cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 249 Documents
Analysis of the Concept of Istiqomah in the Qur'an Surah Al-Ashr Prevention of Procrastination Among Generation Z Ayu, Putri; halimatussa’diyah, Halimatussa’diyah; Ilyas, Deddy; Meldino, Aidil Ayatullah
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.30611

Abstract

Surah Al-Ashr is one of the surahs in the Qur'an about the importance of making good use of time and living life with istiqomah. In the context of generation Z, often facing the challenge of procrastination due to digital distraction, this surah provides strategic guidelines to build discipline. This study aims to analyze the concept of istiqomah in Surah Al-Ashr and interpret it in the prevention of procrastination in generation Z. The method used is thematic interpretation study with descriptive analysis approach. The results showed that istiqomah in Surah Al-Ashr includes being consistent in faith, doing good deeds, advising each other in goodness and patience. The implementation of these values in generation Z can encourage productive and structured utilization of time. This article confirms that the values in the Qur'an can be a spiritual and practical solution in facing modern challenges, especially in improving time management and overcoming procrastination behavior. Surat Al-Ashr merupakan salah satu surat dalam Al-Qur’an mengenai pentingnya memanfaaatkan waktu dengan baik dan menjalankan kehidupan secara istiqomah. Dalam konteks generasi Z, sering menghadapi tantangan prokrastinasi akibat distraksi digital, surat ini memberikan pedoman strategi untuk membangun disiplin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep istiqomah dalam surat Al-Ashr serta diinterpretasikan dalam pencegahan prokrastinasi pada generasi Z. Metode yang digunakan adalah studi tafsir tematik dengan pendekatan deskriptif analitisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istiqomah dalam surat Al-Ashr mencakup konsisten dalam beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Implementasi nilai-nilai tersebut pada generasi Z dapat mendorong pemanfaatan waktu secara produktif dan terstruktur. Artikel ini menegaskan bahwa nilai-nilai yang ada dalam Al-Qur’an dapat menjadi solusi spiritual dan praktis dalam menghadapi tantangan modern, khususnya dalam meningkatkan manajemen waktu dan mengatasi perilaku prokrastinasi.
Negotiating Isra’iliyyat in Modern Indonesian Tafsir : A Comparative Study of Hamka and Quraish Shihab on the Story of Harut and Marut
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.29760

Abstract

This study is motivated by the enduring presence of Isrā’īliyyāt narratives in several modern Indonesian tafsīr works, despite the reformist movement’s emphasis on purifying Qur’anic exegesis from unreliable reports and upholding principles of textual authenticity and rational reasoning. Although the rejection of Isrā’īliyyāt has become a defining feature of reformist exegetical discourse, many modern mufassirs continue to incorporate these narrative elements with varying forms and degrees of acceptance. The story of Hārūt and Mārūt in QS. al-Baqarah:102 serves as a prominent example, as it frequently provokes debate regarding the reliability of its reports, its theological implications, and its connection to Jewish–Christian traditions that have influenced certain strands of Muslim exegesis.This article examines how Hamka and M. Quraish Shihab interpret and reason about this narrative in Tafsir al-Azhar and Tafsir al-Misbāḥ. This study employs a qualitative library-based approach with descriptive–comparative analysis, using the framework of Isrā’īliyyāt criticism and theories of traditional narrative reception in modern tafsīr. The findings show that Hamka adopts a highly selective stance and largely rejects Isrā’īliyyāt elements, whereas Quraish Shihab is more accommodating while maintaining caution. These differences highlight the epistemological diversity within modern Indonesian exegesis. The study contributes to Qur’anic hermeneutics in Southeast Asia by illustrating how classical narrative heritage is negotiated alongside modern rationalist demands and contemporary cultural contexts. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih kuatnya keberadaan narasi Isrā’īliyyāt dalam sebagian tafsir modern Indonesia, meskipun arus utama reformisme menekankan penyucian tafsir dari riwayat yang tidak valid serta pentingnya kemurnian sumber dan rasionalitas. Penolakan terhadap Isrā’īliyyāt memang menjadi ciri utama wacana reformasi tafsir, namun faktanya sejumlah mufasir modern tetap memuat unsur-unsur naratif tersebut dengan cara dan tingkat penerimaan yang beragam. Kisah Hārūt dan Mārūt dalam QS. al-Baqarah:102 menjadi contoh yang menonjol karena sering memunculkan perdebatan, baik tentang keaslian riwayatnya, dampak teologis yang ditimbulkannya, maupun kaitannya dengan tradisi Yahudi-Kristen yang turut mempengaruhi sebagian penafsiran Muslim. Artikel ini menelusuri bagaimana Hamka dan M. Quraish Shihab memahami serta menalar kisah tersebut melalui Tafsir al-Azhar dan Tafsir al-Misbāḥ. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis deskriptif–komparatif, menggunakan kerangka kritik Isrā’īliyyāt dan teori penerimaan narasi tradisional dalam tafsir modern. Hasilnya menunjukkan bahwa Hamka bersikap sangat selektif dan cenderung menolak unsur Isrā’īliyyāt, sedangkan Quraish Shihab lebih terbuka namun tetap berhati-hati. Perbedaan keduanya menegaskan adanya keragaman epistemologis dalam tafsir modern Indonesia. Temuan ini turut memperkaya kajian hermeneutika al-Qur’an di Asia Tenggara, terutama dalam melihat bagaimana warisan klasik dinegosiasikan dengan tuntutan rasionalitas dan konteks budaya masa kini.
Early 20th Century Children's Interpretation: Strategies for Interpreting the Qur'an in Tamshiyyah al-Muslimin
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.33234

Abstract

This research focuses on examining the strategy of interpreting the Qur'an for children in the early 20th century in the tafsir Tamshiyyah al-Muslimīn.  The study of children's interpretation in the early 20th century is often missed. This is because the children's tafsir by KH Ahmad Sanusi (1888-1950) is presented in the interpretation of adult readers in the tafsir Tamshiyyah al-Muslimīn. The scarcity of children's tafsir studies in the early 20th century is because the production of tafsir at that time was still considered taboo and rarely studied in various pesantren. Although taught in some pesantren, tafsir material experienced exclusivity of readers. Bruinessen's research shows that tafsir can only be studied at the tsanawi to ulya level. This shows that the understanding of the Qur'an for children to beginner level is very limited. Whereas understanding religion through the teaching of the Qur'an for children is quite important to instill Islamic education since childhood. Another factor that causes children's interpretations to be quite rare is the limitations of printing technology and graphic design in children's interpretations in the early 20th century. At that time, most attractive graphic designs were only used for advertisements, packaging, and so on so that books or interpretive writings did not use such things. These limitations make early 20th century children's interpretations a unique and rare study. Therefore, this study aims to explore the strategies used by Sanusi in presenting the learning and meaning of the Qur'an for children at that time amid the lack of tafsir production, the exclusivity of children's tafsir readers, and the limitations of printing technology and graphic design for children's tafsir readers. The findings of this study conclude that the strategy used by Sanusi in interpreting the Qur'an for children is by using verbal illustrations, transliteration of the Qur'an, local language adaptation and verse grouping. Comparative approach and content analysis are used to explore the findings. Penelitian ini fokus mengkaji strategi penafsiran al-Qur’an untuk anak di awal abad 20 dalam tafsir Tamshiyyah al-Muslimīn.  Kajian tafsir anak di awal abad 20 seringkali terlewat. Ini karena tafsir anak karya KH. Ahmad Sanusi (1888-1950) disajikan dalam tafsir pembaca dewasa dalam tafsir Tamshiyyah al-Muslimīn. Kebanyakan tafsir anak yang menjadi objek penelitian selama ini adalah tafsir anak yang terbit abad 21. Langkanya kajian tafsir anak awal abad 20 ini dikarenakan produksi tafsir di masa itu masih dianggap tabu dan jarang dipelajari di berbagai pesantren. Meskipun diajarkan di beberapa pesantren, materi tafsir mengalami eksklusivitas pembaca. Penelitian Bruinessen tafsir hanya boleh dipelajari pada level tsanawi hingga ulya. Ini menunjukkan pemahaman al-Qur’an bagi tingkat anak-anak hingga pemula sangat terbatas. Padahal pemahaman agama melalui pengajaran al-Qur’an bagi anak cukup penting untuk menanamkan pendidikan Islam sejak kecil. Faktor lainnya yang menyebabkan tafsir anak cukup langka adalah keterbatasan teknonologi percetakan dan desain grafis pada tafsir anak di awal abad 20. Pada masa itu, kebanyakan desain grafis yang menarik hanya digunakan untuk iklan, kemasan, dan sebagainya sehingga buku atau karya tulis yang bersifat interpretatif tidak menggunakan hal yang demikian. Beberapa faktor keterbatasan ini yang menjadikan tafsir anak awal abad 20 merupakan penelitian yang unik dan langka dikaji. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali strategi yang digunakan oleh Sanusi dalam menghadirkan pembelajaran dan pemaknaan al-Qur’an bagi anak di masa itu di tengah minimnya produksi tafsir, eksklusivitas pembaca tafsir anak, serta keterbatasan teknologi percetakan dan desain grafis untuk tafsir pembaca anak. Temuan penelitian ini menyimpulkan strategi yang digunakan oleh Sanusi dalam penafsiran al-Qur’an untuk anak yaitu dengan menggunakan ilustrasi verbal, transliterasi al-Qur’an, adaptasi bahasa lokal dan peneglompokan ayat. Pendekatan komparatif dan analisis konten digunakan untuk menggali temuan tersebut.
Reconciling the Interpretation of Sufism and Sharia: Sheikh ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili’s Views on Women’s Leadership
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.32077

Abstract

This study examines the thought of Sheikh ‘Abd al-Ra’ūf al-Singkili in his efforts to reconcile two often perceived opposing dimensions of Islam, sufism (spiritual dimension) and sharia (legal dimension), particularly in the context of the issue of female leadership. As a prominent 17th-century scholar from Aceh, Sheikh ‘Abd al-Ra’ūf held significant authority in both fiqh and mysticism and was known for his integrative and moderate approach. Using a qualitative library research method, the study analyzes his primary work, Mir’āt al-Ṭullāb, along with supporting secondary literature. The findings reveal that Sheikh ‘Abd al-Ra’ūf did not dichotomize sufism and sharia but sought to harmonize them within a holistic Islamic framework. Regarding female leadership, he adopted a conciliatory stance, neither outrightly rejecting nor fully endorsing it, choosing instead a contextual and moderate interpretation, also informed by contemporary fatwas from Haramayn scholars.Penelitian ini membahas pemikiran Syekh ‘Abd al-Ra’ūf al-Singkili dalam merekonsiliasi dua dimensi utama ajaran Islam tafsir tasawuf (spiritual) dan syariat (hukum) terutama terkait isu kepemimpinan perempuan. Sebagai ulama berpengaruh di Aceh abad ke-17, Syeikh ‘Abd al-Ra’ūf al-Singkili memiliki otoritas dalam fikih dan tasawuf serta dikenal karena pendekatannya yang moderat dan integratif. Menggunakan metode penelitian kepustakaan, penelitian ini menganalisis karya utama beliau, Mir’āt al-Ṭullāb, dan literatur pendukung lainnya. Hasilnya menunjukkan bahwa Syeikh ‘Abd al-Ra’ūf menolak dikotomi antara tasawuf dan syariat, serta mengedepankan harmoni dalam merespons isu-isu sosial-politik, termasuk kepemimpinan perempuan. Dalam hal ini, ia tidak memberikan dukungan atau penolakan secara mutlak, tetapi lebih pada posisi kompromis yang mempertimbangkan konteks zamannya, termasuk fatwa scholar Haramayn.
Gossip in the Qur’an: Analysis of Ibn ‘Āsyūr Maqāṣid Al-Qur’ān in QS. Al-Hujurāt: 12 and An-Nūr: 11,16 and 19
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.30899

Abstract

The phenomenon of gossip often occurs in society, both directly and through social media, leading to negative impacts on individuals and society. Gossip is not a new phenomenon, as it also took place during the time of the Prophet Muhammad (PBUH), one example being the gossip that affected the Prophet’s wife, Siti Aisyah (RA), which is recorded in QS. an-Nūr (24), verses 11-19. These verses not only serve as a warning to humanity but also contain maqṣud (objectives) that can provide valuable lessons in life, including how to deal with gossip. This article employs a qualitative method with a library research approach. The findings of this article indicate that the verses about gossip in the classification of maqāṣid al-Qur’ān according to Ṭahir Ibn ‘Āsyūr include: first, improving faith (akidah); second, instilling good character (akhlak); third, safeguarding the well-being of the community by providing rules, as stated in QS. al-Hujurāt (49), verse 12, and QS. an-Nūr (24), verses 16 and 19; fourth, presenting historical stories as a lesson for humanity to prevent repetition of past mistakes; fifth, serving as a reminder to humanity not to violate what has been forbidden by Allah SWT, including gossip; sixth, informing that every action of a human being will be rewarded accordingly; and seventh, as a miracle that must be believed by Muslims. Fenomena gosip kerap terjadi dalam sosial masyarakat, baik secara langsung maupun melaui media sosial, sehingga menimbulkan dampak negatif pada individu ataupun sosial. Gosip bukan fenomena baru, karena pada masa Rasulullah saw. gosip juga terjadi, salah satunya menimpa istri Nabi saw. Siti Aisyah r.a. yang diabadikan dalam QS. an-Nūr (24) ayat 11-19. Ayat ini tidak hanya sebagai peringatan kepada umat manusia, tetapi juga mengandung maqāṣid (tujuan) yang akan dapat menjadi ibrah dalam kehidupan, termasuk dalam menyikapi gosip. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis library research. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa ayat-ayat tentang gosip dalam klasifikasi maqāṣid al-Qur’ān Ṭahir Ibn ‘Āsyūr, yaitu pertama, memperbaiki akidah; kedua, menanamkan akhlak yang baik; ketiga, menjaga kemaslahatan umat dengan memberikan aturan sebagaiman disampaikan dalam QS. al-Hujurāt (49) ayat 12, dan QS. an-Nūr (24) ayat 16, 19; keempat, kisah-kisah terdahulu sebagai gambaran kepada manusia agar tidak terulang kembali; kelima, sebagai peringatan kepada manusia agar tidak melanggar apa yang sudah dilarang oleh Allah Swt. termasuk gosip; keenam, menginformasikan bahwa segala perbuatan manusia akan mendapatkan balasan; ketujuh, sebagai mukjizat yang wajib diyakini oleh umat muslim.
Two Initiatives of Qur’anic Methodological Interpretation in Contemporary Indonesia: A Study of Tafsir Maqasidi and Ma’na-cum-Maghza Iffah, Iffah; Iwanebel, Fejrian Yazdajird; Kholid, Abd.
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.28446

Abstract

This article examines the ma‘nā-cum-maghzā and Maqāsid-based interpretation approaches initiated by Indonesian Muslim scholars. While most existing research predominantly focuses on applying these two methodologies, this article critically analyzes the construction of both methodologies to understand their methodological applications and the extent of the contributions offered by these interpretation methodologies. The study argues that, firstly, the conceptual framework and methodology of ma‘nā-cum-maghzā and Maqāsid-based interpretation still heavily rely on the previous scholars’ ideas and have yet to find relatively new grounding and expansion, despite both claiming to extend beyond the boundaries of legal verses in the Qur’an. Secondly, in terms of practical implementation, the ma‘nā-cum-maghzā methodology appears to be more structured in its formulation, while the Maqāsid-based interpretation, on the other hand, still lacks a concrete formulation of its interpretative steps. Mustaqim, in this regard, only formulates principles for interpreting the Qur’an based on maqāsid. Thirdly, although they may differ conceptually and terminologically, both methodologies converge and share similarities in seeking the main message of the Qur’an. Mustaqim refers to it as maqāsid, while Sahiron terms it as historical phenomenal significance. Similarly, in terms of contextualization perspective, Mustaqim refers to it as the movement of text (harakiyyat al-nass), while Sahiron terms it as dynamic phenomenal significance. Artikel ini mengkaji pendekatan ma‘nā-cum-maghzā dan tafsīr maqāsidī yang diinisiasi oleh sarjana Muslim Indonesia. Jika mayoritas penelitian yang ada lebih dominan untuk mengaplikasikan kedua metodologi tersebut, artikel ini hendak menelaah secara kritis terhadap konstruksi kedua metodologi itu untuk melihat bagaimana aplikasi metodologi dan sejauh mana kontribusi yang ditawarkan dari kedua metodologi penafsiran tersebut. Penelitian ini berargumen bahwa, pertama, bangunan konsep dan metodologi ma‘nā-cum-maghzā dan tafsīr maqāsidī masih sepenuhnya berpijak dari konsepsi-konsepsi pemikiran ulama sebelumnya, dan bahkan belum menemukan titik pijakan dan perluasan yang relatif baru, meskipun keduanya mengklaim melampaui batasan ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an. Kedua, dalam wilayah aplikatifnya, metodologi ma‘nā-cum-maghzā terlihat lebih terstruktur dalam perumusan metodenya. Sedangkan tafsīr maqāsidī, tampaknya masih belum terumuskan secara konkret langkah-langkah penafsirannya. Mustaqim dalam hal ini, hanya merumuskan prinsip-prinsip dalam menafsirkan Al-Qur’an dengan berbasis pada maqāsid. Ketiga, meskipun terlihat berbeda secara konsep dan terminologis, keduanya menemukan titik persinggungan dan persamaan dalam mencari pesan utama teks al-Qur’an. Dalam bahasa Mustaqim disebut dengan maqāsid, sedangkan dalam terminologi Sahiron disebut dengan signifikansi fenomenal historis. Demikian juga dengan perspektif kontekstualisasi, yang dalam bahasa Mustaqim disebut dengan gerak teks (harakiyyat al-nass), sedangkan dalam terminologi Sahiron disebut dengan signifikansi fenomenal dinamis.
Critiques of Modern Consumerism in the Qur’an: A Study to the Concepts of Israf and Tabdhir in Tafsir al-Wajiz Khoirunnisa, Asmahan Hasna; Rha’in, Ainur
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.34353

Abstract

Consumerism that influences modern society has social, psychological, and spiritual implications. The Qur'an as the main source of Islamic teachings contains verses that condemn excessive lifestyles and waste of wealth. This study aims to examine the concept of consumerism through the study of isrāf and tabdzīr in the perspective of the Qur'an. This study uses a qualitative approach based on literature with the thematic interpretation method (maudhu'i), by collecting verses related to consumption (QS. Al-Isra' [17]: 26-27, QS. Al-A'raf [7]: 31, and QS. Al-Furqan [25]: 67), then analyzing them based on the explanations in Tafsir Al-Wajiz by Wahbah Az-Zuhaili and related to the perspective of Islamic psychology. The results of this study indicate that the Tafsir Al-Wajiz emphasizes the prohibition of excess (isrāf), condemnation of wastefulness (tabdzīr), and the importance of an afterlife orientation in consumption practices. The novelty of this study lies in the use of the Tafsir Al-Wajiz compiled using the tahlili method as the main reference in the thematic analysis of consumption verses, as well as its integration with an Islamic psychological perspective to interpret the impact of modern consumerism. Thus, this study offers a balanced and applicable Qur'anic consumption paradigm as a critique of the consumptive lifestyle. Konsumerisme yang mempengaruhi masyarakat modern memiliki dampak sosial, psikologis, dan spiritual. Al-Qur'an sebagai sumber utama ajaran Islam mengandung ayat-ayat yang menentang gaya hidup berlebihan dan pemborosan harta. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep konsumerisme melalui kajian isrāf dan tabdzīr dalam perspektif Al-Qur'an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kepustakaan dengan metode tafsir tematik (maudhu'i), yaitu menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan konsumsi (QS. Al-Isra' [17]: 26-27, QS. Al-A'raf [7]: 31, dan QS. Al-Furqan [25]: 67), kemudian penggunaannya berdasarkan penjelasan dalam Tafsir Al-Wajiz karya Wahbah Az-Zuhaili dan dikaitkan dengan perspektif psikologi Islam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tafsir Al-Wajiz menegaskan larangan isrāf, kecaman terhadap pemborosan (tabdzīr), dan pentingnya orientasi akhirat dalam praktik konsumsi. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan Tafsir Al-Wajiz yang disusun dengan metode tahlili sebagai rujukan utama dalam analisis tematik ayat-ayat konsumsi, serta integrasinya dengan perspektif psikologi Islam untuk menafsirkan dampak konsumerisme modern. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan paradigma konsumsi Al-Qur'an yang seimbang dan aplikatif sebagai kritik terhadap gaya hidup konsumtif.
Seyyed Hossein Nasr's Criticism of Modernist and Orientalist Interpretive Approaches Mauluddin, Moh; Hariyadi, Muhammad; Arslan, Hamdi
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.31748

Abstract

In contemporary Qur’anic studies, modernist and orientalist approaches have become increasingly influential. These two approaches offer new frameworks for understanding the Qur’an but often separate the sacred text from its spiritual and metaphysical roots. The modernist perspective emphasizes reason, historical context, and linguistic analysis, while the orientalist view relies on philological and historical-critical methods developed within secular academic traditions. As a result, both tend to reduce the Qur’an to a cultural or historical artifact rather than preserving its role as divine revelation. This study aims to examine the critical perspective of Seyyed Hossein Nasr on these two interpretive trends and to explore the alternative hermeneutical framework he proposes. The research applies a qualitative method using literature review and textual analysis of Nasr’s major writings. The findings reveal that Nasr strongly criticizes both approaches for neglecting the spiritual dimension of the Qur’an. He argues that understanding the Qur’an requires a return to sacred and traditional interpretation methods that emphasize inner spiritual meaning. Nasr promotes a hermeneutic approach that integrates reason, intuition, and spiritual insight, allowing for a more holistic understanding of revelation. He also underscores the role of traditional scholars and spiritual authorities in maintaining the integrity of Qur’anic meaning. The study concludes that Nasr’s alternative framework offers a meaningful response to the limitations of modernist and orientalist interpretations. By restoring the balance between textual analysis and spiritual depth, his approach contributes significantly to enriching Qur’anic hermeneutics. It encourages future scholarship to reengage with the sacred aspects of revelation in ways that are both intellectually rigorous and spiritually grounded. Dalam studi Al-Qur’an kontemporer, pendekatan modernis dan orientalis telah menjadi dua aliran yang semakin berpengaruh. Kedua pendekatan ini menawarkan kerangka baru dalam memahami Al-Qur’an, namun sering kali memisahkan teks suci dari akar spiritual dan metafisiknya. Perspektif modernis menekankan rasionalitas, konteks sejarah, dan analisis linguistik, sementara pendekatan orientalis bergantung pada metode filologis dan historis-kritis yang berkembang dalam tradisi akademik sekuler. Akibatnya, Al-Qur’an cenderung dipandang sebagai artefak budaya atau sejarah, bukan sebagai wahyu ilahi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan kritis Seyyed Hossein Nasr terhadap kedua pendekatan tersebut, sekaligus mengeksplorasi kerangka hermeneutika alternatif yang ia tawarkan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, melalui studi pustaka dan analisis teks terhadap karya-karya utama Nasr. Hasil kajian menunjukkan bahwa Nasr secara tegas mengkritik pendekatan modernis dan orientalis karena mengabaikan dimensi spiritual dalam memahami Al-Qur’an. Ia menekankan pentingnya kembali pada metode tafsir yang sakral dan tradisional, yang berfokus pada makna batin dan pengalaman spiritual. Pendekatan yang ia ajukan menggabungkan akal, intuisi, dan wawasan spiritual, serta menekankan peran ulama dan otoritas spiritual dalam menjaga kemurnian makna wahyu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kerangka alternatif yang ditawarkan Nasr menjadi respon bermakna terhadap keterbatasan penafsiran modernis dan orientalis. Dengan menyeimbangkan analisis teks dan kedalaman spiritual, pendekatan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan hermeneutika Al-Qur’an, serta mendorong studi-studi masa depan untuk kembali mengaitkan pemahaman wahyu dengan dimensi kesakralan yang mendalam.
An Analysis of the Meaning of Slander from the Perspective of Tafsir al-Qurtubi Roswati, Ai; Nidhom, Khoirun; Ghifari, Muhammad
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.31322

Abstract

The word “fitnah” in the Qur'an has diverse and contextual meanings, so it requires in-depth exploration to understand its dimensions and implications. Through text analysis method and hermeneutic approach, this study explores Al-Qurtubi's interpretation of the verses containing the word “fitnah”. The word “fitnah” in the Qur'an has a broad and diverse meaning, depending on the context of the verse. According to Imam Al-Qurtubi in his tafsir book, “Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an”, the word “fitnah” and its derivatives are mentioned in various forms, including verbs (fi'il), nouns (isim), and adjectives. “fitnah” and its derivatives are mentioned around 60 times in the Qur'an. However, this number may vary depending on the way the word is counted and interpreted. The word fitnah in its base form (isim) is mentioned 34 times in the Quran and in its verb (fi'il) and adjective forms is mentioned 26 times in the Quran. The results showed that Al-Qurtubi interpreted fitnah in various contexts, such as tests, trials, chaos, misguidance, and torment. This study also reveals the importance of historical, linguistic, and social contexts in Al-Qurtubi's interpretation, as well as the relevance of the concept of fitnah in contemporary life. Kata "fitnah" dalam Al-Qur'an memiliki makna yang beragam dan kontekstual, sehingga membutuhkan eksplorasi mendalam untuk memahami dimensi dan implikasinya. Melalui metode analisis teks dan pendekatan hermeneutika, penelitian ini mengeksplorasi interpretasi Al-Qurtubi terhadap ayat-ayat yang mengandung kata "fitnah". Kata "fitnah" dalam Al-Qur'an memiliki arti yang luas dan beragam, tergantung pada konteks ayatnya. Menurut Imam Al-Qurtubi dalam buku tafsirnya, "Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an", kata "fitnah" dan turunannya disebutkan dalam berbagai bentuk, termasuk kata kerja (fi'il), kata benda (isim), dan kata sifat. "fitnah" dan turunannya disebutkan sekitar 60 kali dalam Al-Qur'an. Namun, angka ini dapat bervariasi tergantung pada cara kata tersebut dihitung dan ditafsirkan. Kata fitnah dalam bentuk dasarnya (isim) disebutkan 34 kali dalam Al-Qur'an dan dalam kata kerja (fi'il) dan bentuk kata sifatnya disebutkan 26 kali dalam Al-Qur'an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qurtubi menafsirkan fitnah dalam berbagai konteks, seperti ujian, cobaan, kekacauan, kesalahan, dan siksaan. Penelitian ini juga mengungkapkan pentingnya konteks sejarah, bahasa, dan sosial dalam interpretasi Al-Qurtubi, serta relevansi konsep fitnah dalam kehidupan kontemporer.
Interreligious Harmony : A Case Study Kapuas Intefaith Harmony Forum Kapuas Regency and Ma’na Cum Maghza Approach Ushansyah, Ushansyah; Taufiq, Muhammad; Anwar, Khairil
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.34307

Abstract

This study aims to examine the relevance of interpreting QS. Āli ʿImrān [3]:118–119 in fostering interreligious harmony within the pluralistic society of Kapuas Regency, which is currently experiencing local social and political dynamics, by employing the hermeneutical approach of Ma’na Cum Maghza developed by Sahiron Syamsuddin. This approach is selected for its capacity to integrate the historical-textual meaning of Qur’anic verses with their universal ethical messages in contemporary contexts. Methodologically, this research adopts a qualitative-interpretative design through library research and field studies. Data sources include Qur’anic verses, classical and modern Qur’anic commentaries, academic literature on Islamic hermeneutics and interreligious relations, as well as documents and social practices related to the role of the Interfaith Harmony Forum (FKUB) of Kapuas Regency. Data analysis is conducted by identifying the ma’na (original meaning) of the verses within their socio-historical context, followed by an exploration of their maghza (contextual significance) for present-day realities. The findings reveal that QS. Āli ʿImrān [3]:118–119, which was originally revealed in a context of political vigilance toward non-Muslims during the aftermath of the Battle of Uhud, can be reinterpreted through the Ma’na Cum Maghza approach as conveying broader socio-ethical messages that emphasize prudence, openness, and moral responsibility in interreligious interactions. Values such as at-tasamuh (tolerance), at-taʿāwun (cooperation), and at-tarāḥum (compassion) emerge as universal ethical principles that resonate with the initiatives and practices of FKUB Kapuas in maintaining social cohesion amid local political polarization. The implications of this study affirm that the Ma’na Cum Maghza approach positions the Qur’an as a source of universal ethics that promotes a peaceful and inclusive Islam, while also offering an applicable model for strengthening synergy among FKUB, the Ministry of Religious Affairs, and the Kapuas Regency Government based on Qur’anic values and local cultural wisdom. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi penafsiran QS. Ali Imran [3]:118–119 dalam membangun harmoni antarumat beragama di tengah masyarakat majemuk Kabupaten Kapuas yang tengah menghadapi dinamika sosial dan politik lokal, dengan menggunakan pendekatan hermeneutis Ma’na Cum Maghza sebagaimana dikembangkan oleh Sahiron Syamsuddin. Pendekatan ini dipilih karena kemampuannya mengintegrasikan makna historis-tekstual ayat dengan pesan etis universal yang kontekstual. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan desain kualitatif-interpretatif melalui studi pustaka dan studi lapangan. Sumber data meliputi ayat-ayat Al-Qur’an, karya tafsir klasik dan modern, literatur akademik tentang hermeneutika Islam dan relasi antaragama, serta dokumen dan praktik sosial yang berkaitan dengan peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kapuas. Analisis data dilakukan dengan menelusuri ma’na (makna asal) ayat dalam konteks sosio-historisnya, kemudian mengelaborasi maghza (signifikansi) ayat bagi konteks kekinian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. Ali Imran [3]:118–119 yang pada mulanya diturunkan dalam konteks kewaspadaan politik terhadap kelompok non-Muslim pada masa Perang Uhud, melalui pendekatan Ma’na Cum Maghza dapat ditafsirkan ulang sebagai pesan sosial-etis yang lebih luas, yang menekankan prinsip kehati-hatian, keterbukaan, dan tanggung jawab moral dalam interaksi antarumat beragama. Nilai-nilai at-tasamuh (toleransi), at-ta‘awun (kerja sama), dan at-tarahum (kasih sayang) muncul sebagai prinsip etis universal yang selaras dengan praktik dan program FKUB Kapuas dalam menjaga kohesi sosial di tengah potensi polarisasi politik. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan Ma’na Cum Maghza menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber etika universal yang mendorong lahirnya Islam yang damai dan inklusif, sekaligus menawarkan model aplikatif bagi penguatan sinergi antara FKUB, Kementerian Agama, dan Pemerintah Kabupaten Kapuas berbasis nilai-nilai Qur’ani dan kearifan budaya lokal.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue