Articles
417 Documents
OTORITAS TAFSIR AGAMA DALAM PEMIKIRAN KHALED ABOU EL FADL
HERMENEUTIK Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5546
Tulisan ini mengkaji pemikiran Khaled Abou el Fadl tentang otoritas tafsir yang berkembang di dunia Islam. Tafsir berkembang secara masing di belahan dunia Islam, hal ini disebabkan problem yang mengitari umat Islam. Namun yang menjadi problem ialah bagaimana tafsir tersebut dapat mempunyai otoritas sebagai wajah agama dan menjadi wakil Tuhan dalam menyebarkan ajaran Islam. Penelitian ini akan memberikan wacana dengan model kajian kepustakaan yang menggunakan metode kualitatif dengan merujuk pada sumber primer dari pemikiran Khaled Abou el Fadl untuk menemukan gagasannya tentang otoritas tafsir agama. Diharapkan kajian ini bisa memberikan jawaban dari kegelisahan atas otoritas agama yang menjadi perdebatan dari tafsir. Dengan demikian, ada peran pembaca yang harus bersikap biajk dan hati-hati dalam memahami ajaran agam dalam menafsirkan, karena kelengahan pembaca akan memunculkan sikap arogansi terhadap ajaran agama.
PEMIKIRAN KYAI HAJI HASYIM ASY’ARI TENTANG PENDIDIKAN AL-QUR’AN DI INDONESIA
HERMENEUTIK Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4549
Peran sentral Kyai Haji Hasyim Asy’ari dalam pemikiran pendidikan al-Qur’an di Indonesia tidak dapat diragukan. Melalui Pesantren Tebuireng di Jombang Jawa Timur yang demikian fenomenal, Kyai Hasyim mempraktikan pendidikan al-Qur’an kepada para santri dan masyarakat dalam memperbaharui pendidikan Islam Indonesia yang pada waktu itu tertinggal jauh dari pendidikan barat yang digagas oleh Belanda. Bagi Kyai Hasyim, pendidikan al-Qur’an merupakan dasar yang utama dalam mengembangkan pendidikan Islam Indonesia ke depan.Paling tidak terdapat empat alasana kenapa Kyai Haji Hasyim Asy’ari melakukan pendidikan al-Qur’an di Indonesia kala itu, yaitu: Pertama, Kyai Hasyim sangat sadar bahwa untuk melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan Kolonial Belanda harus dimulai dari pembaruan pendidikan Islam yang bertumpu pada al-Qur’an. Kedua, Kyai Hasyim sangat prihatin melihat kondisi bangsa Indonesia kala itu yang miskin, bodoh, dan ditindas oleh pemerintah Kolonial Belanda, maka untuk membebaskan mereka tiada jalan kecuali membangkitkan mereka dari keterpurukannya melalui pendidikan al-Qur’an. Ketiga, modernisasi yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda membawa dampak negatif bagi perkembangan sosial-budaya bangsa Indonesia kala itu sehingga masyarakat harus dibentengi dengan ajaran al-Qur’an, dan Keempat, untuk memperkuat umat Islam, khususnya Jam’iyah NU, harus dibentengi dengan nilai-nilai dasar al-Qur’an.Tulisan ini bermaksud mengurai pemikiran pendidikan al-Qur’an Kyai Haji Hasyim Asy’ari dalam mengembangkan pendidikan Islam Indoneia. Dari pemikiran Kyai Hasyim ini jelas nampak terdapat hubungan positif terhadap perkembangan pendidikan Islam dewasa ini
DISKURSUS TENTANG BENDA-BENDA ANGKAA LUAR MENURUT PAR MUFASSIRDAN ASTRONOM
HERMENEUTIK Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i1.915
Fokus pembahasan dalam artikel ini adalah eksistensi bendabenda angkasa luar dengan menggunakan perspektif dari paramufassir dan astronom. Ini dikarenakan al-Qur’an sebenarnyatelah menginformasikan hal ini secara sejak 14 abad yang lalumeskipun hanya berupa garis besarnya saja. Langit yang luasnyatak terjangkau oleh perhitungan akal manusia itu bukanlahruang kosong, tetapi berisi bermacam-macam benda sepertigalaksi atau gugusan bintang (buruj), tata surya, bintang(najm),komet, meteor, asteroid, planet, bulan, dan matahari. Al-Qur’anmenyebutkan, bahwa bulan itu bercahaya, sedang mataharibersinar. Perputaran matahari pada sumbunya sendiri. Rotasimatahari itu disebabkan adanya gaya gravitasi yang disebut gayacentrifugal, sehingga ia tidak jatuh ke pusat galaksi kabut susuyang mempunyai gaya centripetal. Gaya gravitasi matahari itu jugaberfungsi menahan sembilan planet yang menjadi anggotanya,sehingga mereka berevolusi mengelilingi matahari tersebut. Artikelini menemukan adanya korelasi antara konsepsi al-Qur’an denganteori para astronom di mana benda-benda alam semesta ini terusberkembang meluas sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dariyang satu dengan yang lain. Benda-benda itupun tidak hanya diamdan tenang, tetapi semuanya beredar pada orbit masing-masingsecara seimbang dan serasi sesuai dengan qadar Allah sampai padawaktu yang ditentukan.
Interpretasi Fazlur Rahman Atas Isu Poligami (Studi Analisis Q.S An-Nisa: 3)
Hayati, Ridha
HERMENEUTIK Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i2.6074
This paper discusses the debate on interpretation of Q.S. An-Nisa: 3 which often used as an argument for polygamy. The problem that arises from that interpretation is the emergence of “naughty” perspectives from of most of the men. The resulting consequences are the occurrence of disharmony and even bring up conflicts that often involve children as victims. Because we live in a complex era of polemics that arise, it is important to solve the problem by looking at the thinking of contemporary scholars who are expected to provide solutions to the problems of the ummah. Therefore, to respond to the problem, the writer takes Fazlur Rahman's thought as a related analysis blade Q.s. An-Nisa: 3 which becomes the central verse in the discussion of polygamy, by looking at the socio-historical context of the decline of the verse through his double-movement theory. From these methods it can be seen that the marriage that the al-Qur'an aspired to is a monogamous marriage.
Pendekatan Historis Sosiologis Terhadap Ayat-Ayat Ahkam dalam Studi Al-Qur'an Perspektif Fazlur Rahman
HERMENEUTIK Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.883
Artikel ini mengeksplorasikan tentang pemikiran Fazlurrahmantentang metolodologi tafsirnya double movement. Tujuan metodologitafsir bagi Rahman adalah untuk menangkap kembali pesan moraluniversal Al-Qur’an yang obyektif itu, dengan cara membiarkan AlQur’an berbicara sendiri, tanpa ada paksaan dari luar dirinya, untukkemudian diterapkan pada realitas kekinian. Langkah kerja metodepenafsirannya tersebut diimplementasikan baik pada wilayah hukumdan sosial, serta masalah metafiis dan teologis. Untuk wilayahhukum dan sosial Rahman menerapkan pendekatan historis sosiologisdan metode double movement. Hasil dari penelitian ini adalahal-Qur’an berselimutkan sejarah, sehingga untuk memahaminyameniscayakan untuk menggunakan pendekatan historis. Pendekatanhistoris hendaknya dibarengi dengan pendekatan sosiologis, yangkhusus memotret kondisi sosial yang terjadi pada massa al-Qur’anditurunkan. Aplikasi dari pendekatan ini dalam prakteknyamemunculkan apa yag seringkali orang menyebut dengan gerakanganda (double movement), sebagaimana yang ditawarkan FazlurRahman. Metodologi penafsiran al-Qur’an yang utuh dan padu, yangdia tawarkan adalah metode penafsiran yang memuat di dalamnya2 (dua) gerakan. Gerakan pertama berangkat dari situasi sekarangmenuju ke situasi massa al-Qur’an diturunkan dan gerakan keduakembali lagi, yakni dari situasi massa al-Qur’an diturunkan menujuke massa kini.
Model Pemikiran Tafsir Al-Kasysyaf Karya Imam Az-Zamakhsyari
HERMENEUTIK Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5528
Al-Qur’an sebagai kitab mu’jizat tentu membutuhkan respons dari para mufasir untuk memaksimalkan fungsinya sebagai rahmat bagi sekalian alam, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan penuntun jalan ke surga atau keselamatan. Tanpa pemikiran tafsir tentu saja fungsi ini menjadi sulit dipenuhi karena begitu pelik dan tingginya balaghah bahasa yang dipakai dalam al-Qur’an. Hal ini wajar karena al-Qur’an adalah kitab wahyu yang menggunakan bahasa Tuhan, kemudian didekatkan dengan bahasa manusia, yaitu bahasa Arab.Karena begitu tinggi aspek kebahasaan yang dikandung al-Qur’an, dan disertai maksud serta pesan terselubung dari penulis tafsir, pemikiran tafsir dalam perkembangannya telah mengalami dinamika yang demikian tajam. Tidak sedikit antara satu mufasir dengan mufasir lainnya, bukan hanya berbeda pendapat namun terkadang saling menyerang. Salah satu tafsir yang banyak menyerang kalangan sunni adalah Tafsir al-Kasysyaf karya Imam az-Zamakhsyari yang menjadi objek kajian penulis.Kali ini penulis berusaha menyuguhkan model pemikiran tafsir Imam az-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasysyaf, karena tafsir ini berpengaruh besar dalam belantara pemikiran tafsir di dunia Islam. Pengaruh yang diberikan tafsir ini tidak hanya di kalangan mu’tazilah saja, namun juga berpengaruh di kalangan suni yang selama ini sering menolak teologi mu’tazilah yang dianut Imam az-Zamakhsyari.
PEMBACAAN AL-QUR’AN DALAM PERSPEKTIF IMAM AL-QURTUBI
HERMENEUTIK Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.907
Artikel ini membahas tentang Qira>’a>t yang merupakan disiplinilmu yang penting, terutama bagi mereka yang hendak menafsirkanal-Qur’an. Banyak para ulama Islam yang menaruh perhatian yangserius terhadap disiplin ilmu ini. Tujuan penulisan ini adalah untukmengetahui seluk beluk ragam bacaan al-Qur’an. Sebagagaimanaal-Qurt| ubi dalam kitab tafsirnya al-Jami’ li Ah} ka>m al-Qur’an, alQurt| ubi tidak mengabaikan qira>at dalam menafsirkan ayat alQuran. Hal ini bisa dilihat dalam uraian penafsiran beliau, terlebihlagi pada ayat-ayat yang bermuatan hukum. Adapun sumber kitabkitab qira>at yang beliau pakai di dalam kitab tafsirnya antara lain:Kitab al-Kasyf ‘an Wuju>h al-Qira>at as-Sab’ wa ‘Ilaluha wa H} ujajihakarya Abu Muhammad Makki bin Abu Thlib al-Qi>si, Al-H} ujjah f‘Ilal al-Qira>at as-Sab’, karya Abu Ali al-Hasan bin Ahmad al-Farisi,Al-Muhtasab f Tabyi>n Wuju>h Syawa>z\ al-Qira>at wa al-Id} a>h ‘Anha,karya Abu al-Fath Us} ma \ n bin Jinni, dan kitab-kitab karya Abu Amr >ad-Dani. Penulis menggunakan pendekatan konten analisis untukmembedah makna dibalik ragam bacaan dalam al-Qur’an tersebut.Hasilnya adalah sebagaimana al-Qurt| ubi menyebutkan tentangperbedaan qiraat yang memiliki dampak hukum yang diakibatkandari variasi qiraat tersebut sehingga menimbulkan perbedaanpendapat di kalangan ahli fiih lalu beliau mendiskusikannya.Banyaknya qiraat dan variasi hukum yang ditimbulkan bukanberarti mengindikasikan adanya kontradiksi antar keduanya.
Internalisasi Hermeneutika Lontar Yusuf Sebagai Tradisi Masyarakat Kemiren, Banyuwangi
HERMENEUTIK Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.6064
Seiring berkembangnya zaman, kajian al-Qur’an mengalami perkembangan wilayah kajian. Dari kajian teks menjadi kajian sosial-budaya. Tradisi Lontar Yusuf adalah salah satu dari sekian banyak fenomena umat Muslim dalam menghadirkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini memiliki daya tarik tersendiri bahkan sampai saat ini tradisi Lontar yusuf masih hidup di masyarakat Kemiren. Hal yang membedakan tradisi ini ialah dalam prosesi Lontar Yusuf membaca arab pegon dan berupa seperti kitab. Dengan latar sosial keagamaan serta budayanya tentu masyarakat Kemiren memiliki pemahaman dan pemaknaan tertentu. Dengan begitu, fokus penelitian ini adalah 1) Bagaimana praktik tradisi Lontar Yusuf di Desa Kemiren, Banyuwangi? 2) Apa makna tradisi Lontar Yusuf perspektif masyarakat Kemiren, Banyuwangi? Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis dan metode observasi-wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui praktik tradisi Lontar Yusuf yang telah di turunkan secara turun temurun oleh leluhur mereka yang dipercaya hingga kini. Makna tradisi Lontar Yusuf perspektif masyarakat Kemiren secara fenomenologis yakni, 1) Sarana ukhuwah 2) Sebagai penolak balak 3) Sarana bermunajat kepada Allah 4) Sarana dzikir
KONSEP FAWATIH AS-SUWAR IMAM AL-MARAGI DALAM TAFSIR AL-MARAGI
HERMENEUTIK Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.872
Dalam al-Qur’an ada berbagai bentuk yang digunakan oleh Allahdalam memulai fimanNya. Terkadang sebuah surat diawalidengan tahmid, tasbih,nida’, sumpah, amr dan lain-lain. Artikel inimencoba mengeksplorasi lebih jauh tentang makna dibalik fawatihas-suwar dalam tafsir al-mara>gi>. Dalam beberapa surat ternyataAllah membuka fimanNya dengan kalimat berbeda yang seringdisebut dengan al-ah} ruf al-muqat} t{ a’ah sehingga menimbulkanmisteri dan tanda tanya besar karena sulit dipahami maknanyadibalik beberapa kalimat pembuka yang berada di luar kebiasaanitu. Penulis membedah persoalan ini dengan menggunakanpendekatan semantik untuk melakukan pemaknaan terhadapkalimah yang dijadikan pembuka surat dalam al-Qur’an. Hasilnyaadalah mengetahui sisi keunikan pemikiran Al-mara>gi dalammenafsirkan fawath as-suwar, meski sampai saat ini masih belumtentu diketahui secara pasti tentang misteri yang terdapat dibalikhuruf muqatt’ah tersebut. Al-mara>gi adalah salah satu mufassiryang mampu memaknai huruf muqatt’ah sebagai at-tanbih.
Eksplikasi Konsep Milku al-Yamīn dalam Kajian Tafsir Tematik Era Modern
HERMENEUTIK Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i2.12039
AbstrakPenelitian bertujuan untuk mendeskripsikan konsep milku al-yamīn dalam al-Qur’ān, apakah maknanya sebuah alternatif penyaluran seksual ataukah ini berupa gambaran tradisi yang terjadi di kalangan masyarakat Arab sebelum Islam. Penelitian yang dilakukan Muḥammad Syaḥrūr menunjukkan keabsahaan hubungan seks di luar nikah dengan memahami makna milku al-yamīn di era kontemporer ini adalah kontrak yang dilakukan antara laki dan perempuan untuk melakukan hubungan seksual. Dengan hasil penelitiannya tersebut memunculkan pro kontra dan problematik di tengah masyarakat Indonesia. Sehubungan dengan menjembatani serta mendalami makna milku al-yamīn dalam kajian tafsir tematik. Sebagai kesimpulannya makna milku al-yamīn itu adalah budak perempuan yang didapat lewat peperangan, tidak termasuk maknanya cara-cara selainnya. Sedangkan kebolehan untuk bergaul dengan mereka itu bukan untuk pelampiasan hasrat seksual, akan tetapi secara historis sebagai upaya untuk mengangkat derajat budak setara dengan merdeka. Konsep ini dapat dinilai sebagai jalan lain untuk menangkal diskriminasi terhadap tuduhan berbuat zina.AbstractThe research purposed to find out the concept of milku al-yamīn in the Koran, whether it means an alternative sexual channeling or is it a description of the tradition that occurred in the Arab society before Islam. Research conducted by Muḥammad Syaḥrūr as the validity of non-marital sexual relations shows that understanding the meaning of milku al-yamīn in this contemporary era is a contract between a man and a woman to have sexual intercourse. With the results of his research, it raises the pros and cons and problems in Indonesian society. In connection with bridging and deepening the meaning of milku al-yamīn in the Koran through a thematic interpretation approach. In conclusion, the meaning of milku al-yamīn is that of a slave girl who is obtained through war, excluding its meaning from other ways. While the ability to associate with them is not for an outlet of sexual desire, but historically as an attempt to elevate the status of slaves to the equivalent of freedom. This concept can be considered as an alternative to fight discrimination against people accused of adultery.