cover
Contact Name
Ahmad Syauqi
Contact Email
sainsalami@unisma.ac.id
Phone
+62341551932
Journal Mail Official
syauqi.fmipa@unisma.ac.id
Editorial Address
Fakultas MIPA, Gedung Usman bin Affan Lantai 1 Kompleks Universitas Islam Malang, Jl. MT. Haryono 193 Malang 65144, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains Alami (Known Nature)
ISSN : -     EISSN : 26571692     DOI : http://dx.doi.org/10.33474/j.sa.v3i2.8449
Alami menunjuk kepada material yang ada dalam makhluk hidup (ciptaan). Semua senyawa yang ada dalam tubuh makhluk hidup dan sintesis oleh peristiwa biokimia merupakan produk organik. Proses perubahan menuju mineralisasi oleh mikroorganisme merupakan peristiwa dekomposisi dan dalam hal ini juga terjadi dalam suatu kehidupan. Selanjutnya, biogeokimia merupakan suatu perputaran zat dan hal ini sangat penting dalam kehidupan.
Articles 105 Documents
Pengaruh Pemberian Daun Pepaya (Carica papaya) Terhadap Endoparasit dan Hasil Panen Susu Sapi Perah (Bos taurus) sebagai Antihelmintik Alami di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu Nia Novita Nurrohmah; Nour Athiroh AS; Nurul Jadid Mubarakati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i2.7428

Abstract

Helmintiasis is a worm disease that often occurs in cows so that it can reduce milk harvesting. One prevention that can be done  with natural ingredients in the form of papaya leaf (Carica papaya). Papaya leaves contain alkaloids, enzyme papain, saponin, flavonoid, and tannin. The purpose of this experiment was to analyze the effect of papaya leaf (Carica papaya) on endoparasites and milk harvesting. This is an experimental research used a pre-test post-test control group design on five dairy cows with one treatment, specifically 70% basal green feed and 30% papaya leaves and one positive control (Albendazole). Method of identification use the qualitative method is, native method (direct slide) and the flotation method (Flotation method). The obtained data were analyzed with a Anova test, it showed that result is (p<0,05). That are able to suppress the growth of endoparasites in cow 1, 2, 3, 4, 5 by 60%, 58%, 50%, 45% , and 34% respectively in the native method and the floating method are 75%, 63%, 56%, 45%, and 34%. Increased harvesting milk for 3 weeks is 2-4 liters.  It was conluded that there was an influence between papaya leaves (Carica papaya) on endoparasites in dairy cows (Bos taurus) as a natural antihelmintic. Keywords: Helmintiasis, Papaya Leaf (Carica papaya), Endoparasite, Cows (Bos taurus), Milk Harvesting ResultABSTRAKHelmintiasis adalah penyakit cacingan yang sering terjadi pada sapi sehingga dapat menurunkan hasil panen susu. Salah satu pencegahan alami yang dapat dilakukan yakni dengan memberikan daun pepaya (Carica papaya) sebagai pengobatan alami. Daun pepaya merupakan bahan alami yang mengandung senyawa aktif berupa alkaloid, flavonoid, enzim papain, saponin, dan tanin yang memiliki efek antihelmintik pada sapi perah (Bos taurus). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa efek daun pepaya (Carica papaya) terhadap endoparasit dan hasil panen susu. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, menggunakan rancangan penelitian pre test post test control group design pada 5 ekor sapi perah dengan 1 perlakuan yaitu pemberian pakan hijau basal 70% dan daun pepaya 30% dan 1 kontrol positif (Albendazole). Metode pelaksanaan penelitian menggunakan uji feses metode kualitatif yaitu metode natif (Direct slide) dan metode apung (Flotation method). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji statistika (Anova) dengan hasil (p<0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sapi 1, 2, 3, 4, 5 mengalami penurunan endoparasit sebesar 60%, 58%, 50%, 45%, dan 34% secara berturut-turut pada metode natif dan metode apung sebesar 75%, 63%, 56%, 45%, dan 34%. Pemberian daun pepaya pada sapi perah selama 3 minggu dapat meningkatkan panen susu sebesar 2-4 per hari. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara daun pepaya  (Carica papaya) terhadap endoparasit pada sapi perah (Bos taurus) dan hasil panen susu.Kata kunci: Helmintiasis, Daun Pepaya (Carica papaya), Endoparasit, Sapi (Bos taurus),  Hasil panen susu
Perbandingan Kuantitas Glukosa pada Media Fermentasi Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappaceum L.) dan Limbah Buah Pepaya (Carica papaya L.) Rachmawati Suprayoto Rachmawati; Ahmad Syauqi; Hari Santoso
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i1.1377

Abstract

The rambutan rind and the papaya fruit waste can be hydrolyzed to produce glucose through fermentation process. The research has a purpose to find out the differences in the various comparisons of glucose that resulted by fermentation of rambutan rind and papaya fruit waste. This research uses experimental methods of Randomized Block Design with 5 kind of the treatment; the RP1, RP2, RP3, RP4, RP5 with 4 replications and that were 20 unit experiment. This research used a consortium of the fungus of Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp., and Candida sp. The addition of HCl 10 % until pH 5. Fermentation process for 4,671 day ( 112,104 hours ). The glucose levels by method sulphuric acid – phenol with UV- vis spectrophotometer technique. Analysed data with ANOVA α = 0.95% and test BNT. Comparison of raw materials fermentation the rind of rambutan and waste fruit of the papaya was RP5 treatment with glucose levels 2,533 %.ABSTRAKKulit buah rambutan dan limbah buah pepaya dapat dihidrolisis menjadi glukosa melalui proses fermentasi. Penelitian mempunyai tujuan untuk mengetahui perbedaan berbagai  perbandingan glukosa hasil fermentasi kulit buah rambutan dan limbah buah pepaya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 macam perlakuan yaitu RP1, RP2, RP3, RP4, RP5 dengan 4 ulangan sehingga berjumlah 20 unit percobaan. Penelitian ini digunakan konsorsium jamur Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp, dan Candida sp. Dilakukan penambahan HCl 10% hingga pH 5. Serta proses fermentasi selama 4,671 hari (112,104 jam). Penentuan kadar glukosa menggunakan metode asam sulfat – fenol dengan teknik spektrofotometer UV – sinar tampak. Analisis data menggunakan ANOVA, α = 0,95% serta uji lanjutan dengan menggunakan uji BNT. Perbandingan kuantitas glukosa pada media fermentasi dari kulit buah rambutan dan limbah buah pepaya berbeda nyata kadar glukosa tertinggi didapatkan pada perlakuan RP5 (9 gram kulit buah rambutan : 3 gram limbah buah pepaya) dengan kadar glukosa 2,53 %.
Efek Daun Picung (Pangium edule Reinw) sebagai Pengawet Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) Isma Fauzilah; Hari Santoso; Hasan Zayadi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3326

Abstract

Red tilapia fish are one of the types of fish in fresh water cultivation by having good enough prospects to be developed. In the effort of processing and preserving fish in order to improve the quality of power as well as durable a product of fisheries post-harvest done at various events. It is generally performed by the society amongst others with low temperature, high temperature, fermentation or formalin. This research aims to know the influence of leaf picung on temperature and long preservation against organ changes eyes, gills, the texture and the smell of red tilapia fish. In the method this research uses experimental on the 4 treatment and 5 of repetition by observing organ eyes, gills, texture and smell. Data analysis techniques using friedman test followed by multiple comparison test. Based on the results of the research, leaves stew picung effect on temperature and long preservation in reduction organoleptic red tilapia fish. Organoleptic reduction on red tilapia fish known from the is eyeballs are sunken with a cloudy cornea and his pupils are grayish, the gills are gray accompanied by clotted brown mucus, the texture is rather soft with a little less elastic, it smells very foul. Long preservation of the slowest on the red tilapia fish soaked with the decoction of leaves picung with temperatures of 18 oC goes up to 56 hours.Keywords: Red tilapia fish, Leaf picung, Preserving, OrganolepticABSTRAKIkan nila merah adalah salah satu dari jenis ikan pada budidaya air tawar dengan memiliki prospek yang cukup baik untuk dapat dikembangkan. Dalam usaha pengolahan dan pengawetan ikan guna meningkatkan kualitas serta daya awet suatu produk perikanan pada pasca panen dilakukan berbagai acara. Umumnya yang dilakukan oleh masyarakat antara lain dengan suhu rendah, suhu tinggi, fermentasi atau formalin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daun picung pada suhu dan lama pengawetan terhadap perubahan organ mata, insang, tekstur dan bau ikan nila merah. Metode pada penelitian ini menggunakan eksperimen pada 4 perlakuan dan 5 ulangan dengan mengamati organ mata, insang, tekstur dan bau. Teknik analisis data menggunakan uji friedman dilanjut dengan uji perbandingan ganda. Berdasarkan hasil penelitian rebusan daun picung berpengaruh terhadap suhu dan lama pengawetan pada penurunan mutu organoleptik ikan nila merah. Penurunan mutu organoleptik pada ikan nila merah dapat diketahui dari bola matanya cekung dengan kornea keruh dan pupilnya keabu-abuan, insangnya berwarna abu-abu disertai lendir coklat yang bergumpal, teksturnya agak lunak dengan sedikit kurang elastis, baunya sangat busuk. Lama pengawetan yang paling lambat pada ikan nila merah direndam dengan rebusan daun picung dengan suhu 18 oC bertahan hingga 56 jam. Kata kunci: Ikan nila merah, Daun picung, Pengawetan, Organoleptik
Uji Toksisitas Ekstrak Metanolik Kombinasi Daun Benalu Teh Dan Daun Benalu Mangga Terhadap Profil Lipid Tikus Betina (Rattus norvegicus) pada Paparan Sub-Kronik 28 Hari Tengku Anggun Lestari; Nour Athiroh; Nurul Jadid Mubarakati
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v3i1.6621

Abstract

Tea Benalu (Scurrula atropurpurea [Bl.] Dans.) and Mango Benalu (Dendrophthoe pentandra L. miq.) containssecondary metabolites with potential antioxidant potential. Antioxidants can inhibit the oxidation process and reduce Total Cholesterol, Triglycerides, Low-Density Lipoprotein (LDL) and increase High-Density Lipoprotein (HDL). The safety of the preparations for the combination of parasites of tea and mango leaves was tested to obtain toxic effects after repeated treatment tests over some time. The purpose of this study was to determine the toxic effects of a combination of methanolic extracts of a combination of tea parasites and mangoes in female rats (Rattus norvegicus) subchronically for 28 days by looking at the results of the clinical biochemical examination on lipid profiles, namely total cholesterol levels, triglycerides, high-density lipoproteins (28%). HDL), and Low-Density Lipoprotein (LDL). The method of this study was experimental with a combination dose of methanol extract of tea parasite leaves and mango parasite leaves at a dose of 250 mg / KgBB, 500 mg / KgBB and 1000 mg / KgBB with 5x replications each treatment. The subjects used white rats (Rattus norvegicus) female Wistar strains aged 6-8 weeks with a minimum body weight of 100 grams. The treatment in this study was in the form of each dose given 5 times a week for 28 days (subchronic toxicity test) orally. Lipid profile levels were analyzed using the one-way ANOVA test. The results showed that the level of control blood lipid profile with a treatment dose of 250 mg / KgBW, 500 mg / KgBW, and 1000 mg / KgBW was not significantly different. The toxicity test of combined extracts of tea leaves and mango parasite leaves of female rat Rattus novergicus on subchronic exposure 28 days with those doses showed no difference tangible between treatments of controls. This means it is safe and does not cause toxic properties in the lipid profile of female wistar rats.Keywords: Lipid Profile, Scurrula atropurpurea, Dendophthoe pentandra, Sub-Chronic Toxicity, Rattus norvegicus ABSTRAKBenalu Teh (Scurrula atropurpurea [Bl.] Dans.) dan  Benalu Mangga (Dendrophthoe pentandra L. miq.) mengandung metabolit sekunder berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan dapat memperhambat proses oksidasi dan menurunkan Cholesterol Total, Trigliserida, Low Density Lipoprotein (LDL) dan menaikkan High Density Lipoprotein (HDL). Keamanan sediaan kombinasi daun benalu teh dan mangga diuji memperoleh tentang efek toksik setelah uji perlakuan berulang dalam jangka waktu tertentu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efek toksik kombinasi ekstrak metanolik kombinasi daun benalu teh dan mangga pada tikus betina (Rattus norvegicus) secara subkronik selama 28 hari dengan melihat hasil pemeriksaan biokimia klinis pada profil lipid, yaitu kadar Cholesterol Total, Trigliserida, High Density Lipoprotein (HDL), dan Low Density Lipoprotein (LDL). Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan perlakuan dosis kombinasi ekstrak metanol daun benalu teh dan daun benalu mangga dosis 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB dan 1000 mg/KgBB dengan ulangan 5x tiap perlakuan. Subjek menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) betina strain wistar yang berumur 6-8 minggu dengan berat badan minimal 100 gram. Perlakuan dalam penelitian ini berupa setiap dosis  diberikan 5 kali seminggu selama 28 hari (uji toksisitas subkronik) secara per-oral. Kadar profil lipid dianalisis menggunakan uji One-way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar profil lipid darah kontrol dengan perlakuan dosis 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB dan 1000 mg/KgBB tidak berbeda nyata. Uji”toksisitas”ekstrak kombinasi daun benalu teh dan daun benalu mangga  tikus betina Rattus novergicus pada paparan subkronik 28 hari dengan”dosis”tersebut menunjukkan hasil tidak”beda”nyata antara perlakuan terhadap”kontrol. ”Hal ini berarti aman dan tidak menimbulkan sifat toksik pada profil lipid tikus wistar betina.Kata Kunci : Profil Lipid, Scurrula atropurpurea, Dendophthoe pentandra, Subkronik, Rattus norvegicus
Pengaruh Air Lindi dan Bio Slurry Sebagai Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L) Budi Santoso; Saimul Laili; Tintrim Rahayu
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v1i2.2194

Abstract

Leachate water is liquid waste that can arise due to the entry of water in landfills and can dissolve dissolved chemical elements such as organic matter resulting from decomposition. Slurry that has been lost gas is waste from biogas and is rich in nutrients needed in plants, but so far liquid leachate fertilizer and biogas waste have not been utilized properly. The purpose of this study was to determine the effect of leachate, bio slurry, and mixture on cucumber plant growth (Cucumis sativus L), and the best influence between leachate, bio slurry and a mixture of both. This study used an experimental method with randomized block design (RBD) with 9 treatments and 4x replications. The results of the study of Leachate Water, Bio slurry, and Mixture affected, plant length, on plant height, number of leaves, number of flowers, dry weight and plant wet weight. All treatments had an effect on the observed parameters at a concentration of 15 ml, 30 ml, or 45 ml, especially in observing wet weight and dry weight of plants. The treatment of leachate showed a significant difference in the wet weight concentration of 30 ml and dry weight concentration of 30 ml.Keywords: Leachate, Bio slurry, Cucumis sativus L ABSTRAKAir lindi adalah limbah cair dapat timbul karena masuknya air pada timbunan sampah dan bersifat dapat  melarutkan unsur kimiawi yang terlarut antara lain materi organik hasil dari dekomposisi. Kotoran ternak (slurry) yang sudah hilang gasnya merupakan limbah dari biogas  dan kaya dengan nutrisi yang di butuhkan pada  tanaman, namun selama ini pupuk cair air lindi dan limbah biogas belum dimanfaatkan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh air lindi, bio slurry, dan Campuran terhadap pertumbuhan tanaman mentimun (Cucumis sativus L), dan pengaruh yang terbaik antara air lindi, bio slurry dan campuran keduanya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan dan 4x ulangan. Hasil penelitian Pemberian Air lindi, Bio slurry, dan Campuran berpengaruh , panjang tanaman, terhadap pada tinggi tanaman, jumlah pada daun, jumlah bunga, berat kering dan berat basah tanaman, Semua perlakuan memberikan pengaruh pada parameter yang di amati baik pada konsentrasi 15 ml, 30 ml, ataupun 45 ml, khususnya pada pengamatan berat basah dan berat kering tanaman. Pada perlakuan Air lindi menunjukkan beda nyata yang signifikan yaitu pada berat basah konsentrasi  30 ml dan berat kering konsentrasi 30 ml.  Kata kunci: Air lindi,Bio slurry,Cucumis sativus L
Perbandingan Kadar Gula Nektar dan Kadar Madu yang Dihasilkan Oleh Lebah (Apis mellifera) di Pusat Perlebahan Kota Batu Intani Sholihah Hafizatul; Hari Santoso; Ratna Djuniwati Lesminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i2.3602

Abstract

Bees (Apis mellifera) from Europe and this bee has good adaptability to various types of climate and has the most production. This study aims to determine the difference between the concentrations of sugar nectar and the sugar  of honey that was produced by bees in the Honey bees center of Batu city. Nectar producing from flowers are found, each type of flowers were measured the sugar using a refractmeter Brix 58 – 90 % at different times, namely: morning and afternoon. There are 3 types of flowes found, namely eight flowers (Turnera ulmifolia), Paitan flowers (Tithonia diversifolia), and kenikir (Cosmos sulphureus). The parameters tested were the sugar content of honey that was produced by Apis mellifera. The data obtained was analyzed using the Anova (Analysis of Variance) test. The results of the analysis showed that the F test found no difference in the sugar concentrationt of nectar for each flower and honey sugar concentration at P value of 0.071. The average yield of nectar sugar from the three types of flowers (Kenikir, Paitan, and eight), respectively 38.0, 39.4, and 39.7, while the average yield of honey sugar levels respectively 37.9, 36.4, 37.6 Keywords: Sugar, Nectar, Honey, bee (Apis mellifera) ABSTRAK Lebah ( Apis mellifera ) berasal dari Eropa dan lebah ini memiliki daya adaptasi yang baik terhadap berbagai jenis iklim serta memiliki tingkat prooduksi madu yang paling banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara kadar gula nektar dengan kadar gula madu yang dihasilkan oleh lebah Apis mellifera di pusat perlebahan kota Batu. Bunga penghasil nektar yang ditemukan, setiap jenis bunga diukur kadar gulanya menggunakan refraktometer Brix 58 – 90 % pada waktu yang berbeda yaitu : pagi dan siang. Terdapat 3 jenis bunga yang ditemukan yaitu bunga pukul delapan (Turnera ulmifolia), bunga paitan (Tithonia diversifolia), dan bunga kenikir (Cosmos sulphureus). Adapun parameter yang diuji adalah kadar gula nektar dengan kadar gula madu yang dihasilkan Apis mellifera. Data yang diperoleh di analisis menggunakan uji F – Anova (Analysis of Variance). Hasil analisis menunjukkan bahwa pada uji F ditemukan tidak adanya  perbedaan kadar gula nektar masing – masing bunga dengan kadar gula madu dengan nilai P 0,071. Hasil rata – rata kadar gula nektar  dari ketiga jenis bunga (Kenikir, Paitan dan Pukul Delapan) masing – masing 38.0 , 39.4 , dan 39.7. Sedangkan hasil rata – rata kadar gula madu masing – masing 37.9 , 36.4 , dan 37.6 .  Kata kunci: Kandungan gula, Nektar, Madu, lebah (Apis mellifera)
Uji Efektivitas Sediaan Gel Antiseptik Dari Ekstrak Buah Maja (Aegle marmelos Linn.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Adjeng Amelia Lucky Darizal; Ahmad Syauqi; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.10334

Abstract

Antiseptic gel has been widely used as a way to maintain health and hand hygiene which is practical and easy to carry in order to kill bacteria in a relatively short period of time. Hands are one of the transmission routes for various infectious diseases. Plants that contain antibacterial properties that exist in nature, such as the maja plant (Aegle marmelos Linn.) are extracted to reduce the use of chemicals contained in antiseptics in general so that an antiseptic innovation is carried out in maja fruit which is formulated into an antiseptic gel preparation with several types of formulations. This study aims to study an antiseptic gel preparation to effectively inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria. The results of this study indicated that the most effective formulation was found in the third treatment, namely the gel with 0.50 g of maja fruit extract. The results of the data tested statistically showed the correlation value of treatment F count was 9.08 greater than the results of F table of 3.29. In the test, it is found that F count is 3.32 greater than F table (2.90) so it is stated as effective in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus bacteria.Keywords: Antiseptic Gel, Maja Fruit (Aegle marmelos Linn), Staphylococcus aureus Bacteria ABSTRAKGel antiseptik telah banyak digunakan sebagai salah satu cara untuk menjaga kesehatan dan kebersihan tangan yang praktis dan mudah dibawa guna membunuh bakteri dalam kurun waktu yang relatif lebih cepat. Tangan merupakan salah satu jalur penularan berbagai penyakit menular. Tanaman yang mengandung sifat antibakteri yang berada di alam, seperti tanaman maja (Aegle marmelos Linn.) diekstrak guna mengurangi pemakaian bahan kimia yang terkandung dalam antiseptik pada umumnya sehingga dilakukan inovasi antiseptik buah maja yang diformulasi menjadi sediaan gel antiseptik dengan beberapa jenis formulasi. Penelitian ini mempunyai tujuan mempelajari suatu sediaan gel antiseptik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara efektif. Penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimental dengan desain penelitian rancangan acak kelompok (RAK) menggunakan 4 perlakuan dan 6 kali pengulangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa formulasi yang paling efektif terdapat pada perlakuan ke 3 yaitu gel dengan 0,50 g ekstrak buah maja. Hasil data diuji secara statistik menunjukkan korelasi nilai perlakuan F hitung yaitu 9.08 lebih besar daripada hasil F tabel sebanyak 3.29. Pada ulangan didapatkan bahwa F hitung yaitu 3.32 lebih besar daripada F tabel (2.90) maka dinyatakan sebagai efektif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.Kata kunci : Gel Antiseptik, Buah Maja (Aegle marmelos Linn), bakteri Staphylococcus aureus
Uji Antibakteri Ekstrak Eucheuma cottonii Terhadap Bakteri Escherichia coli Sofiyatul Umaroh; Ahmad Syauqi; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.9909

Abstract

Seaweed is a plant as a source of bioactive compounds which produces various kinds of secondary metabolites characterized by a wide spectrum of biological activity. Various benefits of seaweed, namely as a food ingredient, as an ingredient in the pharmaceutical industry and food industry. The content of bioactive compounds in seaweed as secondary metabolites is antibacteria, antioxide, and anticoagulant. Quite a few people know about Escherichia coli, which causes gastrointestinal infections, one of Eucheuma cottonii extract concentration in ethanol as an antibacterial against the growth of Escherichia coli bacteria and to study the maximum inhibition area of Eucheuma cottonii extract against Escherichia coli bacteria. In this study, an experimntal method was used completely randomized design (CRD). It used 4 treatments and 6 replications. By using EMB and BGLB media for antibacterial test. ANOVA test results showed that there was a significant of o%, 19,2%, 35,7%, and 37,5% the results with an average of 3 mm, at a concentration of 37,5% as highest concentration but still in a weak category.Keywords: Eucheuma cottonii, Antibacteria, Escherichia coli ABSTRAK Eucheuma cottonii adalah  salah satu tanaman sebagai sumber senyawa bioaktif yang menghasilkan berbagai macam metabolit sekunder yang dicirikan oleh spektum aktivitas biologis yang luas. Berbagai manfaat rumput laut yaitu sebagai bahan pangan, sebagai bahan industri farmasi dan industri makanan. Kandungan senyawa bioaktif pada Eucheuma cottonii sebagai metabolit sekunder adalah sebagai antibakteri, antioksida, antikoagulan. Beberapa masyarakat yang mengetahui tentang bakteri Escherichia coli sebagai  penyebab penyakit infeksi saluran pencernaan, bakteri Escherichia coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh kosentrasi ektrak Eucheuma cottonii dalam etanol sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. dan mempelajari daerah hambat maksimum ektrak Eucheuma cottonii sebagai antibakteri pada bakteri Escherichia coli. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL). Menggunakan 4 perlakuan dan 6 kali ulangan. Dengan menggunakan media EMB dan BGLB untuk uji antibakteri. Hasil uji ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan signifikan, setelah diberi perlakuan konsentrasi 0%,19,2%,35,7% dan 37,5% hasil dengan konsentrasi larutan 37,5% dengan rata-rata 3 mm, pada kosentrasi 37,5% sebagagai kosentrasi tertinggi tetapi masih katagori lemah. Kata kunci : Eucheuma cottonii, Antibakteri, Escherichia coli
Penambahan Kultur Mikroba Jamur Mikroskopis pada Produk Delignifikasi Material Organik Durrotul Choiroh; Ahmad Syauqi; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.9912

Abstract

Agricultural waste is also known as a berlignocellulosic material composed of three polymers. These polymers can produce valuable products such as fermented sugar. This study aims to study the changes that occur in delignified organic material products added with microscopic fungal cultures and different concentrations. This study used an experimental method with a mean comparison of two populations. Consisting of 2 treatments, the first A: 2.5% (11 replications) and the second B: 7.5% (11 replications), so that the total number of repetitions was 22 times. Using a consortium of Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp, and Candida sp. The media used in the study were Potato Dextrose Borth (PDB) media, Wang media, and papaya fruit extract. Papaya fruit extract also functions as a nutrient source for mushrooms. The pH used is pH 5. The fermentation process of the media added by delignification products of organic material with consortium fungi for 3 days (72 hours). Determination of glucose levels using the sulfuric-phenolic acid method with an ultra violet (UV) and visible light spectrophotometer. The data analysis used was the T-test. Changes that occur in delignification products of organic material when added with microscopic fungal cultures are the addition of glucose and there is a comparison of glucose levels at different concentrations. In treatment A the average glucose level obtained was 15.72375 mg / ml, while in treatment B the average glucose level obtained was 42.475 mg / ml. This proves that the two treatments were significantly different aimed at P>0.05.Keywords: Delignification, Organic Materia, Microbial Fungi (Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp., and Candida sp.), GlucoseABSTRAKLimbah pertanian disebut juga sebagai bahan berlignoselulosa tersusun oleh tiga polimer. Polimer tersebut dapat menghasilkan produk yang bernilai seperti gula hasil fermentasi. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk mempelajari perubahan yang terjadi pada produk delignifikasi material organik yang ditambahkan kultur jamur mikroskopis dan konsentrasi yang berbeda. Penelitian ini memakai metode eksperimental dengan desain perbandingan rerata dua populasi. Terdiri dari 2 perlakuan, yang pertama A: 2,5% (11 kali ulangan) dan yang kedua B: 7,5% (11 kali ulangan), sehingga jumlah total ulangan ada 22 kali ulangan. Memakai konsorsium jamur Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp, dan Candida sp. Media yang digunakan pada penelitian yaitu media Potato Dextrose Borth (PDB), media Wang, dan extrak buah pepaya. Ekstrak buah pepaya juga berfungsi sebagai sumber nutrien untuk jamur. pH yang digunakan yaitu pH 5. Proses fermentasi media yang ditambahkan produk delignifikasi material organik dengan jamur konsorsium selama 3 hari (72 jam). Penentuan kadar glukosa memakai metode asam sulfat-fenol dengan alat spektrofotometer sinar ultra violet (UV) dan tampak. Analisis data yang digunakan yaitu Uji-T. Perubahan yang terjadi pada produk delignifikasi material organik ketika ditambahkan dengan kultur jamur mikroskopis yaitu ada penambahan glukosa dan terdapat perbandingan kadar glukosa pada konsentrasi yang berbeda. Pada perlakuan A rata-rata kadar glukosa yang didapatkan yaitu 15,72375 mg/ml, sedangkan pada perlakuan B rata-rata kadar glukosa yang didapat yaitu 42,475 mg/ml. Hal ini  membuktikan bahwa dari dua perlakuan berbeda nyata ditujukan pada P>0,05.Kata kunci : Delignifikasi, Material Organik, Jamur Mikroba (Trichoderma viride, Aspergillus niger, Hansenula sp., dan Candida sp.), Glukosa
Uji Efektivitas Daun Maja (Aegle marmelos) Sebagai Bioinsektisida Hama Plutella xylostella pada Tanaman Brokoli (Brassica oleracea var. italica) Silvia Fitrotul Azizah; Saimul Laili; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.9965

Abstract

Indonesia has many insecticide producing plants that can be used as a control of plant pests.. Fermentation of squeeze maja leaves is suspected to be used as an herbal insecticide. Broccoli as a vegetable plant brassicacea tribe, one of the pests destroying broccoli plants is the caterpillar Plutella xylostella. The purpose ofthis research is to find out the effectiveness of fermentation of maja leaves as a pest of Plutella xylostella. Experimental research method is done using randomized design group (RDG) with 5 treatment concentrations sprayed fermentation maja leaves that is P0 = control (0%), P1 (25%), P2 (50%), P3  (75%), P4 (100%) and 4 repeats. Data from the analysis using Anova. The results showed Fhit > F(0.05) which is 11.12 > 3.26 there is a significant influence. But for the treatment of group Fhit < F(0.05) which is 1.15 < 3.49. The temporary conclusion of fermentation spraying of maja leaves has an effect  on the mortality of the pest Plutella xylostella, but has no significant effect on the treatment of the group.Keywords: Maja Leaf Fermentation Solution, Herbal Insecticide, Plutella xylostella Pest  ABSTRAKIndonesia mempunyai banyak tumbuhan penghasil insektisida yang dapat dimanfaatkan sebagai mengendalikan hama tanaman. Fermentasi perasan daun maja diduga dapat digunakan sebagai bahan insektisida herbal. Brokoli sebagai tanaman sayuran suku brassicacea, salah satu hama perusak tanaman brokoli adalah ulat Plutella xylostella. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas fermentasi perasan daun maja sebagai mengendali hama Plutella xylostella.Metode penelitian dilakakuan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan konsentrasi yang disemprot fermentasi perasan daun maja yaitu P0 = kontrol (0%), P1 (25%), P2 (50%), P3 (75%), P4 (100%) dan 4 kali ulangan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Anova. Hasil penelitian menunjukkan Fhit > F(0,05) yaitu 11.12 > 3.26 terdapat pengaruh yang signifikan. Tetapi untuk perlakuan kelompok Fhit < F(0.05) yaitu 1.15 < 3,49. Kesimpulan sementara penyemprotan fermentasi perasan daun maja berpengaruh terhadap mortalitas hama Plutella xylostella, tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perlakuan kelompok.Kata kunci : Larutan Fermentasi Daun Maja, Insektisida Herbal, Hama Plutella xylostella

Page 5 of 11 | Total Record : 105