cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 223 Documents
The Prohibition of Zina in Tafsir Badhawi and Its Relevance to Virtual Sex Analysis QS. Al-Isra: 32 with a Maqashidi Tafsir Approach Rahmawati, Gefita; Masykuroh, Siti; Hendro, Beko
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.28993

Abstract

The issue of adultery has existed from prophetic times until now, but as technology advances adultery is carried out in complex ways, such as virtual sex. Adultery is forbidden in surah Al isra’ 32 but this issue is different from before, this activity is intercouse without physical contact. This research aims to understand how the interpretation of the prohibition of adultery in QS. Al-Isra’: 32 in Tafsir Anwar Al-Tanzil Wa Asrar Al-Ta’wil in dealing with problem of virtual sex, which is analyzed using the Tafsir Maqasidi approach. This research is included in the type of library research, using qualitative research methods. The results of this study indicate that according to Baidhawi the prohibition of adultery in Al-Isra’: 32 is characterized by the presence of la nahi at the beginning of the sentence. The context of the prohibition of adultery in this verse is very board, so that everything that approaches adultery and acts that resemble it is forbidden. The prohibition of adultery in this verse emphasizes the essence of the value of preserving offspring and maintaining individual honor. If analyzed using the Tafsir Maqasidi approach, this verse contains five elements of maqasid syari’ah  which include hifz al-din, hifz al-nafs, hifz nas}b, hifz mal, hifz al-‘aql. The prohibition of adultery in Al-Isra’: 32 also upholds the fundamental values of  al-‘adalah, al-insaniyah, al-wasatiyah, and al-musawah, al-hurriyah ma’al mas’uliyyah.. The relevance of the maqasid  value of surah Al-Isra’: 32 against virtual sex, is contradictory because it contains many disadvantages. Therefore, to create benefits in social life, the verse لَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ  also forbids all forms of adultery, both physically and by using digital media such as virtual sex. Persoalan zina telah ada dari zaman kenabian hingga sekarang, namun seiring kemajuan teknologi zina dilakukan dengan cara yang kompleks, seperti virtual sex. Perbuatan zina diharamkan dalam surah Al-Isra’: 32, tetapi persoalan virtual sex  berbeda dengan sebelumnya, aktivitas ini merupakan hubungan badan tanpa bersentuhan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana interpretasi pengharaman zina  pada QS. Al-Isra’: 32 dalam Tafsir Anwar Al-Tanzil Wa Asrar Al-Ta’wil dalam menghadapi problem sosial virtual sex,  yang dianalisis menggunakan pendekatan Tafsir Maqasidi. Penelitian ini termasuk dalam jenis studi putaka (library research), dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menurut Baidhawi pengharaman zina dalam Al-Isra’: 32 ditandai dengan adanya la> nahi pada awal kalimat. Konteks larangan zina dalam ayat ini sangat luas, sehingga segala hal yang mendekati zina dan perbuatan yang menyerupainya diharamkan. Larangan zina pada ayat ini menekankan esensi nilai menjaga keturunan dan menjaga kehormatan individu. Jika dianalisis menggunakan pendekatan Tafsir Maqasidi ayat ini mengandung lima unsur maqasid syari’ah  yang meliputi hifz al-din, hifz al-nafs, hifz nasb, hifz mal, hifz al-‘aql. Pengharaman zina dalam Al-Isra’: 32 juga menjunjung nilai fundamental yakni al-‘adalah, al-insaniyah, al-wasatiyah, dan al-musawah, al-hurriyah ma’al mas’uliyyah. Relevansi nilai maqasid surah Al-Isra’: 32 terhadap virtual sex, bertentangan karena mengandung banyak kemafsadhatan. Oleh karena itu, untuk menciptakan mas}lah}ah pada kehidupan sosial, ayat لَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ  juga mengharamkan segala bentuk zina, baik yang dilakukan secara fisik maupun dengan menggunakan media digital seperti virtual sex.  
Integrating Multicultural Values in Surah Al-Hujurat Verse 13: An Analysis of Ibn Kathir's Exegesis and Its Relevance to Contemporary Society Suardi, Indra; Nurdiani, Nurdiani; Sibawaihi, Sibawaihi; Basri, Hasan
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.29834

Abstract

In the context of globalization, contemporary society encounters significant obstacles in fostering unity within variety, frequently leading to identity conflicts stemming from the failure of individuals or groups to acknowledge and value differences. This study aims to analyze the concept of multicultural values in Al-Hujurat verse 13 through Ibn Kathir's Tafsir. The employed methodology is a literature review utilizing a content analysis approach. This study's findings indicate that, according to Tafsir Ibn Kathir, the passage suggests that multiculturalism promotes appreciation for diversity, with piety serving as the primary criterion for an individual's nobility, rather than ethnic or racial identity. Furthermore, Islamic teachings advocate for the establishment of a harmonious existence within variety and denounce all types of prejudice based on ethnic or cultural backgrounds. Berangkat dari kompleksnya interaksi antarbudaya di era globalisasi, masyarakat modern menghadapi tantangan besar dalam membangun kesatuan di tengah keberagaman, sering kali terjadi konflik identitas akibat ketidakmampuan individu atau kelompok untuk menerima dan menghargai perbedaan. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji konsep nilai multikultural yang terkandung dalam surah Al-Hujurat ayat 13 melalui analisis Tafsir Ibnu Katsir. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan analisis isi. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa menurut Tafsir Ibnu Katsir, Ayat tersebut menyiratkan bahwa multikulturalisme mengajarkan penghargaan terhadap perbedaan, di mana takwa dijadikan sebagai ukuran utama kemuliaan seseorang, bukan berdasarkan identitas etnis atau ras. Selain itu, ajaran Islam mendukung terciptanya kehidupan yang harmonis di tengah keragaman, serta menolak segala bentuk diskriminasi yang didasarkan pada latar belakang etnis atau budaya.
The Habit of Midnight Prayer in Cultivating Spiritual Intelligence; Term of Surah Al-Isra: 79 Anshori, Irfan; Wasehudin, Wasehudin
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.29093

Abstract

This research aims to measure the influence of students' understanding of Surah Al-Isra, verse 79, on the habituation of the Sunnah prayer of Tahajjud and its impact on spiritual intelligence. This research primarily focuses on examining the impact of students' understanding of the verse on their behavior, specifically in relation to their habit of performing the tahajud prayer and their spiritual intelligence. This is important because there are still students who, despite understanding the verse and practicing the tahajud prayer, continue to engage in negative behaviors. Teachers, students, and community leaders participate in interviews and questionnaires as part of the quantitative descriptive research method. Slovin's formula, with a margin of error of 10%, selected a research sample of 69 students from a population of 698 individuals. The results indicate that 76.4% of the students' understanding of Surah Al-Isra, verse 79, influences their spiritual intelligence. Additionally, the habit of performing Tahajjud prayers contributes 43.4% to the enhancement of students' spiritual intelligence. Overall, the relationship between the understanding of the verse, the habit of Tahajjud prayers, and spiritual intelligence mutually influences each other with a value of 76.9%. The implications of this study highlight the importance of improving students' understanding of Surah Al-Isra, verse 79, to encourage consistency in the practice of Tahajjud prayers, which can ultimately enhance spiritual intelligence. Teachers, educators, and policymakers in the pesantren environment can use this as a guide to design more effective educational programs that enhance spiritual intelligence through a religious approach. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh pemahaman santri terhadap surah al-Isra ayat 79 dalam membiasakan salat sunnah tahajud serta dampaknya terhadap kecerdasan spiritual. Fokus utama penelitian ini adalah meneliti bagaimana pemahaman terhadap ayat tersebut dapat memengaruhi perilaku santri, terutama terkait kebiasaan salat tahajud dan kecerdasan spiritual, mengingat masih adanya santri yang meskipun memahami ayat dan melaksanakan salat tahajud, namun tetap melakukan perilaku negatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, di mana data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner yang melibatkan guru, siswa, dan tokoh masyarakat. Dari populasi sebesar 698 orang, sampel penelitian dipilih sebanyak 69 siswa menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76,4% pemahaman santri terhadap surah al-Isra ayat 79 berpengaruh pada kecerdasan spiritual mereka. Selain itu, pembiasaan salat tahajud berkontribusi sebesar 43,4% terhadap peningkatan kecerdasan spiritual siswa. Secara keseluruhan, hubungan antara pemahaman ayat, kebiasaan salat tahajud, dan kecerdasan spiritual saling mempengaruhi dengan nilai sebesar 76,9%. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan pentingnya meningkatkan pemahaman santri terhadap surah al-Isra ayat 79 untuk mendorong konsistensi dalam pelaksanaan salat tahajud, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kecerdasan spiritual. Hal ini dapat menjadi panduan bagi guru, pendidik, dan pemangku kebijakan di lingkungan pesantren dalam merancang program pendidikan yang lebih efektif dalam meningkatkan kecerdasan spiritual melalui pendekatan keagamaan.
Exploring the Qualities of Ibadurrahman: Insights from Surah Al-Furqan 63-77 in Tafsir Al-Munir by Wahbah Az-Zuhaili Br Munthe, Rizki Marliana; Sahrin, Abu
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.29412

Abstract

The concept of Ibadurrahman in the Qur'an, especially in Surah Al-Furqan verses 63-77, offers profound moral and spiritual guidance for Muslims. In this modern era, when social, moral and spiritual challenges are increasingly complex, the characteristics of Ibadurrahman which reflect noble morals and submission to Allah become very relevant. Therefore, this study aims to examine the concept of Ibadurrahman in the Qur'an in Surah Al-Furqan verses 63-77 through the interpretation approach of Al-Munir by Wahbah Az-Zuhaili. This study uses a library research method using a content analysis approach. The results of this research show that Ibadurrahman is not only a group of servants of God with commendable qualities, but is also an example for humanity in living a life of noble character. The characteristics of 'Ibadurrahman according to al-Munir's interpretation include tawadhu, gentleness, diligent in offering night prayers (Tahajud), fear of the punishment of Allah SWT, fair in giving, avoiding polytheism, killing and adultery, avoiding false testimony or speaking lies, receive advice, and pray wholeheartedly to Allah SWT. So as servants we are required to be able to implement the characteristics of 'Ibadurrahman. Konsep Ibadurrahman dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Furqan ayat 63-77, menawarkan panduan moral dan spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Di era modern ini, ketika tantangan sosial, moral, dan spiritual semakin kompleks, karakteristik Ibadurrahman yang mencerminkan akhlak mulia dan ketundukan kepada Allah menjadi sangat relevan. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep Ibadurrahman dalam Al-Qur’an pada surah Al-Furqan ayat 63-77 melalui pendekatan tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research) dengan menggunakan pendekatan content analysis (analisis isi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ibadurrahman bukan hanya sekelompok hamba Allah dengan sifat terpuji, tetapi juga menjadi teladan bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan yang berakhlak mulia. Adapun ciri-ciri sifat ‘Ibadurrahman menurut tafsir al-Munir yakni diantaranya tawadhu, lemah lembut, rajin mendirikan shalat malam (Tahajud), takut dengan adzab Allah Swt, adil dalam berinfak, menjauhi syirik, membunuh, dan zina menjauhi persaksian palsu atau berbicara dusta, menerima nasihat-nasihat, serta berdoa dengan penuh hati kepada Allah Swt. Sehingga sebagai seorang hamba kita dituntut agar mampu mengimplementasikan ciri dari sifat ‘Ibadurrahman tersebut.
Classification of Readers Reception of Surah Al-Waqiah in Mujahadah Waqiah According to Hall’s Reception Theory Ulya, Ulya; Muamalah, Sholihatun
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.29328

Abstract

Surah Al-Waqiah is believed to contain many virtues, among others, it will bring abundant sustenance and avoid poverty and destitution for its readers.  Therefore, many Muslims interact directly with it. At Al-Mawaddah Islamic Boarding School in Kudus, this interaction is embodied in the tradition named with Mujahadah Waqiah. The article aims to find out the classification of reception for residents of Al-Mawaddah as readers Surah Al-Waqiah in Mujahadah Waqiah. Using a descriptive qualitative approach, the research draws on field data collected through semi-structured interviews, non-participant observation, and documentation from caregivers, teachers, students, and community members involved in the tradition. The collected data is interpreted based on Stuart Hall's reception theory.  Based on the theory, there are two classifications the residents of Al-Mawaddah receipt Surah Al-Waqiah in Mujahadah Waqiah. Some are the dominant readers, but most of them are negotiation readers. This latest finding further confirms the theory that readers are not passive, but active. Interest factors, individual experiences, and social relations play a very important role in the reception process of the residents of the Al-Mawaddah Islamic Boarding Scholl in Kudus towards Surah Al-Waqiah.Surah Al-Waqiah diyakini mengandung banyak keutamaan, antara lain, akan mendatangkan rezeki yang melimpah dan terhindar dari kefakiran dan kemiskinan bagi pembacanya. Oleh karenanya banyak orang Islam yang berinteraksi langsung dengannya. Interaksi warga Pesantren Al-Mawaddah di Kudus dengan Surah Al-Waqiah diimplementasikan dalam tradisi Mujahadah Waqiah. Artikel bertujuan mengetahui klasifikasi resepsi warga Pesantren Al-Mawaddah Kudus sebagai pembaca Surah Al-Waqiah dalam Mujahadah Waqiah.  Artikel ini merupakan hasil penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber datanya berasal dari para pengasuh, guru, santri, juga masyarakat sekitar yang terlibat dalam tradisi tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi non-partisipatoris, dokumentasi. Data yang terkumpul diinterpretasikan berdasarkan teori resepsi Stuart Hall. Berdasarkan teori Hall, ditemukan 2 (dua) klasifikasi warga pesantren Al-Mawaddah dalam meresepsi Surah Al-Waqiah pada Mujahadah Waqiah. Sebagian sebagai pembaca dominan, namun sebagian besar mereka menjadi pembaca negosiasi. Temuan terakhir ini semakin menegaskan teori bahwa pembaca bukankah pihak yang pasif, tetapi aktif. Faktor kepentingan, pengalaman individual, relasi sosial sangat berperan dalam proses resepsi warga Pesantren al-Mawaddah Kudus terhadap Surah  Al-Waqiah.
Taḥlil al-Kalimat al-Shiyām fi al-Qur’an al-Karim wa Aṯsārihi al-Ṣiḥiyyah : Dirāsah Dalāliyah ʿllmiyah Zubaidi, Sujiat; Nisa, Salma Sholochatun; Nalatama, Rahma
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v18i2.26744

Abstract

ملخصبشكل عام، يعتقد المجتمع الإسلامي أن الصيام من عبادات المسلمين، وكل فرد يصوم كشكل من أشكال طاعة الله تعالى. ويحتوي مصطلح الصيام في القرآن على جملتين وهما الصوم والصيام الذين لهما نفس المعنى بشكل عام، وذاك على الرغم من وجود اختلاف في المعنى بين الكلمتين، ويرتبط الصيام بالآثار الصحية للجسم. من الخلفية السابقة، تحاول الباحثة أن تصف وتحلل أسرار الصيام الواردة في مشاكل القرآن من أجل معرفة معنى كلمة الصيام في القرآن بشكل واضح وآثاره الصحية. وهذه المناقشة عبارة عن مناقشة أدبية  استخدم فيها الباحثة بالأساليب الوصفية والتحليلية والاستقرائية لكشف أسرار الصيام الواردة في القرآن وتأثيراته على الصحة الجسدية. وحصلت الباحثة على أن معنى كلمة الصوم في القرآن هو الإمساك، فكلمة الصوم بمعنى الإمساك عن القول، وكلمة الصيام بمعنى الإمساك عن العطش والجوع وكل ما يبطله. والنتيجة الأخيرة هي تأثير الصيام على الصحة، مثل راحة الجهاز الهضمي، وتطهير الأمعاء، وإزالة السموم والدهون من الكبد، وعملية تكوين بروتينات الالتهام الذاتي من الخلايا الضارة. Secara umum masyarakat Islam meyakini bahwa puasa merupakan salah satu kewajiban ibadah umat Islam, setiap individu berpuasa sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Istilah puasa dalam Al-Qur'an mengandung dua kalimat, yaitu “shaum” dan “shiyam”, yang secara umum mempunyai arti yang sama, meskipun terdapat perbedaan makna antara kedua kalimat tersebut, dan puasa dikaitkan dengan dampak kesehatan. tubuh. Dengan latar belakang sebelumnya, peneliti mencoba mendeskripsikan dan menganalisis rahasia puasa yang terkandung dalam Al-Qur'an agar dapat mengetahui secara jelas makna kata puasa dalam Al-Qur'an dan dampaknya bagi kesehatan. Pembahasan ini merupakan pembahasan kepustakaan (library study), dimana peneliti menggunakan metode deskriptif, analitis dan induktif untuk mengungkap rahasia puasa yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan pengaruhnya terhadap kesehatan jasmani. Peneliti memperoleh makna kata “shaum” dalam Al-Qur’an adalah "menahan", sehingga kata “shaum” adalah menahan untuk mengucapkan, dan “shiyam” adalah mehanan dari rasa haus dan lapar serta segala sesuatu yang berlalu. Hasil akhirnya adalah efek puasa terhadap kesehatan, seperti mengistirahatkan sistem pencernaan, membersihkan usus, mengeluarkan racun dan lemak dari hati, serta proses pembuatan protein autophagy dari sel-sel berbahaya.
Analysis of the Concept of Istiqomah in the Qur'an Surah Al-Ashr Prevention of Procrastination Among Generation Z
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.30611

Abstract

Surah Al-Ashr is one of the surahs in the Qur'an about the importance of making good use of time and living life with istiqomah. In the context of generation Z, often facing the challenge of procrastination due to digital distraction, this surah provides strategic guidelines to build discipline. This study aims to analyze the concept of istiqomah in Surah Al-Ashr and interpret it in the prevention of procrastination in generation Z. The method used is thematic interpretation study with descriptive analysis approach. The results showed that istiqomah in Surah Al-Ashr includes being consistent in faith, doing good deeds, advising each other in goodness and patience. The implementation of these values in generation Z can encourage productive and structured utilization of time. This article confirms that the values in the Qur'an can be a spiritual and practical solution in facing modern challenges, especially in improving time management and overcoming procrastination behavior. Surat Al-Ashr merupakan salah satu surat dalam Al-Qur’an mengenai pentingnya memanfaaatkan waktu dengan baik dan menjalankan kehidupan secara istiqomah. Dalam konteks generasi Z, sering menghadapi tantangan prokrastinasi akibat distraksi digital, surat ini memberikan pedoman strategi untuk membangun disiplin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep istiqomah dalam surat Al-Ashr serta diinterpretasikan dalam pencegahan prokrastinasi pada generasi Z. Metode yang digunakan adalah studi tafsir tematik dengan pendekatan deskriptif analitisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istiqomah dalam surat Al-Ashr mencakup konsisten dalam beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Implementasi nilai-nilai tersebut pada generasi Z dapat mendorong pemanfaatan waktu secara produktif dan terstruktur. Artikel ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang ada dalam Al-Qur’an dapat menjadi solusi spiritual dan praktis dalam menghadapi tantangan modern, khususnya dalam meningkatkan manajemen waktu dan mengatasi perilaku prokrastinasi.
Negotiating Isra’iliyyat in Modern Indonesian Tafsir : A Comparative Study of Hamka and Quraish Shihab on the Story of Harut and Marut
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.29760

Abstract

This study is motivated by the enduring presence of Isrā’īliyyāt narratives in several modern Indonesian tafsīr works, despite the reformist movement’s emphasis on purifying Qur’anic exegesis from unreliable reports and upholding principles of textual authenticity and rational reasoning. Although the rejection of Isrā’īliyyāt has become a defining feature of reformist exegetical discourse, many modern mufassirs continue to incorporate these narrative elements with varying forms and degrees of acceptance. The story of Hārūt and Mārūt in QS. al-Baqarah:102 serves as a prominent example, as it frequently provokes debate regarding the reliability of its reports, its theological implications, and its connection to Jewish–Christian traditions that have influenced certain strands of Muslim exegesis.This article examines how Hamka and M. Quraish Shihab interpret and reason about this narrative in Tafsir al-Azhar and Tafsir al-Misbāḥ. This study employs a qualitative library-based approach with descriptive–comparative analysis, using the framework of Isrā’īliyyāt criticism and theories of traditional narrative reception in modern tafsīr. The findings show that Hamka adopts a highly selective stance and largely rejects Isrā’īliyyāt elements, whereas Quraish Shihab is more accommodating while maintaining caution. These differences highlight the epistemological diversity within modern Indonesian exegesis. The study contributes to Qur’anic hermeneutics in Southeast Asia by illustrating how classical narrative heritage is negotiated alongside modern rationalist demands and contemporary cultural contexts. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih kuatnya keberadaan narasi Isrā’īliyyāt dalam sebagian tafsir modern Indonesia, meskipun arus utama reformisme menekankan penyucian tafsir dari riwayat yang tidak valid serta pentingnya kemurnian sumber dan rasionalitas. Penolakan terhadap Isrā’īliyyāt memang menjadi ciri utama wacana reformasi tafsir, namun faktanya sejumlah mufasir modern tetap memuat unsur-unsur naratif tersebut dengan cara dan tingkat penerimaan yang beragam. Kisah Hārūt dan Mārūt dalam QS. al-Baqarah:102 menjadi contoh yang menonjol karena sering memunculkan perdebatan, baik tentang keaslian riwayatnya, dampak teologis yang ditimbulkannya, maupun kaitannya dengan tradisi Yahudi-Kristen yang turut mempengaruhi sebagian penafsiran Muslim. Artikel ini menelusuri bagaimana Hamka dan M. Quraish Shihab memahami serta menalar kisah tersebut melalui Tafsir al-Azhar dan Tafsir al-Misbāḥ. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis deskriptif–komparatif, menggunakan kerangka kritik Isrā’īliyyāt dan teori penerimaan narasi tradisional dalam tafsir modern. Hasilnya menunjukkan bahwa Hamka bersikap sangat selektif dan cenderung menolak unsur Isrā’īliyyāt, sedangkan Quraish Shihab lebih terbuka namun tetap berhati-hati. Perbedaan keduanya menegaskan adanya keragaman epistemologis dalam tafsir modern Indonesia. Temuan ini turut memperkaya kajian hermeneutika al-Qur’an di Asia Tenggara, terutama dalam melihat bagaimana warisan klasik dinegosiasikan dengan tuntutan rasionalitas dan konteks budaya masa kini.
Early 20th Century Children's Interpretation: Strategies for Interpreting the Qur'an in Tamshiyyah al-Muslimin
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.33234

Abstract

This research focuses on examining the strategy of interpreting the Qur'an for children in the early 20th century in the tafsir Tamshiyyah al-Muslimīn.  The study of children's interpretation in the early 20th century is often missed. This is because the children's tafsir by KH Ahmad Sanusi (1888-1950) is presented in the interpretation of adult readers in the tafsir Tamshiyyah al-Muslimīn. The scarcity of children's tafsir studies in the early 20th century is because the production of tafsir at that time was still considered taboo and rarely studied in various pesantren. Although taught in some pesantren, tafsir material experienced exclusivity of readers. Bruinessen's research shows that tafsir can only be studied at the tsanawi to ulya level. This shows that the understanding of the Qur'an for children to beginner level is very limited. Whereas understanding religion through the teaching of the Qur'an for children is quite important to instill Islamic education since childhood. Another factor that causes children's interpretations to be quite rare is the limitations of printing technology and graphic design in children's interpretations in the early 20th century. At that time, most attractive graphic designs were only used for advertisements, packaging, and so on so that books or interpretive writings did not use such things. These limitations make early 20th century children's interpretations a unique and rare study. Therefore, this study aims to explore the strategies used by Sanusi in presenting the learning and meaning of the Qur'an for children at that time amid the lack of tafsir production, the exclusivity of children's tafsir readers, and the limitations of printing technology and graphic design for children's tafsir readers. The findings of this study conclude that the strategy used by Sanusi in interpreting the Qur'an for children is by using verbal illustrations, transliteration of the Qur'an, local language adaptation and verse grouping. Comparative approach and content analysis are used to explore the findings. Penelitian ini fokus mengkaji strategi penafsiran al-Qur’an untuk anak di awal abad 20 dalam tafsir Tamshiyyah al-Muslimīn.  Kajian tafsir anak di awal abad 20 seringkali terlewat. Ini karena tafsir anak karya KH. Ahmad Sanusi (1888-1950) disajikan dalam tafsir pembaca dewasa dalam tafsir Tamshiyyah al-Muslimīn. Kebanyakan tafsir anak yang menjadi objek penelitian selama ini adalah tafsir anak yang terbit abad 21. Langkanya kajian tafsir anak awal abad 20 ini dikarenakan produksi tafsir di masa itu masih dianggap tabu dan jarang dipelajari di berbagai pesantren. Meskipun diajarkan di beberapa pesantren, materi tafsir mengalami eksklusivitas pembaca. Penelitian Bruinessen tafsir hanya boleh dipelajari pada level tsanawi hingga ulya. Ini menunjukkan pemahaman al-Qur’an bagi tingkat anak-anak hingga pemula sangat terbatas. Padahal pemahaman agama melalui pengajaran al-Qur’an bagi anak cukup penting untuk menanamkan pendidikan Islam sejak kecil. Faktor lainnya yang menyebabkan tafsir anak cukup langka adalah keterbatasan teknonologi percetakan dan desain grafis pada tafsir anak di awal abad 20. Pada masa itu, kebanyakan desain grafis yang menarik hanya digunakan untuk iklan, kemasan, dan sebagainya sehingga buku atau karya tulis yang bersifat interpretatif tidak menggunakan hal yang demikian. Beberapa faktor keterbatasan ini yang menjadikan tafsir anak awal abad 20 merupakan penelitian yang unik dan langka dikaji. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali strategi yang digunakan oleh Sanusi dalam menghadirkan pembelajaran dan pemaknaan al-Qur’an bagi anak di masa itu di tengah minimnya produksi tafsir, eksklusivitas pembaca tafsir anak, serta keterbatasan teknologi percetakan dan desain grafis untuk tafsir pembaca anak. Temuan penelitian ini menyimpulkan strategi yang digunakan oleh Sanusi dalam penafsiran al-Qur’an untuk anak yaitu dengan menggunakan ilustrasi verbal, transliterasi al-Qur’an, adaptasi bahasa lokal dan peneglompokan ayat. Pendekatan komparatif dan analisis konten digunakan untuk menggali temuan tersebut.
Reconciling the Interpretation of Sufism and Sharia: Sheikh ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili’s Views on Women’s Leadership
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.32077

Abstract

This study examines the thought of Sheikh ‘Abd al-Ra’ūf al-Singkili in his efforts to reconcile two often perceived opposing dimensions of Islam, sufism (spiritual dimension) and sharia (legal dimension), particularly in the context of the issue of female leadership. As a prominent 17th-century scholar from Aceh, Sheikh ‘Abd al-Ra’ūf held significant authority in both fiqh and mysticism and was known for his integrative and moderate approach. Using a qualitative library research method, the study analyzes his primary work, Mir’āt al-Ṭullāb, along with supporting secondary literature. The findings reveal that Sheikh ‘Abd al-Ra’ūf did not dichotomize sufism and sharia but sought to harmonize them within a holistic Islamic framework. Regarding female leadership, he adopted a conciliatory stance, neither outrightly rejecting nor fully endorsing it, choosing instead a contextual and moderate interpretation, also informed by contemporary fatwas from Haramayn scholars.Penelitian ini membahas pemikiran Syekh ‘Abd al-Ra’ūf al-Singkili dalam merekonsiliasi dua dimensi utama ajaran Islam tafsir tasawuf (spiritual) dan syariat (hukum) terutama terkait isu kepemimpinan perempuan. Sebagai ulama berpengaruh di Aceh abad ke-17, Syeikh ‘Abd al-Ra’ūf al-Singkili memiliki otoritas dalam fikih dan tasawuf serta dikenal karena pendekatannya yang moderat dan integratif. Menggunakan metode penelitian kepustakaan, penelitian ini menganalisis karya utama beliau, Mir’āt al-Ṭullāb, dan literatur pendukung lainnya. Hasilnya menunjukkan bahwa Syeikh ‘Abd al-Ra’ūf menolak dikotomi antara tasawuf dan syariat, serta mengedepankan harmoni dalam merespons isu-isu sosial-politik, termasuk kepemimpinan perempuan. Dalam hal ini, ia tidak memberikan dukungan atau penolakan secara mutlak, tetapi lebih pada posisi kompromis yang mempertimbangkan konteks zamannya, termasuk fatwa scholar Haramayn.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue