cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
peadaiakntoraja@gmail.com
Phone
+6282194286613
Journal Mail Official
peadaiakntoraja@gmail.com
Editorial Address
IAKN Toraja Jl. Poros Makale-Makassar Km.11,5 Tlp/Fax (0423) 24620, 24064 Batukila Mengkendek Tana Toraja
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen
ISSN : 27228843     EISSN : 27228835     DOI : 1034307
Core Subject : Religion, Education,
1. Pendidikan Karakter Kristiani 2. Pendidikan Kristen Anak Usia Dini 3. Evaluasi Kurikulum Pendidikan Agama Kristen 4. Pendidikan Agama Kristen Kontekstual 5. Konseling Pendidikan Agama Kristen 6. Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen 7. Manajemen Pendidikan Agama Kristen 8. Teori Belajar Pendidikan Agama Kristen
Articles 51 Documents
Disiplin dalam Pendidikan: Perspektif Alkitab Amsal 13:24 dan Praktik Kontemporer Pada Satuan Pendidikan Kristen Anak Usia Dini Paembonan, Yanni
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v5i2.213

Abstract

The aim of this research is to explore the biblical perspective on physical violence in child education and to analyze the relevance of discipline implementation according to Proverbs 13:24 within the context of early childhood Christian education. The methodology employed is a qualitative approach focusing on literature review, including hermeneutic analysis of biblical texts and descriptive methods to explain the early childhood education system in Indonesia. The underlying theory emphasizes the integration of Christian values in education and the importance of educating children without violence. The findings indicate that although physical punishment is still practiced in Christian education, there is an urgent need to develop a more humane disciplinary approach that aligns with the principles of love and understanding found in the Bible, in order to support the holistic growth and development of children.
Prinsip Pengasuhan Anak “Di Ujung Rotan Ada Emas” dalam Perspektif Keluarga Kristen Ramah Anak Enda, Andriarto
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v5i2.214

Abstract

This paper aims to analyze the principle of parenting style affecting by the saying "there is gold at the tip of the cane" from the perspective of a child-friendly family. This causes by the reality of violence against children in Christian families. Through the saying "there is gold at the tip of the cane", the violance against children in their families is normalized. The result of this parenting style are, such as hitting, pinching and scolding the children. This research is accomplished by using qualitative research methodology, and the data collection techniques through literature review, observation, and interviews. The study concludes that the parenting style is influenced by the parents' experiences as they were children, especially them who underwent the same parenting style. These experiences justify them in aplying violence to their children. The parenting style of "there is gold at the tip of the cane" contradicts the concept of a child-friendly family and the values set by Jesus Christ. Parents, in building a child-friendly family, need to fulfill their roles effectively, which includes creating an environment referred to as "home" and provide their children with warmth, love, and acceptance. In this way, parents can successfully carry out Christian religious education in their families. Keywords: Child-Friendly Family, Gold at the Tip of the Cane Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis tentang prinsip pengasuhan anak di ujung rotan ada emas dalam perspektif keluarga ramah anak. Hal ini dilatarbelakangi oleh realitas kekerasan terhadap anak dalam keluarga Kristen. Kekerasan terhadap anak dinormalisasikan dengan sebuah pola pengasuhan anak yang bertujuan untuk kebaikan dan masa depan anak yang diistilahkan dengan ungkapan di ujung rotan ada emas. Penerapan prinsip pengasuhan anak ini seringkali menggunakan kekerasan seperti memukul, mencubit dan memarahi anak. Untuk mencapai tujuan ini, penulis menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data, kajian pustaka, observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip pengasuhan ini dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu orangtua, yakni ketika mereka mengalami pola pengasuhan yang sama saat masih kecil, dan mereka merasa pantas untuk menerapkan kembali kepada anak-anak mereka di masa kini. Prinsip pengasuhan anak di ujung rotan ada emas bertentangan dengan keluarga ramah anak. Prinsip pengasuhan anak di ujung rotan ada emas tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga ramah anak dan keteladanan Yesus Kristus. Orangtua dalam membangun keluarga ramah anak perlu menjalan perannya dengan baik, yaitu orangtua perlu menciptakan suatu iklim yang disebut “home” bagi anak-anaknya di mana ada suasana kehangatan dan kasih serta penerimaan terhadap anak-anaknya sebagaimana adanya. Dengan demikian orangtua mampu menjalankan pendidikan agama Kristen dalam keluarga dengan baik.
Pembelajaran Agama Kristen Berbasis Pengalaman: Membangun Iman Melalui Narasi Hidup Rangga, Oktavianus
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v5i2.216

Abstract

This article discusses an experiential Christian learning model that aims to build students' faith through a life narrative approach. This method utilizes real stories and personal experiences to help students internalize Christian values ​​and understand biblical teachings more deeply. The research was conducted using a qualitative approach, through literature studies and narrative content analysis from various sources, books and journal articles related to this method. The results show that the use of narratives in learning can enrich students' understanding of faith, encourage personal reflection, and strengthen community ties through group discussions. However, this approach also faces challenges, such as the diversity of students' experiences that can affect the way they live out Christian values. The active role of teachers as facilitators is needed to ensure that learning remains focused and in accordance with biblical principles. This article emphasizes that the experiential learning model can make a significant contribution to Christian religious education, especially in creating a more relevant, contextual, and transformative learning process in the modern era.
Implementasi Model STAD untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas XI IPA 6 di SMA Negeri 1 Tana Toraja Irene, Natasia; Bombongan Rante Salu, Syani; Dedy Palimbunga', Theo
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v4i1.97

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya minat belajar siswa saat pembelajaran berlangsung, mereka cenderung bermain dan bahkan mengerjakan yang lainnya. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam kelas yang mengalami minat belajar yang kurang dengan menerapkan Model Pembelajaran Cooperative Tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Adapun penelitian ini dikatakan berhasil apabila  skor capaiannya mencapai 82% dari 36 subjek penelitian. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan pada siklus I masih sangat kurang ditandai dengan hanya 28% siswa saja yang berminat sehingga pada siklus II peneliti menambahkan strategi dengan membagi kelompok pro dan kontra sehingga dari hasil ini sangat meningkat sebesar 83%. Maka dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa dalam meningkatkan minat belajar siswa salah satu model pembelajaran yang tepat ialah Cooperative learning tipe STAD.
Menyemai Moderasi Beragama melalui Restorasi Pendidikan di Era Dekadensi Moral Boro Allo, Widiarto; Darmawan, Theo; Sion; Sumiaty
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v6i1.177

Abstract

Abstract: Indonesia consists of various elements, differences, and diversities which, if not wisely managed, can trigger conflict or intergroup friction, as seen in the social unrests in Ambon (1999–2002) and Poso (2000–2002), which were driven by unmanaged social and religious identity differences. Behind these differences lies a unifying national motto: Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity). However, slogans alone are not enough without being accompanied by concrete actions, which must be strengthened by cultivating moderate attitudes in daily life—one of which is religious moderation, a stance that keeps individuals or groups from falling into either extreme. This paper aims to explore how efforts to strengthen religious moderation can help individuals or groups avoid division and extremism, supported by the restoration of education. This research employs a qualitative approach using a literature study method by examining various sources relevant to the research topic. The findings indicate that the strengthening of religious moderation within educational settings can be implemented through several essential aspects, namely justice, balance, exemplary conduct, tolerance, and accommodation of local wisdom, all of which are reinforced by practicing the fruits of the Spirit, in line with the foundation of religious life, particularly within Christianity. Furthermore, in the educational context, religious moderation, which ideally should be instilled from an early age, must be supported by educational institutions through the restoration of education so that the original essence of education, which has been increasingly diminished, can be reinforced. All of these aspects are interrelated and aim to diminish the ongoing moral decline in today’s society. Keywords: Fruit of the Spirit; religious moderation; educational restoration   Abstrak: Indonesia terdiri atas berbagai unsur, perbedaan, dan keberagaman yang, jika tidak dikelola dengan bijak, dapat memicu konflik atau gesekan antarkelompok, seperti yang pernah terjadi dalam kerusuhan sosial di Ambon (1999–2002) dan Poso (2000–2002), yang dipicu oleh perbedaan identitas sosial dan keagamaan yang tidak dikelola secara moderat. Dibalik perbedaan tersebut, ada sebuah semboyan yang mengingkatnya, yakni Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan aksi yang nyata, yang perlu dikuatkan dengan menanamkan sifat moderat di dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya moderasi beragama, sebuah kondisi yang tidak membuat seseorang atau kelompok berada pada dua kutub ekstrem. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana upaya penguatan moderasi beragama yang diharapkan mampu menghindarkan diri atau kelompok dari perpecahan bahkan kutub ekstrem, yang dalam upaya tersebut didukung oleh usaha merestorasi pendidikan. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi pustaka yakni dengan meneliti berbagai sumber bacaan yang terkait dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan moderasi beragama dalam lingkungan pendidikan dilaksanakan dengan beberapa aspek penting, yakni melaksanakan keadilan, keseimbangan, keteladanan, toleransi dan akomodatif terhadap kearifan lokal, yang dibantu dengan melaksanakan buah-buah roh, sesuai dengan pondasi kehidupan beragama, khususnya kristiani. Tak hanya itu, dalam konsep pendidikan, moderasi beragama yang seharusnya dimulai sedini mungkin, harus didukung oleh lembaga pendidikan, yang dilakukan dengan merestorasi pendidikan, agar konsep awal pendidikan yang selama ini sudah mulai pudar, dapat dikuatkan kembali. Semua hal tersebut berhubungan satu sama lain, dan bertujuan agar dekandensi moral yang berkembang dewasa ini dapat dipudarkan. Kata Kunci: Buah-buah Roh; moderasi beragama; restorasi pendidikan
Filsafat Pendidikan Kristiani dalam Pertanian Padi Darat: Kemenjadian Misteri dan Moralitas Munte, Alfonso
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v5i2.219

Abstract

The purpose of this study was to explore Christian religious education teachers' views on the synthesis of adat, education, curriculum, and interfaith spiritual values manifested in the land rice planting ritual. This includes aspects such as prayers and gotong royong activities that emphasize togetherness, well-being, and a deep understanding of the philosophy of life. Based on brief surveys through 17 research subjects were mostly students of Palangka Raya and came from East Barito and 2 Christian religious education teachers in one of the high schools in East Barito, the researcher found information that currently, learning activities through land rice planting have diminished and are even threatened with extinction. In fact, land rice planting brings interfaith spirituality through prayer with all kinds of meanings (togetherness, mutual cooperation, and sufficiency). Qualitative research with brief survey and interview techniques to Christian religious education teachers provides space for information on high school education through Christian religious education teachers as research subjects who are experts as well as experienced in synthesizing between adat, education (curriculum, teachers, students and society). The results showed such education is an education that translates prayer as ritual space between religions, customs, philosophy and education through the process of planting land rice (tebas tebang, Mu'au, ritual [prayer/mystical and offerings from the earth]) from the teacher's perspective. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pandangan para guru pendidikan agama Kristen mengenai sintesis antara adat, pendidikan, kurikulum, dan nilai-nilai spiritual lintas agama yang terwujud dalam ritual penanaman padi darat. Hal ini mencakup aspek-aspek seperti doa dan kegiatan gotong royong yang menekankan kebersamaan, kesejahteraan, serta pemahaman mendalam tentang filosofi hidup. Berdasarkan survei singkat melalui 17 subjek penelitian yang sebagian besar merupakan pelajar Palangka Raya dan berasal dari Barito Timur serta 2 guru pendidikan agama Kristen di salah satu SMA di Barito Timur, ditemukan informasi bahwa saat ini kegiatan pembelajaran melalui penanaman padi darat sudah semakin berkurang bahkan terancam punah. Padahal, penanaman padi darat menghadirkan spiritualitas lintas agama melalui doa dengan segala macam maknanya (kebersamaan, gotong royong, dan kecukupan). Penelitian kualitatif dengan teknik survei dan wawancara kepada guru pendidikan agama Kristen memberikan ruang informasi tentang pendidikan sekolah menengah atas melalui guru pendidikan agama Kristen sebagai subjek penelitian yang ahli sekaligus berpengalaman dalam mensintesiskan antara adat, pendidikan, kurikulum, guru, siswa, dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan yang demikian adalah pendidikan yang menerjemahkan doa sebagai ruang ritual antara agama, adat, filosofi dan pendidikan melalui proses tanam padi darat (tebas tebang, Mu'au, ritual [doa/mistik dan persembahan dari bumi]) dari sudut pandang guru.
Dialektika Budaya Toraja dan Inklusifitas Pendidikan Agama Kristen dalam Masyarakat Majemuk Sanderan, Rannu; Ua' Tandi Pau', Jhon
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v6i1.223

Abstract

Abstract: This study examines the intersection of Toraja traditions and Christian religious education within Indonesia's pluralistic context. By analyzing the inclusive values and harmony inherent in Toraja culture, it underscores its relevance as a model for interreligious tolerance. The research adopts a qualitative approach, utilizing in-depth interviews, participatory observation, and document analysis to gather data. This methodology allows for a comprehensive exploration of how Christian religious education in Toraja integrates cultural traditions with religious teachings. The study shows how the adaptation of Christian education in the multicultural setting of Toraja fosters mutual respect, social cohesion, and the integration of cultural and religious identities. This approach highlights the strategic role of education in promoting peaceful coexistence and inclusivity, providing valuable insights into the interaction between tradition, religion, and modern pluralistic society. Keywords: Christian religious education; interreligious tolerance; multicultural integration; pluralistic society; Toraja   Abstrak: Penelitian ini menganalisis persinggungan antara tradisi Toraja dan pendidikan agama Kristen dalam konteks pluralisme Indonesia. Dengan mengkaji nilai-nilai inklusivitas dan harmoni yang terkandung dalam budaya Toraja, penelitian ini menyoroti relevansinya sebagai model toleransi antaragama. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Metode ini memungkinkan eksplorasi mendalam mengenai bagaimana pendidikan agama Kristen di Toraja mengintegrasikan tradisi budaya dengan ajaran agama. Penelitian ini menunjukkan bagaimana adaptasi pendidikan Kristen dalam lingkungan multikultural Toraja memperkuat penghormatan, kohesi sosial, dan integrasi identitas budaya serta keagamaan. Pendekatan ini menekankan peran strategis pendidikan dalam mendorong ko-eksistensi damai dan inklusivitas, memberikan wawasan penting mengenai interaksi antara tradisi, agama, dan masyarakat majemuk modern. Kata kunci: Pendidikan agama Kristen; toleransi antaragama; integrasi multibudaya; masyarakat majemuk; tradisi Toraja
Mengembangkan Pendidikan Karakter dan Nilai-nilai Kristiani bagi Pertumbuhan Iman Siswa pada Usia 16-18 Tahun Sesuai 1 Timotius 4:12 Ruru, Aprianto; Topayung, Semuel Linggi
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v6i1.240

Abstract

Abstract: Character education and Christian values ​​play a significant role in shaping the faith and personality of students aged 16-18 years. Based on 1 Timothy 4:12, students aged 16-18 years are called to be role models in terms of speech, behavior, love, faithfulness, and purity. At this stage, students face various social, moral, and spiritual challenges that require a solid foundation of faith. Therefore, education based on Christian values ​​contributes to helping them develop integrity, love, responsibility, and a life that is pleasing to God. Through spiritual guidance, students are encouraged to live out their faith in every aspect of life. The approach applied is a qualitative approach that allows researchers to understand the phenomenon in depth through the interpretation of narrative data. With this approach, they not only develop in academic knowledge, but also in Christian character that allows them to be a light to the world. The purpose of this study is to develop an effective character education model, based on Christian values, to support the growth of students' faith aged 16-18 years. The result of this development is students who have strong faith, solid morals, and a life attitude that reflects Christ, so that they are able to face life's challenges with confidence and wisdom. Keywords: character education; Christian values; faith growth, 1 Timothy 4:12   Abstrak: Pendidikan karakter dan nilai-nilai Kristiani memainkan peranan yang signifikan dalam membentuk iman serta kepribadian siswa yang berusia 16-18 tahun. Berdasarkan 1 Timotius 4:12, siswa yang berada dalam rentang usia 16-18 tahun, dipanggil untuk menjadi teladan dalam hal perkataan, perilaku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Pada fase ini, siswa menghadapi beragam tantangan sosial, moral, serta spiritual yang memerlukan dasar iman yang kokoh. Oleh karena itu, pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani berkontribusi dalam membantu mereka untuk mengembangkan integritas, kasih, tanggung jawab, serta kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Melalui bimbingan rohani, siswa didorong untuk menghidupi iman mereka dengan nyata dalam setiap aspek kehidupan.  Pendekatan yang diterapkan adalah pendekatan kualitatif yang memungkinkan peneliti untuk memahami fenomena secara mendalam melalui interpretasi data naratif. Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya berkembang dalam pengetahuan akademik, tetapi juga dalam karakter Kristiani yang memungkinkan mereka menjadi terang bagi dunia. Tujuan dari penilitian ini untuk mengembangkan model pendidikan karakter yang efektif, berbasis nilai-nilai Kristiani, untuk mendukung pertumbuhan iman siswa pada usia 16–18 tahun. Hasil dari pengembangan ini adalah siswa yang memiliki iman yang kuat, moral yang kokoh, dan sikap hidup yang mencerminkan Kristus, sehingga mereka mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan keyakinan dan kebijaksanaan. Kata kunci: pendidikan karakte; nilai-nilai Kristiani; pertumbuhan iman; 1 Timotius 4:12
Pentakosta dalam Ruang Pendidikan Agama Kristen: Semangat Pentakosta dalam Transformasi Pengajaran PAK di Era Society 5.0 Siregar, Viktor Deni; Rame Irma Ida; Rita Evimalinda
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v6i1.242

Abstract

Abstract: This study discusses the transformation of Christian Religious Education in facing the Society 5.0 era by adopting the Pentecostal spirit. In the context of global change and rapid technological developments, religious education is required to innovate in order to remain relevant and able to answer the challenges of the times. The approach used in this study is qualitative descriptive by analyzing literature and studying the transformation of the Pentecostal spirit in Christian religious teaching in the Society 5.0 era. The results of the study show that the integration of technology in Christian Religious Education can increase the effectiveness of learning by creating more interactive and meaningful methods. The Pentecostal spirit, which emphasizes courage, creativity, and togetherness, is an important basis for building the character of students so that they are able to face the digital era without losing spiritual values. Therefore, this transformation is expected to provide a positive contribution to the world of education, especially in forming a generation that has a balance between faith and the use of technology. Keywords: Christian Religious Education; Society 5.0; pentecostal spirit; digital transformation   Abstrak: Penelitian ini membahas transformasi Pendidikan Agama Kristen dalam menghadapi era Society 5.0 dengan mengadopsi semangat Pentakosta. Dalam konteks perubahan global dan perkembangan teknologi yang pesat, pendidikan agama dituntut untuk berinovasi agar tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan cara menganalisis literatur serta kajian terhadap transformasi semangat pentakosta dalam pengajaran agama kristen di era 5.0 Society. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi teknologi dalam Pendidikan Agama Kristen dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan menciptakan metode yang lebih interaktif dan bermakna. Semangat Pentakosta, yang menekankan keberanian, kreativitas, dan kebersamaan, menjadi dasar penting dalam membangun karakter peserta didik agar mampu menghadapi era digital tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual. Oleh karena itu, transformasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan, khususnya dalam membentuk generasi yang memiliki keseimbangan antara iman dan pemanfaatan teknologi. Kata-kata kunci: Pendidikan Agama Kristen; Society 5.0; semangat pentakosta; transformasi digital
The Role of Christian Education in Preventing and Addressing the Crisis Caused by Online Gambling Zalukhu, Amirrudin
PEADA': Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/peada.v6i1.243

Abstract

Abstract: The growing prevalence of online gambling has triggered severe economic and spiritual crises, affecting individuals, families, and communities. This study aims to analyze the role of Christian education in preventing and addressing the destructive impacts of online gambling through a qualitative literature review. Grounded in theological principles and educational theory, Christian education emphasizes core values such as stewardship, self-control, and accountability as foundations for character formation and behavioral prevention. It serves not only as a preventive mechanism but also as a means of recovery by offering spiritual counseling, financial literacy training, and holistic community support. This study employs a qualitative-descriptive method by analyzing relevant theological, pedagogical, and psychosocial literature. The findings reveal that Christian education holds significant transformative potential in integrating moral development, economic stability, and spiritual restoration for individuals affected by online gambling. Key challenges include cultural resistance to faith-based values and limited collaboration between Christian institutions and secular organizations. Nevertheless, opportunities exist to expand Christian education curricula to address contemporary digital issues more contextually. In conclusion, the study affirms that value-based Christian education is not only relevant but essential in responding to the multidimensional crises caused by online gambling. It recommends the development of contextual educational models and further research to assess the long-term impact of such interventions. Keywords: Christian Education; online gambling; economic crisis; spiritual crisis