Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Mikoflora pada lempuk durian Darwis, Welly; Pardiyono, Pardiyono
GRADIEN : Jurnal Ilmiah MIPA Vol 1, No 1 (2005): (Januari 2005)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.038 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis mikoflora yang terdapat pada lempuk durian danuntuk mengetahui batas waktu layak konsumsi yang ditinjau dari jumlah sel/ml mikoflora dan organoleptik.Lempuk durian diambil dari 4 lokasi pembuatan lempuk yaitu dari Anggut, Sentiong, Hibrida, dan Lempuing.Isolasi mikoflora digunakan metode pengenceran dan pemurnian mikoflora dengan metode cawan gores.Identifikasi mikoflora dengan panduan buku Gandjar et.al.,, (2000), Fardiaz (1992), Samson dan Reenen-Hoesktra(1998). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 7 jenis mikoflora yang ditemukan pada lempuk durian yaitu 5jenis kapang dan 2 jenis khamir. Batas waktu layak konsumsi berdasarkan standar jumlah koloni mikoflora adalah pada minggu ke-3 untuk sampel dari Lempuing, minggu ke-4 untuk sampel dari Anggut dan Hibrida, dan sampai minggu ke-5 untuk sampel Sentiong. Berdasarkan uji organoleptik, batas waktu layak konsumsi secara umumsampai minggu ke-3 setelah pengemasan.
UJI EFEKTIVITAS KOMBINASI EKSTRAK KULIT BATANG DAN KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI Shigella dysentriae Prasaja, Dimas; Darwis, Welly; Astuti, Sri
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 12, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.132 KB) | DOI: 10.14710/jil.12.2.83-91

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang uji efektivitas kombinasi ekstrak kulit batang dan kulit buah manggis (Gracinia mangostana L.) sebagai antibakteri Shigella dysenteriae dari bulan Maret sampai Mei 2011, untuk mengetahui konsentrasi efektif dari ekstrak kulit batang dan kulit buah manggis dalam menghambat pertumbuhan bakteri Shigella dysenteriae. Penelitian uji antibakteri ini menggunakan metode difusi cakram (Kirby-Bauer). Konsentrasi perlakuan yang diperoleh dari uji awal MIC digunakan untuk uji efektivitas kombinasi dari ekstrak kulit buah dan ekstrak kulit batang masing-masing 5,5%, 6,25%, 7%, 7,75%, 8,5%, dan 4,5%, 5,25%, 6%, 6,75%, 7,5%. Sebagai pembanding digunakan antibiotik kloramfenikol 50μg/ml. Dari hasil analisis keragaman dengan Rancangan Acak Lengkap berfaktor diperoleh bahwa pada setiap faktor konsentrasi perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata. Uji antibakteri dengan diameter zona bening yang paling efektif terdapat  pada perlakuan kombinasi konsentrasi esktrak kulit buah dan kulit batang manggis A2B1 6,25% dan 4,5% yaitu 5,66 mm dengan kategori daya hambat sedang (5-10 mm). Hasil zona bening baku pembanding kloramfenikol sebagai antibakteri Shigella dysenteriae yaitu 5,55 mm.A research on combined the effectiveness Test of combination  of tree bark and rind extract of Mangosteen (Gracinia mangostana L.) as antibacteria on Shigella dysenteriae to know the effective concentration of tree bark and rind extract of Mangosteen in inhibiting the growth of Shigella dysenteriae had been conducted from March to May 2011. Research method used is disk diffusion (Kirby-bauer). The obtained concentration in preliminary test MIC which were used to exam combined effectiveness test of each tree bark and rind extract of mangosteen were 5,5 % ; 6,25 % ; 7 % ; 7,75 % ; 8,5 % and 4,5 % ; 5,25 % ; 6 % ; 6,75 % ; 7,5 %. Antibiotic Chloramphenicol 50 µg/ml was used as standard of comparison. Based on Diversity analysis by using factorial completely randomized design method acquired that each test concentration factor indicated not significantly different result. The most effective clear zone diameter of antibacterial test found in combination of 6,25% and 4,5% of tree bark and rind extract (A2B1) that was 5,66 mm as medium inhibition in category (5-10 mm). While the result of Chloramphenicol comparison clear zone as antibacterial was 5,55 mm.
BIODIVERSITAS FUNGI MAKROSKOPIS DI SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM TANJUNG LAKSAHA PULAU ENGGANO BENGKULU Welly Darwis; Ulandasari Ulandasari; R.H. Wibowo; Sipriyadi Sipriyadi; R.R.S. Astuti
Bioedukasi Jurnal Pendidikan Biologi Vol 11, No 1 (2020): BIOEDUKASI, MEI 2020
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/bioedukasi.v11i1.2817

Abstract

BAKTERI PENGHASIL AMILASE YANG DIISOLASI DARI EKOENZIM LIMBAH BUAH-BUAHAN Risky Hadi Wibowo; Welly Darwis; S Sipriyadi; Morina Adfa; Elsi Silvia; Reza Wahyuni; Dhea Amelia Sari; M Masrukhin
Jurnal Biosilampari : Jurnal Biologi Vol 4 No 2 (2022): Biosilampari
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31540/biosilampari.v4i2.1531

Abstract

Many of potential enzymes can be found in the ecoenzyme, one of them is amylase. Amylase is an enzyme that is able to hydrolize the glycoside bonds of starch or starch into dextrin, glucose and maltose which is widely used in various industries such as beverages. This study aims to isolate the ecoenzyme bacteria and test their ability to produce amylase. Isolation of ecoenzyme bacteria was carried out using serial dilution methods 10-1, 10-3, 10-5. A total of 0.1 ml of each dilution series was pipetted and spread on the Nutrient agar (NA) medium. The bacterial isolates that grew were then purified and identified by morphological observation, Gram staining and their enzymatic activity was tested using Starch Agar (SA) media qualitatively. The results of this study showed there were 39 bacterial isolates from ecoenzyme with different morphological characteristics. The amylase activity test were found that 34 isolates had a positive activity to hydrolize the starch in the SA media which was indicated by the formation of a clear zone around the bacterial colonies. Each bacterial isolate had a different hydrolysis index value, which ranged from 9.45 to 23.65. The highest clear zone diameter index value from starch hydrolysis was EJM 15 isolate.
The Potential of Sponge-Associated Bacillus spp. as A Biocontrol Agent to Inhibit Several Bacteria from Infected Catfish (Clarias gariepinus Burch) Risky Hadi Wibowo; Sipriyadi Sipriyadi; Welly Darwis; Ardinan Pribadi; Novi Susianti; Della Indah Medani; Nadya Rosianti; Gustina Dwi Wulandari
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): May 2023
Publisher : Research and Development Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnol

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.724

Abstract

Catfish farming has been increasingly threatened by outbreaks of diseases caused by bacteria which are major problems for Indonesia’s catfish industry. This can lead to a decrease in the food quality of freshwater fishery products, especially catfish. In catfish farming, the occurrence of diseases can cause severe financial losses. This study aimed to identify bacteria that infected catfish and discover new potential antibacterial agents from Bacillus spp. isolated from a marine sponge to inhibit several bacteria from the infected catfish. Catfish samples were obtained from catfish farming with clinical observation of ulcerative lesions on the outside of the body. Several bacteria were isolated from the catfish and used sponge-associated bacterium to inhibit them in which using two methods namely spot assay and disc diffusion assay. Bacterial supernatant and pellet were used to performed antibacterial assay using disc diffusion method. These bacterial isolates were identified through their colony morphology, Gram staining, biochemical assays, and 16S rRNA gene sequence. Bacterial identification based on the 16S rRNA gene sequence showed that GL1 was 99.92% closely related to Aeromonas jandaei, HL1 was 100% closely to Bacillus amyloliquefaciens, and GL2 and HL2 was closely related to Bacillus cereus. The results of antibacterial assay indicated that sponge-associated Bacillus spp. successfully inhibited some bacteria that associated with infected catfish. In addition, Bacillus velezensis APD10 exhibited the most potential strain with antibacterial property which could inhibit all bacteria from the diseased catfish.
Uji Efektivitas Antibakteri Daun Tanaman Nusa Indah (Mussaenda pubescens ait. f ) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus ( Rosenbach ) Priscilla Dwi Utari; Welly Darwis; Mardhatillah Sariyanti
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30109

Abstract

Latar Belakang: penyakit infeksi sering dijumpai pada wilayah dengan cuaca panas, basah, serta status ekonomi yang rendah. Salah satu bakteri yang menyebabkan infeksis ialah Staphylococcus aureus. Antibioik eritromisin yang digunakan untuk mengobati infeksi memiliki berbagai efek samping. Pemanfaatan tanaman obat merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Daun tanaman nusa indah merupakan salah satu tanaman yang mempunyai banyak manfaat, salah satunya sebagai antibakteri. Penggunaan daun tersebut dengan cara menumbuk daun dan ditempelkan di bagain kulit yang terinfeksi, namun belum dilatar belakangi studi ilmiah. Metode: Ekstraksi daun tanaman nusa indah sebelumnya dilakukan pengujian fitokima. Selanjutnya, dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95% dan dilarutkan dengan akuades. Hasil ekstraksi kemudian dilakukan Uji Minimal Inhibitory Concentration (MIC). Setelah dilakukan uji MIC kemudian dilakukan pengujian efektivitas. Parameter yang digunakan ialah besarnya zona hambat yang terbentuk disekitar kertas cakram, dan Kontrol positif yang digunakan adalah larutan antibiotik Eritromisin 50 µg/ml untuk bakteri Staphylococcus aureus. Hasil: Hasil pengujian fitokimia didapatkan metabolit sekunder positif ialah flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Hasil pengujian MIC didapatkan bahwa ekstrak daun tanaman nusa indah memiliki kemampuan sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aures. Dari analisis statistik pengujian ANOVA ekstrak daun tanaman nusa indah dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus memiliki nilai Fhitung > Ftabel dengan nilai α = 0,05 dan kemudian diuji lanjut dengan menggunakan uji Duncan dan didapatkan zona hambat yang efektif dalam menghambat Staphylococcus aureus yaitu pada konsentrasi 75% (E5). Kesimpulan: Ekstrak daun tanaman nusa indah ( Mussaenda pubescens ait.f ) memiliki daya hambat terhadap pertumbuhn bakteri Staphylococcus aureus.
Potency of Ketapang (Terminalia catappa L.) Leaves Methanol Extract Against Pathogenic Bacteria of Catfish (Clarias batrachus L.) Wibowo, Risky Hadi; Darwis, Welly; Sipriyadi, Sipriyadi; Wahyuni, Reza; Sari, Dhea Amelia; Silvia, Elsi; Adriansyah, Aulia; Trianda, Aldy; Setiawan, Redo
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 8, No 1: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus Maret 2022
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v8i1.2475

Abstract

Ikan lele (Clarias batrachus L.) merupakan salah satu spesies penting sebagai komoditas air tawar di Indonesia dengan produksi yang terus meningkat setiap tahunnya. Namun, ikan lele rentan terhadap beberapa infeksi bakteri, terutama bila dipelihara dalam kondisi kepadatan tinggi, salah satunya oleh bakteri patogen Bacillus cereus. Banyak sumber bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan untuk mengatasi masalah tersebut dan mengatasi penyakit yang muncul pada budidaya ikan, salah satunya adalah tanaman tradisional ketapang (Terminalia catappa L.) yang merupakan tanaman yang memiliki potensi sebagai zat antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun ketapang (T. catappa L.) terhadap bakteri patogen B. cereus dari isolat hati ikan lele (Clarias batrachus L.) penyebab penyakit pada budidaya. Metode yang digunakan yaitu maserasi dengan pelarut metanol perbandingan 1:10 yang dimaserasi 7 x 24 jam. Uji aktivitas antibakteri dengan metode cakram difusi dengan konsentrasi 45%, 52,5%, 60%, 67,5%, dan 75%. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak daun ketapang mampu menghambat pertumbuhan bakteri B. cereus pada konsentrasi 45% dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 13,51 mm (kategori kuat). Dari hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun ketapang memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen B. cereus  penyebab penyakit pada hati ikan lele (C. batrachus L.)
Isolation and Identification of Endophytic Bacteria from Euphorbia hirta L. (Patikan Kebo) Rindiyani, Rindiyani; Anugrah, Ratu Intan; Nabila, Bella; Salsabilla, Sisilia; Susanti, Elia; Rofiani, Desi; Puspytha, Yolanda; Wibowo, Risky Hadi; Sipriyadi, Sipriyadi; Darwis, Welly
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 11, No 1: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus March 2025
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v11i1.6688

Abstract

Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) is a plant that lives scattered in the yard, has potential as an antibacterial, one way to extract plants is by isolating endophytic bacteria. Endophytes are bacteria found in plant tissue. The purpose of this study was to isolate and identify the morphology of endophytic bacteria from  plant Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.). The method used is the Total Plate Count (TPC) method by taking samples, isolating bacteria, pure culture, morphological identification, and Gram staining. Endophytic bacteria were obtained by isolating parts of the plant Patikan Kebo (E. hirta L.), namely the roots of patikan kebo (PRE), Patikan kebo stem endophyte (PSE) and Patikan kebo leaves endophyte (PLE). The results of the study found 22 isolates, endophytic bacterial isolates have diverse morphological characteristics including appearance, elevation, edges and color. There are 20 isolates of endophytic bacteria that belong to the Gram positive group and 2 isolates of endophytic bacteria that belong to the Gram negative group. It can be concluded that endophytic bacterial isolates from Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) plants have different morphologies
Training Produksi dan Pemanfaatan Ecoenzyme: Solusi Ramah Lingkungan Limbah Kulit Buah dan Sayuran bagi Ibu Rumah Tangga di Kota Bengkulu Helmiyetti; Sipriyadi; Wibowo, Risky Hadi; Darwis, Welly; Safniyeti; Anggraini, Putri Lisya; Taifur, Aghus; Thamara, Monika; Sasmita, Anggun
DHARMA RAFLESIA Vol 23 No 1 (2025): JUNI (ACCREDITED SINTA 5)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/dr.v23i1.41436

Abstract

Permasalahan sampah organik rumah tangga masih menjadi tantangan lingkungan di wilayah Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah organik menyebabkan peningkatan limbah yang tidak dimanfaatkan secara optimal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan ibu-ibu rumah tangga dalam mengolah limbah organik menjadi eco-enzyme yang bernilai guna dan ekonomi. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, demonstrasi langsung pembuatan eco-enzyme, serta observasi. Kegiatan ini melibatkan 15 peserta yang dievaluasi melalui kuesioner pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman peserta; seluruh peserta (99,33%) menyatakan "tahu" atau "sangat tahu" terkait manfaat dan cara pembuatan eco-enzyme setelah pelatihan, dibandingkan sebelum kegiatan yang hanya 59,33%. Dampak kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan peserta, tetapi juga membuka peluang wirausaha rumah tangga berbasis produk ramah lingkungan. Pengabdian ini diharapkan dapat menjadi model edukasi pengelolaan limbah organik yang aplikatif dan berkelanjutan di masyarakat.
Perbedaan Pemberian Kapur Dan Dolomit Terhadap Pertumbuhan Miselium Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus (Jacq. Ex. Fr) Kummer) || Differences of Giving Calcite And Dolomite To The Myselium Growth White Oyster Mushroom (Pleurotus ostreatus (Jacq. Ex. Fr) Kummer) Berutu, Mei Awbina; Wibowo, Risky Hadi; Sinisuka, Alfredi Anis Fadhila Ginting; Darwis, Welly; Sipriyadi, Sipriyadi; Berutu, Ali Sadikin
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 6, No 2: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus September 2020
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v6i2.1799

Abstract

Jamur Tiram putih (Pleurotus Ostreatus (Jacq. Ex. Fr) Kummer) adalah jenis jamur kayu yang memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan jenis jamur lainnya dan banyak diminati di Indonesia. Untuk pertumbuhan miselium jamur tiram dan di gunakan kapur dan dolomit. Dolomit dan kapur memiliki kemampuan untuk mempercepat pertumbuhan jamur. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pemberian dosis kapur dan dolomit yang tepat terhadap pertumbuhan miselium jamur tiram putih. Penelitian ini dilakukan di Usaha Bersama Jamur Tiram Medan, Sumatera Utara dengan menggunakan bibit F2 dari jamur tiram yang diperoleh dari lokasi penelitian. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan 2 penelitian dengan penelitian I (yaitu pengaruh perlakuan kapur) dan penelitian II (pengaruh perlakuan dolomit) dengan masing-masing 4 perlakuan dan 6 ulangan. 10 gram kapur dan 30 gram dolomit merupakan dosis yang optimum pada pertumbuhan miselium jamur tiram putih.White Oyster Mushroom (Pleurotus ostreatus (Jacq. Ex. Fr) Kummer) is a type of wood fungus that has a higher nutrient content than other types of mushrooms and is in great demand in Indonesia. For the growth of oyster mushroom mycelium, Calcite and dolomite are used. Dolomite and Calcite have the ability to accelerate mold growth. The purpose of this study was to determine the differences in the correct dose of Calcite and dolomite for the growth of mycelium white oyster mushrooms. This research was conducted at the Medan Oyster Mushroom Joint Venture, North Sumatra using F2 seeds from oyster mushrooms obtained from the research location. This study used an experimental method with 2 studies with research I (namely the effect of lime treatment) and research II (the effect of dolomite treatment) with 4 treatments and 6 replications respectively.10 grams of Calcite and 30 grams of dolomite is the optimum dose for the growth of white oyster mushroom mycelium