penting pada pasien dengan massa abdomen yang besar. Anamnesis dan pemeriksaan fisik adalah langkah prosedur yang vital. Rapid Sequence Induction merupakan prosedur yang bertujuan untuk mengurangi kejadian aspirasi paru selama manajemen jalan napas. Hal ini dapat dicapai dengan meminimalkan waktu antara hilangnya refleks pelindung saluran napas akibat obat dan keberhasilan pemasangan serta penggembungan manset tabung trakea. Pengelolaan anestesi pada pasien kista ovarium permagna menggunakan teknik Rapid Sequence Induction memiliki keuntungan tersendiri, namun demikian tetap diperlukan pertimbangan dan pemahaman yang baik agar menghasilkan hasil keluaran yang optimal.
Tatalaksana Anestesi pada Tumor Payudara Kanan cT2N3Mx dan Kiri cT2N1Mx Curiga Ganas pada G4P2A1 Usia Kehamilan 22 Minggu Atmadja, Linda Stefanie; Fajar Apsari, Ratih Kumala
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 2 (2024): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i2.182

Abstract

Operasi non obstetrik selama kehamilan merupakan hal penting yang harus dikuasai oleh ahli anestesi. Operasi non obstetrik dapat diperlukan pada trimester berapapun dalam kehamilan, dimana tantangannya unik karena memperhatikan keselamatan ibu dan bayi. Ketika menangani wanita hamil yang menjalani operasi non obstetrik, dokter anestesi perlu untuk memodifikasi protokol anestesi standar untuk mengakomodasi perubahan fisiologi yang disebabkan oleh kehamilan dan adanya janin. Pada kasus ini, seorang wanita 41tahun,G4P2A1 pada usia kehamilan 22 minggu didiagnosa dengan tumor payudara kanan dan kiri cT2n3Mx dan cT2N1Mx curiga ganas direncanakan pengangkatan tumor payudara dengan anestesi umum. Pasien diinduksi dengan fentanyl 75mcg, sevoflurane 2 vol%, rocuronium 20mg, pemeliharaan anestesi dengan sevoflurane 2 vol %, O2 dan N2O. Intraoperatif hemodinamik pasien stabil. Selain perubahan fisiologi dan anatomi pada ibu, operasi non obstetrik pada kehamilan juga perlu memperhatikan keselamatan janin. Hal ini termasuk risiko teratogenisitas, pemantauan janin selama tindakan dan setelah tindakan. Perlu mendapat perhatian juga pada trimester berapa operasi dilakukan dan adanya risiko obat-obatan yang digunakan dapat melewati plasenta dan dapat berisiko terhadap janin. Selain itu perlu diperhatikan juga hal-hal yang dapat mempengaruhi sirkulasi uteroplasenta.
Fenilefrin pada Obstetri Anestesi Hayatunnisa, Nurul Ulfah; Uyun, Yusmein; Fajar Apsari, Ratih Kumala
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 2 (2024): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i2.183

Abstract

Fenilefrin merupakan obat yang sudah dikenal lama. Saat ini dengan adanya kemajuan pengetahuan, telah ditemukan fungsi lain dari fenilefrin sehingga dokter anestesi, dokter kebidanan kandungan, dan ahli farmakologi dapat berkolaborasi untuk mengoptimalkan hasil pada ibu dan janin. Salah satunya adalah untuk mengatasi hipotensi yang terkait dengan anestesi. Pada anestesi obstetri, sering digunakan anestesi neuraksial. Anestesi neuroaksial tidak hanya mengurangi rasa sakit secara efektif, tetapi juga memungkinkan para ibu untuk tetap sadar dan terlibat dalam saat-saat penting persalinan, baik melalui pervaginam maupun pembedahan. Namun, pelaksanaan anestesi neuroaksial bukan tanpa tantangan, terutama potensi hipotensi, yang merupakan efek samping yang umum terjadi pada prosedur ini. Dalam mengatasi hipotensi yang terkait dengan anestesi, fenilefrin dapat digunakan sebagai intervensi farmakologis. Fenilefrin yang merupakan obat jenis amina simpatomimetik merupakan vasokonstriktor kuat, bekerja dengan menyempitkan pembuluh darah, sehingga menangkal efek vasodilatasi anestesi dan mencegah/mengatasi penurunan tekanan darah yang signifikan. Penggunaan fenilefrin ini bertujuan untuk mencapai keseimbangan yang tepat, memastikan bahwa manfaat pereda nyeri dan kesadaran ibu tidak terganggu oleh perubahan hemodinamik yang merugikan selama proses persalinan. Akhirnya dapat dinyatakan bahwa fenilefrin bermanfaat untuk digunakan dalam Anestesi Obstetri untuk mencegah hipotensi, menjadi vasokonstriksi, mempertahankan perfusi uteroplasenta dan meminimalkan komplikasi pada ibu dan janin
Pengaruh Vitamin B1, B6 dan B12 terhadap Intensitas Nyeri Pasca Seksio Sesarea Tarang, Felicia; Ahmad, Muhammad Ramli; Datu, Madonna D.; Arif, Syafri Kamsul; Husain, Alamsyah Ambo Ala; Rum, Muhammad
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 2 (2024): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i2.185

Abstract

Latar Belakang: Seksio sesarea (SC) digunakan sebagai solusi ketika persalinan normal tidak memungkinkan karena alasan medis tertentu. Beban global pemulihan bedah obstetri mencakup sekitar 140.000.000 kelahiran setiap tahun dengan perkiraan tingkat sesarea global 23%. Salah satu masalah yang harus diatasi dalam pemulihan seksio sesarea adalah masalah nyeri. Bukti baru menunjukkan potensi terapeutik vitamin B1, B6, dan B12 dalam kondisi nyeri yang berbeda. Tujuan: untuk mengetahui efektivitas vitamin B1, B6, dan B12 terhadap intensitas nyeri pada seksio sesarea.Subjek dan Metode: Penelitian dengan desain eksperimental rancangan acak tersamar ganda pada pasien yang dilakukan seksio sesarea di RS Batara Siang Pangkep, bulan Januari hingga Februari 2024. Sebanyak 26 subyek penelitian dibagi rata dalam dua kelompok: kelompok kontrol tidak mendapat suplemen dan kelompok perlakuan mendapatkan vitamin B1 100 mg, vitamin B6 100 mg, vitamin B12 5000 mcg dalam bentuk sediaan ampul (Neurosanbe®) 1 jam sebelum operasi. Pencatatan intensitas nyeri (numerical rating scale = NRS) pada jam ke 2, 4, 8, 12, 24 pasca seksio sesarea, yaitu berupa nyeri diam dan nyeri gerak.Hasil: Puncak intensitas nyeri gerak maupun diam adalah 24 jam pasca seksio sesarea pada kedua kelompok. Terdapat perbedaan signifikan
Anestesi untuk Seksio Sesarea Elektif Pasien dengan Morbid Obesitas, Preeklampsia dan Asma Bronkial Yulianti Bisri, Dewi; Zaka Anwary, Army; Soefviana, Stefi Berlian; Bisri, Tatang
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 2 (2024): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i2.187

Abstract

Obesitas telah berkembang sebagai faktor risiko utama dan sering sebagai komplikasi pada kehamilan berupa hipertensi, diabetes melitus gestasional, seksio sesarea, dan infeksi pascapersalinan dan pascaoperasi, insiden emboli paru dan perdarahan postpartum primer. Preeklampsia mempengaruhi 2% hingga 8% dari semua kehamilan merupakan gangguan kehamilan spesifik yang mengakibatkan hipertensi dan disfungsi multiorgan dan menetap setelah persalinan serta merupakan penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia. Seorang wanita, 41 tahun, G4P1A2, berat badan 135 kg, tinggi badan 161 cm, BMI 52,1 kg/m2, obese kelas III, bekas seksio sesarea satu kali 15 tahun yang lalu, lingkar leher 51 cm, jarak thyromental lebih dari 3 jari, skor Mallampati 2, wheezing positif pada kedua lapang paru akan dilakukan seksio sesarea karena preeklampsi. Obat-obatan yang dikonsumsi adalah acetylsalicylic acid yang dihentikan 1 hari yang lalu, nifedipin, metildopa, salbutamol spray. Induksi anestesi dengan propofol, pelumpuh otot dengan atracurium, dan rumatan anestesi dengan N2O/O2 sevofluran. Dilahirkan bayi perempuan dengan berat badan 2,2 kg, panjang badan 44 cm, APGAR score 1 menit 6 dan 5 menit 9. Diberikan metilergometrin 0,2 mg intravena dan 0,2 mg intramuskuler dan oksitosin 20 IU dilarutkan dalam 500 mL RL. Linier analog score (LAS score) 6-7-8. Total perdarahan 600 mL. Lama operasi 90 menit. Selesai operasi, ibu bisa diekstubasi.
Manajemen Anestesi Gravida dengan Plasenta Akreta yang dilakukan Seksio Sesarea dengan Transarterial Ballooning Azman, Radhillah; isngadi, Isngadi
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 3 (2024): November
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i3.153

Abstract

Bleeding before (antepartum) and after (postpartum) delivery remains a major contributor to perinatal mortality and maternal morbidity worldwide. Placenta accreta is a cause of maternal morbidity and mortality, recently becoming the most common reason for emergency postpartum hysterectomy. A 35-year-old woman weighing 55 kg, height 151 cm, G3P1101Ab000 at a gestational age of 34-36 weeks, with a history of antepartum bleeding and suspicion of placenta accreta from the ultrasound, is scheduled for pregnancy termination via cesarean section. Before the surgery, a transarterial balloon catheter is inserted, and the estimated blood loss during the operation is around 10,000 ml. In this patient, the choice of general anesthesia is made considering the history of third-trimester bleeding, a high probability index score of 51% for accreta, and the plan for hysterectomy, leading to an anticipated prolonged operation time. Additionally, the risk of significant bleeding during the surgery prompts the selection of general anesthesia for hemodynamic management, and the placement of a catheter balloon is done to anticipate massive bleeding. To obtain a more comprehensive comparison and understanding of estimated blood loss, a comparison with other cases involving catheter balloon procedures before or after surgery is needed.
Kombinasi Teknik Anestesi Epidural dan Anestesi Umum Intubasi pada Pasien Seksio Sesarea dengan Plasenta Perkreta Yuliandra, Yudhistira; isngadi, Isngadi
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 3 (2024): November
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i3.157

Abstract

Plasenta perkreta dikaitkan dengan morbiditas ibu yang lebih tinggi daripada subtipe plasenta akreta lainnya karena invasi plasenta yang lebih luas sehingga menimbulkan perdarahan sulit dikontrol dan sering membutuhkan tranfusi masif. Pada kasus ini dilaporkan seorang pasien perempuan hamil dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir disertai riwayat urine bercampur darah yang dilakukan operasi seksio sesarea. Pasien dilakukan anestesi epidural untuk kelahiran bayi yang dilanjutkan dengan anestesi umum intubasi setelah bayi lahir. Saat intraoperatif didapatkan perdarahan masif dan dilakukan protokol tranfusi masif. Hemodinamik bisa dipertahankan stabil sampai setelah operasi. Hasil laboratorium setelah operasi sudah mendekati target dari protokol transfusi masif. Kondisi bayi baik saat dilahirkan. Tatalaksana anestesi, perkiraan jumlah perdarahan intraoperatif, resusitasi cairan yang adekuat dan transfusi darah yang tepat akan memberikan dampak besar terhadap kondisi ibu dan bayi selama operasi dan paska operasi seksio sesarea dengan plasenta perkreta.