cover
Contact Name
Muhammad Aditya Pratama
Contact Email
adityapratama@ikj.ac.id
Phone
+6285693972062
Journal Mail Official
imaji@ikj.ac.id
Editorial Address
Jalan Sekolah Seni No.1 (Raden Saleh, Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal IMAJI
ISSN : 19073097     EISSN : 27756033     DOI : https://doi.org/10.52290/JI
Core Subject : Humanities, Art,
Journal IMAJI accommodates a collection of various topics of film / audio-visual studies that contain ideas, research, as well as critical, fresh, and innovative views on the phenomenal development of cinema in particular and audio-visual in general. This journal aims to provide research contributions to film and audio-visual media which are expected to encourage the development of film, including photography, television and new media in Indonesia, so that they are superior and competitive at the national level and in the international world.
Articles 200 Documents
Prinsip Pengulangan pada Tokoh John Keating dalam Film Dead Poets Society Karya Peter Weir: Sebuah Kajian Psikoanalisis Sasongko, Ario
IMAJI Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di dalam film Dead Poets Society, terlihat seorang tokoh guru bernama John Keating yang berusaha untuk mendobrak tatanan konservatif di sebuah sekolah, yang ia anggap demi kebaikan murid-muridnya. Ia diperlihatkan sebagai seorang guru yang mencoba untuk memahami keinginan murid-muridnya, dan mengajak murid-muridnya untuk menyalurkan keinginan tersebut dengan bebas. Tulisan ini ingin melihat mekanisme wilayah sadar dan tak sadar tokoh John Keating, dan menunjukkan bahwa segala tindakannya merupakan bentuk penyaluran wilayah tak sadarnya.
Pengaruh Hero’s Journey dalam Struktur Tiga Babak Sofiyanti, Devina
IMAJI Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam industri film, terutama di Hollywood, telah dikenal bahwa Hero’s Journey dan Struktur 3 Babak Hollywood Klasik tidak terpisahkan. Meskipun jenis journey lain telah dikembangkan, seperti Heroine’s Journey dan Neurotic’s Journey (Anti-Hero), mereka seperti tidak bisa menggantikan popularitas Hero’s Journey, dan justru dikategorikan sebagai struktur alternatif. Tulisan ini menjelaskan hubungan antara Hero’s Journey dan Struktur Tiga Babak.
Persona Jordan Belfort: Leonardo DiCaprio dalam Film The Wolf of Wall Street Pamungkas, Satrio
IMAJI Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Representasi merupakan suatu penyajian kembali, namun makna yang sama tidak terulang kembali dalam teks yang terartikulasi. Psikoanalisis dapat digunakan dalam mengamati teks film. Arketip persona, sebagai konsep kritis psikoanalisis, mampu membuka suatu pikiran yang baik dan tidak baik, tergantung dari konstruksi sosial yang direpresentasikan dalam teks film. Bahkan, ia bisa membantu setiap individu melihat individu lain dengan tanda dan kode yang ditampilkan. Pemaknaan tentang kode dan tanda dapat dibongkar secara intertekstual, sehingga bukan hanya memandang satu kondisi, namun dapat memunculkan lebih dari satu kondisi yang menghasilkan produksi makna secara konkrit dengan latar belakang pemikiran kritis dan teoretis. Pengamatan soal persona tokoh yang diperankan oleh seorang aktor dapat menghasilkan makna baru yang mengisi atau mengganti makna yang sebelumnya ada pada tokoh tersebut.
Proses Penyelerasan Id, Ego, dan Superego dalam Film Life of Pi (2012) Sasongko, Ario
IMAJI Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film Life of Pi (2012) menceritakan tentang pencarian nilai kehidupan yang dilakukan oleh tokoh Pi Patel melalui perjuangannya yang sangat menakjubkan dengan mengarungi laut di atas kapal sekoci bersama seekor harimau buas bernama Richard Parker. Di dalam film ini, hubungan antara Pi Patel dan Richard Parker menjadi sangat unik karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Untuk memahami pesan mengenai proses pencarian diri manusia yang disampaikan dalam film ini, analisis mengenai tokoh Pi Patel dan hubungannya dengan Richard Parker akan dilakukan. Analisis dilakukan dengan menggunakan sudut pandang psikoanalisis Sigmund Freud, yakni dengan merujuk kepada konsep id, ego, dan superego.
Pengaruh Perkembangan Teknologi terhadap Eksplorasi Ekspresi Kesenian Supriadi, Bambang
IMAJI Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi memiliki hubungan penting dalam seluruh aspek tatanan kehidupan. Penemuan teknologi baru pasti akan mempengaruhi cara masyarakat dalam menjalani hidup ke dalam bentuk kegiatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi di dalam bidang kesenian. Seni sangat bersinggungan erat dengan teknologi. Dapat dikatakan bahwa perkembangan teknologi juga rupanya menjadi faktor penting dalam dinamika perkembangan kesenian, baik itu dalam bentuk ekspresi, organisasi, bahkan juga membuka ruang bagi eksplorasi lintas kesenian.
Kesalahan Pemikiran tentang Riset dalam Pembuatan Film Dokumenter Hermansyah, Kusen Dony
IMAJI Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan posisi ide dan riset dalam pembuatan film, terutama film dokumenter. Latar belakang tulisan ini adalah karena masih banyak kesalahan pemikiran tentang riset bila dihubungkan dengan ide filmnya. Metode penelitian kualitatif adalah metode yang dipilih untuk membahas permasalahan ini. Teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Teknik analisis data kualitatif digunakan untuk membahas permasalahannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada kesalahan pemikiran tentang riset yang berkaitan dengan ide dalam membuat film, terutama film dokumenter.
Hantu Film Indonesia Pindah Menjadi Hantu Urban Gunapriatna, Arturo
IMAJI Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film yang bertemakan hantu tidak bisa lepas dari persoalan budaya populer (pop culture). Selain karena medianya adalah media film, ini juga berhubungan dengan masalah sosial di tempat film-film ini dipresentasikan, sekaligus menjadi bagian dari representasi masyarakatnya. Perubahan artikulasi hantu pada media film tidak bisa lepas dari perubahan industri medianya, yang mengikuti perkembangan zaman dan teknologinya. Sehingga tema hantu yang tadinya merupakan kekuatan mitos rural berubah artikulasinya menjadi mitos baru pada masyarakat urban.
Tata Artistik Film Religi Indonesia yang Syar’i Bayangkari, Bintang
IMAJI Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film religi merupakan salah satu jenis film yang digemari masyarakat Indonesia, khususnya yang beragama Islam, karena sarat dengan pengaruh ajaran agama Islam yang disampaikan melalui tema dari cerita yang diangkat ke layar kaca. Untuk menunjang film bertema religi, di dalam tata artistik dibutuhkan penguasaan terhadap rambu-rambu dan kaidah yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai hal tersebut menjadi wajib untuk dipahami oleh para profesionalnya, supaya masyarakat dapat mengambil hikmah dan pengajaran dari tema film religi yang mereka konsumsi. Hal ini juga dibutuhkan untuk menjamin penerimaan secara Syariat dari mayoritas mereka yang beragama Islam.
Pola Editing Dalam Tiga Film Oliver Stone Murti, Danu
IMAJI Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuat film dapat menggunakan editing, tidak hanya untuk menyambungkan shot satu ke shot yang lain untuk menyusun sebuah film, tetapi juga membangun dimensi yang dapat menghasilkan sebuah impresi tertentu bagi penonton film. Dalam tiga film yang dibuatnya, yaitu Platoon (1986), Born of the Fourth of July (1989), dan Natural Born Killers (1994), Oliver Stone berusaha menggambarkan bagaimana keadaan di sekitar dapat mengubah kondisi seorang karakter. Namun, dengan mengembangkan penggunaan pola editing yang berbeda-beda, tema besar yang sama tersebut dapat disajikan dengan impresi yang berbeda.
Depth of Field: Sebuah Telaah Historis Ruang Ketajaman Pratiwi, Julita
IMAJI Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam ranah sinematografi, depth of field dapat diartikan sebagai ruang ketajaman pada sebuah gam-bar. Tulisan ini tidak meletakkan perhatian yang besar perhatian yang besar terhadap aspek teknis depth of field, melainkan berfokus pada aspek historis yang melatari lahirnya konsep tersebut. Tulisan ini hendak mencari tahu pemahaman “ruang ketajaman” dalam ranah visual lain sebelum film, yakni seni lukis dan fotografi. Bagaimana ruang ketajaman ini dipahami dalam ranah seni lukis dan fotogra-fi? Apakah ada pemahaman yang membedakannya saat dikembangkan di ranah film?

Page 3 of 20 | Total Record : 200


Filter by Year

2005 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya Vol. 16 No. 1 (2025): Identitas dalam Sinema Indonesia Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental Vol. 14 No. 3 (2023): Suara & Imaji yang Berkelindan Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton Vol. 13 No. 2 (2022): Wawancara dan Kedalaman Penelitian Media Audio Visual Vol. 13 No. 1 (2022): Merayakan dan Dirayakan Melalui Sinema Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual Vol. 12 No. 2 (2021): Panorama Mengamplifikasi Gagasan melalui Media Audio-Visual Vol. 12 No. 1 (2021): Sinema dan Wacana Vol. 11 No. 2 (2020): Sinema, Ideologi, dan Kritik Sosial Vol. 11 No. 1 (2020): Bentuk, Gaya, dan Persepsi Penonton Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI No. 6 (2011): IMAJI No. 5 (2009): IMAJI No. 4 (2008): IMAJI No. 3 (2007): IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia? No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca More Issue