cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 417 Documents
Makna Iman Dan Kufur Farid Issac
HERMENEUTIK Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5547

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang masalah definisi etis kawan dan lawan yang sering menjadi sebab perselisihan antar civiity (masyarakat). Definisi etis yang paling sering disinggung di dalam al-Qur’an adalah iman dan kufr (“percaya” dan “tidak percaya”). Dalam wacana muslim, kata Iman sering diganti dengan Islam sebagai istilah kunci bagi identifikasi diri. Farid Esack menawarkan pemaknaan ulang terhadap Iman, Islam, dan Kufr. Bahwa Iman bersifat dinamis, Islam adalah sebuah ketundukan dan Kufr adalah menghalangi dan menutupi perbuatan baik. Dalam penelitian bersifat kepustakaan ini, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif analitis. Sehingga lebih dahulu dipaparkan bagaimana Farid Esack memaknai Iman, Islam, dan Kufr. Adapun kontekstualisasi dari makna Iman dalam civil society adalah bagaimana membangun karakter kepercayaan pada Negara, musyawarah sebagai alat demokrasi, menciptakan rasa aman, memelihara kedamaian, dan keseimbangan sosial. Selanjutnya dari makna Islam diciptakan karakter kepatuhan pada Negara, menjadi Islam moderat, memberi keselamatan, menciptakan keharmonisan sosial, dan bersikap  bijaksana. Dan dari makna kufr muncul civil society karakter keterbukaan pada Negara, terbuka dengan pendapat yang berbeda, kebebasan dalam bermasyarakat, saling menghargai, dan menjaga keseimbangan sosial
Konsep Ukhuwah dan Toleransi Menurut Al-Quran
HERMENEUTIK Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i2.3911

Abstract

Studi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddiqie Sebagai Tokoh Sentral Tafsir Keindonesiaan
HERMENEUTIK Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i2.7161

Abstract

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi was Muhammad Hasbi, he was born in Lhokseumawe, North Aceh on 10 March 1904 and died in Jakarta on 9 December 1975. As an Nusantara exegetes, HASBI presents its interpretation in the context of Indonesia. The interpretation certainly cannot be separated from its scientific discipline and culture of Indonesian society. To realize the fikih of Indonesian personality, Hasbi departed from the understanding that the jurisprudence is a living and ununiversal organism. One example of HASBI interpretation is about Friday prayers. Hasbi said that on the day of the Jumát there is no prayer of four rak'ahs of Dhuhr. Therefore. Anyone who can not or does not have time to follow the Friday prayers in congregation in the mosque still have to work Friday prayers either together or alone. According to Hasbi, there was no Zuhr prayer during Friday. Berjemaah and the preaching does not include the pillars or the legitimate requirements of the Friday. 
DINAMISME TEKS: Menimbang Prinsip Naskh Masyrut
HERMENEUTIK Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i1.912

Abstract

Artikel ini membahas mengetengahkan salah satu penafsiranpaling mutakhir mengenai naskh yang mengemuka di dalammilieu penafsir Syiah kontemporer, yakni naskh masyru>t}(abrogasi kondisional-temporal). Teori naskh masyrut} ini semakinmengukuhkan relevansi ajaran-ajaran al-Qur’an untuk berbagairuang dan waktu, mengingat ia mengandaikan adanya geraksirkular tiada henti, yang pada gilirannya menolak segala bentukklaim “pembekuan” ataupun “pembatalan” teks secara fial danselamanya. Dengan demikian, teks al-Qur’an akan bergeraksecara dinamis, karena penerapan ajaran-ajarannya terjadi melaluigerak menanjak, yakni dari konteks historis menuju teks, bukanmalah sebaliknya. Namun demikian, teori ini masih memerlukanpematangan dan perumusan lebih lanjut, mengingat masihditemukannya sejumlah kelemahan si dalamnya, seperti belumjelasnya hingga saat ini tolak ukur suatu ayat dapat dikateorikansebagai bagian dari naskh masyrut > } dan masih beragamnya ayat-ayatyang masih diperdebatkan di antara para pakar sisi ke-mansu>khannya.
Kesetaraan Gender dalam Islam Perspektif Hermeneutika Muhammad Syahrur Izzad, Rahmatul
HERMENEUTIK Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i2.6076

Abstract

Sejak abad ke-20 hingga abad ke-21, model penafsiran feminis berkembang pesat. Mayoritas penafsir feminis, baik laki-laki atau pun perempuan, mengkritik sentralitas laki-laki dalam melakukan penafsiran al-Qur’an, mereka menekankan argumentasi bahwa bias gender penafsir hingga kini masih didominasi pria, sebagian besar telah membentuk paradigma pemahaman al-Qur’an dan Islam secara umum. Berbeda dengan feminis sekuler, sarjana feminis Muslim tidak menolak Islam itu sendiri. Sebaliknya, mereka mengacu pada al-Qur’an dan sunah Nabi untuk mendukung klaim mereka bahwa al-Qur’an perlu ditafsirkan kembali. Penelitian ini secara khusus mencoba mengkaji dan menelusuri konsep kesetaraan gender dalam Islam, khususnya dalam perspektif pemikiran hermeneutika Muhammad Syahrur. Penelitian ini menganalisis tentang bagaimana sesungguhnya hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, apakah pandangan-pandangan ulama masa lalu masih relevan dalam memposisikan status laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, penelitian ini mencoba melakukan pembacaan kontemporer terhadap konsep kesetaraan gender dalam Islam, yang secara khusus mengacu pada pemikiran hermeneutika Muhammad Syahrur. Atas dasar tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan analisis-hermeneutik. Melalui hermeneutika Syahrur, peneliti membedah secara kritis hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam, serta dilakukan pembacaan kontemporer terhadapnya. Sehingga diharapkan mampu mengahasilkan sebuah produk pemikiran baru tentang gender dalam Islam yang lebih kontekstual dan sesuai dengan dinamika zaman.
REFORMULASI TAFSIR IJTIMA’I DALAM MENJAWAB PROBLEMATIKA SOSIAL
HERMENEUTIK Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.879

Abstract

Tulisan ini membahas tentang tafsir ijtima’i. Tulisan ini penting karena sesungguhnya kehidupan dunia ini terus berlangsung, berbagai peristiwa dan persoalan kehidupan terus bergulir dari masa ke masa yang akan selalu menuntut penyelesaiannya. Pada hakikatnya ketika Nabi Muhammad diutus maka segala bentuk persoalan akan selesai dengan otoritas kenabiannya, tapi sudah pasti solusi yang ditawarkan oleh beliau adalah merupakan jawaban dari respon sosial pada zamannya. Segala bentuk persoalan akan terjawab sesuai kondisi dan situasi yang ada pada saat itu. Artikel ini mencoba menyajikan suatu gagasan tafsir dengan pendekatan sosial, oleh karena itu setiap persoalan yang hadir mungkin bisa memiliki kesamaan esensi, tapi mungkin juga persoalan yang hadir dikemudian merupakan persoalan yang baru yang menuntut untuk segera direspon sesuai pemahaman keagamaan yang bersumber dari teks al-Qur’an. Hasilnya adalah bahwa perlu bagi seorang mufassir untuk menghadirkan interpretasi teks yang mampu menjawab problematika sosial yang terjadi saat ini dan saat yang akan datang. Mufassir harus mengetahui berbagai situasi dan kondisi yang mengitari dinamika persoalan sosial yang berkembang, sehingga seorang mufassir dapat menghadirkan jawaban yang tepat sesuai dengan kebutuhan zaman sebagaimana fungsi al-Qur’an yang senantiasa sesuai dengan space and time (salih un likulli zaman wa makan).
Eksistensi Hijrah Dalam Al-Qur’an dan Tafsir (Studi Pemikiran M. Quraish Shihab Dalam Tafsir Al-Mishbah)
HERMENEUTIK Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i2.9941

Abstract

AbstractThis article aims to explain about the hijrah movement which is a social phenomenon that is widely discussed in society. The hijrah movement marks a phase of the journey in humans, especially the millennial generation who participates in enlivening the movement of Islamic studies in Indonesia. The research approach using literature study collects various information related to the existence of hijrah in the millennial generation. Hijrah events in Islam can be interpreted in the context of territorial hijrah, spiritual and intellectual hijrah, and behavioral hijrah. There is a shift in behavior and actions, such as moving from ignorant behavior to Islamic behavior or leaving everything that is forbidden by Allah and changing towards what Allah commands and is pleased with. The millennial generation has its own challenges to be able to carry out hijrah based on the sincerity of the intention to emigrate in the way of Allah SWT as proof of a servant's faith in Allah SWT. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang gerakan hijrah yang merupakan fenomena sosial yang marak diberbincangkan dalam masyarakat, Gerakan hijrah menandai adanya fase perjalanan dalam diri manusia, khususnya generasi milenial yang ikut serta dalam meramaikan pergerakan kajian Islam di Indonesia. Hijrah disatu sisi bersifat positif akan tetapi disisi lain juga dapat bersifat negatif apabila disalah fahami oleh generasi milenial. Pendekatan penelitian yang menggunakan studi kepustakaan mengumpulkan berbagai informasi terkait eksistensi hijrah pada generasi millenial. Peristiwa hijrah dalam Islam dapat dimaknai menjadi tiga. Pertama, konteks hijrah teritorial. Kedua, Hijrah Nafsiyah, perpindahan secara spiritual dan intelektual dari kekafiran kepada keimanan. Ketiga, Hijrah Amaliyah, perpindahan perilaku dan perbuatan seperti  perpindahan dari perilaku jahiliyah kepada perilaku Islam atau meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah dan berubah menuju kepada yang diperintahkan dan diridhai-Nya. Generasi milenial memiliki tantangan tersendiri untuk dapat melaksanakan hijrah yang dilandasi dengan ketulusan niat berhijrah di jalan Allah Swt sebagai bukti keimanan seorang hamba kepada Allah Swt.
MAKNA “MARADH AL-QULUB” DALAM AL-QUR’AN
HERMENEUTIK Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5526

Abstract

Tulisan ini membahas tentang Maradh al-Qulub yang sering disebut dengan Penyakit hati, penulis mencoba menggunakan pendekatan semantik dan konten analisis untuk menemukan makna yang relevan dengan dinamika kekinian. Bahwa penyakit hati di sini yang dimaksud sesungguhnya bukanlah suatu penyakit hati dhohir atau jasmani, namun yang dimaksud adalah penyakit mental yang banyak diderita oleh semua level manusia baik orang awam maupun para ilmuan, intelektual dan agamawan. Hasilnya adalah bahwa penyakit hati sesungguhnya telah menjadi wabah yang menghawatirkan di zaman sekarang ini, dikarenakan suatu mentalitas yang lemah dalam memahami esensi ajaran agama Islam tentang makna keikhlasan dalam perbuatan dan kelemahan iman dalam memposisikan diri sebagai manusia yang harus mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah swt.
EPISTEMOLOGI ILMU PENGETAHUAN dAN RELEVANSINYA dALAM STUdI AL-QUR’AN
HERMENEUTIK Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.904

Abstract

Artikel ini mengangkat tema tentang epistemologi ilmu dalamal-Qur’an. Ilmu sesungguhnya telah banyak diperbincangkandalam untaian ayat-ayat suci al-Qur’an, namun banyak di antarakita belum mengerti hakikat ilmu itu sendiri. Tema ini bertujuanuntuk menunjukkan bahwa al-Qur’an sesungguhnya mengandungbanyak ilmu pengetahuan yang diterjemahkan ke dalam ayatayat kauniyah. Untuk itu penulis membahas tema ini denganmenggunakan metode falsaf untuk mengungkap kebenaran alQur’an dalam mengungkap aspek-aspek pengetahuan. Hasilnyaadalah suatu metode keilmuan yang ditawarkan oleh al-Qur’anmemiliki banyak ragam yaitu berupa metode observasi (baya>ni),metode demonstratif (burha>ni) dan metode intuitif (‘irfa>ni).Semua metode tersebut merupakan metode epistemologis dalammengungkap hakikat ilmu pengetahuan tersebut.
Kisah Dakwah Nabi Shaleh Perspektif Strukturalisme Naratologi Aj Greimas: Kajian Semiotika Terhadap Qs. As-Syu’ara: 141-158
HERMENEUTIK Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.6021

Abstract

This article examines the story of the Prophet Shaleh’s dakwah to the Thamud recorded in the QS. as-Syu'ara: 141-158  in semiotic perspective. The theory of AJ Greimas' naraotogical structuralism is used to identify the discourses inherent in the story. it also explains the narrative structure of the story in order to trace the values and ideologies contained by analyzing the actal schemes and their functional structures. The propagation story of the Prophet (pbuh) to the Thamud actually tells a very 'humanistic' problem, a heart that tends to be inconsistent to the truth because of the intervening materialistic tendencies. The solution offered in the story avoids the possibility of materialistic intervention and dedicates itself to the good. Whether it's a vertical goodness (to God) or a horizontal (to fellow creatures). Through Greimas's semiotics perspective, the story not only attempts to convey the meaning of obedience or piety and the disobedience of a righteous thing, but also emphasizes the moral dimension and credibility of human. The words of the Holy Prophet Shaleh in verse 153 lead to the value of environmentalist, the attitude of preserving and preserving the environment. In addition, the story leads to a psychological dimension, that the person who dedicates himself to the goodness tends to be anti-materialistic. It is seen in the self of the Holy Prophet Shaleh who does not expect anything at all except the obedience of the Thamud.

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Available June 2021 Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue