Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

SUSTAINABLE TOURISM CONCEPT IN REDESIGNING ZONE-ARRANGEMENT ON BANYUWEDANG HOT SPRINGS ARCHITECTURE I Kadek Merta Wijaya; Ni Wayan Nurwarsih
Jurnal Internasional Ilmu Pengetahuan Terapan bidang Pariwisata dan Events Vol 3 No 1 (2019): June 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.579 KB) | DOI: 10.31940/ijaste.v3i1.954

Abstract

Architecture and tourism are two things that have mutual connection to each other in terms of spatial arrangement and sustainable ressources management. Architectural form in tourism accomodation support concerns on many sustainable aspects in community’s social-economy, environment, and culture. Banyuwedang Hot Spring as tourism object has many potential, such as hot spring sources, mangrove forest, and a temple with it’s own architectural form called “Pura Mas Beji Banyuwedang” and “Pura Dang Kahyangan Banyuwedang”. The management system of this tourism object is self-management by some group of local people. The issue that emerge on site was zone setting and activities that looks unorganized and not fit-based on function embedded to it, and also didn’t concerned aboutactivities impact on mangrove forest. On average, 50% of main and support facilities not properly-used. On Average of tourist visit is 60 person a day and the system of waste management was not well-organized and well-made. The purpose of this research is to rearrange architectural zonation arrangement of Banyuwedang Hot Spring using sustainable tourism concept (economy, social, and environment). Using naturalistic qualitative research method by searching for problems that has sensual empiric, emic empiric, logic empiric, and trancendental charasteristic. Zone arrangement that resulting from this research are recreative and conservative zone that have mutally connected to each other in terms hot spring tourism spatial. Those zone arrangements formed based on (1) potentials owned as a toursim object; (2) Economic aspects such as operational cost and local people income; (3) social aspects from the creation of social space between visitors; (4) environmental aspects, by the mangrove forest and hot spring sustainability preservation; and (5) cultural aspect, by the preservation of religious ritual anda ritual attraction as one hot spring space.
SETTING RUANG KOMUNAL DI SEPANJANG PANTAI SANUR, BALI. Ni Wayan Nurwarsih; I Kadek Merta Wijaya
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1270.649 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.230

Abstract

Abstract:. Beach spaces in Bali, for traditional communities are very important and are part of their ritual life cycle. Open space on the beach is very important because it can accommodate many religious, social, cultural and ritual activities. The many social levels of the community come together to use the area on the beach to carry out various kinds of activities, to produce spaces and areas that are architecturally formulated and their meanings. The communal space setting on the object of research is intended to find out whether communal space already exists or is newly formed after various activities are present. Or the space has never existed, even though there are indeed private spaces that have been acknowledged by users and providers of tourist accommodation that were present later. The method used is descriptive qualitative method by thinking logically, structured and creatively, by mapping activities based on time segments and interviews. Formulate problems by describing the problem into smaller and more manageable segments, identifying patterns, solving complex problems into small steps, organizing and making a series of steps to provide solutions, and construct data representations through simulation. Keyword: Public Space Conflict, Space Pattern, Meaning of Space. Abstrak : Ruang-ruang pantai di Bali, untuk masyarakat tradisional menjadi amat penting dan merupakan bagian dari siklus kehidupan ritual mereka. Mengapa demikian, karena ruang pantai dapat mengakomodasi banyak kegiatan keagamaan, sosial, budaya dan ritual. Berbagai macam tingkatan sosial masyarakat hadir bersama-sama menggunakan area pantai untuk melakukan berbagai macam aktifitas, hingga menghasilkan ruang dan area yang secara arsitektur harus di telurusi bentuk dan maknanya. Setting ruang komunal pada objek penelitian dimaksudkan untuk menemukan apakah ruang komunal sudah ada atau baru terbentuk setelah beragam kegiatan hadir di tempat tersebut. Atau ruang tersebut tidak pernah ada, bahkan yang ada memang ruang-ruang privat yang sudah diakui oleh pengguna dan penyedia akomodasi wisata yang hadir belakangan. Metoda yang digunakan yakni metoda dengan jalan berfikir secara logis, terstruktur dan kreatif, dengan melakukan mapping kegiatan berdasarkan segmen waktu dan wawancara. Merumuskan masalah dengan menguraikan masalah tersebut ke segmen yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola, mengidentifikasi pola, memecahkan masalah selain kompleks menjadi langkah-langkah kecil, mengatur dan membuat serangkaian langkah untuk memberikan solusi, dan membangun representasi data melalui simulasi. Hasil penelitian menujukan bahwa ruang komunal tidak hadir begitu saja di ruang publik apabila ruang tersebut terzonasi dan diberikan batas. Kata Kunci :  Konfilk Ruang, Pola Ruang, Makna Ruang.
Pola Dan Karakteristik Kualitas Spasial Ruang Pada Pantai Di Kecamatan Kuta, Bali. Ni Wayan Nurwarsih
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.7330

Abstract

Pemanfaatan ruang pada Daya Tarik Kawasan Wisata Pantai di Kecamatan Kuta diasumsikan sebagai tuntutan dari kebutuhan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Pariwisata selanjutnya dianggap telah mendefinisi ulang penggunaan ruang pada area wisata pantai di Bali. Ruang-ruang yang hadir tidak memiliki regulasi dan tidak terorganisir, sehingga menciptakan tata kelola dan memunculkan praktik konsumsi ruang yang mungkin terbentur oleh era digital saat ini. Kehadiran praktik konsumsi ruang ini menandakan adanya perbedaan antara konsep atas ruang yang dirancang sebelumnya, yang ternyata tidak sesuai representasi. Konsep dalam representasi ruang menyatakan bahwa ruang-ruang pada Daya Tarik Kawasan Wisata Pantai dibuat untuk memperlakukan semua pengguna sama, tidak menghadirkan fungsi lain, yaitu untuk kepentingan fungsi sosial dan budaya. Penelitian ini mengkaji bagaimana pola dan karakteristik kualitas spasial ruang secara sosial, sehingga persepsi dan kualitas terhadap efek kombinasi sifat-sifat yang tanggap terhadap kondisi budaya dan pengalaman serta ketertarikan pengguna didapatkan dan bagaimana gambaran perubahan fungsi dan kualitas toleransi kepada dampak kebutuhan ruang masyarakat lokal dan wisatawan, agar dapat mengetahui bentuk kualitas ruang secara arsitektur dalam bentuk diagram bentuk dan hakikatnya. Temuan pada akhirnya akan mengidentifikasi pola kualitas ruang secara arsitektur, sehingga masyarakat paham kombinasi ruang secara spasial dan lebih spesifik lagi pada ruang pantai di Daya Tarik Kawasan Wisata Pantai di Kecamatan Kuta.
Pendampingan Penyusunan Rancangan Redesain Rumah Singgah Berobat untuk Anak-Anak dari Indonesia Timur di Kota Denpasar Provinsi Bali Ni Wayan Nurwarsih; Komang Deddy Endra Prasandya; Made Pratiwi Dewi
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 3 No 5 (2023): JAMSI - September 2023
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.930

Abstract

Pengabdian ini mendokumentasikan pendampingan dalam penyusunan rancangan redesain Rumah Singgah Berobat khusus untuk anak-anak dari wilayah Indonesia Timur yang menjalani perawatan medis di Kota Denpasar, Provinsi Bali. Tujuan dari perencanaan redesain ini amat penting yaitu untuk membuat sebuah desain rumah singgah yang bersinergi dengan lingkungan dan mendukung pemulihan anak-anak pasca perawatan medis jauh dari rumah. Metode pengabdian ini melibatkan survei, observasi, dan wawancara dengan pihak rumah singgah, staf medis, serta anak-anak dan keluarga mereka. Hasilnya berupa rancangan yang menggambarkan perubahan-perubahan dalam fasilitas fisik dan fasilitas penunjang yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Pentingnya hasil ini terletak pada meningkatnya kenyamanan dan dukungan psikososial bagi anak-anak selama masa pemulihan mereka. Rancangan ini dibuat untuk memberikan lingkungan yang ramah anak, membantu mengurangi stres, serta meningkatkan efektivitas proses penyembuhan mereka. Kesimpulannya, redesain Rumah Singgah Berobat berfokus pada pemenuhan kebutuhan anak-anak dari Indonesia Timur dan memberikan sumbangan positif dalam pengembangan perawatan medis holistik di daerah tersebut.
DESAIN RUANG PUBLIK MASA DEPAN: STUDI RUANG PUBLIK INDOOR DAN OUTDOOR DI BALI Prasandya, Km. Deddy Endra; Satria, Made Wina; Nurwarsih, Ni Wayan
Jurnal Pengembangan Kota Vol 11, No 1: Juli 2023
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.11.1.71-81

Abstract

Ruang publik harus mengakomodasi peran esensinya sebagai ruang responsif, demokrartis dan bermakna. Siklus wabah penyakit yang berulang kali terjadi di dunia yang disebabakan oleh virus mulai tahun 1500-an hingga 2020-an, dapat menjadi pertimbangan dalam mendesain ruang terbuka publik masa depan. Pandemi Covid-19 yang terjadi tiga tahun silam menyebabkan banyak ruang publik yang ditutup karena tidak mampu mengakomodasi ruang yang aman dan nyaman bagi warga kota. Peran responsif ruang publik diuji, elemen penyusun ruang publik perlu disesuaikan untuk menciptakan ruang publik yang mampu mengakomodasi kebutuhan dan keinginan warga kota sebagai penggunanya. Penelitian ini berupaya merumuskan kriteria elemen penyusun ruang publik yang responsif di masa depan serta menilai sejauh mana kriteria tersebut diterapkan pada ruang publik di Bali. Metode kuantitaif digunakan, dengan menggunakan bantuan perangkat lunak JMP. Hasil penelitian menyimpulkan elemen desain, fasilitas, dan pengelolaan serta pemeliharaan ruang publik di Bali perlu disesuaikan agar menjadi lebih responsif di masa depan. Apabila ditinjau dari kriteria ruang publik responsif, ruang publik indoor dan outdoor masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan.
Perencanaan Pura Pesimpangan Kahyangan Jagat Luhur Puncak Bukit Puun Sari, Putri Ayu Devy Permata; Anggawirya, Anak Agung Bagus Bayu; Nurwarsih, Ni Wayan
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 2 No. 9 (2024): November
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v2i9.1621

Abstract

Pura Puncak Puun merupakan salah satu pura kahyangan jagat yang terletak di Desa Soka Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Pura ini berada dipuncak bukit, untuk menuju lokasi perjalanan melalui hutan yang tidak bisa diakses kendaraan bermotor, sehingga perlu berjalan kaki kurang lebih menempuh waktu 2 jam perjalanan. Dikarennakan perjalanan yang lumayan jauh dan akses yang sulit, Masyarakat ingin membuat pura pesimpangan yang berada ditengah-tengah antara Pura Batu Lumbung dan Pura Puncak Puun. Lokasi yang ditentukan oleh krama desa cukup mudah diakses dan terdapat pohon bering yang disucikan yang biasa digunakan sebagai patokan dalam pembangunan Pura Pesimpangan Puncak Bukit Puun. Berdasarkan kondisi yang dialami Bendesa Adat Soka meminta bantuan Tim PkM Universitas Warmadewa untuk dibuatkan gambar perancangan Pura Pesimpangan Pura Puncak Bukit Puun. Tim PkM merespon kondisi yang disampaikan oleh Bendesa Adat Soka, dengan melakukan penjajakan awal untuk melihat kondisi site yang rencananya dijadikan lokasi Pura Pesimpangan Puncak Bukit Puun. Berdasarkan hasil penjajakan awal yang dilakukan Tim PkM, Pura Pesimpangan Puncak Bukit Puun membutuhkan Masterplan yang berisikan data dokumentasi kondisi eksisting kawasan yang dijadikan lokasi rencana pembangunan, data topografi site dan gambar perencanaan Pura Pesimpangan Puncak Bukit Puun baik itu gambar 2D maupun 3D. Pengabdian ini terlaksana atas kerjasama pihak Desa Soka Penebel Tabanan, Ikatan Arsitek Indonesia Cabang Bali dan Juga Universitas Warmadewa. Diharap kedepannya Tim PkM Universitas Warmadewa dapat membantu terselenggaranya Pembangunan Pura Pesimpangan Puncak Bukit Puun sesuai dengan yang akan direncanakan pada tahap ini.
SETTING RUANG KOMUNAL DI SEPANJANG PANTAI SANUR, BALI. Nurwarsih, Ni Wayan; Wijaya, I Kadek Merta
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:. Beach spaces in Bali, for traditional communities are very important and are part of their ritual life cycle. Open space on the beach is very important because it can accommodate many religious, social, cultural and ritual activities. The many social levels of the community come together to use the area on the beach to carry out various kinds of activities, to produce spaces and areas that are architecturally formulated and their meanings. The communal space setting on the object of research is intended to find out whether communal space already exists or is newly formed after various activities are present. Or the space has never existed, even though there are indeed private spaces that have been acknowledged by users and providers of tourist accommodation that were present later. The method used is descriptive qualitative method by thinking logically, structured and creatively, by mapping activities based on time segments and interviews. Formulate problems by describing the problem into smaller and more manageable segments, identifying patterns, solving complex problems into small steps, organizing and making a series of steps to provide solutions, and construct data representations through simulation. Keyword: Public Space Conflict, Space Pattern, Meaning of Space. Abstrak : Ruang-ruang pantai di Bali, untuk masyarakat tradisional menjadi amat penting dan merupakan bagian dari siklus kehidupan ritual mereka. Mengapa demikian, karena ruang pantai dapat mengakomodasi banyak kegiatan keagamaan, sosial, budaya dan ritual. Berbagai macam tingkatan sosial masyarakat hadir bersama-sama menggunakan area pantai untuk melakukan berbagai macam aktifitas, hingga menghasilkan ruang dan area yang secara arsitektur harus di telurusi bentuk dan maknanya. Setting ruang komunal pada objek penelitian dimaksudkan untuk menemukan apakah ruang komunal sudah ada atau baru terbentuk setelah beragam kegiatan hadir di tempat tersebut. Atau ruang tersebut tidak pernah ada, bahkan yang ada memang ruang-ruang privat yang sudah diakui oleh pengguna dan penyedia akomodasi wisata yang hadir belakangan. Metoda yang digunakan yakni metoda dengan jalan berfikir secara logis, terstruktur dan kreatif, dengan melakukan mapping kegiatan berdasarkan segmen waktu dan wawancara. Merumuskan masalah dengan menguraikan masalah tersebut ke segmen yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola, mengidentifikasi pola, memecahkan masalah selain kompleks menjadi langkah-langkah kecil, mengatur dan membuat serangkaian langkah untuk memberikan solusi, dan membangun representasi data melalui simulasi. Hasil penelitian menujukan bahwa ruang komunal tidak hadir begitu saja di ruang publik apabila ruang tersebut terzonasi dan diberikan batas. Kata Kunci :  Konfilk Ruang, Pola Ruang, Makna Ruang.
Pemetaan Identitas Kolektif Desa Tumbu, Karangasem, Bali: Kajian Historis dan Lanskap Berdasarkan Data Prasasti dan Aturan Adat Ni Wayan Nurwarsih; Candrayana, Kadek Windy; Utama, I Made Satria
SAFARI :Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): April: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia
Publisher : BADAN PENERBIT STIEPARI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/safari.v5i2.3167

Abstract

This study aims to map the collective identity of the people of Tumbu Village, Karangasem, Bali, using historical approaches, cultural landscape studies, and an analysis of customary rules. The primary data are sourced from 13th-century inscriptions such as the Ruk-ruk, Pasemetan, and Tumbu Puseh Inscriptions, along with awig-awig (local customary laws) that remain actively implemented. The research applies a descriptive-qualitative method through field observations, literature reviews, traditional document interpretation, and participatory interviews with community leaders and local residents. The findings reveal that the collective identity of Tumbu Village is shaped by the integration of historical values, agrarian landscapes, the Hindu-Balinese spiritual system, and a living social structure embedded in customary norms. While modernization has introduced significant changes in architecture and social structures, local communities have managed to adapt culturally without losing their traditional values. Community-based strategies have proven effective in preserving the harmony between cultural heritage and village development. The key outputs of this program include a landscape identity map, a social structure infographic, and a brief guide to customary spatial principles that may serve as a reference for village planning grounded in local wisdom. This study affirms the urgency of preserving collective identity and customary spatial systems as foundational to sustainable development in traditional Balinese villages.
Komparasi Konsep Penciptaan Tempat dan Keterikatan Desa Kota : Kasus: Kota Denpasar Nurwarsih, Ni Wayan; Gede Maha Putra , I Nyoman
RUAS Vol. 21 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2023.021.02.7

Abstract

This study aims to compare the concept of place creation and place attachment in Denpasar City, Bali. In the context of rapid urbanization, urban development is becoming increasingly important in maintaining cultural identity and environmental sustainability. The main problem in this study is the difference in understanding and implementation of the concept of place creation and the level of place attachment by communities that focus on rural and urban urbanization. The urgency of the research lies in the need to understand Denpasar City as a center of cultural and tourism activities, blending urban growth with cultural and environmental preservation. The analysis was carried out on a review of government archives in the form of narratives, observations of service use, purchase of goods and vehicle movements, as well as examination of physical and spatial components. The results showed variations in people's perceptions of the concept of place creation, focusing on cultural and environmental preservation. In addition, the degree of attachment to places is related to the active participation of the community in the preservation of the cultural and environmental heritage of the city. This research reveals the importance of integrating people's aspirations in urban planning as well as promoting cultural and environmental sustainability as an integral part of the development of a better Denpasar City.
Innovative Strategies for Sustainable Tourism Destinations in Denpasar Through the Concept of Community-Based Placemaking Nurwarsih, Ni Wayan; Darmawan, I Gede Surya; Parwata, I Wayan
ASTONJADRO Vol. 14 No. 4 (2025): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/astonjadro.v14i4.19127

Abstract

This research explores the challenges of integrating spiritual and cultural values into public spaces and addressing environmental and social issues in Denpasar, a city under urbanization and mass tourism pressures. The study aims to explore innovative strategies for sustainable tourism in Denpasar through the concept of community-based placemaking, employing both top-down and bottom-up approaches to create meaningful spaces. A qualitative approach was used, with data collected through in-depth interviews, participatory observations, and document analysis, focusing on case studies in one traditional village in each of Denpasar’s four districts. The research highlights the role of local communities, cultural integration, and environmental sustainability. Findings reveal that the bottom-up approach in placemaking enhances community engagement and cultural authenticity, while the top-down approach, although efficient, requires better integration of local values. The study concludes that a collaborative framework involving local communities, the government, and the private sector is essential for creating sustainable tourism destinations. This research contributes to the field by offering practical strategies for culturally and environmentally sensitive placemaking, particularly in urban contexts.