Articles
417 Documents
PARAIGMA BARU HERMENEUTIK KONTEMPORER POUL RICOEUR
HERMENEUTIK Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i1.888
Kajian dalam artikel ini dilatarbelakangi adanya diskursus kajianhermeneutika sebelum munculnya Poul Ricoeur berkutat padatiga arus besar; hermeneutka romantis, hermeneutika onologi,dan hermeneutika dialektis. Tujuan dari penulisan artikel ini untukmengungkap ketiga arus hermeneutika tersebut yang mempunyaiciri yang tidak dimiliki arus lainnya. Corak pemikiran Ricoeur tidakdapat dimasukkan ke dalam salah satu dari tiga arus pemikiranhermeneutika tersebut. Bahkan, disinyalir cakrawala pemikirannyamelingkupi hampir semua topik fisafat kontemporer. Sementarahasil dari penulisan artikel ini adalah pengungkapan pokok-pokokhermeneutika kontemporer Ricoeur, yaitu hermeneutika yangmemadukan fenomenologi tendensi metafiik Husserl denganfenomenologi eksistensial Heidegger. Menurut Ricoeur teks padadasarnya bersifat otonom untuk melakukan “dekontekstualisasi”(proses pembebasan diri dari konteks) dan “rekontekstualisasi”(proses untuk kembali kepada konteks). Menurutnya, teks adalah“any discourse fied by writing.” Ricoeur memaknai “discourse”menunjuk kepada teks sebagai “event”, bukan “meaning”. BagiRicoeur, teks sebagai meaning, akan berhenti sebatas makna yanga-historis nan statis. Sedang teks sebagai “event”, mencakup maknadan historisitasnya sekaligus yang hidup dan dinamis.
Analisis Tafsir Ayat Ahkam min al-Qur’an al-Karim Karya Abil Fadhal as-Senory : Kajian Ayat Bab Jual Beli
HERMENEUTIK Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5543
Kajian tafsir Nusantara semakin menunjukkan perkembangan pesat, terlebih di bidang tafsir ahkam. Artikel ini membahas tentang tafsir Ayat Ahkam min al-Qur’an al-Karim karya Abil Fadhal as-Senory secara eksplisit. Perkembangan tersebut muncul seiring dengan adanya karya tafsir dari Abil Fadhal as-Senory yang memperkenalkan gaya model baru dalam penulisan tafsir ahkam. Kajian ini menggunakan data primer berupa manuskrip yakni kitab tafsir karya Abil Fadhal as-Senory dan wawancara. Tulisan ini menegaskan bahwa Abil Fadhal as-Senory mencoba memberikan terobosan baru dengan menulis model tafsir maudhu’i dan tidak mushafi. Tafsir Abil Fadhal as-Senory ditulis berdasarkan urutan tema fikih yang lazim, yakni dimulai dengan tema thaharah. Abil Fadhal as-Senory menyebutkan bahwa ayat dalam tiap bab disusun secara acak dan tidak sesuai urutan mushaf. Susunan ayat yang acak memiliki maksud agar pembahasan tiap tema runtut dan mudah dipahami, terlebih dalam kalangan santri di pesantren. Tafsir Abil Fadhal as-Senory ini diharapkan dapat melengkapi model baru dalam penafsiran, khususnya tafsir ahkam di Indonesia.
Kajian Filologi Kitab Al-Mashlahah Fi Al-Tasyri’ Al-Islamiy Wa Najmuddin Al-Thufiy Karya Dr. Mushthofa Zaid
HERMENEUTIK Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i2.7983
The main objective of this philological research is to determine the original text (autography), the text that is close to the original (archetypal) or authoritative (authoritative) text, the second is transliterating the text with the main task of maintaining the authenticity / special characteristics of word writing and translating the written text in the original language to the second language, the third is to edit the text as well as possible, the fourth is to describe the position and function of the text under study and clean the text from errors that occur during copying. Based on the description of the purpose of the above research can be formulated some problems namely: the first is in each text there is generally more than one manuscript, which is the original or authoritative manuscript, the second is the text written in characters and languages that are no longer commonly used now that the text is difficult to read and understand the meaning, the third text has not been well presented, no punctuation, paragraph structure and parts of the story so it will be difficult for the reader to understand, the fourth is the position and function of the text is not clear so it is difficult to place this text in the whole of one's thinking or the literature of the region concerned. In this paper will be studied in philological detail on Najmuddin Al-Thufi's text on mashlahah.
KEBASYARIYYAHAN DAN KEMA’SUMAN RASULULLAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN
HERMENEUTIK Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i1.750
This articles contains the search of concepts of basyar and insan in the Qur’an include the meaning and context of use and the search for a correlation to kebasyariyyahan and kema’s u man of Prophet. This is because the authors found that the editor of the Qur’an in relation to prophetic mainly stating his humanity always use the word “basyar” not insan. Though both of these words by language experts have the same meaning, that is “human sense”. On the other side of the use of the word basyar to express humanity of the Prophet and the other apostles impact on the emergence of thoughts that reveal trends in humanity efforts of the Prophet in all aspects in common with other human beings and also restrictions on kema’su man of the Prophet. To answer these problems the author uses the method maudu’i to clarify and seek guidance verses of basyar and insa n in the whole of the Koran as well as analyzing and looking for correlation to kebasyariyyahan and kema’s u man of the Messenger saw that in this case the author uses descriptive analytical method.The results showed that there was the difference between basyar and insan, so the impact on inequality in the person of the Prophet with other human beings in all aspects ( the similarities are limited to matters related to instinct, function and physical needs)
Hermeneutika Ekologis Al-Quran: Upaya Mereduksi Patologi Lingkungan di Indonesia
Ferdiansah, Dini Astriani
HERMENEUTIK Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i2.6075
Peran al-Quran sebagai petunjuk umat manusia pada hakikatnya menjadi fondasi dan pijakan utama dalam setiap roda kehidupan masyarakat modern dewasa ini, berbagai problem di masyarakat terus menggema, Indonesia sebagai negara beragama membutuhkan solusi teologis dalam rangka mereduksi berbagai problem yang terjadi khususnya problem ekologis “lingkungan”.Dewasa ini, Indonesia mengalami krisis ekologi yang cukup besar di berbagai wilayah akibat dari proyek pembangunan insfratruktur yang terus mengeruk lahan tanpa adanya analisis yang bijak terhadap dampak lingkungan di sekitarnya. Jika ditelusuri lebih mendalam, banyak sekali ditemukan praktek-praktek kecurangan yang dilakukan investor dan pihak terkait untuk mensukseskan agenda proyeksi insfratruktur negara maupun swasta.Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia mempunyai andil dan pengaruh yang besar untuk mereduksi berbagai problem ekologis yang marak terjadi, karena kerusakan ekologi merupakan bencana yang besar bagi kelangsungan hidup manusia. Dalam hal ini al-Quran sebagai pandangan hidup umat Islam sangat dibutuhkan titahnya untuk memobilisasi masyarakat agar sadar terhadap patologi lingkungan di sekitarnya.Tulisan ini berusaha mengkaji tentang Hermeneutika al-Quran sebagai alat analisis dalam menafsirkan lebih mendalam terkait dengan ayat-ayat ekologi, dan menawarkan tafsir baru yang lebih kontekstual, dengan harapan dapat memicu ghirah masyarakat untuk bergerak progresif dan menyadari pentingnya merawat lingkungan lahan di masyarakat, Sebagai langkah preventif untuk mereduksi krisis lingkungan yang terjadi.
PEMIKIRAN POLITIK DALAM TAFSIR FATH AL-QADIR : PEMBACAAN ATAS KONSEP KETATANEGARAAN DALAM AL-QURAN YANG DITULIS ALSYAUKANI
HERMENEUTIK Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v9i2.877
Tulisan ini membahas tentang pemikiran politik dalam tafsir fath al-}Qadir > . Tujuan yang dimaksudkan dalam penelitian terhadap Tafsi>rFath} al-Qadi>r ini adalah gagasan-gagasan tentang ketatanegaraan.Penulis menggunakan metode analisis teks untuk menyingkapgagasan-gagasan tentang ketatanegaraan ini yang dibatasi padakonsep kepemimpinan dan musyawarah, konsep hak warganegarauntuk memperoleh keadilan, dan konsep hak warganegara untukhidup berserikat dan berkumpul. Hasilnya adalah bahw kajiantentang politik secara garis besar dibagi dua: political theologydan political philosophy. Pertama, adalah studi atas ajaran-ajaranpolitik berdasarkan wahyu Tuhan. Kedua, ini adalah studi tentangpemikiran atau fisafat politik yang merupakan cabang dari fisafatsehingga tekanannya lebih kepada pemikiran. Penulis menilaijudul disertasi Arief “Pemikiran Politik dalam Tafsir Fath al-Qadir”itu misleading. Misleading, dikarenakan judul seharusnya adalah“Teologi Politik dalam Tafsir Fath al-Qadir”.
Ujaran Kebencian Dalam Al-Qur'an
HERMENEUTIK Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i2.8483
This study is the result of qualitative research on verses of the Qur'an through library research. This study aims to determine the concept of utterance of hatred in the Qur'an, its narrative form, and the response of the Qur'an to the behavior of hate speech. The object is the verses of the Qur'an which contain narratives of hate speech and the verses that respond to them. The main source is al-Qur`an. The method of analysis uses the interpretation of tahliliy to conclude that 28 verses of the Koran show hate speech in the form of euphemism, 23 verses show the form of hate speech dysphemism, 8 verses show the form of hate speech labeling, and 7 verses show hate speech in the form of stereotypes.
PERSPEKTIF AL-SYAWKANI TENTANG PENTARJIHAN PERBEDAAN PENAFSIRAN
HERMENEUTIK Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i2.5525
Tarjîh dalam penafsiran dihasilkan dari adanya berbagai perbedaan pendapat para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Tujuannya adalah mengetahui pendapat yang paling sahih dan paling layak diterima dalam penafsiran al-Qur’an untuk dapat diamalkan sesuai bidangnya. Tujuan lain, peniadakan kitab-kitab tafsir dari pendapat-pendapat yang janggal dan lemah atau pendapat yang rancu yang disusupkan oleh keyakian mazhab tertentu. Di antara mufassir yang memberi perhatian pada aspek tarjîh dalam penafsirannya adalah Imam al-Shawkânî. Dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, ia tidak cukup hanya menyuguhkan pendapat-pendapat mufassir sebelumnya, melainkan juga melakukan tarjîh terhadap penafsiran-penafsiran itu. Dalam hal ini ia menetapkan seperangkat kriteria dan metode tertentu dalam proses pentarjîh}an terhadap berbagai pendapat yang dikemukakan para ulama. Hasil penelitian ini menemukan bahwa al-Shawkânî dalam mentarjîh perbedaan penafsiran menggunakan metode yang meliputi 1) sîghat (redaksi yang tertentu yang digunakan dalam mentarjîh), 2) teknik tarjîh yang dilakukan al-Shawkânî sendiri dan tarjîh yang diambil dari pendapat ulama’ lain), dan 3) bentuk (tarjîh) dengan naz}âiral-Qur’ân, dengan sunnah, dengan qirâ’ât dan lainnya). Di akhir, makalah ini juga mengeksplorasikan aplikasi dan contoh tarjîh dari metode al-Shawkânî tersebut, dengan tujuan dapat memudahkan bagi pembaca agar lebih jelas memahami metode tarjîhnya.
MEMBUMIKA PESAN-PESAN AL-QUR’AN DALAM KONTEKS KEKINIAN: Pendekatan Tafsir Semantik
HERMENEUTIK Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i1.903
Tema ini membahas tentang tafsir bi al-ilmi untuk mengungkappesan-pesan al-Qur’an dalam konteks masa kini. Tujuannyaadalah untuk mengetahui sejauh mana tafsir bi al-ilmi itu dapatmengungkap kebenaran ilmiyah atas persolan dinamika ilmupengetahuan dan teknologi yang telah berkembang pada masaDinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh al-Makmun (w. 813-833 M) perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat,kegiatan keilmuan semakin berkembang dengan banyaknyamenterjemahkan karya-karya Yunani. Pada masa inilah tafsir bial-ilmi ini muncul dan berkembang. Tulisan ini menggunakanpendekatan empiris untuk mengungkap suatu fakta temuan ilmiahyang selaras dengan al-Qur’an. Hasilnya adalah bahwa dalammenafsirkan ayat-ayat tersebut, mufasir menggunakan teori-teoriscience. Setidaknya, ada tiga alasan munculnya model tafsir dengancorak bil ilmi. Pertama, adanya kebutuhan intelektual-relegiusuntuk membuktikan dan memperkuat keyakinan bahwa kitabsuci al-Qur’an selalu sejalan serta relevan dengan perkembanganscince. Kedua, adanya tuntutan untuk mengembangkan ilmupengetahuan yang didasarkan pada interpretasi saintifi al-Qur’an. Berdasarkan asumsi bahwa al-Qur’an sendiri memuatteks-teks isyarat ilmiah (ayat kauniyah). Ketiga, sebagai upaya kritik terhadap perkembangan sains modern yang cenderungmembebaskan pemikiran yang rasional. Munculnya tafsir bi al-ilmi diharapkan mampu merevitalisasi pesan-pesan al-Qur’andalam konteks kekinian.