cover
Contact Name
T Heru Nurgiansah
Contact Email
setiawan1000@gmail.com
Phone
+6281322551635
Journal Mail Official
nurgiansah@upy.ac.id
Editorial Address
Jl. IKIP PGRI I Sonosewu No.117, Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kewarganegaraan
ISSN : 19780184     EISSN : 27232328     DOI : https://doi.org/10.31316/jk.v7i1.5299
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Kewarganegaraan is published 2 times in 1 year in June and December. The scope of the article includes: 1. Pancasila Education 2. Citizenship Education 3. Social Sciences 4. Politic 5. Law
Articles 1,679 Documents
MENINGKATKAN KESADARAN AKAN PENTINGNYA BERPENDAPAT DALAM KEHIDUPAN DEMOKRASI INDONESIA MELALUI MEDIA SOSIAL SEBAGAI MAHASISWA Zahrani Qolbi Khairunnisa; Nardyawan Arifi Maruf; Adrian Wafi Elhaq; Khadijah Khadijah
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.416 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1942

Abstract

AbstrakKegiatan mengemukakan pendapat di era modern ditunjang dengan adanya media sosial. Keberadaan media sosial membuat penggunanya bisa mengemukakan pendapat tanpa batasan ruang dan waktu. Meskipun begitu, antusiasme masyarakat untuk mengemukakan pendapat cenderung mengalami penurunan. Terlebih lagi antusiasme golongan muda cenderung lebih rendah daripada golongan tua. Jika fenomena sosial ini terus berlanjut, maka kehidupan masyarakat yang demokratis akan tergerus oleh golongan muda yang pasif. Menindaklanjuti permasalahan ini, penelitian diadakan untuk menganalisis penyebab rendahnya kesadaran generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk mengemukakan pendapatnya sebagai bentuk keikutsertaan dalam berdemokrasi di Indonesia melalui media sosial. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei dan studi pustaka. Hasil analisis mengungkapkan bahwa penyebab rendahnya antusiasme mahasiswa untuk beropini antara lain maraknya berita hoax, cyber bullying dari masyarakat yang kontra, serta hukum yang problematis sehingga dapat memicu kriminalisasi dalam beropini. Hasil analisis ini digunakan untuk merumuskan solusi- solusi yang diharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya berpendapat sebagai mahasiswa demi terciptanya kehidupan demokratis di Indonesia.Kata Kunci: Kebebasan Berpendapat, Beropini, Media Sosial, Mahasiswa AbstractThe activity of expressing opinions in the modern era is supported by the existence of social media. The existence of social media allows users to express opinions without the limitations of space and time. Even so, people's enthusiasm to express opinions tends to decrease. Moreover, the enthusiasm of young people tends to be lower than the old class. If this social phenomenon continues, then the life of a democratic society will be eroded by passive young people. Following up on this problem, the study was conducted to analyze the causes of low awareness of the younger generation, especially students, to express their opinions as a form of participation in democracy in Indonesia through Data collection is done using survey methods and library studies. The results of the analysis revealed that the causes of low enthusiasm of students to have opinions include the rise of hoax news, cyber bullying from the counter society, as well as problematic laws that can trigger criminalization in opinion. The results of this analysis are used to formulate solutions that are expected to foster and raise awareness of the importance of opinion as students for the creation of democratic life in Indonesia.Keywords: Freedom of Opinion, Opinion, Social Media, Students
PENGARUH PAMALI SEBAGAI KEARIFAN LOKAL DALAM MEWUJUDKAN NILAI DAN NORMA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL GENERASI Z Abu Hanif Muhammad Syarubany; Mazi Prima Karunia Azzahra; Rizky Sri Rahayu; Suhandoyo Prayoga
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.921 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1945

Abstract

AbstrakIndonesia adalah negara yang luas dan memiliki banyak ragam budaya. Salah satu hasil budaya yang dimiliki adalah pamali (tabu). Pamali sebagai kearifan lokal yang bersumber dari pengetahuan setempat, kini telah menjadi identitas kebudayaan Indonesia. Adanya budaya ini, mampu mendinamisasi kehidupan sosial yang penuh keadaban dan kearifan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan pamali dengan perwujudan nilai dan norma dalam kehidupan bermasyarakat dan mengetahui tingkat eksistensinya dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan kajian literatur. Metode survei akan dilakukan kepada masyarakat Indonesia guna menggali informasi mengenai pamali yang ada di daerah setempat. Hasil penelitian ini yakni masih eksisnya pamali di masyarakat dan adanya korelasi positif antara pamali dengan nilai dan norma dilihat dari segi implementasinya dalam kehidupan.Kata kunci: kebudayaan, masyarakat, nilai, pamali AbstractIndonesia is a vast country and has many cultures. One of the cultural products that is owned is pamali (taboo). Pamali as local wisdom sourced from local knowledge, has now become the identity of Indonesian culture. The existence of this culture is able to dynamize social life which is full of civility and wisdom. This study aims to determine the relationship between pamali and the embodiment of values and norms in social life and to determine the level of their existence in society. The method used in this research is a survey and literature review. The survey method will be carried out to the Indonesian people in order to obtain information about the pamali in the local area. The results of this study are the existence of pamali in society and there is a positive correlation between pamali and values and norms in terms of their implementation in life.Keywords: culture, pamali, public, score
DAMPAK PEMBELAJARAN JARAK JAUH TERHADAP KEGIATAN KEBUDAYAAN MAHASISWA DALAM LINGKUNGAN PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA Muhammad Taruna; Aloysius Vincent; Nazwa Murtasya Sunandi; Tazkia Herang Paningali
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.139 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1947

Abstract

AbstrakIndonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan tradisional, namun pada era modern ini, kebudayaan-kebudayaan tersebut tergeser oleh jenis kebudayaan yang lebih modern. Sebagai respon dari permasalahan tersebut, mahasiswa Indonesia bergerak dengan melakukan kegiatan kebudayaan pada lingkungan perguruan tinggi Indonesia. Namun, adanya pandemi COVID-19 menyebabkan sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh, sehingga menghambat kegiatan kebudayaan mahasiswa dalam lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan ini meliputi pagelaran, pembelajaran kebudayaan, dan pementasan budaya yang ditujukan kepada massa kampus, masyarakat umum, hingga tingkat international. Dengan demikian, peneliti ingin mempelajari pengaruh pembelajaran jarak jauh terhadap kegiatan kebudayaan mahasiswa dalam lingkungan perguruan tinggi di Indonesia dengan sampel UKM kebudayaan Indonesia di ITB. Untuk mendapatkan data, peneliti menggunakan metode angket dan studi literatur. Dari hasil angket didapatkan data dari UKM MUSI ITB, KPA, UKM-ITB, dan UKMR. Didapatkan hasil bahwa pembelajaran jarak jauh membuat kegiatan - kegiatan kebudayaan yang biasa dilakukan UKM - UKM tersebut menjadi terhambat dan tidak efektif. Dalam situasi pembelajaran jarak jauh ini UKM-ITB dan UKMR beradaptasi dengan melakukan penampilan secara daring. KPA pun beradaptasi dengan melakukan penampilan dengan iAngklung secara daring.Kata kunci: COVID-19, Kegiatan UKM, pembelajaran jarak jauh, Budaya. AbstractIndonesia is a country that has rich traditional culture. But in this era, those traditional cultures have been ruled out by more modern cultures. As a response to this problem, college students from all across Indonesia established many organisations to conserve the traditional culture of Indonesia in the university environment in Indonesia. However, COVID-19 pandemic causes most universities in Indonesia to use long distance learning, which hinder cultural activities in the university environment in Indonesia. These cultural activities include cultural performance, learning, and show for university students, general public, or international audience. Therefore, researchers want to study the effects of long distance learning on student cultural activities in higher education environments in Indonesia. The sample for this research is student’s cultural organisation in Bandung Institute of Technology, called UKM ITB. In this research, data is collected with questionnaires and literature study. The questionnaire collects data from UKM MUSI ITB, KPA ITB, UKM-ITB, and UKMR ITB. The data states that long distance learning causes cultural activities by these UKMs to be ineffective. In this long distance learning situation, UKM-ITB and UKMR adapted by doing online performance. KPA adapted by using iAngklung in doing online performance..Keywords: COVID-19, UKM activities, Online Learning, culture.
PENGARUH BUDAYA ASING DALAM KEPEMIMPINAN NASIONAL DI MASA MENDATANG Gerend Christopher; Muhammad Izzatul Fauzan Hasibuan; Verdhian Nahwa Saputra; Violeta Valencia
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.977 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1949

Abstract

AbstrakBerkembangnya internet di zaman ini telah membuka ilmu pengetahuan dan informasi di seluruh dunia kepada masyarakat secara cepat dan masif. Setiap individu dapat melihat apa yang terjadi di belahan dunia lain hanya dalam hitungan beberapa detik. Dengan adanya kemudahan akses tersebut, pertukaran informasi menjadi lebih sering terjadi. Hal tersebut membuka peluang untuk masing-masing individu menjadi tertarik dan terpengaruh dengan budaya asing tanpa adanya batas. Bila dibiarkan lebih jauh, hal tersebut akan berdampak pada banyak hal, salah satunya terhadap kepemimpinan nasional di masa yang akan datang.  Dengan adanya penyaluran gelombang informasi yang masif tersebut, secara tidak langsung sifat dari setiap individu nasional akan terpengaruh, baik secara positif maupun negatif, dan alur kepemimpinan di masa depan akan berubah. Dalam mencegah perubahan yang masif ini dibutuhkan adanya pemahaman untuk setiap individu tentang pentingnya memelihara budaya dan mengolah informasi yang diterima.Kata Kunci: Kepemimpinan nasional, Budaya asing, Informasi  AbstractThe development of the internet in this era has opened up knowledge and information around the world to the public quickly and massively. Any individual can see what is happening in the other world in just a few seconds.  With the ease of access, the exchange of information becomes more frequent. This opens up opportunities for each individual to be interested and influenced by foreign cultures without any boundaries. If allowed to go further, this will have an impact on many things, one of which will affect national leadership in the future.  With this massive wave of information, indirectly the nature of every national individual will be affected, both positively and negatively, and the path of future leadership will change. Preventing this enormous change requires understanding for each individual about the importance of maintaining culture and processing the information received Keywords: National leadership, Foreign culture, Information
BUDAYA MENGAITKAN BERBAGAI PERISTIWA DENGAN HAL MISTIS OLEH MASYARAKAT INDONESIA Felicia Justine; Karina Jodie; Muhammad Rafi Alfajri; Muhammad Syakir A.R.U. Dilo; Zidan Hidayat Al Kautsar
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.353 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1953

Abstract

AbstrakSudah banyak sekali kejadian-kejadian menghebohkan yang terjadi di Indonesia, mulai dari bencana alam, kecelakaan, hingga kematian figur publik. Kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia ini seringkali dikaitkan dengan hal-hal mistis oleh masyarakat indonesia. Dari hal ini, dilakukan penelitian dengan mengandalkan pendekatan kuantitatif berdasarkan data yang diambil menggunakan kuesioner. Penelitian ini akan menjawab pertanyaan “Apa yang menyebabkan masyarakat masih mengaitkan suatu peristiwa dengan hal-hal yang berbau mistis?”, “Apa dampak yang terlihat akibat masyarakat masih mempercayai hal-hal tersebut?”, “Apakah hal ini merupakan hal yang positif atau negatif?”. Ketika mendengar suatu hal yang mistis banyak orang-orang yang takut untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh seperti membuang sampah, berkata-kata yang tidak sopan, berbuat asusila dan sebagainya. Tetapi banyak masyarakat yang tidak mau mendengar hasil investigasi dari para ahli karena sudah mendengar cerita turun-temurun dari keluarga dan orang-orang disekitarnya. Maka dapat disimpulkan bahwa kebiasaan mengaitkan fenomena dengan hal mistis ini memiliki dampak baik dan dampak buruk di saat yang bersamaan.Kata kunci : Mistis, Budaya, Indonesia AbstractThere have been so many events that have occurred in Indonesia, ranging from natural disasters, accidents, to the death of public figures. The events that occur in Indonesia are often associated with mystical things by the Indonesian people. From this, research is carried out by relying on a quantitative approach based on data taken using a questionnaire. This study will answer the questions "What causes people to associate an event with mystical things?", "What is the impact of believing in mythical things?", "Is this a positive or negative trend?”. When hearing something mystical, many people are scared to do indecent things, such as littering, saying impolite words, doing immoral things and so on. But many people won’t believe the results of experts because they have heard stories passed down from generation to generation from their families and people around them. So it can be concluded that the habit of associating phenomena with mystical things has both good and bad effects at the same time.Keywords : Mystic, Culture, Indonesia
ANALISIS PENGARUH OTONOMI PENDIDIKAN TERHADAP KUALITAS BELAJAR MAHASISWA Alya Jasmine Gunawan; James Parluhutan Hutabarat; Kharisma Aulia Putri; Nicholas Amadeus Michael
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.364 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1954

Abstract

AbstrakOtonomi pendidikan merupakan langkah yang diambil oleh pemerintah pusat dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Istilah lain dari otonomi pendidikan adalah desentralisasi pendidikan yang mengacu kepada pendidikan yang merata di seluruh daerah. Kegiatan ini sangat penting agar mahasiswa di semua daerah dapat bersaing pada jenjang pendidikan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas belajar mahasiswa selama otonomi pendidikan diberlakukan. Metode pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif analisis disertai penggunaan survei. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan secara sistematis dan faktual mengenai variabel yang akan diteliti. Selanjutnya ditunjukkan bagaimana hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Hasil penelitian menampilkan peningkatan kualitas belajar mahasiswa. Salah satu program penting otonomi pendidikan adalah MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka). Program ini bertujuan mewujudkan pembelajaran otonom di kampus yang fleksibel sehingga mahasiswa dapat belajar secara interaktif dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Program ini menuntut mahasiswa untuk mecari tahu metode belajar yang baru. Manfaat otonomi pendidikan pada mahasiswa adalah dapat meningkatkan keinginan belajar bagi mahasiswa. Selain itu masyarakat dapat lebih mengetahui keberadaan program-program yang telah disediakan oleh pemerintah untuk menunjang kebutuhan pendidikan di daerah agar lebih memadai.Kata Kunci: Otonomi, Desentralisasi, Pendidikan, Mahasiswa, Pemerintah. AbstractEducational autonomy is a step taken by the central government in improving the quality of education in Indonesia. Another term for educational autonomy is education decentralization which refers to education that is evenly distributed throughout the region. This activity is very important so that students in all regions can compete at the higher education level. This study aims to analyze the quality of student learning during the implementation of educational autonomy. The method in this study is a descriptive analytical research method with the use of surveys. This method is used to describe systematically and factually about the variables to be studied. Furthermore, it is shown how the relationship between the independent variable and the dependent variable is shown. The results showed an increase in the quality of student learning. One of the important programs of educational autonomy is MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka). This program aims to realize flexible, autonomous learning on campus so that students can learn interactively and according to their individual needs. This program requires students to find out new learning methods. The benefit of educational autonomy for students is that it can increase students' desire to learn. In addition, the public can be more aware of the existence of programs that have been provided by the government to support educational needs in the regions to be more adequate.Keywords: autonomy, decentralization, education, students, government
REPRESENTATION OF HOBBESIAN THEORY IN THE FILM SERIES “SQUID GAME” IN THE VIEW OF GENERATION Z Adryan Allen Gerald Witera; Albert Louis; Jovita Anggi Taruli; Nurmalita Sari
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.57 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1955

Abstract

Abstract‘Squid Game’ is a film series from South Korea that is in high demand lately. This film tells the story of a group of people who are in debt and end up participating in a game competition that puts their lives on the line to earn money. This game is designed by a frontman who manages to avoid chaos during the game. Each player has also signed an agreement/contract while at the game venue. In this paper, we will discuss the representation of the running of politics and government within the scope of the country from the film series ‘Squid Game’ based on the social-political theory of Thomas Hobbes. This research was conducted by means of literature studies and surveys. Based on the results of data analysis, there are things in this film that can describe the politics and government of the country. Frontman describes the position of a leader of a country, players describe the position of citizens, game contracts describe the laws of the country that must be obeyed, and the game place describes the territory of a country. This film also describes social conflicts that may occur among the people, proletarian rebellions, and the government's way of dealing with conflicts with dictatorial systems, democracy, and others. From the research results, readers can see this film from a different perspective and can better understand the world of politics and state government.Keywords: 'Squid Game', politic, country, government, Hobbesian AbstrakSquid Game adalah serial film dari Korea Selatan yang sangat diminati akhir-akhir ini. Film ini bercerita tentang sekelompok orang yang berhutang dan akhirnya berpartisipasi dalam kompetisi game yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk mendapatkan uang. Game ini dirancang oleh frontman yang berhasil menghindari kekacauan selama pertandingan. Setiap pemain juga telah menandatangani perjanjian/kontrak saat berada di tempat permainan. Dalam makalah ini, kita akan membahas representasi jalannya politik dan pemerintahan dalam lingkup negara dari seri film 'Squid Game' berdasarkan teori sosial-politik Thomas Hobbes. Penelitian ini dilakukan melalui studi literatur dan survei. Berdasarkan hasil analisis data, ada hal-hal dalam film ini yang bisa menggambarkan politik dan pemerintahan negara. Frontman menggambarkan posisi seorang pemimpin suatu negara, pemain menggambarkan posisi warga negara, kontrak permainan menggambarkan hukum negara yang harus dipatuhi, dan tempat permainan menggambarkan wilayah suatu negara. Film ini juga menggambarkan konflik sosial yang mungkin terjadi di antara rakyat, pemberontakan proletar, dan cara pemerintah menangani konflik dengan sistem diktator, demokrasi, dan lain-lain. Dari hasil penelitian, pembaca dapat melihat film ini dari perspektif yang berbeda dan dapat lebih memahami dunia politik dan pemerintahan negara bagian.Kata kunci: 'Squid Game', politik, negara, pemerintah, Hobbesian
PENGARUH KETIDAKSTABILAN EKONOMI PADA MASA PANDEMI COVID-19 TERHADAP TRADISI PEMBERIAN UANG SAAT HARI RAYA BAGI MAHASISWA ITB Azka Fathiya; Gina Septiyani Putri; Jihad Zakki Darajad; Muhammad Zavier Gannet T
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.688 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1956

Abstract

AbstrakPandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020 sudah banyak mempengaruhi kehidupan manusia. Di Indonesia tidak hanya di bidang kesehatan yang kewalahan untuk menekan kasus Covid-19. Hampir semua aspek kehidupan terkena dampak dari situasi ini. Salah satu aspek penting yang terkena dampaknya adalah aspek ekonomi. Kebijakan PPKM yang dikeluarkan pemerintah berdampak besar untuk orang-orang yang tidak bisa melakukan pekerjaannya secara online dan banyak orang-orang yang kehilangan pekerjaanya karena hal ini. Selama lebih dari satu tahun pandemi ini berlangsung, banyak hari-hari besar keagamaan yang sudah dilewati, salah satu hari besar keagamaan umat Islam yaitu Idulfitri. Selain tradisi pulang kampung, saat Idulfitri anggota keluarga yang sudah memiliki penghasilan juga akan memberikan uang untuk saudara yang masih kecil dan remaja. Akan tetapi, intensitas tradisi tersebut sudah mulai menurun pada saat Idulfitri di masa pandemi ini. Faktor ekonomi masyarakat yang mayoritas menurun menyebabkan hal ini terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji hubungan antara ketidakstabilan ekonomi ketika pandemi Covid-19 dan pengaruhnya terhadap tradisi memberikan uang pada saat hari raya yang dirasakan mahasiswa ITB. Metode penelitian ini adalah dengan menggunakan kajian literatur dan survei. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai kajian literatur tentang hubungan ekonomi selama pandemi dengan keberlangsungan tradisi saat hari raya.Kata kunci: pandemi, ketidakstabilan, ekonomi, tradisi, hari raya, mahasiswa AbstractThe Covid-19 pandemic that has occurred since March 2020 has greatly affected human life. In Indonesia, it is not only the health sector which is overwhelmed to suppress Covid-19 cases. Almost all aspects of life are affected by this situation. One of the important aspects affected is the economic aspect. The PPKM policy issued by the government has a big impact on people who cannot do their work online and many people lose their jobs because of this. For more than a year this pandemic has lasted, many religious holidays have been passed, one of the Muslim religious holidays is Eid al-Fitr. In addition to the tradition of returning home, during Eid, family members who already have income will also give money to younger siblings and teenagers. However, the intensity of this tradition has begun to decline during Eid during this pandemic. The majority of people's economic factors have decreased causing this to happen. The purpose of this study is to examine the relationship between economic instability during the Covid-19 pandemic and its effect on the tradition of giving money during holidays felt by ITB students. The method of this research is to use literature review and survey. The results of this study are expected to be used as a literature review on the economic relationship during the pandemic with the sustainability of traditions during the holidays.Keywords: pandemic, instability, economy, tradition, holidays, students
PENERAPAN FILOSOFI SUNDA “SOMÉAH HADÉ KA SÉMAH” DALAM INTERAKSI VIRTUAL Andika Ardiyansyah; Davina Naja Suryantoro; Pieter Sutrisna; Soraya Sekar Mustika A Kadir
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.271 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1958

Abstract

AbstrakTiap suku bangsa memiliki nilai budaya yang dipegang oleh masyarakatnya sebagai pegangan dalam berkehidupan sehari-hari, termasuk di dalamnya adalah interaksi sosial. Dalam berinteraksi sosial, masyarakat Sunda terkenal dengan keramahannya, sesuai dengan filosofi “Soméah Hadé ka Sémah” yang bermakna berbuat baik, ramah, dan sopan kepada setiap orang. Sesuai dengan perkembangan zaman, interaksi sosial kini tidak terbatas ruang dan waktu, memberikan kebebasan bagi tiap individu untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Namun, hal ini membuat orang lupa bahwa hakikatnya berinteraksi secara virtual sama dengan berinteraksi secara langsung. Ada nilai dan norma yang harus dipegang sebagai batasan dalam berinteraksi. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan antara interaksi langsung dengan virtual. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan ditujukan untuk membandingkan data yang diperoleh baik dari berbagai rujukan maupun dari lapangan. Hasil penelitian menunjukkan sebagian orang memanfaatkan kebebasan yang ada dalam interaksi virtual untuk berinteraksi dengan orang lain tanpa mempertimbangkan nilai yang berlaku di masyarakat. Hal ini didasari oleh kebebasan dan kerahasiaan identitas dalam interaksinya. Penelitian ini menunjukkan faktor-faktor yang mengakibatkan sebagian orang merasa abai terkait nilai di dunia digital. Harapannya, penelitian ini dapat menjadi pembanding dengan teori yang sudah ada dan sebagai rujukan dalam memecahkan masalah di masyarakat.Kata kunci: Interaksi, virtual, filosofi, soméah, identitas, komunikasi AbstractEach nation has cultural values its people hold as a grip on day-to-day living, including social interaction. In social interaction, sundanese are known for their hospitality, which fits the “Soméah Hadé ka Sémah” philosophy which means to be kind, gracious, and courteous to everyone. In keeping with the development of times, social interaction is now infinite in time and space, allowing freedom for each individual to interact with each other, but it makes one forgets that virtual interaction is essentially equivalent to face-to-face interaction. There are values and norms that must be held as boundaries in interacting. To that end, this study aims to examine the differences between direct and virtual interaction. Qualitative research methods are used to compare data obtained from both referrals and the field. Studies show that some people uses the freedom available in virtual interaction to interact with others without considering the values that prevail in society. This is caused by the freedom and anonymity it has. This study shows factors that have caused some people to neglect the values that exist in the digital world. Hopefully, it can appeal to existing theories and be used as a reference to solve problems in the society.Keywords: Interaction, virtual, philosophy, soméah, identity, communication
PENGARUH BUDAYA MAKAN DENGAN TANGAN TERHADAP PENYEBARAN COVID-19 DI KOTA BANDUNG Gregorius Kevin Setiawan; Ayodya Kuncoroadi Yudhitama Wardana; Aileen Devita Adjani; Zahra Salsabila
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5 No 2 (2021): 1 Juli - 31 Desember 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.293 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1960

Abstract

AbstrakPandemi Covid-19 yang terus berlanjut menyebabkan krisis kesehatan pada banyak negara, termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kemampuan virus yang menyebar dengan cepat. Kota Bandung, sebagai salah satu kota dengan jumlah penduduk yang padat juga terkena dampak dari pandemi ini. Untuk mengatasi pandemi, pemerintah Indonesia melakukan upaya seperti penerapan physical distancing, di mana pada aturan tersebut masyarakat diimbau untuk mencuci tangan dengan benar, menjauhi kerumunan, selalu menggunakan masker, dsb. Pandemi dan rasa khawatir masyarakat berpengaruh pada salah satu budaya bangsa Indonesia, yakni budaya makan dengan tangan. Budaya ini sudah dilakukan sejak dahulu kala dan dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Indonesia. Pada penelitian ini, akan ditentukan pengaruh budaya makan dengan tangan terhadap penyebaran Covid-19 di Kota Bandung, beserta faktor lain yang memungkinkan terjadinya penyebaran Covid-19 tersebut. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan cara studi literatur, pencarian data dari sampel melalui pengisian kuesioner, dan analisis data secara korelasi parsial. Dari segi kuantitatif, analisis data dilakukan dengan menaksir data kebiasaan penduduk Kota Bandung dari data sampel melalui pencarian selang kepercayaan dengan taraf signifikansi 95%. Berdasarkan data dari 102 responden, didapatkan bahwa 15.7% responden pernah terjangkit Covid-19, 98% persen responden selalu menggunakan masker saat keluar rumah, dan 42.2% responden pernah berkerumun saat pandemi. Dengan penaksiran selang kepercayaan, didapatkan penduduk Kota Bandung yang pernah ataupun yang belum pernah terjangkit Covid-19 memiliki frekuensi makan dengan tangan “kadang-kadang”. Penduduk Kota Bandung yang pernah terjangkit Covid-19 mencuci tangan dengan benar sebelum makan, baik dengan tangan maupun peralatan makan, dengan frekuensi “kadang-kadang” sampai “sangat sering”, sedangkan yang tidak pernah terjangkit Covid-19 mencuci tangan dengan benar sebelum makan dengan frekuensi “sangat sering”. Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa budaya makan dengan tangan tidak berpengaruh terhadap penyebaran Covid-19 di Kota Bandung. Hal yang mempengaruhi penyebaran Covid-19 adalah kebiasaan mencuci tangan, menggunakan masker, dan stay at home.Kata Kunci: covid-19; budaya; makan dengan tangan AbstractThe ongoing Covid-19 pandemic has caused a health crisis in many countries, including Indonesia. This is due to the ability of the virus to spread quickly.  The city of Bandung, as one of the cities with a dense population, has also been affected by this pandemic. To overcome the pandemic, the Indonesian government has made efforts such as implementing physical distancing, in which the public is advised to wash their hands properly, stay away from crowds, always wear masks, etc. The pandemic and people's worries have an effect on one of the Indonesian cultures, namely the culture of eating with hands.  This culture has been carried out since a very long time ago and is carried out from generation to generation by the people of Indonesia. In this study, it will determine the influence of the culture of eating with hands on the spread of Covid-19 in Bandung City, along with other factors that allow the spread of Covid-19.  This research was conducted qualitatively by means of a literature study, searching for data from samples through filling out questionnaires, and analyzing data by partial correlation.  From a quantitative point of view, data analysis was carried out by estimating the habit data of the population of Bandung from the sample data by searching for a confidence interval with a significance level of 95%.  Based on data from 102 respondents, it was found that 15.7% of respondents has been infected by Covid-19, 98% percent of respondents always used masks when leaving the house, and 42.2% of respondents had gone out in crowds during a pandemic. By using a confidence interval estimation, it was found that residents of Bandung City who have or have never been infected with Covid-19 have a frequency of eating with their hands "sometimes". Residents of Bandung City who have been infected with Covid-19 wash their hands properly before eating, both with hands and cutlery, with a frequency of "sometimes" to "very often", while those who have never been infected with Covid-19 wash their hands properly before eating.  with a "very frequent" frequency. From this, it can be concluded that the culture of eating with hands has no effect on the spread of Covid-19 in the city of Bandung. Things that affect the spread of Covid-19 are the habits of washing hands, wearing masks, and staying at home.Key Words: covid-19, culture, eat with hands

Page 25 of 168 | Total Record : 1679