cover
Contact Name
Otto Fajarianto
Contact Email
ofajarianto@gmail.com
Phone
+6281296890687
Journal Mail Official
ofajarianto@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pemuda Raya No.32, Sunyaragi, Kec. Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat 45132
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Agroswagati : Jurnal Agronomi
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGROSWAGATI diterbitkan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Swadaya Gunung Jati. JURNAL AGROSWAGATI tujuannya merupakan kumpulan karya tulis ilmiah hasil riset maupun konseptual bidang agronomi dengan ruang lingkup Budidaya tanaman, Aspek tanah, OPT, Mekanisasi, Pemuliaan, Ilmu dasar tanaman. JURNAL AGROSWAGATI menerima tulisan dari para akademisi maupun praktisi dengan proses blind review, sehingga dapat diterima disetiap kalangan dengan penerbitan jurnal ilmiah berkala terbit setiap dua kali dalam setahun periode Maret dan Oktober dengan nomor p-ISSN 2339-0085 serta e-ISSN 2580-5185.
Articles 169 Documents
PENGARUH KOMBINASI TAKARAN DAN JENIS PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAYAM (Amaranthus tricolor L.) Nur Septiyanti
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v6i2.1976

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi takaran dan jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam (Amaranthus tricolor L.) dan juga untuk mengetahui pada kombinasi takaran dan jenis pupuk kandang yang dapat memberikan pertumbuhan dan hasil yang tinggi bagi tanaman bayam (Amaranthus tricolor L.). Percobaan dilaksanakan di SMK Negeri 5 Kuningan, Desa Ciawilor, Kecamatan Ciawi Gebang, Kabupaten Kuningan, ketinggian tempat 450 m di atas permukaan laut (dpl) dengan suhu 20°C – 30°C, dan pH tanah 6,7. Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 9 kombinasi perlakuan. Perlakuan takaran pupuk kandang terdiri dari 3 taraf, yaitu 5 ton/ha, 10 ton/ha dan 15 ton/ha. Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing dan pupuk kandang sapi. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali, sehingga terdapat 27 petak percobaan. Kombinasi takaran dan jenis pupuk kandang memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam. Pada pertumbuhan memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 14, 21 dan 28 HST serta diameter batang pada umur 21 dan 28 HST. Pada hasil tanaman bayam memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot segar per tanaman dan bobot segar per petak. Bobot segar per petak yang paling baik diperoleh pada perlakuan pupuk kandang ayam dan pupuk kandang sapi dengan takaran 10 ton/ha dan 15 ton/ha. Pada perlakuan 15 ton/ha pupuk kandang ayam menghasilkan bobot segar per petak 3,91 kg atau setara dengan 19,55 ton/ha.
PENGARUH TAKARAN ROOTONE F DAN PANJANG SETEK PUCUK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) KULTIVAR KRISTAL Ghassani Nur Trisnaningsih; Amran Jaenudin; Siti Wahyuni
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v9i1.4884

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran Rootone F dan panjang setek pucuk terhadap pertumbuhan bibit jambu biji (Psidium guajava L) kultivar kristal. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2018 di Waida Farm Dusun Lembang Desa Pamulihan Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola kombinasi, yaitu terdiri dari 12 percobaan dan diulang tiga kali. A (Panjang setek 10 cm dan takaran 0 mg/setek), B (Panjang setek 10 cm dan takaran 0,25 mg/setek), C (Panjang setek 10 cm dan 0,50/setek), D (Panjang setek 10 cm dan takaran 0,75/setek), E (Panjang setek 20 cm dan takaran 0 mg/setek), F (Panjang setek 20 cm dan takaran 0,25mg/setek), G (Panjang setek 20 cm dan 0,50 mg/setek), H (Panjang setek 20 cm dan takaran 0,75mg/setek), I (Panjang setek 30 cm dan takaran 0 mg/setek), J (Panjang setek 30 cm dan takaran 0,25 mg/setek), K (Panjang setek 30 cm dan takaran 0,50 mg/setek), L (Panjang setek 30 cm dan takaran 0,75 mg/setek). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan takaran Rootone F dan panjang setek berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas (umur 42, 56, 70 dan 84 HST), panjang tunas (umur 56, 70, dan 84 HST), jumlah daun (umur 42, 56, 70, dan 84 HST), Volume dan bobot akar. Hasil pengaruh yang terbaik yaitu pada perlakuan panjang setek 30 cm dan takaran Rootone F 0,50 mg dan 0,75 mg.
Pengaruh Tingkat Kematangan Kompos dan Pupuk Daun terhadap Serapan N dan Pertumbuhan serta Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Anto Sugiharto; Rochanda Wiradinata; Tetty Suciaty
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v2i1.1805

Abstract

Teknologi budidaya bawang merah yang ditawarkan, secara teknis, harus dapat memecahkan masalah yang dihadapi petani, dapat meningkatkan efisiensi usahatani, produktivitas, dan mutu hasil panen. Salah satu teknologi budidaya bawang merah adalah memanipulasi kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman, yaitu dengan pemberian pupuk kompos dan pupuk daun.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pengaruh interaksi antara tingkat kematangan kompos dan pupuk daun terhadap   serapan N dan pertumbuhan serta hasil bawang merah (2) tingkat kematangan kompos dan pupuk daun yang mana yang memberikan serapan N dan pertumbuhan serta hasil bawang merah (Allium ascalonicum L.) terbaik, dan (3) korelasi antara  serapan N dan pertumbuhan tanaman dengan hasil bawang merah. Penelitian dilaksanakan Desa Parereja Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes, dari bulan Juni sampai September 2012.Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), pola faktorial. Penelitian terdiri dari dua faktor perlakuan, yaitu tingkat kematangan kompos dan pupuk daun yang diulang 3 kali. Faktor pertama yaitu tingkat kematangan kompos (T) terdiri dari tiga taraf yaitu : t0 (kompos mentah), t1 (kompos agak matang), dan t2 (kompos matang). Faktor kedua yaitu pupuk daun (D) terdiri dari empat taraf yaitu : d0 (0 g Rosasol-N/l air), d1 (2 g Rosasol-N/l air), d2 (4 g Rosasol-N/l air), dan d3 (6 g Rosasol-N/l air).Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Terjadi interaksi antara tingkat kematangan kompos dan pupuk daun terhadap bobot umbi segar dan bobot umbi kering per petak. Perlakuan kematangan kompos dan pupuk daun secara mandiri berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, serapan N tanaman, jumlah umbi per rumpun, bobot umbi segar dan bobot umbi kering per rumpun, (2) perlakuan kompos matang yang dikombinasikan dengan pupuk daun 4 g Rasasol-N/l air, memberikan pengaruh baik terhadap bobot umbi segar dan bobot umbi kering per petak yaitu 7,48 kg per petak dan 6,63 kg per petak, atau setara dengan 11,97 ton/ha umbi segar dan 10,52 ton/ha umbi kering, dan (3) terdapat korelsi positif yang signifikan antara tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun dan serapan N dengan bobot umbi segar dan bobot umbi kering per petak.
PENGARUH KOMPOSISI DEDAK BEKATUL DAN KONSENTRASI AIR KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) Minhatul Maula; Wijaya Wijaya; Subandi Nur
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v6i1.1946

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi dedak bekatul dan konsentrasi air kelapa terhadap pertumbuhan dan hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Percobaan dilaksanakan di Desa Karangwangi Kecamatan Depok Cirebon – Jawa Barat dari bulan Mei sampai Juli 2013.Metode percobaan yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari kombinasi perlakuan komposisi dedak bekatul dan konsentrasi air kelapa yang diulang tiga kali. Kombinasi perlakuan tersebut adalah sebagai berikut : A (5% dedak bekatul dan 0% air kelapa), B (5% dedak bekatul dan 10% air kelapa), C (5% dedak bekatul dan 20% air kelapa), D (5% dedak bekatul dan 30% air kelapa), E (10% dedak bekatul dan 0% air kelapa), F (10% dedak bekatul dan 10% air kelapa), G (10% dedak bekatul dan 20% air kelapa), H (10% dedak bekatul dan 30% air kelapa), I (15% dedak bekatul dan 0% air kelapa), J (15% dedak bekatul dan 10% air kelapa), K (15% dedak bekatul dan 20% air kelapa), dan L (15% dedak bekatul dan 30% air kelapa).Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata antara komposisi dedak bekatul dan konsentrasi air kelapa terhadap kedalaman miselium umur 7 dan 21 HSI, diameter tudung, jumlah badan buah per baglog dan bobot jamur tiram putih per baglog. Namun tidak berpengaruh nyata pada pengamatan kedalaman miselium 14 HSI dan waktu muncul pin head. Hasil terbaik ditunjukkan dari perlakuan L yaitu takaran 15% dedak bekatul dan konsentrasi 30% air kelapa.
ADOPSI VARIETAS UNGGUL BARU PADI DI LAHAN RAWA A. Ruskandar; Widyantoro Widyantoro; Septian Deni W; A. Rifki; I.A. Rumanti; I. Hasmi
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v7i1.2850

Abstract

This research was conducted using a survey method carried out in two districts in the South Sumatra region namely Ogan Ilir and Banyuasin starting in March 2019. Ogan Ilir Regency represents the lebak swamp area while Banyuasin represents the Pasangsurut swamp area. The selection of provinces is determined by purposive sampling, which is chosen provinces that have a fairly large swampy land. Data collected includes: (1) Characteristics of respondents (age, sex, education, land area / arable land, (2) Reasons for choosing a vub to plant, (3) source of seeds and seed classes planted, and (4) data and information other relevant to the purpose of the study.This study aims to identify the level of adoption and development of new superior varieties (VUB) of rice in swamps and identify the reasons for farmers in adopting and planting VUBs.From the results of the study revealed that Ciherang is a common variety planted by respondents in Ogan Ilir, while IR 42 is a variety commonly planted in Banyuasin, transplanting planting is done twice by seedlings, generally done by respondents in Ogan Ilir, while seed planting is directly carried out by respondents in Banyuasin, most respondents in Ogan Ilir are not familiar with Inpara varieties, varieties planted in the two districts are generally not labeled.Some of the reasons cited by farmers grow varieties between high production, short service life, and pest resistance data Distribution of varieties in South Sumatra shows that Ciherang is still the dominant variety, while Inpara has not been recorded in the data held by local agencies.
PENGARUH KOMBINASI JARAK TANAM DAN JENIS PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) KULTUVAR BISMA E. Tadjudin; Amran Jaenudin; Heni Juniyanti
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v4i1.805

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pengaruh kombinasi antara perlakuan jarak tanam dan jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.) Kultivar Bisma, (2) perlakuan kombinasi antara perlakuan jarak tanam dan jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.) Kultivar Bisma, dan (3) korelasi antara komponen pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.) Kultivar Bisma. Penelitian  dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Benih Palawija Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon, dari bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2015.Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Percobaan ini terdiri dari 12 kombinasi jarak tanam dan jenis pupuk kandang yang masing-masing diulang tiga kali, sehingga terdapat 36 petak percobaan. Kombinasi perlakuan yang diuji di lapangan adalah : A (jarak tanam 40 cm x 20 cm dan pupuk kandang ayam 10 ton/ha), B (jarak tanam 40 cm x 20 cm dan pupuk kandang kambing 10 ton/ha), C (jarak tanam 40 cm x 20 cm dan pupuk kandang sapi 10 ton/ha), D (jarak tanam 55 cm x 20 cm dan pupuk kandang ayam 10 ton/ha), E (jarak tanam 55 cm x 20 cm dan pupuk kandang kambing 10 ton/ha), F (jarak tanam 55 cm x 20 cm dan pupuk kandang sapi 10 ton/ha), G (jarak tanam 70 cm x 20 cm dan pupuk kandang ayam 10 ton/ha), H (jarak tanam 70 cm x 20 cm dan pupuk kandang kambing 10 ton/ha), I (jarak tanam 70 cm x 20 cm dan pupuk kandang sapi 10 ton/ha), J (jarak tanam 85 cm x 20 cm dan pupuk kandang ayam 10 ton/ha), K (jarak tanam 85 cm x 20 cm dan pupuk kandang kambing 10 ton/ha), dan L (jarak tanam 85 cm x 20 cm dan pupuk kandang sapi 10 ton/ha).Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) terdapat pengaruh yang nyata dari perlakuan kombinasi jarak tanam dan jenis pupuk kandang terhadap tinggi tanaman umur 28, 35, dan 42 HST, diameter batang umur 28 dan 35 HST, jumlah daun per tanaman umur diameter tongkol segar, jumlah tongkol segar per petak, bobot tongkol segar per tanaman, bobot 100 butir biji kering, dan bobot biji kering per tanaman dan per petak, (2) bobot biji kering per petak terbaik terdapat pada perlakuan jarak tanam 70 cm x 20 cm dan pupuk kandang ayam 10 ton/ha yaitu 3,49 kg/petak setara dengan 3,49 ton/ha, dan (3) korelasi yang nyata tinggi tanaman umur 28 dan 42 HST, diameter batang umur 28 dan 35 HST, jumlah daun umur 28, 35, dan 42 HST, volume akar umur 28 dan 42 HST, dan Laju Pertumbuhan Tanaman umur 28-35 HST dengan bobot biji kering per petak.
EVALUASI KESUBURAN BEBERAPA JENIS TANAH DI LOKASI PERKEBUNAN TEBU PABRIK GULA PT. TERSANA BARU KABUPATEN CIREBON Amran Jaenudin
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v5i1.1890

Abstract

"The decline in sugar cane production and sugar cane fields in the last ten years has been volatile. That is, not every year in that period has decreased, "Muhidin said. Sugar cane farmers do tend to shift from sugar cane cultivation to other types of crops which are considered more profitable. Another opinion on the transition of cultivation is due to the low sugar cane randeman. The reduced rendering resulted in many farmers switching from sugar cane to more profitable crops of rice, corn, shallots and secondary crops.The causes of the lower rendering value include conditions of high rainfall and lack of nutrients in the soil. This lack of nutrients is because the soil has been used too long for sugarcane cultivation, this causes a reduction in soil fertility. Basically, soil testing or soil analysis has two functions: 1) showing nutrient status in the soil (management history, potential and management) and 2) can serve as a basis for monitoring production systems and measuring trends or changes in fertilization programs. By knowing the availability of nutrients, it can do the right fertilization and can increase soil fertility, so that the rendeman yield increases. Therefore, a Land Analysis Study in the Sugarcane Plantation Area was conducted.The purpose of this research study is to identify the amount of nutrients to provide accurate information about the conditions of soil fertility in sugarcane plantation areas in Cirebon. The objectives of this research study are: 1) to determine the fertility value of sugarcane plantation areas in Cirebon and 2) to find out the factors that cause reduced nutrient content in the soil. In general, the method used in this study is by using laboratory analysis methods and qualitative descriptive methods. The results of the study are 1) in general the soil fertility status (SKT) for the 10 regions taken from soil samples is low both from the top soil and sub soil soil layers; 2) the nutrient content of Nitrogen in the soil for these 10 regions is low so it is necessary to fertilize the appropriate ZA and NPK to improve the soil fertility status of each location; 3) fertilizer recommendations made for the 10 regions are by adding Nitrogen, lime (dolomite) and manure as basic fertilizer at the beginning of planting; and 4) factors that cause reduced nutrient content are declining soil fertility status due to excessive inorganic fertilization, pesticide use, and the absence of crop rotation.
Pengaruh Konsentrasi Kitosan terhadap Lama Simpan dan Mutu pada Dua Tingkat Kematangan Pepaya Callina (Carica papaya L.) Asep Suryana; Rochanda Wiradinata
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v1i2.795

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pengaruh interaksi antara konsentrasi kitosan pada dua tingkat kematangan buah terhadap lama simpan dan mutu buah pepaya callina, (2) berapa konsentrasi kitosan yang terbaik untuk memperpanjang lama simpan dan mempertahankan mutu buah pepaya callina, dan (3) korelasi antara susut bobot dan kadar vitamin C dengan lama simpan buah pepaya callina. Penelitian dilaksanakan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri I Kuningan, dari awal bulan Juli 2012 sampai dengan bulan Sepetember 2012.Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), pola faktorial. Penelitian terdiri dari dua faktor perlakuan, yaitu konsentrasi kitosan dan tingkat kematangan buah yang diulang 3 kali. Faktor pertama yaitu konsentrasi kitosan (k) terdiri dari enam taraf perlakuan yaitu : k0 (0% kitosan), k1 (1% kitosan), k2 (1,5% kitosan), k3 (2% kitosan), k4 (2,5% kitosan), dan k5 (3% kitosan). Faktor kedua yaitu tingkat kematangan buah (t) terdiri dari dua taraf yaitu : t1 (matang fisiologis atau 0% warna kuning), dan t2 (matang kuning atau 25% warna kuning).Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) terjadi interaksi antara konsentrasi kitosan dan tingkat kematangan terhadap  kadar vitami C hari ke 16 dan lama simpan. Kitosan dan tingkat kematangan secara mandiri berpengaruh nyata terhadap susut bobot hari ke 12 dan 16, kadar vitamin C hari ke 4, 8 dan 12, (2) konsentrasi kitosan 2% pada tingkat kematangan matang fisiologis memberikan pengaruh baik terhadap kadar vitamin C hari ke 16, dan konsentrasi kitosan 1,5% pada tingkat kematangan matang fisiologis memberikan lama simpan terlama yaitu sebesar 18,67 hari (18 hari 16 jam), dan (3) terdapat korelasi yang nyata antara susut bobot dengan kadar vitamin C, tetapi tidak terdapat korelasi yang nyata antara susut bobot dan kadar Vitamin C dengan lama simpan buah papaya.
Pengaruh Kombinasi Kompos dan NPK (16:16:16) terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bunga Matahari (Hellianthus annuus L.) Amran Jaenudin; Tadjudin Surawinata; Maryuliyanna Maryuliyanna
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v4i2.1852

Abstract

Lahan tambang merupakan lahan yang tergolong sulit untuk direhabilitasi, dan seringkali menimbulkan pengaruh negatif yang tidak kecil (Liang et al, 2009 dalam Suharno dan Sancayaningsih, 2013). Agar tanaman bunga matahari dapat tumbuh baik pada lahan bekas tambang, maka perlu diupayakan perbaikan kondisi fisik, kimia dan biologi tanahnya. Tahap awal dari upaya perbaikan kondisi fisik, kimia dan biologi tanah adalah konservasi top soil, pengelolaan sedimen, penataan lahan, penanaman tanaman perintis, (Zulkifli, 2014). Konservasi top soil dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik. Kemudian . Penggunaan pupuk an-organik untuk kegiatan usahatani  telah dianggap suatu keharusan. Hal ini berkaitan dengan penggunaan vareiatas unggul yang berpotensi hasil tinggi yang memerlukan hara tanah yang cukup (Abdulrachman  et. al., 2008).  Maka dipandang perlu untuk dilakukan percobaan mengenai peningkatan produksi tanaman bunga matahari di lahan bekas tambang dengan pengaturan takaran pupuk NPK dan penambahan kompos yang berbeda. Hal ini diharapkan dapat memperbaiki sifat tanah bekas tambang semen serta meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman bunga matahari (Helianthus annuus L.).Tujuan dari penelitian  ini yaitu: 1) untuk mengetahui adanya pengaruh interaksi antara perlakuan pemberian kompos dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bunga matahari (Helianthus annuus L.) dan 2) untuk mengetahui takaran kompos dan pupuk NPK yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bunga matahari (Helianthus annuus L.).Hasil dari penelitian adalah: (1) terdapat pengaruh interaksi antara perlakuan pemberian kompos dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan tanaman bunga matahari (Helianthus annuus L.) yaitu pada pengamatan volume akar dan tinggi tanaman umur 35 HST; da (2) pada takaran 30 ton/ha kompos dan 400 kg/ha pupuk NPK memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bunga matahari (Helianthus annuus L.).
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR DAN TAKARAN PUPUK NITROGEN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) KULTIVAR DEWATA F1 Gustaf Rifaldy
Agroswagati Jurnal Agronomi Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Pertanian Pascasarjana UGJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/agroswagati.v7i2.2798

Abstract

This study aimed to determine: (1) the combination of the effect of liquid organic fertilizer (LOF) concentration and nitrogen fertilizer dose on the growth and yield of cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) cultivar Dewata F1 (2) the effect of LOF concentration and nitrogen fertilizer dose which gave the best influence on growth and the results of cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) cultivar Dewata F1 (3) correlation between growth components and yield of cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) cultivar Dewata F1. The study was conducted in Nanggerang Village, Jalaksana District, Kuningan-West Java Regency, from July to October 2018. The method used in this research was the experimental method. The experimental design used was Randomized Block Design (RBD). This experiment consisted of 12 combinations of liquid organic fertilizer concentration and nitrogen fertilizer dosage, each of which was repeated three times, so that there were 36 experimental plots. The combination of treatments tested in the field are: A = LOF 0%, N = 67.5 kg / ha (150 kg Urea), B = LOF 0%, N = 90.0 kg / ha (200 kg Urea), C = LOF 0%, N = 112.5 kg / ha (250 kg Urea), D = LOF 15%, N = 67.5 kg / ha (150 kg Urea), E = LOF 15%, N = 90.0 kg / ha (200 kg Urea), F = LOF 15%, N = 112.5 kg / ha (250 kg Urea), G = LOF 20%, N = 67.5 kg / ha (150 kg Urea), H = LOF 20%, N = 90.0 kg / ha (200 kg Urea), I = LOF 20%, N = 112.5 kg / ha (250 kg Urea), J = LOF 25%, N = 67.5 kg / ha (150 kg Urea), K = LOF 25%, N = 90.0 kg / ha (200 kg Urea), L = LOF 25%, N = 112.5 kg / ha (250 kg Urea). The results showed that combination of liquid organic fertilizer concentration and dose of nitrogen fertilizer did not affect to all observed variables except for stem diameter at 21 DAP. There was correlation between the components of growth and the fruit weight of the crop.

Page 8 of 17 | Total Record : 169