cover
Contact Name
Sulistiono
Contact Email
ecep_s@apps.ipb.ac.id
Phone
+6281317011347
Journal Mail Official
jurnalfpik.ipb@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Jalan Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
ISSN : 20874871     EISSN : 25493841     DOI : https://doi.org/10.24319
Tujuan Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan yaitu menyebarluaskan informasi ilmiah tentang perkembangan teknologi perikanan dan kelautan antara lain: teknologi perikanan tangkap, teknologi kelautan, inderaja kelautan, akustik dan instrumentasi, teknologi kapal perikanan, teknologi pengolahan hasil perikanan, teknologi budidaya perikanan, bioteknologi kelautan, teknik manajemen pesisir dan kelautan, teknik manajemen lingkungan perairan, dan sosial ekonomi perikanan dan kelautan.
Articles 352 Documents
UJI COBA LAMPU CELUP LED PADA JARING INSANG SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN Angga Hartono; Gondo Puspito; Wazir Mawardi
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1970.184 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.10.15-26

Abstract

Jaring insang merupakan alat penangkap ikan berupa lembaran jaring yang berbentuk persegi panjang. Prinsip utama pengoperasiannya adalah menghadang pergerakan ikan. Keberhasilan operasi penangkapannya sangat tergantung pada ada atau tidaknya ikan yang melintas melewati jaring. Perbaikan teknik penangkapan ikan pada jaring insang perlu dilakukan untuk meningkatkan berat tangkapannya. Solusinya adalah inovasi penggunaan atraktor berupa lampu untuk menarik perhatian ikan agar datang menuju alat tangkap, sehingga jaring insang yang bersifat pasif tidak hanya menunggu ruaya ikan yang melewatinya. Salah satu sumber cahaya yang bisa digunakan adalah lampu LED. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental fishing menggunakan dua unit alat tangkap jaring insang yang dioperasikan secara bersamaan, masing-masing menggunakan lampu dan tanpa lampu. Tujuan yang ingin dicapai adalah mengetahui komposisi hasil tangkapan, membuktikan bahwa penggunaan alat bantu lampu pada jaring insang akan meningkatkan berat hasil tangkapan dan menentukan posisi jaring dari lampu yang menghasilkan berat tangkapan tertinggi. Hasilnya adalah: (1) Ikan hasil tangkapan jaring insang dengan lampu (JDL) terdiri atas 10 jenis, atau 2 jenis lebih banyak dibandingkan dengan jaring insang tanpa lampu (JTL). Delapan jenis ikan yang sama adalah tongkol, tenggiri, talang-talang, alu-alu, kembung, semar, galang sadap, dan kwee. Adapun 2 jenis ikan yang hanya tertangkap oleh JDL adalah tentengkek dan bawal hitam; (2) Penggunaan alat bantu lampu pada jaring insang terbukti meningkatkan hasil tangkapan dengan berat hasil tangkapan JDL 189.765 g, dan (3) Lembar jaring yang menghasilkan berat tangkapan tertinggi berada pada posisi pertama, yaitu lembar 1, 6, 7, dan 12 dengan hasil tangkapan sebesar 108.308 g.
EVALUASI STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) SUB GOLONGAN PENANGKAPAN IKAN DI LAUT Fahmi Shidiq; Tri Wiji Nurani; Roza Yusfiandayani
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2161.277 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.10.39-48

Abstract

SKKNI bidang perikanan tangkap golongan penangkapan ikan di laut sudah diterapkan sejak 2013, meskipun masih banyak kekurangannya. Beberapa kekurangan dari SKKNI diantaranya ketidaksesuaian standar dengan kondisi yang sebenarnya dan ada sejumlah kompetensi yang belum terakomodir dalam standar tersebut (Nurani et al. 2017). Permasalahan ini harus dicari solusinya, maka perlu dilakukan kajian untuk mengevaluasi proses pengembangan dan pembentukan standar ini. Penelitian telah dilakukan pada Mei-Juli 2018 melalui studi literatur, wawancara, serta analisis. Analisis mnggunakan pendekatan kualitatif (deskriptif) dan kuantitatif (skoring). Hasilnya menunjukkan bahwa pengembangan dan pembentukan SKKNI golongan penangkapan ikan di laut sudah sesuai aturan. Beberapa hal yang harus ditingkatkan/diperbaiki adalah meliputi (1) aseptebel serta kesesuaian dengan kondisi sesungguhnya, (2) terukur dan bahasa jelas, (3) tidak adanya Rancangan Induk Pengembangan (RIP) SKKNI, (4) komposisi praktisi pada tim perumus, dan (5) kepemilikan lisensi sertifikasi untuk seluruh tim verifikasi. Peningkatan kualitas SKKNI golongan perikanan laut kedepan ada 2 prioritas yaitu penyusunan RIP dan peningkatan keterlibatan pihak praktisi.
EKSTRAKSI KITOSAN DARI CANGKANG RAJUNGAN PADA LAMA DAN PENGULANGAN PERENDAMAN YANG BERBEDA Djaenudin Djaenudin; Emil Budianto; Endang Saepudin; Muhamad Nasir
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2541.652 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.10.49-59

Abstract

Penelitian mengenai pembuatan kitosan dari cangkang rajungan telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh waktu dan pengulangan perendaman dalam larutan NaOH terhadap kenaikan nilai derajat deasetilasi kitosan. Sebelumnya dilakukan ekstraksi kitin dari cangkang rajungan melalui dua tahap, yaitu deproteinasi dan demineralisasi. Proses deasetilasi terhadap kitin dilakukan dengan variasi waktu perendaman dalam larutan NaOH (2, 3, dan 4) jam serta dilakukan pengulangan perendaman 3, 4, dan 5 kali. Proses deasetilasi menggunakan larutan NaOH 50% (b/v) dengan perbandingan kitin terhadap larutan NaOH sebesar 1:20 (b/v) pada suhu 120°C. Kitosan yang diperoleh kemudian dianalisis gugus fungsi menggunakan FTIR dan dianalisis Derajat Deasetilasi (DD) dengan metode titrasi. Kitin yang diperoleh sebanyak 12,4% dari tepung cangkang rajungan. Derajat Deasetilasi kitosan terbesar (terbaik) didapatkan pada waktu proses deasetilasi selama 4 jam dan jumlah pengulangan deasetilasi sebanyak 5 kali dengan DD sebesar 44,26% dan rendemen kitosan 83%. Lamanya waktu perendaman dalam larutan NaOH merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai derajat deasetilasi kitosan yang dihasilkan.
PROYEKSI PRODUKSI IKAN HASIL TANGKAPAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA KUTARAJA PROVINSI ACEH Kurnia Kurnia; Mustaruddin Mustaruddin; Ernani Lubis
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2042.503 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.10.69-77

Abstract

PPS Kutaraja is a very strategic port and is being developed by the Government of Aceh to become the economic center of fisheries. This study aims to analyze the production of captured in PPS Kutaraja and project the production of captured fish for the year (2020-2024). The research was conducted in June-July 2019. The method used was a case study with forecast analysis using a simple linear ranking model and calculating the value of determination and SEE. Based on the analysis, it is known that the development of IHT production in 2012-2018 has increased every year with an average of 17%. Forecasting results for 2020 reached 92.637,85 ton, in 2021 reached 159.162,54 ton, in 2022 it reached 260.598,23, in 2023 it reached 268.820,21 ton, and in 2024 reached 272.978,67 ton. The conclusion is the forecasting of production results has increased very dramatically in the next 5 years.
STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN DI PULAU WANCI, KABUPATEN WAKATOBI, SULAWESI TENGGARA Nur Ikhsan; Neviaty Putri Zamani; Dedi Soedharma
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2070.032 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.10.27-38

Abstract

Lamun merupakan tumbuhan laut yang memiliki peran yang tidak kalah penting dengan ekosistem pesisir lainnya seperti terumbu karang dan mangrove baik dari segi fisik, ekologi, dan ekonomi. Indonesia memiliki 12 jenis lamun dari 58 jenis lamun di dunia. Tidak semua wilayah di Indonesia memiliki jumlah jenis yang sama karena perbedaan kondisi lingkungan atau tekanan antropogenik, sehingga perlu ada kajian keragaman jenis lamun di wilayah perairan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur komunitas lamun dan keterkaitan antara kerapatan lamun dan parameter lingkungan di perairan Pulau Wanci, Sulawesi Tenggara. Stasiun pengamatan berada pada daerah padang lamun yang dibagi menjadi 4 stasiun. Metode sampling yang digunakan mengacu pada McKenzie et al. (2001) menggunakan transek kuadrat 50 cm x 50 cm. Selanjutnya menghitung jumlah tegakan lamun dan mencatat jenis lamun yang ditemukan pada tiap transek kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 7 jenis lamun di perairan Pulau Wanci yaitu Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, Enhalus acroides, Thalasodendron ciliatum, dan Syringodium isoetifolium dengan kerapatan tertinggi didominasi oleh T. hemprichii, H. uninervis, dan C. rotundata dengan pola sebaran keseluruhan adalah mengelompok. Terdapat keterkaitan antara kerapatan lamun dengan parameter lingkungan, substrat berpasir memiliki korelasi positif yang tinggi terhadap kerapatan lamun sedangkan substrat liat, kecepatan arus, salinitas, dan suhu memiliki korelasi negatif yang rendah sampai tinggi terhadap kerapatan lamun di perairan Pulau Wanci.
ANALISIS KEPADATAN MAKROZOOBENTOS PADA FASE BULAN BERBEDA DI LAMUN, PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU JAKARTA Iswandi Wahab; Hawis Madduppa; Mujizat Kawaroe; Nurafni Nurafni
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2606.847 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.10.93-107

Abstract

Seagrass ecosystems are inhabited by many species of benthic invertebrates, demersal and pelagic organisms that reside or stay temporarily in seagrass ecosystems. This research aimed to analyze the density of the macrozoobenthos in two different moon phases and to seek the contribution of each macrozoobenthic species in each research stations at seagrass beds. Sampling of the macrozonthic organisms was taken in three research stations of Panggang Island (west, east, and south) by using a 1 x 1 m of quadratic transect and a sediment corer with 10 cm in diameter. The data analysis statistically analysis data was carried out by finding out the similarity percentage of the species contribution using SIMPER test. Results of this research indicate that the discovered macrozoobenthos for two phases of moon are varied in each station. The total found macrozoobenthos during two moon phases are 28 and 11 species in the west station, 24 and 20 species in the east station, and 18 and 24 species in the south station, respectively. In the three stations, the two highest and the lowest species density of macrozoobenthos during the two moon phases namely are Cerithium salebrosum (283 ind/m2) and Cerithium punctatum (169 ind/m2); and Geotrochus multicarinatum (7 ind/m2). Moreover, the most contributor species of macrozobenthos in the seagrass habitat of the entire stations is Cerithium salebrosum.
ANALISIS FISHING ACTIVITY KAPAL TUNA LONGLINE MENGGUNAKAN VESSEL MONITORING SYSTEM YANG BERBASIS DI BENOA BALI Muhammad Irsyad Tawaqal; Roza Yusfiandayani; Mohammad Imron
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 1 (2019): MEI 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4439.439 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.10.109-119

Abstract

Tuna fisheries based on Benoa fishing port has undergone major changes since 1993 when yellowfin tuna dominated the catch, followed by big eye tuna and other types of tuna. Fishing vessels to catch tuna in Benoa, Bali, are dominated by tuna longline, purse seine, and troll line vessels. Vessels that are up to 30 GT (>30 GT) must install the Vessels Monitoring System (VMS) to surveillance the fishing vessels that are operating following by the regulations. VMS data provide lot of data from vessel movment, but the problem is not used optimally and the analysis of data VMS still in development, therefore this research aims to identify the utilization VMS data for survilliance dan management of tuna longline based at Benoa. The method used was descriptive analysis using a spatial data management application. The results showed that VMS data can be used to know fishing activity such as vessel position, vessel velocity, and vessel movement. Fishing activity with VMS data can indentfy infraction did by tuna longline vessel that indicated transshipment activity, infraction of fishing area, and can used to validate data between logbook data and VMS data when the vessel landed a fish catch at port. Cross matching data between VMS and logbook data show that data suitability from 2016-2018 increase in 2016 suitability data get 53%, then 2017 get 94%, and 2018 get 98%.
SEBARAN KUALITAS AIR PANTAI UTARA JAKARTA PASCA REKLAMASI DI PERAIRAN TELUK JAKARTA Anma Hari Kusuma
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3227.473 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.10.149-160

Abstract

Teluk Jakarta merupakan kawasan yang terkena dampak langsung dari berbagai aktivitas kota metropolitan DKI Jakarta sehingga menjadi tempat bermuaranya berbagai senyawa polutan di wilayah DKI Jakarta. Adanya kegiatan reklamasi juga turut menambah beban Teluk Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan kondisi terkini perairan Teluk Jakarta melalui sebaran kualitas air pasca kegiatan reklamasi. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan data kualitas air pada bulan Oktober 2018 dimana saat pasca reklamasi dengan penelitian kualitas air sebelumnya pada bulan September 2014 pada saat sebelum adanya kegiatan reklamasi di Teluk Jakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi suhu berkisar 28-31 ºC, salinitas berkisar 25,42-35 psu, derajat keasaman (pH) berkisar 7,2-8,6, partikel tersuspensi (TSS) berkisar 1-216 mg/l, Cu Terlarut berkisar 0-0,092 mg/l, dan Zn berkisar 0-0,280 mg/l. Sedangkan penelitian pada sebelumnya pada saat pra-reklamasi menunjukkan suhu berkisar 28,9-30 ºC, salinitas berkisar 29,5-30,6 psu, derajat keasaman (pH) berkisar 7,80-8,17, partikel tersuspensi (TSS) berkisar 25-68 mg/l, Cu berkisar 0,001-0,005 mg/l, dan Zn berkisar 0,003-0,097 mg/l. Adanya pulau buatan mengakibatkan pasokan material dari daratan yang masuk ke laut menjadi tertahan di wilayah pesisir dan mengurangi kecepatan arus sehingga terjadi penurunan kemampuan waktu pencucian dan kualitas perairan terkonsentrasi di wilayah pesisir secara terus menerus. Kondisi ini pada akhirnya mengakibatkan konsentrasi kualitas perairan pada saat pasca reklamasi lebih tinggi dibandingkan pada saat sebelum adanya kegiatan reklamasi di Teluk Jakarta.
PENGGUNAAN ELEKTRODA TEMBAGA DAN SENG DENGAN ELEKTROLIT AIR LAUT UNTUK SUMBER ENERGI LAMPU LED-DIP Nofrizal Hayadi Saputra; Sugeng Hari Wisudo; Mochammad Riyanto; Adi Susanto
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2704.079 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.10.135-147

Abstract

Light-emitting diode tipe dual in package (LED-DIP) merupakan lampu hemat energi yang banyak digunakan oleh nelayan untuk menarik dan mengkonsentrasikan ikan. LED-DIP memerlukan tegangan dan arus listrik kecil sehingga dapat menggunakan baterai sebagai sumber energinya. Salah satu alternatif adalah baterai dengan sumber energi air laut. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kinerja baterai air laut, mengukur laju penurunan intensitas cahaya, dan menghitung korosi yang terjadi pada elektroda baterai air laut setelah penggunaan, serta mengukur penyusutan yang terjadi pada busa isolator setelah penggunaan. Metode penelitian yang digunakan adalah uji coba laboratorium. Pengukuran tegangan (V) dan arus (mA) dilakukan bersamaan dengan pengukuran laju penurunan intensitas cahaya sebanyak 3 kali pengukuran. Pengukuran dilakukan dengan durasi 2 jam dan 12 jam. Tegangan, arus, dan laju penurunan intensitas cahaya dalam durasi 2 jam dicatat setiap 10 menit. Pada durasi 12 jam dicatat dengan interval 60 menit. Korosi elektroda baterai air laut dihitung dengan analisis foto, sedangkan penyusutan busa isolator dihitung berdasarkan ketebalan awal busa dan di akhir penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium Flum Tank, IPB. Hasil penelitian menunjukkan baterai air laut menghasilkan energi listrik yang menghidupkan lampu LED-DIP hijau 5 mm selama 12 jam dengan voltase terendah sebesar 2.525 V/130 mA, laju penurunan intensitas cahaya LED-DIP lebih besar dibandingkan laju penurunan tegangan dan arus. Berdasarkan pengukuran, baterai air laut dapat digunakan sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan sebagai sumber energi LED-DIP sebagai lampu pemikat ikan pada perikanan bagan tancap.
STRATEGI PEMENUHAN KEBUTUHAN INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BELAWAN Muhammad Reza; Tri Wiji Nurani; Iin Solihin
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 10 No 2 (2019): NOVEMBER 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3152.656 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.10.123-134

Abstract

The ocean fishing port of Belawan is the development center of the fish processing industry and fishing center in the North Sumatra Province. There were 25 fish processing industries in the Ocean fishing port of Belawan. The need for raw material of the fish processing industry increase per year, but the need is not fulfilled by the continuity supply. The objectives of this study were to estimate the needs of raw materials for the fish processing industry, to identify the origin of raw materials for fish processing industry and estimate the availability of raw materials, to formulize strategies for the fulfillment of raw materials of the fish processing industry. The collecting data method used were observation and interview method. Then, the data analysis used was descriptive and SWOT analysis. The result showed that the needs of raw materials for fish processing industry was 85.714 ton/year. While, the fish origin in the ocean fishing port of Belawan were from fish landed inside the fishing port and outside fishing port (Aceh, Bengkulu, Padang, Batubara, and Tanjung Balai). Then, the supply estimation (operational capacity) was 54.429 tons/year. The level of need supplying of fish processing industry was 63%. Based on the SWOT analysis, the strategies to supply the need of fish processing industry were developing the port facilities (cold storage) and utilization of human resources, making collaboration with related stakeholder to support the supply and price of raw material in stable condition, conducting law enforcement through individual that obstruct the raw material to industry.