cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 260 Documents
Psychosocial Well-being in the Qur'an: A Contextual Analysis through the Lens of Social Theory Mustakim, Ahmad; Rofhani, Rofhani; Sholihah, Fariha Akmaliatu
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 20, No 1 (2026): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v20i1.33420

Abstract

This research article examines the foundations of the Qur'an as they relate to psychosocial well-being through a contextual hermeneutic approach that integrates contemporary social theory. By examining the concepts of sakinah, rahmah, ihsan, al-'adl, and ukhuah, this study aims to analyse how Qur'anic values can be reinterpreted to address modern psychosocial issues, particularly psychosocial well-being, arising from socio-economic inequality and cultural fragmentation. This research is a qualitative study using Berger & Luckmann's social construction theory and Giddens' structuralism theory as analytical lenses to explain how religious meanings are embedded in social practices and institutional arrangements. Methodologically, this qualitative study combines thematic content analysis of classical interpretations and contemporary literature (2015–2025) with theoretical triangulation. There are three findings: first, sakinah as a stabilizing psycho-spiritual mechanism. Second, rahmah–ihsan is a relational ethic that strengthens social cohesion. Third, al-'adl-ukhuah is a structural principle that facilitates collective prosperity. This study contributes a theoretical framework that operationalizes Qur'anic values within justice-oriented psychosocial interventions and social policies. The implications are relevant for mental health practitioners, policymakers, and academics researching religion-society relations. Penelitian ini mengkaji landasan-landasan Al-Qur’an terkait kesejahteraan psikososial melalui pendekatan hermeneutika kontekstual yang diintegrasikan dengan teori sosial kontemporer. Dengan menelaah konsep-konsep sakinah, rahmah, ihsan, al-‘adl, dan ukhuah, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat ditafsirkan ulang guna merespons isu-isu psikososial modern, khususnya terkait kesejahteraan psikologis, yang muncul akibat ketimpangan sosial-ekonomi dan fragmentasi budaya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan teori konstruksi sosial Berger & Luckmann dan teori strukturalisasi Giddens sebagai lensa analitis untuk menjelaskan bagaimana makna-makna keagamaan tertanam dalam praktik sosial dan pengaturan kelembagaan. Secara metodologis, studi kualitatif ini menggabungkan analisis isi tematik terhadap tafsir klasik, literatur kontemporer (2015–2025), dan triangulasi teoretis. Terdapat tiga temuan hasil: pertama, sakinah sebagai mekanisme psiko-spiritual yang menstabilkan. Kedua, rahmah–ihsan sebagai etika relasional yang memperkuat kohesi sosial. Ketiga, al-‘adl–ukhuah sebagai prinsip struktural yang memfasilitasi kemakmuran kolektif. Studi ini menyumbangkan kerangka teoretis yang mengoperasionalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam intervensi psikososial dan kebijakan sosial yang berorientasi pada keadilan. Implikasinya relevan bagi praktisi kesehatan mental, pembuat kebijakan, dan akademisi yang meneliti hubungan antara agama dan masyarakat.
The Meaning of Syarab in QS. An-Nahl [16]:69: Integrating Qur’anic Exegesis and Roland Barthes’ Semiotics Muliadi, Muliadi; Febiani, Astri Vitria; Millah, Asef Syaeful
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.33389

Abstract

The interpretation of the Qur’anic verses does not stop at a literal understanding, but demands an approach capable of uncovering layers of symbolic meaning. This study analyzes the term syarab in QS. An-Nahl [16]:69 using Roland Barthes’ semiotic theory, which divides meaning into two sign systems: the first level (denotation/linguistics) and the second level (myth/connotation). This research employs a qualitative method with descriptive-analytical analysis through library research. The peimary data sources include the Qur’an, books of tafsir (exegesis), and hadith, supported by secondary data from dictionaries and related articels. The results indicate that denotatively, syarab meand “a drink”, which is anything that can be consumed. At the connotative level, syarab is understood as honey, which has various colors and healing properties, as affirmed in various classical and modern exegesis books. Honey is positioned as a symbol of divine pleasure, a sign of Allah’s power, and a medium for healing since the time of the Prophet. Barthes’ semiotic approach expands the scope of interpretation of the Qur’anic text by bridging textual and contextual meanings, and proves the relevance of semiotic studies in Qur’anic exegesis. This finding contributes to the strengthening of contemporary exegesis methodology and opens opportunities for further research on the application of semiotics in Qur’anic studies. Penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada pemahaman literal, namun menuntut pendekatan yang mampu mengungkap lapisan makna simbolik. Kajian ini menganalisis istilah syarab dalam QS. An-Nahl [16]:69 menggunakan  teori semiotika Roland Barthes yang membagi makna  ke dalam dua system tanda: tingkat pertama  (denotasi/linguistik) dan tingkat kedua (mitos/konotasi). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif-analisis melalui studi kepustakaan,. Sumber data primer meliputi Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir, dan hadits, didukung data sekunder dari kamus dan artikel terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotative syarab bermakna “minuman”, yaitu segala sesuatu yang dapat diminum. Pada tingkat konotatif, syarab dipahami sebagai madu yang memiliki beragam warna serta khasiat penyembuhan, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai kitab tafsir klasik dan modern. Madu diposisikan sebagai symbol kenikmatan ilahi, tanda kekuasaan Allah, serta media  penyembuhan sejak masa Nabi. Pendekatan semiotika Barthes memperluas ruang interpretasi terhadap teks Al-Qur’an dengan menjembatani makna tekstual dan kontekstual, serta membuktikan relevansi kajian semiotika dalam studi tafsir Al-Qur’an. Temuan ini berkontribusi pada penguatan metodologi tafsir kontemporer dan membuka peluang penelitian lanjutan mengenai penerapan semiotika dalam studi Al-Qur’an.
Reinterpreting the Meaning of Qawwam in QS. Al-Nisa [4]:34: An Intertextuality Analysis in The Qur'an with Cross-References Fauziah, Meilani Nurul; Nidhom, Khoirun; Shofa, Ida Kurnia
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 20, No 1 (2026): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v20i1.37759

Abstract

The interpretation of QS. Al-Nisa [4]:34, particularly the term qawwam, continues to be a subject of debate in exegetical studies because it is often associated with the legitimization of male leadership over women. This study aims to analyze forms of intertextuality in The Qur'an with Cross-References by Mun'im Sirry and to explain the reinterpretation of the meaning of qawwam that emerges through the relationships between verses. This study is a qualitative study based on literature review, employing a descriptive-analytical method and an intertextuality approach. The primary data consists of the book The Qur'an with Cross-References by Mun'im Sirry, while secondary data was obtained from exegetical works, books, and relevant scholarly articles. The results of the study indicate that there are four forms of intertextuality in the book The Qur’an with Cross-References, namely terminological, methodological, receptive, and interpretive intertextuality. The meaning of qawwam is constructed through a system of cross-references by referring to a number of verses, including QS. Al-Baqarah [2]:202, QS.Al-Baqarah [2]:228, QS.Al-Nisa [4]:32, QS.Al-Nisa [4]:128, and QS.Al-Ahzab [33]:35. The relationship between these verses highlights an emphasis on the principle of justice, the balance of rights and obligations, and reciprocity between men and women. In this context, qawwam is not interpreted as the absolute superiority of men over women, but rather as a form of relational and functional responsibility within the domestic sphere. This study demonstrates that the intertextual approach in The Qur'an with Cross-References not only serves as a method for connecting verses but also functions as a hermeneutical strategy in constructing a more contextual and egalitarian reinterpretation of the meaning of qawwam. Penafsiran terhadap QS. Al-Nisa[4]:34, khususnya pada lafaz qawwam, terus menjadi perdebatan dalam studi tafsir karena sering dikaitkan dengan legitimasi kepemimpinan laki-laki atas perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk intertekstualitas dalam The Qur'an with Cross-References karya Mun'im Sirry serta menjelaskan reinterpretasi makna qawwam yang terbentuk melalui relasi antar ayat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif-analitis dan pendekatan intertekstualitas. Data primer penelitian berupa buku The Qur'an with Cross-References karya Mun'im Sirry, sedangkan data sekunder diperoleh dari kitab tafsir, buku, dan artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat bentuk intertekstualitas dalam buku The Qur’an with Cross-References, yaitu intertekstualitas terminologis, metodologis, reseptif, dan interpretatif. Makna qawwam dibangun melalui sistem cross-references dengan merujuk pada sejumlah ayat, di antaranya QS.Al-Baqarah [2]:202, QS. Al-Baqarah[2]:228, QS.Al-Nisa [4]:32, QS.Al-Nisa [4]:128, dan QS.Al-Ahzab [33]:35. Relasi antar ayat tersebut memperlihatkan adanya penekanan terhadap prinsip keadilan, keseimbangan hak dan kewajiban, serta kesalingan antara laki-laki dan perempuan. Dalam konteks ini, qawwam tidak dimaknai sebagai superioritas mutlak laki-laki atas perempuan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab relasional dan fungsional dalam ranah domestik. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan intertekstualitas dalam The Qur'an with Cross-References tidak hanya berfungsi sebagai metode penghubung antar ayat, tetapi juga menjadi strategi hermeneutik dalam membangun reinterpretasi makna qawwam secara lebih kontekstual dan egaliter.
The Qur’anic Values of Sakinah, Mawaddah, and Rahmah: Relevance for Islamic Marriage in Contemporary Society Syafii, Syafii; Imran, Maryam Ibnata; Ihcsan, Catur Maulana
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 20, No 1 (2026): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v20i1.37558

Abstract

Marriage in Islam is a sacred institution aimed at establishing a harmonious family based on the values of sakīnah, mawaddah, and raḥmah, while also realizing maṣlaḥah (public and private welfare). These values are implemented through the principle of muʿāsharah bil maʿrūf, which emphasizes justice and the balanced fulfillment of rights and obligations between husband and wife. However, urbanization, individualism, and the digitalization of family life present new challenges, thereby necessitating further study on their meanings and applications in contemporary contexts. This study employs a qualitative approach using the library research method. The data are derived from secondary sources and analyzed through descriptive analysis, while the conclusions are drawn using a deductive approach. The values of sakīnah, mawaddah, and raḥmah in the Qur’ān constitute an integrated ethical framework for constructing harmonious marital life: sakīnah provides inner tranquility and emotional stability, mawaddah represents active and sustained love expressed through care and commitment, and raḥmah embodies compassion, patience, and empathy, particularly in times of hardship. Collectively, these three values form the foundational objectives of Islamic marriage by fostering a stable, loving, and compassionate family life in accordance with sharīʿah. In contemporary settings characterized by urbanization, individualism, and digitalization, these values are actualized through adaptive practices such as healthy communication, emotional presence, balanced rights and obligations, and the ethical use of technology, and are further reinforced through family worship and parental responsibility. Together, they ensure that Islamic marital life remains spiritually grounded, emotionally balanced, and socially resilient in the face of modern challenges. Pernikahan dalam Islam merupakan institusi yang sakral dengan tujuan membangun keluarga yang harmonis berdasarkan nilai-nilai sakīnah, mawaddah, dan raḥmah, sekaligus mewujudkan maṣlaḥah (kemaslahatan) bagi individu maupun masyarakat. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui prinsip muʿāsharah bil maʿrūf, yang menekankan keadilan serta pemenuhan hak dan kewajiban secara seimbang antara suami dan istri. Namun, urbanisasi, individualisme, dan digitalisasi menghadirkan tantangan baru yang menuntut kajian lebih mendalam mengenai makna dan implementasi nilai-nilai tersebut dalam konteks kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber sekunder dan dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif, sedangkan penarikan kesimpulan dilakukan melalui pendekatan deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai sakīnah, mawaddah, dan raḥmah dalam Al-Qur’an merupakan kerangka etika yang terpadu dalam membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis. Sakīnah memberikan ketenangan batin dan stabilitas emosional, mawaddah merepresentasikan kasih sayang yang aktif dan berkelanjutan yang diwujudkan melalui kepedulian dan komitmen, sedangkan raḥmah mencerminkan belas kasih, kesabaran, dan empati, terutama dalam menghadapi berbagai kesulitan. Ketiga nilai tersebut secara kolektif menjadi tujuan utama pernikahan Islam dengan membentuk kehidupan keluarga yang stabil, penuh cinta kasih, dan berlandaskan kasih sayang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat. Dalam konteks masyarakat kontemporer yang ditandai oleh urbanisasi, individualisme, dan digitalisasi, nilai-nilai tersebut diaktualisasikan melalui praktik-praktik adaptif seperti komunikasi yang sehat, kehadiran emosional, keseimbangan hak dan kewajiban, penggunaan teknologi secara etis, serta diperkuat melalui ibadah dalam keluarga dan tanggung jawab orang tua. Dengan demikian, nilai-nilai tersebut memastikan bahwa kehidupan pernikahan dalam Islam tetap berlandaskan spiritualitas, memiliki keseimbangan emosional, dan tangguh secara sosial dalam menghadapi tantangan zaman.
Beyond Bruner’s Constructivism: An Epistemological Synthesis of Discovery Learning in the Qur'an for Holistic Islamic Education Al Mubarok, Ahmad Furqon; Dimyati, Sanja; Fikri, Muhammad Jauharil; Hernawati, Hernawati; Ghofur, Abdul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 20, No 1 (2026): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v20i1.37668

Abstract

This study examines the concept of discovery learning in the Qur'an through the perspective of tafsīr tarbawī (educational exegesis). Amid the growing demand for student-centered learning in contemporary education, instructional models that promote active learner participation have become increasingly significant. Employing a qualitative library research approach, this study aims to analyze the manifestation of discovery learning principles in Qur'anic verses, particularly through the narratives of the prophets. The study applies a thematic (mawḍūʿī) interpretation of verses related to the process of seeking knowledge and truth, with a particular focus on the journey of Prophet Ibrahim (Abraham) in Qur'an 6:74–79. The findings reveal that the Qur'an implicitly incorporates learning stages that correspond to the discovery learning model, including stimulation through the observation of natural phenomena (tafakkur), problem identification, data collection, hypothesis testing, and conclusion drawing. The story of Prophet Ibrahim demonstrates the integration of cognitive and spiritual processes in the formation of faith and certainty. This study concludes that the Qur'an functions not only as a source of theological guidance but also as a source of pedagogical inspiration that is highly relevant to the development of contemporary Islamic education. Its educational principles contribute to fostering learners who are critical, reflective, and possess strong moral character. Penelitian ini mengkaji konsep discovery learning dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tarbawi. Di tengah tuntutan pendidikan modern yang menekankan partisipasi aktif peserta didik, model pembelajaran yang berpusat pada siswa menjadi semakin penting. Penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini bertujuan menganalisis manifestasi prinsip-prinsip discovery learning dalam ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya melalui kisah para nabi. Metode yang digunakan adalah tafsir tematik (maudhu‘i) terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan proses pencarian pengetahuan dan kebenaran, dengan fokus pada perjalanan Nabi Ibrahim a.s. dalam QS. Al-An‘am [6]: 74–79. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an secara implisit memuat tahapan yang selaras dengan model discovery learning, meliputi stimulasi melalui pengamatan fenomena alam (tafakkur), identifikasi masalah, pengumpulan data, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Kisah Nabi Ibrahim a.s. memperlihatkan integrasi antara proses kognitif dan spiritual dalam memperoleh keyakinan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai sumber ajaran teologis, tetapi juga sebagai sumber inspirasi pedagogis yang relevan bagi pengembangan pendidikan Islam kontemporer untuk membentuk peserta didik yang kritis, reflektif, dan berkarakter.
Reformist-Modernist Ideology in Indonesian Qur’anic Exegesis: A Sociology of Knowledge Analysis of Hasbi ash-Shiddieqy’s Tafsir an-Nuur Saddad, Ahmad; Aziz, Thoriqul
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 20, No 1 (2026): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v20i1.35872

Abstract

This study examines the reformist-modernist Islamic ideology embedded in Tafsir al-Qur’an al-Majid an-Nuur by Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (1904–1975), one of the most influential Indonesian mufassir of the twentieth century. The study departs from the argument that Qur’anic exegesis in Indonesia has long been shaped by ideological contestation between reformist-modernist and traditionalist Muslim orientations, yet the ideological structure of individual tafsir works remains insufficiently explored. Employing a qualitative descriptive-analytical method and Karl Mannheim’s sociology of knowledge as the theoretical framework, this research analyzes Tafsir an-Nuur as the primary source alongside biographical, historical, and socio-political data related to Hasbi’s intellectual life. The findings reveal three major points. First, Hasbi’s reformist-modernist ideology is reflected in his consistent call to return to the Qur’an and the Sunnah and in his efforts to purify Islamic teachings through criticism of taqlid, bid‘ah, khurāfāt, and tawassul practices considered inconsistent with authentic Islam. Second, his tafsir was shaped by several socio-historical factors, including the dominance of traditionalist Muslim communities in Indonesia, his political involvement in the reformist-oriented Masyumi Party, and the persistence of syncretic cultural traditions rooted in pre-Islamic beliefs. Third, Tafsir an-Nuur significantly influenced reformist Muslim communities, particularly Muhammadiyah, while also contributing to the development of contextual and socially engaged Qur’anic exegesis in Indonesia. This study contributes to Indonesian tafsir studies by demonstrating the dialectical relationship between ideology, socio-political context, and Qur’anic interpretation, while also extending Mannheim’s sociology of knowledge into the study of modern Indonesian tafsir. Penelitian ini mengkaji ideologi Islam reformis-modernis yang terkandung dalam *Tafsir al-Qur’an al-Majid an-Nuur* karya Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy (1904–1975), salah satu mufassir Indonesia paling berpengaruh pada abad ke-20. Penelitian ini berangkat dari argumen bahwa tafsir Al-Qur’an di Indonesia sejak lama dibentuk oleh kontestasi ideologis antara orientasi Islam reformis-modernis dan tradisionalis, namun struktur ideologis dari karya tafsir individual masih jarang dikaji secara mendalam. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dan kerangka sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, penelitian ini menganalisis *Tafsir an-Nuur* sebagai sumber utama yang dipadukan dengan data biografis, historis, dan sosial-politik terkait kehidupan intelektual Hasbi. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, ideologi reformis-modernis Hasbi tercermin dalam seruannya untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta upayanya memurnikan ajaran Islam melalui kritik terhadap taqlid, bid‘ah, khurāfāt, dan praktik tawassul yang dianggap tidak sesuai dengan Islam autentik. Kedua, tafsir Hasbi dipengaruhi oleh beberapa faktor sosio-historis, antara lain dominasi masyarakat Muslim tradisionalis di Indonesia, keterlibatannya dalam Partai Masyumi yang berorientasi reformis, serta kuatnya tradisi sinkretik yang berakar pada kepercayaan pra-Islam. Ketiga, *Tafsir an-Nuur* memberikan pengaruh signifikan terhadap komunitas Muslim reformis, khususnya Muhammadiyah, sekaligus berkontribusi pada perkembangan tafsir Al-Qur’an yang kontekstual dan responsif terhadap realitas sosial di Indonesia. Penelitian ini berkontribusi pada studi tafsir Indonesia dengan menunjukkan hubungan dialektis antara ideologi, konteks sosial-politik, dan interpretasi Al-Qur’an, sekaligus memperluas penerapan sosiologi pengetahuan Karl Mannheim dalam kajian tafsir modern Indonesia.
Islamic Educational Management in the Qur'an: An Analytical Study of Khasa'is al-Tafsir Huda, Syariful; Machali, Imam; Aminah, Aminah; Muhammad, Faik
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 20, No 1 (2026): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v20i1.37544

Abstract

This study analyses Islamic educational management in the Qur'an through the khasa'is al-tafsir approach, using Abd al-Hayy al-Farmawi's thematic interpretation (tafsir maudhu'i) method. It adopts a qualitative library research design that integrates thematic interpretation with the khasa'is al-tafsir approach. The primary data consist of Qur'anic verses on Islamic educational management, while secondary data are drawn from classical and contemporary tafsir works, scholarly books, and relevant academic journals. The analysis follows the stages of thematic interpretation proposed by Abd al-Hayy al-Farmawi, emphasising the Qur'an's lexical choices and linguistic structures. The findings reveal that the Qur'an provides an integrated framework for Islamic educational management, comprising planning, organisation, leadership and trustworthiness (amānah), consultation (shūrā), supervision and evaluation, professionalism, and efficient resource management. These seven components form a thematic unity (al-waḥdah al-maudhu'iyyah) that integrates managerial, ethical, and spiritual dimensions. This study implies that the principles of Islamic educational management are reflected not only in the semantic meanings of the verses but also in their linguistic expressions, offering a holistic Qur'anic paradigm that promotes institutional effectiveness, character formation, moral integrity, and spiritual responsibility. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep manajemen pendidikan Islam dalam Al-Qur'an melalui pendekatan khasa'is al-tafsir dengan menggunakan metode tafsir tematik (tafsir maudhu'i) Abd al-Hayy al-Farmawi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui integrasi metode tafsir tematik dengan pendekatan khasa'is al-tafsir. Data primer berupa ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan manajemen pendidikan Islam, sedangkan data sekunder diperoleh dari kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer, buku-buku ilmiah, serta jurnal akademik yang relevan. Analisis data dilakukan berdasarkan tahapan tafsir tematik yang dikemukakan oleh Abd al-Hayy al-Farmawi dengan menekankan pada pemilihan diksi dan struktur kebahasaan Al-Qur'an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur'an menawarkan kerangka manajemen pendidikan Islam yang terintegrasi yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan amanah (amānah), musyawarah (shūrā), pengawasan dan evaluasi, profesionalisme, serta pengelolaan sumber daya secara efisien. Ketujuh komponen tersebut membentuk kesatuan tema (al-waḥdah al-maudhu'iyyah) yang mengintegrasikan dimensi manajerial, etis, dan spiritual dalam pengelolaan pendidikan. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa prinsip-prinsip manajemen pendidikan Islam tidak hanya tercermin dalam makna semantik ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi juga dalam ekspresi kebahasaannya, sehingga menawarkan paradigma Qur'ani yang holistik yang menekankan efektivitas kelembagaan, pembentukan karakter, integritas moral, dan tanggung jawab spiritual.
From Purification to Resilience: The Qur’anic Concept of Tazkiyat al-Nafs and Its Relevance to Generation Z Mental Challenges in Islamic Boarding Schools Al Hafizh, Fauzan; Ramadhani, Wali; At-Tijjani, Mubarak
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 20, No 1 (2026): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v20i1.36524

Abstract

Generation Z students in Islamic boarding schools (pesantren) increasingly face complex mental challenges such as anxiety, emotional instability, and a sense of meaninglessness. These issues are intensified by academic pressures, digital culture, and identity transitions. Addressing such problems requires a Qur’anic framework that provides both spiritual guidance and practical solutions. This study aims to explore the Qur’anic concept of Tazkiyat al-Nafs as a spiritual strategy to overcome mental challenges among Generation Z in pesantren, and to evaluate its relevance in fostering resilience, self-discipline, and stable spirituality. Employing Abdul Hayy al-Farmawi’s thematic exegesis (Tafsir Maudhu’i), this research adopts a qualitative case study design at Ma’had Daarul Qur’an Langsa. Data were collected through textual analysis of Qur’anic verses related to purification, struggle (mujahadah), patience, gratitude, sincerity, and piety, complemented by in-depth interviews and direct observation of students and teachers. Data analysis involved reduction, categorization, and thematic interpretation. Findings reveal that Qur’anic principles effectively address Gen-Z mental challenges. Tazkiyat al-Nafs purifies the soul from negative traits; Mujahadah cultivates discipline; patience and gratitude strengthen resilience; while sincerity and piety establish stable spirituality. These practices reduce anxiety, enhance emotional regulation, and restore meaning in students’ lives. The Qur’anic concept of Tazkiyat al-Nafs is relevant and applicable to the mental challenges of Generation Z in pesantren. Integrating thematic exegesis into pesantren education is recommended as a holistic approach to reinforce students’ mental and spiritual well-being. Generasi Z yang menempuh pendidikan di pesantren menghadapi tantangan mental yang semakin kompleks, seperti kecemasan, instabilitas emosi, dan krisis makna akibat tekanan akademik, pengaruh budaya digital, serta transisi identitas. Kondisi ini menuntut pendekatan Qur’ani yang mampu memberikan solusi spiritual sekaligus praktis untuk memperkuat kesejahteraan mental santri. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep Qur’ani Tazkiyat al-Nafs sebagai strategi spiritual dalam mengatasi problem mental Generasi Z di pesantren, serta menilai relevansinya terhadap pembentukan resiliensi, disiplin diri, dan stabilitas spiritual. Penelitian menggunakan pendekatan tafsir tematik (Tafsir Maudhu’i) Abdul Hayy al-Farmawi dengan desain kualitatif studi kasus di Ma’had Daarul Qur’an Langsa. Data dikumpulkan melalui analisis ayat-ayat Qur’an terkait tazkiyah, mujahadah, sabar, syukur, ikhlas, dan taqwa, serta wawancara mendalam dan observasi langsung terhadap santri dan ustadz. Analisis dilakukan dengan teknik reduksi, kategorisasi, dan interpretasi tematik. Temuan menunjukkan bahwa konsep Qur’ani mampu menjadi solusi atas problem mental Gen-Z. Tazkiyat al-Nafs berfungsi sebagai purifikasi jiwa dari sifat negatif; Mujahadah melatih disiplin diri; sabar dan syukur menjadi strategi resiliensi; serta ikhlas dan taqwa membentuk fondasi spiritualitas yang stabil. Praktik ini terbukti menurunkan kecemasan, meningkatkan kontrol emosi, dan memperkuat rasa makna hidup santri. Konsep Qur’ani Tazkiyat al-Nafs relevan dan aplikatif dalam menjawab tantangan mental Generasi Z di pesantren. Integrasi tafsir tematik dengan pendidikan pesantren direkomendasikan sebagai pendekatan holistik untuk memperkuat kesejahteraan mental dan spiritual santri.
Debts and Receivables in the Qur'an: A Ma'na-cum-Maghza Interpretation of Q.S. Al-Baqarah [2]: 282 Amalia, Rosyida; Masrury, Farhan; Wahyu Sejati, Sartika Dita; Budi, Eko Prasetyo; Abidin, Ahmad Zainal
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 20, No 1 (2026): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v20i1.30458

Abstract

This paper aims to analyze the historical meaning and explore the significance of Q.S. al-Baqarah [2]: 282 from the perspective of tafsir mu‘āmalah using the ma‘nā cum maghzā approach. This verse is related to debt transactions (mudāyanah), which in the early period of Islam often led to potential injustice due to the absence of clear transaction records and the prevalence of usurious practices that disadvantaged borrowers. This study employs a qualitative method with a contextual exegesis approach through the analysis of historical meaning (ma‘nā al-tārīkhī) and the exploration of the main message of the verse (maghzā). The data were collected through library research by examining various classical and contemporary Qur’anic commentaries relevant to the study of mu‘āmalah. The results of the study show that Q.S. al-Baqarah [2]: 282 emphasizes three main principles in economic transactions: the recording of transactions as a form of legal certainty, the presence of a just scribe to maintain the objectivity of the agreement, and witnesses as a mechanism for transaction verification. These principles function to ensure justice, transparency, and the protection of rights in economic relations. In a contemporary context, the message of this verse is relevant to modern economic administrative practices such as written contracts, accounting systems, and transaction regulations in Islamic financial institutions. Thus, Q.S. al-Baqarah [2]: 282 can be understood as a normative foundation for building a fair, transparent, and accountable system of mu‘āmalah in modern economic life. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis makna historis serta mengungkap signifikansi QS. al-Baqarah [2]: 282 dalam perspektif tafsir muamalah melalui pendekatan ma‘nā cum maghzā. Ayat ini berkaitan dengan praktik utang-piutang (mudāyanah) yang pada masa awal Islam sering menimbulkan potensi ketidakadilan akibat tidak adanya sistem pencatatan transaksi yang jelas serta praktik riba yang merugikan pihak peminjam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir kontekstual melalui analisis makna historis (ma‘nā al-tārīkhī) dan penggalian pesan utama ayat (maghzā). Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan dengan menelaah berbagai literatur tafsir klasik dan kontemporer yang berkaitan dengan kajian muamalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. al-Baqarah [2]: 282 menekankan tiga prinsip utama dalam transaksi ekonomi, yaitu pencatatan transaksi sebagai bentuk kepastian hukum, kehadiran penulis yang adil untuk menjaga objektivitas perjanjian, serta kesaksian sebagai mekanisme verifikasi transaksi. Ketiga prinsip tersebut berfungsi untuk menjaga keadilan, transparansi, dan perlindungan hak dalam hubungan ekonomi. Dalam konteks kontemporer, pesan ayat ini relevan dengan praktik administrasi ekonomi modern seperti kontrak tertulis, sistem akuntansi, serta regulasi transaksi dalam lembaga keuangan syariah. Dengan demikian, QS. al-Baqarah [2]: 282 dapat dipahami sebagai landasan normatif dalam membangun sistem muamalah yang adil, transparan, dan akuntabel dalam kehidupan ekonomi modern.
Ecological Tendencies in Shaykh Nawawi al-Bantani’s Tafsir Maraḥ Labid : A Study of Environment-Related Qur'anic Verses Makfi, Muhammad Miqdam
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 20, No 1 (2026): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v20i1.34807

Abstract

Generation Z students in Islamic boarding schools (pesantren) increasingly face complex mental challenges such as anxiety, emotional instability, and a sense of meaninglessness. These issues are intensified by academic pressures, digital culture, and identity transitions. Addressing such problems requires a Qur’anic framework that provides both spiritual guidance and practical solutions. This study aims to explore the Qur’anic concept of Tazkiyat al-Nafs as a spiritual strategy to overcome mental challenges among Generation Z in pesantren, and to evaluate its relevance in fostering resilience, self-discipline, and stable spirituality. Employing Abdul Hayy al-Farmawi’s thematic exegesis (Tafsir Maudhu’i), this research adopts a qualitative case study design at Ma’had Daarul Qur’an Langsa. Data were collected through textual analysis of Qur’anic verses related to purification, struggle (mujahadah), patience, gratitude, sincerity, and piety, complemented by in-depth interviews and direct observation of students and teachers. Data analysis involved reduction, categorization, and thematic interpretation. Findings reveal that Qur’anic principles effectively address Gen-Z mental challenges. Tazkiyat al-Nafs purifies the soul from negative traits; Mujahadah cultivates discipline; patience and gratitude strengthen resilience; while sincerity and piety establish stable spirituality. These practices reduce anxiety, enhance emotional regulation, and restore meaning in students’ lives. The Qur’anic concept of Tazkiyat al-Nafs is relevant and applicable to the mental challenges of Generation Z in pesantren. Integrating thematic exegesis into pesantren education is recommended as a holistic approach to reinforce students’ mental and spiritual well-being. Krisis ekologis merupakan problem yang telah muncul sejak abad ke 19. Berbagai respon muncul dari berbagai kalangan dan golongan. Respon dari umat Islam tentunya juga mutlak diharapkan agar Islam benar-benar menjadi agama yang relevan, kapanpun, di manapun. Relevansi Islam yang tak lekang oleh tempat dan waktu ini harusnya terejewantahkan secara prinsipil pada penafsiran ayat-ayat Al-Quran. Marah Labid karya Syaikh Nawawi al-Bantani, sebagai karya tafsir yang muncul di abad 19-an Masehi, ketika revolusi industri masih hangat dan memunculkan banyak problem lingkungan, seyogyanya turut andil merespon masalah ekologis tersebut. Menggunakan teori hifẓ al-bī‘ah (menjaga lingkungan) dalam Maqashid al-Syariah, peneliti berusaha menelisik penafsiran Syaikh Nawawi terhadap ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan. Dengan analisis deskriptif, penelitian pustaka ini menggunakan Tafsir Marah Labid karya Syaikh Nawawi sebagai sumber sekunder utama ditambah berbagai sumber-sumber tambahan lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Syaikh Nawawi, dalam tafsirnya Marah Labid, secara spesifik belum menunjukkan kecenderungan praktis maupun teoretis terhadap kelestarian lingkungan yang sebenarnya sudah bermasalah sejak di masa Syaikh Nawawi sendiri. Terma fasad (kerusakan) di muka bumi selalu disebut sebagai azab Allah akibat dosa dan maksiat manusia, bukan pada aktivitas perusakan lingkungan yang sering dilakukan manusia. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan akademisi terkait respon ulama tafsir terhadap isu-isu kontemporer.

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2026): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue