cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
peadaiakntoraja@gmail.com
Phone
+6282194286613
Journal Mail Official
peadaiakntoraja@gmail.com
Editorial Address
IAKN Toraja Jl. Poros Makale-Makassar Km.11,5 Tlp/Fax (0423) 24620, 24064 Batukila Mengkendek Tana Toraja
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen
ISSN : 27228843     EISSN : 27228835     DOI : 1034307
Core Subject : Religion, Education,
1. Pendidikan Karakter Kristiani 2. Pendidikan Kristen Anak Usia Dini 3. Evaluasi Kurikulum Pendidikan Agama Kristen 4. Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 5. Konseling Pendidikan Agama Kristen 6. Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen 7. Manajemen Pendidikan Agama Kristen 8. Teori Belajar Pendidikan Agama Kristen
Articles 57 Documents
Integrating the Doctrine of Creation (Creatio Ex Nihilio) in Christian Religious Education for Primary Students in Indonesia: A Biblical-Pedagogical Framework Silitonga, Roedy; Elizabeth, Andrea Ratu; Yarona, Neli Blandina
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v6i2.231

Abstract

The teaching of scientific theories of origins, such as the Big Bang and evolution, in primary education often creates epistemological tension with biblical teaching, particularly within Christian school contexts. In Indonesia, this tension is frequently addressed without a clear pedagogical framework that integrates faith and learning coherently. This study aims to develop a biblical–pedagogical framework for integrating the doctrine of creation (creatio ex nihilo) within Christian Religious Education (CRE) for primary students. Employing a qualitative research design through literature analysis and classroom-based case studies in Indonesian Christian primary schools, this study examines how the doctrine of creation can be taught as divine revelation rather than as a competing scientific explanation. The findings indicate that when creation is presented theologically as an act of God’s sovereign will, students engage scientific knowledge critically while maintaining biblical authority as the foundation of learning. This study proposes a biblical–pedagogical framework that positions Christian teachers as facilitators, reconcilers, and transformers in guiding students toward an integrated understanding of faith and knowledge. The framework contributes to Christian education by offering a coherent model for faith–learning integration that supports intellectual formation and spiritual growth among primary students in Indonesia.
Peran Strategis Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Mengatasi Perilaku Phubbing pada Remaja Keristen di Era Digital Semy Djulandy Balukh; Rezeki Putra Gulo
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v7i1.238

Abstract

Abstract: The phenomenon of phubbing is increasingly prevalent among Christian adolescents and negatively impacts the quality of social and spiritual relationships that form the core of Christian values. This study aims to explore the strategic role of Christian Religious Education teachers in addressing phubbing among Christian adolescents through value-based pedagogical strategies that integrate theological and pedagogical dimensions. This study employs a qualitative method based on thematic analysis, with data drawn entirely from literature sources analyzed systematically through six thematic analysis steps. The novelty of this study lies in an integrative framework that connects the role of Christian Religious Education teachers as moral guides, spiritual role models, and contextual learning facilitators with value-based pedagogical strategies for addressing phubbing. The findings indicate that Christian Religious Education teachers play a strategic role in shaping adolescents' digital awareness through respect for others grounded in the imago Dei principle, time management through the digital sabbath concept, and interactive case-based discussion that guides adolescents to use technology wisely in accordance with Christian values.  Abstrak: Fenomena phubbing semakin marak di kalangan remaja Kristen dan berdampak negatif terhadap kualitas relasi sosial dan spiritual yang menjadi inti nilai-nilai kekristenan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran strategis guru Pendidikan Agama Kristen dalam mengatasi perilaku phubbing pada remaja Kristen melalui strategi pedagogis berbasis nilai yang mengintegrasikan dimensi teologis dan pedagogis. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis analisis tematik dengan sumber data sepenuhnya berasal dari kajian literatur yang dianalisis secara sistematis melalui enam langkah analisis tematik. Kebaruan penelitian ini terletak pada kerangka integratif yang menghubungkan peran guru PAK sebagai pembimbing moral, teladan spiritual, dan fasilitator pembelajaran kontekstual dengan strategi pedagogis berbasis nilai dalam mengatasi phubbing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAK berperan strategis dalam membentuk kesadaran digital remaja Kristen melalui penghormatan terhadap sesama berbasis prinsip imago Dei, pengelolaan waktu melalui konsep digital sabbath, serta diskusi interaktif berbasis studi kasus yang membimbing remaja memanfaatkan teknologi secara bijaksana sesuai nilai-nilai kekristenan.
Menemukan Makna “Sekolah” dalam Ibadah Sekolah Minggu dan Relevansinya sebagai Liturgi Anak (Children’s Liturgy) Yuniar Mariska Simamora
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v6i2.275

Abstract

Abstract: Studies on Sunday School have generally been situated within a pedagogical framework that emphasizes biblical instruction, teaching methods, and the achievement of children's faith formation goals. In contrast, scholarship on Children's Liturgy has developed within a different discourse, focusing on children's participation in the worshiping life of the church. As a result, the relationship between faith education and children's liturgical experience has rarely been explored in an integrated manner. This study seeks to re-examine the meaning of the term “school” in Sunday School through the perspective of Children's Liturgy. Employing a literature review methodology, the study examines various sources on the history of Sunday School, child pedagogy, child theology, and liturgical theology. The findings indicate that the meaning of “school” in Sunday School cannot be reduced to a mere space for the transmission of religious knowledge; rather, it should be understood as a space for faith formation that integrates both pedagogical and liturgical dimensions. From the perspective of child theology, children are subjects of faith and full members of the church community who are called to participate in its liturgical life. Accordingly, Sunday School may be understood as Children's Liturgy—a formative worship space in which children experience, respond to, and embody God's work through prayer, Scripture, symbols, songs, rituals, and participation in the faith community. The originality of this study lies in its integration of child pedagogy and children's liturgy within a conceptual framework that positions Sunday School as a liturgical practice that is inherently pedagogical. Abstrak: Kajian tentang Sekolah Minggu selama ini umumnya ditempatkan dalam kerangka pedagogis yang menekankan pengajaran Alkitab, metode pembelajaran, dan pencapaian tujuan pendidikan iman anak. Sementara itu, kajian mengenai Children’s Liturgy berkembang dalam diskursus yang berbeda dengan fokus pada partisipasi anak dalam kehidupan ibadah gereja. Akibatnya, relasi antara pendidikan iman dan pengalaman liturgis anak belum banyak dipahami secara integratif. Penelitian ini bertujuan mengkaji ulang makna “sekolah” dalam Sekolah Minggu melalui perspektif Children’s Liturgy. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai sumber mengenai sejarah Sekolah Minggu, pedagogik anak, teologi anak, dan teologi liturgi. Hasil kajian menunjukkan bahwa makna “sekolah” dalam Sekolah Minggu tidak dapat direduksi menjadi ruang transmisi pengetahuan agama semata, tetapi perlu dipahami sebagai ruang formasi iman yang mengintegrasikan dimensi pedagogis dan liturgis. Dalam perspektif teologi anak, anak merupakan subjek iman dan anggota penuh komunitas gereja yang dipanggil untuk berpartisipasi dalam kehidupan liturgis. Karena itu, Sekolah Minggu dapat dipahami sebagai Children’s Liturgy, yaitu ruang ibadah formatif tempat anak mengalami, merespons, dan menghidupi karya Allah melalui doa, firman, simbol, nyanyian, ritual, serta kehidupan komunitas iman. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi kajian pedagogik dan liturgi anak dalam kerangka yang menempatkan Sekolah Minggu sebagai praktik liturgis yang secara inheren bersifat pedagogis.
Tantangan Internalisasi Nilai-nilai Kristiani dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen: Studi pada Peserta Didik UPT SMAN 5 Tana Toraja Yunita Tumonglo; Yosef Patandung
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v7i1.259

Abstract

Abstract: The internalization of Christian values in Christian Religious Education (CRE) plays an important role in shaping students’ character. However, various personal and environmental factors often hinder this process. This study aims to analyze the challenges of internalizing Christian values among students at UPT SMAN 5 Tana Toraja. The research employed a qualitative approach with a case study design. The participants consisted of nine students and one Christian Religious Education teacher selected through purposive sampling. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman model. The findings reveal that the internalization of Christian values, including love, honesty, forgiveness, self-control, humility, faithfulness, and sacrifice, has not been fully achieved. Internal challenges include difficulties in managing emotions, low self-control, a tendency to prioritize personal comfort, the need for social recognition, and weak spiritual commitment. External challenges include peer pressure, inadequate faith formation within the family, a lack of positive role models, and the influence of digital media. The novelty of this study lies in its in-depth identification of both internal and external factors affecting the internalization of Christian values among senior high school students. The study highlights the importance of collaboration among schools, families, and churches in fostering students’ Christian character development.  Abstrak: Internalisasi nilai-nilai Kristiani dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) merupakan proses penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Namun, berbagai faktor personal dan lingkungan sering menjadi hambatan dalam proses tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis tantangan internalisasi nilai-nilai Kristiani pada peserta didik di UPT SMAN 5 Tana Toraja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan terdiri atas sembilan peserta didik dan satu guru PAK yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai kasih, kejujuran, pengampunan, pengendalian diri, kerendahan hati, kesetiaan, dan pengorbanan belum berlangsung secara optimal. Terdapat tantangan internal meliputi kesulitan mengelola emosi, rendahnya pengendalian diri, kecenderungan mengutamakan kenyamanan pribadi, kebutuhan akan pengakuan sosial, serta lemahnya komitmen spiritual. Tantangan eksternal mencakup tekanan teman sebaya, kurangnya pembinaan iman dalam keluarga, minimnya teladan lingkungan, dan pengaruh media digital. Kebaruan penelitian ini terletak pada identifikasi mendalam mengenai tantangan internal dan eksternal yang memengaruhi internalisasi nilai-nilai Kristiani pada peserta didik SMA. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara sekolah, keluarga, dan gereja dalam mendukung pembentukan karakter Kristiani peserta didik.
Otoritas Kristus dalam Pendidikan di Era AI: Analisis Teologis-Pedagogis Peran Guru PAK dalam Menghadapi Degradasi Moral Peserta Didik Edwin Ballu
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v6i2.289

Abstract

Abstract: Technological advances with the presence of Artificial Intelligence (AI) have had a major impact on the world of education. Technological advances also impact the character of students, with a tendency for moral degradation to increase. This condition poses a challenge for Christian Religious Education, particularly the affirmation of Christ's authority (the Bible) as the basis of teaching. This study aims to analyze the theological-pedagogical presence of Christian Religious Education teachers in their roles and impacts in responding to moral degradation in the world of education nationally. The method used in this study is a qualitative method based on literature studies and analysis of national education policy documents, and educational theory with a Biblical basis as its evaluation framework. The presence of Christian Religious Education teachers is not merely an agent of knowledge transformation. However, the presence of Christian Religious Education teachers must be present in a prophetic, pastoral, and behavioral change role based on the truth of God's word. The presence of AI is an opportunity to develop strengthening pedagogical, spiritual, social, and professional competencies in shaping students who know, love, and live according to God's word. The presence of AI does not replace the authority of Christ through exemplary behavior, ethical wisdom, and relevant and liberating contextual learning. Abstrak : Kemajuan teknologi dengan kehadiran Artificial Intelligence (AI), berdampak besar bagi dunia pendidikan. Kemajuan teknologi, berdampak pula pada karakter peserta didik, ada kecenderungan meningkatnya degradasi moral. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pendidikan Agama Kristen (PAK), khususnya penegasan otoritas Kristus (Alkitab), sebagai dasar pengajaran. Adapun Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kehadiran Guru PAK secara teologis-pedagogis dalam peran dan dampaknya dalam merespon degradasi moral dalam dunia pendidikan secara nasional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif berbasis studi literatur dan analisis dokumen kebijakan pendidikan nasional, dan teori pendidikan dengan landasan Alkitan sebagai kerangka evaluasinya. Kehadiran guru PAK bukan semata sebagai agen transformasi pengetahuan. Akan tetapi, kehadiran guru PAK harus hadir dalam peran profetik, pastoral, dan perubahan perilaku dengan berdasar pada kebenaran firman Tuhan. Kehadiran AI menjadi peluang dalam pengembangan penguatan kompetensi pedagogik, spiritual, sosial, dan profesional yang dalam membentuk peserta didik yang mengenal, mengasihi, dan hidup sesuai firman Tuhan. Kehadiran AI tidak menggantikan otoritas Kristus melalui keteladanan, kebijaksanaan etis, dan pembelajaran kontekstual yang relevan dan membebaskan.
Dilamba': Dilamba’ Heutagogical Guided Freedom in Toraja Culture for Fostering Child Autonomy and Moral Development Rannu Sanderan; Piter Randan Bua
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v7i1.376

Abstract

Dilamba’, a child-rearing practice rooted in Toraja culture, embodies guided freedom that balances autonomy with parental and community support. This study investigates how Dilamba’ fosters independence, decision-making, creativity, and moral growth by integrating indigenous wisdom with heutagogical principles. Using a qualitative, conceptual-cultural approach, the research combined literature review, field observations, and interviews to examine child behavior, parenting practices, and communal involvement. Results indicate that Dilamba’ encourages exploratory behavior, problem-solving, resilience, and ethical awareness, while active engagement from parents and the community is pivotal for nurturing autonomy. Children participating in this model evolved from dependency to competence, displaying maturity, moral reasoning, and self-directed decision-making. The integration of traditional practices with contemporary pedagogical insights, including Montessori, Froebel, and Mangunwijaya, presents a holistic educational framework. Dilamba’ thus offers a culturally grounded approach to raising self-directed, morally conscious, and capable children, providing guidance for curriculum development, parenting programs, and educational interventions bridging tradition with modern learning paradigms.
Peran Etika Kristen dalam Membentuk Keharmonisan dan Ketahanan Keluarga Berdasarkan Efesus 5:22-33 Alfonsus Johanres Tonu Lema; Setrianto Tarrapa
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v7i1.375

Abstract

Abstract: This study aims to analyse the role of Christian ethics in fostering family harmony and resilience based on Ephesians 5:22–33. The study employs a qualitative approach using literature review and a limited number of interviews with Christian families. The focus of the study is to understand how the values of love, respect, humility, and obedience taught in the Apostle Paul’s letter to the church in Ephesus are applied in modern family life. The results of the study indicate that families who consistently apply Christian ethical principles have more harmonious relationships, healthier communication, and a greater ability to deal with domestic conflicts. The values of a husband’s love for his wife, a wife’s respect for her husband, and a child’s obedience to their parents form the primary foundation for building a family that is morally and spiritually strong. This study concludes that the teachings of Christian ethics in Ephesians 5:22–33 remain relevant for application within the context of modern families as a basis for fostering family harmony and resilience. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis peran etika Kristen dalam membentuk keharmonisan dan ketahanan keluarga berdasarkan Efesus 5:22–33. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Fokus penelitian adalah memahami bagaimana nilai kasih, penghormatan, kerendahan hati, dan ketaatan yang diajarkan dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus diterapkan dalam kehidupan keluarga modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang menerapkan prinsip etika Kristen secara konsisten memiliki hubungan yang lebih harmonis, komunikasi yang lebih sehat, serta kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi konflik rumah tangga. Nilai kasih suami terhadap istri, penghormatan istri kepada suami, serta ketaatan anak kepada orang tua menjadi fondasi utama terbentuknya keluarga yang kuat secara moral dan spiritual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ajaran etika Kristen dalam Efesus 5:22–33 tetap relevan untuk diterapkan dalam konteks keluarga modern sebagai dasar membangun keharmonisan dan ketahanan keluarga.