cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 235 Documents
PENGARUH SUHU DAN WAKTU FERMENTASI BIOETANOL DARI TONGKOL JAGUNG DENGAN PERLAKUAN AWAL STEAM EXPLOSION Delftria Rasubala; Anita Yuliviana; Ery Susiany Retnoningtyas; Aylianawati Aylianawati
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol. 11 No. 6 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/

Abstract

Abstrak. Tongkol jagung merupakan limbah pertanian dengan kandungan selulosa yang cukup tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh suhu dan waktu fermentasi terhadap jumlah bioetanol yang dihasilkan. Ada 3 tahap proses penelitian ini, yaitu: (1) perlakuan awal serbuk tongkol jagung, (2) pembuatan crude enzyme dan (3) fermentasi pembentukan bioetanol. Tongkol jagung sebagai bahan baku dihancurkan dan dikeringkan hingga mencapai ukuran 12/20 mesh, kemudian diberi perlakuan awal dengan steam explosion disertai perendaman HCl 1%. Fermentasi pembentukan bioetanol dilakukan dengan metode simultaneous saccharification and fermentation (SSF) menggunakan Saccharomyces cerevisiae pada suhu 30, 35, dan 40oC, sedangkan waktu fermentasi 24, 48, 72, 96 dan 120 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bioetanol yang dihasilkan pada suhu feremnatasi 35 oC lebih tinggi (0,214 g bioetanol/g tongkol jagung) dibandingkan dengan pada suhu 30 oC (0,190 g bioetanol/g tongkol jagung) pada waktu fermentasi 120 jam. Kata kunci: bioetanol, tongkol jagung perlakuan awal, SSF, suhu fermentasi, waktu fermentasi
EKSTRAKSI SENYAWA FENOLIK DAUN SIRIH UNTUK ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI DENGAN BANTUAN ULTRASONIKASI Amelia Rahardio; Felicia Salim; Nani Indraswati; Aning Ayucitra
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol. 11 No. 6 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/

Abstract

Daun sirih mengandung senyawa fenolik yang dapat digunakan sebagai bahan antioksidan dan antibakteri. Dalam penelitian ini daun sirih diekstraksi untuk mendapatkan senyawa fenoliknya dengan bantuan ultrasonikasi (ultrasound-assisted extraction/UAE). Tujuan penelitian ini adalah menentukan perolehan dan kandungan fenolik total (TPC) ekstrak daun sirih pada proses ekstraksi dengan bantuan ultrasonikasi untuk berbagai variasi konsentrasi etanol dan perbandingan padatan/pelarut. Kapasitas antioksidan (IC50) serta aktivitas antibakteri pada ekstrak daun sirih untuk ekstrak dengan perolehan fenolik terbesar juga dipelajari. Daun sirih terlebih dahulu dicuci, dikeringkan, dan dikecilkan ukurannya hingga menjadi serbuk, lalu diekstraksi dengan bantuan ultrasonikasi. Setelah ekstraksi, dilakukan analisis perolehan dan TPC pada filtrat. TPC dinyatakan dalam mg ekuivalen asam galat (GAE)/mL ekstrak. Filtrat dengan nilai TPC tertinggi untuk setiap konsentrasi etanol dievaporasi dan dikeringkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi etanol dan perbandingan padatan/pelarut, maka perolehan fenolik yang dihasilkan juga semakin besar. Pelarut etanol 96% dan perbandingan padatan/pelarut 1/20 menghasilkan perolehan fenolik terbesar (263,3 mg GAE/g daun sirih) dengan kualitas ekstrak terbaik yaitu TPC sebesar 219,2 mg GAE/g ekstrak, IC50 sebesar 0,51 mg ekstrak/mL etanol, dan memiliki daya hambat bakteri terbesar. Kata kunci: daun sirih, ekstraksi, ultrasonikasi, antioksidan, antibakteri Abstract ULTRASOUND-ASSISTED EXTRACTION OF PHENOLIC COMPUNDS FROM BETEL LEAF AS ANTIOXIDANT AND ANTIBACTERIAL. Betel leaf contains phenolic compounds that may be used as antioxidant and antibacterial. In this study, betel leaves were extracted to obtain its phenolic compounds by using ultrasound assisted extraction method. The purpose of this study was to determine the effect of ethanol concentration as solvent and solid to liquid solvent ratio to the yield and Total Phenolic Content (TPC) of extracts. Antioxidant (IC50) and antibacterial activity of extracts were also studied using DPPH and disk diffusion method, respectively. After extraction, the filtrate was analysed its yield and TPC. TPC was expressed as mg Gallic Acid Equivalent/mL extract (mg GAE/mL extract). Filtrates with the highest TPC for every ethanol concentration were dried to obtain extract powder. In this study, the greater concentration of ethanol and solid to liquid ratio, the yield of phenolic produced was even greater. Ethanol concentration of 96% and solid to liquid ratio of 1:20 produced the largest phenolic yield (263.3 mg GAE/g of betel leaves) and the best quality of extract had TPC of 219.2 mg GAE/g extract and IC50 value of 0.51 mg extract/mL ethanol, and showed the highest antibacterial activity. Keywords: betel leaves, extraction, ultrasound assisted extraction, antioxidant, antibacterial
PRODUKSI IN SITU BIODIESEL DARI MINYAK DEDAK PADI DALAM AIR-METANOL SUBKRITIK Siti Zullaikah; Erick Z. Simatupang; Ricardo G. Siregar; Yulia T. Rahkadima; M. Rachimoellah
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol. 11 No. 6 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/

Abstract

Abstrak Pengembangan energi alternatif, seperti biodiesel, merupakan salah satu solusi terhadap masalah keamanan energi nasional. Kendala utama dalam produksi biodiesel yaitu tingginya biaya produksi, dapat dikurangi dengan penggunaan bahan baku murah, penyederhanaan proses produksi dan pemanfaatan produk samping. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari produksi biodiesel dari minyak dedak padi secara in situ dalam air dan metanol subkritik. Produksi biodiesel dari minyak dedak padi dilakukan secara in situ dalam air dan metanol subkritik tanpa kehadiran katalis seperti NaOH dan H2SO4. Gas CO2 sebagai gas penekan bertujuan untuk meningkatkan kandungan dan perolehan biodiesel dalam produk. Pada kondisi operasi T = 200 °C, P = 35 bar dan perbandingan dedak padi/metanol/air adalah 1/1/4 (g/mL/mL), biodiesel dengan kemurnian 89,07% dan perolehan 86,33% diperoleh dalam waktu reaksi selama 3 jam. Kandungan asam lemak bebas berkurang dari 63,69% menjadi 9,98%. Air subkritik sebagai pelarut untuk mengekstraksi minyak dalam dedak padi dapat menurunkan penggunaan metanol, sementara kemampuannya sebagai katalis dalam reaksi esterifikasi/transesterifikasi dapat mengeliminasi tahap netralisasi sehingga secara keseluruhan biaya produksi dapat dikurangi. Kata kunci: dedak padi, biodiesel, transesterifikasi in situ, air subkritik, tanpa katalis Abstract IN SITU PRODUCTION OF BIODIESEL FROM RICE BRAN OIL UNDER SUBCRITICAL WATER AND METHANOL. Development of alternative energy, such as biodiesel, is one of the solutions toward national energy security problem. The main hurdle in the biodiesel production is high production's cost. It can be reduced by applying cheap raw materials, simplifying the process, and utilization of byproduct of biodiesel production. Therefore, the objective of this work was in situ production of biodiesel from rice bran oil under subcritical water and methanol. Rice bran was converted directly into biodiesel using subcritical water and methanol without the need for conventional catalyst such as NaOH and H2SO4. Pressurized by CO2 was applied to increase the purity and yield of biodiesel in the product. At T = 200 °C, P = 35 bar and ratio of rice bran/methanol/water of (g/mL/mL), biodiesel with purity of 89.07% and yield of 86.33% were obtained within three hours. Free fatty acids level was reduced from 63.69% to 9.98%. Since a methanol to rice bran ratio used was less and water was employed as an efficient solvent for extraction of lipids in rice bran, and as catalyst for the conversion of neutral lipids into biodiesel, neutralization is not required; therefore, the processing costs for producing biodiesel from rice bran are reduced. Keywords: rice bran, biodiesel, in situ trans-esterification, subcritical water, catalyst-free
PRODUKSI ETANOL DARI BAHAN BAKU BERBASIS LAKTOSA MELALUI PROSES FERMENTASI BATCH DENGAN KLUYVEROMYCES MARXIANUS Dessy Ariyarti; Bakti Jos; Herry Santosa; Siswo Sumardiono
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol. 11 No. 6 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/

Abstract

Abstrak Pengembangan teknologi yang berkaitan dengan proses pembuatan etanol dari bahan berbasis laktosa melalui proses fermentasi perlu dilakukan karena masih minimnya data mengenai parameter proses fermentasi bahan berbasis laktosa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu pada proses pembentukan etanol dari bahan berbasis laktosa melalui proses fermentasi dengan Kluyveromyces marxianus. Penelitian ini dibagi dalam beberapa tahap, yaitu (i) persiapan bahan baku yang akan digunakan sebagai media kultur; (ii) persiapan mikroba; (iii) proses fermentasi untuk menghasilkan etanol; (iv) analisis hasil fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi substrat oleh ragi Kluyveromyces marxianus pada suhu 30, 35, dan 40 °C berturut-turut adalah 1,484 g/L per jam, 2,053 g/L per jam, dan 2,201 g/L per jam dengan Iaju pertumbuhan biomasa berturut-turut adalah 0,107, 0,114, dan 0,115/jam, dan perolehan etanol (YP/S) berturut-turut adalah 0,156, 0,162, dan 0,105 g/g. Konsumsi substrat per waktu meningkat dan linier dengan peningkatan suhu. Hal yang serupa terjadi pada produksi biomasa yang cenderung meningkat seiring dengan peningkatan suhu, namun produksi etanol tidak bergantung pada kenaikan suhu operasi. Sedangkan konsentrasi etanol maksimum dihasilkan pada suhu optimum, yaitu 35 °C, sebesar 6,85 g/L. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan suhu proses fermentasi menjadi 40 °C tidak berpengaruh pada peningkatan perolehan etanol, namun dapat meningkatkan produksi biomasa Kata kunci: etanol, fermentasi batch, Kluyveromycess marxianus, laktosa, pengaruh suhu Abstract BATCH FERMENTATION OF ETHANOL PRODUCTION FROM LACTOSE BASED MATERIAL USING KLUYVEROMYCES MARXIANUS. The objective of this study was to investigate the temperature effect on ethanol production via fermentation of lactose based material using Kluyveromyces marxianus. Stages in this research are (i) culture medium preparation; (ii) microorganism preparation; (iii) ethanol production via fermentation; and (iv) fermentation broth analysis. The results showed that the substrate consumption of yeast Kluyveromyces marxianus at 30, 35, and 40 °C were 1.484, 2.053, and 2.201 g/L per hour respectively with biomass growth rate 0.107, 0.114, and 0.115/h, and ethanol yield (YP/S) 0.156, 0.162, and 0.105 g/g respectively. Substrate consumption per hour was increasing linearly with the temperature elevation. The similar tendency was occurred in biomass production. However, this trend was not followed by the ethanol production which tends to decrease. The result also showed that temperature 40 °C was the optimum condition in order to produce biomass with growth rate 0,115/h and biomass concentration 14.22 g/L. Meanwhile the maximum ethanol production 6.85 g/L was produce under condition 35 °C. It was stated that the temperature elevation untill 40 °C did not influence the ethanol productivity, instead it was found to increase the biomass productivity. Keywords: ethanol, batch fermentation, Kluyveromycess marxianus, lactose, temperature
PERMEABILITAS LARUTAN BOVINE SERUM ALBUMIN PADA MODUL TUNGGAL MEMBRAN HOLLOW FIBER POLIETERSULFON TERMODIFIKAS Fachrul Razi; Sri Mulyati; Susi Mawarni; Nasrul Arahman
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol. 11 No. 6 (2013)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas tentang pemisahan protein albumin (bovine serum albumin) menggunakan modul tunggal membran hollow fiber yang terbuat dari polimer polietersulfone (PES)/N-metilpirrolidon (NMP) dan membran modifikasi PES/NMP dengan polimer hidrofilik Tetronic 304 (PES/NMP/Tetronic 304). Proses ultrafiltrasi dilakukan dengan mengalirkan larutan albumin 1000 ppm melewati modul membran dengan bantuan pompa peristaltik. Karakterisasi terhadap struktur morfologi membran dengan SEM memberikan informasi bahwa membran PES/NMP/Tetronic 304 mempunyai struktur pori yang lebih besar dan panjang dengan distribusi pori yang lebih merata dari pada membran PES/NMP. Uji ultrafiltrasi terhadap kedua jenis membran dengan larutan model protein albumin menunjukkan bahwa membran PES/NMP/Tetronic 304 mempunyai permeabilitas yang lebih tinggi pada setiap kondisi tekanan operasi. Rejeksi larutan albumin yang mencapai 90 % diperoleh pada uji filtrasi membran PES/NMP pada tekanan operasi 0,3 atm. Pada uji stabilitas filtrasi dengan tekanan operasi 0,5 atm didapatkan permeabilitas membran PES/NMP/Tetronic 304 pada initial point jauh lebih besar dibandingkan permeabilitas membran PES/NMP. Permeabilitas larutan albumin untuk membran PES/NMP turun drastis mendekati nol setelah ultrafiltrasi berjalan selama dua jam, sementara permeabilitas membran PES/NMP/Tetronic 304 masih bertahan sekitar 5 L/m2.jam.atm. Kata kunci: albumin, permeabilitas, polietersulfon, ultrafiltrasi Abstract BOVINE SERUM ALBUMIN SOLUTION PERMEABILITY IN SINGLE MODULE POLYETHERSULFONE HOLLOW FIBER MEMBRANE. The present research discussed about protein (bovine serum albumin) separation by using single module hollow fiber membrane prepared from polyethersulfone/N-metilpirrolidon (PES/NMP) polymer and PES/NMP modified membrane with hydrophilic polymer Tetronic 304. The ultrafiltration was carried out by filtering albumin solution of 1000 ppm through membrane module by the peristaltic pump. The characterization of membrane morphology by SEM showed that the PES/NMP/Tetronic 304 membrane had larger and wider pore structure and better pore distribution compared with PES/NMP membrane. Ultrafiltration experiments for both membranes were done by using albumin solution, and the results showed that the permeability of PES/NMP/Tetronic 304 membrane was higher than that of PES/NMP membrane in all condition of applied pressure. The solute rejection was achieved up to 90% for ultrafiltration of albumin solution by using PES/NMP membrane obtained on the operating pressure of 0.3 atm. Membrane stability observation on the operating pressure of 0.5 atm showed that the initial permeability of PES/NMP/Tetronic 304 was much higher than that of PES/NMP membrane. The permeability of PES/NMP membrane was drastically decreased to almost zero after two hours filtration time, whereas the permeability of PES/NMP/Tetronic 304 membrane still produced about 5 L/m2.h.atm. Keywords: albumin, permeability, polyethersulfone, ultrafiltration