cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 417 Documents
Murattal dan Mujawwad Al-Qur’an di Media Sosial Indonesia
HERMENEUTIK Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v12i1.6029

Abstract

Al Qur’an as self referential text within a word Quran and Qul represents oral dimension involved. It is a dimension when the Quran frequently is applied as narrative object in daily life by which, according to Frédéric Deny, it is called Performative. In aesthetic receptional discourse, Al Qur’an as a text is placed as object approached beautifully. For instance, it's voiced by sound and rhythm called as murattal or Mujawwad. The oldest quranic recording is found in 1855 by S Hurgronje in which it was a starting point for the Quran to recept digitally in media matters. Around 2000, Quranic Aesthetic reception in media tools Was widespread massively, then reading Qur’an in this time using Rythm isn't a matter to be coached directly. By phenomenological approach, this research try to mapping the typology as well as the history of the reader (Qori) who change to use the social media as listener and appreciator by uploading his/her reading. The result Shows that there are three aspects influencing the reader acts in social media, 1)to show the existence of the Quran 2) religious narsism, 3)authoritative freedom.
MENUJU KEHARMONISAN KELUARGA DARI AYAT-AYAT NUSYUZ DAN SYIQAQ
HERMENEUTIK Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4545

Abstract

Eksistensi perempuan berada pada sistem paradoksal (kondisi positif dan negatif tentang eksistensi perempuan dalam kehidupan), sebagaimana keadaan perempuan yang dianggap memprihatinkan, dengan terkungkung dalam sistem budaya patriarki, mengakibatkan timbulnya perlawanan, seperti gerakan feminisme, yang berupaya melakukan pemberontakan terhadap tatanan masyarakat yang ada, yang mereka anggap bersifat patriarkis, termasuk terhadap ide-ide teologis (agama) dan institusi sosial kultural yang  sering dituduh sebagai pangkal dari ketidakadilan sistemik perempuan. Menurut penulis, gerakan feminis seperti ini justru merusak keharmonisan tatanan kehidupan, bahkan syari’at yang telah diajarkan dalam Agama Islam yang sudah proporsional.  Adapun metode penafsiran yang relevan untuk pembahasan ini adalah metode penafsiran kontekstual milik Abdullah Saeed, yang menawarkan aplikasi penafsiran yang sesuai dengan konteks kekinian. Dari penelitian inilah penulis menemukan bahwa Al-Qur’an telah memberikan tawaran solusi yang arif dan bijak untuk menghadapi perempuan  yang melakukan nusyu>z dan syiqa>q, dengan ketentuan yang diuraikan dalam QS. Al-Nisa>’ [4] ayat 34 dan 35, yaitu beberapa tahapan solusi yang harus dilakukan dalam menghadapi perempuan nusyu>z dan syiqa>q, yaitu memberikan nasihat yang baik serta melakukan tindakan-tindakan persuasif (فَعِظُوهُنَّ), selanjutnya pisah ranjang (وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ), yang dimaksudkan adalah menghentikan hubungan seksual sementara waktu sehingga membuat istrinya jera dan merasa bersalah. Dan sebagai langkah terakhir adalah memukul ( وَاضْرِبُوهُنَّ ), sebagai suatu langkah-langkah fisikal dan dengan ketentuan tidak menyakitkan dan tidak berbekas. Namun, jika keduanya tetap berselisih maka perlu h}akam (h}akamain), yang berfungsi sebagai pemdamai di antara keduanya. Maksud dari keseluruhan ayat tentang nusyu>z dan syiqa>q ini adalah bahwa pada hakikatnya ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah kedamaian dan kasih-sayang, yang menjadi perwujudan dari ajaran Islam Rahmatan lil "alamin
Resepsi Thibbun Nabawi pada Hastag #JurusSehatRasulullah (JSR) Ala Zaidul Akbar Sari, Maula; Zuhri, Syaifuddin
HERMENEUTIK Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.9939

Abstract

Thibbun Nabawi is a transformation between past and present due to viralization.  Thibbun Nabawi has been known since the time of the Prophet, along with his journey Nabawi experienced changes in marketing and introduction. One of the viral phenomena especially in social media now is #JSR or JurusSehatRasulullah which was pioneered by Zaidul Akbar with a more dynamic nuance, and easily practiced by the wider community. This paper aims to look at the reception of the Koran in the online world, especially JurusSehatRasulullah (#JSR) by Zaidul Akbar, and the #JSR's response and impact to netizens. This research is qualitative by using reception theory and discourse analysis. The results of this study indicate that the JSR in the style of  Zaidul Akbar provides positive results for netizens who practice it. The number of positive testimonials given by netizens. The hashtag #JSR makes it easy for people to access health knowledge taught by the Koran and its sunnah.
KRITIK NALAR ISLAM (STUDI PEMIKIRAN HERMENEUTIK MOHAMMED ARKOUN)
HERMENEUTIK Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4510

Abstract

Mohammed Arkoun dengan kritik nalar Islamnya memiliki corak baru dalam dinamika Hermeneutika. Bagi Arkoun, perkembangan zaman telah menyisakan persoalan-persoalan keagamaan yang tidak cukup diselesaikan dengan pemahaman agama secara dogmatis dan a historis, akan tetapi diperlukan pemikiran Islam kontemporer dan berbagai pendekatan untuk memahami ajaran Islam agar terlepas dari belenggu ideologis dari pemikiran ulama’ sebelumnya. Maka, untuk merealisasikan hal ini diperlukan sebuah pendekatan pemikiran yang kemudian dikenal Kritik Nalar Islam. Arkoun, dalam hal ini berusaha memperkenalkan pendekatan pemikiran hermeneutika sebagai metodologi kritis yang akan memberikan pemahaman dan pemaknaan baru dalam memahami teks. Pendekatan historis-kontekstual diperlukan untuk mentransformasikan pemaknaan ajaran agama agar selalu relevan dengan perkembangan zaman.
Pemikiran Imam Al-Syafi’i (w. 204 h) Tentang Tafsir
HERMENEUTIK Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v10i1.3901

Abstract

Umat Islam tentu tidak asing dengan sosok imam Syafi’i, salah satu imam madzhab fikih yang menjadi rujukan terutama masyarakat Indonesia. Imam Syafi’i lebih dikenal sebagai sosok yang ahli dibidang fikih dibanding keilmuan lainnya, semisal tafsir. Penelitian ini sengaja mengupas pemikiran imam Syafi’i yang jarang tersentuh, yaitu pemikiranya dalam bidang tafsir. Penelusuran terhadap pemikirannya, penulis merujuk pada karya-karya beliau semisal kitab al-Risa>lah dan al-Umm. Hasil penelitian ini didapati, bahwa imam Syafi’i telah menafsirkan banyak ayat-ayat al-Quran meskipun tidak utuh 30 juz. Penafsirannya lebih banyak pada ayat-ayat hukum, melihat kapasitas beliau sebagai ahli fikih. Dalam menafsirkan al-Quran, imam Syafi’i banyak mengunakan al-Quran, Sunnah, perkataan para sahabat dan para imam. Selain itu, beliau juga banyak menafsirkan ayat dengan qiyas dan syair-syair Arab.
Interpretasi Ma’nā Cum Maghzā Terhadap Relasi Suami-Istri dalam QS. al-Mujādalah [58]: 1-4.
HERMENEUTIK Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v14i1.6569

Abstract

Husband and wife relationship is an issue that is always fun to discuss. Many classical literary traditions that leave behind patriarchal culture, therefore this article discusses the question of marital relations in the Qur'an. For example, the wife is often positioned as a person who gets rough, unfair, and discriminatory treatment, even if examined in the QS. Mujādalah [58]: 1-4 shows how God is very concerned about women who are not treated well by their husbands. Through the theory of ma'nā cum maghzā which was popularized by Sahiron Syamsuddin, the writer wanted to offer a new discourse on modern interpretation which covered three things. First interpretation system, linguistic analysis. Second, historical analysis includes asbāb al-nuzūl macro and micro, intratextextuality (munāsabah al-āyat) and itertextextats (isra'iliyyat), Third, namely significance, searching for the deepest meaning of ma'nā towards maghzā of conjugal relations. 
Pesan Moral KiaMat PersPeKtif al-Qur’an
HERMENEUTIK Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v7i2.925

Abstract

Tulisan ini mencoba mengulas tentang kiamat (kehancuran alamsemesta), yaitu tentang tahapan dan pesan moralnya. Masalahyang digambarkan al-Qur’an sejak masa awal Islam adalah kiamat.Kiamat merupakan persoalan pokok bagi seorang Muslim, selainmasuk dalam wilayah akidah juga merupakan inti agama. Kiamatmerupakan peristiwa dasyat, sehingga disebutkan berulang-ulangdengan segala bentuk rangkaian sebanyak 70 kali. Ada empat(4) tahap terjadinya kiamat. Pertama, peristiwa-peristiwa kecil,yaitu kejadian yang rutin di alam semesta, dalam skala ini, bolehjadi hanya terjadi di kawasan bumi saja. Kedua, adalah peristiwabesar, yaitu terjadi dalam skala yang luas secara kosmos, yangmelibatkan tata surya dan dalam skala yang lebih luas melibatkanseluruh galaksi. Ketiga, adalah kiamat universal, peristiwa initerjadi serentak yang akan melibatkan seluruh alam raya. Keempat,yaitu hari kebangkitan, sebagai kulminasi semua peristiwa kiamatbaik yang kecil maupun yang besar. Ada empat pesan moral yanghendak disampaikan al-Qur’an melewati ayat-ayat kiamat. Pertama,mengubah pandangan hidup duniawi materialistik menjadipandangan hidup yang menyeimbangkan antara kehidupan duniasebagai kesenangan yang sementara, sedikit dan menipu. Kedua,mendorong manusia beraktivitas positif (beramal saleh). Ketiga,menumbuh-kembangkan rasa tanggung jawab pada diri sendiri.Keempat, pembenahan diri seawal mungkin.
Paradigma Abu< Al-Fad}l Terhadap Hukum Fikih Ibadah dalam Tafsir Ayat Al-Ah{kam min Al-Qur’an Al-Karim
HERMENEUTIK Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i2.6378

Abstract

A product of interpretation certainly has a special characteristic that is unique to a product of interpretation. From this uniqueness, a mufassir paradigm will emerge that is implied in his work. This research is oriented to answer the background of the writing of interpretation, and how the paradigm of Abu> al-Fad} l is in the interpretation of the verses of the fiqh law of worship. In general, a commentator writes his commentary based on his academic desires or demands. In contrast to mbah Fadhal, as her familiars are, writing her interpretive products begins with the teaching of Jalalain interpretation subjects in Madrasah Diniyyah Sunnatunnur Senori, Tuban, East Java, which she supports. According to Mbah Fadhal, his students will need a long time or even a lifetime to understand the whole meaning of the Qur'anic verses. Therefore, for time efficiency in learning interpretation, he collects and interprets verses that contain the laws of fiqh so that his students can easily understand the verses of the Koran used in practice in worship and daily social life. The method used by Abu> al-Fad} l is the method of maud} u'i ijma> li with the form tafsi> r bi al-ra'y and patterned fiqi> h Shafi'iyyah. Its interpretation products are presented in Arabic. The concept of reasoning carried out by Abu> al-Fad} l in its interpretation is by linguistic analysis, the rules of us} ul fiqh, and many refer to previous commentators. When viewed from the process of establishing a law (istinba> t} law), Abu> al-Fad} l is included in the category of moderate scholars, that is not too free in taking a law because it also refers to riwayah-riwayah (Hadi> th Prophet) and supported by the environmental conditions of Abu> al-Fad} l when he lived. The paradigm of Abu> al-Fad} l in its interpretation is that the Qur'an is the affirmation of God s acf} un li kulli zama> n wa then n that is practical, effective, and understandable.
AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER TAFSIR DALAM PEMIKIRA MUHAMMAD SHAHRUR
HERMENEUTIK Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i2.893

Abstract

Penggunaan al-Qur’an sebagai sumber tafsir pada masakontemporer mengalami pergeseran dibandingkan dengan masasebelumnya. Shahrur yang dikenal sebagai pemikir liberal danbermazhab subyektifi mengajukan sejumlah pembaharuan dalampenggunaan al-Qur’an sebagai sumber tafsir, namun bagi Shah} ru>r,al-Qur’an merupakan sumber pertama dan utama sehingga dalamhubungannya dengan sumber lain seperti al-sunnah. Menggunakananalisis interpretatif-komparatif, artikel ini menyimpulkanShahrur menyuguhkan teknik paradigmatik-sintagmatik yangseringkali menghasilkan hasil pembacaan al-Qur’an yang berbedadengan sejumlah pemikir yang lain. Upaya kontekstualisasi alQur’an dibangun Shahrur berlandaskan prinsip al-Qur’an salih likulli zaman wa al-makan.al-Qur’an ditempatkan kembali sebagaisumber pertama dan utama sehingga semua sumber harus tundukdan berkorespondensi dengan al-Qur’an.
Tafsir At-Tauhîdi Karya Hasan At-Turâbi: Selingkung Baru Dalam Tafsir
HERMENEUTIK Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i1.5553

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk menggambarkan tafsir at-tauhidi yang dikenalkan oleh Hasan at-Turabi. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis, kajian kepustakaan dan bersumber primer kitab tafsir at-tauhidi karya Hasan at-Turabi.Tafsir at-Tauhîdi yang dikenalkan oleh Hasan at-Turabi dimaksudkan sebagai kajian tafsir al-Qur'an yang didahului dengan konsep hidayah surat al-Qur'an.Lalu membaca pelan makna ayat dan mencari makna umum (prinsip) dari ayat-ayat yang sudah dikaji sebelumnya. Tafsir at-Tauhîdi di antara model penafsiran yang sesungguhnya juga ingin menjawab problem kehidupan modern.

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Available June 2021 Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue