Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

SUSTAINABLE TOURISM CONCEPT IN REDESIGNING ZONE-ARRANGEMENT ON BANYUWEDANG HOT SPRINGS ARCHITECTURE I Kadek Merta Wijaya; Ni Wayan Nurwarsih
Jurnal Internasional Ilmu Pengetahuan Terapan bidang Pariwisata dan Events Vol 3 No 1 (2019): June 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.579 KB) | DOI: 10.31940/ijaste.v3i1.954

Abstract

Architecture and tourism are two things that have mutual connection to each other in terms of spatial arrangement and sustainable ressources management. Architectural form in tourism accomodation support concerns on many sustainable aspects in community’s social-economy, environment, and culture. Banyuwedang Hot Spring as tourism object has many potential, such as hot spring sources, mangrove forest, and a temple with it’s own architectural form called “Pura Mas Beji Banyuwedang” and “Pura Dang Kahyangan Banyuwedang”. The management system of this tourism object is self-management by some group of local people. The issue that emerge on site was zone setting and activities that looks unorganized and not fit-based on function embedded to it, and also didn’t concerned aboutactivities impact on mangrove forest. On average, 50% of main and support facilities not properly-used. On Average of tourist visit is 60 person a day and the system of waste management was not well-organized and well-made. The purpose of this research is to rearrange architectural zonation arrangement of Banyuwedang Hot Spring using sustainable tourism concept (economy, social, and environment). Using naturalistic qualitative research method by searching for problems that has sensual empiric, emic empiric, logic empiric, and trancendental charasteristic. Zone arrangement that resulting from this research are recreative and conservative zone that have mutally connected to each other in terms hot spring tourism spatial. Those zone arrangements formed based on (1) potentials owned as a toursim object; (2) Economic aspects such as operational cost and local people income; (3) social aspects from the creation of social space between visitors; (4) environmental aspects, by the mangrove forest and hot spring sustainability preservation; and (5) cultural aspect, by the preservation of religious ritual anda ritual attraction as one hot spring space.
SETTING RUANG KOMUNAL DI SEPANJANG PANTAI SANUR, BALI. Ni Wayan Nurwarsih; I Kadek Merta Wijaya
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1270.649 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v3i2.230

Abstract

Abstract:. Beach spaces in Bali, for traditional communities are very important and are part of their ritual life cycle. Open space on the beach is very important because it can accommodate many religious, social, cultural and ritual activities. The many social levels of the community come together to use the area on the beach to carry out various kinds of activities, to produce spaces and areas that are architecturally formulated and their meanings. The communal space setting on the object of research is intended to find out whether communal space already exists or is newly formed after various activities are present. Or the space has never existed, even though there are indeed private spaces that have been acknowledged by users and providers of tourist accommodation that were present later. The method used is descriptive qualitative method by thinking logically, structured and creatively, by mapping activities based on time segments and interviews. Formulate problems by describing the problem into smaller and more manageable segments, identifying patterns, solving complex problems into small steps, organizing and making a series of steps to provide solutions, and construct data representations through simulation. Keyword: Public Space Conflict, Space Pattern, Meaning of Space. Abstrak : Ruang-ruang pantai di Bali, untuk masyarakat tradisional menjadi amat penting dan merupakan bagian dari siklus kehidupan ritual mereka. Mengapa demikian, karena ruang pantai dapat mengakomodasi banyak kegiatan keagamaan, sosial, budaya dan ritual. Berbagai macam tingkatan sosial masyarakat hadir bersama-sama menggunakan area pantai untuk melakukan berbagai macam aktifitas, hingga menghasilkan ruang dan area yang secara arsitektur harus di telurusi bentuk dan maknanya. Setting ruang komunal pada objek penelitian dimaksudkan untuk menemukan apakah ruang komunal sudah ada atau baru terbentuk setelah beragam kegiatan hadir di tempat tersebut. Atau ruang tersebut tidak pernah ada, bahkan yang ada memang ruang-ruang privat yang sudah diakui oleh pengguna dan penyedia akomodasi wisata yang hadir belakangan. Metoda yang digunakan yakni metoda dengan jalan berfikir secara logis, terstruktur dan kreatif, dengan melakukan mapping kegiatan berdasarkan segmen waktu dan wawancara. Merumuskan masalah dengan menguraikan masalah tersebut ke segmen yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola, mengidentifikasi pola, memecahkan masalah selain kompleks menjadi langkah-langkah kecil, mengatur dan membuat serangkaian langkah untuk memberikan solusi, dan membangun representasi data melalui simulasi. Hasil penelitian menujukan bahwa ruang komunal tidak hadir begitu saja di ruang publik apabila ruang tersebut terzonasi dan diberikan batas. Kata Kunci :  Konfilk Ruang, Pola Ruang, Makna Ruang.
Pola Dan Karakteristik Kualitas Spasial Ruang Pada Pantai Di Kecamatan Kuta, Bali. Ni Wayan Nurwarsih
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v4i1.7330

Abstract

Pemanfaatan ruang pada Daya Tarik Kawasan Wisata Pantai di Kecamatan Kuta diasumsikan sebagai tuntutan dari kebutuhan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Pariwisata selanjutnya dianggap telah mendefinisi ulang penggunaan ruang pada area wisata pantai di Bali. Ruang-ruang yang hadir tidak memiliki regulasi dan tidak terorganisir, sehingga menciptakan tata kelola dan memunculkan praktik konsumsi ruang yang mungkin terbentur oleh era digital saat ini. Kehadiran praktik konsumsi ruang ini menandakan adanya perbedaan antara konsep atas ruang yang dirancang sebelumnya, yang ternyata tidak sesuai representasi. Konsep dalam representasi ruang menyatakan bahwa ruang-ruang pada Daya Tarik Kawasan Wisata Pantai dibuat untuk memperlakukan semua pengguna sama, tidak menghadirkan fungsi lain, yaitu untuk kepentingan fungsi sosial dan budaya. Penelitian ini mengkaji bagaimana pola dan karakteristik kualitas spasial ruang secara sosial, sehingga persepsi dan kualitas terhadap efek kombinasi sifat-sifat yang tanggap terhadap kondisi budaya dan pengalaman serta ketertarikan pengguna didapatkan dan bagaimana gambaran perubahan fungsi dan kualitas toleransi kepada dampak kebutuhan ruang masyarakat lokal dan wisatawan, agar dapat mengetahui bentuk kualitas ruang secara arsitektur dalam bentuk diagram bentuk dan hakikatnya. Temuan pada akhirnya akan mengidentifikasi pola kualitas ruang secara arsitektur, sehingga masyarakat paham kombinasi ruang secara spasial dan lebih spesifik lagi pada ruang pantai di Daya Tarik Kawasan Wisata Pantai di Kecamatan Kuta.
Pendampingan Penyusunan Rancangan Redesain Rumah Singgah Berobat untuk Anak-Anak dari Indonesia Timur di Kota Denpasar Provinsi Bali Ni Wayan Nurwarsih; Komang Deddy Endra Prasandya; Made Pratiwi Dewi
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 3 No 5 (2023): JAMSI - September 2023
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.930

Abstract

Pengabdian ini mendokumentasikan pendampingan dalam penyusunan rancangan redesain Rumah Singgah Berobat khusus untuk anak-anak dari wilayah Indonesia Timur yang menjalani perawatan medis di Kota Denpasar, Provinsi Bali. Tujuan dari perencanaan redesain ini amat penting yaitu untuk membuat sebuah desain rumah singgah yang bersinergi dengan lingkungan dan mendukung pemulihan anak-anak pasca perawatan medis jauh dari rumah. Metode pengabdian ini melibatkan survei, observasi, dan wawancara dengan pihak rumah singgah, staf medis, serta anak-anak dan keluarga mereka. Hasilnya berupa rancangan yang menggambarkan perubahan-perubahan dalam fasilitas fisik dan fasilitas penunjang yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Pentingnya hasil ini terletak pada meningkatnya kenyamanan dan dukungan psikososial bagi anak-anak selama masa pemulihan mereka. Rancangan ini dibuat untuk memberikan lingkungan yang ramah anak, membantu mengurangi stres, serta meningkatkan efektivitas proses penyembuhan mereka. Kesimpulannya, redesain Rumah Singgah Berobat berfokus pada pemenuhan kebutuhan anak-anak dari Indonesia Timur dan memberikan sumbangan positif dalam pengembangan perawatan medis holistik di daerah tersebut.
KORELASI KEBUTUHAN FUNGSI TERHADAP PROSES dan PROGRAM PERANCANGAN ARSITEKTUR Ni Wayan Nurwarsih
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 5 No. 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.5.2.409.19-26

Abstract

ABSTRAK Kebutuhan fungsi yang timbul dari keinginan pemilik atau pemberi tugas merupakan titik awal proses membentuk pertimbangan program yang harus dikuatkan oleh arsitek. Dari banyaknya fungsi yang diinginkan, harus dikuatkan salah satu diantaranya. Namun tidak ada salahnya, arsitek melakukan proses pengecekan, untuk memastikan ulang ketepatan fungsi yang dipilih oleh pemberi tugas dan yang akhirnya diterjemahkan oleh arsitek. Disinilah program perancangan itu penting untuk ditekankan dalam proses perencanaan, untuk merumuskan kebutuhan fungsi melalui proses, pertimbangan-pertimbangan dan kajian yang panjang. Kebutuhan fungsi yang disintesakan merupakan urutan faktor-faktor yang mempengaruhi perancangan arsitektur. Kata kunci: kebutuhan fungsi, proses perancangan, program perancangan. ABSTRACT Function arising from the desire of the owner is the starting point of the process formulating the program considerations that must be strengthened by the architect. The many function needs, should be strengthened one of them. But there is no harm, the architects do the checking process, to ensure re-accuracy of the function chosen by owner and which eventually translated by the architect. This is where the design program is important to emphasize in the planning process, to formulate the needs of the function through the process, considerations and a long study. The need for synthesized functions is a sequence of factors that affect the architecture design. Keywords: functional requirements, design process, design program.
Merancang Dengan Pertimbangan Perspektif Masyarakat Pengguna Studi Kasus Perencanaan Masterplan Pura Bukit Amerta Desa Karangdoro Kabupaten Banyuwangi I Nyoman Gede Maha Putra; Ni Wayan Nurwarsih; Ni Made Widya Pratiwi
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 6 No. 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.2.1019.60-65

Abstract

This study takes the theme of building temples that have local cultural identity and identity - a strong place to support the psychological well-being of the pengempon and penyungsung Pura Amertha Jati communities. A group of people in Kedungdoro Village are working to consolidate their local beliefs which are believed to increase the level of their psychological well-being. To support this, the community group intends to create a built environment that is able to support its goals. Independent efforts have been made. Information dissemination activities were conducted to obtain feedback that will be used to make improvements and improvements. From the FGD activities, a deepening of the material will be conducted where the proponents and also the penyungsung Pura Bukit Amertha community can carry out a two-way dialogue that will support the 'joint learning' process to obtain optimal. This method of socialization is divided into two, namely through exposure which is done by making verbal and non-verbal presentations. Verbal presentations are carried out in the presence of the surrounding community which is the penyungsung Pura Bukit Amertha. Non-verbal presentations are carried out by printing a complete master plan with the calculation of the budget plan and fund collection strategy Penelitian ini mengambil tema pembangunan pura yang memiliki jati diri budaya lokal dan identitas-tempat yang kuat guna mendukung kesejahteraan psikologis masyarakat pengempon dan penyungsung Pura Amertha Jati. Sekelompok masyarakat di Desa Kedungdoro sedang berupaya untuk mengonsolidasi kepercayaan lokalnya yang dipercaya akan meningkatkan tingkat kesejahteraan psikisnya. Guna mendukung hal tersebut, kelompok masyarakat tersebut bermaksud untuk menciptakan lingkungan binaan yang mampu mendukung cita-citanya. Upaya-upaya mandiri sudah dilakukan. Kegiatan sosialisasi hasil pengabdian dilakukan untuk mendapatkan umpan balik yang akan diapakai untuk melakukan perbaikan serta penyempurnaan. Dari kegiatan FGD akan dilakukan pendalaman materi dimana pengusul dan juga masyarakat penyungsung Pura Bukit Amertha bisa melakukan dialog dua arah yang akan mendukung proses ‘belajar bersama’ sehingga diperoleh manfaat optimal. Metode sosialisasi ini dibagi dua, yakni melalui pemaparan yang dilakukan dengan cara melakukan presentasi verbal dan non-verbal. Presentasi verbal dilakukan di hadapan masyarakat sekitar yang merupakan penyungsung Pura Bukit Amertha. Presentasi non-verbal dilakukan dengan mencetak masterplan lengkap dengan perhitungan rencana anggaran biaya serta strategi penghimpunan dananya
Karakteristik Ruang Jalan Melalui Metoda Analisis Kuantitatif Untuk Arahan Rancang Kawasan Pariwisata di Pusat Kota Semarapura Ni Wayan Nurwarsih; I Wayan Wirya Sastrawan; Ni Putu Ratih Pradnyaswari Anasta Putri
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 8 No. 2 (2020): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.8.2.2914.45-55

Abstract

Semarapura City offers a spatial layout in the City Center which is friendly to tourists who have limited visiting time and has the City Area into four areas with different functions known as Catuspata. In this research, the Catuspata area becomes the center of object orientation where the road space intended for the design direction of the tourism area will be along the road space. How will the strategic potentials in the development of a tourist city, city structure and tourism area as well as road space in the form of street floors and street walls will be defined. The method used is quantitative by collecting data on physical objects in the field objectively, then measuring it with predetermined variables and displaying it in numerical form, then doing a rationalistic analysis. The analysis is based on considerations of categorization, the uniqueness of the place, the shape and situation of the site, as well as certain functions. The results and findings are very visible, in the form of a new form of Semarapura city which is no longer a royal city due to changing activities and needs of the community. The interest of the street space where the trade is more oriented for tourists. The findings from the visual point of view of the area resulted in the solid-void façade characteristics, rhythm and openings that had an effect on the quality of road space. Thus, the analysis of the structure of the city, building variables, street furniture and tourism activities that occur are findings from the characteristics of the road space which can serve as a direction for how the planning of the city's tourism area is made.
Revitalisasi Taman Festival Bali dengan Pendekatan Adaptive Reuse di Kota Denpasar Ni Luh Ayu Sumawati; Ni Wayan Nurwarsih; Ida Bagus Gede Parama Putra
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 9 No. 1 (2021): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.9.1.3408.143-152

Abstract

Revitalisasi menjadi upaya dalam menghidupkan kembali bangunan/ kawasan bersejarah yang mengalami penurunan, memiliki potensi dan nilai strategis yang dapat dimanfaatkan sehingga meningkatkan produktivitas ekonomi, sosial dan budaya. Pemilihan lokasi penelitian ini yaitu berada pada Taman Festival Bali di Kota Denpasar, Taman ini menjadi salah satu bangunan/ kawasan heritage di Kota Denpasar. Lokasi penelitian ini didasari dengan dasar pertimbangan, bangunan yag tak terpakai harus memiliki nilai histori, sosial, dan budaya yang dapat diangkat dan dipertahankan, serta lokasi yang strategis dan infrastruktur kota yang memadai. Taman Festival Bali mengalami degradasi, dan perlu adanya upaya untuk memvitalkan kembali dengan fungsi dan lingkungan yang lebih fleksibel dan menarik bagi masyarakat, seniman, maupun komunitas untuk berinteraksi, bekerja, dan mengenang memori masa lalu dari Taman Festival Bali, dengan begitu lambat laun Taman Festival Bali akan menemukan dirinya sendiri, dan menghilangkan rumor mistis yang menyebar. Penelitian ini mengkaji Aset Taman Festival Bali dan dapat digunakan sebagai awal dari kehidupan baru di Taman Festival Bali, dengan menerapkan intervensi yang cocok digunakan pada Taman Festival Bali ini. Hasil penelitian ini memperoleh desain yang dapat memvitalkan kembali Taman Festival Bali dengan menghubungkan dan menciptakan keharmonisan antara lama dengan baru, antara sejarah dengan masa depan.
Perencanaan dan Perancangan Pusat Penampungan dan Pelatihan Tunawisma Di Kota Denpasar, Bali Made Riska Mahayani; Agus Kurniawan; Ni Wayan Nurwarsih
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 9 No. 2 (2021): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tunawisma yang lebih dikenal dengan sebutan gelandangan dan pengemis, dianggap memberikan citra negatif bagi masyarakat yang populasinya kian meningkat setiap tahunnya serta setiap menjelang hari raya. Disamping itu hak sebagai warga negara yang selama ini tidak pernah dirasakan bagi tunawisma. Tunawisma yang tidak memiliki keahlian keterampilan maupun pendidikan sehingga tidak dapat bekerja sehingga berpengaruh pada faktor ekonomi yang menyebabkan hidup menggelandang. Permasalahan tersebut dirumuskan sehingga dapat disimpulkan diperlukannya sebuah fasilitas yang dapat memberikan kesempatan bagi tunawisma untuk melatih keterampilan dan pendidikan sebagai bekal untuk bekerja, rehabilitasi sosial berupa konseling, berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat serta tempat untuk berlindung dari panas dan hujan yang selama ini dirasakan ketika hidup dijalan berupa ruang tidur. Tunawisma disini akan diberikan pelatihan dan pendidikan yang dapat membantu tunawisma menghadapi dunia pekerjaan dengan keterampilan yang telah diasah sehingga tidak kembali hidup manjadi gelandangan ataupun pengemis setelah keluar dari pusat penampungan.
Potensi Arsitektural Pengembangan Rehabilitasi Medik di Kabupaten Klungkung Dengan Pendekatan Healing Environment Ni Putu Erssa Julia Anjaswari; I Wayan Wirya Sastrawan; Ni Wayan Nurwarsih
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 9 No. 1 (2021): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.9.1.3568.182-189

Abstract

Pusat Rehabilitasi Medik merupakan pelayanan kesehatan melalui pendekatan medik, psikososial, edukasional, dan vokasional untuk mencapai kemampuan fungsional secara optimal. Permasalahan yang terjadi saat ini terlalu minim fasilitas rehabilitasi yang tersedia. Selain itu, dari segi arsitektural ruang-ruang yang terlalu monoton sehingga pasien merasa kurang nyaman selama proses pemulihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur potensi pengembangan rehabilitasi medik dari sisi arsitektural dengan pelayanan rehabilitasi, seperti rehabilitasi pediatri, rehabilitasi neuromuskular, rehabilitasi musculoskeletal, rehabilitasi kardiorespirasi, dan rehabilitasi geriatri. Dengan menerapkan pendekatan konsep “Healing Environment” sebagai pemecahan permasalahan pada pelayanan rehabilitasi medik yang didukung dengan tiga aspek, seperti aspek alam, aspek panca indera dan aspek psikologis. Kemudian, penerapan konsep tersebut dituangkan ke beberapa elemen-elemen, seperti tapak, bentuk & pola masa, ruang luar, dan terakhir ruang dalam.