cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Membran PVA-chitosan crosslinked untuk pemisahan campuran etanol-air secara pervaporasi I Noezar
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 1 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.1.3

Abstract

One of the technologies for ethanol-water separation is pervaporation. The principles of pervaporation is based on the difference in diffusional rate and solubility of the solution components in membranes. The performance of the membrane, in terms of flux and selectivity, is influenced by the swelling of the membrane due to the interaction between the solution components and the membrane materials.  Membrane modification is done by forming chemical bonding between PVA and chitosan, using glutaraldehyde as crosslinking agent. The performance of the PVA-chitosan   crosslinked membrane for ethanol-water separation is characterized by high mass flux and   reasonably high selectivity. Pressure observed on the permeate side was 0.5 mbar, with a feed ethanol concentration of 93%. Experimental results indicate that the PVA membrane has a higher degree of swelling compared to the crosslinked PVA-chitosan membrane. The PVA-chitosan crosslinked membrane has a higher selectivity compared to the PVA membrane. The highest flux of 0.833 kgm-2hour-1 was produced by the PVA membrane. The highest selectivity of 2.820 was obtained using a 1:1 PVA-chitosan crosslinked membrane.Keywords: PVA-chitosan; crosslinked; pervaporation Abstrak Salah satu teknologi untuk pemisahan etanol-air adalah pervaporasi. Prinsip pemisahan pervaporasi adalah dengan perbedaan laju difusi dan kelarutan komponen campuran pada membran. Kinerja membran berupa fluks dan selektivitas dipengaruhi oleh kondisi swelling membran akibat interaksi komponen dengan material membran. Modifikasi membran dilakukan dengan membentuk ikatan kimia antara PVA dan chitosan dengan glutaraldehid sebagai crosslinking agent. Kinerja membran PVA-Chitosan crosslinked dalam pemisahan campuran etanol-air berupa fluks massa yang tinggi dan selektivitas yang cukup besar. Tekanan pada sisi permeat 0,5 mbar dengan konsentrasi etanol umpan 93%. Hasil penelitian menunjukkan membran PVA memiliki nilai derajat swelling lebih tinggi (0,088) daripada membran PVA-Chitosan crosslinked. Membran PVA-Chitosan crosslinked memiliki selektivitas lebih tinggi daripada membran PVA. Fluks terbesar dimiliki oleh membran PVA senilai 0,833 kgm-2jam-1membran PVA-Chitosan crosslinked 1:1 sebesar 2.820.Kata Kunci : PVA-Chitosan; crosslinked; pervaporasi
Simulasi difusi dan adsorpsi matriks pada proses enhanced coalbed methane Ade Nurisman; Retno Gumilang Dewi; Ucok W.R. Siagian
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 4 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2013.12.1.1

Abstract

Diffusion and matrix adsorption simulations in enhanced coalbed methane process. Carbon capture and storage (CCS) can be considered as one of climate change mitigation efforts, through capturing and injecting of CO2 in underground formations for reducing CO2 emissions. CO2 injection in coalbed methane (CBM) reservoir has potentially attracted for reducing CO2 emissions and enhancing coalbed methane (ECBM) recovery. Diffusion and sorption are phenomenon of gas in the matrix on CO2 injection in CBM reservoir. The objectives of the research are focused on understanding of diffusion and sorption of gas in the coal matrix with mathematical model and estimating of CO2 storage in coalbed and CH4 recovery. In this research, mathematical model is developed to describe the mechanism in the matrix on ECBM process. Mathematical model, which have been valid, is simulated in various variables, i.e. macroprosity (0.001, 0.005, and 0,01), pressure (1, 3, and 6 MPa), temperature (305, 423, and 573 K), and initial fraction of CO2 (0.05, 0.1, 0.3, and 0.5). The results of this research show that preferential sequestration of CO2 and preferential recovery of CH4 in the surface of micropore on macroporosity 0.001, pressure 1 MPa, temperature 305 K, and inital fraction CO2 0,5 conditions are 0.9936 and 0.0064.Keywords: carbon capture and storage (CCS), coalbed methane (CBM), ECBM, diffusion, adsorption Abstrak Carbon capture and storage (CCS) dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya mitigasi perubahan iklim, yaitu dengan menangkap CO2 dan menginjeksikannya ke dalam formasi bawah permukaan. Injeksi CO2 pada lapangan coalbed methane (CBM) berpotensi mengurangi emisi CO2 dan meningkatkan produksi CBM (ECBM). Pada proses injeksi CO2 di lapangan CBM, fenomena yang terjadi di dalam matriks lapisan batubara (coalbed) adalah difusi dan adsorpsi. Penelitian ini bertujuan memahami fenomena difusi dan adsorpsi pada proses injeksi CO2 untuk ECBM melalui model matematika, dan memperkirakan potensi penyimpanan CO2 di dalam lapangan CBM dan potensi recovery CH4. Pada penelitian dilakukan pengembangan model matematika untuk menjelaskan fenomena di dalam matriks pada proses ECBM. Model matematika, yang telah valid, disimulasikan dengan memvariasikan beberapa variabel, yaitu makroporositas (0,001, 0,005, dan 0,01), tekanan (1, 3, dan 6 MPa), suhu (305, 423, dan 573 K), dan fraksi CO2 awal (0,05, 0,1, 0,3, dan 0,5). Hasil penelitian menunjukkan pada makroporositas 0,001, tekanan 1 Pa, suhu 305 K, dan fraksi CO2 awal 0,5, fraksi CO2 yang teradsorpsi pada permukaan mikropori bernilai 0,9936 dan sisa fraksi CH4 yang teradsorpsi pada permukaan mikropori bernilai 0,0064. Kata kunci: carbon capture and storage (CCS), coalbed methane (CBM), ECBM, difusi, adsorpsi
Pengambilan ion cadmium (II) dari air limbah simulasi menggunakan fly ash aktif: studi kesetimbangan I Made Bendiyasa; D Setiawan; R. Octaviany
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 2 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2008.7.2.6

Abstract

The experimental study of equilibrium of Cadmium (II) adsorbed with fly ash has been performed. The experimental rig was consisted of a 0.5 L three neck flask, a stirrer, a condenser and a thermometer. The rig was immersed in a water bath that was used to control the experimental temperature. The three neck flask was filled with 0.3 L Cadmium solution of a fixed concentration and then 0.3 g of flay ash was put into the flask. Chemical composition of fly ash are as follows (weight %): SiO2 = 54,23; Al2O3 = 25,38; H2O = 2,5; MgO = 1,O; Ca0 = 4,63; Na20 = 0,32; K20 = 0,60; Mn0 = 0,014; Fe2O3 = 6,01; TiO2 = 0,007; P2O5 = 0,042 and loss of ignition (LOI) is 5,26. Cation exchange capacity is 990 meq/kg fly ash. Each run was conducted for 2 hours, and at the end of each experiment Cadmium (II) was analyzed with Atomic Absorbtion Spectrophotometer (AAS). Variables studied were temperature ranging from 303 to 323 K and initial concentration of Cadmium (II) from 7 to 10 mg Cadmium (II) L-1. Experimental data were evaluated with both Langmuir and Freundlich models. It is found that the experimental data is in a good agreement with Langmuir model. Relationships between K for Langmuir and Freundlich and temperature are, respectively, KLangmuir = 2,841066e(-35401,01/RT) and KFreundlich = 4, 75104e(-34403,20/RT) Keywords: fly ash, Langmuir, Freundlich, Cadmium, equilibrium Abstrak Pengambilan Cd(II) dari air limbah simulasi diteliti dengan menggunakan fly ash sebagai adsorben. Tujuan utama penelitian ini adalah mempelajari kesetimbangan adsorpsi Cd(II) dengan fly ash. Disamping itu juga bertujuan untuk mengetahui kapasitas maksimum adsorpsi fly ash. Setiap percobaan dilakukan dalam suatu reaktor batch yang suhunya dipertahankan tetap. Reaktor yang digunakan adalah labu leher tiga dengan volum 0, 5 L yang dilengkapi dengan pengaduk merkuri, pendingin balik, dan termometer. Fly ash dengan berat 0,3 gram dimasukkan ke dalam reaktor yang telah diisi dengan suatu larutan Cadmium dengan volume 0,3 L dan konsentrasi tertentu. Komposisi kimia fly ash adalah (% berat): %): SiO2 = 54,23; Al2O3 = 25,38; H2O = 2,5; MgO = 1,O; Ca0 = 4,63; Na20 = 0,32; K20 = 0,60; Mn0 = 0,014; Fe2O3 = 6,01; TiO2 = 0,007; P2O5 = 0,042 dan berat hilang = 5,26. Fly ash yang dipakai mempunyai nilai kapasitas pertukaran kation (KPK) yang nilainya sama dengan 990 meq/kg fly ash. Setiap percobaan dilakukan selama dua jam, dan kemudian konsentrasi Cd(II) di dalam larutan  dianalisis kadar Cd(II)-nya menggunakan Atomic Absorbtion Spectrophotometer (AAS). Variabel yang dipelajari adalah suhu (T) dan konsentrasi awal (Co) larutan. Kisaran suhu yang diteliti adalah 303 sampai 323 K dan konsentrasi awal (Co) antara 7 sampai 10 mg Cd(11) L-1. Data percobaan dievaluasi dengan model Langmuir dan Freundlich.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorpsi Cd(II) dengan fly ash lebih sesuai dengan model Langmuir. Hubungan K untuk Langmuir dan Freundlrich dengan suhu berturut adaIah KLangmuir = 2,841066e(-35401,01/RT) and KFreundlich = 4, 75104e(-34403,20/RT)Kata kunci: fly ash, Langmuir, Freundlich, Cadmium, kesetimbangan
Pengambilan senyawa polisakarida ekstraseluler dari mikroorganisme dalam lumpur aktif sebagai adsorben logam berat H Haryono; Tjandra Setiadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 5, No 2 (2006)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2006.5.2.7

Abstract

Extracellular polysaccaride extraction from activated sludge microorganism as heavy-metal adsorbent. Microorganisms in the form of bioagregate are the main component of activated sludge. It generally has an ability to produce EPS (extracellular polymeric substances). The important components in EPS are polysaccharides and proteins. EPS recovery from the activated sludge may be done by many extraction methods. Six of the extraction methods to extract EPS from the activated sludge have been studied in this research, such are: Middle Speed Centrifugation, Regular Centrifugation, NaOH Extraction, EDTA Extraction, Steaming Extraction and Sonication. EPS solution in the following step would be tested its performances as adsorbent of copper heavy metal. The research result shows that the best extraction method for EPS extraction was NaOH Extraction method. The amount of the polysaccharides obtained was 18,09 mg EPS/g TSS. On other hand, Steaming Extraction was the most ineffective extraction method. This method gives the polysaccharides result in the least amount, i.e., about 4,96 mg EPS/g TSS. In this research, the protein content was not detected in the all used EPS solution. In the adsorption test, the adsorption phenomena of copper metal with EPS adsorbent fitted to the Freundlich isotherm adsorption equation. The values of Freundlich's a constant (k and n) each were 2,282 and 0,963. The average maximum adsmption capaciry of EPS to metal Cu was 88,34 mg Cu/gEPS.Keywords:  Adsorption,  Heavy  Metal,  Activated  Sludge,  Extraction Methods, Polysaccharides Extracellular, Copper.AbstrakMikroorganisme dalam bentuk bioagregat adalah merupakan penyusun utama lumpur aktif, memiliki sifat  umum  yaitu  dalam  kemampuannya memproduksi  SPE (Senyawa  Polimer  Ekstraselluler). Komponen  utama dari SPE adalah polisakarida  dan protein. Pengambilan SPE dari bioagregat dapat dilakukan dengan banyak metode ekstraksi.Pada penelitian ini telah dipelajari karakteristik enam  metode  ekstraksi, yaitu: Sentrifugasi Kecepatan Sedang, Sentrifugasi Reguler, Ekstraksi dengan NaOH. Ekstraksi dengan EDTA, Ekstraksi dengan Pemanasan dan Sonikasi. Larutan SPE yang diperoleh, kemudian diuji kinerjanya sebagai adsorben logam berat tembaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  metode ekstraksi terbaik adalah metode Ekstraksi dengan NaOH, dengan perolehan polisakarida sebesar 18,09 mg/g TSS. Sedangkan Ekstraksi dengan pemanasan merupakan metode ekstraksi yang paling tidak efektif dengan perolehan polisakarida paling sedikit, yaitu sekitar 4,96 mg/g TSS. Pada penelitian ini tidak dijumpai adanya protein di dalam larutan SPE dari semua  metode ekstraksi yang diterapkan. Pada uji adsorpsi, peristiwa adsorpsi logam  Cu dengan larutan SPE lebih mengikuti persamaan adsorpsi isoterm Freundlich dengan harga konstanta k dan n masing-masing sebesar 2,282 dan 0,963. Kapasitas adsorpsi maksimum rata-rata SPE terhadap logam Cu adalah sebesar 88,34 mg Cu/g SPE.Kata kunci:  Adsorpsi, Logam Berat, Lumpur Aktif, Metode Ekstraksi, Polisakarida Ekstraselluler, Tembaga.
Sifat reologi larutan tapioka Danu Ariono; Lestri Fajrinia; Ria Julyana; M Manullang
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 2 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.2.2

Abstract

Rheological properties of tapioca solutionThe special characteristic of tapioca starch is raising the water absorption index (WAI) which causing the value of tapioca starch's viscosity varying. Changing of viscosity is discussed in rheology. Knowledge about rheology of tapioca starch is crucial for process and utility design. The objectives of this research are to determine the correlation of tapioca starch viscosity with the changes of temperature and tapioca starch concentration and also to model the rheology of tapioca starch. Research will be conducted by hydrolyzing tapioca starch by a-amylase. The experimental variables are tapioca starch concentration (20, 30 and 40%-wt) and operation temperature (55,70 and 900°C). Tapioca starch viscosity is measured by Brookfield Viscometer model RV Fserial 76452. From there search results we can conclude that viscosity of tapioca starch will increase by decreasing temperature and also viscosity of tapioca starch will increase by increasing tapioca starch concentration. For the same condition, viscosity of unmodified tapioca starch is higher than modified one. Modified tapioca starch is pseudo-plastic fluid with 9.000-460.000 cP of viscosity while unmodified one is Bingham fluid with 40-240cP of viscosity.Keywords : Rheology, tapioca starch, viscosity AbstrakSalah satu karakteristik pati tapioka adalah peningkatan kemampuan dalam menyerap air yang menyebabkan nilai viskositas larutan tapioca turut berubah. Perubahan nilai viskositas ini dibahas dalam ilmu reologi. Pengetahuan mengenai sifat reologi pasta tapioka ini sangat diperlukan dalam perancangan proses maupun sistem utilitas pabrik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara nilai viskositas larutan tapioca terhadap perubahan temperatur dan konsentrasi pati serta memodelkan perilaku reologis dari larutan tapioka. Penelitian dilakukan dengan menghidrolisis pati tapioka menggunakan katalis enzim a-amylase. Variasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah konsentrasi pati tapioca dalam umpan sebesar 20, 30 dan 40%-b, serta temperatur operasi sebesar 55, 70 dan 90 (ºC) Pengukuran nilai viskositas larutan pati tapioka dilakukan dengan menggunakan Brookfield Viscometer model RVF serial 76452. Hasil percobaan menunjukkan bahwa nilai viskositas larutan tapioka akan meningkat seiring dengan menurunnya temperatur larutan, dan meningkatnya konsentrasi pati tapioka. Pada setiap variasi, nilai viskositas larutan tapioka tak termodifikasi lebih tinggi bila dibandingkan dengan viskositas larutan tapioka termodifikasi. Larutan tapioka termodifikasi bersifat sebagai fluida pseudoplastic dengan rentang nilai viskositas antara 9.000-460.000 cP, sedangkan larutan tapioka termodifikasi bersifat sebagai fluida Bingham dengan nilai viskositas antara 40-240 cP.Kata Kunci: reologi; pati tapioka; viskositas
Front Matter Vol 7, No 2 (2008) Yazid Bindar
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 7, No 2 (2008)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan asam lemak bercabang dari minyak kepoh Tirto Prakoso; Tatang H Soerawidjaja; Yoel Pasae
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 1 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2005.4.1.6

Abstract

Oil from kepoh tree (Sterculiafoetida L.) seed kernel is a unique oil because it contains fatty acid which has a cyclopropenoid groups and has almost 90% of composition of the oil. The acid is called sterculic acid which has molecular formula C19H34O2. The fatty acids and derivates has an advance characteristic when it is used as cosmetics, lubricants, paint and plastic products. Its branched alcohol ester is expected as an additives for pour point depressant in fuel or lubricant. In this research, the sterculic acid has possibility to be converted to branched fatty acid methyl ester that is  10-methyl octadecanoic methyl ester through rearrangement of cyclopropenoid group and continued by hydrogenation of its double bond with Palladium catalyst. The product  characteristic is reported in each stage of processes in term of iodine number and saponification number. After hydrogenation for 5 hours, it's founded that iodine value for methyl ester is reduced until 2,84 and its saponification value increased up to 476.08. This is shown that saturated branched methyl ester has been formed.Keywords: Sterculia foetida L.kepoh oil, Branched Fatty Acid, Cyclopropenoid Group, Methanolysis, Biodiesel AbstrakMinyak dari inti biji buah pohon kepoh (Sterculiafoetida L.) tergolong minyak nabati yang unik karena komponen utama asam lemaknya adalah asam sterkulat yang berumus molekul C19H34O2 dengan rantai karbonnya mempunyai gugus cyclopropenoid. Asam sterkulat dapat dikonversi menjadi asam lemak bercabang yaitu  asam  10-metil  oktadekanoat C19H34O2. Asam-asam lemak ini atau turunannya dapat digunakan sebagai komponen racikan/ramuan yang melahirkan karakteristik unggul pada berbagai produk seperti kosmetik, pelumas, cat, dan plastik. Ester isopropilnya diharapkan dapat digunakan sebagai bubuhan (additive), penurun titik tuang (pour point depressant) pada pelumas dan biodiesel. Pada penelitian ini, ditunjukkan bahwa asam sterkulat dalam minyak kepoh dapat dikonversi menjadi asam lemak bercabang yaitu 10-metil oktadekanoat dalam bentuk ester metilnya yang bercampur dengan ester metil lainnya, melalui rute metanolisis (transesterifikasi dengan metanol) minyak kepoh, dilanjutkan penyusunan ulang gugus siklopropenoid dan hidrogenasi ikatan-ikatan rangkap dengan katalis Palladium. Setelah hidrogenasi selama 5jam ditemukan bahwa bahwa angka iodium ester metil sudah tereduksi sampai 2,84 dan angka penyabunan meningkat sampai 476,08. Hal ini menunjukkan bahwa telah terbentuk ester metil bercabang yang jenuh, yaitu 9-metil metilheptadekanoat dan 10-metil metioktadekanoat.Kata Kunci: Sterculia foetida L. kepoh oil, Branched Fatty Acid, Cyclopropenoid Group, Methanolysis,  Biodiesel
Mitra Bestari, Panduan Penulisan, Sampul C.B. Rasrendra
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh aditif terhadap karakteristik membran elektrolit polieter-eter keton tersulfonasi untuk aplikasi sel bahan bakar metanol langsung Sri Handayani; Eniya Listiani Dewi; Widodo Wahyu Purwanto; Roekmijati W. Soemantojo
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 1 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.1.4

Abstract

The influence of the additive on the characteristics of the sulfonated polyether-ether ketone electrolyte membrane for direct methanol fuel cell applicationsThe weakness of comercial membrane (Nafion-117) for the application of direct methanol fuel cell is highly methanol cross-over. It is decreasing the cell voltage. To minimize the methanol cross-over in a membrane, there are two methods can beproposed: the modification of conventional membrane structure (Nafion-117) and development of novel electrolyte membrane (and modified). PEEK can be used as one of alternatives for  direct methanol fuel cell membranes. This PEEK polymer has the stability of chemistry mechanic and thermal. In order to increase ionic conductivity and to decrease methanol permeability. It is necessary to make the modification of sulfonated polyether-ether ketone (sPEEK) with adding higroscopic inorganic additives (SiO2 and  H-zeolit). The type of additive which can increase ionic conductivity for sPEEK membrane is SiO2 (3 wt.%) 2 times, and decrease ionic conductivity 1,7 times for H-zeolite. Methanol permeability of membrane sPEEK with silica added increase 5 times and H-zeolite 2 times compared to sPEEK membrane without additive. Although composite membrane have increasing methanol permeability but that values are still lower than Nafion-117. Conclusion, the addition of SiO2 as additives has given best performance 0,09 S/cm ionic conductivity, 10-7 cm2/S methanol permeability dan 17 wt.% water swelling.Keywords: Additive, Direct Methanol Fuel Cell, Polyether-Ether Ketone, SiO2, H-ZeoliteAbstrakKelemahan membran komersial (Nafion-117) untuk aplikasi sel bahan bakar metanol langsung (direct methanol fuel cell) adalah methanol crossover yang tinggi, hal tersebut yang dapat menurunkan kinerja voltase sel secara keseluruhan. Dalam rangka mengurangi methanol crossover melalui membran, ada dua pendekatan yaitu modifikasi struktur membran konvensional (Nafion) atau pengembangan membran polimer elektrolit (dan modifikasi). Salah satu polimer aromatik yang menarik perhatian sebagai membran elektrolit pada aplikasi DMFC adalah polieter-eter keton (PEEK) karena polimer tersebut mempunyai kestabilan kimia, mekanik dan panas. Agar dapat meningkatkan konduktivitas ionik dan menurunkan permeabilitas metanol dilakukan modifikasi pada polieter-eter keton tersulfonasi (sPEEK) yaitu dengan menambahkan aditif anorganik yang bersifat higroskopik (SiO2 dan H-zeolit) Jenis aditif yang dapat meningkatkan konduktivitas ionik untuk membran elektrolit adalah SiO2 (3% berat) yaitu  sebesar 2 kali, sedangkan H-zeolit menurunkan konduktivitas ionik sebesar 1,7 kali. Permeabilitas metanol membran sPEEK yang ditambahkan SiO2 naik hingga 5x sedangkan yang ditambahkan H-zeolit hanya 2 kali dari membran sPEEK tanpa aditif. Walaupun membran komposit meningkatkan permeabilitas metanol tetapi nilai tersebut masih dibawah membran Nafion-117. Jadi penambahan aditif yang baik dalam membran berbasis polieter-eter keton tersulfonasi adalah SiO2 yang mempunyai konduktivitas ionik 0,09 S/cm, permeabilitas metanol 10-7 cm2/S dan swelling air 17%.Kata kunci : Aditif, Polieter-Eter Keton, Sci Bahan Bakar Metanol Langsung, SiO,, H-Zeolit
Interesterifikasi minyak kelapa sawit dengan metil asetat untuk sintesis biodiesel menggunakan candida rugosa lipase terimobilisasi Heri Hermansyah; Septian Marno; Rita Arbianti; Tania Surya Utami; Anondho Wijanarko
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 1 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.1.5

Abstract

Palm oil interesterification with methyl acetate for biodiesel synthesis using immobilized Candida rugosa lipaseBiocatalyst is a promising alternative catalyst for synthetic biodiesel because it has capability to improve conventional catalyst weakness, such as product purification and undesired side products. However, biocatalyst is easy to be deactivated by alcohol. Therefore, in this research, new method is developed to maintain the activity and stability of biocatalyst during reaction. In this paper, the experimental results of non-alcohol route synthesis of biodiesel using immobilized candida rugosa lipase in zeolit through adsorption method were reported. Methyl acetate as alkyl acceptor was reacted with triglyceride from palm oil in batch reactor. The analytical results from HPLC showed that trioleat convert up to 82% under the condition of 4%-wt substrate of the biocatalyst concentration and oil/alkyl mole ratio equal to 1/12 in 50 hour reaction. The effects of reactant ratio, biocatalyst concentration on concentration profile of tri-, di-, mono-gliceryde, and biodiesel were also observed. Stability test indicated that the activity of the immobilized biocatalyst still remained active for three reaction cycles.  Michaelis-Menten mechanism was used for derivation kinetic reaction equation to describe the behaviour of biodiesel production. Keywords: Biodiesel, interesterification, Candida rugosa lipase, non-alcohol route, immobilized. AbstrakSaat ini riset sintesis biodiesel menggunakan biokatalis sangat menjanjikan karena mampu memperbaiki kelemahan katalis alkali, yaitu kemudahan pemisahan produk dan kemampuan dalam mengarahkan reaksi secara spesifik tanpa adanya reaksi samping yang tidak diinginkan. Namun, biokatalis mudah terdeaktivasi dalam lingkungan beralkohol. Oleh karena itu, dalam riset ini diusulkan untuk melakukan sintesis biodiesel melalui rute non-alkohol untuk menjaga agar aktivitas dan stabilitas biokatalis tetap tinggi selama reaksi berlangsung. Dalam makalah ini akan disajikan hasil penelitian sintesis biodiesel rute non-alkohol menggunakan Candida rugosa lipase yang diimobilisasi dalam zeolit melalui metode adsorpsi dengan mereaksikan metil asetat sebagai penyuplai gugus alkil dengan trigliserida dari minyak kelapa sawit dalam reaktor batch. Hasil analisis HPLC menunjukkan bahwa lebih dari 82% rantai asam lemak dari trigliserida minyak kelapa sawit berhasil dikonversikan menjadi biodiesel pada kondisi konsentrasi biokatalis sebesar 4%-wt substrat dan rasio mol minyak/alkil sebesar 1/12 selama 50 jam reaksi. Pengaruh rasio reaktan, konsentrasi biokatalis terhadap profil konsentrasi dari tri-, di-, mono-gliserida serta biodiesel juga diselidiki. Uji stabilitas menunjukkan bahwa biokatalis terimobilisasi ini masih memiliki aktivitas untuk tiga kali siklus reaksi. Mekanisme Michaelis-Menten digunakan untuk menurunkan persamaan kinetika reaksi yang mampu menggambarkan perilaku produksi biodiesel yang dihasilkan.Kata kunci: biodiesel, interesterifikasi, Candida rugosa lipase, rute non alkohol, imobilisasi

Page 2 of 24 | Total Record : 235