cover
Contact Name
Nikki Aldi
Contact Email
nikki.aldi@unib.ac.id
Phone
+6287885050404
Journal Mail Official
jukeraflesia@unib.ac.id
Editorial Address
Bagian Pendidikan Kedokteran FKIK Universitas Bengkulu, Jl. WR Supratman Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Raflesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 24773778     EISSN : 26228343     DOI : 10.33369
Core Subject : Health, Science,
JKR (Jurnal Kedokteran Raflesia) is a peer-reviewed professional journal with the editorial board of scholars mainly in medicine, biomedic and health sciences. It is published by UNIB Press, Universitas Bengkulu, Indonesia with the ISSN (online): 2622-8343; and ISSN (print): 2477-3778. The journal seeks to disseminate research to educators around the world and is published twice a year in the months of June and December. The newest template has been published since Volume 6(2): December 2020.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 2 (2022)" : 5 Documents clear
Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Ati-ati (Coleus blumei Benth) Terhadap Kadar Ureum dan Kreatinin Darah Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Aspirin Indri Wahyuni; Besly Sinuhaji; Novriantika Lestari
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i2.30114

Abstract

Latar Belakang: Akumulasi asprin menghasilkan senyawa reaktif berupa radikal bebas yang menginduksi terjadinya stres oksidatif sehingga akan mepengaruhi fungsi ginjal. Ekstrak etanol daun C. blumei Benth mengandung senyawa metabolit sekunder golongan alkaloid, flavonoid, saponin, fenol, antrakuinon, tanin, dan steroid yang memiliki kemampuan mencegah pembentukan radikal bebas, antiinflamasi dan memperbaiki fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol daun ati-ati (C. blumei Benth) terhadap kadar ureum dan kreatinin darah mencit (M. musculus) yang diinduksi aspirin. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental post test only control group design. Sampel penelitian menggunakan 30 ekor mencit (M. musculus) yang dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu kelompok kontrol (P0), perlakuan I (P1) yang diberi aspirin 84 mg/kgBB, perlakuan II (P2) diberi aspirin 84 mg/kgBB + silimarin 100 mg/kgBB, perlakuan III (P3) aspirin 84 mg/kgBB + ekstrak etanol daun C. blumei Benth 500 mg/kgBB, perlakuan IV (P4) aspirin 84 mg/kgBB + ekstrak etanol daun C. blumei Benth 1000 mg/kgBB dan perlakuan V (P5) aspirin 84 mg/kgBB + ekstrak etanol daun C. blumei Benth 2000 mg/kgBB. Seluruh kelompok mendapat perlakuan selama 11 hari yang terdiri dari 4 induksi aspirin dan 7 hari pemberian silimarin atau ekstrak. Pada hari ke-12 mencit dilakukan pengambilan darah secara intracardiac untuk dilakukan pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah. Data analisis dilakukan dengan uji one-way ANOVA dan uji post-hoc Tukey. Hasil: Hasil uji one-way ANOVA menunjukan terdapat perbedaan kadar ureum dan kreatinin darah yang signifikan antar kelompok dengan nilai p yaitu 0,020 dan 0,003. Kelompok P5 mengalami penurunan kadar ureum dan kreatinin yang signifikan dengan nilai p 0,024 dan 0,034, meskipun kelompok P5 tidak sebaik kelompok P0. Kesimpulan: Pemberian ekstrak etanol daun C. blumei Benth dosis bertingkat, yaitu 2000 mg/kgBB mampu menurun kadar ureum dan kreatinin darah mencit yang induksi aspirin secara signifikan. Kata kunci: Aspirin, C. blumei Benth, silymarin, ureum, kreatinin.
Hubungan Tingkat Stres dan Motivasi Belajar terhadap Self Directed Learning Readiness (SDLR) pada Mahasiswa Tingkat Pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu Iffah Rizqi; Lucy Marturia Bangun; Riry Ambarsarie
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i2.30116

Abstract

Latar Belakang: Self directed learning readiness (SDLR) merupakan kesiapan mahasiswa untuk belajar mandiri. Self directed learning readiness (SDLR) dapat digunakan untuk menunjang prestasi belajar mahasiswa. Self directed learning readiness (SDLR) dapat dipengaruhi oleh tingkat stres dan motivasi belajar. Terdapat hubungan positif antara motivasi dan SDLR, yaitu semakin tinggi motivasi mahasiswa maka semakin tinggi tingkat SDLR mahasiswa tersebut. Stres dan SDLR memiliki hubungan negatif, yaitu semakin tinggi tingkat stres maka semakin rendah tingkat SDLR mahasiswa tersebut. Metode: Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian adalah 70 mahasiswa tingkat pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu pada bulan Oktober 2020 yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Penilaian tingkat stres menggunakan Medical Student Stressor Questionnaire, tingkat motivasi belajar menggunakan Motivated Strategies for Learning Questionnaire, dan tingkat SDLR menggunakan SDLRS. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian paling banyak mengalami stres tingkat berat (57,1%), tingkat motivasi belajar tinggi (68,6%), dan tingkat SDLR tinggi (57,1%). Tingkat stres tidak memiliki hubungan dengan SDLR pada mahasiswa tingkat pertama FKIK Universitas Bengkulu (p=0,389), sedangkan motivasi belajar memiliki hubungan dengan SDLR pada mahasiswa tingkat pertama FKIK Universitas Bengkulu (p=0,000) Kesimpulan: Tingkat stres tidak memiliki hubungan terhadap SDLR, sedangkan motivasi belajar memiliki hubungan terhadap SDLR pada mahasiswa tingkat pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu. Kata Kunci: Mahasiswa kedokteran, stres, motivasi belajar, SDLR.
Hubungan Lama Menderita Penyakit dan Kadar Glukosa Darah Terhadap Kejadian Kandidiasis Oral Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu Tri Bayu; Annelin Kurniati; Risky Hadi Wibowo
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i2.30117

Abstract

Latar Belakang: Penderita diabetes melitus rentan terhadap komplikasi infeksi jamur. Salah satu infeksi yang paling sering mengenai penderita diabetes melitus adalah kandidiasis. Beberapa faktor yang memudahkan infeksi kandidiasis, yaitu kesehatan mulut yang buruk, penurunan sekresi dan pH saliva, peningkatan kadar glukosa darah, serta keadaan imunodefisiensi. Pasien DM dapat mengalami infeksi kandidiasis sebesar 36,7% yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara lama menderita penyakit dan kadar glukosa darah terhadap kejadian kandidiasis oral. Metode: Penelitian ini menggunakan studi observatif analitik dengan desain penelitian cross-sectional dilakukan di RSUD Harapan dan Doa Kota Bengkulu pada bulan Mei 2019 dengan jumlah sampel 96 pasien diabetes mellitus tipe 2 melakukan kontrol di poli penyakit dalam diambil secara consecutive sampling. Analisis hubungan antara dua variabel menggunakan uji komparatif Chi Square. Analisis multivariat antar semua variabel menggunakan regresi logisitik. Hasil: Subjek penelitian kelompok lama menderita penyakit DM tipe 2 ≥5 tahun merupakan kelompok positif kandidiasis oral tertinggi sebanyak 32 orang (66,7%) dan kelompok kadar glukosa darah tidak terkontrol 43 orang (76,8%). Hasil uji statistik bivariat Chi Square untuk lama menderita DM tipe 2 diperoleh nilai p=0,024 (p < 0,05), untuk hasil uji statistik bivariat Chi Square kadar glukosa darah tipe 2 diperoleh nilai p<0,001 (p < 0,05), menunjukan terdapat hubungan yang bermakna antara lama menderita DM dan kadar glukosa darah dengan kejadian kandidiasis. Hasil analisis multivariat menggunakan regresi logisitik diperoleh nilai untuk kadar glukosa darah OR=11,393, nilai lama menderita DM dengan OR=1,735. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara lama menderita penyakit dan kadar glukosa darah dengan kejadian kandidiasis oral. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Kadar Glukosa Darah, Kandidiasis Oral
HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN KOMPUTER DAN JARAK MATA DENGAN MONITOR KOMPUTER TERHADAP KEJADIAN COMPUTER VISION SYNDROME (CVS) PADA KARYAWAN DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS BENGKULU TAHUN 2020 Maria Yolanda; Reyno Satria Ali; Swandito Wicaksono
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i2.30118

Abstract

Latar Belakang: Computer Vision Syndrome (CVS) didefinisikan sebagai kumpulan gejala okuler yang beragam seperti kelelahan pada mata, nyeri kepala, penglihatan kabur, mata kering serta gejala lainnya seperti nyeri pada leher dan punggung yang berhubungan dengan penggunaan komputer dalam waktu yang cukup lama. Penggunaan komputer secara terus-menerus dan jarak mata dengan monitor komputer yang tidak ideal dapat menyebabkan CVS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan komputer dan jarak mata dengan monitor komputer terhadap kejadian CVS. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Subjek terdiri dari 69 karyawan pada delapan fakultas di Universitas Bengkulu yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Data gejala CVS dan durasi penggunaan komputer diperoleh dari Computer Vision Questionnaire serta pengukuran jarak mata dengan monitor komputer secara langsung terhadap subjek. Selanjutnya data penelitian dianalisis menggunakan uji chi square, fisher's exact test dan uji regresi logistik. Hasil: Prevalensi kejadian CVS pada subjek sebanyak 49 karyawan (71%). Uji statistik antara variabel terhadap kejadian CVS didapatkan hasil, yaitu durasi penggunaan komputer > 2 jam (p=0,048; OR=3,977) dan jarak mata dengan monitor komputer < 50 cm (p=0,013; OR=7,787) Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan komputer terhadap kejadian CVS dan terdapat hubungan yang signifikan antara jarak mata dengan monitor komputer terhadap kejadian CVS. Dengan durasi penggunaan komputer > 2 jam berisiko 3,977 kali lipat daripada pengguna komputer ≤ 2 jam. Jarak mata dengan monitor komputer < 50 cm berisiko 7,787 daripada jarak mata dengan monitor komputer ≥ 50 cm. Kata Kunci: CVS, durasi penggunaan komputer, jarak mata dengan monitor komputer.
Literature Review: Hubungan Kadar Asam Urat terhadap Risiko Kematian Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang Menjalani Hemodialisa Erdhika Pradigma; Mulyadi; Novriantika Lestari
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i2.30127

Abstract

Penyakit gagal ginjal terus mengalami peningkatan hingga 32% hingga tahun 2015. Penurunan kadar asam urat dapat menurunkan aktivitas antioksidan plasma sedangkan peningkatan kadar asam urat yang lebih tinggi mencerminkan peran asam urat dalam menginduksi penyakit pembuluh darah dan hipertensi yang dapat menjadi risiko kematian pada pasien yang menjalani hemodialisa. Serum asam urat juga dikaitkan dengan kualitas hidup dan nutrisi pasien yang menjalani hemodialisa serta prediktor independen untuk risiko kematian kardiovaskuler dan non-kardiovaskuler. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kadar asam urat terhadap risiko kematian pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Penelitian ini menggunakan metode literature review atau studi literatur dengan menggunakan dua sumber kepustakaan, yaitu PubMed dan Trip database. Pencarian menggunakan kata kunci yang telah ditetapkan sebelumnya. Sebanyak 372 artikel yang didapatkan dari kata kunci, didapatkan 21 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Setelah membaca full text, didapatkan 7 kepustakaan terkait kadar asam urat dan risiko kematian pasien yang menjalani hemodialisa. Kadar asam urat dapat mempengaruhi risiko kematian pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Literature review ini menyimpulkan bahwa terdapat dua risiko kematian pada pasien yang menjalani hemodialisa yaitu kematian kardiovaskular dan non-kardiovaskular. Kadar asam urat yang rendah lebih berisiko menyebabkan kematian pada pasien yang akan menjalani hemodialisa. Kata Kunci : Asam Urat, Risiko Kematian, Hemodialisa

Page 1 of 1 | Total Record : 5