cover
Contact Name
Siti Fatimah
Contact Email
djtech@atidewantara.ac.id
Phone
+6285298742158
Journal Mail Official
djtech@atidewantara.ac.id
Editorial Address
Jl. K.H. Ahmad Razak No.2/7, Tompotika, Wara Sel., Kota Palopo, Sulawesi Selatan 91922
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Dewantara Journal of Technology
ISSN : 27742032     EISSN : 27766764     DOI : 10.59563
Dewantara Journal of Technology (Dewantara J. Tech) adalah terbitan berkala yang dapat diakses secara terbuka dan didistribusikan secara nasional. Jurnal ini melingkupi berbagai topik dalam disiplin ilmu teknik, termasuk studi konseptual, studi teoritis dan eksperimental, instrumentasi, dan studi multidisiplin lain yang melibatkan ilmu teknik elektro, mesin, sipil, rekayasa multimedia dan rekayasa pangan. Jurnal ini bertujuan menjadi wadah untuk bertukar hasil penelitian dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu teknik. Selain itu sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan aplikasinya untuk memajukan teknologi di Indonesia. Dewantara Journal of Technology diterbitkan oleh Akademi Teknologi Industri Dewantara Palopo dalam dua kali setahun (November dan Mei).
Articles 114 Documents
Penyortiran Algoritmik dan Reproduksi Stratifikasi Sosial: Telaah Sosiologi Kritis atas Seleksi Pendidikan Berbasis Kecerdasan Buatan dan Sistem Algoritmik Fritz Hotman Syahmahita Damanik; Oman Sukmana; Husni Thamrin
Dewantara Journal of Technology Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Teknologi Industri Dewantara Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59563/djtech.v6i2.370

Abstract

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) dan sistem berbasis data telah mendorong transformasi dalam berbagai aspek pendidikan, termasuk proses seleksi masuk perguruan tinggi dan program beasiswa. Meskipun teknologi tersebut menawarkan efisiensi dan konsistensi dalam pengambilan keputusan, dampaknya terhadap keadilan akses pendidikan masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana sistem seleksi berbasis AI dan algoritma berpotensi mereproduksi stratifikasi sosial dalam pendidikan. Penelitian menggunakan metode systematic literature review (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA. Sebanyak 47 artikel yang diperoleh dari Google Scholar, Scopus, dan Web of Science dianalisis secara tematik serta dipadukan dengan analisis komparatif implementasi sistem seleksi berbasis AI dan berbasis data di enam negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma seleksi pendidikan cenderung mereproduksi ketidaksetaraan yang telah tertanam dalam data historis, terutama yang berkaitan dengan perbedaan akses pendidikan, kapital budaya, dan kondisi sosial ekonomi. Bias algoritmik tidak hanya muncul akibat keterbatasan teknis sistem, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur sosial yang menjadi sumber data dan dasar pengambilan keputusan. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan akurasi teknologi tidak secara otomatis menghasilkan keadilan dalam akses pendidikan. Oleh karena itu, pengembangan dan tata kelola AI di sektor pendidikan perlu didukung oleh prinsip transparansi, akuntabilitas, audit algoritmik, serta orientasi pada keadilan sosial guna meminimalkan reproduksi ketimpangan dalam proses seleksi pendidikan.
Identifikasi Identifikasi Parameter Model First Order Plus Dead Time (FOPDT) untuk Analisis Dinamika Proses pada Reboiler 212-V14 Unit Hydrocracker Kilang Minyak Adzra Afrina Pradata; Herry Purnama
Dewantara Journal of Technology Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Teknologi Industri Dewantara Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59563/djtech.v6i2.375

Abstract

This study aims to analyze the effect of changes in TOP V14 temperature and light key (LK) flow rate on the dynamic behavior of a fractionation column process, as well as to develop a mathematical model for designing an Advanced Process Control (APC) algorithm. The research employed an experimental approach combined with system identification to determine the process response characteristics. The results show that increasing the TOP temperature from 112°C to 128°C raises the LK flow rate from 11 to 14 flow units, with a process gain (Kp) of 0.517 and a time constant (τ) of 4.989 minutes. At the same time, the heavy key (HK) flow rate also increases from 22 to 35 flow units, with a Kp value of 0.998 and a τ value of 3.777 minutes. Although the HK response reaches its final condition relatively quickly, the presence of dead time still causes a delay in the overall process response. These findings indicate that the implementation of APC for controlling LK and HK has strong potential to enhance process performance and provide significant economic benefits.
Empirical Comparison: Analysis of Initial Set-up of BGP Dynamic Routing and Static Routing in Three Administrative Domain Network Interconnection Adelia Syavira; Ferlian Seftianto; Rahma Satila Passa; Habi Baturohmah; Trional Novanza; Redho Aidil Iqrom; Femilia Hardina Caryn; Andre Hardoni
Dewantara Journal of Technology Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Teknologi Industri Dewantara Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59563/djtech.v6i2.379

Abstract

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menentukan suatu routing untuk memilih pendekatan paling efisien dalam mengembangkan kemampuan jaringan sangat penting untuk dipelajari terlebih dahulu. Seiring berkembangnya sebuah perusahaan, kebutuhan terhadap kemampuan pengembangan jaringan juga akan meningkat. Pertumbuhan ini akan menjadi titik fokus dalam optimalisasi kinerja. Secara khusus, bagi perusahaan yang sedang merintis menuju skala jaringan yang lebih besar, tentunya memerlukan informasi yang konkret untuk mempertimbangkan jenis routing yang akan digunakan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan landasan edukatif mengenai perbandingan dua jenis routing secara sederhana dengan menyajikan informasi terkait waktu implementasi dan kompleksitas konfigurasi antara keduanya, guna membantu dalam memilih protokol yang tepat untuk mengembangkan jaringan sesuai kebutuhan. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui eksperimen langsung terhadap dua jenis routing menggunakan software Cisco Packet Tracer dan pengukuran waktu menggunakan stopwatch. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan, di mana konfigurasi Dynamic routing BGP memerlukan waktu 48,24% lebih lama dan membutuhkan jumlah perintah inti 2,5 kali lebih banyak dibandingkan Static routing. Perbedaan besar ini disebabkan oleh kewajiban konfigurasi peering session dan transit policy, yang tidak terdapat pada Static routing. Dengan hasil yang disajikan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan penting terkait pemahaman mendasar mengenai Dynamic routing BGP dan Static routing guna membantu mengoptimalkan pemilihan metode pengembangan jaringan.
Analisis Potensi Longsor Berdasarkan Karakteristik Geologi, Geometri Lereng, dan Nilai Faktor Keamanan (FoS) di Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau Sri Indriati; Erfin Elly; Ratih C F Ratumanan; Nasya Syahnur P; Rimawanto Gultom
Dewantara Journal of Technology Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Teknologi Industri Dewantara Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59563/djtech.v6i2.380

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi longsor pada daerah penelitian di Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau, berdasarkan karakteristik geologi, geometri lereng, serta nilai Faktor Keamanan (FoS). Metode yang digunakan meliputi pengamatan lapangan, analisis petrografi batuan, pengukuran geometri lereng, uji mekanika tanah, serta pemodelan kestabilan lereng menggunakan GeoStudio dan interpretasi data geolistrik Res2Dinv. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lereng memiliki tinggi 12,2 m, sudut 40°, dan panjang 19 m, dengan kondisi material berupa tanah lepas dan lapisan lempung pasiran pada kedalaman 6–9 m yang berpotensi sebagai bidang gelincir. Nilai sudut geser dalam tanah sebesar 24° mengindikasikan tingkat kepadatan yang rendah. Hasil simulasi menunjukkan nilai FoS sebesar 0,959 (<1), yang berarti lereng dalam kondisi tidak stabil dan rentan longsor. Tipe longsoran yang teridentifikasi adalah longsoran rotasi dengan bidang gelincir berbentuk cekung. Faktor penyebab utama longsor meliputi kondisi geologi berupa Formasi Wapulaka yang didominasi lempung, kemiringan lereng yang curam, peningkatan kadar air akibat curah hujan, serta aktivitas manusia seperti pembangunan jalan. Upaya mitigasi yang direkomendasikan meliputi mitigasi struktural dan nonstruktural, seperti pembangunan infrastruktur penahan lereng, penyusunan peta rawan bencana, serta peningkatan kesadaran masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan dan pengurangan risiko bencana longsor di wilayah penelitian.

Page 12 of 12 | Total Record : 114