cover
Contact Name
Ahmad Syauqi
Contact Email
sainsalami@unisma.ac.id
Phone
+62341551932
Journal Mail Official
syauqi.fmipa@unisma.ac.id
Editorial Address
Fakultas MIPA, Gedung Usman bin Affan Lantai 1 Kompleks Universitas Islam Malang, Jl. MT. Haryono 193 Malang 65144, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains Alami (Known Nature)
ISSN : -     EISSN : 26571692     DOI : http://dx.doi.org/10.33474/j.sa.v3i2.8449
Alami menunjuk kepada material yang ada dalam makhluk hidup (ciptaan). Semua senyawa yang ada dalam tubuh makhluk hidup dan sintesis oleh peristiwa biokimia merupakan produk organik. Proses perubahan menuju mineralisasi oleh mikroorganisme merupakan peristiwa dekomposisi dan dalam hal ini juga terjadi dalam suatu kehidupan. Selanjutnya, biogeokimia merupakan suatu perputaran zat dan hal ini sangat penting dalam kehidupan.
Articles 105 Documents
Pengaruh Kulit Bawang Merah (Allium cepa L.) Sebagai Zpt Alami Terhadap Pembentukan Akar Stek Pucuk Tanaman Krisan (Chrysanthemum sp) Ilnia Fadhil; Tintrim Rahayu; Ari Hayati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1416

Abstract

Chrysanthemum (Chrysanthemum sp.) is mainstay commodities in horticulture industry that have very bright market prospects. One aspect that needs to be done is to use good quality chrysanthemum seeds. The obstacle of seeds from cuttings propagation is thin roots. Efforts to increase root cuttings are by giving exogenous growth regulating substances to stimulate root formation in propagation shoot cuttings. The objective of this study was to find out the effect of onion skin (Allium cepa L.) on the formation of chrysanthemum (Chrysanthemum sp) cutting roots. The natural growth regulating agent used is red onion skin (Allium cepa L.). The method that used is experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 6 treatments, 1 treatment as control and 5 treatments as a treatment that is given different concentration namely 60%, 70%, 80%, 90%, and 100% with 5 times retreatment. From the data that has been obtained from the experimental results, data analysis is done using analysis of variance (ANOVA) using Microsoft Excel. If the results show the value is significantly different then it will be followed by BNT 0.05 test. Parameters observed include percentage of growing cutting, root length, number of root and when buds appear. The result showed that onion skin significantly affects the roots formation of chrysanthemum cuttings. The optimal effect of onion skin was shown at 80% concentration on the number of roots and root length with an average number of roots 19 and 3,7 cm root length. ABSTRAKKrisan (Chrysanthemum sp.) merupakan komoditas andalan dalam industri hortikultura yang memiliki prospek pasar yang sangat cerah. Salah satu aspek yang perlu dilakukan yaitu menggunakan bibit tanaman krisan yang berkualitas baik. Kendala  pada bibit hasil perbanyakan dengan stek adalah perakaran yang kurang lebat. Upaya meningkatkan perakaran bibit stek adalah dengan memberikan zat pengatur tumbuh secara eksogen untuk merangsang pertumbuhan akar dalam perbanyakan melalui stek pucuk. Zat Pengatur Tumbuh alami yang digunakan adalah kulit bawang merah (Allium  cepa  L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kulit bawang merah (Allium cepa L.) terhadap pembentukan akar stek pucuk tanaman krisan (Chrysanthemum sp). Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)  yang terdiri dari 6 perlakuan, 1 perlakuan sebagai kontrol dan 5 perlakuan sebagai perlakuan yang diberi konsentrasi yang berbeda yaitu 60%, 70%, 80%, 90%, dan 100% dengan 5 kali ulangan. Dari data yang telah diperoleh dari hasil eksperimen dilakukan analisis data menggunakan analisis varian (ANOVA) dengan menggunakan Microsoft Excel. Apabila hasil menunjukkan nilai berbeda nyata maka akan dilanjutkan dengan uji BNT 0.05. Parameter yang diamati meliputi persentase tumbuh stek, panjang akar, jumlah akar dan waktu muncul tunas. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa pemberian kulit bawang merah berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan akar stek tanaman krisan. Pengaruh kulit bawang merah yang optimal ditunjukkan pada konsentrasi 80% terhadap jumlah akar dan panjang akar dengan rata-rata jumlah akar 19 dan panjang akar 3,7 cm.Kata kunci: Kulit bawang merah, Zat pengatur tumbuh alami, Stek pucuk krisan.
Analisa Kadar Protein Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) yang Diawetkan Dengan Biji Picung Muda (Pangium edule Reinw) Mei Ninda Ningrum; Hari Santoso; Ahmad Syauqi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3372

Abstract

Tilapia (Oreochromis niloticus) is one of the freshwater fish that is widely cultivated and consumed by the community. Tilapia is abundant and it remains fresh than preserved using Picung seeds. The aim of the study was to analyze the protein content of tilapia that preserved without young picung seeds and fresh tilapia after being preserved with young Picung seeds. The method was carried out experimentally with 3 treatments of coated young Picung seed; (A) storage at16 oC without coated, (B) storage at 16 oC coated, and (C) storage of 26 oC temperature coated with 6 replications respectively. The average yield of storage for 40 hours of treatment; A is 16.011%, B=16.003% and C=13.256%. The results of analysis of protein content of tilapia preserved with young Picung seeds (Pangium edule Reinw) in 3 treatments did not different significantly. Protein content of tilapia (Oreochromis niloticus) preserved with young Picung seeds at the storage time of each treatment showed different results. The young Picung seeds used for preservation are a solution to inhibit decreasing protein levels in tilapia.Keywords: Tilapia, Picung seeds, proteinABSTRAKIkan nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu ikan air tawar yang banyak dibudidayakan masyarakat dan di konsumsi masyarakat. Ikan nila melimpah dan agar tetap segar dilakukan pengawetan menggunakan biji picung. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisa kadar protein ikan nila yang diawetkan tanpa biji picung muda dan kadar protein ikan nila segar setelah diawetkan dengan biji picung muda. Metode dilakukan secara eksperimental dengan 3 kali perlakuan lumuran biji picung muda (A) penyimpanan suhu 16oC tanpa lumuran, (B) penyimpanan pada suhu 16oC dengan lumuran, dan (C) penyimpanan suhu 26oC dengan lumuran diulang masing-masing 6 ulangan.  Hasil rata-rata penyimpanan selama 40 jam perlakuan A 16,011%, perlakuan  B 16,003% dan perlakuan  C 13,256%. Hasil analisis kadar protein ikan nila yang diawetkan dengan biji picung muda (Pangium edule Reinw) pada 3 perlakuan tidak berbeda secara signifikan. Kadar protein ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diawetkan dengan biji picung muda pada lama waktu penyimpanan masing-masing perlakuan menunjukkan hasil berbeda. Biji picung muda yang digunakan untuk pengawetan menjadi solusi untuk menghambat penurunan kadar protein pada ikan nila.Kata kunci : ikan nila, biji picung, protein.  
Subsitusi Fitohormon Dengan Air Kelapa (Cocos nucifera L.) pada Medium Vacin and Went Terhadap Pertumbuhan Eksplan Anggrek Dendrobium sp Secara in Vitro Wulan Dari Neng Gumiwang; Tintrim Rahayu; Ari Hayati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i2.7222

Abstract

The purpose of this research is to determine the concentration of young coconut water that is appropriate for the growth of orchid plantlets (Dendrobium sp.) In vitro. This study used an experimental method, descriptive data analysis to compare several different concentrations of coconut water. The design of this study uses a completely randomized design (CRD). The treatments consist of 0% coconut water concentration (as a control), 15%, 30% and 60%. Each concentration was carried out 5 replications and each repetition consisted of 5 Dendrobium sp plantlets in each culture bottle conducted for 40 HST, for observing the root length carried out for 50 HST. The highest number of shoots and leaves were produced at the same concentration, namely 150 ml / L coconut water treatment (15% concentration) with an average of 2.8 shoots and the average number of leaves 10.8 leaves. The average number of roots and the longest root length was produced at a concentration of 600 ml / L coconut water (60% concentration) with an average of 6 roots, and the longest root length was 0.5 cm.Keywords: Young coconut water, (Cocos nucifera L.), Dendrobium sp., in vitro, growth.ABSTRAKTujuan penelitian ini ialah menentukan konsentrasi air kelapa muda yang tepat untuk pertumbuhan planlet anggrek (Dendrobium sp.) secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, analisis data secara deskriptif untuk membandingan beberapa konsentrasi air kelapa yang berbeda. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakukan terdiri dari konsentrasi air kelapa 0 % (sebagai kontrol), 15% , 30% dan 60%. Masing-masing konsentrasi dilakukan 5 kali ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 planlet Dendrobium sp dalam setiap botol kultur yang dilakukan selama 40 HST, untuk pengamatan panjang akar dilakukan selama 50 HST. Jumlah tunas dan jumlah daun terbanyak dihasilkan pada konsentrasi yang sama, yaitu perlakuan air kelapa 150 ml/L (konsentrasi 15%)  dengan rata-rata jumlah tunas terbanyak 2,8 tunas dan rata-rata jumlah daun terbanyak 10,8 helai daun. Rata-rata jumlah akar terbanyak dan panjang akar terpanjang dihasilkan pada konsentrasi air kelapa 600 ml/L (Konsentrasi 60%) dengan rata-rata jumlah akar terbanyak sebanyak 6 akar, dan rata-rata panjang akar terpanjang 0,5 cm.Kata kunci : Air kelapa Muda (Cocos nucifera L.), Dendrobium sp., in vitro, pertumbuhan 
Uji Rendemen Nira dan Gula Semut Aren (Arenga pinnata Merr.) Hasil Penyadapan Pagi dan Sore Hari dengan Instrumen Refraktometer Inayatul Maghfirah; Hari Santoso; Ahmad Syauqi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.2959

Abstract

Enau (sugar palm) trees are multi-use plants and almost all parts of the plant can be used for human needs. The nira of sugar palm (legen or saguer) can be processed into palm sugar. The purpose of this study was to measure rendemen nira and palm sugar from the results of tapping in the morning and evening. The research method uses survey by measuring the pH and volume of nira that obtained in the morning and evening and directly processing it into palm sugar. The results of the study showed the morning tapping,  temperature =  , the rendemen of palm sugar = 11.50% and the water content of palm sugar = 4.05%. In the evening tapping,   temperature = , pH nira of palm sugar = 6,3, the rendemen of palm sugar = 11.48% and the water content of palm sugar = 3.57%. The results of the t-test pairs analysis were obtained P temperature = 0.041 ˃ 0.025, P pH  nira of sugar palm = 0.134 ˃ 0.025, P brix nira of sugar palm = 0.557 ˃ 0.025, P rendemen of palm sugar = 0.975 ˃ 0.025 and P water content of palm sugar = 0.975 0.025. There were no significant difference from nira of palm sugar produced by tapping morning and evening. ABSTRAKPohon Enau (Aren) tanaman multi guna dan hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia. Nira aren (legen atau saguer) dapat diolah menjadi gula semut. Tujuan penelitian ini untuk mengukur rendemen nira dan rendemen gula semut dari hasil penyadapan pagi dan sore hari. Metoda penelitian menggunakan survey dengan mengukur pH dan volume nira yang didapat pagi hari dan sore hari serta langsung mengolahnya menjadi gula semut. Hasil penelitian menunjukkan pada penyadapan pagi hari ,   ,  rendemen gula semut = 11,50 % dan kadar air gula semut = 4,05%. Pada penyadapan sore hari ,   ,  rendemen gula semut = 11,48 % dan kadar air gula semut = 3,57%. Hasil analisis uji t-Test Pairs diperoleh P suhu = 0,041 ˃ 0,025, P pH nira aren = 0,134 ˃ 0,025, P brix nira aren= 0,557 ˃ 0,025, P rendemen gula semut = 0,975 ˃ 0,025 dan P kadar air gula semut = 0,975 ˃ 0,025. Tidak ada perbedaan yang nyata dari nira aren hasil penyadapan pagi dan sore hari.Kata kunci: Rendemen, Nira, Aren, Gula semut
Uji Organoleptik Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) yang Direndam dengan Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Pengawet Alami Aulia Putri Nurmala; Hari Santoso; Ahmad Syauqi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tilapia fish is one of the freshwater fish that is easily available in the market and is popular with the community. Freshwater fish are chosen as a source of protein, minerals, vitamins and fats for consumption. Purplish red mangosteen peels contain tannin, resin and compounds crystallizable mangostine (C2OH22O5), are easily soluble in alcohol or ether, and are insoluble in water. Tannin of mangosteen peel is a polyphenol compound and an additive functions as an antiseptic, a coloring agent for paint and ink. Compounds in mangosteen peel are able to bind proteins so that they can be used as natural preservatives, containing catechkin (flavan-3,4-diol), the proanthocyanidin group. The purpose of this study is to compare the effectiveness of mangosteen peel as a natural preservative in various concentrations in maintaining the quality of tilapia fish. The research method was carried out through experiments by soaking tilapia fish in mangosteen peel at a concentration of 0%, 25%, 50%, 75% for 24 hours with a temperature of 0-50C. Organoleptic analysis of changes in quality: gills, eyes, flesh texture and odor of tilapia fish (Oreochromis mossambicus) by measuring changes in pH of soaking water. The organoleptic test results showed that the highest organoleptic value was found at the highest concentration of 75%, with eye specifications having an organoleptic value of 8.3; gills have an organoleptic value of 8.6, odor has the highest organoleptic value of 8.7 and texture has an organoleptic value of 8.4. Soaking tilapia (Oreochromis mossambicus) carried out in the mangosteen peel (Garcinia mangostana L.) for 24 hours at 0-5OC showed the highest concentration of mangosteen peels had a lower pH (acidic) with the best organoleptic value.Keywords: Organoleptic, Mangosteen Skin Solution, pHABSTRAKIkan mujair salah satu ikan air tawar yang mudah didapat dipasar-pasar karena digemari masyarakat. Banyak  jenis ikan air tawar yang dapat dipilih sebagai sumber protein, karbohidrat, mineral, air, vitamin dan lemak untuk dikonsumsi. Kulit manggis berwarna merah keunguan karena mengandung tannin, resin, dan crystallizable mangostine (C2OH22O5), yang mudah larut dalam alkohol atau eter, dan tidak larut dalam air. Tanin merupakan senyawa polifenol, tanin kulit manggis sebagai zat aditif berfungsi sebagai antiseptik, bahan baku pewarna pada cat dan tinta. Kulit manggis mampu mengikat protein sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengawet alami, mengandung katekkin (flavan-3,4-diol) golongan proantosianidin. Tujuan dari peelitian ini yaitu untuk membandingkan efektifitas kulit manggis sebagai bahan pengawet alami dalam berbagai konsentrasi dalam menjaga mutu ikan mujair, Untuk menganalisa perubahan mutu meliputi : insang, mata, tekstur daging dan bau (lisis) ikan mujair (Oreochromis mossambicus) yang direndam kulit Manggis (Garcinia mangostana L.). Untuk menganalisa perubahan pH rendaman dari kulit Manggis pada konsentrasi 0%, 25%, 50%, 75% selama 24 jam dengan suhu 0-50C. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen survey, dimana penelitian eksperimen yaitu dengan ikan mujair yang direndam dalam kulit manggis dengan konsentrasi 75%, 50%, 25% dan 0% selama 24 jam dalam suhu 0-50C. Survey dengan uji organoleptic. Perendaman ikan mujair (Oreochromis mossambicus) dalam kulit manggis (Garcinia mangostana L.) selama 24 jam dalam suhu 0-5OC didapatkan kesimpulan bahwa pada konsentrasi kulit manggis paling tinggi memiliki pH paling rendah (asam) dan nilai organoleptiknya yang paling baik.Kata kunci: Organoleptic, Larutan Kulit Manggis, pH
Analisa Kadar Protein Albumin Ikan Sidat (Anguilla bicolor) Air Tawar Segar dan Dikukus di Maduran Lamomgan Fafa Maulal Haq; Hari Santoso; Ahmad Syauqi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1130

Abstract

Anguilla bicolor is the fish that have high level economic and that was export commodity. One of potential that have in protein content of albumin more high than another fish, this matter can be used as substitute alternative Human Serum Albumin (HSA) which market so expensive. The aim of this research is to know quality of Anguilla bicolor albumin, to compare between albumins of fresh Anguilla bicolor and have steamed. The used method this study is experiment with sampling purposive and technic Duplo test analysis. This research use four times test and each sample take two quotation top (around the head) and bottom (around tail). Process sterilization and deposition albumin doing in two sections the first, using NaOH 10% to promote pH to 11.5 and discharge pH use H2SO410 % to 5,5. For test albumin quantity itself use spectrophotometer with 420nm spectrum. Based on outcome research indicate quality of Anguilla bicolor albumin steamed more high than fresh Anguilla bicolor however difference obtained is not significant.ABTRAKIkan sidat (Anguilla bicolor) merupakan ikan yang memiliki potensi dalam bidang ekonomi yang tinggi dan merupakan komoditas ekspor yang menjanjikan. Salah satu potensi yang dimiliki adalah kandugan protein albumin ikan sidat yang tinggi jika dibandingkan dengan ikan lainnya, hal ini dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti HSA (Human Serum Albumin) yang dipasaran harganya relatif mahal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar albumin ikan sidat, juga membandingkan antara albumin ikan sidat segar dan dikukus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekperimen dengan purposive sampling serta teknik analisa uji rerata duplo. Penelitian ini menggunakan empat kali ulangan dan masing-masing sampel diambil dua cuplikan bagian atas (sekitar kepala) dan bagian bawah (sekitar ekor). Proses penyeterilan dan pegendapan albumin dilakukan dengan 2 tahap yakni menggunakan NaOH 10% untuk menaikkan pH hingga 11,5 dan penurunan pH menggunakan H2SO410 % hingga 5,5. Untuk uji kuantitas albumin sendiri menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang  450 A. Berdasalkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar albumin ikan sidat yang dikukus lebih tinggi daripada ikan sidat yang segar namun perbedaan yang didapatkan tidak signifikan.Kata Kunci : Ikan Sidat (Anguilla bicolor), Albumin, Segar, Kukus
Pengaruh Herbal Temu Ireng (Curcuma aerugenosa) Dan Beras Ketan (Oryza sativa glutinosa) Sebagai Lulur Kulit Pada Wanita Devy Zuliyana; Hari Santoso; Ahmad Syauqi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i2.8449

Abstract

Lulur is a traditional cosmetic preparation that has been prescribed from generation to generation to remove dead skin cells and dirt so that it can exchange air freely and make the skin brighter and whiter. Therefore this study aims to determine the results of temu ireng powder and glutinous rice powder from organoleptic test of women's skin. The research used the survey-quantitative descriptive method, ‘Temu Ireng’ variable and glutinous rice powder. The independent variables in this study were the amount of temu ireng powder and glutinous rice powder used in the ratio (14 g: 6 g), (10 g: 10 g), (8 g: 12 g). The dependent variable in this study is the finished result of the scrub which includes texture, color, stickiness of the aroma and after using the scrub and is followed by a sign test. From the results of descriptive analysis with the Sign Test X3 with comparison is the best proportion. Whereas in X1 the results of the Sign Test analysis showed that the X2 was 0.45 indicating that there was a change after use. Whereas in the X2 sample from the results of the Sign Test analysis, the X2 value was 2.45, this indicates that there were changes that occurred in the panelist's skin after use. And the sample X3 from the Sign Test analysis shows X2 of 4.05, this also indicates that there is a change.Keywords:Skin Scrub, Temu Ireng Powder, Sticky Rice Powder.ABSTRAKLulur adalah sediaan kosmetik tradisional yang diresepkan dari turun-temurun digunakan untuk mengangkat sel kulit mati,dan  kotoran sehingga pertukaran udara bebas serta membuat  kulit menjadi lebih cerah dan putih.Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil powder temu ireng dan powder beras ketan dari uji organoleptik terhadap kulit wanita. Penelitian menggunakanmetode survey-deskriptif kuantitatif, variabel temu hitam dan powder beras ketan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jumlah powder temu ireng dan powder beras ketan yang di gunakan dengan perbandingan (14 g : 6 g ), (10 g : 10 g), (8 g : 12 g ).Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil jadi dari lulur yang meliputi tekstur, warna, daya lekat aroma dan setelah penggunaan lulur dan di lanjutkan dengan uji sign test (uji tanda). Dari hasil analisis deskriptif dengan uji Sign Test X3 dengan perbandingan adalah proporsi terbaik. Sedangkan pada X1 dengan hasil analisa Sign Test menunjukkan X2nya sebesar 0,45menunjukan bahwa terdapat perubahan setelah pemakaian. Sedangkan pada sampel X2 dari hasil analisa Sign Test  nilai X2 sebesar 2,45, hal ini menunjukan terdapat perubahan yang terjadi pada kulit panelis setelah pemakaian. Dan pada sampel X3 dari analisis Sign Test menunjukan X2 sebesar 4,05 hal ini juga menandakan bahwa terjadi pula perubahan.Kata kunci: Lulur Kulit, Powder Temu Ireng, Powder Beras Ketan.
Kajian Penambahan BahanOrganik Pada Media Tanam VW Pada Organogenesis AnggrekDendrobium SecaraIn Vitro Siti Rahmah; Tintrim Rahayu; Ari Hayati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1392

Abstract

In vitro tissue culture is a growth optimization technique of Dendrobium orchid with according to media composition. Nutritions in the media are important for dendrobium orchid. Dendrobium orchid  include plant from orchidaceae family its spread throughout the world like indonesia. Its features are easily planted, intersest is continuous and varied, easily assembled, the flower crown is not easy to fall and wither. Research aimed at obtaining media compositions that are easily available and able to fulfill the needs of orchid plants. The research was conducted using descriptive methods to compare different trearment; Vacin & Went and VW media with adding organic matter; extract bean sprouts, potato extrac, and water coconut; wich is conducted for eight weeks after planting. The result of addition organic matter on VW media was different toward organogenesis of orchid. The average number of shoots is 1.8; the number of leaves average of 6.8 and the number of roots average of 3.6 formed from two until eight weeks after culture.Keywords: tissue culture, growing media, Dendrobium orchid, organogenesis.ABSTRAKKultur jaringan in vitro adalah salah satu teknik optimalisasi pada pertumbuhan tanaman angrek Dendrobium dengan menyesuaikan komposisi medianya. Nutrisi yang terdapat di dalam media sangat penting bagi pertumbuhan anggrek. Anggrek Dendrobium termasuk tanaman dari keluarga Orchidaceae yang penyebarannya sampai ke pelosok dunia seperti Indonesia. Keistimewaanya mudah ditanam, bunganya terus-menerus dan bermacam-macam, mudah disusun, serta mahkota bunga tidak mudah jatuh dan layu. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan komposisi media yang mudah didapat dan mampu memenuhi kebutuhan tanaman anggrek. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif untuk membandingkan perlakuan media yang berbeda yaitu media Vacin & Went, dan VW dengan penambahan bahan organik; ekstrak tauge kacang hijau, ekstrak kentang, dan air kelapa muda; yang dilakukan selama delapan minggu setelah tanam. Hasil penambahan bahan organik pada media VW berbeda terhadap organogenesis eksplan anggrek. Jumlah tunas rata-rata 1,8; Jumlah daun rata-rata 6,8 dan jumlah akar rata-rata 3,6 yang terbentuk dari dua minggu setelah kultur (MSK) sampai minggu terakhir pengamatan delapan MSK.Kata kunci: kultur jaringan, media tanam, angrek Dendrobium,organogenesis.
Kombinasi Bawang Putih (Allium sativum), Serai (Cymbopogon citratus) dan Sirsak (Annona muricata) sebagai Pestisida Nabati pada Kutu Daun (Aphis gossypll) Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens) Wahyu Eko Pranoto; Saimul Laili; Ratna Djuniwati Lesminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i2.3600

Abstract

Chili plants is one of the leading horticultural commodities, but in increasing the production and quality of chili plants against pest attacks are not accompanied by good management and right, so this causes a decrease in the level of chili production. The aim of this research is to find out the combination reaction of garlic (Allium sativum), lemongrass (cymbopogon citratus) and soursop (Annona muricata) as natural pasticides against aphids (Aphis gossypll) of cayenne pepper (Capsicum frutescens). This research was conducted experimentally by using a Randomized Block Design (RBD) with 5 treatments of various kinds of concentrations namely 0%, 10%, 20%, 30%, and 40%; repeated five times. In this study the mixture combination was higher at a concentration of 40% with a mortality of 43.6%.Keywords:: chili plants, pest Aphids, natural pesticide.  ABSTRAKTanaman cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan namun dalam peningkatan produksi dan kualitas tanaman cabai terhadap serangan hama tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik dan benar, sehingga hal ini menyebabkan menurunnya tingkat produksi tanaman cabai. Penelitian bertujuan megetahui reaksi kombinasi bawang putih (Allium sativum), serai (cymbopogon citratus) dan sirsak (Annona muricata) sebagai pastisida alami terhadap hama kutu daun (Aphis gossypll ) tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens).  Penelitian ini dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan Rancangan AcakKelompok (RAK) dengan 5 perlakuan macam konsentrasi yaitu 0% , 10% , 20% , 30% , dan 40%; diulang lima kali.  Pada hasil penelitian ini kombinasi campuran lebih tinggi pada konsentrasi 40% dengan mortalitas 43,6 %.Kata kunci: cabai rawit, kutu daun, pestisida alami
Pengaruh Pemberian Hasil Samping Pembuatan Biogas sebagai Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan Bawang Merah (Allium cepa L.) Lailatul Mufairoh; Saimul Laili; Tintrim Rahayu
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1418

Abstract

The shallots production enhancements, an improvement in cultivation techniques and organic fertilizer is needed. Biogas liquid waste is one of the organic fertilizers that can be used in plants. The benefit of biogas liquid waste is that it can improve soil properties and produce agricultural products that are safe for health. The purpose of this study was to determine the effect of dose and time of bio-slurry fertilizer on the growth of red onion (Allium cepa L.). Research used a randomized block design consisting of two factors. The first factor is the time of fertilizer application which consists of four levels, namely: control, W1, W2 and W3. The second factor is the administration of bio-slurry fertilizer dose of 25 ml, 50 ml, 75 ml and 100 ml. The results showed that the application of bio-slurry fertilizer affected the growth of shallots. The treatment of D4W1 (fertilizer every week with a dose of 100 ml) showed the best results in each parameter, namely plant height, leaf number, leaf area, root length, wet weight and dry weightABSTRAKPeningkatan produksi bawang merah diperlukan adanya perbaikan teknik budidaya  dan pemberian pupuk organik. Limbah cair biogas adalah salah satu pupuk organik yang dapat digunakan pada tanaman. Manfaat limbah cair biogas adalah  dapat memperbaiki sifat-sifat tanah dan menghasilkan produk pertanian yang aman bagi kesehatan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh dosis dan waktu pemberian pupuk bio-slurry terhadap pertumbuhan bawang merah (Allium cepa L.) Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu waktu pemberian pupuk yang terdiri dari empat taraf yaitu: kontrol, W1, W2 dan W3. Faktor kedua adalah pemberian dosis pupuk bio-slurry yaitu 25 ml, 50ml, 75 ml dan 100 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk bio-slurry berpengaruh terhadap pertumbuhan bawang merah. Perlakuan D4W1 (pemberian pupuk setiap minggu dengan dosis 100 ml).menunjukkan hasil yang terbaik pada setiap parameter yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, berat basah dan berat kering.Kata kunci: Pupuk Bio-Slurry, Bawang merah (Allium cepa L.), waktu pemberian pupuk

Page 3 of 11 | Total Record : 105