cover
Contact Name
Yandi Andiyana
Contact Email
yandi_andiyana@usahid.ac.id
Phone
+6281504860901
Journal Mail Official
jtepakes@usahid.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknologi Pangan dan Kesehatan, Universitas Sahid Jakarta. Jl. Prof. DR. Soepomo No.84, RT.7/RW.1, Menteng Dalam, Kec. Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12870.
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Journal of Food Technology and Health
ISSN : -     EISSN : 26207753     DOI : https://doi.org/10.36441/jtepakes
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan adalah jurnal ilmiah di bawah naungan Fakultas Teknologi Pangan dan Kesehatan Universitas Sahid Jakarta yang terbit setiap Mei dan November sejak 2019. Artikel yang dimuat berupa hasil penelitian terkait bidang teknologi pangan meliputi kimia, biokimia, rekayasa dan mikrobiologi pangan serta bidang gizi meliputi gizi klinis, gizi masyarakat dan food service. Artikel yang dimuat belum pernah dipublikasikan di media lain (kecuali dalam bentuk abstrak atau karya ilmiah akademik atau dipresentasikan dalam seminar/konferensi).
Articles 176 Documents
KAJIAN LITERATUR SPESIFIKASI MUTU FISIKOKIMIA DAN MIKROBIOLOGIS WATER KEFIR DENGAN VARIASI KONSENTRASI SUBSTRAT DAN STARTER Veronica P. Effendi; Adolf J.N. Parhusip
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 3, No 2 (2021): November
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v3i2.558

Abstract

ABSTRAK: Water kefir adalah salah satu produk minuman dengan bahan dasar larutan gula atau sari nabati yang melalui proses fermentasi  dengan bibit water kefir dengan ciri khas rasa asam, sedikit rasa manis, serta mengandung alkohol dan karbon dioksida. Salah satu mikroorganisme yang terkandung dalam bibit water kefir, yaitu bakteri asam laktat memiliki peran fungsional sebagai probiotik yang bermanfaat bagi kesehatan saluran pencernaan dan juga bekerja secara sinergis dengan khamir dalam proses fermentasi water kefir. Selain mengandung probiotik, water kefir juga merupakan diversifikasi produk pangan yang dapat menjadi alternatif bagi kelompok vegan, vegetarian, dan individu yang memiliki alergi terhadap produk olahan susu. Kajian literatur dibuat dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh variasi penambahan konsentrasi substrat dan starter dalam pembuatan water kefir terhadap mutu fisikokimia dan mutu mikrobiologis water kefir. Data dalam kajian literatur diperoleh dari jurnal internasional dan nasional terakreditasi dengan minimal ranking Q4 dan Sinta 4. Melalui kajian literatur yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi starter hingga 15% dapat menurunkan nilai pH dan meningkatkan kadar alkohol, total asam tertitrasi, viskositas, karbon dioksida, total bakteri asam laktat serta total khamir. Peningkatan substrat hingga konsentrasi 9% dapat menurunkan nilai pH dan viskositas serta meningkatkan kadar alkohol, total asam tertitrasi, karbon dioksida, total bakteri asam laktat serta total khamir. Plasmolisis sel-sel mikroorganisme bibit water kefir dapat terjadi pada penambahan substrat dengan konsentrasi 10% atau lebih sehingga pH meningkat dan kadar alkohol, karbon dioksida, total khamir, dan total bakteri asam laktat pada produk akhir yang dihasilkan menurun.ABSTRACT: Water kefir is a beverage made from sugar or plant based solution that is fermented with water kefir seeds that has sour and slightly sweet taste characteristics, contains alcohol and carbon dioxide. The microorganisms contained in water kefir seeds such as lactic acid bacteria have a functional role as beneficial probiotics that can promote digestive tract health and work synergistically with yeast in water kefir fermentation. Water kefir is also a form of diversity of food product that can be an alternative for vegans, vegetarians, and individuals who have certain allergies to dairy products. This literature review was made to study the effect of variations of substrate and starter concentrations used in water kefir fermentation on the physicochemical quality and microbiological of water kefir. The data in this literature review were obtained from international and national journals with a minimum ranking of Q4 and Sinta 4. In conclusion, increasing the starter concentration up to 15% can reduce the pH value and increase the alcohol content, total titrated acid, viscosity, carbon dioxide, total lactic acid bacteria and total yeast. The addition of substrate up to 9% can reduce the pH value and viscosity and increase the alcohol content, total titrated acid, carbon dioxide, total lactic acid bacteria and total yeast. Plasmolysis in microorganisms cells happened with the addition of a substrate with a concentration of 10% or more causing the pH value to increase and decreasing the levels of alcohol, carbon dioxide, total yeast, and total lactic acid bacteria in the final product.
PENGARUH PENAMBAHAN KENCUR BUBUK TERHADAP MUTU KERUPUK KENCUR Oktaviani Nur Pratiwi; Siti Chairiyah Batubara
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 2, No 1 (2020): Mei
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v2i1.495

Abstract

ABSTRAK:  Kerupuk kencur adalah jenis makanan ringan yang terbuat dari campuran tepung tapioka, tepung terigu, air, garam, merica, ketumbar, serta bubuk kencur dengan penambahan konsentrasi yang berbeda pada adonan. Penelitian ini menggunakan metode Racangan Uji Lengkap dengan satu faktor dengan penamabahan kencur bubuk pada taraf yang berbeda yaitu 0%; 1%; 2%; 3% dan 4% dengan tiga kali pengulangan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis sidik ragam atau Aanalisis Variansi (ANAVA) untuk melihat pengaruh masing –masing perlakuan, jika ada pengaruh yang terjadi dari masing-masing perlakuan, maka selanjutnya dilakukan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test). Tes DMRT dilakukan untuk melihat level mana yang menghasilkan kualitas yang berbeda pada tes ANAVA. Kualitas kerupuk kencur ditentukan oleh uji fisik, kimia dan organoleptik. Uji fisik dilakukan dengan uji kekerasan; uji kimia dilakukan dengan pengujian kadar air dan kadar abu, sementara uji organoleptik dilakukan dengan melakukan uji kualitas hedonik dan uji hedonik pada tingkat warna, aroma, bau dan tekstur serta uji peringkat keseluruhan kerupuk kencur. Formulasi terbaik dari hasil penelitian ini adalah formulasi 1% kencur. Hasil analisis terhadap kualitas kerupuk kencur dengan menambahkan 1% serbuk adalah 14,99 (gf) kekerasan, 4,65 (%) kadar air, 1,88 (%) kadar abu, dan hasil uji ranking 0,52. ABSTRACT: White Turmeric Kerupuk a snack made from a mixture of tapioca flour, wheat flour, water, pepper, salt, coriander, garlic, water as well as white turmeric powder with different additions of concentrations to the dough. This research design used was Completely Random Design (CRD) with one factor consisting of 5 treatment levels (A1: 0%; A2: 1%; A3:2%; A4: 3% and A5: 4%, and 3 repetitions. White turmeric kerupuk’s analyzed by chemical test (ash and moisture), physical test (texture), organoleptic tests (hedonic and hedonic quality in aroma, taste, color, texture and rank on texture). Data was processed statistically using SPSS application with one way analysis (one way ANOVAs) at 95% confidence level. Duncan’s follow-up was carried out to find out the differences between treatments if ANOVA had a significant effect. The best white turmeric formulation from the results of this study is the formulation of 1% white turmeric kerupuk. Analysis result to white turmeric kerupuk quality by adding 1% of white turmeric powder contains 14,99 (gf) of hardness, 4,65 (%) of water content, 1,88 (%) and rank test with score 0,52.
FORMULASI TEPUNG TERIGU, TEPUNG SORGUM DAN TEPUNG KACANG MERAH TERHADAP MUTU MUFFIN Anne Meilinda; Siti Chairiyah Batubara
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 3, No 1 (2021): Mei
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v3i1.532

Abstract

ABSTRAK: Penggunaan berbagai jenis tepung dalam pembuatan muffin akan mempengaruhi kualitas muffin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tepung terigu, tepung sorgum dan tepung kacang merah yang menghasilkan Muffin dengan kualitas terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), faktor tunggal dengan lima taraf dan tiga ulangan. Perbandingan tepung terigu, tepung sorgum dan tepung kacang merah yang diteliti adalah 50:25:25, 45:27,5:27,5, 40:30:30, 35:32,5:32,5 dan 30:35: 35.. Formulasi muffin terbaik diperoleh pada formulasi tepung terigu, tepung sorgum dan tepung kacang merah pada jam 40:30:30. Formulasi ini memiliki ciri khas warna kecoklatan, rasa tepung sorgum dan tepung kacang merah agak kuat, tekstur agak padat, dan rasa agak manis. Adiksi muffin memiliki kadar air 69,23%, kadar abu 3,24%, kadar protein 10,96%, kadar lemak 13,76%, kadar karbohidrat 72,15%, kekerasan 4,15 gf, 1,02 cm nilai daya kembang, kandungan kalsium 144,63mg/100gr dan kandungan serat pangan 6,50%.ABSTRACT: Using various types of flour in making muffin will affect on the muffin quality. The aim of this research was to determine the ratio of wheat flour, sorghum flour and red bean flour that obtain the best quality of Muffin. This study used was completely randomized design (CRD), a single factor with five levels and three repeatation. The ratio of wheat flour, sorghum flour adn red bean flour studied were 50:25:25, 45:27,5:27,5, 40:30:30, 35:32,5:32,5 and 30:35:35.. The best muffin formulation obtained by formulate wheat flour, sorghum flour and red bean flour at 40:30:30. This formulation has characteristic brownish color, slightly strong of sorghum flour and red bean flour flavor, a slightly solid texture, and slightly sweet taste. In addiction, muffin has 69,23% moisture content, 3,24% ash content, 10,96% protein content, 13,76% fat conten, 72,15% carbohydrat content, 4,15 gf of hardnest, 1,02 cm of swelling power value, 144,63mg/100gr calcium content and 6,50% dietary fiber content.
TEKNOLOGI PENCAMPURAN KOPI LIBERIKA TUNGKAL KOMPOSIT DAN ROBUSTA UNTUK MENINGKATKAN DAYA TERIMA KONSUMEN Mursalin Mursalin
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 3, No 2 (2021): November
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v3i2.576

Abstract

ABSTRAK: Penambahan bahan aditif dan komplemen pada saat penyangraian kopi biasa dilakukan untuk menghasilkan aroma dan rasa kopi yang lebih baik.  Bahan aditif dan komplemen yang umum ditambahkankan diantaranya adalah margarin, kacang-kacangan dan biji kopi jenis lain.  Pada penelitian ini, 6 formulasi campuran biji kopi liberika tungkal jambi dengan robusta (L/R), yaitu L/R 100/0; 90/10; 80/20; 70/30; 60/40 dan 50/50, dianalis dan diperbandingkan.  Analisis organoleptik dengan metodee uji peringkat menggunakan 64 orang panelis tak terlatih, dilakukan untuk melihat tingkat penerimaan konsumen. Perlakuan dengan tingkat penerimaan konsumen tertinggi selanjutnya diuji-dibandingkan dengan 7 macam merk kopi bubuk komersial yang beredar di Kota Jambi.  Analisis organoleptik dengan metode uji pasangan jamak menggunakan 25 orang panelis semi terlatih dipakai untuk melihat persamaan dan perbedaan mutu hedonik sampel kopi.  Hasil analisis menunjukkan bahwa diantara semua perlakuan, L/R 70/30 menghasilkan kopi bubuk dengan aroma dan warna paling disukai dan kopi seduh dengan kekentalan dan cita rasa yang juga paling disukai. Dibandingkan dengan 7 jenis merk kopi komersial yang ada di Kota Jambi (Torabika, Kapal Api Spesial, Kapal Api Lampung, Ayam Ras, AAA, Bali Dancer, dan Gold Robusta), produk olahan kopi Liberika Tungkal Jambi L/R 70/30 ini ternyata dinilai mempunyai mutu hedonik aroma, warna, kekentalan dan cita rasa yang lebih baik.ABSTRACT: The application of additives and complementary materials such as other varieties of coffee beans in coffee roasting could be done to produce coffee with a better taste and flavor. In this study, 6 formulations of liberica tungkal jambi and robusta coffee blend (L/R) were studied, namely L/R 100/0; 90/10; 80/20; 70/30; 60/40 and 50/50. Organoleptic analysis using a ranking test with 64 untrained panelists was carried out to saw consumer preferences for hedonic quality. The treatment with the highest consumer acceptance was then tested comparatively with 7 commercially popular branded ground coffees in Jambi City. Organoleptic analysis using double-paired test with 25 semi-trained panelists was used to observe the similarities and differences in the hedonic qualities of the coffees. The results showed that among all blend formulations, L/R 70/30 produced ground coffee with the highest taste and color preferences and the most favorable taste and viscosity. Compared to 7 commercial ground coffee brands in Jambi City (Torabika, Kapal Api Special, Kapal Api Lampung, Ayam Ras, AAA, Bali Dancer, and Gold Robusta), L/R 70/30 blended coffee was clearly rated better in hedonic quality, especially on taste, color, viscosity, and flavor.
FORMULASI MINUMAN SERBUK INSTAN MENTIMUN MENGGUNAKAN METODE MIXTURE DESIGN Alifia Yolandari; Siti Chairiyah Batubara
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 1, No 2 (2019): November
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v1i2.187

Abstract

Minuman serbuk instan adalah salah satu produk minuman yang berbentuk serbuk, mudah larut dalam air, memiliki waktu rehidrasi yang singkat, praktis dalam penyajian dan memiliki umur simpan yang relatif lebih lama. Mentimun berpotensi untuk diolah menjadi produk berupa minuman serbuk instan. Pembuatan minuman serbuk mentimun dapat ditambahkan bahan lain berupa ekstrak jeruk nipis dan gula pasir. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi jus mentimun, gula pasir, ekstrak jeruk nipis yang memberikan mutu minuman serbuk instan terbaik. Penelitian ini menggunakan rancangan Mixture Design untuk mendapatkan 16 formulasi terbaik. Mutu minuman serbuk instan mentimun ditentukan melalui kimia yaitu kadar air dan kadar abu. Mutu fisik yaitu waktu larut, total padatan terlarut, dan stabilitas, serta mutu organoleptik yaitu hedonik dan mutu hedonik terhadap parameter warna, aroma, dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minuman serbuk instan mentimun fomulasi 14 merupakan formulasi terbaik. Perbedaan jumlah komponen berupa jus mentimun, ekstrak jeruk nipis dan gula pasir berpengaruh terhadap kadar abu, warna, dan aroma. Perbedaan jumlah komponen jus mentimun, jeruk nipis dan gula pasir tidak berpengaruh terhadap kadar air, hedonik (aroma dan rasa), dan mutu hedonik (warna dan rasa). Hasil mutu kimia minuman serbuk instan mentimun memiliki kadar air sebesar 3,03% dan kadar abu sebesar 0,74%. Adapun hasil organoleptik terhadap hedonik warna adalah 3,44 (hijau kekuningan), hedonik aroma sebesar 2,6 (agak kuat) dan hedonik rasa sebesar 3,4 (agak manis).  ABSTRACT: Instant powder drink is powder drink product that is soluble, have a short rehydration time, easily served and have a longer shelf life. Cucumber can be potentially used to make instant powder drink. Manufacturing cucumber instant powder drink can be added by another ingredients like sugar and lime extract. The purpose of this research was to find out the differences of cucumber formulation (cucumber juice, sugar, and lime extract) and the quality of cucumber instant powder drink. This research used mixture design as an experimental method to get the best optimum of 16 formulations. The quality of instant powder drink is determined by chemical testing (moisture and ash), physical test (soluble time, total dissolved solids, and stability), and organoleptic test (hedonic quality test for color, scent, and taste). Hedonic test is used to determine the level of preference panelist for color, scent, and taste. The output data processing that is used in mixture design which are anova, and countour plot. The result shows that the difference of formulation has significantly on ash and hedonic quality of color and scent. The research showed that the instant powder drink with formulation of cucumber juice, susgar, and lime extract that is acceptable is formula that contains 76% of cucumber juice, 6% of lime extract and 18% of sugar. This formula contains 3,03% of moisture content and 0,74% of ash content. Based on the physical test this formula have 18 seconds of soluble time, 4 brix of total dissolved solids, and 11 minutes of stability. Cucumber instant powder drink has yellowish green color (score 3,44), strong scent (score 2,6), and sweetness (score 3,44). Keywords: cucumber, lime, mixture design
MUTU SELAI LEMBARAN LABU SIAM DENGAN KONSENTRASI KARAGENAN BERBEDA Dwi Parwatiningsih; Siti Chairiyah Batubara
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 2, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v2i2.523

Abstract

ABSTRAK: Labu siam dapat didiversifikasi menjadi selai lembaran. Selai lembaran merupakan modifikasi bentuk selai yang mulanya semi padat (agak cair) menjadi lembaran-lembaran yang kompak, plastis, dan tidak lengket. Hidrokoloid perlu ditambahkan untuk mendapatkan selai lembaran yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi karagenan kualitas selai lembaran terbaik. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, terdiri dari lima taraf (A1: 1,00%; A2: 1,25%; A3: 1,50%; A4: 1,75%; A5 : 2,00%) dan tiga kali pengulangan. Kualitas selai lembaran dianalisis dengan uji fisik (tekstur), uji kimia (pH, kadar air, total padatan terlarut, dan gula reduksi), uji organoleptik (uji hedonik dan mutu hedonik). Uji serat pangan secara opsional akan digunakan untuk produk terbaik. Data diproses secara statistik menggunakan aplikasi SPSS dengan analisis satu arah (one way ANOVA). Tindak lanjut Duncan dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan jika ANOVA memiliki efek yang signifikan. Formulasi selai lembaran terbaik dipilih berdasarkan uji hedonik dengan menambahkan 2,00% karagenan dengan hasil uji kualitas sebagai berikut: tekstur (kekerasan 1,82 gf; keasaman (pH) 6,40; kadar air 33,64%; total terlarut padatan 18,80 Brix; gula reduksi 10,60%; serat pangan 12,64%. ABSTRACT: Chayote can be diversifying to be sheet jam. Sheet jam is a modification of the form of jam that was originally semi-solid (slightly liquid) into compact, plastic, non-sticky sheets. Hydrocolloid need to be added to get quality sheet jam. This research was aim to get carrageenan concentrations the best quality of sheet jam. Method of this research was used Completely Randomized Design (CRD) with one factor, consisting of five levels (A1:1,00% ; A2:1,25% ; A3:1,50% ; A4:1,75% ; A5:2,00%) and three repetitions. Sheet jam quality analized by physical test (texture), chemical test (pH, water content, total dissolved solids, and reducing sugar), organoleptic test (hedonic test and hedonic quality). Fiber content test would be optionally used for the best product.. Data was processed statistically using SPSS application with one-way analysis (one ways ANOVA). Duncan’s follow up was carried out to find out the differences between treatments if ANOVA had a significant effect. The best sheet jam formulation is chosen based on hedonic test by adding 2,00% carrageenan with quality test result as follows: texture (hardness 1,82 gf; acidity (pH) 6,40; water content 33,64%; total dissolved solids 18,80 Brix; reducing sugar 10,60%; fiber content 12,64%.
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI ASAM LAKTAT PADA ACAR KETIMUN (Cucumis sativus L.) SEBAGAI AGENSI PROBIOTIK Febry Surbakti; Uswatun Hasanah
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 1, No 1 (2019): Mei
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v1i1.182

Abstract

Di Indonesia terkenal dengan berbagai macam makanan tradisional fermentasi. Jenis makanan tradisional yang banyak dijumpai yang diproses dengan menggunakan proses fermentasi adalah tape, asinan, acar dan lainnya yang mengandung banyak bakteri asam laktat (BAL). Bakteri asam laktat ini merupakan kekayaan alam mikroba yang masih harus dieksplorasi dibidang kesehatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dan karakteristik bakteri asam laktat yang terdapat pada acar ketimun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel langsung dilakukan secara aseptis. Bahan yang digunakan adalah bakteri asam laktat yang diambil dari cairan acar ketimun dengan variasi isi ketimun, ketimun nenas, ketimun nenas dan cabai dan ditumbuhkan pada media MRS Broth (de Man Rogosa Sharpe). Berdasarkan hasil penelitian identifikasi dan karakterisasi bakteri asam laktat pada acar ketimun dengan menggunakan uji morfologi, pewarnaan gram dan uji biokimia maka diperoleh 2 jenis bakteri asam laktat pada acar ketimun. Adapun bakteri asam laktat yang ditemukan antara lain adalah Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus reuteri. Karakterisitik secara umum adalah basil, gram positif, katalase negatif, tidak motil, suhu optimum 250°C- 300°C dan memiliki tipe fermentasi heterofermentatif dan homofermentatif.  ABSTRACT: In Indonesia it is famous for various kinds of traditional fermented foods. Traditional food types that are often found that are processed using fermentation are tape, pickled, pickled and others that contain a lot of lactic acid bacteria (LAB). This lactic acid bacteria is a natural wealth of microbes that must still be explored in the field of health. This study aims to determine the types and characteristics of lactic acid bacteria found in pickles to Cucumber. This research uses a descriptive method. The direct sampling technique is carried out aseptically. The material used is lactic acid bacteria taken from pickled liquid to Cucumber with various contents to Cucumber, to Pineapple Cucumber, to Cucumber pineapple and chili and grown on MRS Broth media (de Man Rogosa Sharpe). Based on the results of the study of identification and characterization of lactic acid bacteria on pickles to Cucumber using morphological tests, gram staining and biochemical tests, 2 types of lactic acid bacteria were obtained on pickles to Cucumber. The lactic acid bacteria found include Lactobacillus plantarum and Lactobacillus reuteri. General characteristics are basil, gram positive, negative catalase, not motile, optimum temperature 250C-300C and have heterofermentative and homofermentative fermentation types. Keywords: Lactic acid bacteria, Probiotik, Pickled cucumber
MUTU MINUMAN TEH DARI FORMULASI DAUN POHPOHAN (Pilea trinervia Wight) DAN TEH HITAM (Camellia sinensis) Iman Basriman; Annisa Alaniya Pandari
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 2, No 1 (2020): Mei
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v2i1.501

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui formulasi daun pohpohan dan teh hitam pada mutu fisik, mutu kimia, mutu organoleptik, dan mutu pendukung teh formulasi daun pohpohan dan teh hitam. Terdapat enam formulasi dengan tiga pengulangan. Taraf formulasi daun pohpohan dan teh hitam (50:50, 40:60. 30:70, 20:80, 10:90, dan 0:100). Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah mutu fisik (kekentalan), mutu kimia (nilai pH, kadar air, kadar abu, total padatan terlarut, dan kadar tanin), mutu organoleptik (warna, aroma, dan rasa), dan mutu pendukung (aktivitas antioksidan). Desain penelitian yang digunakan adalah desain rancangan acak lengkap (RAL). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variasi (ANOVA) diikuti oleh uji Duncan dengan α = 0,01, yang menunjukkan perbedaan nyata. Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai pH, kadar abu, kadar air, total padatan terlarut, kadar tanin, mutu organoleptik aroma berpengaruh signifikan terhadap formulasi daun pohpohan dan teh hitam. Formulasi teh daun pohpohan dan teh hitam 40:60 memiliki tingkat penerimaan tertinggi. Formulasi daun pohpohan dan teh hitam tersebut memiliki karakteristik warna coklat tua, memiliki aroma kuat, rasa tidak sepat, kekentalan 1,86 cP, nilai pH 6,64, kadar air 8,23%, kadar abu 12,76%, total padatan terlarut 8,33oBrix, kadar tanin 0,57% dan aktivitas antioksidan (IC50) 106,45%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut pada uji aktivitas antioksidan pada semua formulasi. ABSTRACT: This study was conducted to determine the formulation of pohpohan leaf and black tea on the quality of the physical, chemical quality, sensory quality, and supportive quality formulations pohpohan leaf with black tea. There are six treatments with three replications. The level of formulation pohpohan leaf and black tea (50:50, 40:60, 30:70, 20:80, 10:90, and 0:100). The variables measured in the study is the physical quality (thickness), chemical quality (score of pH, moisture content, ash content, total dissolved solids, and levels of tannin), sensory quality (color, smell, and taste), and supportive quality (antioxidant activity). The research design used was a completely randomized design (CRD). Technical analysis of the data used is the analysis of variation (ANAVA) followed by Duncan test with α= 0,01 level, indicating a real difference. Research shows that score of pH, moisture content, ash content, total dissolved solids, tannin content, smell organoleptically significantly influence the formulation of pohpohan leaf and black tea. Formulation (40:60) of pohpohan leaf and black tea gives the highest level of acceptance. The formulation has the characteristics of dark brown in color, strong in smell, non-spiky flavor, thickness, 2,86 cP thickness, 6,64 score of pH, 8,23% moisture content, 12,76% ash content, 8,33oBrix total dissolved solids, 0,57% tannin levels, and 106,45% antioxidant activity (IC50). Based on the result of the research and the discussion, it is recommended to do the further research on antioxidant activity to all formulations.
PEMANFAATAN JAMU KUNYIT ASAM PADA PEMBUATAN ES KRIM SUSU KEDELAI Melanie Cornelia; Anastasha Kresandra; Eveline Eveline
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 3, No 2 (2021): November
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v3i2.560

Abstract

ABSTRAK: Jamu kunyit asam merupakan minuman tradisional yang umum digunakan masyarakat Indonesia sebagai pengobatan alternatif. Pemanfaatan jamu kunyit asam masih terbatas sehingga diperlukan pengembangannya sebagai  produk pangan, salah satunya adalah ditambahkan dalam pembuatan es krim susu kedelai yang bertujuan agar masyarakat dengan lactose intolerant dapat mengkonsumsi es krim. Dalam penelitian ini, jamu kunyit asam dibuat dengan variasi rasio kunyit: asam: air (20:20:60; 10:30:60; 30:10:60) dan variasi waktu perebusan asam (2, 4, dan 6 menit). Selanjutnya dilakukan analisis aktivitas antioksidan, total fenolik, total flavonoid, dan warna jamu kunyit asam. Jamu kunyit asam terpilih adalah dengan perlakuan kunyit:asam:air 30:10:60 dan waktu perebusan asam 2 menit, memiliki nilai IC50 14,44%, total fenolik 0,49 mg GAE/g, total flavonoid 0,39 mg QE/g, dan nilai °Hue 51,28 . Es krim susu kedelai jamu kunyit asam dibuat dengan kontrol jamu kunyit asam 0% dan variasi penambahan jamu kunyit asam (10%, 20%, dan 30%) dan konsentrasi gelatin (0,2%; 0,3%; 0,4%). Hasil es krim dianalisis aktivitas antioksidan, total fenolik, total flavonoid, warna, waktu leleh, overrun, dan sensori. Es krim susu kedelai terpilih adalah es krim dengan penambahan jamu kunyit asam 30% dan  gelatin 0,4%. Es krim tersebut memiliki nilai IC50 49%, total fenolik 2,10 mg GAE/g, total flavonoid 0,53 mg QE/g, nilai °Hue 88,48, waktu leleh 19,26 menit, dan nilai overrun 17,87%. Es krim jamu kunyit asam terpilih tergolong es krim rendah lemak, berpotensi sebagai produk pangan yang aman bagi penderita lactose intolerant,  disukai dari analisis nilai sensori, namun tidak berpotensi sebagai sumber antioksidan. ABSTRACT: Jamu kunyit asam was a traditional drink in Indonesia and used  as an alternative medicine. However, the use of this traditional drink was still limited so it was necessary to develop as  food products, such as making soybean milk  ice cream which aims for people with lactose intolerant able to consume ice cream. Jamu kunyit asam was made by varying ratio of turmeric:tamarind:water (20:20:60; 10:30:60; 30:10:60) and variations boiling time of tamarind (2, 4, and 6 minutes). Analyzes of antioxidant activity, total phenolic, total flavonoids, and color in tamarind turmeric were carried out. Selected jamu kunyit asam was ratio of turmeric:tamarind:water 30:10:60 and  2 minutes of boiling time which has an IC50 value 14.44%, total phenolic 0,49 mg GAE/g, total flavonoid 0,39 mg QE/g, dan  °Hue value 51,28. Soybean milk ice cream with jamu kunyit asam was made by addition varying of jamu kunyit asam (10%, 20%, and 30%) and gelatin (0.2%; 0.3%; 0.4%) with control of 0% jamu kunyit asam. The selected soybean milk ice cream was ice cream with addition of 30% jamu kunyit asam and 0.4% gelatin. The ice cream had an IC50 value 49%, total phenolic 2,10 mg GAE/g, total flavonoid 0,53 mg QE/g, °Hue value 88,48, melting time 19,26 minutes, and overrun 17,87%. Selected soybean ice cream was categorized  low fat ice cream and safe to be consumed by people with lactose intolerance, and have good value in sensory analysis, but did not have potential as a source of antioxidants.
PENGARUH SUHU DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP MUTU TEH DAUN KETUL (Bidens pilosa L.) Magdalena Etika; Giyatmi Giyatmi
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal of Food Technology and Health) Vol 2, No 1 (2020): Mei
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v2i1.496

Abstract

ABSTRAK:  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu dan lama pengeringan terhadap mutu teh daun ketul yang meliputi kadar air, kadar abu, aktivitas antioksidan, organoleptik (warna, aroma dan rasa) teh daun ketul (Bidens pilosa). Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan 9 perlakuan dan 2 ulangan. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) serta uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Perlakuan terdiri dari dua faktor yaitu suhu (50, 55 dan 60°C) dan lama pengeringan (120, 150 dan 180 menit). Hasil penelitan menunjukkan bahwa suhu pengeringan dalam pembuatan teh daun ketul memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kadar air, kadar abu, aktivitas antioksidan dan organoleptik (aroma). Penelitian ini menunjukkan bahwa pengeringan pada suhu 60°C dan lama pengeringan selama 180 menit menghasilkan teh daun ketul dengan mutu terbaik yaitu kadar air sebesar 7,25%, kadar abu sebesar 7,52%, aktivitas antioksidan sebesar 8,68% dengan warna agak disukai yaitu kuning agak kecoklatan, aroma agak disukai yaitu agak langu dan rasa agak disukai yaitu sepat.ABSTRACT:The aim of this research was conducted the effect of temperature and drying time on the quality of ketul leaf tea which includes moisture content, ash content, antioxidant activity, organoleptic (color, aroma and taste) of ketul leaf tea (Bidens pilosa L.). This study was designed using a Factorial Completely Randomized Design (RALF) with 9 treatments and 2 replications. The results of the observation were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) diversity analysis and analyzed further by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at 5% level. The treatments consisted of two factors with the temperatures (50, 55 and 60°C) and drying times (120, 150 and 180 minutes). The results showed significantly different effects on moisture content, ash content, antioxidant activity and organoleptic (aroma). This research has shown that drying at temperature 60°C and drying time for 180 minutes produces ketul leaf tea withthe best quality with moisture content 7,25%, ash content 7,52%, antioxidant activity 8,68%, with a rather preferred color that is slightly brownish yellow, the aroma is rather preferred that is rather unpleasant and the taste is rather preferred that is tight.

Page 4 of 18 | Total Record : 176


Filter by Year

2019 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health), Me Vol 6, No 2 (2024): November Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health), No Vol 6, No 1 (2024): Mei Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health), Me Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov Vol 5, No 2 (2023): November Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Mei Vol 5, No 1 (2023): Mei Vol 4, No 2 (2022): November Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Mei Vol 4, No 1 (2022): Mei Vol 3 No 2 (2021): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov Vol 3, No 2 (2021): November Vol 3, No 1 (2021): Mei Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Mei Vol 2, No 2 (2020): November Vol 2 No 2 (2020): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov Vol 2, No 1 (2020): Mei Vol 2 No 1 (2020): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Mei Vol 1 No 2 (2019): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov Vol 1, No 2 (2019) Vol 1, No 2 (2019): November Vol 1, No 1 (2019) Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Mei Vol 1, No 1 (2019): Mei More Issue