cover
Contact Name
Nasaruddin
Contact Email
nasarhb@gmail.com
Phone
+6285242574293
Journal Mail Official
jtajdid@gmail.com
Editorial Address
LP2M Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima, Gedung Lantai III, Jln. Anggrek No. 16 Ranggo NaE Kota Bima NTB, Telp. 0374-44646, Fax. 0373-45267
Location
Kota bima,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan
Published by IAI Muhammadiyah Bima
ISSN : 25498983     EISSN : 26146630     DOI : https://doi.org/10.52266/tadjid
TAJDID merupakan jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Frekuensi penerbitan dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dalam setahun setiap bulan April dan Oktober oleh LP2M IAI Muhammadiyah Bima. TAJDID akan menyajikan ide-ide yang up to date disertai dengan solusi-solusi yang relevan seputar pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Terlepas dari itu, secara tehknisnya bahwa TADJID hadir untuk mempermudah penulis, peneliti, mahasiswa, guru bahkan stakeholder lainnya yang berkepentingan akan teori-teori yang relevan yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan/referensi secara luas. TAJDID berkomitmen kuat akan selalu hadir sebagai solusi dalam konteks pengembangan keilmuan dibidang keagamaan dan kemanusiaan (sosial).
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 2 (2017): Oktober" : 8 Documents clear
WAHDAT AL-ADYAN: MODERASI SUFISTIK ATAS PLURALITAS AGAMA Kolis, Nur
Tajdid Vol 1 No 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.42

Abstract

Perkembangan hubungan antara umat beragama ccenderung kehilangan spirit kemanusiaannya yang universal, berganti dengan semangat kelompok dan individu. Isu agama diangkat untuk keepentingan individu, kelompok, dan kekuasaan. Gagasan tentang pembelaan terhadap Tuhan telah menjadi gagasan yang utopis. Iman kemudian tertuju pada institusi agama, bukan kepada Tuhan. Akhirnya penganut ajaran agama lain dianggap bukan peenyembah Tuhan. Secara bertubi-tubi sikap keagamaan tersebut memicu terjadinya peperangan atas nama agama. Berbagai langkah solutif telah coba diwacanakan. Dikalangan pemikir Islam sufistik, jauh sebelum muncul wacana pluralisme agama, terdapat satu gagasan tentang waḥdat al-adyân atau “kesatuan agama-agama”. Pemikir sufistik waḥdat al-adyân menawarkan satu gagasan moderat yang humanis, dan universal dalam konteks relasi agama-agama, mengandung pesan moral yang terkait secara langsung dengan masalah harmoni kehidupan sosial keagamaan. Universalitas konsep waḥdat al-adyân terdapat pada aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Konsep waḥdat al-adyân dalam tasawuf dipopulerkan oleh dua tokoh sufi ternama, yaitu Husin Mansur al-Ḥallâj (w. 922 M) dan Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi wahdat al-wujûd (w. 1240 M). Al-Ḥallâj menggandengkan konsep waḥdat al-adyân dengan hulûl, sedangkan Ibn ‘Arabi. Pemikiran dua sufi tersebut saling melengkapi, al-Ḥallâj sebagai penggagas waḥdat al-adyân sedangkan Ibn ‘Arabi membuat ide-ide al-Ḥallâj menjadi sistematis.
FILSAFAT ISLAM: KEJAYAAN DAN KONFLIK DENGAN ORTODOKSI Ruslan, Ruslan
Tajdid Vol 1 No 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.43

Abstract

Dinamika sejarah filsafat Islam pernah mengalami kejayaan sekaligus menghadapi masalah pertentangan yang membuatnya tidak bisa berkembang secara pesat disebabkan penolakan dari kaum ortodoksi Islam. Era Ibnu Sina merupakan era kejayaan filsafat Islam dimana gagasan dan konsep pemikiran filosofisnya menjadi rujukan masyarakat pada zamannya. Berbeda dengan Sang Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali. Berdasarkan proses pencarian yang dilakukannya, ia menemukan bahwa kebenaran atau Islam yang orisinal itu ada pada konsep dan pemikiran yang ortodoks (murni). Konsep sang pembela Islam tidak berjalan mulus, karena Ibnu Rusyd yang merupakan salah satu tokoh penting dunia Muslim yang sering melontarkan kritikannya terhadap pemikiran Islam ortodoksi yang diwakili oleh Imam al-Ghazali. Bahkan al-Ghazali sering dituduh sebagai penyebab kejumudan dalam dunia Islam.
NILAI DASAR PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN Sya’rani, Muh
Tajdid Vol 1 No 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.44

Abstract

Al-Quran sebagai sumber utama dan menjadi petunjuk dalam Islam, tidak bisa hanya dipahami secara normative oleh umat Islam sebagai teks yang mengatur hukum-hukum syar’i dalam bentuk hubungan-hubungan antara tuhan dan manusia semata saja, namun lebih dari itu al-Quran juga harus dipahami sebagai petunjuk yang berisi konsep-konsep jika umat Islam ingin mencapai peradaban yang paripurna. Sebut saja misalkan pendidikan sebagai bagaian terpenting dalam peradaban manusia, al-Qur’an yang merupakan petunjuk mesti hadir sebagai konsep dasar dan pengembangan pendidikan Islam, sehingga peradaban yang hadir sebagai hasil dari usaha pendidikan tidak terlepas dari nilai-nilai Qur’ani. Bila kita selami lebih dalam, kita bisa mendapati cukup banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an yang bisa dijadikan landasan berpijak, atau memiliki relevansi yang cukup kuat untuk dijadikan sebagai alasan akan adanya konsep pendidikan dalam Islam, baik itu dari segi keutamaan ilmu, penuntut ilmu sampai bagaimana ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan tata cara dalam pendidikan seperti bagaimana Allah memberikan pelajaran bagi Rasul-rasulnya. Oleh sebab itu al-Qur'an sendiri telah memberi isyarat bahwa permasalahan pendidikan sangatlah penting, jika al-Qur'an dikaji lebih mendalam maka kita akan menemukan beberapa prinsip dasar pendidikan, yang selanjutnya bisa kita jadikan inspirsi untuk dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu, oleh karenaya para pemikir dan pemerhati pendidikan harus selalu mejadikan al-Qur’an sebagai inspirasi, bahkan gren-teory dalam merumuskan konsep-konsep pendidikan yang bertujuan membina manusia secara pribadi dan kelompok, sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah SWT.
TRANSMISI IDEOLOGI FUNDAMENTALISME DALAM PENDIDIKAN Mahmudah, Husnatul
Tajdid Vol 1 No 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.45

Abstract

Tulisan ini berusaha menguraikan tentang transmisi ideologi fundamentalisme dalam pendidikan. Eskpansi gerakan keagamaan transnasional membawa serta ideologi fundamentalisme yang melekat padanya. Gerakan keagamaan ini memandang Islam sebagai ideologi dan politik. Karena itu, fundamentalisme merupakan konsekuensi logis penempatan syariat sebagai referensi utama gerakan Islam. Pandangan tentang keterancaman masa depan Islam akibat gencarnya serangan globalisasi kemudian menjadi titik dasar untuk memperjuangkan Islam lewat berbagai bidang kehidupan. Modernisasi pendidikan Islam seiring dengan pertumbuhan kelas menengah Muslim perkotaan di Indonesia, juga diikuti oleh fenomena maraknya sekolah Islam terpadu. Degradasi moral bangsa dan kualitas pendidikan nasional yang masih jauh dari harapan masyarakat semakin menambah kegelisahan masyarakat kelas menengah terhadap masa depan dan kualitas pendidikan anak-anak mereka. Menjawab kegelisahan tersebut, berbagai gerakan keagamaan mengambil peran untuk memberikan solusi praktis dalam bidang pendidikan Islam. Kelompok fundamentalis ini membingkai serta mentransmisikan ideologi fundamentalisme dalam pendidikan dengan menggunakan pola eksklusif protektif. Pola ini dikembangkan untuk menginternalisasikan paham dan nilai-nilai yang dianggap benar sekaligus memproteksi paham dan nilai lain yang datang dari luar. Transmisi idelogi tersebut dilakukan lewat proses kegiatan belajar mengajar yang didalamnya memuat hidden curriculum yang bertentangan dengan unsur-unsur peace education.
PERENCANAAN DISTRIBUSI ZAKAT PADA DOMPET PEDULI UMMAT DARUT TAUHID (DPU DT) CABANG YOGYAKARTA Ibrahim, Ibrahim
Tajdid Vol 1 No 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.46

Abstract

Lembaga yang diamanahi untuk mengelola zakat, berperan untuk melakukan pendistribusian zakat secara lebih baik lagi, melalui sentuhan manajemen pendistribusian zakat yang profesional. Langkah awal dalam mewujudkan hal tersebut, perlu dilakukan perencanaan yang baik, matang, dan mendalam sehingga dapat menghadirkan nilai-nilai kemaslahatan dari disyariatkannya ibadah zakat. Tulisan ini akan menganalisis perencanaan distribusi zakat yang dilakukan oleh Dompet Peduli Ummat Darut Tauhid (DPU DT) cabang Yogyakarta sesuai dengan konsep manajemen perencanaan. DPU-DT cabang Yogyakarta dalam mendistribusikan dana zakat, telah menggunakan sentuhan manajemen yang baik, salah satunya telah menggunakan tahapan dan proses manajemen perencanaan yang yang meliputi tahapan forcessting, objective, police, program, procedure, schedule, dan budget. Dengan tetap berpedoman pada visi, misi, dan tujuan DPU-DT cabang Yogyakarta yaitu mengantarkan mustahik menjadi muzakki. Selain itu juga membawa misi memperdayakan dan merubah mental ekonomi masyarakat, serta menyiarkan nilai-nilai Islam melalui pembelajaran dan pembinaan agama dalam rangka menguatkan keimanan masyarakat.
MENCEGAH PORNOGRAFI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Muchlis, Muchlis
Tajdid Vol 1 No 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.47

Abstract

Pornografi adalah masalah yang keberadaannya sudah tidak dapat dipungkiri lagi di Indonesia. Meskipun kenyataannya bahwa banyak umat Muslim di Indonesia. Berbagai cara yang dilakukan untuk menyebarkan pornografi ini melalui banyak media, seperti: media elektronik, media cetak, melalui berbagai situs di internet, bahkan ironisnya buku-buku pelajaran yang menjadi pelajaran siswa di sekolah pun sudah beberapa kali terungkap disisipkan dengan pornografi. Akibatnya perilaku pornoaksi seakan sudah bukan hal yang dianggap suci lagi bagi sebagian besar pelajar di Indonesia. Jika hal ini tidak segera diantisipasi, maka akan dapat menumbuhkan sikap yang dapat menjurus ke arah pelecehan seksual di kalangan siswa yang tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan pada umumnya dan khususnya Islam itu sendiri.
ETIKA BERPAKAIAN DALAM ISLAM: TINJAUAN BUSANA WANITA SESUAI KETENTUAN ISLAM Murtopo, Bahrun Ali
Tajdid Vol 1 No 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.48

Abstract

Diskursus mengenai konsep etika berbusana dalam Islam, telah menjadi bagian penting doktrin nilai-nilai keagamaan dalam tradisi skriptual Islam. Pada umumnya wanita muslimah cenderung mengenakan hijab karena memenuhi kewajiban, namun kurang memahami etika berpakaian dalam Islam. Sehubungan dengan hal tersebut, etika berpakaian muslimah dalam Islam, harus dipahami bahwa seorang muslimah hendaknya mempunyai aturan tersendiri dalam berbusana yang dapat menyesuaikan kepantasan dalam lingkungan masyarakat yang ditempati. Berdasarkan analisis kajian ini, makna jilbab (pakaian wanita muslimah) yang benar adalah yang sesuai dengan syariat Islam dan merupakan sesuatu yang menutupi seluruh tubuh wanita muslimah kecuali muka dan telapak tangan. Mengingat, pemakaian jilbab juga menyangkut akhlak kepribadian wanita muslimah.
PERAN SAHABAT DALAM MEREKOSTRUKSI KEBERADAAN HADIS NABI MUHAMMAD SAW Kaharuddin, Kaharuddin; Syafruddin, Syafruddin
Tajdid Vol 1 No 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.49

Abstract

Hadis termasuk rangkaian sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, sahabat, dan masyarakat sekitarnya. Fakta historis ini pun harus dipahami, karena kedudukan hadis dalam doktrin skriptual Islam merupakan pedoman yang kedua dari Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat, sahabat sekitarnya maupun masyarakat yang hidup sampai hari ini. Meskipun hasus diketahui bahwa dalam sejarah perkembangan hadis di antara para ulama masih terjadi perbedaan dalam menyusun periodesasi perkembangan hadis. Tetapi banyak yang menguraikannya menjadi periodesasi, seperti masa Rasulullah, sahabat, tabi’in, masa pentadwinan atau pembukaan, masa seleksi atau penyaringan hadis serta masa sesudahnya. Dari beberapa periodesasi itu menunjukkan bahwa keberadaan hadis tidak terlepas dari peranan masyarakat sekitar Nabi, khususnya para sahabat. Peran para sahabat dalam membentuk hadis sangat vital dikerenakan mereka adalah subyek sekaligus objek sejarah secara langsung yang mempengaruhi pembentukan dan keberadaan hadis Nabi Muhammad SAW.

Page 1 of 1 | Total Record : 8