cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
Pengaruh dimensi kompor dan kadar air biomassa terhadap kinerja kompor gasifikasi forced draft Z Zulfansyah; H Hermanto; Muhammad Iwan Fermi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 4 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2013.12.1.7

Abstract

Influence of stove dimensions and biomass moisture content on forced draft gasification stove performanceConsumption level of biomass as a source of primary energy in Indonesia is quite high, reaching 280 million barrels of oil equivalent (BOE) and approximately 84% of the biomass is has been used for the household sector. The application of gasification stove especially in cooking purposes can increase the efficiency of fuel usage. This research uses three units gasification stove with variation of stove dimension. Acacia wood branches with moisture content 7.26%, 9.63% and 12.58% were used as fuel source. Water boiling test (WBT) procedural was used to evaluate the stove performance. Operating time and flame temperature of the stove also were the parameter of stove performance evaluation. Thermal efficiency of the forced draft gasification stove is approximately 25.03% to 30.44%, the most efficient is 12 cm in diameter and 16 cm high stove with 9.63% biomass moisture content. Although the resulting flame is still reddish yellow, the forced draft gasification stove is capable of producing up to 3.43 kWth (kilowatt thermal) thermal energy with the highest flame temperature reaches 933oC. The results show that the gasification stove operating conditions greatly affect the performance of the stove.Keywords: biomass, gasification stove, forced draft, thermal efficiency AbstrakTingkat penggunaan biomassa sebagai sumber energi primer di Indonesia cukup tinggi yaitu mencapai 280 juta setara barel minyak (SBM) dan sekitar 84% dari biomassa tersebut digunakan untuk kebutuhan sektor rumah tangga. Penggunaan kompor gasifikasi untuk kebutuhan rumah tangga khususnya untuk kegiatan memasak dapat meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. Pada penelitian ini digunakan tiga unit kompor gasifikasi dengan variasi dimensi ruang bakar kompor. Sedangkan bahan bakar yang digunakan yaitu ranting kayu akasia dengan kadar air 7,26%, 9,63% dan 12,58%. Metoda pengujian mengikuti prosedur water boiling test (WBT), selain itu waktu operasi dan temperatur nyala api juga menjadi parameter kinerja kompor gasifikasi yang dievaluasi. Efisiensi termal kompor gasifikasi forced draft yang dihasilkan yaitu 25,03% hingga 30,44%, dengan efisiensi tertinggi yaitu pada kompor berdiameter 12 cm dan tinggi 16 cm serta biomassa berkadar air 9,63%. Walaupun nyala api yang dihasilkan masih berwarna kuning kemerahan, namun kompor gasifikasi forced draft mampu menghasilkan energi termal hingga 3,43 kWth (kilowatt thermal) dengan temperatur nyala api tertinggi mencapai 933oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi operasi kompor gasifikasi sangat berpengaruh terhadap kinerja kompor sehingga disain kondisi operasi kompor perlu disesuaikan dengan kebutuhan pengguna kompor gasifikasi. Kata kunci: biomassa, kompor gasifikasi, forced draft, efisiensi termal
Pembuatan geopolimer dari metakaolin dan abu terbang Tjokorde Walmiki Samadhi; Pambudi Pajar Pratama
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 5 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2013.12.2.6

Abstract

SYNTHESIS OF GEOPOLYMER FROM METAKAOLIN AND FLY ASH.Geopolymer is an inorganic polymer produced by reacting aluminosilicate solids with a strongly basic activator. Geopolymers can be applied as construction adhesives, replacing ordinary Portland cement. Geopolymerization reaction may occur near room temperatures, implying less energy consumption compared to Portland cement. A variety of inorganic wastes may be selected as the aluminosilicate reactant, which makes geopolymer useful in managing solid wastes. This study builds upon a previous preliminary study, which has proven the technical feasibility of using domestically available raw materials to produce geopolymers. This particular study evaluates the resistance of geopolymers to high temperature, which simulates fire in civil structures. A 24 full factorial design experiment has been undertaken to evaluate the impact of aluminosilicate type (metakaolin and fly ash), base activator type (NaOH and KOH), curing temperature (60 and 80 oC), and heating at 800oC for 2 hours on the compressive strength of the mortar. Combining fly ash, KOH, and higher curing temperature produces the highest compressive strength. Heating at 800 oC reduces the strength of metakaolin geopolymer by inducing crystallization which consumes the geopolymer gel phase, but improves the strength of the fly ash geopolymer mortar by increasing the cohesion of fly ash particles.Keywords: geopolymer, mortar, OPC, compressive strength, heat resistance AbstrakGeopolimer merupakan polimer anorganik yang tersusun oleh rantai-rantai atom Al, Si, dan O, dan dihasilkan melalui reaksi padatan aluminosilikat dengan aktivator basa kuat. Geopolimer dapat digunakan sebagai bahan perekat untuk konstruksi sebagai pengganti semen Portland. Reaksi geopolimerisasi dapat berlangsung di sekitar temperatur kamar, sehingga konsumsi energi produksi geopolimer lebih rendah daripada OPC. Berbagai limbah anorganik dapat digunakan sebagai reaktan aluminosilikat, sehingga geopolimer juga berguna dalam pengelolaan limbah padat. Kajian ini merupakan kelanjutan dari kajian awal yang membuktikan kelayakan teknis pemanfaatan bahan-bahan dalam negeri untuk sintesis geopolimer. Kajian ini mengevaluasi daya tahan geopolimer terhadap temperatur tinggi, yang mencerminkan kejadian kebakaran pada struktur bangunan sipil. Suatu percobaan faktorial 24 dijalankan untuk mengevaluasi pengaruh jenis bahan aluminosilikat (metakaolin dan abu terbang), jenis aktivator basa (NaOH dan KOH), temperatur pematangan mortar geopolimer (60 dan 80 oC), serta pemanasan pada 800 oC selama 2 jam terhadap kuat tekan mortar geopolimer. Kombinasi abu terbang, aktivator KOH, serta temperatur pematangan 80 oC memberikan kuat tekan  tertinggi, yang bahkan lebih tinggi daripada mortar OPC. Pemanasan pada 800 oC merusak struktur jaringan geopolimer metakaolin dengan mendorong kristalisasi yang mengkonsumsi fasa gel geopolimer, sementara justru memperkuat geopolimer abu terbang dengan meningkatkan kohesi antara partikel-partikel abu terbang.Kata kunci: geopolimer, mortar, OPC, kuat tekan, daya tahan panas
Front Matter Vol 4, No 1 (2005) Yazid Bindar
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 4, No 1 (2005)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konversi katalitik n-butanol menjadi hidrokarbon Cr~C4 menggunakan katalis B2O3/zeolit alam S Setiadi; D Dariyus
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 2 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.2.8

Abstract

C2~C4 hydrocarbons are important petrochemical feedstocks for polymer, MTBE, alkylation reagent and LPG. Those hydrocarbons can be produced sustainable from n­butanol through the catalytically reaction which can be produced renewably through a fermentation process. The development of catalytically can be done by using natural zeolite by adding boron oxide (B203.   The combination of these two catalyst's substance is hoped to increase  the catalytic performance  in converting  n-butanol  to hydrocarbon  of C2~C4 .This research has studied that addition boron oxide in natural zeolite as much as 25% gave the highest conversion (82,9%) and yield of C2~C4 (14,7% at 400°C}. No peaks due to the boron oxide catalyst on the XRD spectrum and the high surface area of natural zeolite (343 m2/g) strongly suggest that the boron oxide was dispersed perfectly on the surface of natural zeolite and interacted strongly with zeolite's frame. The formation of a new active site for converting n-butanol to hydrocarbon C2~C4 is highly considered which is more active comparing to natural zeolite or boron oxide itself.Keyword : n-butanol, hydrocarbon C2~C4, boron oxide, catalytic conversionAbstrakHidrokarbon  C2~C4  merupakan  senyawa  yang  penting  da/am  industri  kimia petrokimia misalnya  bahan baku po/imer,  MTBE,  untuk  alki/asi, senyawa  isookatana maupun LPG. Sampai   saat   ini, sumber   utama senyawa   hidrokarbon   tersebut   berasal   dari   hasi/ pengolahan minyak  bumi. Karena  semakin  menispisnya  cadangan  minyak  dunia,  maka dimasa depan kebergantungan  hidrokarbon  C2~C4  ini pada pasokan  minyak harus segera dicarikan  alternatif sumber  lainnya yang  lebih terjaga kesinambungannya.  Penelitian ini bermaksud menyajikan bahwa hidrokarbon C2~C4 dapat dipero/eh dari senyawa organik n­ butanol melalui reaksi katalitik menggunakan kata/is zeolit a/am. Proses ini sangat penting karena reaktan n-butanol merupakan suatu senyawa yang renewable (dapat diperbaharui) dari proses fermentasi.  Zeolit alam dimodifikasi dengan penambahan boron oksida dengan berbagai kadar. Hasil yang dipero/eh bahwa boron oksida berkandungan 25% memberikan hasif yang paling baik, dengan konversi butnao/  82,9 % dan yield  C2~C4  14,7 %  dengan suhu reaksi  400  °C Namun,  karakterisasi XRD  tidak  menunjukkan puncak-puncak yang dimiliki oleh komponen boron oksida. Hal ini menunjukkan bahwa boron oksida terdispersi secara sempurna pada permukaan zeo/it a/am (343 m2/g), berinteraksi secara kuat dengan frame kerangka  zeolit  dan terbentuknya spesi inti aktif baru hasil perpaduan  zeolit  alam maupun boron oksida yang lebih aktif da/am mengkonversi n-butanol menjadi C2~C4.Kata Kunci :n-butanol, hidrokarbon C2~C4, boron oksida, konversi katalitik
Pengawetan Ekstrak Zat Warna Alami dari Gambir (Uncaria gambir) dalam Pelarut Air Edia Rahayuningsih; Wiratni Budhijanto; Rizal I. Rosyid; Yosephine I. Ayuningtyas
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.1.4

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan jenis dan jumlah bahan pengawet yang secara efektif dapat menghambat reaksi biodegradasi zat warna alami dalam ekstrak gambir (Uncaria gambir) dalam pelarut air, serta menentukan nilai parameter reaksi biodegradasi zat warna alami dalam ekstrak gambir. Ekstrak zat warna alami dari gambir, yang telah bebas padatan, sebanyak 300 mL ditambah asam sitrat (0,006 gram/mL ekstrak) sebagai bahan bahan pengawet. Ekstrak kemudian disimpan dalam reaktor yang ditutup rapat dan dilindungi dari sinar ultra violet. Setiap selang waktu 2 hari, kadar pewarna alami dianalisis dengan metode gravimetri. Percobaan dilakukan dengan cara yang sama untuk 5 jenis pengawet lainnya dan dengan berbagai konsentrasi, yaitu: larutan formalin dalam air, larutan kitosan dalam asam asetat, ekstrak temu kunci (Boesenbergia rotunda L.), ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum), dan ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides L.), masing-masing sebanyak 5 mL larutan atau ekstrak bahan pengawet dalam 40 mL sampel ekstrak. Berdasarkan penelitian ini dapat ditetapkan bahwa larutan formalin dalam air dan larutan kitosan dalam larutan asam asetat 2% merupakan pengawet yang paling efektif menghambat reaksi biodegradasi zat warna alami dalam ekstrak, dibandingkan pengawet lainnya, yaitu: asam sitrat, ekstrak daun salam, ekstrak temu kunci, dan ekstrak daun bandotan. Jumlah formalin dan kitosan yang ditambahkan dalam ekstrak paling efektif berturut-turut adalah 0,017% dan 0,25% v/v. Nilai parameter reaksi biodegradasi zat warna alami dalam ekstrak diperoleh dalam bentuk konstanta kecepatan pertumbuhan spesifik (µ0, hari-1), konstanta saturasi (Ks, g/mL), konstanta kematian (kd, hari -1), rasio kd/µ0, dan yield (Yi). Kata kunci: biodegradasi, gambir, pengawet, pewarna alami. Abstract. Preservation of Natural Dye Extract from Gambir (Uncaria gambir) in Water as Solvent. The purpose of this study was to determine the type and the amount of preservative agent which effectively prevent biodegradation reaction of natural colorant in the aqueous extract of “gambir” (Uncaria Gambir). This study also determined the parameter values in the biodegradation reaction of gambir extract. The experiment was carried out by first preparing 300 mL of filtered gambir extract, into which citric acid as much as 0.006 g/mL was added as a preservative. The extract was then stored in a closed reactor with UV protector. Every two days, sample was drawn from the reactor for gravimetric analysis to determine the colorant concentration. Besides citric acid, the same experiments were also conducted for five other preservatives, which were the aqueous formaldehyde solution, the chitosan dissolved in 2% acetic acid solution, the  extract of “temu kunci” (Boesenbergia rotunda L.), the extract of  Indian bay leaf (Syzygium polyanthum), and the extract of “bandotan leaf” (Ageratum conyzoides L.). This study showed that aqueous formaldehyde solution and chitosan dissolved in 2% acetic acid solution was the most effective preservative to prevent biodegradation reaction of natural colorant in gambir extract, in comparizon to citric acid, “temu kunci”, Indian bay leaf, and “bandotan” leaf. The effective concentrations of formalin and chitosan were 0.017% and 0.25% v/v respectively. The parameters of the biodegradation reaction of the natural colorant in gambir extract in the form of specific growth rate coefficient (µ0, day-1), saturation constant (Ks, g/mL), death constant (kd, day -1), ratio of kd/µ0, and yield (Yi). Keywords: biodegradation, gambir, natural dye, preservative. Graphical Abstract
Analisis kinetika Ahmad M Fuadi; B. Sediawan Wahyudi; Suryo P. Rochmadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 3 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.3.1

Abstract

As the result of increasing environmental concern, new technologies for bleaching pulps have been developed. Chlorine containing bleaching agents has been replaced by more environmentally benign chemical, such as H2O2. This paper proposes mechanism of alkaline peroxide bleaching in order to get better understanding of the process mechanism. Bleaching mechanism is started by very fast mass transfer, followed by ion HOO' formation. This ion then reacts with lignin which leads to delignification. Before bleaching by H2O2 in alkaline condition, the pulp bleaching is preceded by chelating stage process. As much as 20 gram of dry pulp is added with 2.5% H2O2, NaOH and aquadest until 10% consistency is obtained and mixed completely and then the solution is put in to plastic bag. It is then heated in water bath at 70ºC at various time and concentration of NaOH. When the process condition is reached, residual of H2O2 brightness, kappa number and pulp solution viscosity are determined. The model is examined by comparison between the concentration residual of H2O2 and of lignin from experimental data and calculation result of mathematical model. The result shows that the proposed mechanism can well represent the bleaching process at 70ºCKeywords: Bleaching, Hydrogen Peroxide, Kinetic AbstrakMeningkatnya perhatian terhadap lingkungan, telah memicu pengembangan teknologi pada pemutihan pulp. Senyawa pemutih pulp yang mengandung klorin digantikan dengan senyawa yang ramah lingkungan, antara lain H2O2. Tulisan ini mengusulkan mekanisme yang terjadi pada proses bleaching dengan menggunakan H2O2 dalam suasana basa. Mekanisme bleaching dimulai dengan transfer masayang berlangsung sang at cepat, kemudian diikuti dengan pembentukan ion HOO. Ion ini kemudian bereaksi dengan lignin, sehingga terjadi delignifikasi. Proses bleaching dilakukan dengan H2O2 pada suasana basa yang didahului dengan proses chelating stage. Sebanyak 20 gram pulp kering ditambah dengan 2,5% H2O2, NaOH dan aquades hingga mencapai konsistensi 10%, dicampur sampai homogen kemudian dimasukkan dalam kantung plastik lalu dipanaskan di dalam water bathpada suhu 70ºC pada berbagai waktu dan kadar NaOH. Setelah kondisi operasi dicapai, dilakukan analisa sisa H2O2, derajat putih, bilangan kappa serta viskositas larutan pulp.  Uji ketepatan model yang diusulkan dilakukan dengan membandingkan antara data sisa H2O2 dan sisa kandungan lignin yang diperoleh dari percobaan dengan perhitungan yang diperoleh dari penyelesaian model matematiknya. Hasilnya menunjukkan bahwa mekanisme yang diajukan bisa mewakili proses bleaching yang dijalankan pada suhu 70ºC.Kata kunci:  Bleaching, Hidrogen Peroksida, Kinetika
Homogeneous and heterogeneous catalytic ozonation of endosulfan with activated carbon as catalyst E Enjarlis; Setijo Bismo; S Slamet; Roekmijati W Soemantojo
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 6, No 3 (2007)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2007.6.3.3

Abstract

Homogeneous and heterogeneous  catalytic ozonation of endosulfan with activated carbon as catalystCatalytic ozonation of endosulfan with the presence of activated carbon as catalyst was investigated at neutral pH and different temperatures. The model kinetics was developed based on the mechanism of catalytic decomposition ozone, namely homogeneous and heterogeneous decomposition reaction. This study focuses on determining the contribution of homogeneous and heterogeneous reaction to endosulfan removal in catalytic ozonation with activated carbon as catalyst. Endosulfan was selected as a target of study because it is organic pollutant and organic chlorine pesticide (OCPs) groups that may cause a serious environmental concern. The use of activated carbonfrom Bogar Forest Centre actually provides a slightly contribution in enhancing endosulfan oxidation reaction with ozone. This is because endosulfan has sulfide group or sulfur element that is very reactive to ozone. Even though, the amount of OH increases because of ozonation with activated carbon use. The heterogeneous and homogeneous reaction contributions at  neutral  pH and temperature range of 20- 30oC  were 11-21% and 79- 89% from overall endosulfan removal in catalytic ozonation with promoted by of activated carbon, respectively.Keywords: Activated Carbon, Catalytic Ozonation, Endosulfan AbstrakOzonasi katalitik endosulfan dengan adanya katalis karbon aktif dilakukan pada pH netral dan suhu yang berbeda-beda. Persamaan kinetika reaksi dikembangkan berdasarkan mekanisme reaksi dekomposisi ozon secara katalitik yaitu reaksi homogen dan heterogen. Penelitian ini ditujukan terutama untuk menentukan kontribusi reaksi homogen dan heterogen terhadap penyisihan endosulfan di dalam ozonasi katalitik dengan karbon aktif sebagai katalis.Endosulfan dipilih sebagai sasaran penelitian karena merupakan polutan organik dan kelompok pestisida organoklorida (OCPs) yang menjadi perhatian serius di lingkungan. Karbon aktif yang digunakan berasal dari Balai Hutan Bogar yang ternyata memberikan pengaruh kecil terhadap peningkatan reaksi oksidasi endosulfan dengan ozon. Hal ini disebabkan endosulfan mempunyai gugus sulfida atau sulfur yang sang at reaktif terhadap ozon. Meskipun, jumlah OH meningkat disebabkan penggunaan ozonasi dengan karbon aktf. Kontribusi reaksi homogen dan heterogen terhadap penyisihan endosulfan pada kondisi pH netral dan suhu 20-30 oC  masing-masing sebesar 79- 89% dan 11- 21% dari total penyisihan endosulfan dalam ozonasi katalitik dengan dipromosikan oleh karbon aktifKata kunci: Endosulfan, Karbon Aktif, Ozonasi Katalitik
Model kinetika inhibisi substrat pada pertumbuhan Kluyveromyces lactis Akbarningrum Fatmawati
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 2 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.2.3

Abstract

Substrat inhibition kinetic model of Kluyveromyces lactis growthFood industry waste such as whey may be utilized as substrates in fermentation processes. Kluyveromyces lactis is yeast that can metabolize the lactose content of whey. In fermentation process design, the kinetics data and growth model of the microorganism are essential. This research was done to identify the growth kinetic model of Kluyveromyces lactis FNCC 3024 in lactose, glucose, and galactose substrates. Substrate concentration was varied as 5, 10, 20, 50, 100, and 150 g/L. Yeast growth profile in glucose and lactose substrates indicated substrate inhibition effect, while the growth profile in galactose substrate did not. Non-competitive substrate inhibition kinetic model was more suitable for glucose and lactose models, with a relatively small sum of squares of errors, namely 9.956 x 10-3 for glucose and 3.777 x 10-3 for lactose. Monod kinetic model for galactose substrate produced the lowest sum of squares of errors, namely 1.358 x 10-3. The maximum specific growth rate obtained from the modeling for glucose, lactose, and galactose substrates were 0.295, 0.265, and 0.147 hour-1.Keywords: kinetics, growth, inhibition, substrate, Kluyveromyces lactis Abstrak Limbah industri makanan seperti whey dapat dimanfaatkan sebagai substrat dalam proses fermentasi. Kluyveromyces lactis adalah salah satu ragi yang dapat memetabolisme kandungan laktosa dari whey. Pada perancangan proses fermentasi sangat diperlukan data kinetika dan model pertumbuhan dari mikroorganisme. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui model kinetika pertumbuhan batch Kluyveromyces lactis FNCC 3024 pada substrat laktosa, glukosa dan galaktosa. Konsentrasi substrat divariasi sebesar 5, 10, 20, 50, 100 dan 150 g/L. Profil pertumbuhan ragi pada substrat glukosa dan laktosa menunjukkan adanya inhibisi substrat sedangkan profil pertumbuhan pada substrat galaktosa inhibisi substrat tidak tampak. Model kinetika inhibisi subtrat non-kompetitif lebih tepat digunakan untuk substrat glukosa dan laktosa dengan kuadrat beda yang cukup kecil yaitu 9,956 x 10-3 untuk glukosa dan 3,777 x 10-3 untuk laktosa. Model kinetika Monod untuk substrat galaktosa memberikan jumlah kuadrat residual terkecil yaitu 1,358 x 10-3. Laju pertumbuhan spesifik maksimum yang dihasilkan dan pemodelan untuk substrat glukosa, laktosa dan galaktosa berturut-turut adalah 0,295, 0,265 dan 0,147 jam-1.Kata kunci : kinetika, pertumbuhan, inhibisi, substrat, Kuyveromyces lactis
Pengaruh sumber karbon terhadap produksi bioplastik polihidroksialkanoat (PHA) dengan ralstonia eutropha Martha Aznury; Tjandra Setiadi; Adi Pancoro
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 9, No 1 (2010)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2010.9.1.4

Abstract

Bioplastic Polyhidroxyalknoate (PHA) is a polyester type bioplastic with physicochemical properties resemble to those of polypropilen from petroleum. PHA production was investigated to determine the effect of carbon source on the fermentation process by Ralstonia eutropha. Specifically, Ralstonia eutropha was cultivated in a batch bioreactor to show the dynamics of P(3HB-co-3HV) copolymer production from glucose or fructose as C source. In adition, the effect of volatile fatty acids addition, as stimulator to the copolymer production, was also studied. The operating conditions in a 7 L bioreactor were at temperature 30 oC and pH 7.0. The concentration of carbon source glucose or fructose was 40 g/L, and after 20 hour fermentation, volatile fatty acids were added. With volatile fatty acids addition, the resulting fructose fermentation had PHA content of 32.78%, in which the HV percentage was 11.78%. Meanwhile, the fermentation of glucose, stimulated by volatile fatty acids, gave PHA as much as 20.19% with HV percentage of 8.71%. Therefore,, the Ralstonia eutropha fermentation of fructose as the carbon source gave a higher yield than glucose. Keywords: Volatil Fatty Acid, Fructose, Glucose, PHA, P(3HB-co-3HV), Ralstonia eutropha AbstrakBioplastik polihidroksialkanoat (PHA) adalah bioplastik dari kelompok poliester dengan sifat fisikokimia mirip dengan plastik polipropilen dari minyak bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh sumber karbon terhadap poduksi PHA yang dilakukan dengan proses fermentasi menggunakan Ralstonia eutropha. Ralstonia eutropha dikultivasi dalam bioreaktor batch untuk mempelajari dinamika produksi kopolimer P(3HB-co-3HV) dari sumber karbon glukosa atau fruktosa, serta mempelajari pengaruh sumber stimulator asam lemak volatil. Kondisi operasional fermentasi menggunakan bioreaktor 7 L adalah pada temperatur 30 oC dan pH 7. Konsentrasi sumber karbon glukosa atau fruktosa yang digunakan adalah 40 gr/L, dan setelah 20 jam fermentasi ditambahkan asam lemak volatil yang berfungsi sebagai stimulator dalam produksi P(3HB-co-3HV). Panen sel Ralstonia eutropha dilakukan setelah 60 jam. Hasil penelitian menunjukkan fermentasi Ralstonia eutropha dengan substrat fruktosa dan asam lemak volatil sebagai stimulator mempunyai kandungan PHA sebesar 32,78%, dengan kadar HV 11,78%. Pada pemberian substrat glukosa dan asam lemak volatil menunjukkan kandungan PHA sebesar 20,19%, dengan kadar HV 8.71%. Jadi fermentasi Ralstonia eutropha dengan menggunakan substrat fruktosa memberikan yield yang lebih tinggi dibandingkan menggunakan substrat glukosa.Kata Kunci: Asam lemak volatil, fruktosa, glukosa, PHA, P(3HB-co-3HV), Ralstonia eutropha
Sintesa nanoporus aterial MCM-41 Dany Wibowo; Ivy Yuanita; Adriana Anteng Anggorowati; Suryadi Ismadji
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 3, No 2 (2004)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2004.3.2.6

Abstract

MCM-41 is a based silica new material which has pore size fall in mesopore category. This material has potential application in industry such as catalyst, catalyst support, adsorbent, molecular host, etc. To the present, there are two mechanisms in preparation of MCM-41: liquid crystal templating mechanism and lamellar transformation. The preparation  of MCM-41 affected by many factor such as temperature and reaction time. This paper describes the preparation of MCM-41 and its characterization. In our present study the characterization of MCM-41 were performed by XRD and benzene adsorption. From the experimental results it can be seen that the optimum temperature and reaction time for the preparation of MCM-41 are 90°C and 4 days, respectively. The pore diameter, pore volume, and surface area of the MCM-41 are 3.8496 nm, 0.7154 cm3/g and 743.3115 m2/g, respectively. Key Words: MCM-41, Characterization Abstrak MCM-41 merupakan material baru yang berbasis silica dengan ukuran mesopori. Senyawa ini memiliki banyak fungsi dalam berbagai aplikasi industri antara lain sebagai katalis, adsorben, molecular host dan katalis support. Saat ini terdapat 2 macam mekanisme pembentukan yaitu liquid crystal templating mechanism dan transformasi lamellar. Pembentukan MCM-41 dipengaruhi oleh berbagai macam hal antara lain suhu dan waktu proses sintesa. Percobaan ini bertujuan menentukan suhu dan lama proses sintesa yang optimum serta melakukan karakterisasinya. Karakterisasi MCM-41 dapat dilakukan dengan  berbagai macam metode analisa. Analisa yang dilakukan pada percobaan ini adalah dengan analisa XRD dan cara adsorbsi dengan gas dimana MCM-41 sebagai adsorben dan benzene digunakan sebagai adsorbat. Karakterisasi ini bertujuan sebagai analisa kualitatif tentang diameter, volume pori, dan luas permukaan MCM-41 yang terbentuk dari sintesa MCM-41. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa suhu dan waktu sintesa yang optimum didapatkan dari hasil MCM-41 dengan suhu 90°C dan lama waktu sintesa 4 hari. Diameter yang dihasilkan  3,8496 nm, volume porinya 0,7154 cm3/gr dan luas permukaan yang didapat 743,3115 m2/gr. Kata Kunci :MCM-41, Karakterisasi

Page 5 of 24 | Total Record : 235