cover
Contact Name
Nikki Aldi
Contact Email
nikki.aldi@unib.ac.id
Phone
+6287885050404
Journal Mail Official
jukeraflesia@unib.ac.id
Editorial Address
Bagian Pendidikan Kedokteran FKIK Universitas Bengkulu, Jl. WR Supratman Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Raflesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 24773778     EISSN : 26228343     DOI : 10.33369
Core Subject : Health, Science,
JKR (Jurnal Kedokteran Raflesia) is a peer-reviewed professional journal with the editorial board of scholars mainly in medicine, biomedic and health sciences. It is published by UNIB Press, Universitas Bengkulu, Indonesia with the ISSN (online): 2622-8343; and ISSN (print): 2477-3778. The journal seeks to disseminate research to educators around the world and is published twice a year in the months of June and December. The newest template has been published since Volume 6(2): December 2020.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1 (2022)" : 5 Documents clear
Uji Efektivitas Antibakteri Daun Tanaman Nusa Indah (Mussaenda pubescens ait. f ) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus ( Rosenbach ) Priscilla Dwi Utari; Welly Darwis; Mardhatillah Sariyanti
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30109

Abstract

Latar Belakang: penyakit infeksi sering dijumpai pada wilayah dengan cuaca panas, basah, serta status ekonomi yang rendah. Salah satu bakteri yang menyebabkan infeksis ialah Staphylococcus aureus. Antibioik eritromisin yang digunakan untuk mengobati infeksi memiliki berbagai efek samping. Pemanfaatan tanaman obat merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Daun tanaman nusa indah merupakan salah satu tanaman yang mempunyai banyak manfaat, salah satunya sebagai antibakteri. Penggunaan daun tersebut dengan cara menumbuk daun dan ditempelkan di bagain kulit yang terinfeksi, namun belum dilatar belakangi studi ilmiah. Metode: Ekstraksi daun tanaman nusa indah sebelumnya dilakukan pengujian fitokima. Selanjutnya, dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95% dan dilarutkan dengan akuades. Hasil ekstraksi kemudian dilakukan Uji Minimal Inhibitory Concentration (MIC). Setelah dilakukan uji MIC kemudian dilakukan pengujian efektivitas. Parameter yang digunakan ialah besarnya zona hambat yang terbentuk disekitar kertas cakram, dan Kontrol positif yang digunakan adalah larutan antibiotik Eritromisin 50 µg/ml untuk bakteri Staphylococcus aureus. Hasil: Hasil pengujian fitokimia didapatkan metabolit sekunder positif ialah flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Hasil pengujian MIC didapatkan bahwa ekstrak daun tanaman nusa indah memiliki kemampuan sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aures. Dari analisis statistik pengujian ANOVA ekstrak daun tanaman nusa indah dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus memiliki nilai Fhitung > Ftabel dengan nilai α = 0,05 dan kemudian diuji lanjut dengan menggunakan uji Duncan dan didapatkan zona hambat yang efektif dalam menghambat Staphylococcus aureus yaitu pada konsentrasi 75% (E5). Kesimpulan: Ekstrak daun tanaman nusa indah ( Mussaenda pubescens ait.f ) memiliki daya hambat terhadap pertumbuhn bakteri Staphylococcus aureus.
Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik dengan Risiko Obstructive Sleep Apnea Syndrome pada Hipertensi : Sebuah Tinjauan Kepustakaan Sistematik Silvika Tri Novia; Syabriansyah; Diah Ayu Aguspa Dita
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30111

Abstract

Latar belakang: Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) yang tidak diobati dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular. Di seluruh dunia, sekitar 425 juta atau lebih dari 45% mengalami OSAS sedang sampai berat yang harusnya membutuhkan pengobatan. Gold Standard pengobatan OSAS adalah dengan perawatan yang direkomendasikan sampai saat ini yaitu Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Studi observasional telah menunjukkan manfaat potensial dari CPAP yang meliputi perlindungan dari penyakit kardiovaskular. Namun, beberapa studi menyatakan bahwa penggunaan CPAP diikuti kepatuhan gaya hidup seperti olahraga dan kontrol pola makan atau tanpa kepatuhan gaya hidup, tidak melindungi terhadap penyakit kardiovaskular. Dengan demikian, manfaat klinis potensial dari penggunaan CPAP dan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi alat manajemen yang layak untuk mengurangi keparahan OSAS dipertanyakan. Metode: Tinjauan Kepustakaan Sistematik dilakukan pada tiga pusat data, yaitu Pubmed, Cochrane, dan Tripdatabased. Kepustakaan dengan judul yang sama atau studi yang tidak relevan dieliminasi, serta dilakukan screening abstrak dan dilanjutkan dengan membaca keseluruhan teks kepustakaan untuk memilih jurnal yang sesuai dengan kriteria inklusi. Penilaian kualitas studi menggunakan tools The Central for Evidence Based Medicine develops (CEBM).                   Hasil: Terdapat 3 kepustakaan yang sesuai kriteria. Tiga studi menyatakan bahwa terdapat hubungan aktivitas fisik dengan risiko OSAS pada hipertensi. Tingkat aktivitas fisik pada pasien OSAS dengan hipertensi adalah aktivitas fisik ringan. Derajat keparahan OSAS pada pasien OSAS dengan hipertensi adalah OSAS ringan.                                                                                                     Kesimpulan: Aktivitas fisik rendah meningkatkan derajat keparahan OSAS pada hipertensi.                                                                                                   
Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Vaksin MR terhadap Penerimaan Vaksin MR di Wilayah Kerja Puskesmas Basuki Rahmad Kecamatan Selebar Kota Bengkulu Wahyulin Trisna Syafitri; Dessy Triana; Wasis Rohima
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30112

Abstract

Latar Belakang: Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui batuk dan bersin. Penyakit ini sangat berpotensi menjadi wabah apabila cakupan imunisasi rendah. Ketika seseorang terkena campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum kebal terhadap campak. Himbauan imunisasi MR sudah sering digaungkan melalui sosialisasi, media non elektronik, media elektronik, dan sebagainya tetapi masih banyak ditemukan berbagai penolakan dari orang tua terhadap pemberian imunisasi MR. Salah satu daerah dengan kasus penolakan yang tinggi adalah Kota Bengkulu jika dibandingkan dengan kabupaten/daerah lain di Provinsi Bengkulu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang vaksin MR terhadap penerimaan vaksin MR di wilayah kerja Puskesmas Basuki Rahmad Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. Metode: Metode penelitian adalah deskriptif-analitik dengan desain studi cross sectional. Sampel penelitian adalah 59 orang ibu yang memiliki anak berusia 6 bulan s.d 14 tahun di wilayah kerja Puskesmas Basuki Rahmad Bengkulu. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Data analisis dilakukan dengan uji Chi-square dan rasio prevalensi. Hasil: Prevalensi ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang vaksin MR sebanyak 32 orang ibu (53,3%). Prevalensi ibu yang memiliki pengetahuan yang kurang tentang vaksin MR sebanyak 28 orang ibu (46,7%). Terdapat hubungan signifikan pengetahuan tentang vaksin MR dengan penerimaan vaksin MR, dengan nilai uji p=0,000 dan RP= 0,221. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang vaksin MR dengan penerimaan vaksin MR di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. -ibu yang pengetahuannya kurang berpeluang sikapnya negatif antara 3,618 hingga 174,748  kali lipat jika dibandingkan dengan ibu-ibu yang pengetahuannya baik. Pengetahuan ibu kurang merupakan faktor penyebab  Sikap negatif  menerima  vaksin MR. Ibu yang pengetahuannya baik merupakan proteksi terjadinya sikap ibu-ibu negatif menerima vaksin MR.
HUBUNGAN PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP LINGKUNGAN PEMBELAJARAN DENGAN PRESTASI BELAJAR DI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS BENGKULU Sarah Woromboni; Riry Ambarsarie; Novriantika Lestari
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30113

Abstract

Latar Belakang : Hasil ujian atau prestasi akademik yang cenderung rendah dapat dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang kurang tepat. Dalam rangka membantu mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran maka institusi atau para pendidik dapat mengkombinasikan berbagai metode mengajar yang dapat merangsang mahasiswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Evaluasi lingkungan pembelajaran dengan menggunakan kuesioner DREEM penting untuk peningkatan sarana dan pra sarana. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan persepsi lingkungan belajar dengan prestasi belajar pada mahasiswa di FKIK UNIB. Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-analitik dengan pendekatan studi cross sectional. Sampel penelitian adalah 177 orang mahasiswa angkatan 2017, 2018 dan 2019 yang aktif mengikuti kuliah di FKIK UNIB. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling menggunakan kuesioner Dundee Ready Educational Environment Measure (DREEM) dan data sekunder prestasi belajar berupa IPK didapat dari pihak akademik FK UNIB. Analisis Data menggunakan metode uji Pearson. Hasil : Penelitian ini menunjukkan bahwa 138 (78,4 % ) mahasiswa di FKIK UNIB memiliki persepsi yang cenderung positif dengan performa akademik yang sedang. Persentase skor untuk persepsi akademik 21,89 (68,4%) secara signifikan lebih tinggi dari pada persepsi lingkungan sosial 16,42 (58,6%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi lingkungan belajar dengan prestasi belajar dengan nilai uji p= 0,270 (p>0,5). Kesimpulan: Penelitian menyimpulkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap lingkungan belajar adalah positif. Namun masih ada beberapa area yang bermasalah sehingga perlu perhatian dan pertimbangan. Kata Kunci : DREEM, Persepsi, Lingkungan Belajar, Prestasi Belajar
AKURASI PENGGUNAAN DERMOSKOPI DALAM DIAGNOSIS SKABIES Meirizka Chairani; Dessy Triana; Wahyu Sudarsono; Annelin Kurniati; Sylvia Rianissa Putri
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30115

Abstract

Skabies merupakan salah satu kelainan dermatologi yang sangat menular. Diagnosis yang keliru dapat mengakibatkan wabah, peningkatan morbiditas dan peningkatan beban ekonomi. Tidak ada prosedur yang seragam dalam mendiagnosis skabies. Dermoskopi sekarang sudah banyak digunakan untuk mendiagnosis skabies karena dapat memperlihatkan dengan jelas pola jet with a contrail. Perkembangan dermoskopi yang signifikan dan keberadaan yang diapresiasi membuat dermoskopi sering digunakan untuk mendiagnosis skabies, walaupun banyak juga para klinisi yang merasa belum percaya diri utuk menggunakan dermoskopi karena kurangnya pelatihan dan pengalaman. Penelitian ini merupakan studi literatur review, studi literatur ini memanfaatkan PubMed, Cochrane dan Embased sebagai database. Keyword yang digunakan dalam pencarian literatur adalah: dermoscopy, diagnosis, dan scabies. Literatur review ini menggunakan literatur yang telah dipublikasi dari tahun 2010 hingga 2020. Seluruh literatur yang di telah didapatkan kemudian diseleksi menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil analisis dari setiap literatur yang telah dipilih didapatkan bahwa dermoskopi memiliki nilai yang cukup akurat untuk mendiagnosis skabies. Dermoskopi merupakan teknologi yang terus berkembang sehingga dermoskopi menjadi fleksibel untuk digunakan dalam mendiagnosis kelainan dermatologi seperti skabies. Keyword: dermoskopi, diagnosis, dan skabies

Page 1 of 1 | Total Record : 5