cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 417 Documents
PERAN KH. MUHAMMAD ARWANI DALAM PENGEMBANGAN ILMU QIRAAT DI INDONESIA
HERMENEUTIK Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4520

Abstract

Ilmu Qira’at adalah termasuk salah satu bagian dari ilmu-ilmu al-Qur’an (Ulum al-Qur’an), tapi sayangnya ilmu ini terutama di Indonesia kurang mendapatkan perhatian oleh para Ulama. Khazanah kajian al-Qur’an di Indonesia mayoritas berada pada bidang Tafsir, ini dapat difahami karena tafsir atau penjelasan isi al-Qur’an adalah bagian yang sangat penting bagi masyarakat muslim. Akan tetapi, qira’at juga sangat diperlukan dalam tafsir al-Qur’an, oleh karena itu kajian terhadap ilmu qira’at menjadi sangat urgen. Salah seorang ulama Indonesia yang mempunyai konsentarasi penuh terhadap ilmu qira’at adalah KH.Arwani. Maka dalam tulisan ini akan dibahas mengenai bagaimana peranan beliau dalam mengembangkan ilmu qira’at di Indonesia
MENGUNGKA RAASIA SETAN DALAM AL-QUR’AN
HERMENEUTIK Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i1.916

Abstract

Artikel ini ingin mendiskripsikan bagaimana ketika Allah hendakmenciptakan Adam, para malaikat melakukan “interupsi” kepadaAllah atas kehendak-Nya, karena menciptakan mahluk yangdiprediksikan akan melakukan kerusakan di muka bumi. MakaAllah menjawab “Aku lebih mengetahui segala sesuatu yang tidakkalian ketahui”. Kemudian Allah mengadakan semacam “fiand proper test” kepada malaikat dan Adam, siapakah di antaramereka yang lebih luas pengetahuannya. Allah memerintahkankepada mereka untuk menyebutkan nama-nama segala sesuatuyang ada pada saat itu. Para malaikat tidak mampu menjawab,sedangkan Adam bisa menjawabnya dengan baik. Maka Allahmemerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam, dalamarti mengakui keunggulan dan menghormati Adam, kemudiansemuanya bersujud kecuali Iblis.
Persepsi Masyarkat Jepara tentang Makna Asar As-Sujud (Studi Living Qur’an Qs. Al-Fath Ayat 29) Karim, Abdul
HERMENEUTIK Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i2.6082

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang Persepsi Masyarakat Jepara mengenai makna Asar As-Sujud berdasarkan kajian terhadap Surat al-Fath ayat 29. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori Textuality  Jorge J. E. Gracia (Teori Interpretasi), di mana Faktor yang terpenting untuk menentukan makna suatu teks adalah konteks. Seringkali kasus yang terjadi dalam teks adalah penggunaan bahasa metaphor (denotasi atau konotasi), sehingga untuk menemukan makna yang sesuai harus ditelusuri historisitasnya. Demikian juga dengan memahami makna asar as-Sujud yang tepat maka perlu megetahui ungkapan bahasa tersebut dari aspek teks itu sendiri dan asbab an-Nuzulnya di sisi yang lain sebagai bagian dari historisitasnya yang dapat memunculkan makna secara kontekstual. Dengan pendekatan teori tersebut, maka dapat dipahami bahwa makna asar as-sujud  sebagai makna yang dapat diinterpretasikan secara dinamis sesuai dengan situasi dan kondisi sosio-kultural yang ada di tengah-tengan masyarakat saat itu dan saat kini. Sehingga dapat disimpulkan dari persepsi yang berkembang di dalam masyarakat Jepara bahwa makna asar as-Sujud sesungguhnya memiliki dua persepsi, yaitu: Pertama, persepsi yang dibangun dari paradigma tekstualis. Kedua, Persepsi yang dipahami dari paradigma kontekstual. 
INTERPRETASI KONTEKSTUAL ABDULLAH SAEED: SEBUAH PENYEMPURNAAN TERHADAP GAGASAN TAFSIR FAZLUR RAHMAN
HERMENEUTIK Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.884

Abstract

Artikel ini mengekplorasikan tentang pemikiran Abdullah Saeedtentang interpretasi kontekstual. Tujuan penulisan artikel iniadalah untuk menjawab kegelisahan Saeed sendiri maraknya tafsirtekstual-literal. Sebagai tandingan dari kecenderungan itu, diamenawarkan tafsir kontekstual yang mengambil banyak inspirasidari Rahman. Sedangkan, fokus penafsiran Saeed adalah kepadaayat-ayat etika hukum. Hasil penelitian ini adalah adanya upayayang dilakukan Saeed dalam mengembangkan tafsir kontekstualini, meskipun tidak secara eksplisit dinyatakannya sebagai pelanjutkerja Rahman tapi jejak-jejaknya bisa ditemui dengan jelas padapemikirannya. Saeed telah menerjemahkan gagasan Rahmandalam kerangka kerja yang lebih rigid. Kemudian, melalui hirarkinilainya, dengan berangkat dari inspirasi pemikiran klasik danRahman, dia telah menyelesaikan persoalan berkaitan denganpenentuan mana makna yang universal dan yang partikular. Disinilah sesungguhnya sumbangan Saeed dalam kancah pemikirankontemporer, khususnya di antara kaum kontekstualis.
Takut Kepada Allah Dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Sufistik Ayat-Ayat Khasyyatulla>H
HERMENEUTIK Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5561

Abstract

Agama Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya agar selalu takut kepada Allah dalam sendi kehidupannya. Namun demikian, tidak sedikit umat Islam yang memiliki sikap ini, selain karena alasan hati mereka tidak yakin dan berpaling dari Allah, juga karena mereka memang tidak mengenal Allah. Tulisan ini mengkaji ayat-ayat yang berkaitan dengan khasyyatulla>h dalam al-Qur’an. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan sufistik berdasarkan pada kitab tafsir karya Ibn ‘Arabi>, al-Qusyairi>, al-Alu>si, al-Tustari>, Sa’i>d H}awwa> dan Hamka. Dalam perspektif sufistik, makna khasyyatulla>h adalah rasa takut kepada Allah yang dimiliki oleh orang yang mempunyai keimanan tinggi yang akan menuntutnya untuk selalu takut kepada Allah. Al-Qur’an mengkhususkan pemilik khasyyatulla>h ini kepada ulama’, yaitu orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan adanya khasyyatulla>h, seseorang akan senantiasa memperbaharui taubat, menahan hawa nafsu, beramal saleh, menjalin ikatan sosial, dan menghidupkan masjid semakin makmur. Oleh karena itu, upaya menciptakan masyarakat yang harmonis untuk selalu dekat dan takut kepada Allah hanya dapat dicapai melalui tasawuf kolektif.
DISKURSUS TENTANG PLURAITAS PENAFSIRA AL-QUR’AN
HERMENEUTIK Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.908

Abstract

Artikel ini membahas tentang Kajian terhadap berbagai alirandan pemikiran mengenai penafsiran al-Qur’an akan semakinmenyadarkan betapa pentingnya orang memahami pluralitastersebut sebagai sunnatullah dan kenyataan hidup. Orang yangmenyadari akan adanya pluralitas, niscaya tidak akan mengklaimbahwa dirinyalah sebagai satu-satunya pemengang otoritaskebenaran. Penulis menggunakan pendekatan konten analisisuntuk mengetahui adanya klaim kebenaran (truth claim) yangcenderung menyebabkan seseorang menjadi esklusif dan tidakterbuka menerima kritik atau memahami pemikiran di luardirinya. Hasilnya Dalam kajian maz\ a>hibut tafsi>r, seseorangakan melihat betapa banyaknya ragam penafsiran orang dalammemahami al-Qur’an yang selama ini diklaim sebagai kebenaranmutlak. Padahal yang namanya “penafsiran al-Qur’an” dengan“al-Qur’an” itu sendiri adalah berbeda. Al-Qur’an pada dataranilahiah memang mutlak kebenarannya, tetapi penafsiran terhadapal-Qura’n adalah relatif dan nisbi. Kalau ternyata, penafsiran iturelatif sifatnya, melahirkan ragam penafsiran yang berbeda-beda,mengapa kemudian oleh sebagian orang, penafsiran itu cenderungdibekukan dan dibakukan bahkan disakralkan?
Hermeneutika Al-Qur’an Muhammad Talbi (Socio-Historical Hermeneutics)
HERMENEUTIK Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.6025

Abstract

This article discusses briefly about Mohammed Talbi’s modern interpretation of holy Qur’an. Two main ideas in his interpretation are: Talbi emphasizes on historical and humanist approach in reading Qur’an, that place great hermeneutical value on a historical context. The historical approach reads the Qur’an in light of the historical context in which the Qur’an was revealed. He also emphasizes, in addition to the first approach, on the maqasid approach, that the interpreter should understand the intentions of the text, to find something beyond the text, as the epistemological-hermeneutical ways to trace the foundation, spirit, and philosophical framework of the historical text, in order to be situated within todays context. In making cases of the approach, Talbi give example of the interpretation of An-Nisa: 34-35, that contains of the education ways of husband toward his wife. He refuses, with the contextual reading and making sense of the Arab tradition when the revelation of this text, the justification of awful ways of treating the wife, that irrelevant for the contemporary democratic society.
TARJIH DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN PERSPEKTIF IMAM ASY-SYAUKANI DALAM TAFSIR ASY-SYAUKANI
HERMENEUTIK Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.873

Abstract

Artikel ini mengeksplorasikan tentang konsep tarji>h} dalamperbedaan penafsiran al-Qur’an. Secara spesifi kajiannyafokus kepada tafsir Fath} al-Qadi>r. Tarji>h} secara bahasa adalahkecondongan atau pengunggulan. Sedangkan secara istilahmenguatkan salah satu pendapat dari berbagai pendapat dalampenafsiran ayat karena ada dalil atau kaidah yang menguatkannyaatau karena pelemahan atau penolakan terhadap selainnya.Perbedaan penafsiran telah adalah masa salaf, namun perbedaanitu lebih banyak variatif daripada kontradiktif. Dalam menyikapiperbedaan penafsiran, para ulama dan mufassir melakukan langkahtarji>h} . Dengan tujuan mendapatkan pendapat yang paling kuatberdasarkan dalil (indikator) yang diterapkan oleh para ulama.Aspek-aspek yang menjadi fokus pentarji>h} an asy-Syaukani adalahtarji>h} dengan naz} a>ir al-Qur’a>n, dengan sunnah, dengan asba>b annuzu>l, dengan qira>’at, dengan z} a>hir al-Qur’a>n, siya>q a>ya>t, denganna>sikh dan mansu>kh, serta tarji>h} dengan tata bahasa dan syi’ir, danlainnya).
Konsep Syura dan Demokrasi dalam Wacana Kontekstual: Studi Terhadap Pemikiran Kontekstual Abdullah Saeed
HERMENEUTIK Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i2.12590

Abstract

The discourse on democracy and all its variants, including the term shura, is an issue that is never obsolete in the study of the Qur'an. In the last few decades, Muslim scholars have begun to see the issue of shura as a discourse that must be read more widely along with the changing times. Therefore, Muslim scholars created a modern generation to respond to the concept of shura in a new social, political, economic and cultural context, especially with the contextuality method of the Qur'an. One of the figures applying the concept of shura is Abdullah Saeed, a contemporary thinker who introduced the study of the Qur'an through a contextual approach. Abdullah Saeed tries to revisit the term shura through two groups of interpretations, namely pre-modern interpretations such as al-Thabari, Zamakhsari, al-Razi and al-Qurtubi, and the interpretation that follows by quoting the work of Sayyid Abul A'la al - Maududi and Sayyid Qutb. This paper intends to further explore Abdullah Saeed's opinion on the term shura after conducting an in-depth study of the two groups of interpreters. This paper also attempts to provide a 'critical' note on the thoughts put forward by Abdullah Saeed by comparing them with other contemporary thinkers. Diskursus tentang demokrasi dan segala macam variannya, salah satunya adalah term syura, merupakan isu yang tidak pernah usang dalam studi al-Qur’an. Beberapa dekade terakhir, para cendekiawan Muslim mulai memandang isu syura sebagai wacana yang harus dibaca lebih luas seiring perubahan zaman. Oleh karena itu, para kelompok cendekiawan Muslim generasi modern cenderung untuk menafsirkan ulang konsep syura dalam konteks sosial, politik, ekonomi, dan budaya, khususnya dengan menyoroti metode kontekstual penafsiran al-Qur'an. Salah satu aktor yang berperan dalam usaha untuk menafsirkan ulang konsep syura ini adalah Abdullah Saeed, salah seorang pemikir kontemporer yang mengenalkan kajian al-Qur’an melalui pendekatan kontekstual. Melalui pendekatan kontekstualnya, Abdullah Saeed mencoba membaca ulang term syura ini melalui dua kelompok penafsiran, yaitu interpretasi pra-modern seperti al-Thabari, Zamakhsari, al-Razi dan al-Qurtubi, dan interpretasi yang ada setelahnya dengan mengutip karya Sayyid Abul A’la al-Maududi dan Sayyid Qutb. Tulisan ini bermaksud untuk mengekplorasi lebih jauh tentang pandangan Abdullah Saeed terhadap term syura setelah melakukan kajian secara mendalam terhadap dua kelompok penafsir tersebut. Tulisan ini juga berupaya memberikan catatan ‘kritis’ terhadap pemikiran yang dikemukakan oleh Abdullah Saeed dengan mengkomparasikan dengan pemikir-pemikir kontemporer lainnya. 
Mushaf Standar Indonesia dan Ragam Mushaf Al-Qur’an Di Dunia
HERMENEUTIK Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.4795

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan penjelasan singkat seputar keragaman rasm usmani dan cakupan pembahasannya. Hal ini dilatarbelakangi dengan fakta bahwa masyarakat umum banyak yang beranggapan bahwa rasm usmani itu hanya satu versi dan tidak bisa membedakan serta memilah apa yang masuk dalam rasm usmani dan yang bukan. Wilayah rasm usmani adalah batang tulisan ayat, sementara titik huruf, sistem harakat, dan tanda baca yang menyertai tulisan ayat bukan merupakan wilayah rasm usmani. Akibatnya, ketika mereka dihadapkan dengan jenis mushaf yang berbeda dalam cara penulisannya, maka dengan cepat mereka berpendapat bahwa mushaf tersebut tidak sesuai dengan rasm usmani.

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Available June 2021 Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue