cover
Contact Name
Muhammad Zuhurul Fuqohak
Contact Email
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Phone
+6285326311019
Journal Mail Official
hermeneutik@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jl. Conge Ngembalrejo PO.BOX 51 Kudus, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Hermeneutik : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 19077246     EISSN : 25026402     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/hermeneutik
We accept scholarly article that the subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of Quranic Studies Quranic Exigesis Studies Philology Studies Ulumul Qur`an Living Qur`an
Articles 249 Documents
Semantic Interpretation of Riba In The Qur’an And Its Contemporary Financial Implications Fadillah, Insan; Jamil, M.; Harahap, Mardian Idris
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.32171

Abstract

This paper explores the Qur’anic prohibition of riba and its relevance to modern interest-based financial systems. Using a semantic approach and drawing on both classical and contemporary exegesis, the discussion covers the reasons for the revelation of verses on riba, the semantic interpretation of riba according to Toshihiko Izutsu, and the scholarly debate on the term adhāfan muḍhā‘afah in QS. Āli ‘Imrān [3]:130. The study reveals that the prohibition of riba is not limited to compounded interest but is rooted in its inherent injustice and exploitative nature. Scholars differ on whether all forms of interest qualify as riba or only certain types, yet they agree that exploitative riba is categorically forbidden. Beyond its moral implications, riba has systemic effects on the global economy, contributing to financial crises, economic inequality, inflation, and debt traps in developing countries. As a viable alternative, Islamic finance promotes sharī‘ah-compliant contracts rooted in real-sector activities, offering a more equitable and stable system. This study concludes that the Qur’anic prohibition of riba integrates spiritual, social, and economic dimensions. Paper ini mengkaji larangan riba dalam Al-Qur’an dan relevansinya terhadap praktik bunga dalam sistem keuangan modern. Dengan pendekatan semantic serta kajian tafsir klasik serta kontemporer, pembahasan dimulai dari sebab turunnya ayat-ayat riba, makna semantik riba menurut Toshihiko Izutsu, hingga perbedaan penafsiran terhadap istilah adhāfan muḍhā‘afah dalam QS. Āli ‘Imrān [3]:130. Studi ini menunjukkan bahwa larangan riba tidak hanya dilandasi oleh bentuknya yang berlipat ganda, tetapi juga oleh nilai ketidakadilan dan eksploitasi yang terkandung di dalamnya. Para ulama berbeda pendapat apakah semua bentuk bunga termasuk riba atau hanya bunga dalam kadar tertentu. Namun demikian, seluruh ulama sepakat bahwa riba yang bersifat merugikan dan menindas adalah haram. Selain sebagai larangan moral, riba juga berdampak sistemik terhadap perekonomian global, termasuk krisis keuangan, ketimpangan ekonomi, inflasi, hingga jeratan utang negara berkembang. Sebagai alternatif, sistem keuangan Islam menawarkan akad-akad syariah berbasis sektor riil yang lebih adil dan stabil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelarangan riba dalam Al-Qur’an memiliki dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi yang saling terintegrasi.
Emotion, Sound, and Piety: Interpreting the Living Qur’an through Anna M. Gade’s Thought in Indonesia Nurlela, Ela; Dalila, Haula Hasna; Parlina, Iin; Safruroh, Safruroh
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.31350

Abstract

This study explores the concept of the Living Qur’an in Indonesian society through the lens of Anna M. Gade’s thought, focusing on the ways in which Muslims read, interpret, and practice the Qur’an within social and cultural contexts. Employing a descriptive qualitative method based on literature analysis, the research investigates how the Qur’an functions not only as a source of doctrinal knowledge but also as a performative and emotional force in everyday religious life. Findings highlight the unique Indonesian engagement with the Qur’an, where non-Arabic speaking communities demonstrate profound aesthetic and spiritual connections through recitation and ritual. Gade’s analysis emphasizes the role of affect, sound, and embodiment in Qur’anic practices, offering an alternative perspective on piety as a deeply personal and experiential phenomenon. While her work is subject to critique—particularly regarding generalizations and lack of empirical specificity—it provides valuable insights into the religious dynamics of Indonesian Muslims, including community participation, media usage, lifelong learning, and women’s empowerment. The study concludes that the Qur’an operates both informatively and performatively, shaping a psycho-emotional relationship that influences the believer’s psychological and spiritual state. Gade’s contributions pave the way for future inquiries into the affective and performative dimensions of Islamic religiosity in diverse cultural settings. Studi ini mengkaji konsep Al-Qur’an yang Hidup dalam masyarakat Indonesia melalui pemikiran Anna M. Gade, dengan fokus pada cara umat Islam membaca, menafsirkan, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam konteks sosial dan budaya. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis analisis kepustakaan, penelitian ini menelusuri bagaimana Al-Qur’an berfungsi tidak hanya sebagai sumber pengetahuan doktrinal, tetapi juga sebagai kekuatan performatif dan emosional dalam kehidupan keagamaan sehari-hari. Temuan menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat Indonesia dengan Al-Qur’an bersifat unik, di mana komunitas yang tidak berbahasa Arab tetap menunjukkan keterhubungan estetis dan spiritual yang mendalam melalui tilawah dan ritual. Analisis Gade menekankan peran afeksi, bunyi, dan tubuh dalam praktik-praktik Qur’ani, serta menawarkan perspektif alternatif tentang kesalehan sebagai fenomena yang sangat personal dan pengalaman. Meskipun pemikirannya mendapat kritik—terutama terkait generalisasi dan kurangnya data empiris yang spesifik—karyanya memberikan wawasan berharga mengenai dinamika keberagamaan Muslim Indonesia, termasuk partisipasi komunitas, pemanfaatan media, pembelajaran sepanjang hayat, dan pemberdayaan perempuan. Studi ini menyimpulkan bahwa Al-Qur’an memiliki fungsi informatif dan performatif sekaligus, membentuk hubungan psiko-emosional yang memengaruhi kondisi psikologis dan spiritual seorang Muslim. Kontribusi Gade membuka ruang bagi penelitian lanjutan terkait dimensi afektif dan performatif dalam keberagamaan Islam di berbagai konteks budaya.
The Concept of Mafhum al-Nash in the Thought of Nashr Hamid Abu Zaid: A Comparative Analysis with the Literal Approach of Khawarij Wathani, Muhammad Fadhil; Sholeh, Muhammad Badrus; Salamah, Ika Hilmiatus; Sulaiman, Sulaiman; Amin, Nasihun; Wibowo, Taufik Awan
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.34385

Abstract

This study examines the relationship between the thought of Nashr Hamid Abu Zaid and the ideology of Khawarij, focusing on the analysis of the concept of "Mafhum al-Nashsh".  As a progressive Muslim thinker, Abu Zaid offers a critical approach to textual understanding in Islam that emphasizes the importance of context and dynamic interpretation. On the other hand, Khawarij is known for its literal and radical approach to religious texts.  By analyzing Abu Zaid's works, this article identifies the intersection and the fundamental differences between Abu Zaid's critical approach and the Khawarij's textual views.  This study examines Abu Zaid's response to the Khawarij ideology and assesses the implications of this relationship for contemporary Islamic understanding and efforts to counter religious extremism.  The research results are expected to make a significant contribution to understanding the dialectic between progressive and literal thought in Islamic discourse. Studi ini menyelidiki hubungan antara pemikiran Nashr Hamid Abu Zaid dan ideologi Khawarij, dengan penekanan pada analisis konsep "Mafhum al-Nashsh". Sebagai pemikir Muslim progresif, Abu Zaid menawarkan pendekatan kritis terhadap pemahaman tekstual dalam Islam yang menekankan pentingnya konteks dan interpretasi dinamis. Di sisi lain, Khawarij dikenal karena pendekatannya yang harfiah dan radikal terhadap teks-teks agama. Melalui analisis karya-karya Abu Zaid, artikel ini mengidentifikasi persimpangan serta perbedaan mendasar antara pendekatan kritis Abu Zaid dan pandangan tekstual Khawarij.  Studi ini tidak hanya mengungkapkan bagaimana Abu Zaid menanggapi ideologi Khawarij, tetapi juga mengevaluasi implikasi dari hubungan ini terhadap pemahaman Islam kontemporer dan upaya untuk melawan ekstremisme agama. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam memahami dialektika antara pemikiran progresif dan harfiah dalam wacana Islam.
Mysticism and Mujarobat : Local Wisdom in the Tafsir Petuk Semen, Kediri Baehaki, Ahmad; Al Ghifari Syatta, Muhammad Miqdad; Abror, Indal; Mubarok, Muhammad Luthfi
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.27703

Abstract

A work of Qur’anic exegesis cannot be separated from the cultural locality surrounding it. Kiai Haji (KH.) Ahmad Yasin Asymuni is one of the Nusantara’s mufasir whose work is Tafsir Petuk Semen, Kediri. Until now, no research has specifically examined the local aspects of this Qur’anic exegesis, especially through the approach of modern hermeneutic theory. This study aims to identify aspects of locality in the Nusantara context contained in the Tafsir Petuk Semen, Kediri. This study uses a qualitative method (literature study) and analysis using Gadamer's hermeneutic horizon theory and the theory of living Qur'an reception. The results show that the Tafsir Petuk Semen, Kediri, has four local aspects. First, the interpretation is equipped with a Javanese translation. Second, the use of the method of grammatical translation of meanings is typical of Islamic boarding schools. Third, the use of Jawi script (Arabic Pegon) in the translation. Fourth, the many mujarobat practices with extraordinary efficacy from the interpreted verses. These findings contribute to the study of Qur’anic exegesis globally by showing how local Javanese Islamic traditions integrate language, script, pesantren methodology, and spiritual practices in Qur’anic exegesis, thereby enriching the discourse on knowledge transmission and epistemological plurality. Sebuah karya tafsir tidak bisa terlepas dari lokalitas budaya yang mengelilinginya. Lokalitas tersebut mempengaruhi corak, penggunaan bahasa dan aksara, serta isu yang diangkat. Kiai Haji (KH.) Ahmad Yasin Asymuni merupakan salah satu mufasir Nusantara yang menulis beberapa karya tafsir, salah satunya Tafsir Petuk Semen, Kediri. Namun, hingga saat ini belum ada penelitian yang secara khusus mengkaji aspek lokal dari tafsir Al-Qur'an KH. Yasin Asymuni dan faktor-faktor yang membentuknya, khususnya melalui pendekatan teori hermeneutika modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek lokalitas dalam konteks Nusantara yang terdapat dalam Tafsir Petuk Semen, Kediri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Penulis menganalisa data melalui teori horizon hermeneutika Gadamer dan teori resepsi living Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir Petuk Semen, Kediri, memiliki empat aspek lokalitas. Pertama, tarsif tersebut dilengkapi dengan terjemahan bahasa Jawa. Kedua, penggunaan metode tarjamah gramatika makna gandul khas pesantren. Ketiga, penggunaan aksara Jawi (Arab Pegon) dalam terjemahan. Keempat banyaknya amalan mujarobat dengan khasiat luar biasa dari ayat-ayat yang ditafsirkan. Temuan ini berkontribusi pada kajian tafsir Al-Qur’an secara global dengan menunjukkan bagaimana tradisi Islam lokal Jawa mengintegrasikan bahasa, aksara, metodologi pesantren, dan praktik spiritual dalam penafsiran Al-Qur’an, sehingga memperkaya diskursus tentang transmisi pengetahuan, dan pluralitas epistemologi.
المعاملة الحسنة وأثرها في تقوية الروابط الاجتماعية والإنسانية في القرآن الكريم: دراسة في التفسير الموضوعي Dia, Yousouf Ibrahim; Adim, Fauzan
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.30561

Abstract

يأتي هذا البحث من منطلق الشعور بالحاجة الماسَّة إلى تقوية العلاقات الاجتماعية والإنسانية على أساس من الثقة والاحترام المتبادل، ومراعاة المشاعر والأحاسيس، لما لذلك من دورٍ إيجابي في توثيق عُرى المحبة بين الناس، وفي القدرة على اختراق الكثير من الحواجز النفسية، والوصول بسهولة إلى قلوب الآخرين. وذلك بغرض تجاوز الكثير من الإشكالات والعقبات التي تعترض سبيل السعادة الإنسانية، وتشوِّش على العلاقات القائمة بين الناس. ويعالج البحث هذا الموضوع وفق منهج التفسير الموضوعي، الذي كثيراً ما يركَّز على معرفة الأهداف القرآنية من خلال التعمق في فهمها وتقوية الروابط الاجتماعية والإنسانية، بدءاً من الأسرة وانتهاءً بالعلاقات على المستوى الإنساني العام، في كافة جوانب الحياة ومجالاتها مليئ في الهدايات القرآنية. وقد تناولنا هذا الموضوع مركزين على أمر مهم وهو: تحليل الهدايات القرآنية التي تحث صراحةً على الالتزام بالمعاملة الحسنة  مع الآخرين باعتباره خُلُقاً إسلامياً رفيعاً، منوِّهةً بدور ذلك في تقوية الروابط والعلاقات الإنسانية، وبالكيفية التي ينبغي أن تكون عليها هذه العلاقات.
The Concept of Slow Living in the Qur’an: A Thematic Study of “Itsmun” and Learning Errors Vachruddin, Vrisko Putra; Alawy, Muhammad Fahmi
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.33452

Abstract

The position of teachers and students, who position themselves as human beings, cannot be separated from the concept of mistakes and sins committed intentionally or unintentionally. This refers to the Prophet's Hadith which states that every descendant of the Prophet Adam has certainly committed sin. Likewise, in the learning process, in order to understand the meaning of slow living (a peaceful life), a teacher must understand the mistakes in learning that occur between teachers and students, which can lead to sin between them. These mistakes need to be minimized by teachers and students by understanding the forms of error patterns in learning based on the thematic interpretation of the word itsmun in the verses of the Qur'an. This study uses a qualitative research type with a literature review research method and text analysis techniques. The word itsmun in the Qur'an is interpreted as a person who is sinful, an infidel, a liar, and each verse contains the meaning of opposing Allah and the Messenger and has a negative effect on oneself and others. The meaning of mistakes in learning made by teachers and students can be categorized as minor or major sins. In addition, in general, the categories of teacher and student mistakes are more directed towards human sins against the rights of society and the environment, as well as sins against oneself. The meaning of the phrase "itsmun" relates to the concept of slow living, which involves using time effectively and efficiently to achieve learning goals. Its connection to learning theory emphasizes the professionalism of teachers as role models for students, helping them avoid sinful behavior. Posisi guru dan murid yang menempatkan diri sebagai sosok manusia maka tidak akan terlepas dari konsep kesalahan maupun dosa yang diperbuat secara sengaja maupun tidak. Hal tersebut mengacu pada Hadis Nabi yang menyatakan bahwa setiap keturunan Nabi Adam pasti pernah melakukan dosa. Begitu pun dalam proses pembelajaran, guna memaknai slow living (kehidupan yang tenang) maka seorang guru harus memahami kesalahan dalam pembelajaran yang terjadi antara guru dan murid sehingga muncullah dosa diantara keduanya. Kesalahan tersebut perlu diminimalisir oleh guru dan murid dengan mengetahui bentuk pola kesalahan dalam pembelajaran berdasarkan tafsir tematik lafadz itsmun dalam ayat-ayat al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode penelitian literature review serta teknik analysis teks. Kata Itsmun  dalam al-Qur’an ditafsirkan sebagai orang yang banyak dosa, orang kafir, kebohongan serta setiap ayat mengandung makna melawan Allah dan Rasul serta memiliki efek negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Makna kesalahan dalam pembelajaran yang dilakukan oleh Guru maupun Murid dapat dikategorisasikan pada kategori dosa kecil atau besar. Selain itu secara umum kategori kesalahan Guru dan Murid lebih mengarah pada dosa manusia terhadap hak-hak masyarakat dan lingkungan serta dosa terhadap diri sendiri. Keterkaitan makna lafadz itsmun dengan konsep slow living ialah pada pemanfaatan waktu secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan keterkaitannya dengan teori pembelajaran ialah menekankan profesionalisme guru sebagai panutan bagi murid untuk menghindari perbuatan-perbuatan dosa.
Qur’anic Foundations of the Obligation to Learn: A Thematic and Scientific Exegesis and Its Implications for Islamic Education Muzami, Fazrin Syaibatul Hamdi; Nuraida, Siti Vania; Saidah, Saidah; Rostika, Ika
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i2.34537

Abstract

This study departs from the growing urgency of strengthening Islamic education in nurturing knowledgeable and ethical individuals, as emphasized repeatedly in the Qur’an and Hadith. While previous studies often treat the obligation to learn in a normative and descriptive manner, they rarely integrate thematic exegesis (tafsir maudhū‘ī) and scientific exegesis (tafsir ‘ilmi) as combined analytical frameworks. This research fills that gap by examining Qur’anic educational verses through both epistemological approaches. Using a library research method, the study analyzes relevant Qur’anic passages alongside classical and contemporary scholarly works. The findings reveal that thematic exegesis systematically organizes Qur’anic guidance on learning into a coherent conceptual framework, whereas scientific exegesis contextualizes these teachings through the dialogue between revelation and modern scientific insights. When employed together, the two approaches generate a comprehensive educational paradigm that emphasizes literacy, intellectual cultivation, and social responsibility. The study carries direct implications for contemporary Islamic education, particularly in designing integrative curricula, strengthening literacy culture, and reframing the obligation to learn as both an act of worship and a civilizational mandate. Ultimately, the research reaffirms the pivotal role of Islamic education in shaping a knowledgeable, just, and morally grounded society. Penelitian ini berangkat dari urgensi penguatan pendidikan Islam dalam membentuk manusia berilmu dan berakhlak, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis. Kajian terdahulu umumnya membahas kewajiban belajar secara normatif dan deskriptif, namun belum mengintegrasikan tafsir maudhu’i dan tafsir ilmi sebagai kerangka analitis yang saling melengkapi. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan mengkaji ayat-ayat pendidikan melalui kedua pendekatan epistemologis tersebut. Menggunakan metode studi pustaka, penelitian menelaah ayat-ayat Al-Qur’an terkait perintah belajar, didukung literatur klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir maudhu’i menyusun bimbingan Qur’ani tentang kewajiban belajar ke dalam kerangka konsep yang sistematis, sedangkan tafsir ilmi mengontekstualisasikannya melalui dialog antara wahyu dan temuan ilmiah modern. Penggabungan keduanya melahirkan paradigma pendidikan Islam yang menekankan literasi, pengembangan akal, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini berdampak langsung pada pengembangan pendidikan Islam kontemporer, khususnya dalam perancangan kurikulum integratif, penguatan budaya literasi, serta pemaknaan ulang kewajiban belajar sebagai ibadah sekaligus misi peradaban. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan kembali peran sentral pendidikan Islam dalam membangun masyarakat yang berilmu, berkeadilan, dan berkarakter.
The Meaning of 'Work' in the Qur'an: An Applied Analysis of Bintu Syati’s Anti-Synonymy Theory Raihan, Raihan; Ramadhani, Wali; Raihan, Nur
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.31926

Abstract

The term "work" in the Qur'an is represented by several verbs, namely fa'ala, 'amala, kasaba, and ṣana'a, which generally convey the idea of performing or acting. However, these terms have yet to be comprehensively conceptualized within academic discourse. This study aims to delve into the nuanced meanings of each term within the Qur'anic context. Employing a qualitative method with a linguistic approach, this research utilizes the anti-synonymity theory popularized by the literary scholar Bintu Syāṭi'. According to this theory, each Qur'anic word has a distinct semantic emphasis, making it irreplaceable even by its closest synonym. The findings reveal that each term possesses unique semantic features, rendering them non-interchangeable within the Qur'anic text. The term fa'ala denotes actions that may be intentional or unintentional, performed by humans, animals, jinn, angels, or inanimate objects. The term 'amala refers to deliberate actions carried out by humans, jinn, or animals. The term kasaba signifies effortful work associated with gradual attainment and progression, with its subjects limited to humans. Lastly, the term ṣana'a pertains to skillful creation, involving both divine and human agents. Terminologi kerja dalam al-Qur’an diistilahkan dengan beberapa lafaz yaitu fa‘ala, ‘amala, kasaba, dan ṣana‘a yang secara umum bermakna mengerjakan atau berbuat. Pemaknaan demikian belumlah mendapat konsep yang utuh dan komprehensif dalam dunia akademis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna yang lebih dalam dari setiap term kerja dalam al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan linguistik serta menggunakan teori antisinonimitas yang dipopulerkan oleh Bintu Syāṭi’ yang berpandangan bahwa setiap kosakata memiliki aksentuasi makna yang berbeda sehingga tidak ada satu kata dalam al-Qur’an yang dapat digantikan dengan kata yang lain walaupun dengan sinonimnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap term kerja memiliki karakteristik tersendiri, sehingga setiap term dalam al-Qur’an mustahil untuk saling menggantikan. Term fa‘ala menunjukkan perbuatan yang dapat dilakukan dengan sengaja maupun tidak dan subjeknya terdiri dari manusia, hewan, jin, malaikat, maupun benda mati. Term ‘amala merupakan pekerjaan yang dilakukan dengan sengaja yang subjeknya adalah manusia, jin, dan hewan. Term kasaba merepresentasikan pekerjaan yang sering dikaitkan sebagai usaha untuk mendapatkan sesuatu secara bertahap serta memiliki progres dan subjeknya hanyalah manusia. Term ṣana‘a bermakna membuat sesuatu dengan terampil yang subjeknya adalah Allah dan manusia.
The Thematic Construction of the Nuzul by ‘Abd al-Qādir Malāhisy in Bayān al-Ma’āni ‘alā Mushaf Tartīb al-Nuzūl Wahidi, Ridhoul; Hamka, Muhammad
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v19i1.31131

Abstract

This research aims to examine the thematic construction used by ‘Abd al-Qādir Malāhisy in interpreting the Qur'an, particularly in his work Bayān al-Ma’āni. Using a qualitative method based on library research, this study analyzes how Malāhisy designs the main themes in his exegesis and how he connects verses that have semantic relations into a cohesive theme. The research results show that Malāhisy applies the principle of intertextuality in interpreting the verses of the Qur'an through contextual and linguistic approaches. He also combines semantic analysis and linguistic structure to explain the relationships between verses that have similar meanings in various surahs. This approach provides a more systematic understanding of the content of the Qur'an and enriches the treasury of thematic exegesis in Islamic studies, which can offer new insights into the understanding of Qur'anic verses more comprehensively. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi tematik yang digunakan oleh ‘Abd al-Qādir Malāhisy dalam menafsirkan al-Qur’an, khususnya dalam karyanya Bayān al-Ma’āni. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menganalisis bagaimana Malāhisy merancang tema-tema utama dalam tafsirnya dan bagaimana ia menghubungkan ayat-ayat yang memiliki hubungan semantik menjadi sebuah tema yang kohesif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Malāhisy menerapkan prinsip intertekstualitas dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an melalui pendekatan kontekstual dan linguistik. Ia juga menggabungkan analisis semantik dan struktur kebahasaan untuk menjelaskan hubungan antara ayat-ayat yang memiliki makna serupa dalam berbagai surah. Pendekatan ini memberikan pemahaman yang lebih sistematis terhadap kandungan al-Qur’an dan memperkaya khazanah tafsir tematik dalam kajian keislaman, yang dapat menawarkan wawasan baru dalam pemahaman ayat-ayat al-Qur’an secara lebih komprehensif.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 19, No 1 (2025): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 2 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 18, No 1 (2024): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 2 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 17, No 1 (2023): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 2 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 16, No 1 (2022): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 2 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 2 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 14, No 1 (2020): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 1 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 2 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 12, No 1 (2018): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 2 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 2 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 10, No 1 (2016): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 2 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 9, No 1 (2015): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 1 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 2 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 7, No 1 (2013): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir More Issue