cover
Contact Name
Dr. Ir., Nurtati Soewarno, M.T
Contact Email
nurtati@itenas.ac.id
Phone
+6222-7272215
Journal Mail Official
terracotta@itenas.ac.id
Editorial Address
Tata Usaha Prodi Arsitektur Institut Teknologi Nasional Bandung - Itenas Gedung 17 Lantai 1 Jl. P.H.H. Mustofa No 23 Bandung - Jawa Barat 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA
ISSN : -     EISSN : 27164667     DOI : https://doi.org/10.26760/terracotta
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA adalah Jurnal Ilmiah yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan pengembangan teknologi dalam bidang-bidang utama : Perancangan Arsitektur (gedung), Stuktur dan Konstruksi, Teknologi Bangunan, Perencanaan Kota dan Asitektur Kota, Perumahan dan Permukiman, serta Teori-Metoda dan Sejarah Arsitektur.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2023)" : 9 Documents clear
Seminar Nasional Arsitektur Pertahanan 2022 - Apa yang Diajarkan oleh Pandemi Covid-19 serta Hikmah yang Bisa Kita Petik dari Arsitektur dan Permukiman Tradisional? I Nyoman Gede Maha Putra
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.8139

Abstract

ABSTRAKKota merupakan salah satu karya manusia yang paling spekatakuler. Produk fisik ini terus bertransformasi, dibentuk dan membentuk manusia yang menghuninya. Perubahan formasi fisik, merupakan keniscayaan sebagai respons dari perubahan dan dinamika penduduk yang menghuni kota. Transformasi sekaligus menjadi bukti ketahanan kota terhadap berbagai macam kejadian yang dialaminya selama proses pertumbuhannya. Dalam tulisan ini, reaksi dan perubahan kota dan penduduknya terhadap pandemic covid-19 dievaluasi. Pada tahap awal, akan dibahas berbagai respons arsitektur dan desain kota dalam menghadapi pandemic dari berbagai lietrature. Selanjutnya, saya akan mengevaluasi pengalaman personal saat didiagnosis sebagai pasien yang terpapar virus yang pertamakali dideteksi di Kota Wuhan China ini. Pada tahap ketiga, evaluasi dilanjutkan dengan perkembangan kota sebelum masa hingga menjelang pandemic. Denpasar dijadikan sebagai contoh kasus. Dari sana, refleksi terhadap desain kota dan arsitektur dilakukan untuk melihat komponen-komponen permukiman yang membantu atau yang menghambat penyebaran virus. Pada tahap terakhir, akan dianalisis unsur-unsur yang mengalami perubahan selama masa pandemic. Hasil analisis menunjukkan bahwa merebaknya virus yang telah menimbulkan banyak kekacauan ini mendorong, bahkan memaksa, banyak aktivitas manusia harus disesuaikan ulang. Arsitektur dan permukiman tradisional memberi contoh tentang bentuk fisik yang adaptif terhadap berbagai bencana. Meski demikian, bukan berarti kita harus kembali ke masa lalu karena kehidupan berlangsung terus ke masa depan. Kemandirian dalam beberapa hal terutama pemenuhan kebutuhan dasar, pemanfaatan teknologi untuk membuat manusia saling terkoneksi satu sama lain dan dengan lingkungan fisiknya, serta aksesibilitas terhadap fasilitas kesehatan menjadi kata kunci penting di samping perbaikan kualitas lingkungan kota secara umum..Kata kunci: ketahanan kota, pandemic covid-19, tranformasi arsitektu.ABSTRACTCity is one of the most spectacular human works. This physical product continues to transform, shaped by and shape its inhabitants. City transformation is a necessity as a response to changes and the dynamics of the people who inhabit it. The transformation is also a testament to the city's resilience to the various events it experienced during its lifespan. In this paper, the reactions and changes of the city and its inhabitants to the COVID-19 pandemic are evaluated. At the initial stage, various literature that discussed architecture and urban design responses to the pandemic were examined. Next, I will evaluate my personal experience when I was diagnosed as a patient exposed to the virus. In the third stage, the evaluation is continued with the development of the city before the period until the time of the pandemic. Denpasar is selected as a case in point. From there, reflection on urban design and architecture is carried out to see the components of settlements that help or hinder the spread of the virus. In the last stage, the elements that have changed during the pandemic will be analysed. The results of the analysis show that the outbreak of the virus that has caused so much chaos has prompted, even forced, many human activities to be readjusted. Traditional architecture and settlements provide examples of physical forms that are adaptive to various disasters. However, that does not mean we have to go back to the past because life continues into the future. The ability of a city to fulfil its own needs in several respects, especially the fulfilment of basic needs, the use of technology to make people connected to each other and with their physical settings, and accessibility to health facilities are important keywords in addition to improving the quality of the urban environment in general.Keywords: architectural transformation, covid-19 pandemic, urban resilience
Dampak Masa Pandemi Terhadap Pembangunan Gedung Menara BRI Gatot Subroto di Jakarta Farrel Ghifari; Shely Pratiwi Sanjaya Putri; Dedi Hantono; Peranita Sagala
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.7544

Abstract

Masa pandemi COVID-19 membawa pengaruh terhadap hampir segala lini sektor kehidupan termasuk sektor konstruksi. Pembangunan gedung Menara BRI Gatot Subroto pun terbawa dampaknya. Suatu proyek pembangunan gedung tinggi sangat bergantung sekali kepada banyak faktor seperti pemasok, peraturan, lingkungan, dan lain-lain terutama manusia sebagai tenaga kerja yang saat pandemi ini segala aktivitasnya sedang terganggu. Untuk itu penelitian ini ingin mengetahui dampak masa pandemi yang sedang berlangsung terhadap pembangunan gedung Menara BRI di Jalan Gatot Subroto Jakarta. Metode penelitian yang tepat adalah deskriptif kualitatif yang menggunakan data primer dan skunder. Penerapan protokol kesehatan (prokes) seperti pemeriksaan suhu tubuh, mencuci tangan, wajib memakai masker, pengisian kuisioner kesehatan pada tamu yang berkunjung dan rapid test berkala bagi seluruh pekerja proyek setiap minggu merupakan peraturan baru selama pandemi COVID-19 yang berlaku di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian dampak pandemi menyebabkan pada proses pembangunan proyek seperti pengurangan jumlah pekerja tiap lantai yang membuat perkembangan harian proyek melambat dari jadwal yang ditentukan. Tercatat telah terjadi keterlambatan selama 6 bulan dengan estimasi pembengkakan biaya anggaran akibat COVID-19 sebesar 1,5% berasal dari biaya operasional non material.
ADISI MASSA BARU SECARA KONTEKSTUAL PADA MUSEUM TAI KWUN Pandu Adikara Hidayat Nugrahadi
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.7138

Abstract

Adisi massa pada suatu kawasan terkadang dibutuhkan dalam pemenuhan kebutuhan maupun tujuan tertentu dari suatu tempat misalnya untuk pemeliharaan, redesain, pengembangan kawasan dan sebagainya. Akan tetapi penambahan massa terkadang dilakukan semena-mena padahal memiliki caranya tersendiri untuk beradaptasi pada sekitarnya sehingga lingkungan disekelilingnya memiliki transisi yang lebih halus dan sesuai dengan tema yang ada. Maka dari itu dibutuhkan suatu pendekatan dan ketentuan untuk menjadi pedoman dalam melakukan penambahan dalam kawasan yang dibungkus dalam konsep kontekstualitas. Kajian ini dapat dikatakan penting karena sedikitnya pembahasan mengenai adisi yang sesuai konteks terutama pada obyek museum Tai Kwun. Karya tulis ini merupakan contoh penerapan adisi pada suatu kawasan dengan berlandaskan kontekstualisme dari suatu tempat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adisi pada bangunan dapat menambah fungsi akan tetapi tetap menyesuaikan tema dari bangunan lama yang ada. Diharapkan kajian ini dapat memberikan contoh pendekatan analisis deskriptif yang kualitatif dalam kaitannya dengan perancangan arsitektur dan menjadi acuan dalam proses mendesain dalam penambahan bangunan yang berlandaskan kontekstualisme tempatnya.
RESILIENSI KOMUNITAS PADA KAMPUNG KOTA DI ERA PANDEMI (STUDI KASUS: KELURAHAN BARENG) Maria Ulfah; Tarranita Kusumadewi; Elok Mutiara
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.7901

Abstract

Urbanisasi di Kota Malang setiap tahun kian meningkat yang menyebabkan kepadatan penduduk dan kebutuhan hunian meningkat pula. Akan tetapi, keterbatasan lahan dan ekonomi mendorong masyarakat mendirikan hunian di lahan ilegal tanpa mempertimbangkan keamanan dan keselamatan. Sehingga muncul permukiman-permukiman padat dan kumuh di Kota Malang (khususnya bantaran sungai), dengan prioritas kumuh terluas pada Kelurahan Bareng, Klojen. Terlebih saat pandemi Covid-19 kesehatan menjadi sorotan pada permukiman padat dan kumuh. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu adanya penelitian untuk menata ulang permukiman wilayah ini dengan tujuan menjadikan kampung yang resilien. Metode perancangan yang akan digunakan yaitu pendekatan Resilience Design. Pendekatan ini mampu beradaptasi dan bertahan terhadap gangguan, baik jangka pendek ataupun panjang, tanpa menghindari gangguan itu sendiri. Pendekatan yang digunakan akan dikaji melalui strategi adaptivitas dan tranformabilitas untuk mencapai resilensi komunitas, yaitu, adaptive structure, dynamic layout, energy efficiency, dan self-sustain lifestyle. Melalui pendekatan ini, akan didapatkan hasil perancangan yaitu kampung kota resilien layak huni yang dapat menangguhkan keamanan, keselamatan, dan kesehatan komunitas dan lingkungan, serta meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi komunitas secara mandiri.
Pedoman Perancangan Pusat Informasi Wissata dengan Pendekatan Arsitektur Kontekstual Nabila Indah Pertiwi
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.7209

Abstract

Sebagai salah satu destinasi wisata yang sudah lama dikenal oleh masyarakat dan wisatawan, Pantai Karang Hawu juga memiliki peran penting dalam upaya mengembangkan pariwisata di Kabupaten Sukabumi. Dengan adanya program-program yang dicanangkan oleh pemerintah untuk lebih mengembangkan sektor pariwisata maka diperlukan beberapa fasilitas penunjang wisata. Salah satunya adalah wadah untuk mencari informasi wisata yaitu dengan adanya Pusat Informasi Wisata pada objek wisata Pantai Karang Hawu. Perencanaan Pusat Informasi Wisata Pantai Karang Hawu ini hanya difokuskan pada objek wisata tersebut. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk menghasilkan pedoman atau kriteria rancangan sebuah Pusat Informasi Wisata yang ada pada suatu objek wisata. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (1) teori mengenai objek wisata, (2) teori mengenai pusat informasi wisata, dan (3) teori mengenai arsitektur kontekstual. Selain itu, metoda yang dipakai dalam penulisan ini berupa metoda kualitatif yang bersifat deskriptif untuk menguraikan narasi dengan jelas dan komparatif untuk membandingkan antara objek dan kasus studi. Kemudian hasil analisis dari studi preseden terhadap teori menghasilkan suatu pedoman preancangan. Manfaat dari dilakukannya penelitian ini adalah memberikan pedoman perancangan kepada praktisi dalam merencanakan bangunan pusat informasi dalam skala kecil sesuai dengan standar, juga memberikan kontribusi ba gi para akademisi dalam pengembangan ilmu arsitektur.Kata kunci: Pusat Informasi Wisata, arsitektur kontekstual, Pantai Karang Hawu
Comparative Study on the Comfort of Public Space in Residential Settlement (Case Study: RBRA Kalpataru & RPTRA Anggrek) Wenny Arminda
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.8124

Abstract

In addition to its roles as a water catchment and green space, a city's public space is a location for people to congregate and participate in activities together. For these reasons, public space is a vital component of the design of a city. As study objects, we will be using Child-Friendly Playrooms (RBRA) Kalpataru and Child-Friendly Integrated Public Spaces (RPTRA)Anggrek in our investigation. It is anticipated that the availability of child-friendly public places would facilitate the fulfilment of children's rights, making it possible for them to live, grow, develop, and engage in social activities to the fullest extent possible. The primary topics discussed in this research are the design and requirements of both public spaces in communities with varied environmental and cultural settings. Observation and interviews are the methods that were used in this investigation. This research aims to discover how the general population feels about the comfort level in public spaces. Aspects of thermal comfort, safety, circulation, amenities, noise, and view are evaluated as part of the comfort assessment. RPTRA Anggrek was found to have a comfort level with an average score of 94.5 (very good), which was higher than RBRA Kalpataru, which got an average score of 68 (moderate). 
Pola Dan Karakteristik Kualitas Spasial Ruang Pada Pantai Di Kecamatan Kuta, Bali. Ni Wayan Nurwarsih
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.7330

Abstract

Pemanfaatan ruang pada Daya Tarik Kawasan Wisata Pantai di Kecamatan Kuta diasumsikan sebagai tuntutan dari kebutuhan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Pariwisata selanjutnya dianggap telah mendefinisi ulang penggunaan ruang pada area wisata pantai di Bali. Ruang-ruang yang hadir tidak memiliki regulasi dan tidak terorganisir, sehingga menciptakan tata kelola dan memunculkan praktik konsumsi ruang yang mungkin terbentur oleh era digital saat ini. Kehadiran praktik konsumsi ruang ini menandakan adanya perbedaan antara konsep atas ruang yang dirancang sebelumnya, yang ternyata tidak sesuai representasi. Konsep dalam representasi ruang menyatakan bahwa ruang-ruang pada Daya Tarik Kawasan Wisata Pantai dibuat untuk memperlakukan semua pengguna sama, tidak menghadirkan fungsi lain, yaitu untuk kepentingan fungsi sosial dan budaya. Penelitian ini mengkaji bagaimana pola dan karakteristik kualitas spasial ruang secara sosial, sehingga persepsi dan kualitas terhadap efek kombinasi sifat-sifat yang tanggap terhadap kondisi budaya dan pengalaman serta ketertarikan pengguna didapatkan dan bagaimana gambaran perubahan fungsi dan kualitas toleransi kepada dampak kebutuhan ruang masyarakat lokal dan wisatawan, agar dapat mengetahui bentuk kualitas ruang secara arsitektur dalam bentuk diagram bentuk dan hakikatnya. Temuan pada akhirnya akan mengidentifikasi pola kualitas ruang secara arsitektur, sehingga masyarakat paham kombinasi ruang secara spasial dan lebih spesifik lagi pada ruang pantai di Daya Tarik Kawasan Wisata Pantai di Kecamatan Kuta.
Pemindaian Ruang pada Bangunan dengan Mobile LiDAR Camera Nitih Indra Komala Dewi; Wahyu Buana Putra
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.8146

Abstract

ABSTRAKDokumentasi merupakan bagian integral dari pengumpulan, penyimpanan, dan pengelolaan catatan arsitektur, penelitian, dan dokumen bangunan dalam arsitektur.  Lamanya waktu dalam proses pendataan lapangan dan keakuratan data yang diperoleh merupakan kendala yang dihadapi dalam proses pendataan lapangan untuk mendapatkan data dokumentasi arsitektur.  Kemajuan teknologi kamera pada smartphone semakin meningkat.  Dengan kemajuan teknologi saat ini, fungsi kamera pada smartphone tidak hanya sebagai alat pengambilan gambar fotografi tetapi sudah berkembang ke arah pemindaian objek.  Pemindaian benda bangunan telah banyak menggunakan teknologi pemindaian objek untuk mendapatkan tangkapan visual tiga dimensi dari ruang atau massa bangunan, salah satunya dengan metode 3D Scanner.  Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membandingkan metode 3D Scanner dengan menggunakan dua metode pengumpulan data yaitu kamera spot dan kamera dinamis.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sensor LiDAR yang terdapat pada iPhone memungkinkan pengguna menggunakannya dalam kegiatan survei untuk mengumpulkan data outdoor dan indoor yang ada. Berdasarkan analisis uji One Way Anova diperoleh P-value sebesar 0.976.  nilai P-value<0.05, yang berarti tidak ada perbedaan antara Dimensi yang dipindai dengan metode statis (X1), metode dinamis (X2), dan penggunaan laser distance (X3). Pelaksanaan pemindaian dengan metode statis memerlukan ketelitian dan kecermatan, mengingat keterbatasan jarak pemindaian dan pergerakan alat putar 360-tracking iPhone.  Pada penggunaan metode pemindaian statis, diperlukan beberapa titik pemindaian dan intensitas pemindaian.Kata kunci: sensor lidar, pemindaian statis, pemindaian dinamis, ABSTRACTDocumentation is integral to the collection, storage, and management of architectural records, research, and building documents in architecture. The length of time in the field data collection process and the accuracy of the data obtained are the obstacles encountered in obtaining architectural documentation data. Advances in camera technology on smartphones are increasing. With current technological advances, the function of the camera on a smartphone is not only a tool for taking photographic images but has developed for scanning objects. Scanning of building objects has widely used object scanning technology to obtain a three-dimensional visual capture of the space or mass of a building, one of which is the 3D Scanner method. This study aims to test and compare the 3D Scanner method using two data collection methods, namely spot cameras and dynamic cameras. The results of this study indicate that the LiDAR sensor found on the iPhone allows users to use it in survey activities to collect existing outdoor and indoor data. Based on the One Way Anova test analysis, a P-value of 0.976 was obtained. The P-value <0.05 means there is no difference between the Dimensions scanned with the static method (X1), the dynamic method (X2), and the use of laser distance (X3). Scanning using the static method requires accuracy and precision, considering the limitations of the scanning distance and the movement of the iPhone's 360-tracking rotary device. Several scanning points and intensities are necessary when using the static scanning method.Keywords: lidar sensor, static scanning method, dynamic scanning method,
Kajian Penerapan Konsep Arsitektur Humanisme pada Bangunan UPTD Liponsos Kampung Anak Negeri Fatimatuz Zahroh
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.7376

Abstract

Dalam merancang beberapa hal sering dilewatkan, baik sengaja maupun tidak oleh arsitek, salah satunya adalah rasa kepemilikan. Dikarenakan tendensi arsitek untuk menganggap rancangannya sebagai karya seni, sering pengguna bangunan akhirnya tidak bisa memodifikasi atau mem-personalisasi ruang yang tercipta. Hal ini mengasingkan arsitektur dari isu sosial maupun penggunanya sendiri, menciptakan rancangan yang tidak fleksibel dan disalahpahami. Salah satu solusi dalam menyelesaikan permasalahan adalah menggunakan arsitektur humanisme dalam sudut pandang teori kebutuhan oleh Maslow. Dengan mengambil studi kasus UPTD Lingkungan Pondok Sosial Kampung Anak Negeri di Surabaya, dilakukan suatu analisa hubungan pemenuhan kebutuhan bertingkat dengan munculnya identitas pada bangunan. Pemunculan identitas ini sebagai upaya untuk memunculkan rasa kepemilikan dari pengguna kepada bangunan yang ditempatinya. Simpulan kajian menunjukkan adanya keterkaitan arsitektur humanisme sebagai salah satu landasan pertimbangan dalam merancang.

Page 1 of 1 | Total Record : 9