Articles
417 Documents
Khataman Qur’an Pra-Acara Alako Gebhai Desa Grujugan, Sumenep, Media Untuk Menangkal Bala’ Dan Memperoleh Berkah
HERMENEUTIK Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i2.6354
This paper to dercribe the practice of khataman Qur'an in the Pra-Acara Alako Gabhai tradition practiced by Grujugan, Sumenep, Madura island society ethnographically, in order to find its meaning. Based on the interpretation (Externalization, Objectification, and Internalisation) of cultures theory found out that interpreted the Grujugan society recognizes the concepts that are based on the religious basis, which has ultimate meaning as a way to get the salvation and blessings. These concepts were then believe as the true and real, which then formulated into various syimbols in the Grujugan tradition. These symbols have the full meaning that returns to those concepts and suggested living traditions or action tradition, which is delivered persuasively by Kyai. Through those concepts people were then motivated to perform khataman Qur'an in the Pra-Acara Alako Gabhai tradition. The practice of this tradition was able to create reseption and moods of a person, which then reflected into the daily life, felt as if to justify the existing concepts, so that the feeling is uniquely realistic
STUDI KRITIS TERHADAP IDE KHALED ABOU AL- FADL DALAM SPEAKING IN GOD’S NAME
HERMENEUTIK Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.887
Penulisan artikel ini dilatarbelakangi adanya pemikiran Khaled Abou el-Fadl yang menjadi kontrovesi di belahan dunia Islam. Abou el-Fadl banyak membincang tentang ide munculnya komunitas mufassir. Tujuan penulisan ini mengungkap lebih lanjut tentang asal-usul munculnya pemegang otoritas makna al-Qur’an atau kemudian populer dengan istilah komunitas mufassir dengan mengungkap gagasan yang ada di balik tulisan Khaled Abou El-Fadl dalam sebuah karyanya yang berjudul Speaking in God ‘s Name: Islamic Law, Authority, and Women. Secara berturut-turut akan dibahas tentang potret hidup khaled, profi karya Speaking in God ‘s Name, manusia sebagai khalifah, otoritas dan otoritarianisme, mufassir sebagai pemegang otoritas makna al-Qur’an. Hasil dari penulisan artikel ini adalah manusia sebagai khalifah idealnya mampu menafsirkan dalam upaya membreakdown kehendak, keinginan, aturan, ataupun instruksi Allah yang telah terangkum dalam kitab suciNya, al-Qur’an, untuk memakmurkan penghuni seluruh alam semesta. Kenyataannya sebagian manusia tidak mempunyai kemampuan ataupun kesempatan untuk melaksanakan tugas penafsiran tersebut sehingga sebagian manusia melimpahkan tugas dan wewenang ini pada sebagian manusia yang lain yang dianggap expert karena memiliki kompetensi di bidang ini yakni mufassir. Sebagian manusia yang melimpahkan tugas dan wewenang percaya dan yakin jika mufassir yang menerima limpahan telah memenuhi kejujuran (honesty), kesungguhan (diligence), pengendalian diri (self restraint), kemenyeluruhan (comprehensiveness), rasionalitas (reasonableness).
Fungsi Asbabun Nuzul Dalam Tafsir Maroh Labid
HERMENEUTIK Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5542
Diskursus asba>b al-nuzu>l merupakan diskursus yang tidak dapat ditinggalkan dalam kajian ‘ulu>mul qur’an. Terdapat 3 pandangan besar mengenai urgensi diskursus tersebut, yaitu 1) yang mengatakan bahwa mengetahui asba>b al-nuzu>l merupakan alat bantu dalam memahami makna al-Qur’an; 2) yang mengatakan bahwa mengetahui asba>b al-nuzu>l merupakan hal yang sia-sia dan sama halnya dengan membatasi pesan-pesan al-Qur’an dalam ruang dan waktu; 3) yang mengatakan bahwa mengetahui asba>b al-nuzu>l merupakan keharusan.Dalam konteks karya tafsir Nusantara, salah satu tafsir yang menggunakan uraian asba>b al-nuzu>l ialah kitab tafsir Mara>h} Labi@d karya Syaikh Nawawi@ al-Bantani@. Dalam tafsirnya tersebut, khusus dalam surah al-Baqarah, terdapat 42 uraian asba>b al-nuzu>l. Sebagai contoh dalam Q.S. 2:115, uraian asba>b al-nuzu>l digunakan Syaikh Nawawi@ al-Bantani@ untuk menjelaskan dan menentukan makna ayat tersebut. Selain itu, terdapat juga upaya memberikan gambaran konteks makro ayat dan mengkontekstualisasikannya sesuai kondisi masyarakat sekarang. Penelitian ini akan dibagi ke dalam tiga analisis, yaitu berdasarkan tema, fungsi, dan ta’addud al-riwa>ya>t. Penelitian ini menggunakan klasifikasi fungsi asba>b al-nuzu>l oleh al-Zarqa>ni@. Penelitian ini difokuskan pada uraian asba>b al-nuzu>l dalam tafsir Mara>h} Labi@d khususnya dalam surah al-Baqarah.
METODE TAFSIR INKLUSIF: Upaya Membedah Eksklusivitas Interpretasi Al-Qur’an
HERMENEUTIK Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.911
Artikel ini membahas tentang metode inklusif, yaitu sebuahmetode penafsiran yang menghasilkan produk penafsiran yangterbuka terhadap segala persolan dinamika sosial. Tujuannyaadalah untuk memberikan respon atas kebutuhan masyarakatterhadap berbagai penyelesaian problematika kehidupan sosialyang memiliki nilai-nilai flksibilitas dalam melihat persoalan.Tulisan ini menggunakan metode historis untuk membedahberbagai persoalan penafsiran. Sehingga mendapatkan suatu hasilproduk penafsiran yang mencerahkan di tengah-tengah pluralitaskehidupan sosial keagamaan. Hal ini sangat penting mengingatbangsa Indonesia adalah salah satu negara yang sangat terkenaldengan kemajemukannya. Inklusifias penafsiran diperlukanuntuk menetralisir segala bentuk hasil penafsiran yang eksklusiftekstualis yang dapat merusak keharmonisan kehidupan yangpluralis.
Dialektika Tafsir Media Sosial di Indornesia : Studi Penafsiran Nadirsyah Hosen di Media Sosial
HERMENEUTIK Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.5200
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan interpretasi Alquran Nadirsyah Hosen dalam media sosial terutama Facebook yang secara dialektis terlibat dengan penerjemah lain di ruang cyber. Penggambaran penafsiran Nadirsyah Hosen akan menggambarkan bentuk perbedaan, bukan offline. Hal ini dapat dilihat melalui QS al-Nisa (4): 139 misalnya pada awal tahun 2017 Hosen belum dewasa memperlakukannya sebagai alat politik khususnya terhadap pemilihan umum (Pilkada). Menangkap pos, Alfitri sebagai salah satu pengguna Facebook memberikan tanggapan langsung yang meliputi penolaknnya. Alfitri secara umum menjelaskan tentang sepuluh tafsir klasik untuk megkritik tulisan Hosen, sehingga ia menyatakan bahwa pemahaman Hosen pada QS al-Nisa (4: 139) terlalu banyak pengurangan. Selanjutnya Hosenpun menyatakan bahwa Alfitri tidak mengerti dengan baik tentang wacana. Dialektika ini hanya terjadi dalam lima hari dari 20 hingga 25 Februari. Kecepatan angak tersebut tidak akan pernah terjadi dalam penafsiran offline meskipun para aktor berasal dari latar belakang yang berbeda : Alfitri adalah magister pendidikan Islam dan Hosen adalah profesor hukum. oleh karena itu, saya tertarik untuk menyelami lebih dalam bagaimana dialektik pemahaman Hosen terhadap Alquran di akun Facebooknya, siapa khalayaknya, latarbelakang mereka, konteks tertentu dan jenisnya. Artikel ini berpendapat bahwa kemunculan dialektika itu unik, tidak diprediksi, tertutup bagi kepalsuan dan cenderung dikerjakan demi kepentingan individu.
EPISTIMOLOGI TAFSIR SYU’BAH ASA
HERMENEUTIK Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.876
Epistemologi tafsir merupakan disiplin ilmu yang berusaha untuk mengungkap pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang teori ilmu pengetahuan tentang tafsir. Bagaimana sebuah karya tafsir dapat diuji kebenarannya berdasarkan norma epistemik. Artikel ini mencoba mengeksplor karya tafsir Syu’bah Asa merupakan salah satu karya dari sederet karya-karya tafsir kontemporer yang lahir di zaman orde baru. Arah visi, gerakan dan wacana yang dikembangkan tafsir ini telah memberikan muatan kritis dan perlawanan terhadap zaman orde baru. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan metode deskriptis analitis mengungkap epistemologi tafsir karya Syu’bah Asa, yang berjudul Dalam Cahaya al-Qur’an : Tafsir Ayat-Ayat Sosial Politik. Dalam menulis karya tafsirnya, Syu’bah Asa menggunakan metode tematik. Tema-tema yang diangkat adalah tema-tema yang aktual dan faktual sesuai dengan peristiwa yang terjadi saat tafsir itu ditulis. Sumber tafsir yang digunakannya sangat beragam seperti sumber al-Quran, hadis, a > sbab an-nuzu > >l, ijtihad mufassir, kitab-kitab tafsir klasik seperti al-Kasysyaf karya al- Zamakhsyari, Mafa>tih} al-G} aibkarya Fakhruddin ar-Ra>zi, tafsir al-Baidawi beserta kitab-kitab tafsir lainnya. Syu’bah Asa juga merujuk pendapat para ulama> dalam hal kebahasaan dan qiraat.. Sumbangan paling berharga > Syu’bah Asa dalam karya tafsirnya adalah sikapnya yang kritis pada pemerintahan orde baru dalam petunjuk cahaya al-Quran sehingga terwujud masyarakat Indonesia yang madani dan diridhai Allah.
Pardigma Tafsir Amali : dari Teosentris ke Antroposentris
HERMENEUTIK Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i2.12891
AbtrakPenelitian ini berusaha menyuguhkan paradigma baru dalam khazanah tafsir yaitu tafsir amali (terapan). Tafsir ini merupakan salah satu varian dari tafsir kontemporer di mana validitas dan caorak tafsirnya adalah empiris di lapangan. Metode penelitan yang digunakan adalah studi pustaka yaitu menghimpun berbagai jenis literatur yang terkait dengan tafsir amali kemudian dianalisis dan diformulasikan. Tafsir amali adalah turunan dari gagasan Islam terapan karya Muslim A. kadir, Guru Besar filsafat Islam IAIN Kudus. Paradigma amali berusaha menggeser nilai-nilai teosentris dalam al-Qur’an menuju wilayah antroposentris. Tafsir amali adalah paradigma yang menggali nilai-nilai kandungan al-Qur’an yang didialogkan dengan wilayah empiris. Hasil dialog tadi menghasilkan rumusan yang disebut dengan code of conduct dalam berperilaku. Rumusan code of conduct ini-lah produk dari tafsir amali. Adapun contoh dari tafsir amali adalah kajian pada ayat-ayat al-Qur’an yang terkait dengan lingkungan yaitu dengan menelusuri kata kunci manusia, rusak dan ihsan dalam al-Qur’an dengan bantuan mu’jam adapun hasilnya adalah sebagai berikut: Manusia haram melaksanakan kerusakan ekologis (al-Araf/7: 56/ al-Rum/30: 41) dan standar perilakunya (code of conduct) adalah tidak melaksanakan berbagai macam kegiatan pencemaran lingkungan. Manusia diberikan mandat sebagai pemelihara ekosistem bumi (Hud/11: 61) adapun standar perilakunya (code of conduct) adalah menjaga keberlanjutan flora dan fauna dari kepunahan. Manusia diperintahkan berbuat baik ihsan pada lingkungan (Q.S. an-Nahl/16:90) adapun standar perilakunya (code of conduct) adalah memanfaatkan alam namun juga menjaganya dengan menanam (konservasi) sehingga terjaga keberlanjutannya. Kata Kunci : antroposentris, code of conduct, tafsir amali, teosentris, AbstractThis study aims to present a new paradigm in the world of interpretation that is amali (applied) interpretation. This interpretation is one of the variants of contemporary interpretations where the validity and style of interpretation is empiric in the field. The research method used is literature study, which is collecting various types of literature related to amali interpretations then analyzed and formulated. Amali interpretation is a derivative of the idea of applied (amali)Islam by Muslim A. Kadir, Professor of Islamic philosophy at IAIN Kudus. amali paradigm tries to shift the theocentric values in the Qur'an to the anthropocentric space. Amali interpretation is a paradigm that explores the values of Qur'an in dialogue with the empirical zone. The results of the dialogue resulted in a formulation called the code of conduct in behaving. The formulation of code of conduct is the product of amali interpretation. An example of application an amali interpretation is a study of Qur’anic verses related to the environment by tracing the keywords human, damaged and ihsan in the Qur'an with the help of mu'jam and the results are as follows: Humans are forbidden to carry out ecological damage (al-Araf/7: 56/ al-Rum/30: 41) and the standard of behavior (code of conduct) is not to carry out various kinds of environmental pollution activities. Humans are given a mandate as custodians of the earth's ecosystem (Hud/11:61) while the standard of behavior (code of conduct) is to maintain the sustainability of flora and fauna from extinction. Humans are ordered to do good deed ihsan to the environment (Q.S. an-Nahl/16:90) while the standard of behavior (code of conduct) is to use nature but also to protect it by planting (conservation) so that its sustainability is maintained. Keywords: anthropocentric, code of conduct, amali interpretation, theocentric,
HERMENEUTIKA MUHAMMAD SYAHRUR (Telaah tentang Teori Hudud)
HERMENEUTIK Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.1636
AbstrakKajian ini bertujuan untuk memahami hermeneutika Muhammad Syahrur yang dikenal dengan teori hudud atau teori limit. Hal ini bertujuan untuk menawarkan gagasan-gagasan baru dalam metodologi pemahaman terhadap al-Qur’an. Melalui teori limit, Syahrur ingin melakukan pembacaan ayat-ayat muhkamat secara produktif dan prospektif (qira’ah muntijah), bukan pembacaan repetitif dan restrospektif (qira’ah mutakarrirah). Dan dengan teori limit juga, Syahrur ingin membuktikan bahwa ajaran Islam benar-benar merupakan ajaran yang relevan untuk tiap ruang dan waktu. Syahrur berasumsi, kelebihan risalah Islam adalah bahwa di dalamnya terkandung dua aspek gerak, yaitu gerak konstan (istiqamah) serta gerak dinamis dan lentur (hanifiyyah). Sifat kelenturan Islam ini berada dalam bingkai teori limit yang oleh Syahrur dipahami sebagai the bounds or restrictions that God has placed on mans freedom of action (batasan yang telah ditempatkan Tuhan pada wilayah kebebasan manusia).Kata kunci: hermeneutika, Syahrur, teori hudud. AbstractThis study aims to understand the hermeneutics of Muhammad Syahrur known as the hudud theory or the theory of limits. It aims to offer new ideas in the methodology of understanding the Qur'an. Through the theory of limits, Shahrur wanted to read the verses of muhkamat productively and prospectively (qira'ah muntijah) instead of repetitive and restrosive (qira'ah mutakarrirah). And with the theory of limits as well, Syahrur wants to prove that the teachings of Islam really are relevant teachings for every space and time. Syahrur assume, the excess message of Islam is that it contains two aspects of motion, namely constant motion (istiqamah) and dynamic and flexible motion (hanifiyyah). The nature of this Islamic flexibility lies within the frame of the theory of limits which Syahrur understands as the bounds or restrictions that God has placed on mans freedom of action (the limitation that God has placed on the domain of human freedom).Keywords: hermeneutics, Syahrur, the hudud theory.
Kode Etik Tata Kelola Laut Dalam Al-Qur'an
HERMENEUTIK Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.3909
Urgensi Pendekatan Hermeneutik Dalam Memahami Al-Qur’an
HERMENEUTIK Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i2.7916
The way to understand the Qur'an and understand the meaning or content in the Qur'an is to understand the editorial of the Qur'an directly. In this way, we will be able to feel (tadzawwuq) the pulses of the Qur'an's description that are so beautiful and charming. However, because not all Muslims are able to understand the editorial of the Qur'an directly it needs to be translated into other languages. This understanding of the Qur'an uses the study of the hermeneutic method which is from time to time has experienced significant developments in qualitative research, including being a stream of philosophical science and applied in the humanities (social humanitarian) sciences, namely "interpretive flow". The purpose of this study is that translators are required to know the material being translated well. If the translated verse is related to legal matters, then the intricacies of the legal issues must be known. If it is not, some errors can occur in the translation. To get closer to the truth, a translator of the Qur'an needs to see and examine the interpretive books. If there are several understandings of one verse, then he has a literal translation meaning, namely a translator is faced with a narrow choice, therefore he only takes one meaning from the many meanings available. If there are several understandings of one verse, then it has a literal translation meaning, that is, a translator is faced with a narrow choice, therefore he only takes one meaning from the many existing meanings. So the findings of this study are the recognition that each language has its own specifications which cannot be found in other languages. Therefore, it is not possible for one translation to match one hundred percent of what the first speaker wants. This is the object of many to the literal translation of the Qur'an.