cover
Contact Name
SYUKRI ALFAUZI HARLIS
Contact Email
syukrialfauzi@uinib.ac.id
Phone
+6281287883493
Journal Mail Official
al-aqidah@uinib.ac.id
Editorial Address
Kampus Lubuk Lintah, Jln. Prof. Mahmud Yunus padang
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
JURNAL AL-AQIDAH
ISSN : 20860439     EISSN : 27464830     DOI : -
AL-AQIDAH contains the results of research on Philosophy, Islamic Philosophy and Thought . The main focus of the Jurnal includes: 1. Philosophy, 2. Islamic Philosophy, 3. Islamic Thought, 4. Theology, 5. Islamic theology, 6. Sufism.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 98 Documents
RESPONDEO ERGO SUM : BELAJAR TANGGUNG JAWAB DARI LEVINAS Elfi, Elfi
JURNAL AL-AQIDAH Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.688 KB) | DOI: 10.15548/ja.v10i2.2203

Abstract

Abstrak : Masalah utama dalam tulisan ini adalah  relasi antar sesama manusia seharusnya didasari oleh suatu tanggungjawab bukan sekedar  kewajiban etis saja. Karena tanggung jawab dapat  menjadi dasar bagi pertanggungjawaban kepada Tuhan.  Untuk mewujudkan ini Levinas berangkat dari analisisnya tentang peranan subjek yang bersifat totalitas. Semuanya harus ditentukan subjek. Padahal sesungguhnya, objek yang selama ini terabaikan dapat membuat subjek menjadi ada. Subjek ditentukan objek. Objek membuat subjek menjadi ada, objek membuat subjek  bertanggung jawab. Hasilnya, Levinas mampu mengangkat posisi objek yang terabaikan itu menjadi sentral. Objek itu adalah yang lain selain subjek. objek bisa berbentuk manusia atau lainnya. Namun yang dimaksud objek  di sini adalah manusia, orang lain, wajah dalam keberlainannya.Kata kunci : Tanggung Jawab
MULTI KULTURALISME AKAR RUMPUT Analisis terhadap Pandangan Anggota Majelis Taklim Aisyiah Kota Padang Rais, Za'im
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.369 KB) | DOI: 10.15548/ja.v11i1.910

Abstract

For centuries multiculturalism has been part and parcel of Minangkabau tradition. It colours and shapes every aspect of life of the Minangkabau society. This study attempts to explore how members of an Aisyiah Padang Branch Majelis Ta’lim view multicularism and how they reflect it in turn in social life. Multiculturalism in this study is defined limitedly as a religious group’s view over the existence of the other religious schools and the different religious groups. It is important therefore to examine in more details the Aisyiah Majelis Ta’lim members’ perspective over the existence of different religious schools and different religious groups.  Based on this analysis, it is also urgent to disclose how the members tolerate and pay due respect to those different religious schools and different religious groups. Finally, the study seeks to elaborate the members’ attitude in building interaction and cooperation in social life among different religious schools and different religious groups. Qualitative approach is used in this research, data is mainly collected through depth interview with members of the Aisyiah Majelis Ta’lim. This research shows that, according to the Aisyiah Mejelis Ta’lim members, differences in religious interpretations and religious groupings are inevitably very natural.  While doing their best to always defend carefully their own interpretation and belief, in social life they feel welcome to those different groups. In their opinion, differences in religious interpretations and groupings must always be tolerated and respected. Interaction and cooperation among different religious schools and religious groupings in social life, according to the members, is also necessary.
PARADIGMA KEILMUAN UMAT ISLAM Wahyuni, Dwi
JURNAL AL-AQIDAH Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.604 KB) | DOI: 10.15548/ja.v12i1.1568

Abstract

Kemajuan sains dan teknologi yang terus dikembangkan dan diperbaharui di Barat, memberikan dampak langsung bagi bangsa muslim. Ini menyadarkan bangsa muslim akan pentingnya sains dan teknologi tesebut. Ketika bangsa muslim harus dihadapkan kepada persoalan yang berbeda. Barat telah menuntaskan pertentangan antara visi sekuler dari sains dan visi religius dari agama. Celakanya, Barat memilih untuk menyampakkan agama. Hingga kini masih terjadi perdebatan yang berkepanjangan, patutkah muslim meninggalkan warisan agama semata demi keperluan sains dan teknologi, sebagaimana yang terjadi di Barat. Paradigma ilmiah yang telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an ternyata tidak berbeda jauh dengan epistemologi modern mengenai sains dan teknologi yang telah dikenal sekarang ini. Sejak berabad lalu Al-Qur’an mendeteksi pentingnya sinergitas antara Empirisme (as-sam’ dan al-abshar) dan Rasionalisme (Al-Af’idah). Umat Muslim masa kini perlu segera menyadari kenyataan bahwa sains dan teknologi adalah bagian integral dari Islam, selain juga berarti warisan untuk seluruh umat manusia.
MENGKAJI KLONING MANUSIA DARI PERSPEKTIF HUKUM KODRAT Fadri, Zainal
JURNAL AL-AQIDAH Vol 12, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.469 KB) | DOI: 10.15548/ja.v12i2.2274

Abstract

Cloning has become a hot topic since technology activists in the field of genetics explained the results of their research that the reproductive process can occur with the help of technology. People have taken advantage of the results of this technology, although the debate about its use in humans is still not a comprehensive concept. This study aims to assess the extent to which the human cloning program is viewed from natural law, considering that cloning is an activity to bring back humans who have died. The method used in this research is literature review with a holistic analysis of the natural law view of human cloning. The results of this research indicate that the human cloning program is returned to the beneficiaries of this program and is fully responsible for the decisions taken 
VERTIKALITAS HISTORIS SEBAGAI BASIS FILSAFAT SEJARAH DALAM PERSPEKTIF MISTISISME IBNU ARABI Putra, Andri Azis
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.248 KB) | DOI: 10.15548/ja.v11i1.905

Abstract

Narasi historis lahir bersamaan dengan perbuatan dan peristiwa sejarah, sehingga juga berhubungan secara langsung dengan keberadaan manusia. Di satu sisi, hubungan langsung dengan manusia ini kemudian menciptakan klaim gerak sejarah horizontal. Sementara di sisi lain, kondisi kemanusiaan justru menjadi rumit disebabkan munculnya kemestian objektif atas gerak yang horizontal itu sendiri. Problema horizontalitas dan objektivitas ini memantik asumsi bahwa gerak vertikalitas diperlukan sebagai pembanding berkorelasi dengan nilai subjektif. Permasalahan ini akan dibahas dari perspektif alur gerak sejarah sebagai bagian dari Filsafat Sejarah, khususnya terhadap aspek spekulatif. Penelitian ini dilakukan tanpa berusahan menafikan bahwa persoalan nilai subjektif dan aspek spekulatif rentan dengan potensi masalah. Oleh karena itu, ajaran mistisisme sebagai sebuah tradisi pemikiran yang tua bercorak spiritual, subjektif, dan terbuka perlu didaulat sebagai pisau analisis utama. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan metode hermeneutis-filosofis berlandaskan atas unsur-unsur metodis deksripsi, kesinambungan historis, induksi-deduksi, bahasa inklusif dan heuristika. Besarnya lingkup pembahasa membuat penelitian ini melibatkan beberapa disiplin keilmuan, seperti ilmu sejarah, ilmu sosial dan politik, aksiologi, dan tasawuf, religiusitas. Penelitian ini menunjukkan bahwa gerak sejarah tidak mungkin horizontal dan objektif. Bahkan objektivitas di dalam sejarah merupakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi karena gerak sejarah haruslah bersifat integral dan universal serta tidak boleh tunduk pada satu dominasi yang bersifat partikular. Mistisisme melalui ide vertikalitas-historis yang digerakkan oleh konsep Ketunggalan mampu menjawab beberapa keraguan utama mengenai arah gerak sejarah. Skema vertikalitas dalam sejarah ini merupakan sintesis atas dialektika yang terbangun di dalam pembahasan alur-alur kajian sejarah. Terutama sekali untuk menutup pintu perdebatan mengenai kepastian gerak sejarah yang selama ini ditekankan kepada eksistensi manusia saja. Vertikalitas-historis menjadi satu poin penting yang dapat juga digunakan sebagai inti dari Filsafat Sejarah mistis.  
WACANA MARTABAT TUJUH DI JAMBI Muzakir, Ali
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (853.334 KB) | DOI: 10.15548/ja.v11i2.1423

Abstract

Memasuki abad ke-17 merupakan periode yang normatif bagi pembentukan pikiran dan praktik tasawuf dan tarekat. Guru-guru sufi terlibat aktif tidak hanya dalam mengintelektualisasi berbagai disiplin ilmu-ilmu keislaman tetapi juga gerakan reformasi praktik-praktik tasawuf yang harmonis dengan akidah dan syari’ah. Tulisan ini menganalisis karya-karya ulama Jambi yang turut merespon doktrin-doktrin tasawuf yang dipandang rumit tersebut. Pendekatan kajian ini adalah bersifat kronologi pemikiran tentang doktrin martabat tujuh dari sejak awal diperkenalkan hingga penyebarannya. Dalam konteks pemikiran Islam di Indonesia, kajian tentang ulama-ulama Jambi masih sangat jarang. Untuk itu, tulisan ini akan mengungkap beberapa karya ulama Jambi baik yang masih dalam bentuk manuskrip maupun cetak yang belum banyak dikenal. Tujuannya adalah sebagai teropong untuk melihat seberapa besar pengaruh pemikiran Islam dari pusat-pusat wacana Islam (the center of Islamic discourse), seperti Aceh, Palembang, dan Minangkabau, terhadap wilayah-wilayah lainnya di Indonesia. Keywords: Tasawuf,  Tarekat, Martabat Tujuh, Zayn al-Jambi
KESADARAN POLITIK BERKETUHANAN SEBAGAI DASAR UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT INDONESIA Putra, Andri Azis; Kuswanjono, Arqom; Munir, Misnar
JURNAL AL-AQIDAH Vol 12, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.913 KB) | DOI: 10.15548/ja.v12i2.2269

Abstract

Welfare is one of the significant problems in human life. All aspects of human life politically will always be related, both as elements and indicators of welfare conditions. Consequently, the state is an organization and authority that can provide a measure and effectively regulate all efforts in the realization of people's welfare. However, practically "people's welfare" in Indonesia is still in a quarrel state with the targets-setting. This research is library research with a hermeneutic-philosophical approach. Political Theology, as a branch of the Philosophy of Religion, will be used as the primary approach by involving methodical elements that are balanced and consistent with research. Additionally, the involvement of other scientific disciplines such as political philosophy, social philosophy, and economics will enrich this research. This research shows that the efforts carried out to realize the welfare of the people is dominantly incompatible with the needs of the subjects receiving welfare facilities. The source of this problem is relying on the perspective of governmental values. New awareness and responsibility are needed to build a structure with a divine and human nature. This awareness arises as an implementation form of worship to God and also responsibility for that worship to fellow human beings.
THE HISTORY OF KHILAFIAH IN INDONESIA Wisliy, Wisliy
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.906 KB) | DOI: 10.15548/ja.v11i2.1418

Abstract

The appearing Khilafiah in Indonesian Islamic History because of the side opinion of Ulama – Moslem Theologian – in using a nash as be an evidence in distinction of the rule of figh usage. It’s always influenced by the time and the condition, for instance among modernists and traditionalists acknowledge al Qur’an and as Sunnah are interpretable; while it’s also insisted by the aspect of government’s  politics as a need such as it’s happening until today. This writing uses the method of library research by using historical and content analysis approach. Key word : Khilafiah, Theology, Decision, Politics.
Re Thinking of Islamic Thought: MODERATION OF ISLAM IN ARTS PERFORMANCE Jamaldi, Jamaldi
JURNAL AL-AQIDAH Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.478 KB) | DOI: 10.15548/ja.v10i2.2204

Abstract

Abstract :        The aims of the study: (1) Describe the values of Indonesiaan instilled in boarding school. (2) Describe the moderation of Islam that respects differences in pesantren (Islamic Boarding School). (3) Describes the relationship between growing Indonesianan values in pesantren with the moderation of santri who uphold the dignity of humanity personally and socially sovereign humanity. This study used a quantitative approach. The research found: (1) The values of the Indonesian-owned santri (students) pertained high. (2) The moderation attitudes of the santri are high. (3) There is a relationship between the understanding of Indonesian-owned santri with Islamic moderation developed pesantren. Conclusion: Pesantrens are also agents of change of thought, especially the planting of Indonesian values. Then at the same time pesantren also penumbuhkembangan moderasi Islam tolerant, cooperate, mutual respect so as able to build moderate Islam in the middle of society, in realizing harmonization in social life. Keyword : Islam Kean Indonesiaan, Moderation, Pesantren and Harmony Society.
KEUDUKAN PEREMPUAN MINANGKABAU DALAM PERSPEKTIF GENDER Nurman, Silmi Novita
JURNAL AL-AQIDAH Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.196 KB) | DOI: 10.15548/ja.v11i1.911

Abstract

Tulisan ini mengkaji bagaimana kedudukan perempuan Minangkabau dalam perspektif gender. Perempuan Minangkabau memiliki kedudukan yang sangat istimewa yaitu sebagai bundo kanduang atau dalam istilah adat: limpapeh ruumah nan gadang. Karena perempuan memiliki kuasa maka ia memiliki peran yang sama dengan laki-laki termasuk pengambilan keputusan dalam keluarga. Namun, hal tersebut berlaku ketika dia sudah menikah, sudah mejadi istri atau ibu, selagi ia masih gadis, maka ia diatur oleh laki-laki yaitu mamak. Demikian juga dalam pola mengurus anak. Dalam mengurus anak, perempuan memiliki peran yang penting, tetapi berbanding terbalik dengan ayah bahkan hampir tidak memiliki peran sama sekali. Dan sebagai bundo kanduang, perempuan Minangkabau memiliki keterlibatan dalam menyelesaikan segala persoalan yang ada dalam masyarakat, jika tidak kata bundo kanduang, maka keputusan tidak dapat disahkan.

Page 2 of 10 | Total Record : 98