cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 102 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2021): APRIL" : 102 Documents clear
NON ISOLATED BLOCK : ARSITEKTUR YANG BERPERAN DALAM MEMBERIKAN JAWABAN KERUANGAN DALAM KONTEKS BERHUNI DI MASA DEPAN Junie Veronica Putri; Dewi Ratnaningrum; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10778

Abstract

In 2020, the outbreak of COVID-19 virus is a shock to every individual and to society. In this time, people lives in a term called "space limitation", isolated in a radius and a certain space that makes people lives in a virtual space. This pandemic limits our living space, altered out daily routine, and makes us isolated in a space that causes us to break ourselves physically and mentally. By nature, architecture can't ignore a problem that is this extreme, architecture has a purpose to make space to be a product of humanity, the purpose of this project is the will to create a future living spaces that is unobstructed, undisturbed, and opened; going through a block by giving a communal space; communal space that connected each other between the inside and outside space so that it provides the feeling of togetherness. This “Non-Isolated Block” project starts by incorporating the meaning of “isolated” and “block”. A block or a box is one of the basic of design, a block marks efficiency in a space but considered “simple & bare”. A block that stood on its own and unconnected makes us feel alone. There should be connectivity from this block to create a living space that makes us feel un-caged or “non-isolated”. By using this “inside, outside, and through the block” concept, this project is aimed to split activities based on space. “Inside the block” is for private activities, “outside the block” is for public activities, and “through the block” is a communal space that has a role as an emerging space, space that is connected to one another, to increase togetherness and productivity. Keywords:  block; communal space; non-isolated; space limitation; through the block. AbstrakMunculnya wabah COVID-19 pada tahun 2020 ini merupakan sebuah guncangan terhadap suatu individu dan masyarakat. Saat ini, manusia hidup dalam “batas ruang”, terisolasi dalam radius dan jarak bahkan ruang hidupnya adalah ruang virtual. Wabah ini membatasi ruang gerak kita, merubah pola aktivitas keseharian kita, membuat kita terisolasi dalam suatu ruang yang dapat membunuh kita secara fisik dan mental. Secara fitrahnya, arsitektur tidak dapat mengabaikan sesuatu yang ekstrem ini, arsitektur memiliki tujuan untuk meruangkan ruang sebagai suatu produksi kemanusiaan, sehingga tujuan dari proyek ini yaitu keinginan untuk menciptakan hunian masa depan yang tidak terhadang, tidak terhalang, dan terbuka; saling menembus antar ruang-ruang dengan fungsi ruang komunal; ruang komunal yang saling terkoneksi satu sama lain di antara ruang dalam dan ruang luar sehingga meningkatkan rasa kebersamaan. Proyek “Non-Isolasi Blok” ini bermula dengan mengambil arti dari “isolasi” dan “blok”. Blok atau kotak merupakan salah satu dasar desain, kotak menandakan efisiensi dalam ruang tetapi dianggap "sederhana & polos". Suatu blok yang berdiri sendiri dan tidak terkoneksi membuat kita merasa tersendiri. Perlu ada konektivitas dari bentuk blok ini untuk menciptakan suatu hunian dengan perasaan tidak terkurung atau “Non-Isolasi”. Dengan konsep “ruang dalam, luar, dan antara”, proyek ini membagi aktivitas berdasarkan ruang. Ruang dalam menjadi ruang dengan aktivitas privat, ruang luar menjadi ruang dengan aktivitas publik, sedangkan ruang antara menjadi ruang komunal yang berperan sebagai ruang tembus, ruang yang terhubung satu sama lain dengan ruang tembus lainnya, sehingga meningkatkan kebersamaan dan produktivitas.
PEMUKIMAN HYVE: KEHIDUPAN KOLEKTIF UNTUK MILENIAL Rainier Lazar Hadiprodjo; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10721

Abstract

The millennial generation has a very wide and large opportunity and opportunity to innovate in this era. Therefore, this millennial generation is a great asset to realize national independence in all aspects. Currently the number is around 30% of the total population of Indonesia and is expected to continue to grow. It is predicted that the millennial generation will find it difficult to own a home in the next few years. Coupled with a pandemic that limits the movement of people. Therefore it is necessary to carry out in-depth research on the space requirements that are very much needed for millennials, so that they can create new parameters for housing specifically for millennials who have flexible and practical preferences. "The Hyve Settlement" project aims to provide efficient and affordable housing for Millennials. By presenting residential module units, and equipped with flexible and compact furniture so as to increase the space efficiency of the residence. As well as presenting communal living space to increase space efficiency and also create social development for other residents. Presenting supporting programs like public facilities to improve the quality of life for residents. Keywords:  Collective, Dwelling, Efficieny, Flexibelity, Millenial Abstrak Generasi milenial memiliki peluang dan kesempatan berinovasi yang sangat luas dan besar di era ini. Oleh karena itu, generasi milenial ini adalah modal besar untuk mewujudkan kemandirian bangsa dalam segala aspek. Saat ini jumlahnya sekitar 30% dari total penduduk Indonesia dan diperkirakan akan terus bertambah. Diprediksi generasi milenial akan sulit memiliki rumah dalam beberapa tahun ke depan. Ditambah lagi dengan terjadinya pandemi yang membatasi pergerakan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan dilakukan penelitian mendalam terhadap kebutuhan ruang yang sangat dibutuhkan bagi para kaum milenial, sehingga dapat menciptakan parameter baru pada hunian yang dikhususkan bagi kaum milenial yang memiliki preferensi serba fleksibel dan praktis. Project “The Hyve Settlement” bertujuan untuk menghadirkan hunian yang efisien serta terjangkau bagi kaum Milenial. Dengan menghadirkan hunian modul unit, serta dilengkapi dengan furniture yang fleksibel dan compact sehingga meningkatkan space efficiency pada hunian. Serta menghadirkan communal living space untuk meningkatkan efisiensi ruang dan juga menciptakan social development terhadap penghuni lainnya. Menghadirkan program penunjang layaknya fasilitas umum untuk meningkatkan kualitas hidup para penghuni.
RUANG KESADARAN DIALEKTIK, MAMPANG PRAPATAN, JAKARTA SELATAN Angelita Permatasari Angkola; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10730

Abstract

Living in the middle of the hustle and bustle of urban modernization, a high city lifestyle, dense environmental conditions, and the demands of work make people feel psychological pressure, so that the risk of stress in urban areas increases. In addition, rapid technological advances make it easier for metropolitan citizen to get stressors (stressful situations). This makes it more difficult for individuals to deal with stress due to social, economic and environmental demands that continue to affect our surroundings. When the citizen often under prolonged stress, it can cause mild mental disorders such as depression and anxiety disorders. Urban stress is not only caused by a person's personal condition but can also be caused by cities that are not supported by facilities and infrastructure for psychological comfort in urban areas.Therefore, the project "Dialectic Healing Space – Ruang Kesadaran Dialektik" seeks to create a space that becomes a place for therapy to various urban fatigue and busyness. A space that can be an emotional expression for those who experience stress. This design proposes is as a recreational space in the form of a spatial experience that can influence the senses and emotions of visitors through various dialectical media dedicated to achieving the healing process as a form of positive response to help reduce stress levels in the metropolitan by approaching the five senses, physical and psychological interactions of visitors. Keyword: dense city activity; metropolitan; psychological; recreational space; stress ABSTRAKHidup ditengah hiruk piruknya modernisasi perkotaan, gaya hidup yang tinggi, kondisi lingkungan yang padat, dan tuntutan pekerjaan membuat orang merasakan tekanan secara psikologis hingga semakin bertambahnya risiko stres terhadap masyarakat perkotaan. Selain itu, kemajuan teknologi yang pesat menyebabkan masyarakat metropolitan lebih mudah mendapatkan stressor (situasi penuh tekanan). Hal ini menyebabkan semakin sulitnya individu untuk menghadapi stres karena tuntutan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terus mempengaruhi di sekitar kita. Apabila mengalami stres berkepanjangan dapat mengakibatkan gangguan jiwa ringan seperti depresi dan gangguan kecemasan. Stres perkotaan tidak hanya disebabkan oleh kondisi personal seseorang namun juga dapat disebabkan oleh perkotaan yang tidak didukung dengan sarana dan prasarana untuk kenyamanan psikologis di perkotaan. Oleh sebab itu, proyek “Dialectic Healing Space – Ruang Kesadaran Dialektik” ini berusaha untuk mewujudkan ruang yang menjadi tempat untuk “terapi” dari berbagai kepenatan dan kesibukan perkotaan. Ruang yang dapat menjadi pengekspresian emosi bagi mereka yang mengalami stres. Desain ini mengusulkan wadah rekreasi berupa pengalaman ruang yang dapat mempengaruhi panca indera dan emosi pengunjung melalui berbagai media dialektik yang didedikasikan untuk mencapai proses healing sebagai bentuk dari respon positif membantu mengurangi tingkat stres pada masyarakat metropolitan dengan melakukan pendekatan melalui panca indera, interaksi fisik dan psikologis pengunjung. Rancangan menggunakan pendekatan melalui metode biophilic design.
PENGARUH KUALITAS PELAYANAN PENGELOLAAN KAWASAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN KAWASAN SCBD JAKARTA Gregorius Gerard; Nurahma Tresani; Nasiruddin Mahmud
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10098

Abstract

The global economy had been running dynamical in the last 5 years. Since, the emergence of the ASEAN Economic Community (AEC). COVID-19 also generate growth of digital economy platform. Unstable economic conditions have prompted the company's response to be more sensitive to consumer needs and responsive to changes in the market. SCBD as one of market leader in Jakarta’s CBD estate management Jakarta's CBD. The management of the SCBD area has responsibility operate the area properly and protect the area in the current situation and conditions. Service quality is an important component for a company. This study aims to determine the effect of area management service satisfaction on customer satisfaction in the SCBD Jakarta area using the Customer Satisfaction Index (CSI) method. Research shows that the CSI value of the SCBD area remains in the satisfactory category, but it still needs to be maintained while maintaining performance and improving the factors that still need to be improved. Regarding the pandemic, the factor of handling COVID-19 still needs to be maintained. In addition, there is a need for further discussion related to effective and efficient operational activities without sacrificing customer comfort. So, public trust can be improve and the activities in SCBD can be return as before. Keywords:  CBD; customer; estate; management; satisfaction; SCBD AbstrakPerekonomian Global memiliki dinamika yang sangat tinggi dalam 5 tahun terakhir, mulai dari munculnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), berkembangnya perekonomian digital, serta bertumbuhnya platform perekonomian digital yang antara lain dipacu oleh adanya pandemi COVID-19. Namun kondisi perekonomian yang tidak stabil, mendorong respon perusahaan untuk semakin peka terhadap kebutuhan konsumen dan tanggap menghadapi perubahan dalam pasar. SCBD sebagai salah satu CBD Jakarta tentunya turut terdampak  secara perekonomian. Pengelola kawasan SCBD mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk menjaga kawasan agar dapat beroperasi dengan baik pada situasi dan kondisi saat ini. Kualitas pelayanan merupakan komponen penting bagi perusahaan untuk dapat bertahan dalam bisnis. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepuasan pelayanan pengelolaan kawasan terhadap kepuasan pelanggan Kawasan SCBD Jakarta dengan metode Customer Satisfaction Index (CSI). Penelitian menunjukkan nilai CSI Kawasan SCBD tetap  berada dalam kategori memuaskan pada kondisi saat ini, namun hal tersebut tetap perlu dipertahankan dengan tetap menjaga performa serta memperbaiki faktor-faktor yang masih perlu ditingkatkan. Terkait adanya pandemi, faktor penanganan COVID-19 tetap perlu dipertahankan. Selain itu perlu adanya pembahasan lebih lanjut terkait kegiatan operasional yang efektif dan efisien tanpa mengorbankan kenyamanan pelanggan. Hal tersebut dilakukan agar kepercayaan masyarakat untuk dapat beraktivitas kembali di SCBD seperti sediakala dapat terbangun kembali.
UPAYA MENINGKATKAN PEREKONOMIAN DAN KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT KOTA TANGERANG MELALUI KERAJINAN TANGAN BAMBU Amiratri Ayu Poedyastuti; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10774

Abstract

As the times evolved, the problems that arise in social life are increasingly diverse, especially in urban areas which have a growing population, so the requirement of the community are also increasing. Unemployment is one of the big problems, especially in Banten province. Which of course can affect how the social life of the community and the individual. if not resolved, it will create vulnerability and have the potential to result in a bad economy or worse, lead to poverty. The development of the city of Tangerang as the largest city in Banten province, has the potential to raise a declining economy in Banten province. Seeing that there is an opportunity in the field of creative economy in the city of Tangerang, the locality method can accommodate activities for bamboo craftsmen which is the hallmark of the city of Tangerang. A place is needed for human interaction so that in addition to improving social life, it can improve the economy in the surrounding area, and can help the bamboo community who want to use the facility to develop the capabilities and local products of Tangerang city.Keywords : Economy; Human; Local; Unemployment.ABSTRAKSeiring berkembangnya zaman, permasalahan yang muncul dikehidupan sosial kian beragam, terutama pada daerah perkotaan yang memiliki jumlah penduduk yang terus bertambah maka kebutuhan masyarakat pun semakin bertambah. Pengangguran menjadi salah satu permasalahan yang besar terutama pada Provinsi Banten. Yang tentunya dapat mempengaruhi bagaimana kehidupan masyarakat dan individunya. Bila tidak diatasi akan menimbulkan kerawanan pada kehidupan sosial dan berpotensi mengakibatkan perekonomian yang buruk atau lebih parahnya lagi menyebabkan terjadinya kemiskinan. Perkembangan kota Tangerang sebagai kota terbesar di provinsi banten dapat berpotensi untuk membangkitkan perekonomian yang turun di provinsi Banten. Melihat adanya peluang dibidang ekonomi kreatif di kota Tangerang, metode lokalitas dapat mewadahi kegiatan bagi para pengrajin bambu yang menjadi ciri khas dari kota Tangerang. Diperlukan sebuah tempat untuk interaksi antar manusia sehingga selain memperbaiki kehidupan sosial, dapat memperbaiki perekonomian di wilayah sekitarnya, serta dapat membantu para komunitas bambu masyarakat sekitar yang ingin memanfaatkan fasilitas tersebut untuk  mengembangkan kemampuan dan produk lokal kota Tangerang.
KESESUAIAN RENCANA DETAIL TATA RUANG DKI JAKARTA 2030 DAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI CIPETE RAYA Dhaneswara Nirwana Indrajoga; B. Irwan Wipranata; Bambang Deliyanto; Priyendiswara Agustina Bela
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.11395

Abstract

City tourism (Urban Tourism) develops from year to year. City tours are very popular in major cities in the world such as Paris, New York, Singapore. It is also developing and developing by Indonesia, in this case Jakarta. This type of tourism can be stimulated by historical and cultural attractions, as well as shopping and event tours, as well as business trips. Much of the above also stimulates development. The tourism sector in DKI Jakarta Province also has a dominant role because it contributes around 13% of DKI Jakarta's Regional Original Revenue (PAD). For this reason, to advance the economy in DKI Jakarta, the government continues to develop the tourism sector, one of which is city tourism. South Jakarta Administrative City as a city that continues to develop, now approximately 2.2 million people live in South Jakarta. The city also has a growing tourism sector, including the urban tourism sub-sector. The choice of the Cipete Raya road area to be developed as a city tourism area is based on the policies of the South Jakarta Administration City Government, the development of culinary tourism activities in recent years, and accessibility because it is close to Cipete Raya. MRT station. The approach method used to solve this problem is to use a qualitative approach, such as tourism attributes and urban planning. The output of this research is in the form of an analysis of the trend of changes in the use of the Cipete Raya tourism area and its suitability with the Detailed Spatial Plan (RDTR 2030). Keywords:  City Tourism; Land Use; RDTR 2030; Suitability AbstrakPariwisata kota (Urban Tourism) berkembang dari tahun ke tahun. Wisata kota sangat populer di berbagai kota besar di dunia seperti Paris, New York, Singapura. Itu juga berkembang dan dialami oleh Indonesia dalam hal ini Jakarta. Jenis wisata ini dapat dirangsang oleh atraksi sejarah dan budaya, serta wisata belanja dan acara, serta perjalanan bisnis. Banyak hal di atas juga merangsang perkembangan. Sektor pariwisata di Provinsi DKI Jakarta juga memiliki peran dominan karena menyumbang sekitar 13% dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta. Untuk itu, untuk memajukan perekonomian di DKI Jakarta pemerintah terus mengembangkan sektor pariwisata, salah satunya pariwisata kota. Kota Administratif Jakarta Selatan sebagai kota yang terus berkembang, sekarang kurang lebih 2,2 juta orang tinggal di Jakarta Selatan. Kota ini juga memiliki sektor pariwisata yang berkembang termasuk sub sektor pariwisata kota. Pemilihan kawasan jalan Cipete Raya untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata kota didasarkan pada kebijakan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan, perkembangan kegiatan wisata kuliner beberapa tahun terakhir, serta kemudahan aksesibilitas karena dekat dengan Cipete Raya. Stasiun MRT. Metode pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif, seperti penyesuaian atribut pariwisata dan juga penataan kota. Output dari penelitian ini berupa analisis tren perubahan penggunaan lahan kawasan pariwisata kota Cipete Raya dan kesesuaiannya dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR 2030).
RUANG KOMUNITAS DIGITAL DAN BUDAYA Claresta Felicia; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10811

Abstract

The issue of covid 19 emerged in 2019 which affected the arrangement of space and the way humans interact. Increasing human dependence on digital media now that will lead to the industrial era 5.0. The needs for both students and work are high, technology inequality in each region. The density of the population and buildings, as well as open space which is only 9.98% is not sufficient for space. Furthermore, it is predicted that 65% of people will live in urban areas by 2050. Based on time, the human way of life will change towards industry 5.0. Digital will play an important role. Human being is important. Human activities that have meaning. In Setu village, Betawi cultural activities are quite thick. The Baritan ceremony is an activity that supports the sustainability of the building. Being and time is modified between culture and technology to produce new experiences. Design method with stages a) Setu environment; b) Issues and issue resolution concepts; c) Design Concept; d)Site Selection and Selected Sites; e) Site; f) Building Mass Concept; g) Zoning and Space Program; h) Facades, exteriors and interiors. The conclusion is the design of the Digital and Cultural Community Space by applying the Contextual concept with the Neo Vernacular style. Keywords: community; covid; culture; digital; industryAbstrakIsu covid 19 muncul ditahun 2019 yang mempengaruhi susunan ruang dan cara manusia berinteraksi. Meningkatkan ketergantungan manusia terhadap media digital sekarang yang akan menuju era industri 5.0. Kebutuhan dari sisi pelajar maupun bekerja tinggi, ketidakmerataan teknologi di setiap daerah. Padatnya penduduk dan bangunan, serta ruang terbuka yang hanya 9.98% tidak mencukupi kebutuhan ruang. Ditambah lagi diprediksikan adanya 65% masyarakat akan tinggal di perkotaan tahun 2050. Berdasarkan waktu, cara hidup manusia akan berubahan menuju industri 5.0. Digital akan mengambil peran penting. Keberadaan manusia penting atau juga being. Aktivitas manusia yang memiliki arti. Di kelurahan Setu, aktivitas budaya Betawi cukup kental. Adanya upacara Baritan sebagai salah satu aktivitas sebagai event yang mendukung keberlangsungan bangunan. Being and time ini dimodifikasi antara kultur dan teknologi menghasikan pengalaman baru. Metode perancangan dengan tahapan a)Lingkungan Setu; b) Isu dan konsep penyelesaian isu; c)Konsep Perancangan; d)Pemilihan Tapak dan Tapak Terpilih; e) Tapak; f)Konsep Massa Bangunan; g) Zoning dan Program Ruang; h)Facade, eksterior, dan interior. Kesimpulan perancangan Ruang Komunitas Digital dan Budaya dengan menerapkan konsep Kontekstual dengan gaya Neo Vernakular. 
PASAR LAYAR BERBASIS E-COMMERCE Rewindy Astari Surbakti; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10805

Abstract

The 21st century is known as the industrial revolution 4.0 which changes the economy among people who grow together with modernity and technology systems. It proves that the development of human thinking on creativity will greatly affect the development of the creative economy, but this has made the market begin to be abandoned by new generations and switch to e-commerce systems. The existence of an epidemic that has begun to spread in people's lives is also one of the factors that have changed the world economy and made the market begin to be abandoned. Changes in the world economy will require revitalization so that this is used as a foundation in the formation of the Screen Market integrated with the digital system to polarize the economy. The new generation is the key to the development and balance of the economy in technology, this is in line with the entrepreneurial nature and character of the new generation, which makes them prefer to develop as start ups. The revitalization of the economic center will become a forum for interaction with the surrounding environment so that the characteristics of the formation of interaction space are the basis and the beginning of the screen market. The screen market is located on Jl Arjuna Utara which is surrounded by malls, offices, universities, making the type of retail being marketed a creative sub-sector, namely culinary with local products, fashion retail, and also craft retail managed by start ups so it is hoped that the screen market can accommodate interaction and creatively combined with digital developments. Keywords: Economy; Market; New Generation; Technology. Abstrak Abad ke-21 dikenal dengan terjadinya revolusi industri 4.0 yang mengubah  perekonomian  di kalangan masyarakat yang bertumbuh bersama dengan sistem modernitas dan juga teknologi. Membuktikan bahwa perkembangan pemikiran manusia terhadap kreativitas akan sangat memengaruhi perkembangan ekonomi kreatif tetapi hal ini menjadikan pasar mulai ditinggalkan oleh generasi baru dan beralih pada sistem e-commerce. Adanya wabah yang mulai merambat dikehidupan masyarakat juga menjadi salah satu faktor yang merubah perekonomian dunia dan menjadikan pasar mulai ditinggalkan. Perubahan perekonomian dunia ini akan membutuhkan revitalisasi sehingga hal ini dijadikan sebagai landasan pijakan dalam pembentukan Pasar Layar yang dipadukan dengan sistem dari digital sebagai polarisasi perekonomian. Generasi baru merupakan kunci dari perkembangan dan keseimbangan perekonomian dalam teknologi, hal ini sejalan dengan sifat dan watak entrepreneur yang dimiliki oleh generasi baru sehingga menjadikan mereka lebih memilih berkembang sebagai start up. Revitalisasi pusat perekonomian ini akan menjadi wadah interaksi dengan lingkungan sekitar sehingga adanya karakteristik pembentukan ruang interaksi sebagai dasar dan awal dalam pasar layar. Pasar layar berada di Jl. Arjuna Utara yang dikelilingi oleh mall, kantor, universitas menjadikan jenis retail yang dipasarkan merupakan subsektor kreatif yaitu kuliner dengan produk lokal, retail fashion dan juga retail kriya yang dikelola start up sehingga diharapkan Pasar Layar mampu menampung antara interaksi dan kreatif  yang dipadukan dengan perkembangan digital.
RUANG BERBUDAYA BETAWI KEMAYORAN Sylvia Sylvia; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10747

Abstract

Rapid development of technology in Indonesia has made foreign culture easier to enter and this has made local culture in Indonesia less attractive to new generations. The capital city of Jakarta is the main entrance for foreign cultures to enter, one of the most affected cultures is Betawi culture. Not only due to technological developments, there are also problems with the lack of exploration of the Betawi community space that has been provided in Jakarta. As a result, Betawi culture is increasingly eroded and forgotten with a new culture and it will end up as history, which will gradually disappear from the process of future habitation., which will gradually disappear from the process of future habitation. To fix this situation, a change in the way of living is needed. Starting from changing the daily patterns of the new generation which are usually only carried out during events and in certain areas, into an activity that can invite all generations to enjoy and re-develop Betawi culture so that it is not eroded by foreign cultures. By providing a space for the Betawi community to attract and bind the interests of human current generation, a new hybrid culture can be created. Therefore, Kemayoran Betawi cultural section was designed, this new space will use everydayness and approaching methods to the problems of the existing developments by utilizing the increasingly sophisticated developments in information technology. Apart from preserving Betawi culture, this space can also be used as a provider of new jobs, recreation and education facilities for the local community.  Keywords:  technological development; community; Betawi culture AbstrakPerkembangan teknologi yang pesat di Indonesia, membuat budaya asing lebih mudah masuk dan hal ini menyebabkan budaya lokal menjadi kurang diminati oleh generasi baru. Ibu kota Jakarta merupakan pintu masuk utama masuknya kebudayaan asing, salah satu kebudayaan yang terpengaruh besar adalah kebudayaan Betawi. Tidak hanya akibat perkembangan teknologi saja, terdapat juga permasalahan akan kurang tereksplornya ruang komunitas Betawi yang telah disediakan di Jakarta. Akibatnya kebudayaan Betawi semakin tergerus dan terlupakan yang akan berakhir menjadi sejarah yang lama kelamaan akan menghilang diproses berhuni masa depan. Untuk mengatasi permasalahan ini, dibutuhkan perubahan cara berhuni penduduk. Dimulai dari mengubah pola keseharian generasi baru yang biasanya hanya dilakukan saat acara dan pada area tertentu saja, menjadi sebuah kegiatan yang dapat mengajak semua generasi agar dapat ikut menikmati dan mengembangkan kembali kebudayaan Betawi agar tidak tergerus oleh kebudayaan asing. Dengan memberikan sebuah wadah ruang komunitas Betawi untuk menarik dan mengikat ketertarikan masyarakat generasi sekarang, dapat memunculkan sistem berhuni dengan budaya hybrid baru. Oleh sebab itu, dirancanglah sebuah ruang berbudaya Betawi Kemayoran, dimana ruang baru ini akan menggunakan metode everydayness dan approaching terhadap permasalahan perkembangan zaman yang ada dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih. Selain melestarikan kebudayaan betawi, ruang ini juga bisa digunakan sebagai penyedia sarana kerja, rekreasi, dan edukasi baru bagi masyarakat setempat.
STRATEGI PERANCANGAN DESAIN KERUANGAN HUNIAN VERTIKAL DI MASA PANDEMI COVID-19 Martinus Dyon Lesmana; Dewi Ratnaningrum; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10766

Abstract

The Covid-19 pandemic makes vertical housings vulnerable to mental health problems for residents. The cause of this problem is due to the small size of space, which is shrinking due to changes in urban patterns, which are not able to meet the needs of residents. The resident needs that are usually obtained outside the housing cannot be achieved due to social distancing or the lockdown. The closure of access also makes the residence must be able to become a place of work and entertainment space. As a result, the small dwellings are getting more and more cramped to live in. This problem encourages changes in new housing patterns that take into account the needs of each occupant. The use of a multidisciplinary approach by combining human psychology theory with architectural design theory is able to provide solutions in forming new residential patterns. Maslow's theory of human needs and Ray Oldenburg's theory of the Three Realms of Space form the basis of theory in designing. The design result is a residential unit module design that has all component place by Ray Oldenburg and fulfills Maslow's pyramid theory of needs. Key words: Covid-19 pandemic; Housing Pattern; Human Needs; Shrinking Space; Three Realms of Space AbstrakPandemi Covid-19 membuat hunian-hunian vertikal menjadi rentan terhadap permasalahan kesehatan mental penghuninya. Penyebab permasalahan ini dikarenakan ruang dengan ukuran kecil, yang menyusut akibat perubahan pola kota, yang tidak mampu memenuhi kebutuhan penghuni. Kebutuhan yang biasanya didapatkan di luar hunian menjadi tidak dapat dijangkau karena adanya social distancing hingga lockdown. Penutupan akses juga membuat hunian harus mampu beradaptasi menjadi tempat kerja dan tempat hiburan. Akibatnya hunian yang kecil semakin sesak untuk ditinggali. Permasalahan ini mendorong perubahan pola hunian baru yang mempertimbangkan kebutuhan masing-masing penghuni. Penggunaan metode pendekatan multidisiplin dengan menggabungkan teori psikologi manusia dengan teori desain arsitektural mampu memberikan solusi dalam membentuk pola hunian baru. Teori Maslow tentang kebutuhan manusia dan teori Ray Oldenburg tentang Three Realms of Space menjadi dasar teori dalam merancang. Hasil rancangan berupa desain modul unit hunian yang memiliki karakteristik ketiga tempat oleh Ray Oldenburg dan memenuhi teori piramida kebutuhan Maslow.

Page 1 of 11 | Total Record : 102