cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 223 Documents
Kontribusi Ibnu Mujahid dalam Ilmu Qira’at Fathurrozi, Moh; Fahimah, Rif’iyatul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.17641

Abstract

Ilmu Qira’at merupakan bagian dari ilmu Al-Qur’an yang membahas tentang tata cara serta ragam perbedaan bacaan lafal Al-Qur’an yang disandarkan kepada perawi yang mentransmisikannya. Keberadaan ilmu ini sangat urgen untuk mempermudah umat Islam dalam membaca dan memahami Kalamullah. Pada permulaan turunnya, Al-Qur’an hanya dibaca menggunakan satu huruf, kemudian atas kemurahan Allah, dijadikan menjadi tujuh huruf. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, tersebar banyak sekali qira’at yang tidak shahih sehingga para ulama berupaya untuk memilih dan memilah qira’at yang sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw. Di antara ulama tersebut adalah Ibnu Mujahid yang menjadi pioneer dalam meneliti qira’at yang shahih dengan menetapkan beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang Imam qira’at. Hinggakemudianiamenetapkantujuh Imam qira’at yang menurutnya sesuai dengan criteria tersebut. Ketujuh Imam tersebut adalah Imam Nafi’ bin Abdurrahman, Imam Abdullah bin Katsir, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala’ Al-Bashriy, Imam Abdullah Ibnu AmirAl-Syamiy, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy, Imam Hamzah bin Al-Zayyat, dan Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i. Jerih payah Ibnu Mujahid dalam menghimpun qira’at-qira’at yang shahih sangat diapresiasi oleh para ulama dan ummat Islam pada umumnya hingga dijadikan bahanrujukan ulama-ulama setelahnya. Namun, terdapat pula pihak yang tidak sepakat dengan penetapan tersebut, terutama yang berkaitan dengan penetapan Imam yang ketujuh yaitu Imam Al Kisa’i. Di antara yang tidak sepakat adalah Imam Makki yang berpendapat bahwa Imam Ya’qub lebih berhak untuk dijadikan Imam ketujuh. Ia menganggap penetapan yang dilakukan Ibnu Mujahid tidak fair dan mengandung unsure politik. Akan tetapi anggapan tersebut dibantah oleh Ibnu Mujahid dengan menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang menjadikan qira’at Imam Ya’qub tidak termasuk dalam kategori kriterianya. Pertama, karena transmisi sanadnya yang rendah. Beliau membaca kepada Salam bin Sulaiman, dan Salam membaca kepada Imam Ashim. Kedua, karena di antara bacaannya keluar dari bacaan mayoritas. Buah pemikiran Imam Mujahid ini memunculkan opini pada masyarakat awam bahwa tujuh qira’at yang ia pilih merupakan representasi dari ungkapan “ahrufsab’ah”. Padahal faktanya tidak demikian. Namun hal ini justru memberikan dampak positif yang mampu memacu ulama selanjutnya untuk berkarya dalam ilmu qira’at.Contribution of Ibn Mujahid in the Science of Qira'at. The science of Qira'at is part of the science of the Qur'an, which discusses the procedures and the differences in the recitation of the Qur'an, which are based on the narrator who transmitted it. The existence of this knowledge is very urgent to make it easier for Muslims to read and understand the Kalamullah. At the beginning of its descent, the Koran was only read using one letter; then, by the grace of Allah, it was made into seven letters. However, over time, many qira'at needed to be more authentic, so the scholars tried to choose and sort out qira'at that followed the teachings of the Prophet Muhammad. Among these scholars was Ibn Mujahid, who began researching authentic qira'at by establishing several criteria a qira'at Imam had to have. Until then, he determined seven qira'at Imams who according to him, fit these criteria. The seven Imams are Imam Nafi 'bin Abdurrahman, Imam Abdullah bin Katsir, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala' Al-Bashriy, Imam Abdullah Ibn Amir Al-Syamiy, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufiy, Imam Hamzah bin Al-Zayyat, and Imam Ali bin Hamza Al-Kisa'i. The efforts of Ibn Mujahid in compiling authentic qira'ats were highly appreciated by the scholars and the Muslim community in general, so they were used as reference material for subsequent scholars. However, some parties disagree with this determination, especially about the determination of the seventh Imam, namely Imam Al Kisa'i. Among those who disagreed was Imam Makki, who argued that Imam Ya'qub had more right to be made the seventh Imam. He considered that the determination made by Ibn Mujahid was unfair and contained political elements. However, this assumption was refuted by Ibn Mujahid by stating that two factors made Imam Ya'qub'sqira'at not included in the category of criteria first because of its low transmission. He read to Salam bin Sulaiman, and Salam read to Imam Asim, second, because among the readings out of the majority reading. The fruit of Imam Mujahid's thoughts gave rise to the general public's opinion that the seven qira'ats he chose represented the expression "ahrufsab'ah." This is not the case. However, this positive impact can spur subsequent scholars to work in the science of qira'at.
Ginger (Zanjabil) in the Perspective of Classical Interpretation, Modern Interpretation, and Herbal Medicine Atabik, Ahmad
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v17i1.19898

Abstract

This research examines the scientific miracles of ginger (zanjabil) in the Qur'an combined with the interpretation of classical scholars about ginger in Qs. Al-Insan: 17-18. The method used in this study uses library research based on data from classic commentary books, scientific interpretations, and various research journals on ginger. The finding of this paper is that ginger in the treasures of classical interpretation is a dish for the inhabitants of heaven mixed with salsabil spring water so that it becomes a ginger drink. The interpretation of classical interpreters is normative based on linguistic aspects and the text's literal meaning. While modern interpreters scientifically interpret ginger as a highly nutritious food and beverage ingredient because it contains shogaol, gingerol, zingiberene, and zingerone. Therefore ginger can be used as herbal medicine to cure various internal diseases. Several scientific research findings suggest that ginger can treat pain, inflammation, and digestive disorders, relieve nausea and vomiting, boost immunity, maintain heart health, and improve brain function. The contribution of this paper shows that strengthening scientific argumentation against an object mentioned by the Qur'an has unique features. Jahe (Zanjabil) dalam Perspektif Tafsir Klasik, Tafsir Modern, dan Pengobatan Herbal. Penelitian ini mengkaji tentang mukjizat ilmiah jahe (zanjabil) dalam al-Qur’an yang dipadukan dengan penafsirkan ulama klasik tentang jahe dalam Qs. al-Insan: 17-18. Metode yang ditempuh dalam penelitian ini menggunakan liberary research berdasarkan data-data dari kitab tafsir klasik, tafsir ilmi dan pelbagi jurnal penelitian tentang jahe. Temuan tulisan ini adalah jahe dalam khazanah tafsir klasik merupakan hidangan bagi penduduk surga dengan dicampur mata air salsabilsehingga menjadi minuman jahe. Penafsiran penafsir klasik terbilang normatif didasarkan pada aspek linguistikdan makna literal teks. Sementara penafsir modern secara saintifik menafsirkan jahe sebagai bahan makanan dan minuman yang berkhasiat tinggi karena mengandung shogaol, gingerol, zingiberen dan zingeron. Sebab itu jahe bisa dijadikan sebagai obat herbal untuk menyembuhkan pelbagai penyakit dalam. Beberapa temuan penelitian sains menyebut jahe dapat digunakan untuk mengobati rasa sakit dan peradangan, gangguan pencernaan, meredakan mual dan muntah, meningkatkan kekebalan tubuh, menjaga kesehatan jantung, serta meningkatkan fungsi otak. Kontribusi tulisan ini menunjukkan penguatan argumentasi saintifik terhadap suatu benda yang disebut oleh al-Qur’an memang memiliki keistimewaan. 
The Hermeneutical Dimension of Quraish Shihab's Interpretation of the Aurat Verses in the Qur'an Fauzi, Duea Amalia; Asysyifa, Ainuki Astna; Mundzir, Muhammad
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v17i1.13777

Abstract

Quraish Shihab's interpretation of the verses about women's aurat (genitalia) raises much contra among scholars. Quraish Shihab said that there is no limit to women's genitalia because no unequivocal argument mentions it. Therefore, the author explores the factors influencing Quraish Shihab to give rise to such an interpretation. The author uses qualitative research methods, with H. George Gadamer's hermeneutic analysis that aims to reveal an interpretation's theoretical and historical factors. I conclude that there are hermeneutical dimensions in the interpretation of Quraish Shihab, including affective history, namely, the interpretation is influenced by two figures from the socio-historical context when writing. There is a pre-understanding dimension that the aurat is still being debated. The dimension of fusion of horizon, namely the reality of Quraish Shihab when interpreting the Qur'an, pays attention to the reality when the verse comes down and also pays attention to the context when writing. Finally, there is the application dimension, where the interpretation of the aurataffects the understanding of the family and the surrounding community. Dimensi Hermeneutis Penafsiran Quraish Shihab pada ayat-ayat Aurat dalam al-Qur’an.Penafsiran Quraish Shihab terhadap ayat-ayat tentang aurat perempuan menimbulkan banyak kontra di kalangan ulama. Quraish Shihab mengatakan tidak ada batasan aurat perempuan, karena tidak ada dalil jelas dan tegas yang menyebutkannya. Oleh karena itu, penulis menelusuri faktor-faktor yang memengaruhi Quraish Shihab sampai memunculkan penafsiran yang seperti itu. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan analisis hermeneutika H. George Gadamer yang bertujuan untuk mengungkap faktor teoritis dan historis dari sebuah penafsiran. Penulis menyimpulkan bahwa terdapat dimensi hermeneutis dalam penafsiran Quraish Shihab, antara lain: affective history yakni penafsirannya dipengaruhi dua tokoh dari konteks sosio-hitoris Ketika menulis. Terdapat dimensi pre-understanding, bahwa aurat itu masih diperdebatkan. Adapun dimensi fusion of horison yakni realitas Quraish Shihab ketika menafsirkan Al-Qur’an memperhatikan realitas ketika ayat turun dan juga memperhatikan konteks Ketika menulis. Yang terakhir tedapat dimensi application, di mana penafsirannya tentang aurat mempengaruhi pemahaman keluarga dan masyarakat sekitar.
Dirasah “Ulum al-Quran” fi Tafsir Nusantara (Dirasah Tahliliyah Naqdiyah li Tafsir “al-Furqan Allafahu Ahmad Hasan 1928-1950) Muntaza, Wakhida Nurul; Baidi, Baidi; Hanapi, Abdullah
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v17i1.19032

Abstract

 ان دراسة التفاسير قبل استقلال الوطني قد كتبها الباحثون بأكثرٍ منذ السنوات الأخيرة ودخلت بحوثهم الى الرسالات العلمية الأكاديمية بموضوعاتهم "المحلية"،  وعلاوة على ذلك كانت البحوث فى التفاسير "نوسانتارا" بالرغم انها معروفة بطريقتها "النصية" وإنما لها دور لمعرفة "المحلية" التي وردت فيها المؤلّفات التفسيرية الّفوها علماء "نوسانتارا".  على الحقيقة ان دراسة التفسير تحتاج كذلك من المؤلّفات التفسيرية "المحلية",و طبعًا ان الدراسة هذه غير سهلة وبأسئلتها الصعبة "هل هذا تكرار الدراسة فحسب "؟, و بعدم تجديدها كما كرّرها مما سبق ؟, فهل هناك شيء جديد  من تلك الدراسة ؟. ومن الكتب للتفاسير نوساىنتارا هو الفرقان الّفه احمد حسن الذي كُتب منذ 1928 م معروفة لخصائصه عن التفاسير الأخري بإدخال الموضوعات من علوم القرأن, ودلالة على ذلك كان في الفرقان مكتوبة فيها الأبواب المختارة كماعرفناها في كتب علوم القرأن السابقة  التي خصّصه المئؤلّف لمن يقرأ كتابه لمعرفة تلك العلوم المطلوبة للقرأن وتفسيره, فكتب المؤلف موضوعاتها على وجه الأبواب قبل قراءة تفسير اياته, ومن الموضوعات فيها التي وجدنا في علوم القرأن منها "تاريخه وتدوينه وتفسيره واسباب نزوله ونسخه وإعجازه" متساوية كانت مع الكتب السابقة بعلوم القرأن. و ان الفرقان من التفاسير قبل 1950 م و هو على الطريقة "الترجمة" اي كانت ترجمة اللفظية للقرأن بإستعمال اللغة الأندونسية فعرفنا  الفرق بين "الفرقان" والأخر بوجود توضيح المؤلّف لعلوم القرأن في كتابه التي لا نجد في التفاسير قبلهالكلمات الرئيسية : تفسير نوسنتارا, علوم القرأن, الفرقان, المحلية
Astronomy Interpretation in Acehnese Poetic-form; Analysis of al-Baqarah: 189 in Tafsir Irsyadul Ikhwan ila Ma'ani Al-Qur'an by Tengku Muhammad Ali Irsyad Lestari, Lenni
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v17i1.18951

Abstract

Many astronomical phenomena (Falak) in the Qur'an are closely related to human activities. The astronomy verses largely determine the determination of worship time. Tengku Muhammad Ali Irsyad, one of the Falaq scholars in Aceh, collaborated uniquely with the Qur’an and the Science of Falaq in his interpretation. This paper will discuss the interpretation of Irsyadul Ikhwan ila Ma'ani al-Quran by Tengku Muhammad Ali Irsyad, known as Abu Teupin Raya. The methodology of his interpretation will be the fundamental question in this research.Furthermore, this article will find the relationship between the interpretation of Tengku Muhammad Ali Irsyad with a global context when the writing of the tafsir is done. Through Sociolinguistic and literary approaches, this paper argued that presenting the interpretation in the poetic Acehnese language is the advantage of this interpretation. The results are written like a literary poem. The Falaqiyah pattern will stand out in interpreting the Falaq verses. Second, Irsyad's choice to opt for a ‘free’ poetic translation reflects a conscious decision to present the Qur'an's content in a form based on pre-existing Acehnese literary culture. This interpretation is closely related to the advanced Acehnese society to this day.  Tafsir Astronomi dalam Bentuk Puisi Aceh; Analisis al-Baqarah: 189 dalam Tafsir Irsyadul Ikhwan ila Ma'ani Al-Qur'an karya Tengku Muhammad Ali Irsyad. Fenomena astronomi (falak) banyak tertera dalam al-Qur’an yang pada kenyataannya sangat terkait dengan aktifitas manusia. Penentuan waktu ibadah pun banyak ditentukan oleh ayat-ayat yang mengisyaratkan komponen ilmu Falaq. Tengku Muhammad Ali Irsyad, salah satu ulama Falaq di Aceh, berhasil mengawinkan al-Quran dan Ilmu Falaq secara apik dalam karya tafsirnya. Tulisan ini akan membahas tentang tafsir Irsyadul Ikhwan ila Ma'ani al-Quran karya Tengku Muhammad Ali Irsyad, atau dikenal dengan Abu Teupin Raya. Metodologi dan corak pemikiran akan menjadi pertanyaan dasar dalam penelitian ini. Selanjutnya, artikel ini akan menemukan relasi penafsiran Tengku Muhammad Ali Irsyad dengan konteks global saat penulisan tafsir dilakukan. Melalui pendekatan sosiologi dan sastra, dapat disimpulkan bahwa; Pertama, metode penyajian tafsir dengan bahasa Aceh yang puitis menjadi keunggulan dari tafsir ini. Hasil penafsiran ditulis layaknya syair sastra. Corak Falaqiyah akan terlihat menonjol saat menafsirkan ayat-ayat Falaq. Kedua, internalisasi nilai-nilai budaya Aceh cukup terlihat dalam tafsir ini. Ditulis pada awal era 1990'n menjadikan tafsir ini erat hubungannya dengan masyarakat Aceh progresif hingga saat ini.
Nazam Aceh in Translating the Qur'an: A Review of the Vernacularization of the Qur'an in Tafsir Pasé Binti Yunus, Zulia Rahmi
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v17i1.18957

Abstract

This article aims to uncover the vernacularization activities of the Qur'an in the Aceh region. One of the efforts made by Indonesian scholars, including Acehnese scholars, in spreading Islamic teachings is the vernacularization (localization) of the meaning of the Qur'an so that its usefulness can be felt by all circles, as done by T. H. Thalhas et al. in the book of Tafsir Pasé. Through the descriptive-analytical method, it was found that Tafsir Pasé was the first interpretation to use the medium of nazam to interpret the meaning of the Qur'an in the Acehnese language. All the surahs on Juz 'Ammah and the letter Al-Fatihah are presented with the original text, Arabic, then accompanied by translations into Indonesian and Nazam Aceh. The vernacularization of verses of the Qur'an through Nazam Aceh on Tafsir Pasé focuses more on tarjamah tafsiriyyah, i.e., free translation, which is not too tied to the meaning of the original Arabic language. However, it refers to explaining the intention of words in Acehnese without limiting the original wording or consideration of language structure.  Nazam Aceh dalam Menerjemahkan Al-Qur'an: Tinjauan Vernakularisasi Al-Qur'an dalam Tafsir Pasé. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap aktivitas vernakularisasi al-Qur’an di wilayah Aceh. Salah satu usaha yang dilakukan oleh ulama-ulama Nusantara termasuk ulama Aceh dalam menyebarkan ajaran Islam yaitu melalui vernakularisasi (pem-bahasa-an lokal) makna al-Qur’an sehingga dapat dirasakan kemanfaatannya oleh semua kalangan, seperti yang dilakukan oleh Drs. T. H Thalhas dkk pada kitab Tafsir Pasé . Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitik ditemukan bahwa, Tafsir Pasé merupakan tafsir pertama yang menggunakan media nazam untuk menafsirkan makna al-Qur’an ke dalam bahasa Aceh. Semua surah - surah pada Juz ‘Ammah beserta surat Al-Fatihah dipaparkan teks asli yaitu bahasa Arab, kemudian disertai penerjemahan Bahasa Indonesia dan juga nadzham Aceh.Vernakularisasi ayat-ayat al-Qur’an melalui nazam Aceh pada Tafsir Pasé lebih fokus kepada tarjamah tafsiriyyah yaitu terjemah bebas tidak terlalu terikat dengan makna bahasa aslinya bahasa Arab. Akan tetapi mengacu kepada penjelasan arti kata dalam Bahasa Aceh tanpa membatasi susunan kata-kata asli atau pertimbangan struktur bahasa.
Whether the Sign of Prostration in the Face of Believers is Real? the Qur’an’s Victory Verses and Its Biblical Reference Shofaussamawati, Shofaussamawati; Haqqi, Muhammad Nashrul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v17i1.19332

Abstract

This article attempts to understand the meaning of the sign of prostration in surah 48.29. What is the exact meaning of athar al-sujūd sign of prostration? The Intertextuality approach is used in this paper. The phrase athar al-sujūd mentioned only once in the Qur'an. Ibn Manẓūr (d. 1311) says that the word athar means the traces of a thing al-Aṣfahānī (d. 1109) adds that the word ignifies an effect which is represented by an existence, whether abstract or material. Often, the word is oriented to the past. The word also means the influence or honour of the human soul and morality in which it is abstract. The word athar refers to something material, especially concerning the story of Moses. The story of the people in Moses' time in surah 40.21 illustrates that they have powers (ashadda minhum quwwa) and traces on earth (ātharan fī al-arḍ). In surah 18.64, the word athar refers to the trail of Moses’ journey with a young man (āthārihimā qaṣaṣa) while looking for a place where two seas meet (majma’ al-baḥrayn). The Muslim Scholar interprets the phrase sign of prostration in verse in an abstract context. Muqātil b. Sulaymān interprets it as a good guide and path (al-hudā wa al-simt al-ḥasan). It is similar to al-Thabarī and Ibn Kathīr, who interpret it as devoutness (khushū'). Al-Qāsimī has two interpretations: First, that is a good path or devoutness, as the early commentators say. Second, the traces of the soil (tharā al-arḍ) on the face. The Qur'an chooses the word sujūd to represent devoutness and modesty in worship. Artikel ini mencoba mencoba memaknai tanda sujud pada surat 48.29. Apa arti sebenarnya dari tanda sujud athar al-sujūd? Pendekatan Intertekstualitas digunakan dalam makalah ini. Ungkapan athar al-sujūd hanya disebutkan satu kali dalam Al-Qur'an. Ibnu Manẓūr (w. 1311) mengatakan bahwa kata athar berarti jejak-jejak sesuatu, al-Aṣfahānī (w. 1109) menambahkan bahwa kata tersebut menyulut suatu akibat yang diwakili oleh suatu wujud baik abstrak maupun material. Sering kali, kata itu berorientasi ke masa lalu. Kata itu juga berarti pengaruh atau kehormatan jiwa manusia dan moralitas yang di dalamnya bersifat abstrak. Kata athar mengacu pada sesuatu yang bersifat material, khususnya yang berkaitan dengan kisah Musa. Kisah umat pada zaman Musa dalam surat 40.21 menggambarkan bahwa mereka memiliki kekuatan (ashadda minhum quwwa) dan jejak di bumi (ātharan fī al-arḍ). Dalam surat 18.64, kata athar mengacu pada jejak perjalanan Musa dengan seorang pemuda (āthārihimā qaṣaṣa) saat mencari tempat bertemunya dua lautan (majma' al-baḥrayn). Ulama Muslim menafsirkan frase yang menandakan sujud dalam ayat tersebut dalam konteks abstrak. Muqatil b. Sulaymān mengartikannya sebagai petunjuk dan jalan yang baik (al-hudā wa al-simt al-ḥasan). Hal ini senada dengan al-Thabarī dan Ibn Kathīr yang mengartikannya sebagai ketakwaan (khushū'). Al-Qāsimī memiliki dua tafsir: Pertama, itu adalah jalan yang baik atau kesalehan seperti yang dikatakan para mufassir awal. Kedua, bekas tanah (tharā al-arḍ) di wajah. kata sujūd dipilih oleh Al-Qur'an untuk mewakili kesalehan dan kesopanan dalam beribadah.
The Different Ways the Quran was Received in Central Java Indonesia Misbah, Muhammad
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v17i1.19128

Abstract

This article discusses the various receptions of the Al-Quran by the Javanese. The research aims to understand how the Al-Quran is received and understood in the Javanese cultural through oral reception, written reception, actions, and visual reception. The problems have a key role in disseminating Islamic teaching to all regions in Nusantara. The research methodology employed a qualitative approach with techniques such as interviews, observations, and content analysis for data collection. The findings of this research are providing valuable insights the various receptions of the Al-Quran. In the Javanese cultural, the Al-Quran is understood not only through its text but also through oral practices, writings, actions, and visuals. This understanding enriches our comprehension of the interaction between religion and culture, provides a more comprehensive depiction of the influence of the Al-Quran in the everyday lives of the Javanese community.Pelbagai Cara al-Quran Diterima di Jawa Tengah Indonesia. Artikel ini membahas berbagai resepsi al-Quran bagi orang Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana al-Quran diterima dan dipahami dalam kerangka budaya Jawa melalui resepsi lisan, resepsi tertulis, tindakan, dan resepsi visual. Permasalahan tersebut memiliki peran kunci dalam mensosialisasikan ajaran Islam ke seluruh wilayah di Nusantara. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan analisis isi. Temuan penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang pelbagai resepsi al-Quran. Dalam budaya Jawa, al-Quran dipahami tidak hanya melalui teksnya tetapi juga melalui praktik lisan, tulisan, tindakan, dan visual. Pemahaman ini memperkaya pemahaman kita tentang interaksi antara agama dan budaya, memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang pengaruh al-Quran dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.
The Genealogy of Kalām Thought on al-Ibrīz’s Commentary Andriawan, Didik
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v17i1.19024

Abstract

This article explores the origins and genealogy of kalam thought in the Commentary of al-Ibrīz by Bisri Mustofa. The tradition of writing interpretations of the Qur'an is described as a cross-generational literary heritage. The written commentaries (Tafseer) will not be separated from the influence of previous works of interpretation, and the works of interpretation will likely influence future works of interpretation, including Tafsir al-Ibrīz, a complete Tafsir al-Qur'an of 30 chapters written in Javanese using the Pegon Arabic script in the mid-20th century AD. This article examines the genealogy of kalam thought in al-Ibrīz by tracing the sources of kalam interpretation from other interpretations to find the origins of the idea of kalam. Using qualitative research methods and library research techniques, this study tries to examine al-Ibrīz's relationship with past Commentary works and how the addition of the author's kalām thoughts can be done by adding, omitting, or summarizing kalām's interpretation of the verse under study. It was found that from the point of view of kalām thinking, al-Ibrīz has many connections with earlier Commentary works such as Tafsīr Jalālayn, Tafsīr Khāzin, and Tafsīr Bayḍāwiī to the earliest works of exegesis such as Tafsīr Māturīdī and Tafsīr Ṭabarī. Genealogi Pemikiran Kalām pada Tafsir al-Ibrīz. Tulisan ini menelaah tentang genealogi dan akar pemikiran kalām dalam tafsir al-Ibrīz karya Bisri Mustofa. Tradisi penulisan tafsir al-Qur’an, di mana pun dan kapan pun tafsir itu muncul, dicirikan sebagai tradisi sastra lintas generasi. Artinya satu karya tafsir yang ditulis tak akan terlepas dari pengaruh karya tafsir sebelumnya, serta kemungkinan besar sekali karya tafsir tersebut memberi pengaruh terhadap karya tafsir di masa mendatang. Hal ini termasuk pula tafsir al-Ibrīz, karya tafsir al-Quran 30 juz lengkap yang ditulis dalam Bahasa Jawa menggunakan tulisan arab pegon yang muncul pada pertengahan abad 20 M. Artikel ini mengulas genealogi pemikiran kalām dalam al-Ibrīz dengan melacak sumber-sumber penafsiran kalām dari tafsir-tafsir lain yang menjadi sumber utama tafsir sehingga mungkin ditemukan asal mula pemikiran kalām tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik penelitian pustaka. Penelitian ini bertujuan untuk melacak koneksi al-Ibrīz dengan karya-karya tafsir sebelumnya serta bagaimana kontribusi pengarang terhadap pemikiran kalām yang mungkin dilakukan dengan cara menambah, mengurangi atau meringkas tafsir kalām pada ayat yang diteliti. Ditemukan bahwa dalam pemikiran kalam, al-Ibrīz memiliki banyak koneksi dengan tafsir-tafsir yang lebih awal seperti Tafsīr Jalālayn, Tafsīr Khāzin dan Tafsīr Bayḍāwī hingga karya tafsir masa paling awal seperti Tafsīr Māturīdī dan Tafsīr Ṭabarī.
The Leadership Values Bureaucracy in the Battle of Uhud: the Analysis of Verse Ali Imran (3): 121 and 144 in Fazlur Rahman's Perspective Majid, Abdul; Basri, Ahmad Faizal
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v17i1.15374

Abstract

After losing the Battle of Badr, the Quraysh polytheists returned to Medina with a mission of revenge. Abu Sufyan bin Harb's troops won over the Muslims of Medina in the battle of Uhud. Among the triggers for the defeat of the Muslim community in the Uhud War were the indiscipline and disobedience of some Muslim troops to the Prophet Muhammad. This study tries to interpret QS. Ali Imran (3): 121 and 144 through Fazlur Rahman's double movement approach. The moral values drawn from the story of the Uhud war in verse are leadership with the character of a good listener, tactical-critical and patient while being supported by followers' loyalty. Lastly, resignation can be used as a reference in carrying out the wheels of a good, compact government bureaucracy. A common goal and no party is harmed because of selfish personal interests. This character was practised by the Prophet Muhammad. in managing the people of Medina. Unfortunately, during the Uhud War, some Muslim troops were disobedient or loyal to the instructions of the Prophet Muhammad. This is the urgency of a relationship between leaders and the people they lead. Leaders with the character of good listeners, critical-tactical and patient but not followed by the loyalty of their people will not be able to produce a good government order to achieve common goals. Birokrasi Nilai Kepemimpinan dalam Perang Uhud: Analisis Ayat Ali Imran (3): 121 dan 144 dalam Perspektif Fazlur Rahman.Kaum musyrik Quraish setelah kalah pada perang Badar, mereka kembali ke Madinah dengan misi balas demdam. Pasukan Abu Sufyan bin Harb berhasil menang atas kaum Muslimin Madinah di perang Uhud. Di antara pemicu kekalahan umat Islam dalam perang Uhud adalah ketidakdisiplinan dan ketidaktaatan sebagian pasukan Muslim pada Nabi Muhamamd Saw. Penelitian ini mencoba manafsirkan QS. Ali Imran (3): 121 dan 144 melalui pendekatan double movement Fazlur Rahman. Adapun nilai moral yang bisa diambil dari kisah perang Uhud dalam ayat tersebut adalah kepemimpinan dengan karakter pendengar yang baik, taktis-kritis dan sabar seraya didukung oleh loyalitas pengikut, dan yang terakhir tawakkal bisa dijadikan acuan dalam menjalani roda birokrasi pemerintah yang baik, kompak, tercapainya suatu tujuan bersama, serta tidak ada pihak yang dirugikan karena hanya sebab kepentingan pribadi yang egois. Karakter tersebut telah dipraktikan oleh Nabi Muhamamd Saw. dalam mengelola masyarakat Madinah. Sayangnya pada perang Uhud ada sebagian pasukan Muslim yang tidak taat atau loyal dengan instruksi Nabi Muhammad. Inilah urgensi ada keterkaitan antara pemimpin dan masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin berkarakter pendengar yang baik, kritis-taktis dan sabar namun tidak diikuti dengan loyalitas masyarakatnya tidak akan mampu menghasilkan tatanan pemerintah baik untuk mencapai tujuan bersama.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue