cover
Contact Name
Dwi Wahyuni
Contact Email
dwiwahyuni@uinib.ac.id
Phone
+6281272162942
Journal Mail Official
al-adyan@uinib.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Mahmud Yunus Padang Kode Pos 25153
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Al-Adyan: Journal of Religious Studies
ISSN : 2745519X     EISSN : 2723682X     DOI : -
Al-Adyan: Journal of Religious Studies adalah jurnal ilmiah akademis yang diterbitkan oleh Program Studi (Prodi) Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang. Jurnal ini terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember yang mempublikasikan artikel berbasis hasil penelitian studi agama dalam ragam perspektif;perbandingan, sejarah, sosiologi, antropologi, fenomenologi, hubungan antar agama, multikulturalisme, serta isu-isu kontemporer lainnya. Al-Adyan: Journal of Religious Studies mengundang para penulis dan peneliti untuk menyumbangkan karya terbaik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2022)" : 7 Documents clear
Religious Tolerance in Minangkabau from a Psychological Perspective Mai Tiza Husna; Widia Sri Ardias; Indah Andika Octavia
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v3i1.4127

Abstract

Religious intolerance in Minangkabau is an issue that is often discussed recently, as reported in print and online media. This research aims to explain the psychological dynamics of the emergence of intolerant behavior and the efforts that can be made to increase religious tolerance from a psychological point of view. This research is a qualitative research with literature study. The results showed that there are 3 processes that occur when a person will take an action or not, the first is affective (positive or negative feelings about a group), psychological (open-minded thought) and behavior (tolerant or intolerant behavior).Intoleransi beragama di Minangkabau merupakan isu yang sering diperbincangkan akhir-akhir ini seperti diberitakan di media cetak dan online. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika psikologis munculnya perilaku intoleran dan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan toleransi beragama dari segi psikologis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 3 proses yang terjadi ketika seseorang akan melakukan suatu tindakan toleransi atau intoleransi, yang pertama adalah afektif (perasaan positif atau negatif tentang suatu kelompok), psikologis (pikiran terbuka) dan perilaku (perilaku toleran atau intoleran).
Resolusi Konflik Islam–Kristen Perspektif Al-Qur’an dan Injil Ramadhanita Mustika Sari
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v3i1.4087

Abstract

This article aims to provide a new conflict resolution perspective on the conflict between Islam and Christianity in Indonesia. This article is a qualitative research with the type of literature review research. The data in this article were collected using documentation techniques that were applied to search for primary and secondary data. The data were analyzed using a qualitative approach, namely data management, data reduction, data display and drawing conclusions. This article finds that: first, the relationship between Muslims and Christians has various dynamics in Indonesia, one of which is conflict. Second, both in Islam and in Christianity, both have doctrines or dogmas that are exclusive in viewing religious adherents outside their adherents. These two findings, are facts that can not be denied and it really happened. Based on these findings, this article formulates two conflict resolutions to overcome these two issues, namely practical resolution and dogmatic conflict resolution.Artikel ini bertujuan untuk memberikan perspektif resolusi konflik baru terhadap konflik antara Islam dan Kristen di Indonesia. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kajian pustaka. Data-data di dalam artikel ini dikumpulkan menggunakan teknik dokumentasi yang diterapkan untuk pencarian data primer maupun data sekunder. Data-data dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif yakni manajemen data, reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Artikel ini menemukan bahwa: pertama, hubungan pemeluk Islam dan Kristen memiliki berbagai dinamika di Indonesia, salah satu hubungan itu adalah konflik. Kedua, baik dalam Islam maupun dalam Kristen, kedua-duanya memiliki doktrin atau dogma yang bersifat eksklusif dalam memandang pemeluk agama di luar pemeluknya. Kedua temuan ini, merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri dan itu benar-benar terjadi. Atas dasar temuan tersebut artikel ini merumuskan dua resolusi konflik untuk mengatasi kedua hal tersebut yakni resolusi bersifat praktis dan resolusi konflik bersifat dogmasitas. 
Etika Protestan dan Asketisme dalam Pemikiran Max Weber Endrika Widdia Putri
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v3i1.4094

Abstract

The use of social media to transform positive values among the younger generation and millennials, including the values of religious tolerance, is very significant to do in the current era of information technology. Relevant to that, this study aims to explore messages of religious tolerance found on social media, in this case the vlog belongs to Gita Savitri Devi, a youtuber and social media activist. This research is a qualitative type of library research, because the data collected is obtained from library materials, especially video documentation from Gita's YouTube. The data were analyzed using content analysis techniques. The results obtained are that in Gita Safitri Devi's vlog, especially the seven video shows, there are five elements of religious tolerance including, acknowledging the rights of others, respecting other people's beliefs, agreeing in disagreement, understanding each other, as well as awareness and honesty. It can be concluded that Gita Savitri Devi through her vlog seeks to participate in transforming the values of religious tolerance to young people, especially millennials who love social media.Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pandangan Max Weber (1864–1920) sosiolog modern asal Jerman mengenai kaitan antara etika Protestan dan asketisme. Di mana artikel ini menggunakan metode eksploratif dan analitis kritis untuk mendapatkan hasil yang dicari. Hasil studi menemukan bahwa asketisme dalam pandangan Max Weber yang terdapat dalam etika Protestan adalah pengendalian diri dalam kehidupan duniawi dengan tujuan mendapatkan jaminan surga dari Tuhan, dengan melakukan berbagai kewajiban moral, seperti; berbuat baik, hidup sederhana; tidak berlebihan dan tidak berkekurangan, semangat bekerja memperoleh materi dan hidup sopan santun serta saling menolong. Dalam pandangan Max Weber terdapat hubungan timbal balik yang saling menstimulus antara asketisme yang ada dalam etika Protestan dan kapitalisme. Bahwa untuk mendapatkan calling Tuhan manusia harus bekerja keras di dunia, namun tanpa meninggalkan pola hidup asketis; hemat, tidak berfoya-foya, tidak berlebihan dan lain sebagainya yang mengambarkan kebaikan moral.
Moderasi Beragama dalam Perspektif Tindakan Sosial Max Weber Sumintak Sumintak; Iin Ratna Sumirat
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v3i1.4085

Abstract

This article discusses Max Weber's thoughts on social actions which are assumed to contribute to radical behavior. The thought will be related to the concept of religious moderation as one of the most important things in understanding one's religious actions. This article is a library research that examines various existing literature such as books, magazines, documents, and historical records, this is a series of activities carried out in order to collect library data or study literature on social actions in the context of religious moderation. using an interpretative phenomenological approach. The results of this study indicate that there are four types of social action that can be harmonized in religious moderation, namely traditional action, affective action, instrumental rationality, and value rationality. If religious people implementation the pattern of these four actions by combining them, then the understanding of religious moderation will be quickly understood by all religious people so that it can provide comfort and peace when carrying out religious activities in the reality of everyday life.Artikel ini membahas tentang pemikiran Max Weber tentang tindakan sosial yang diasumsikan turut membentuk prilaku radikal. Pemikiran tersebut akan dihubungkan dengan konsep moderasi beragama sebagai salah satu hal terpenting dalam memahami tindakan keberagamaan seseorang. Artikel ini merupakan kajian kepustakaan (library research) yang menelaah berbagai literatur yang ada seperti buku, majalah, dokumen, dan catatan-catatan sejarah, ini merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka melakukan pengumpulan data kepustakaan atau kajian literatur tentang tindakan sosial dalam konteks moderasi beragama menggunakan pendekatan fenomenologi interpretative. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada empat tipe tindakan sosial yang dapat diselaraskan dalam moderasi beragama yaitu tindakan tradisonal, tindakan afektif, rasionalitas instrumental, rasionalitas nilai. Apabila umat beragama menerapkan pola keempat tindakan tersebut dengan mengkombinasikannya maka pemahaman terhadap moderasi beragama akan begitu cepat dipahami oleh semua umat beragama sehingga dapat memberikan kenyamanan dan ketentraman saat menjalankan aktifitas kegamaan dalam realitas kehidupan sehari-hari.
The Domination of The Salafi Movement in West Sumatra: Framing Analysis on Surau TV Channel Anjali Sabna
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v3i1.4321

Abstract

This study aims to analyze the social discourse contained in salafi da'wah content on the Surau TV Youtube channel. By looking at the content distributed by salafi groups in West Sumatra, this study uses qualitative research methods with data collection techniques using digital data and literature studies. Furthermore, the data analysis in this study is using Robert D. Benford and David Snow framing analysis which includes; diagnostic, prognostic and motivational. This study finds that there are three social discourses contained in Surau TV content including: addiction to technology, usury transactions, and interactions between Muslims and non-Muslims. Surau TV diagnoses problems in implementing Islamic law, starting from the technological aspect, Socio-cultural and religious attitudes are issues that need to be considered in upholding Islamic law and forming harmonious relations between religions. In its prognostic strategy, Surau TV creates content that incorporates the application of Islamic law in everyday life. In addition, the motivational strategy, Surau TV invites for tips to apply Islamic law in daily life in order to create a generation that is in accordance with Islamic law.Studi ini bertujuan menganalisa wacana sosial yang terdapat dalam konten dakwah salafi di channel Youtube Surau TV. Dengan melihat konten-konten yang disebarkan oleh kelompok salafi di Sumatera Barat, studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan data-data digital dan studi literatur. Selanjutnya analisis data dalam penelitian ini yakni menggunakan analisis framing Robert D. Benford dan David Snow yang meliputi; diagnosis, prognosis dan motivasional. Studi ini menemukan bahwa terdapat tiga wacana sosial yang terdapat dalam konten Surau TV diantaranya: kecanduan dalam berteknologi, transaksi riba, dan interaksi antara muslim dan non muslim. Surau TV mendiagnosis, permasalahan dalam menerapkan syariat Islam mulai dari aspek teknologi, sosial budaya dan sikap dalam beragama merupakan permasalahan yang perlu diperhatikan dalam menegakkan syariat Islam dan membentuk hubungan yang harmonis antar agama. Dalam strategi prognosisnya, Surau TV menciptakan konten-konten yang berunsur penerapan syariat Islam tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, strategi motivasionalnya, Surau TV mengajak untuk kiat menerapkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari demi menciptakan generasi yang sesuai dengan syariat Islam.
Pandemic and The Path To Religious Moderation Thaufiq Hidayat; Asmawati Asmawati
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v3i1.3907

Abstract

The Covid-19 threat continues to grow the life of the human life. It is not this epidemic to be a problem for the way of the Muslim religion. The controversy of Covid-19 earnings has a variety of understanding of the influence on Muslim attitudes in the face of pandemics. It may respond with excessive fear so that it is to dismiss the power of God; others are too manifesting impressed to reject the scientific reality. Therefore, it is necessary to understand the meaning of religious moderation in handling this outbreak. This article analyzes how to actualize religious moderation during a pandemic, from understanding steps to actual steps. The research method used in this paper uses the library research approach formulated by the description method and interpretative analysis related to the issues discussed. The results of this study show there are several roads to actualize the moderate of this pandemic era, among others, balancing theology, obeying the health protocol, strengthening knowledge, taking alerting or controlling emotions, and if it has been declared positively immediately prioritized.Ancaman Covid-19 terus menggerus lini kehidupan umat manusia. Tak pelak juga wabah ini menjadi problem terhadap cara keberagamaan muslim. Kontroversi mewabahnya Covid-19 menimbulkan berbagai sudut pemahaman yang berpengaruh pada sikap muslim dalam menghadapi pandemi. Kiranya ada yang menanggapi dengan rasa takut yang berlebihan sehingga menafikan kekuasaan Tuhan, sebagian lainnya bersikap terlalu menyepelekan terkesan menolak realitas ilmiah. Oleh karena itu, diperlukan sikap dan pemahaman yang mengandung makna moderasi beragama dalam menangani wabah ini. Artikel ini bertujuan untuk menganalisa bagaimana mengaktualisasiakan moderasi beragama di tengah pandemi mulai dari langkah memahami sampai pada langkah nyatanya. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini menggunakan pendekatan library research yang diformulasikan dengan metode deskripsi dan analisis interpretatif berkaitan dengan persoalan yang dibahas. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan terdapat beberapa jalan mengaktualisasikan moderasi beragama era pandemi ini antara lain, menyeimbangkan teologi, menaati protokol kesehatan, penguatan pengetahuan, mengambil sikap waspada atau mengontrol emosi, dan apabila telah dinyatakan positif hendaknya segera dikarantina.
Katolik Garis Lucu: Membangun Jembatan Dialog Multikulturalisme di Ruang Twitter Faza Achsan Baihaqi
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v3i1.4074

Abstract

The life of a post-truth society has the potential for conflicts that arise from ways of interacting and communicating based on certain social identities, such as religion. At the same time, the phenomenon of the emergence of Garis Lucu (GL) accounts is seen as being able to maintain a diversity of identities through humorous content. This article wants to show what kind of digital interaction is displayed by GL accounts with netizens. The author will focus on examining the existence of Katolik Garis Lurus account on Twitter (@KatolikG) with a virtual ethnographic approach. If previously reading the phenomenon of funny lines was more synonymous with nuances of humor in all its forms of existence, the @KatolikG account shows something different. In other words, this article finds that the @KatolikG account in some forms of interaction makes more use of the hashtag feature to build a dialogue with netizens who have diverse backgrounds. This is evident from how the hashtags displayed by the @KatolikG account are able to attract attention internally but also provoke interaction from outsiders; to share religious expressions or respond to problems that exist in society. The interesting thing is that the conversation that is built in it shows a fairly flexible, fluid, and dynamic nature without inviting the presence of negative sentiments for different identities.Kehidupan masyarakat pasca-kebenaran berpotensi terjadinya konflik yang lahir dari cara berinteraksi dan berkomunikasi yang didasarkan pada identitas sosial tertentu, misalnya adalah agama. Pada saat yang bersamaan fenomena munculnya akun-akun Garis Lucu (GL) dipandang akan mampu merawat keragaman identitas melalui konten-konten yang bernada humor. Artikel ini ingin menunjukkan seperti apa bentuk interaksi digital yang ditampilkan oleh akun-akun GL dengan para netizen. Penulis akan fokus mengkaji eksistensi akun Katolik GL di Twitter (@KatolikG) dengan pendekatan etnografi virtual. Jika sebelumnya pembacaan atas fenomena garis lucu lebih identik dengan nuansa humor dalam segala bentuk eksistensinya, akun @KatolikG menunjukkan hal yang berbeda. Dengan kata lain, artikel ini menemukan bahwa akun @KatolikG dalam beberapa bentuk interaksinya lebih memanfaatkan fitur hastag untuk membangun dialog dengan para netizen yang memiliki latar belakang yang beragam. Hal ini tampak jelas dari bagaimana hastag yang ditampilkan oleh akun @KatolikG mampu menarik perhatian secara internal tetapi juga memancing interaksi orang luar; untuk saling berbagi ekspresi keagamaan ataupun merespon persoalan yang ada di masyarakat. Menariknya percakapan yang terbangun di dalamnya menunjukkan sifat yang cukup lentur, cair, dan dinamis tanpa mengundang hadirnya sentimen negatif atas identitas yang berbeda.

Page 1 of 1 | Total Record : 7