cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 223 Documents
Gossip in the Qur’an: Analysis of Ibn ‘Āsyūr Maqāṣid Al-Qur’ān in QS. Al-Hujurāt: 12 and An-Nūr: 11,16 and 19
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.30899

Abstract

The phenomenon of gossip often occurs in society, both directly and through social media, leading to negative impacts on individuals and society. Gossip is not a new phenomenon, as it also took place during the time of the Prophet Muhammad (PBUH), one example being the gossip that affected the Prophet’s wife, Siti Aisyah (RA), which is recorded in QS. an-Nūr (24), verses 11-19. These verses not only serve as a warning to humanity but also contain maqṣud (objectives) that can provide valuable lessons in life, including how to deal with gossip. This article employs a qualitative method with a library research approach. The findings of this article indicate that the verses about gossip in the classification of maqāṣid al-Qur’ān according to Ṭahir Ibn ‘Āsyūr include: first, improving faith (akidah); second, instilling good character (akhlak); third, safeguarding the well-being of the community by providing rules, as stated in QS. al-Hujurāt (49), verse 12, and QS. an-Nūr (24), verses 16 and 19; fourth, presenting historical stories as a lesson for humanity to prevent repetition of past mistakes; fifth, serving as a reminder to humanity not to violate what has been forbidden by Allah SWT, including gossip; sixth, informing that every action of a human being will be rewarded accordingly; and seventh, as a miracle that must be believed by Muslims. Fenomena gosip kerap terjadi dalam sosial masyarakat, baik secara langsung maupun melaui media sosial, sehingga menimbulkan dampak negatif pada individu ataupun sosial. Gosip bukan fenomena baru, karena pada masa Rasulullah saw. gosip juga terjadi, salah satunya menimpa istri Nabi saw. Siti Aisyah r.a. yang diabadikan dalam QS. an-Nūr (24) ayat 11-19. Ayat ini tidak hanya sebagai peringatan kepada umat manusia, tetapi juga mengandung maqāṣid (tujuan) yang akan dapat menjadi ibrah dalam kehidupan, termasuk dalam menyikapi gosip. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis library research. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa ayat-ayat tentang gosip dalam klasifikasi maqāṣid al-Qur’ān Ṭahir Ibn ‘Āsyūr, yaitu pertama, memperbaiki akidah; kedua, menanamkan akhlak yang baik; ketiga, menjaga kemaslahatan umat dengan memberikan aturan sebagaiman disampaikan dalam QS. al-Hujurāt (49) ayat 12, dan QS. an-Nūr (24) ayat 16, 19; keempat, kisah-kisah terdahulu sebagai gambaran kepada manusia agar tidak terulang kembali; kelima, sebagai peringatan kepada manusia agar tidak melanggar apa yang sudah dilarang oleh Allah Swt. termasuk gosip; keenam, menginformasikan bahwa segala perbuatan manusia akan mendapatkan balasan; ketujuh, sebagai mukjizat yang wajib diyakini oleh umat muslim.
Two Initiatives of Qur’anic Methodological Interpretation in Contemporary Indonesia: A Study of Tafsir Maqasidi and Ma’na-cum-Maghza
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.28446

Abstract

This article examines the ma‘nā-cum-maghzā and Maqāsid-based interpretation approaches initiated by Indonesian Muslim scholars. While most existing research predominantly focuses on applying these two methodologies, this article critically analyzes the construction of both methodologies to understand their methodological applications and the extent of the contributions offered by these interpretation methodologies. The study argues that, firstly, the conceptual framework and methodology of ma‘nā-cum-maghzā and Maqāsid-based interpretation still heavily rely on the previous scholars’ ideas and have yet to find relatively new grounding and expansion, despite both claiming to extend beyond the boundaries of legal verses in the Qur’an. Secondly, in terms of practical implementation, the ma‘nā-cum-maghzā methodology appears to be more structured in its formulation, while the Maqāsid-based interpretation, on the other hand, still lacks a concrete formulation of its interpretative steps. Mustaqim, in this regard, only formulates principles for interpreting the Qur’an based on maqāsid. Thirdly, although they may differ conceptually and terminologically, both methodologies converge and share similarities in seeking the main message of the Qur’an. Mustaqim refers to it as maqāsid, while Sahiron terms it as historical phenomenal significance. Similarly, in terms of contextualization perspective, Mustaqim refers to it as the movement of text (harakiyyat al-nass), while Sahiron terms it as dynamic phenomenal significance. Artikel ini mengkaji pendekatan ma‘nā-cum-maghzā dan tafsīr maqāsidī yang diinisiasi oleh sarjana Muslim Indonesia. Jika mayoritas penelitian yang ada lebih dominan untuk mengaplikasikan kedua metodologi tersebut, artikel ini hendak menelaah secara kritis terhadap konstruksi kedua metodologi itu untuk melihat bagaimana aplikasi metodologi dan sejauh mana kontribusi yang ditawarkan dari kedua metodologi penafsiran tersebut. Penelitian ini berargumen bahwa, pertama, bangunan konsep dan metodologi ma‘nā-cum-maghzā dan tafsīr maqāsidī masih sepenuhnya berpijak dari konsepsi-konsepsi pemikiran ulama sebelumnya, dan bahkan belum menemukan titik pijakan dan perluasan yang relatif baru, meskipun keduanya mengklaim melampaui batasan ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an. Kedua, dalam wilayah aplikatifnya, metodologi ma‘nā-cum-maghzā terlihat lebih terstruktur dalam perumusan metodenya. Sedangkan tafsīr maqāsidī, tampaknya masih belum terumuskan secara konkret langkah-langkah penafsirannya. Mustaqim dalam hal ini, hanya merumuskan prinsip-prinsip dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan berbasis pada maqāsid. Ketiga, meskipun terlihat berbeda secara konsep dan terminologis, keduanya menemukan titik persinggungan dan persamaan dalam mencari pesan utama teks al-Qur’an. Dalam bahasa Mustaqim disebut dengan maqāsid, sedangkan dalam terminologi Sahiron disebut dengan signifikansi fenomenal historis. Demikian juga dengan perspektif kontekstualisasi, yang dalam bahasa Mustaqim disebut dengan gerak teks (harakiyyat al-nass), sedangkan dalam terminologi Sahiron disebut dengan signifikansi fenomenal dinamis.
Critiques of Modern Consumerism in the Qur’an: A Study to the Concepts of Israf and Tabdhir in Tafsir al-Wajiz
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.34353

Abstract

Consumerism that influences modern society has social, psychological, and spiritual implications. The Qur'an as the main source of Islamic teachings contains verses that condemn excessive lifestyles and waste of wealth. This study aims to examine the concept of consumerism through the study of isrāf and tabdzīr in the perspective of the Qur'an. This study uses a qualitative approach based on literature with the thematic interpretation method (maudhu'i), by collecting verses related to consumption (QS. Al-Isra' [17]: 26-27, QS. Al-A'raf [7]: 31, and QS. Al-Furqan [25]: 67), then analyzing them based on the explanations in Tafsir Al-Wajiz by Wahbah Az-Zuhaili and related to the perspective of Islamic psychology. The results of this study indicate that the Tafsir Al-Wajiz emphasizes the prohibition of excess (isrāf), condemnation of wastefulness (tabdzīr), and the importance of an afterlife orientation in consumption practices. The novelty of this study lies in the use of the Tafsir Al-Wajiz compiled using the tahlili method as the main reference in the thematic analysis of consumption verses, as well as its integration with an Islamic psychological perspective to interpret the impact of modern consumerism. Thus, this study offers a balanced and applicable Qur'anic consumption paradigm as a critique of the consumptive lifestyle. Konsumerisme yang mempengaruhi masyarakat modern memiliki dampak sosial, psikologis, dan spiritual. Al-Qur'an sebagai sumber utama ajaran Islam mengandung ayat-ayat yang menentang gaya hidup berlebihan dan pemborosan harta. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep konsumerisme melalui kajian isrāf dan tabdzīr dalam perspektif Al-Qur'an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kepustakaan dengan metode tafsir tematik (maudhu'i), yaitu menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan konsumsi (QS. Al-Isra' [17]: 26-27, QS. Al-A'raf [7]: 31, dan QS. Al-Furqan [25]: 67), kemudian penggunaannya berdasarkan penjelasan dalam Tafsir Al-Wajiz karya Wahbah Az-Zuhaili dan dikaitkan dengan perspektif psikologi Islam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tafsir Al-Wajiz menegaskan larangan isrāf, kecaman terhadap pemborosan (tabdzīr), dan pentingnya orientasi akhirat dalam praktik konsumsi. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan Tafsir Al-Wajiz yang disusun dengan metode tahlili sebagai rujukan utama dalam analisis tematik ayat-ayat konsumsi, serta integrasinya dengan perspektif psikologi Islam untuk menafsirkan dampak konsumerisme modern. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan paradigma konsumsi Al-Qur'an yang seimbang dan aplikatif sebagai kritik terhadap gaya hidup konsumtif.
Seyyed Hossein Nasr's Criticism of Modernist and Orientalist Interpretive Approaches
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.31748

Abstract

In contemporary Qur’anic studies, modernist and orientalist approaches have become increasingly influential. These two approaches offer new frameworks for understanding the Qur’an but often separate the sacred text from its spiritual and metaphysical roots. The modernist perspective emphasizes reason, historical context, and linguistic analysis, while the orientalist view relies on philological and historical-critical methods developed within secular academic traditions. As a result, both tend to reduce the Qur’an to a cultural or historical artifact rather than preserving its role as divine revelation. This study aims to examine the critical perspective of Seyyed Hossein Nasr on these two interpretive trends and to explore the alternative hermeneutical framework he proposes. The research applies a qualitative method using literature review and textual analysis of Nasr’s major writings. The findings reveal that Nasr strongly criticizes both approaches for neglecting the spiritual dimension of the Qur’an. He argues that understanding the Qur’an requires a return to sacred and traditional interpretation methods that emphasize inner spiritual meaning. Nasr promotes a hermeneutic approach that integrates reason, intuition, and spiritual insight, allowing for a more holistic understanding of revelation. He also underscores the role of traditional scholars and spiritual authorities in maintaining the integrity of Qur’anic meaning. The study concludes that Nasr’s alternative framework offers a meaningful response to the limitations of modernist and orientalist interpretations. By restoring the balance between textual analysis and spiritual depth, his approach contributes significantly to enriching Qur’anic hermeneutics. It encourages future scholarship to reengage with the sacred aspects of revelation in ways that are both intellectually rigorous and spiritually grounded. Dalam studi Al-Qur’an kontemporer, pendekatan modernis dan orientalis telah menjadi dua aliran yang semakin berpengaruh. Kedua pendekatan ini menawarkan kerangka baru dalam memahami Al-Qur’an, namun sering kali memisahkan teks suci dari akar spiritual dan metafisiknya. Perspektif modernis menekankan rasionalitas, konteks sejarah, dan analisis linguistik, sementara pendekatan orientalis bergantung pada metode filologis dan historis-kritis yang berkembang dalam tradisi akademik sekuler. Akibatnya, Al-Qur’an cenderung dipandang sebagai artefak budaya atau sejarah, bukan sebagai wahyu ilahi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan kritis Seyyed Hossein Nasr terhadap kedua pendekatan tersebut, sekaligus mengeksplorasi kerangka hermeneutika alternatif yang ia tawarkan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, melalui studi pustaka dan analisis teks terhadap karya-karya utama Nasr. Hasil kajian menunjukkan bahwa Nasr secara tegas mengkritik pendekatan modernis dan orientalis karena mengabaikan dimensi spiritual dalam memahami Al-Qur’an. Ia menekankan pentingnya kembali pada metode tafsir yang sakral dan tradisional, yang berfokus pada makna batin dan pengalaman spiritual. Pendekatan yang ia ajukan menggabungkan akal, intuisi, dan wawasan spiritual, serta menekankan peran ulama dan otoritas spiritual dalam menjaga kemurnian makna wahyu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kerangka alternatif yang ditawarkan Nasr menjadi respon bermakna terhadap keterbatasan penafsiran modernis dan orientalis. Dengan menyeimbangkan analisis teks dan kedalaman spiritual, pendekatan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan hermeneutika Al-Qur’an, serta mendorong studi-studi masa depan untuk kembali mengaitkan pemahaman wahyu dengan dimensi kesakralan yang mendalam.
An Analysis of the Meaning of Slander from the Perspective of Tafsir al-Qurtubi
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.31322

Abstract

The word “fitnah” in the Qur'an has diverse and contextual meanings, so it requires in-depth exploration to understand its dimensions and implications. Through text analysis method and hermeneutic approach, this study explores Al-Qurtubi's interpretation of the verses containing the word “fitnah”. The word “fitnah” in the Qur'an has a broad and diverse meaning, depending on the context of the verse. According to Imam Al-Qurtubi in his tafsir book, “Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an”, the word “fitnah” and its derivatives are mentioned in various forms, including verbs (fi'il), nouns (isim), and adjectives. “fitnah” and its derivatives are mentioned around 60 times in the Qur'an. However, this number may vary depending on the way the word is counted and interpreted. The word fitnah in its base form (isim) is mentioned 34 times in the Quran and in its verb (fi'il) and adjective forms is mentioned 26 times in the Quran. The results showed that Al-Qurtubi interpreted fitnah in various contexts, such as tests, trials, chaos, misguidance, and torment. This study also reveals the importance of historical, linguistic, and social contexts in Al-Qurtubi's interpretation, as well as the relevance of the concept of fitnah in contemporary life. Kata "fitnah" dalam Al-Qur'an memiliki makna yang beragam dan kontekstual, sehingga membutuhkan eksplorasi mendalam untuk memahami dimensi dan implikasinya. Melalui metode analisis teks dan pendekatan hermeneutika, penelitian ini mengeksplorasi interpretasi Al-Qurtubi terhadap ayat-ayat yang mengandung kata "fitnah". Kata "fitnah" dalam Al-Qur'an memiliki arti yang luas dan beragam, tergantung pada konteks ayatnya. Menurut Imam Al-Qurtubi dalam buku tafsirnya, "Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an", kata "fitnah" dan turunannya disebutkan dalam berbagai bentuk, termasuk kata kerja (fi'il), kata benda (isim), dan kata sifat. "fitnah" dan turunannya disebutkan sekitar 60 kali dalam Al-Qur'an. Namun, angka ini dapat bervariasi tergantung pada cara kata tersebut dihitung dan ditafsirkan. Kata fitnah dalam bentuk dasarnya (isim) disebutkan 34 kali dalam Al-Qur'an dan dalam kata kerja (fi'il) dan bentuk kata sifatnya disebutkan 26 kali dalam Al-Qur'an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qurtubi menafsirkan fitnah dalam berbagai konteks, seperti ujian, cobaan, kekacauan, kesalahan, dan siksaan. Penelitian ini juga mengungkapkan pentingnya konteks sejarah, bahasa, dan sosial dalam interpretasi Al-Qurtubi, serta relevansi konsep fitnah dalam kehidupan kontemporer.
Interreligious Harmony : A Case Study Kapuas Intefaith Harmony Forum Kapuas Regency and Ma’na Cum Maghza Approach
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.34307

Abstract

This study aims to examine the relevance of interpreting QS. Āli ʿImrān [3]:118–119 in fostering interreligious harmony within the pluralistic society of Kapuas Regency, which is currently experiencing local social and political dynamics, by employing the hermeneutical approach of Ma’na Cum Maghza developed by Sahiron Syamsuddin. This approach is selected for its capacity to integrate the historical-textual meaning of Qur’anic verses with their universal ethical messages in contemporary contexts. Methodologically, this research adopts a qualitative-interpretative design through library research and field studies. Data sources include Qur’anic verses, classical and modern Qur’anic commentaries, academic literature on Islamic hermeneutics and interreligious relations, as well as documents and social practices related to the role of the Interfaith Harmony Forum (FKUB) of Kapuas Regency. Data analysis is conducted by identifying the ma’na (original meaning) of the verses within their socio-historical context, followed by an exploration of their maghza (contextual significance) for present-day realities. The findings reveal that QS. Āli ʿImrān [3]:118–119, which was originally revealed in a context of political vigilance toward non-Muslims during the aftermath of the Battle of Uhud, can be reinterpreted through the Ma’na Cum Maghza approach as conveying broader socio-ethical messages that emphasize prudence, openness, and moral responsibility in interreligious interactions. Values such as at-tasamuh (tolerance), at-taʿāwun (cooperation), and at-tarāḥum (compassion) emerge as universal ethical principles that resonate with the initiatives and practices of FKUB Kapuas in maintaining social cohesion amid local political polarization. The implications of this study affirm that the Ma’na Cum Maghza approach positions the Qur’an as a source of universal ethics that promotes a peaceful and inclusive Islam, while also offering an applicable model for strengthening synergy among FKUB, the Ministry of Religious Affairs, and the Kapuas Regency Government based on Qur’anic values and local cultural wisdom. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi penafsiran QS. Ali Imran [3]:118–119 dalam membangun harmoni antarumat beragama di tengah masyarakat majemuk Kabupaten Kapuas yang tengah menghadapi dinamika sosial dan politik lokal, dengan menggunakan pendekatan hermeneutis Ma’na Cum Maghza sebagaimana dikembangkan oleh Sahiron Syamsuddin. Pendekatan ini dipilih karena kemampuannya mengintegrasikan makna historis-tekstual ayat dengan pesan etis universal yang kontekstual. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan desain kualitatif-interpretatif melalui studi pustaka dan studi lapangan. Sumber data meliputi ayat-ayat Al-Qur’an, karya tafsir klasik dan modern, literatur akademik tentang hermeneutika Islam dan relasi antaragama, serta dokumen dan praktik sosial yang berkaitan dengan peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kapuas. Analisis data dilakukan dengan menelusuri ma’na (makna asal) ayat dalam konteks sosio-historisnya, kemudian mengelaborasi maghza (signifikansi) ayat bagi konteks kekinian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. Ali Imran [3]:118–119 yang pada mulanya diturunkan dalam konteks kewaspadaan politik terhadap kelompok non-Muslim pada masa Perang Uhud, melalui pendekatan Ma’na Cum Maghza dapat ditafsirkan ulang sebagai pesan sosial-etis yang lebih luas, yang menekankan prinsip kehati-hatian, keterbukaan, dan tanggung jawab moral dalam interaksi antarumat beragama. Nilai-nilai at-tasamuh (toleransi), at-ta‘awun (kerja sama), dan at-tarahum (kasih sayang) muncul sebagai prinsip etis universal yang selaras dengan praktik dan program FKUB Kapuas dalam menjaga kohesi sosial di tengah potensi polarisasi politik. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan Ma’na Cum Maghza menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber etika universal yang mendorong lahirnya Islam yang damai dan inklusif, sekaligus menawarkan model aplikatif bagi penguatan sinergi antara FKUB, Kementerian Agama, dan Pemerintah Kabupaten Kapuas berbasis nilai-nilai Qur’ani dan kearifan budaya lokal.
Semantic Interpretation of Riba In The Qur’an And Its Contemporary Financial Implications
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.32171

Abstract

This paper explores the Qur’anic prohibition of riba and its relevance to modern interest-based financial systems. Using a semantic approach and drawing on both classical and contemporary exegesis, the discussion covers the reasons for the revelation of verses on riba, the semantic interpretation of riba according to Toshihiko Izutsu, and the scholarly debate on the term adhāfan muḍhā‘afah in QS. Āli ‘Imrān [3]:130. The study reveals that the prohibition of riba is not limited to compounded interest but is rooted in its inherent injustice and exploitative nature. Scholars differ on whether all forms of interest qualify as riba or only certain types, yet they agree that exploitative riba is categorically forbidden. Beyond its moral implications, riba has systemic effects on the global economy, contributing to financial crises, economic inequality, inflation, and debt traps in developing countries. As a viable alternative, Islamic finance promotes sharī‘ah-compliant contracts rooted in real-sector activities, offering a more equitable and stable system. This study concludes that the Qur’anic prohibition of riba integrates spiritual, social, and economic dimensions. Paper ini mengkaji larangan riba dalam Al-Qur’an dan relevansinya terhadap praktik bunga dalam sistem keuangan modern. Dengan pendekatan semantic serta kajian tafsir klasik serta kontemporer, pembahasan dimulai dari sebab turunnya ayat-ayat riba, makna semantik riba menurut Toshihiko Izutsu, hingga perbedaan penafsiran terhadap istilah adhāfan muḍhā‘afah dalam QS. Āli ‘Imrān [3]:130. Studi ini menunjukkan bahwa larangan riba tidak hanya dilandasi oleh bentuknya yang berlipat ganda, tetapi juga oleh nilai ketidakadilan dan eksploitasi yang terkandung di dalamnya. Para ulama berbeda pendapat apakah semua bentuk bunga termasuk riba atau hanya bunga dalam kadar tertentu. Namun demikian, seluruh ulama sepakat bahwa riba yang bersifat merugikan dan menindas adalah haram. Selain sebagai larangan moral, riba juga berdampak sistemik terhadap perekonomian global, termasuk krisis keuangan, ketimpangan ekonomi, inflasi, hingga jeratan utang negara berkembang. Sebagai alternatif, sistem keuangan Islam menawarkan akad-akad syariah berbasis sektor riil yang lebih adil dan stabil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelarangan riba dalam Al-Qur’an memiliki dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi yang saling terintegrasi.
Emotion, Sound, and Piety: Interpreting the Living Qur’an through Anna M. Gade’s Thought in Indonesia
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.31350

Abstract

This study explores the concept of the Living Qur’an in Indonesian society through the lens of Anna M. Gade’s thought, focusing on the ways in which Muslims read, interpret, and practice the Qur’an within social and cultural contexts. Employing a descriptive qualitative method based on literature analysis, the research investigates how the Qur’an functions not only as a source of doctrinal knowledge but also as a performative and emotional force in everyday religious life. Findings highlight the unique Indonesian engagement with the Qur’an, where non-Arabic speaking communities demonstrate profound aesthetic and spiritual connections through recitation and ritual. Gade’s analysis emphasizes the role of affect, sound, and embodiment in Qur’anic practices, offering an alternative perspective on piety as a deeply personal and experiential phenomenon. While her work is subject to critique—particularly regarding generalizations and lack of empirical specificity—it provides valuable insights into the religious dynamics of Indonesian Muslims, including community participation, media usage, lifelong learning, and women’s empowerment. The study concludes that the Qur’an operates both informatively and performatively, shaping a psycho-emotional relationship that influences the believer’s psychological and spiritual state. Gade’s contributions pave the way for future inquiries into the affective and performative dimensions of Islamic religiosity in diverse cultural settings. Studi ini mengkaji konsep Al-Qur’an yang Hidup dalam masyarakat Indonesia melalui pemikiran Anna M. Gade, dengan fokus pada cara umat Islam membaca, menafsirkan, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam konteks sosial dan budaya. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis analisis kepustakaan, penelitian ini menelusuri bagaimana Al-Qur’an berfungsi tidak hanya sebagai sumber pengetahuan doktrinal, tetapi juga sebagai kekuatan performatif dan emosional dalam kehidupan keagamaan sehari-hari. Temuan menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat Indonesia dengan Al-Qur’an bersifat unik, di mana komunitas yang tidak berbahasa Arab tetap menunjukkan keterhubungan estetis dan spiritual yang mendalam melalui tilawah dan ritual. Analisis Gade menekankan peran afeksi, bunyi, dan tubuh dalam praktik-praktik Qur’ani, serta menawarkan perspektif alternatif tentang kesalehan sebagai fenomena yang sangat personal dan pengalaman. Meskipun pemikirannya mendapat kritik—terutama terkait generalisasi dan kurangnya data empiris yang spesifik—karyanya memberikan wawasan berharga mengenai dinamika keberagamaan Muslim Indonesia, termasuk partisipasi komunitas, pemanfaatan media, pembelajaran sepanjang hayat, dan pemberdayaan perempuan. Studi ini menyimpulkan bahwa Al-Qur’an memiliki fungsi informatif dan performatif sekaligus, membentuk hubungan psiko-emosional yang memengaruhi kondisi psikologis dan spiritual seorang Muslim. Kontribusi Gade membuka ruang bagi penelitian lanjutan terkait dimensi afektif dan performatif dalam keberagamaan Islam di berbagai konteks budaya.
The Concept of Mafhum al-Nash in the Thought of Nashr Hamid Abu Zaid: A Comparative Analysis with the Literal Approach of Khawarij
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.34385

Abstract

This study examines the relationship between the thought of Nashr Hamid Abu Zaid and the ideology of Khawarij, focusing on the analysis of the concept of "Mafhum al-Nashsh".  As a progressive Muslim thinker, Abu Zaid offers a critical approach to textual understanding in Islam that emphasizes the importance of context and dynamic interpretation. On the other hand, Khawarij is known for its literal and radical approach to religious texts.  By analyzing Abu Zaid's works, this article identifies the intersection and the fundamental differences between Abu Zaid's critical approach and the Khawarij's textual views.  This study examines Abu Zaid's response to the Khawarij ideology and assesses the implications of this relationship for contemporary Islamic understanding and efforts to counter religious extremism.  The research results are expected to make a significant contribution to understanding the dialectic between progressive and literal thought in Islamic discourse. Studi ini menyelidiki hubungan antara pemikiran Nashr Hamid Abu Zaid dan ideologi Khawarij, dengan penekanan pada analisis konsep "Mafhum al-Nashsh". Sebagai pemikir Muslim progresif, Abu Zaid menawarkan pendekatan kritis terhadap pemahaman tekstual dalam Islam yang menekankan pentingnya konteks dan interpretasi dinamis. Di sisi lain, Khawarij dikenal karena pendekatannya yang harfiah dan radikal terhadap teks-teks agama. Melalui analisis karya-karya Abu Zaid, artikel ini mengidentifikasi persimpangan serta perbedaan mendasar antara pendekatan kritis Abu Zaid dan pandangan tekstual Khawarij.  Studi ini tidak hanya mengungkapkan bagaimana Abu Zaid menanggapi ideologi Khawarij, tetapi juga mengevaluasi implikasi dari hubungan ini terhadap pemahaman Islam kontemporer dan upaya untuk melawan ekstremisme agama. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam memahami dialektika antara pemikiran progresif dan harfiah dalam wacana Islam.
Mysticism and Mujarobat : Local Wisdom in the Tafsir Petuk Semen, Kediri
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.27703

Abstract

A work of Qur’anic exegesis cannot be separated from the cultural locality surrounding it. Kiai Haji (KH.) Ahmad Yasin Asymuni is one of the Nusantara’s mufasir whose work is Tafsir Petuk Semen, Kediri. Until now, no research has specifically examined the local aspects of this Qur’anic exegesis, especially through the approach of modern hermeneutic theory. This study aims to identify aspects of locality in the Nusantara context contained in the Tafsir Petuk Semen, Kediri. This study uses a qualitative method (literature study) and analysis using Gadamer's hermeneutic horizon theory and the theory of living Qur'an reception. The results show that the Tafsir Petuk Semen, Kediri, has four local aspects. First, the interpretation is equipped with a Javanese translation. Second, the use of the method of grammatical translation of meanings is typical of Islamic boarding schools. Third, the use of Jawi script (Arabic Pegon) in the translation. Fourth, the many mujarobat practices with extraordinary efficacy from the interpreted verses. These findings contribute to the study of Qur’anic exegesis globally by showing how local Javanese Islamic traditions integrate language, script, pesantren methodology, and spiritual practices in Qur’anic exegesis, thereby enriching the discourse on knowledge transmission and epistemological plurality. Sebuah karya tafsir tidak bisa terlepas dari lokalitas budaya yang mengelilinginya. Lokalitas tersebut mempengaruhi corak, penggunaan bahasa dan aksara, serta isu yang diangkat. Kiai Haji (KH.) Ahmad Yasin Asymuni merupakan salah satu mufasir Nusantara yang menulis beberapa karya tafsir, salah satunya Tafsir Petuk Semen, Kediri. Namun, hingga saat ini belum ada penelitian yang secara khusus mengkaji aspek lokal dari tafsir Al-Qur'an KH. Yasin Asymuni dan faktor-faktor yang membentuknya, khususnya melalui pendekatan teori hermeneutika modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek lokalitas dalam konteks Nusantara yang terdapat dalam Tafsir Petuk Semen, Kediri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Penulis menganalisa data melalui teori horizon hermeneutika Gadamer dan teori resepsi living Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir Petuk Semen, Kediri, memiliki empat aspek lokalitas. Pertama, tarsif tersebut dilengkapi dengan terjemahan bahasa Jawa. Kedua, penggunaan metode tarjamah gramatika makna gandul khas pesantren. Ketiga, penggunaan aksara Jawi (Arab Pegon) dalam terjemahan. Keempat banyaknya amalan mujarobat dengan khasiat luar biasa dari ayat-ayat yang ditafsirkan. Temuan ini berkontribusi pada kajian tafsir Al-Qur’an secara global dengan menunjukkan bagaimana tradisi Islam lokal Jawa mengintegrasikan bahasa, aksara, metodologi pesantren, dan praktik spiritual dalam penafsiran Al-Qur’an, sehingga memperkaya diskursus tentang transmisi pengetahuan, dan pluralitas epistemologi.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue