cover
Contact Name
Otto Fajarianto
Contact Email
ofajarianto@gmail.com
Phone
+6281296890687
Journal Mail Official
ofajarianto@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pemuda Raya No.32, Sunyaragi, Kec. Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat 45132
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Agroswagati : Jurnal Agronomi
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGROSWAGATI diterbitkan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Swadaya Gunung Jati. JURNAL AGROSWAGATI tujuannya merupakan kumpulan karya tulis ilmiah hasil riset maupun konseptual bidang agronomi dengan ruang lingkup Budidaya tanaman, Aspek tanah, OPT, Mekanisasi, Pemuliaan, Ilmu dasar tanaman. JURNAL AGROSWAGATI menerima tulisan dari para akademisi maupun praktisi dengan proses blind review, sehingga dapat diterima disetiap kalangan dengan penerbitan jurnal ilmiah berkala terbit setiap dua kali dalam setahun periode Maret dan Oktober dengan nomor p-ISSN 2339-0085 serta e-ISSN 2580-5185.
Articles 169 Documents
PENGARUH BERBAGAI KOMPOSISI MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT ANGGREK DENDROBIUM (Dendrobium sp.) Riza Dwi Agustiar; Umi Trisnaningsih; Siti Wahyuni
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v8i2.4944

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi antara komposisi berbagai media tanam dan konsentrasi pupuk daun terhadap pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium. Penelitian dilaksanakan di Green House Fakultas Pertanian, Universitas Winaya Mukti, Jalan Raya Bandung Sumedang No. 29, Gunungmanik, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat dari bulan Juni sampai September 2018. Bahan yang digunakan adalah bibit tanaman anggrek Dendrobium yang berumur 6 bulan setelah aklimatisasi, media tanam terdiri dari pakis, sabut kelapa dan arang serta pupuk daun gandasil. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari atas 2 kombinasi antara media tanam (pakis + arang ; pakis + sabut ; arang + sabut) dan kosentrasi pupuk daun (1, 2, 3 g/l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk daun dan komposisi berbagai media tanam berpengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman terhadap tinggi tanaman ( 98 dan 112 HST), jumlah daun (112 HST) diameter batang (70, 84 dan 112 HST), jumlah dan panjang akar tanaman anggrek. Kombinasi media tanam arang dan sabut kelapa dengan pemberian pupuk daun sebanyak 1 g/l merupakan kombinasi perlakuan tertinggi terhadap semua pengamatan.
Pengaruh Konsentrasi Kalsium Klorida (CaCl2) Dan Suhu Penyimpanan Terhadap Mutu Dan Lama Simpan Nenas Terolah Minimal Andri Komara; Retno Widyani
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v1i1.786

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Pengaruh interaksi antara  kalsium klorida (CaCl2) dan suhu penyimpanan terhadap mutu dan lama simpan nenas terolah minimal. (2) Untuk mengetahui konsentrasi kalsium klorida (CaCl2) dan suhu penyimpanan yang berpengaruh baik terhadap mutu dan lama simpan nenas terolah minimal. Penelitian  dilaksanakan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri I Cigugur, Kuningan, dari bulan Oktober sampai dengan November 2011. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Terdiri dari 2 perlakuan yaitu faktor konsentrasi kalsium klorida dan suhu penyimpanan (disimpan dalam lemari pendingin yang diatur suhunya) dan diulang 3 kali. Perlakuan yaitu : Kalsium klorida (k) terdiri dari tiga taraf: k1 =   Tanpa pemberian kalsium klorida ( Pemberian Aquades), k2 =100 ppm kalsium klorida, k3 = 200 ppm kalsium klorida. Suhu penyimpanan (t) terdiri dari tiga taraf: t1 =  5oC; t2 = 15oC; t3 = 25oCHasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata antara suhu penyimpanan terhadap lama simpan nenas terolah minimal. Pada perlakuan suhu 50C memberikan lama simpan 19 hari.Terdapat perbedaan pengaruh konsentrasi kalsium klorida (CaCl2) dan suhu penyimpanan terhadap susut bobot nenas terolah minimal. Dimana pengaruh terbesar terdapat pada perlakuan k1t3 (tanpa pemberian CaCl2 dan suhu 250C), k2t2 (100 ppm CaCl2 dan suhu 150C) dan k2t3 (200 ppm CaCl2 dan suhu 250C).Terdapat pengaruh konsentrasi kalsium klorida (CaCl2) dan suhu penyimpanan terhadap warna nenas terolah minimal yaitu pada perlakuan  k1t1 (tanpa pemberian CaCl2 dan suhu 50C), k2t1 (100 ppm CaCl2 dan suhu 50C), k3t1(200 ppm CaCl2 dan suhu 50C)Semakin tinggi suhu maka semakin baik pula aroma nanas maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan aroma nanas yang baik diperlukan suhu yang tinggi sedangkan konsentrasi CaCl2 tidak memberikan pengaruh pada aroma nanas.Terdapat pengaruh interaksi antara konsentrasi kalsium klorida (CaCl2) dan suhu penyimpanan terhadap rasa nenas terolah minimal.
PENGARUH TAKARAN ABU SABUT KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SEMANGKA (Citrullus vulgaris Schard.) KULTIVAR MAHESA Umi Trisnaningsih; A Harijanto S; Bambang Bambang
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v2i2.1821

Abstract

The effect of the coconut husk ash dosage on growth and yield of watermelon (Citrullus vulgaris Schard) cv Mahesa.. The research was conducted in the Seda Village, Mundu District Cirebon Regency of the West Java, from April to Juni 2013.           This study aimed to determine: (1) the influence of coconut husk ash dosage on growth and yield of watermelon, and (2) doses of coconut husk ash that gives the best growth and yield of watermelon.           The method used in this study is an experimental method with a randomized block design (RBD), which consists of one treatmeant factors. The factors coconut husk ash dosage with nine teratmeant were repeated there times. Treatmeant factors are: A = no ash coconut husk ash, coconut husk ash dusk, B = 100 g coconut husk ash dusk / plot, C = 200 kg / plot, D = 300 g / plot, E = 400 g / plot, F = 500 g / plot, G = 600 g / plot, H = 700 g / plot, I = 800 g / plot. The result showed that: no significantly effect of coconut husk ash dosage to the growth and yield of water melon.
PENGARUH JARAK TANAM LEGOWO DAN APLIKASI KOMPOS JERAMI TERHADAPSERAPAN KALIUM, PERTUMBUHAN, DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.)VARIETAS INPARI 19 Dwi Purnomo; Rusim Rusim
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v6i1.1951

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Jarak Tanam Legowo dan Aplikasi Kompos Jerami Terhadap Serapan Hara K, Pertumbuhan, dan Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa L.)Varietas Inpari 19 di Kecamatan Sukra- Indramayu.Penelitian dilaksanakan di Desa Sumuradem Timur Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu Propinsi Jawa Barat.Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Oktober 2013.Metode percobaan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial, perlakuan terdiri dari dua faktor dan diulang tiga kali.Faktor yang pertama merupakan Sistim Tanam Legowo yang terdiri dari tiga taraf (legowo 2, 3, dan 4).Sedangkan faktor yang kedua adalah aplikasi kompos jerami yang terdiri dari empat taraf (2, 4, 6, 8 ton/Ha). Hasil penelitian menunjukan adanya interaksi antara Sistim Tanam Legowo dan aplikasi kompos jerami terhadap tinggi tanaman per rumpun umur 7  Minggu Setelah Tanam, jumlah anakan per rumpun umur 7, 9, dan 11 MST, panjang malai, jumlah bulir padi per malai, dan gabah kering panen per petak. Terdapat pengaruh mandiri pada tinggi tanaman per rumpun umur 9 dan 11 MST, dan jumlah malai per rumpun. Perlakuan Sistim Tanam Legowo 2 : 1 dan aplikasi kompos jerami 8 ton/ha menunjukkan hasil tertinggi pada gabah kering panen per petak yang menghasilkan 8,37 kg/petak atau setara dengan 11,16 ton/ha.
PENGELOLAAN LINGKUNGAN CEKAMAN SALIN UNTUK MENINGKATKAN HASIL PADI Tita Rustiati; Zuziana Susanti; Zaqiah M Hikmah; Ade Ruskandar
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v8i1.4058

Abstract

Management of the environment which is gripped by saline is very necessary to increase the yield of rice. The research was carried out in the farmers' land of Indramayu-West Java district in February - July 2019 using a split plot design with 3 replications. The variety used is Inpari 34. The treatment is gypsum dossage and organic matter. The results showed that the management of saline environmental stress by giving gypsum and organic matter did not affect plant growth including the number of tillers, leaf greenness value and yield on rice. Gypsum 1 ton/ha will provide maximum results 2,375 tons/ha dried grain if accompanied by the provision of 4 tons of organic matter/ha. Gypsum 1 ton/ha with organic matter more than 4 tons/ha will reduce rice yield. Gypsum application of 3 tons / ha reaches 2,6792 tons ha without the provision of organic matter.
Pengaruh Jumlah Ruas Stek Terhadap Pertumbuhan Bibit Nilam (Pogostemon Cablin Benth) Umi Trisnaningsih; - Wijaya; Siti Wahyuasih
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v3i1.798

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah ruas terhadap pertumbuhan bibit nilam (Pogostemon cablin Bent). Penelitian dilaksanakan di Desa Cipari Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan, mulai dari bulan Mei sampai dengan Juli 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap, terdiri dari 5 (lima) perlakuan dan diulang 5 (lima) kali. Variabel yang diamati yaitu pengukuran pertambahan jumlah daun, pertambahan tinggi tanaman, bobot akar, panjang akar, volume akar dan bobot segar tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ruas setek berpengaruh nyata terhadap pertambahan jumlah daun pada umur 35 dan 42 hari setelah tanam (HST), pertambahan tinggi tanaman 42 HST, dan panjang akar. Perlakuan lima ruas setek memberikan pengaruh yang paling baik terhadap pertumbuhan bibit nilam.
PENGARUH KOMBINASI JARAK TANAM DAN UMUR BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica campestris L.) Alfandi Alfandi; Dodi Budirahman; Zaenal Hasikin
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v5i2.1920

Abstract

This study aims to determine: (1) the real influence between treatment of spacing and age of seedlings on growth and yield of pakcoy plants (Brassica campestris L.), (2) the best spacing and age of seedlings on growth and yield of pakcoy plants (Brassica campestris L.), and (3) the relationship between growth components and net weight per plot of pakcoy plants (Brassica campestris L.). The study was conducted in Pasir Agung Village, Hantara Subdistrict, Kuningan Regency, West Java, from January 2014 to March 2014. The method used in this study was the experimental method. The experimental design used was Randomized Block Design (RBD). ) This experiment consisted of 9 combinations of treatment spacing and age of seedlings, each repeated three times, so that there were 27 experimental plots. The combination of treatments tested in the field are: A (10 cm x 20 cm and 10 days after seeding (HSS)), B (10 cm x 20 cm and 14 HSS), C (10 cm x 20 cm and 21 HSS), D (10 cm x 15 cm and 10 HSS), E (10 cm x 15 cm and 14 HSS), F (10 cm x 15 cm and 18 HSS), G (10 cm x 20 cm and 10 HSS), H (10 cm x 20 cm and 14 HSS), and I (10 cm x 20 cm and 18 HSS). The results showed that: (1) there was a significant effect between spacing and age of seedlings on average plant heights of 7, 14, and 21 HST, number of leaves aged 7 and 21 HST, root voium, weight of biomass per plant and per plot, and net weight per plant and per plot, (2) the highest net weight per plot is found in treatment E (spacing of 10 cm x 15 cm and age of seedlings of 14 HSS) with weights of 5.36 kg / plot or equivalent with 14.29 tons / ha, but not significantly different from treatment F (spacing of 10 cm x 15 cm and age of 18 HSS seedlings) and treatment I (spacing of 10 cm x 10 cm and age of 18 HSS seedlings), (3) there is a significant correlation between plant height aged 7 and 21 HST and the number of leaves aged 7 HST with net weights per plot.
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR PRODUKSI USAHATANI PADI GOGO DI KABUPATEN KEBUMEN Ade Ruskandar; Elis Septianingrum; Widyantoro Widyantoro
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v7i1.2845

Abstract

The efforts to increase rice production is still focused on irrigated paddy field, especially by intesification. On the other hand, there are other land resources, such as dry land that can be used for rice extensification by cultivating upland rice. Dry land area in Kebumen regency reaches 88.364 ha. This number gives a significant meaning to the total rice production in Kebumen. The objective of the study was to investigate the variability of the farming bussiness and the factors influencing upland rice production in Mirit district, Kebumen regency. The variability of farming bussiness in the regency could be seen from several thing. Upland rice varieties (Inpago 8, Situ Bagendit, dan Situ Patenggang) used in one planting cropping pattern per year. Planting was carried out by tugal (3-4 seeds/hole). Seeds used were non-labeled and produced from government assistance of farmers’ group. Manpower was needed at land cultivation, planting, harvesting, threshing, and drying of the paddy. The workforce mostly were men and came from farmer’s family. The women were only utilitized on planting activity. F test showed that the number of workers, seeds, urea, SP, and KCl, NPK, compost fertilizer, and seeds’ type were simultaneously affecting production result and t-test indicated that the number of SP, NPK, and manure fertilizer partially affecting the production of upland rice.
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR CHITOSAN TERHADAP BINTIL AKAR, PERTUMBUHAN, DAN HASIL TIGA KULTIVAR TANAMAN KEDELAI (Glycine max L. Merrill) Rachmat Indrianto
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v3i2.801

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk organik cair Chitosan terhadap bintil akar, pertumbuhan, dan hasil tiga kultivar tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) (2)  mengetahui kombinasi konsentrasi pupuk organik cair Chitosan dan  kultivar yang terbaik pengaruhnya terhadap bintil akar, pertumbuhan, dan hasil tanaman kedelai (Glycine max  L. Merrill), dan (3) mengetahui korelasi antara komponen pertumbuhan dan bintil akar dengan hasil tanaman kedelai (Glycine max  L. Merrill). Penelitian  dilaksanakan di UPTD Balai Pengembangan Benih Palawija (BPBP) di Plumbon Cirebon Jawa Barat, dari bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2014. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan ini terdiri dari 12 kombinasi perlakuan konsentrasi pupuk organik cair Chitosan dan kultivar kedelai yang masing-masing diulang tiga kali, sehingga terdapat 36 petak percobaan. Kombinasi perlakuan yang diuji di lapangan adalah : A (1 ml/1 liter air dan Kultivar Anjasmoro), B (1 ml/1 liter air dan Kultivar Argomulyo), C (1 ml/1 liter air dan Kultivar Grobogan), D (3 ml/1 liter air dan Kultivar Anjasmoro), E (3 ml/1 liter air dan Kultivar Argomulyo), F (3 ml/1 liter air dan Kultivar Grobogan), G (5 ml/1 liter air dan Kultivar Anjasmoro), H (5 ml/1 liter air dan Kultivar Argomulyo), I (5 ml/1 liter air dan Kultivar Grobogan), J (7 ml/1 liter air dan Kultivar Anjasmoro), K (7 ml/1 liter air dan Kultivar Argomulyo), dan L (7 ml/1 liter air dan Kultivar Grobogan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) terdapat pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman umur 49 dan 56 HST, jumlah daun trifoliate per rumpun umur 56 dan 63 HST, bobot bintil akar per tanaman umur 63 HST, jumlah bintil akar per tanaman umur 63 HST, biomassa kering tanaman umur 63 HST, Laju Pertumbuhan Tanaman umur 49 sampai 56 HST, jumlah polong per rumpun, bobot polong kering per rumpun, bobot biji kering per rumpun dan per petak, dan bobot 100 butir biji kering per petak, (2) bobot biji kering per petak terbaik terdapat pada kombinasi perlakuan konsentrasi pupuk organik cair Chitosan 3 ml/1 liter air dan Kultivar Grobogan (F) yang menghasilkan 2,44 kg/petak atau setara dengan 2,99 ton/ha dengan asumsi 80 % lahan efektif, (3) terdapat korelasi yang nyata antara tinggi tanaman umur 49 HST, jumlah daun trifoliate per rumpun umur 49, 56, dan 63 HST, dan biomassa kering tanaman umur 49 dan 56 HST dengan bobot biji kering per petak.
Pengaruh Sarcotesta Dan Perlakuan Cahaya terhadap Viabilitas Dan Dormansi Benih Pepaya (Carica papaya L.) Harwan Sutomo; Achmad Faqih; Lubi Mulyana
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v4i2.1857

Abstract

Percobaan dilaksanakan di Desa Bondan Kecamatan Sukagumiwang Kabupaten Indramayu. Lokasi tersebut berada pada ketinggian 15 meter dari permukaan laut (dpl). Waktu percobaan dimulai dari bulan Oktober sampai dengan November 2012.Rancangan percobaan yang digunakan adalah  Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 kombinasi perlakuan dengan 4 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari  A = S1C1  (Benih bersacrotesta dan kondisi gelap),  B = S2C1 (Benih tanpa sarcotesta dan kondisi gelap), C = S1C2 (Benih bersarcotesta dan kondisi semi terang), D = S2C2 (Benih tanpa sarcotesta dan kondisi semi terang), E = S1C3 (Benih bersarcotesta dan kondisi terang), F = S2C3 (Benih tanpa sarcotesta dan kondisi terang). Variabel yang diamati yaitu viabilitas benih, kecambah normal dan dormansi benih.Hasil penelitian menunjukkan  bahwa perlakuan sarcotesta dan cahaya berpengaruh nyata terhadap viabilitas umur pengamatan 21 hss dan 35 hss, rata-rata jumlah kecambah normal umur  pengamatan 21 hss dan 35 hss dan dormansi benih pepaya pengamatan 35 hss. Kombinasi perlakuan benih tanpa sarcotesta dan pencahayaan terang saat dikecambahkan memiliki viabilitas tertinggi, jumlah kecambah normal tertinggi dan tidak ada biji yang dormansi.

Page 9 of 17 | Total Record : 169