cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 99 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): APRIL" : 99 Documents clear
PERPUSTAKAAN UMUM Tjandra Huann; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6735

Abstract

An open space is a need needed by many people. These open space acts as a refreshment space for people whose life is monotone, who does the 8 – 5 work hours. This type of lifestyle could make people have a need for a refreshment for their tired minds. So much people don’t have a place to to go after work, a place where they can refresh and relax at the same time which could lead to stress. These kind of stresses could become physical and psychic problems. Physical problems could relate to heart problems, diabetic problems, and many more. While psychic problems could involve depression, chronic stress, and many more. These kind of stresses could be managed well by getting enough entertainment or an emotional support by socializing with families and friends. But things are a bit different about shift workers, where shift workers don’t have time to socialize with them. For that, a public library with a recreation purpose idea is proposed. This public library applies the concept of Third Place, where this place would be free and open to everybody and anybody. This kind of openness is expected to persuade people to come and interact with each other. AbstrakSebuah ruang terbuka sangatlah dibutuhkan oleh berbagai macam orang. Keterbukaan dari ruang tersebut berfungsi juga sebagai ruang “refreshment” bagi para orang – orang yang memiliki hidup yang monoton seperti pekerja. Dimana pekerja pergi bekerja pada pukul 8 pagi dan pulang pada 5 sore. Kehidupan seperti itu membuat seseorang membutuhkan sebuah ruang dimana ia dapat menyegarkan pikirannya yang Lelah. Banyaknya orang – orang yang tidak memiliki tempat untuk bersantai juga dapat membuat seseorang menjadi stres. Stres ini dapat menjalar kepada berbagai macam penyakit fisik maupun psikis. Penyakit fisik yang disebutkan ini menyangkut berbagai macam hal seperti jantung, berat badan (obesitas), dan lain – lain. Sedangkan dalam segi psikis, berbagai macam efek seperti depresi, stres kronis, dan berbagai macam gangguan psikis lainnya. Stres seperti ini dapat dikelola dengan baik saat seseorang bisa mendapatkan hiburan ataupun dukungan emosional saat bertemu dengan sanak saudara ataupun dengan teman – temannya. Tetapi, hal ini berbeda dengan para shift workers, dimana para pekerja malam tidak memiliki waktu yang cukup untuk bersosialisasi. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah perpustakaan umum dengan tujuan rekreasi dan juga dengan konsep Third Place. Rekreasi disini memiliki artian dimana orang – orang dapat bersantai setelah bekerja dan bersantai membaca buku ataupun bersantai di taman. Dengan menerapkan konsep Third Place, tempat ini bersifat gratis dan juga terbuka kepada semua orang. Keterbukaan ini diharapkan mengundang orang – orang untuk datang dan masuk ke dalam dan terjadi berbagai macam interaksi sosial.
RUANG KOLEKTIF DI WIJAYA KUSUMA Vensiscaria Vensiscaria; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6886

Abstract

The fact is that the average Jakarta community has activities that only revolve around the scope of the first place (home-place of residence) and second place (office-place of work-place of study), this continues over and over until it becomes a boring routine. Therefore they need somewhere in between of their daily scope of routine. But ironically, when people need public space to be able to interact with each other, there is no place outside the first place and second place to do activities or just gather among people because of the lack or even the absence of public space facilities to accommodate them based on space limitations. Therefore, people need a Third place container that can be a place for answers to the needs of the space they need. Not only as a place to release stress and boredom due to routine, but also as a place to socialize with relatives, friends and neighbors who come from different backgrounds so they can live in mutual respect and side by side, where social inequalities will not be exposed at all to form humanistic, open, dynamic, and productive for each individual. These things that make the need for Third place to bridge life in the home and work activities with informal activities are needed. AbstrakFaktanya masyarakat Jakarta rata-rata memiliki kegiatan yang hanya berkisar di ruang lingkup first place (rumah-tempat tinggal) dan second place (kantor-tempat bekerja-tempat belajar), hal ini terus menerus berulang hingga menjadi sebuah rutinitas yang membosankan. Oleh karena itu mereka butuh suatu tempat in between dari rutinitas ruang lingkup mereka sehari hari. Namun ironisnya ketika masyarakat membutuhkan ruang publik untuk dapat berinteraksi dengan sesamanya, tidak ditemukan tempat di luar lingkungan first place dan second place untuk melakukan kegiatan ataupun sekedar berkumpul antar sesama dikarenakannya minimnya atau bahkan tidak adanya fasilitas ruang publik untuk mewadahi mereka yang didasari oleh keterbatasan ruang. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan sebuah wadah Third place yang dapat menjadi tempat untuk jawaban atas kebutuhan ruang yang mereka butuhkan. Bukan hanya sebagai tempat melepaskannya stress dan kejenuhan akibat rutinitas, tapi juga sebagai wadah untuk bersosialisasi dengan saudara, teman-teman maupun tetangga yang berasal dari latar belakang berbeda agar dapat hidup saling respek dan berdampingan, yang dimana nantinya kesenjangan sosial tidak terekspos sama sekali guna membentuk sifat humanis, terbuka, dinamis, dan produktif bagi tiap individu. Hal-hal tersebut yang membuat kebutuhan akan Third place untuk menjembatani kehidupan dalam rumah dan aktifitas kerja dengan kegiatan informal sangat dibutuhkan.
TEMPAT RELAKSASI DI MERUYA Bervianda Bervianda; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6749

Abstract

Urban citizen is a modern society with a wide range of routine, activity, and high mobility. This life demand them to follow a fast-paced and practical lifestyle. This urban lifestyle often followed by demanding workload and activities that are time consuming that they usually forgot about their own primary needs, and one of them is to rest. This research are aimed to answer the needs of the residence who are living under such life, which is the residence of Meruya. Meruya holds the record of being one of the busiest area with high mobility people from Jakarta and Tangerang. Methods that were used in study are conducting studies, observation and giving out online questionnaire as pleminary data collection. To strengthen the pleminary data, studying and reviewing a few resident of Meruya to help finding them a better way for them to still be able to have a calm mind admist their busy life. The results were then processed into architectural programs that hopefully may answer the needs of the resident of Meruya.AbstrakMasyarakat kota merupakan masyarakat modern dengan berbagai rutinitas dan aktivitas serta mobilitas yang tinggi. Keseharian ini menuntut mereka dengan gaya hidup yang serba cepat serta praktis. Gaya hidup masyarakat kota yang seperti ini sering sekali menuntut mereka untuk menghadapi suatu pekerjaan dan kegiatan yang begitu menyita waktu sehingga dapat membuat mereka lupa akan kebutuhan lainnya termasuk istirahat. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat Meruya yang merupakan salah satu daerah transisi antara kota Jakarta dan Tangerang melalui peran ruang arsitektur dalam menciptakan ruang untuk beristirahat dan relaksasi ditengah kepadatan aktivitas yang dijalani. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah; pertama, melakukan studi, observasi dan penyebaran kuesioner sebagai pengumpulan data awal; kedua, mempelajari dan meninjau kebutuhan dari masyarakat sekitar serta kebutuhan untuk melepas kejenuhan dan beristirhat ditengah aktivitas yang padat; ketiga, menyusun program sesuai dengan hasil survei, observasi serta menjawab kebutuhan masyarakat sehingga tujuan proyek akan tercapai.
RUANG JEDA INTERAKTIF KEMBANGAN Gary Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6819

Abstract

Urban density not only affects city development but can also affect the routine of the people. Departing from this routine, a feeling of saturation and stress arises, so a break is needed. The interlude in question can be in the form of recreational facilities to get out of the hustle and bustle of urban dense. Productive groups are the most vulnerable groups experiencing saturation and stress. The space between the dense urban environment that can function as a recreational facility in an open space, which can also function as a social space in a dense urban environment, contains activities that are healthy not only physically but also mentally which are expected to help reduce stress levels. South Kembangan is one of the areas that have the highest density level in Jakarta because it is a western primary center area which means the South Kembangan area will become a center of activity, especially in the West Jakarta Region. Based on these problems, Kembangan Interactive Breathing Space is proposed with the main entertainment program which is divided into two facilities namely recreation and relaxation in response to the impact of stress generated from community routines. Recreational facilities are divided into three zones namely perform, playful and creative play zones in the form of plazas and playground areas while relaxation facilities in the form of zones containing activities to escape mental and physical fatigue such as yoga, meditation, and fitness facilities in the form of gyms and sports fields. Abstrak Kepadatan perkotaan tidak hanya mempengaruhi perkembangan kota saja tapi dapat berdampak juga pada rutinitas masyarakatnya. Berangkat dari rutinitas inilah kemudian muncul perasaan jenuh dan stres sehingga diperlukan adanya jeda. Jeda yang dimaksud dapat berupa sarana rekreasi untuk keluar dari hiruk pikuk padatnya perkotaan. Masyarakat golongan produktif menjadi golongan yang paling rentan mengalami jenuh dan stres. Ruang jeda diantara padatnya lingkungan perkotaan yang dapat berfungsi sebagai sarana rekreasi yang berada di ruang terbuka, yang juga dapat berfungsi sebagai ruang sosial ditengah padatnya lingkungan perkotaan, berisi kegiatan – kegiatan yang menyehatkan tidak hanya fisik tapi juga secara mental yang diharapkan mampu membantu mengurangi tingkat stress. Kembangan selatan merupakan salah satu wilayah yang memilki tingkat kepadatan yang paling tinggi di Jakarta karena merupakan wilayah sentra primer barat yang artinya wilayah Kembangan Selatan akan menjadi pusat aktivitas terutama di Kawasan Jakarta Barat. Berdasarkan permasalahan tersebut diusulkanlah Ruang Jeda Interaktif Kembangan dengan program utama entertainment yang dibagi menjadi dua fasilitas yaitu rekreasi dan relaksasi sebagai respon terhadap dampak stress yang dihasilkan dari rutinitas masyarakat. Fasilitas rekreasi terbagi menjadi tiga zona yaitu zona perform, playful dan creative play berupa plaza dan area playground  sedangkan fasilitas relaksasi berupa zona yang berisi kegiatan untuk melepaskan diri dari kelelahan mental dan fisik seperti yoga,  meditasi dan fasilitas kebugaran berupa gym dan lapangan olahraga.
REDEVELOPMENT PASAR KEMBANG CIKINI DENGAN KONSEP OPEN ARCHITECTURE SEBAGAI RUANG KETIGA DAERAH CIKINI, MENTENG Erdin Yosep; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6856

Abstract

Menteng, Central Jakarta as the first Garden City in Indoneisa, served as the most significant green  district in Jakarta. Located at the most green area in Jakarta, Cikini Flower Market (the oldest flower and ornamental plant center around) is less visible as the part of various urban axes. Cikini Flower Market Redevelopment is an uprising and refurbisment of local traditional marketplace against modern wholesale market. The design methods deliver from urban axis mapping, selected program analyze, and forming a building mass from study of market morphology. As a ‘the third place’, the concept is sharing activity with dedicated communal space and activity. All of building program, formed this project as rendezvous space for locals and outsider for shopping, recreation, collaborate, work/study, or just hangout. Through combination of open architecture and sharing economy, this project will redevelop a marketplace to contextual third place. Therefore, Cikini Flower Market will defined as the part of Menteng Green Development, and as well Ciliwung Cultural Line by maintaining it’s essence as the market. Finally, this project is designed to be open, spacious, and communal place for short break or daily needs. AbstrakSalah satu daerah dengan pengembangan ruang terbuka hijau paling signifikan di Jakarta adalah Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat yang merupakan kota taman pertama di Indonesia. Identitas Menteng sebagai wilayah paling hijau di Jakarta justru kurang terlihat pada Pasar Kembang Cikini sebagai penyedia tanaman hias bunga tertua di Jakarta yang berada pertemuan berbagai axis perkotaan. Proyek redevelopment Pasar Kembang Cikini menjadi sebuah upaya untuk memperkuat kembali identitas pasar tradisional agar mampu bersaing dengan pasar modern.  Metode perancangan yang digunakan, yaitu berangkat dari memetakan axis kawasan perkotaan tapak terpilih, menganalisa program yang dihasilkan, dan membentuk massa bangunan berdasarkan studi morfologi bangunan pasar. Sebagai sebuah ruang ketiga, konsep pasar baru yang ditawarkan menekankan kegiatan sharing dengan adanya ruang dan aktivitas yang bersifat komunal. Gabungan dari seluruh program tersebut membuat proyek ini menjadi sebuah third place yang mempertemukan masyarkat Cikini, maupun masyarakat luar untuk datang berbelanja, berekreasi, bekolaborasi, bekerja/ belajar, maupun sekedar nongkrong. Melalui perpaduan konsep arsitektur terbuka dan ekonomi kolaboratif, proyek ini bertujuan mengembangkan sebuah pasar menjadi sebuah ruang ketiga yang kontekstual dengan pengembangan hijau Menteng dan jalur budaya Ciliwung dengan mempertahankan esensinya sebagai sebuah pasar. Proyek ini didesain untuk terasa terbuka, lapang dan komunal untuk dikunjungi sebagai tempat istirahat sejenak maupun untuk kegiatan sehari – hari. 
KONSEP MEDIATEK DALAM PERANCANGAN MEDIA CENTER SEBAGAI THIRD PLACE Achmad Dimas Haristiyanto; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6871

Abstract

Third place is any place we spend in our lives other than a place to work or home. It is a non-negotiable part of the workplace experience and very important to attract and motivate creative work we need to compete in the future. Library is a physical example of Third place, however, the existing library is not suitable for the lifestyle of creative class people because it has formal environment, strict regulation, and short opening time. Therefore, this study used the Third place theory as an approach to address issues of the lifestyle needs of creative class communities by referring to the standards of multimedia libraries. Third place provides flexibility in service, relaxed environment for exchanging information, develop ideas and creative thinking, and social interaction. The method used in data collection is divided into two categories, namely primary data and secondary data. Primary data is data obtained from the location of the issue, observed and recorded. While secondary data in the form of literature or references about the Mediatheque building are collected to support the process of compiling the program in the design.The design of Mediatek in Cikini, Central Jakarta has the concept of accommodating the need of creative class community for accurate information, opportunities to interact, develop relation, with multimedia basis. Abstrak Third place adalah tempat apapun dalam hidup kita selain daripada tempat bekerja atau rumah. Tempat tersebut menjadi bagian dari pengalaman di tempat kerja yang tidak dapat ditawar, dan berperan penting untuk menarik dan menjaga motivasi kerja kreatif yang dibutuhkan untuk bersaing di masa depan. Perpustakaan adalah salah satu bentuk fisik dari Third place, namun perpustakaan yang ada kurang cocok dengan gaya hidup masyarakat kelas kreatif karena memiliki suasana formal, dengan aturan tegas bagi pengunjung serta waktu pelayanan yang singkat. Oleh karena itu penulis menggunakan teori Third place sebagai pendekatan untuk menjawab isu kebutuhan gaya hidup masyarakat kelas kreatif dengan mengacu standar perpustakaan multimedia. Third place menyediakan ruang fisik dengan fleksibilitas waktu pelayanan, suasana santai untuk bertukar informasi, mengolah ide dan pikiran, dan berinteraksi. Metode yang digunakan pada perancangan ini adalah pencarian ide/gagasan untuk menjawab isu kelas kreatif yang kemudian dikembangkan melalui pengumpulan data sebagai bahan kajian dalam perancangan Mediatheque. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dibagi ke dalam dua kategori, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh dari lokasi yang menjadi isu, diamati dan dicatat. Sedangkan data sekunder berupa literatur atau referensi tentang bangunan Mediatheque dikumpulkan untuk mendukung proses menyusun program dalam perancangan. Perancangan Mediatek di Cikini, Jakarta Pusat memiliki konsep mengakomodasi kebutuhan masyarakat kelas kreatif untuk memperoleh informasi akurat, kesempatan saling berinteraksi, membangun relasi, dan berbasis multimedia.
RUMAH KACA PINGGIR KOTA DI DAAN MOGOT Valdo Helmy; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6825

Abstract

DKI Jakarta as the capitol consists of 5 regions and 1 district. Jakarta has the highest population density in Indonesia. In this modern ag, the population tends to live and work in the city thus psychological problems arise in the form of stress. In the urban lifestyle, stress is caused  due to daily routine where everybody is active between two places namely residence and work place. This routine can cause problems that begins with the feeling of boredom which can lead to a mental illness that is initially in the form of stress, anxiety disorder, and psychosis which can be worsen into depression. The step that can be made is to make a third place outside of domestic life at home and outside of professional life at work that aims to reduce psychologial symptoms that causes stress. Apart from that, it is said that a direct interaction with nature can help humans to strengthen their mental endurance to deal with symptoms that causes stress.The proposed design as a solution is in the form of an open public space, a plaza between two buildings, commercial building and a greenhouse where the commercial building has several functions such as food court, market, café, book shops, reading area, and workshop. While the greenhouse gives garden products to support the commercial functions and as a recreational spot. Apart from the functions within the buildings, in effort to encourage visitors into gardening activities and provide direct interactions to nature, community garden serves as a solution in which visitors can plant crops or plants if they wanted to in the provided area on the site. AbstrakDKI Jakarta sebagai ibukota negara terdiri dari 5 wilayah dan 1 kabupaten. Jakarta memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Di masa modern ini penduduk cenderung tinggal dan beraktivitas di daerah perkotaan dengan demikian muncul permasalahan psikologis berupa stres. Dalam kehidupan perkotaan, stres tersebut diakibatkan karena aktivitas rutinitas sehari-hari dimana semua orang beraktivitas di antara kedua tempat yaitu tempat tinggal dan tempat kerja. Rutinitas ini dapat menimbulkan permasalahan yang dimulai dari perasaan bosan dan jenuh hingga bisa mengakibatkan suatu penyakit mental yang awalnya berupa stres, gangguan kecemasan, dan psikosis yang bisa menjadi depresi. Langkah yang dapat dilakukan adalah untuk membuat suatu tempat ketiga di luar dari kehidupan rumah tangga di tempat tinggal dan di luar kehidupan profesional di tempat kerja yang bertujuan untuk mengurangi gejala-gejala psikologis yang mengakibatkan stres. Selain dari itu dikatakan bahwa interaksi secara langsung dengan alam dapat membantu seorang manusia untuk memperkuat daya tahan mental mereka untuk menghadapi tekanan-tekanan yang mengakibatkan stres. Rancangan yang diajukan sebagai solusi berupa sebuah ruang publik terbuka berupa plaza diantara dua bangunan berupa bangunan komersil dan bangunan rumah kaca dimana bangunan komersil berupa pujasera, pasar modern, café, toko buku, ruang baca, serta workshop, sementara rumah kaca berfungsi untuk memproduksi hasil berupa hasil kebun kepada fungsi komersil dan sebagai fungsi rekreasi. Selain dari fungsi di dalam bangunan dalam upaya mendorong minat pengunjung tapak terhadap kegiatan berkebun serta memberikan interaksi langsung dengan alam, dibuat sebuah fungsi kebun komunitas dimana perngunjung yang mendatangi tapak dapat menanam tanaman yang mereka inginkan pada area yang disediakan di tapak.
TAMAN HEWAN PELIHARAAN DAN TEATER KEBON JERUK Judy Christiana Yeo; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6784

Abstract

People are always looking for something outside of what they find at home or at work. With the rapid population and economic growth in Indonesia, Jakarta has become one of the cities with the highest First and Second Place developments. The need for Third places is increasing to balance city growth as an alternative space. Companion animals can be a catalyst for several dimensions of personal and social relationships and interactions, to the formation of new friendships / communities. Given the increasing evidence of social isolation as a health risk factor, companion animals are an important factor in developing a healthy environment. Kebon Jeruk, West Jakarta has one of the most dominant First and Second Place developments. Based on survey results and analysis, as an area with one of the highest animal owners, this has hindered animal lovers from bringing their pets to public spaces safely and freely because of local regulations. Kebon Jeruk Pet Park and Theater is intended as a forum for residents of the surrounding population, for both animal lovers and other users that can intergrate basic  Third place theories with programs suitable for the needs of housing residents, workers, students, and users of nearby health facilities that focuses on the relationship between humans and their pets to improve the quality of life both physically and mentally as well as increase public tolerance and knowledge of the benefits of pets on daily life. AbstrakManusia selalu mencari sesuatu di luar apa yang mereka temukan di rumah atau di tempat kerja. Dengan pesatnya pertumbuhan kependudukan dan ekonomi di Indonesia, Jakarta menjadi salah satu kota dengan pembangunan First Place dan Second Place yang tinggi. Kebutuhan akan Third place meningkat sebagai wadah alternatif dan penyeimbang pertumbuhan kota. Hewan pendamping dapat menjadi katalisator untuk beberapa dimensi hubungan dan interaksi personal dan sosial, hingga pembentukan persahabatan/komunitas baru. Mengingatnya semakin banyak bukti isolasi sosial sebagai faktor resiko kesehatan, hewan pendamping menjadi faktor penting dalam mengembangkan lingkungan yang sehat. Kebon Jeruk, Jakarta Barat sangat mendominasi dalam pembangunan First dan Second Place. Sebagai wilayah pemilikan hewan yang cukup tinggi, dari hasil survey dan analisis, hal ini menghambat para pecinta hewan karena peraturan setempat yang cenderung mengakibatkan para pemilik hewan untuk tidak dapat membawa hewan peliharaannya ke tempat umum secara aman dan leluasa. Taman Hewan Peliharaan dan Teater Kebon Jeruk ditujukan sebagai sebuah wadah untuk warga penduduk baik pecinta hewan maupun bukan di sekitarnya yang dapat menggabungkan teori dasar Third place dengan program yang sesuai untuk kebutuhan para penduduk perumahan, pekerja, mahasiswa/murid, dan pengguna fasilitas kesehatan sekitar yang berfokus pada hubungan antara manusia dengan hewan peliharaannya guna meningkatkan kualitas hidup dalam bentuk fisik maupun mental dan meningkatkan toleransi dan pengetahuan masyarakat akan manfaat hewan peliharaan terhadap kehidupan sehari-hari.
Klub Olahraga di Kawasan Kapuk, Jakarta Edmund Edmund
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6783

Abstract

Jakarta is a large city that has a population of 10,374,235 people on 661.52 km² land, which shows that Jakarta is a very densely populated area in Indonesia. As the capital and as a big city, it certainly has a density of routine activities that can lead to boredom and suppress the mentality of the people who live or come to work. These things should become the attention of the government.To overcome these problems, it is necessary to have a place that can facilitate the community to rest, communicate, and entertain themselves from the busyness that is the main activity of the people in the big cities, called as the third place. With limited time and technological advances, people become lazy to interact and exercise. The issue of the lack of sports facilities in the Jakarta area is also a concern for the Jakarta government. The Regional Representative Council (DPRD) highlighted the lack of sports facilities and infrastructure in Jakarta. People in Indonesia who realize the importance of exercising and doing it are only 27.61%, this figure is a fairly low number compared to that in other countries. With a typology approach to use of space and combined with conventional methods, design can provide good use of space for the community. By creating a new container for sports facilities combined with the concept of third place, it is expected that people can be aware of the importance of interacting, exercising and maintaining physical and non-physical health. AbstrakJakarta merupakan kota besar yang memiliki jumlah penduduk sebesar 10.374.235 jiwa dengan luas wilayah 661.52 km², hal ini menunjukkan bahwa kota Jakarta merupakan daerah yang sangat padat akan penduduknya di Indonesia. Sebagai Ibukota dan sebagai kota besar pasti memiliki kepadatan akan aktivitas rutin yang dapat menimbulkan kejenuhan dan menekan mental masyarakat yang tinggal maupun yang datang untuk bekerja. Hal-hal tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya sebuah tempat yang dapat mewadahi masyarakat untuk beristirahat, berkomunikasi, dan menghibur diri dari kesibukan yang menjadi aktivitas utama masyarakat di kota besar yang disebut sebagai the third place. Dengan keterbatasan waktu dan kemajuan teknologi, masyarakat menjadi bermalas-malasan untuk berinteraksi dan berolahraga. Isu mengenai kurangnya fasilitas olahraga di wilayah Jakarta juga menjadi perhatian pemerintah Jakarta. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menyoroti kurangnya sarana dan prasarana olahraga di Jakarta. Masyarakat Indonesia yang menyadari pentingnya berolahraga dan menjalaninya hanya sebesar 27.61%, angka tersebut merupakan angka yang cukup rendah dibandingkan dengan negara lain. Melalui pendekatan tipologi untuk kegunaan ruang dan dipadukan dengan metode konvensional, desain dapat memberikan kegunaan ruang secara baik untuk masyarakat. Dengan menghadirkan sebuah wadah sarana olahraga baru yang di gabungkan dengan konsep third place diharapkan dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya berinteraksi, berolahraga dan menjaga kesehatan fisik maupun non fisik.  
RUANG REFLEKSI DIRI Jeremy Marshall; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6873

Abstract

One common problem today is the lack of a Third Place gathering place that is a place other than home (First Place) and an office (Second Place), so that Third Place is made as a place for people to gather, feel calm, and avoid the saturation of daily habits, namely first place and second place issues that exist today in daily activities that cause people to become unproductive, namely the problem of stress, without us knowing, now the problem of stress has been experienced by anyone, not affected by age, because there are many stressors , so that it is a problem that is experienced by everyone, and can be one of the targets that must be overcome to create people who have good lifestyles and productive in doing something, the design goals of this project itself are also made to address current global issues , starting from the region that is most affected by the issue of stress, because it has many things becoming a trigger for someone to become stressed, this can create a project that can be a place for people to gather and overcome the issues of stress that affect this life together, this stress issue can also be overcome by changing the stressed population to join the Wellbeing or welfare program individuals, according to the CDC (Centers for Disease Control and Prevention), Wellbeing can improve physical and spiritual health based on the results of positive activities carried out by an individual or group that is continuously carried out, so that it can have a big impact such as, the habits of someone who will do good activities, application of 5 ways to wellbeing is a theory used to improve one's life habits for the better, and this can be maximized with programs related to activities in nature based on the book The Tao of Architecture, the method used is also based on typology methods, by applying design based on common formations that can be fun, and soothing to relieve the stress of visitors, and the Spatial Relations method used to provide a unique design that does not yet exist from combining the formation of healing patterns, with a pleasant pattern formation. Therefore the Retreat can have a pleasant and interesting impact on the community to carry out positive activities to make the population have a better life. A place that has many natural elements has a function to calm a person, so that person can become calm. Abstrak Salah satu masalah yang umum saat ini adalah kurangnya tempat berkumpul Third Place yaitu tempat selain rumah (First Place) dan kantor (Second Place), sehingga Third Place dibuat sebagai tempat orang berkumpul, merasa tenang, dan terhindar dari kejenuhan kebiasaan sehari hari, yaitu first place dan second place isu yang ada saat ini dalam kegiatan sehari hari yang menyebabkan orang menjadi tidak produktif, yaitu masalah stress, tanpa kita sadari, saat ini masalah stress sudah dialami oleh siapa saja, tidak terpengaruh oleh umur, karena terdapat banyaknya faktor faktor pemicu stress, sehingga hal itu merupakan masalah yang dialami oleh semua orang, dan dapat menjadi salah satu target yang harus diatasi untuk menciptakan manusia yang memiliki pola hidup baik dan produktif dalam mengerjakan sesuatu, tujuan desain proyek ini sendiri juga dibuat untuk mengatasi isu global yang ada saat ini, dimulai dari kawasan yang paling merasakan pengaruh isu stress ini, karena memiliki banyak hal yang menjadi pemicu seseorang menjadi stress, hal ini dapat menciptakan proyek yang dapat menjadi tempat orang untuk berkumpul dan mengatasi isu stress yang mempengaruhi kehidupan ini secara bersama sama, isu stress ini juga dapat diatasi dengan cara mengubah penduduk yang mengalami stress untuk mengikuti program Well being atau kesejahteraan individu, menurut CDC (Centers for Disease Control And Prevention), Well being dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani berdasarkan hasil dari kegiatan positif yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok yang terus menerus dilakukan, sehingga dapat memberikan dampak besar seperti kebiasaan seseorang yang akan melakukan kegiatan kegiatan yang baik, penerapan 5 ways to well being merupakan teori yang digunakan untuk memperbaiki kebiasaan hidup seseorang menjadi lebih baik, dan hal ini dapat dimaksimalkan dengan program yang berhubungan dengan aktivitas di alam berdasarkan buku The Tao of Architecture, metode yang digunakan juga berdasarkan metode tipologi, dengan cara menerapkan desain berdasarkan bentukan bentukan umum yang dapat menyenangkan, dan menenangkan untuk meredakan stress pengunjungnya, dan metode Spatial Relation yang digunakan untuk memberikan desain unik yang belum ada dari penggabungan bentukan bentukan pola healing, dengan pola bentukan yang menyenangkan. Oleh karena itu tempat Retreat dapat memberikan dampak kesan menyenangkan dan menarik masyarakat untuk melakukan kegiatan kegiatan positif untuk menjadikan penduduk menjadi memiliki hidup yang lebih baik. Tempat yang memiliki banyak unsur alam memiliki fungsi untuk menenangkan pikiran seseorang, sehingga pikiran seseorang dapat menjadi tenang. 

Page 1 of 10 | Total Record : 99