cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 102 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2021): APRIL" : 102 Documents clear
RUANG TRANSIT PENGEMBARA DIGITAL DI DAERAH BLOK M, JAKARTA Brandon Chandra; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10767

Abstract

Human life in the future, not far from technology, technology encourages humans to adapt to their life patterns. Technology affects the working system, where the term Digital Nomad, or what can be called digital nomads, appears, those who work by moving places, by utilizing technology so that everything can be done only with an internet connection and electronic devices. The term Digital Nomad is not far from inhabited, because it talks about lifestyle, the problem of moving life patterns like this, creating empty spaces which must be filled according to the seasons, and according to the needs of workers, who must be able to answer places to live in, work, run hobbies, and playing, therefore, the focus of this project is to answer the problem of living in, as well as indirectly making a public place for local people to know the term Digital Nomad. By being located in Blok M which is a creative location with a TOD (Transit Oriented Development) system that focuses on being the best environment for pedestrians who maximize walking territory, thus supporting projects to be useful and can be enjoyed by Digital Nomads and local people who want to know and learn, and still  paying attention to the contextual value of Blok M, in the year 2035. By determining the pattern of life, so the goals of this project will be achieved.Keywords: Blok M; Dwelling; Digital Nomad; TOD AbstrakKehidupan manusia dimasa yang akan datang, tidak jauh dari teknologi, teknologi mendorong manusia untuk beradaptasi dengan pola hidupnya. Teknologi mempengaruhi sistem dalam bekerja, dimana muncul istilah Digital Nomad, atau bisa disebut pengembara digital, mereka yang bekerja dengan berpindah tempat, dengan memanfaatkan teknologi sehingga semua bisa dilakukan hanya dengan bermodalkan koneksi internet dan alat elektronik. Istilah Digital Nomad tidak jauh dari berhuni, karena berbicara tentang pola hidup, permasalahan dari pola hidup berpindah ini, menciptakan ruang ruang kosong dimana harus diisi sesuai dengan musim, dan sesuai dengan kebutuhan para pekerja, yang harus bisa menjawab tempat berhuni, bekerja, menjalankan hobi, dan bermain, maka dari itu, fokus dari proyek ini menjawab permasalahan berhuni , juga secara tidak langsung menjadikan tempat untuk masyarakat lokal mengetahui istilah Digital Nomad. Dengan berlokasi di Blok M yang merupakan lokasi kreatif dengan sistem TOD (Transit Oriented Development) berfokus untuk menjadi tempat yang tepat bagi pejalan kaki yang memaksimalkan pedestrian, sehingga mendukung proyek agar menjadi bermanfaat dan bisa dinikmati oleh Digital Nomad dan masyarakat lokal yang ingin belajar dengan tetap memperhatikan nilai kontekstual dari Blok M, di tahun 2035. Dengan merumuskan pola hidup para pengembara maka dapat tercapai tujuan akhir proyek ini.
RUANG KERJA DAN RELAKSASI BIOFILIK MASA DEPAN DI TUGU UTARA Yoseph Michael Chandra; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10776

Abstract

In dwelling, humans will always adapt to all changes that occur to stay alive and exist. With the COVID-19 pandemic, there have been many changes, one of which is in the way we work. Responding from WFH (Work From Home) to the COVID-19 Pandemic and Future Work Trends (remote working) which cause various problems (anxiety, loss of restroom, etc.) and the need to work, there is a need for projects that can accommodate Work Near Home, Relaxation, Social Interaction, and Connection to Nature. The Project consists of two programs, namely active and passive leisure programs, and co-working. The project also responds primarily to the millennial generation and Gen Z workers. Where it is hoped that these two programs can maintain a work-life balance and balance between the realm, natural, and digital world. For the applied design concept, the project has a cluster typology. Each cluster consists of several masses, varied programs, and each space becomes its mass. The Biophilic concept is also applied to design. The first aspect is Visual & Non-visual Connection to Nature, by presenting vegetation elements around the site and around the mass of the building, which aims to create a new work experience and relaxation. The second aspect is Biomorphic Form & Pattern, where the patterns formed are representations of living things. The building masses is inspired by the leaves of the lotus plant which influence the shape, size, and placement of the masses. The water element is added to create a floating impression like a lotus. So that with the creation of this project, it can fulfill dwelling in work and relaxation. Keywords: Bio-Philic; Cluster; COVID-19; Work Near Home Abstrak Dalam ber-dwelling, manusia akan selalu beradaptasi terhadap segala perubahan yang terjadi agar dapat tetap hidup dan ada (exist). Dengan adanya Pandemi COVID-19, menciptakan banyak perubahan, salah satunya terhadap cara kita bekerja. Merespon dari WFH (Work From Home) akan Pandemi COVID-19 dan Trend Bekerja Masa Depan (remote working) yang menimbulkan berbagai masalah (anxiety, kehilangan ruang istirahat, dll) dan kebutuhan akan bekerja, maka muncul kebutuhan akan proyek yang dapat mewadahi Work Near Home Relaksasi, Interaksi Sosial serta Koneksi Ke Alam. Proyek ini terdiri atas dua program yaitu program Leisure aktif dan pasif serta Co-working. Proyek pun merespon terutama terhadap pekerja generasi milenial dan gen Z. Kedua program tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan work life balance serta keseimbangan antara dunia realita, alam dan digital. Untuk konsep desain yang diterapkan, proyek memiliki tipologi kluster. Setiap kluster terdiri atas beberapa massa, program yang bervariasi dan setiap ruang menjadi massa sendiri. Konsep Biofilik juga diterapkan pada rancangan. Aspek pertama adalah Visual & Non visual Connection to Nature, dengan menghadirkan elemen vegetasi pada sekeliling tapak dan sekitar massa bangunan, yang bertujuan menciptakan pengalaman kerja dan relaksasi baru. Aspek kedua adalah Biomorphic Form & Pattern, melalui pola-pola yang terbentuk sebagai representasi dari makhluk hidup. Massa Bangunan terinspirasi dari daun tanaman teratai yang mempengaruhi bentuk, ukuran dan peletakan massa. Elemen air pun ditambahkan untuk menciptakan kesan mengambang layaknya teratai. Sehingga dengan terciptanya proyek ini, dapat memenuhi dwelling dalam bekerja dan relaksasi.
SANTA.Y - SEBUAH PASAR TRADISIONAL BARU Amanda Ineza Gandasasmita; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10828

Abstract

The Covid-19 pandemic case, which until now has no solution, causes us to live in the new normal era. But this new normal era has not completely prevented the spread of Covid-19. Many areas are feared to become new clusters of deployment and one of them is traditional markets. For millions of people in Indonesia, traditional markets are on average the first place to shop for daily necessities, apart from being more affordable than supermarkets, there is an opportunity to bargain on prices. Since the outbreak of the Covid-19 case, the income of traders has decreased because people are afraid to shop at traditional markets for reasons that health and hygiene are not guaranteed. Many new policies in the new normal era have not helped to restore the economy of traders and are also exacerbated by a lack of public understanding Covid-19. Santa modern market is one of the thematic markets which is quite well known, but over time, Santa modern market is starting to be abandoned. Then it is also exacerbated by the influx of pandemic which causes economic losses to its traders. So, this project is trying to make a new face about traditional markets in Indonesia and also presents a solution for the traditional market of the future. With a green concept in buildings and implementing a cross-ventilation system to prevent the spread of Covid-19, this project goals is to “Santa modern market” able to dwell during a pandemic to the future. Keywords: Covid-19; Dwelling; New Normal; Traditional Market Abstrak Kasus pandemi Covid-19 yang sampai sekarang belum ada solusinya menyebabkan kita harus hidup di era new normal. Tetapi era ini belum sepenuhnya dapat mencegah penyebaran Covid-19. Banyak area yang dikhawatirkan akan menjadi cluster baru penyebaran dan salah satunya adalah pasar tradisional. Untuk jutaan orang di Indonesia, pasar tradisional rata-rata menjadi tempat pertama untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, selain karena harganya yang lebih terjangkau dibanding pasar swalayan, ada keesmpatan untuk tawar menawar harga. Semenjak maraknya kasus Covid-19, pendapatan pedagang menurun karena masyarakat takut untuk berbelanja ke pasar tradisional dengan alasan kesehatan dan kebersihan yang belum terjamin. Banyak kebijakan baru di era new normal yang ternyata tidak membantu untuk mengembalikan ekonomi para pedagang dan juga diperparah dengan kurangnya pemahaman masyarakat tentang bahaya Covid-19. Pasar Santa merupakan salah satu pasar tematik yang cukup terkenal tetapi seiring berjalannya waktu, pasar Santa mulai ditinggalkan. Kemudian hal ini juga diperparah dengan masuknya pandemi yang menyebabkan kerugian ekonomi para pedagangnya. Sehingga proyek ini berusaha untuk membuat suatu wajah baru tentang pasar tradisional di Indonesia dan juga menghadirkan suatu solusi untuk pasar tradisional di masa depan. Dengan konsep hijau di dalam bangunan dan menerapkan sistem cross-ventilation­ untuk mencegah penyebaran Covid-19 bertujuan untuk menjadikan pasar Santa untuk dapat ber-dwelling di tengah pandemi hingga masa depan.
PERANCANGAN ARSITEKTUR RUANG LIMINAL ANTARA SEBUAH DUALISME (BERTANI DAN MELAUT) Michael Gideon Josian; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10770

Abstract

The future of dwelling has a very board context and will continue to be discussed, it is possible that the discussions about “dwelling” is come from the environment of farming and fishing. Things that are not much cared for but still have a role in the survival of the world. Therefore this matter will be discussed using the role of architecture as space, to be able to create an ideal system by paying attention to the quality of farming and fishing for the future, and leaving a trace or memory to be able to carry messages for the future. Talking about the future of an interaction that occurs between the general public and farmers and fishermen, especially considering that farmers and fishermen themselves can be compared to two different poles, a liminal space is needed, which may already exist indirectly in the environment. By letting go of individual egos and emphasizing ego to the point of view of farmers and fishermen. To present a common space, or a place that contains a special character of a city that contains a message for the future. Keywords:  dualism; hope; liminal; trace;  Abstrak Masa depan cara berhuni memiliki konteks yang sangat luas dan akan terus diperbincangkan. Tidak menutup kemungkinan datang dari pembahasan mengenai cara berhuni dengan bertani dan melaut. Hal yang tidak banyak dipedulikan tetapi tetap memiliki peran dalam kelangsungan dunia. Oleh karena itu, masa depan berhuni ini akan dibahas dengan menggunakan peran arsitektur sebagai ruang, untuk dapat menciptakan sistem yang ideal dengan memperhatikan kualitas bertani dan melaut bagi masa depan, dan meninggalkan sebuah jejak atau kenangan untuk dapat membawa pesan bagi masa depan. Berbicara mengenai masa depan dari sebuah interaksi yang terjadi antara masyarakat umum dengan para petani dan nelayan, apalagi mengingat para petani dan nelayan itu sendiri dapat diibaratkan berada pada kedua kutub yang berbeda, maka dibutuhkanlah sebuah ruang liminal, yang mungkin sudah hadir secara tidak langsung pada lingkungan masyarakat. Dengan cara melepaskan ego individual dan menekankan ego kepada sudut pandang para petani dan nelayan. Untuk menghadirkan sebuah ruang bersama, atau sebuah tempat yang mengandung sebuah karakter tersendiri dari sebuah kota yang berisi pesan bagi masa depan.
PONDOK PEDULI ANAK JALANAN Lavia Lavia; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10902

Abstract

The condition of a child who does not have parents or a guide in life will be difficult to develop and grow well. It takes the right place for children to study together regardless of race, economy, and other problems. A place that becomes a home for children to learn and play together with the right people and understand very well about children's problems. Even parents always hope that their children can grow up to be children who have good and healthy personalities. But of course parents themselves are not perfect creatures who can teach it all. Because humans have their own skills and talents. Respectively Even having parents, there is no guarantee that parents really understand the child's condition. Very often parents do not understand or even pay less attention which of course affects the child's growth and development. Because humans naturally need other people to be role models or examples in their life. One solution that can address this problem is by designing a halfway house for street children that has appropriate facilities for child development, is environmentally friendly, and is located close to where street children are. Street children generally earn money on streets close to public transportation locations. some street children have been handled by an orphanage. However, the facilities and the number of orphanages are not proportional to the number of street children. So that not all street children can be handled properly. Designs are made not only for theoretical learning but also for developing other types of children's intelligence. The process of form and space is made according to the needs that will be needed by children in terms of health, hobby distribution, social interaction, and education. So that children can feel learning is not just a theory but can also be channeled into other forms of activity. Keywords: develop and grow well; house for street children; personalitites AbstrakKondisi anak yang tidak memiliki orangtua maupun penuntun dalam hidupnya akan sulit untuk berkembang dan tumbuh dengan baik. Diperlukan tempat yang tepat untuk anak dapat belajar bersama tanpa memandang ras, ekonomi, dan masalah lainnya. Tempat yang menjadi rumah untuk anak belajar dan bermain bersama dengan orang yang tepat dan paham betul tentang persoalan anak.  Orangtua sekalipun selalu berharap anaknya dapat tumbuh menjadi anak yang memiliki kepribadian baik dan sehat. Tetapi tentunya orangtua sendiri bukan mahkluk sempuran yang dapat mengajarkan itu semua. Karena manusia memiliki keahlian dan bakat masing – masing. Bahkan memiliki orangtua sekalipun tidak ada jaminan orangtua mengerti betul tentang kondisi anak. Sering sekali orangtua kurang memahami atau bahkan kurang memberikan perhatian yang tentu saja berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Karena sewajarnya manusia memerlukan orang lain untuk menjadi panutan atau contoh dalam hidupnya. Salah satu solusi yang dapat menangani masalah tersebut dengan merancang rumah singgah untuk anak jalanan yang memiliki fasilitas yang sesuai untuk perkembangan anak ,ramah lingkungaan, serta letaknya dekat dengan dimana anak jalanan berada. Anak jalanan pada umumnya mencari uang dijalan berdekatan dengan lokasi transpotasi umum. beberapa anak jalanan sudah di tangani oleh panti asuhan. Akan tetapi, fasilitas serta jumlah panti asuhan tidak sebanding dengan jumlah anak jalanan. Sehingga tidak semua anak jalanan dapat tertangani dengan baik. Rancangan dibuat tidak hanya untuk belajar secara teori melainkan mengembangkan jenis kecerdasaaan anak lainnya. Proses bentuk dan ruang dibuat menyesuaikan dengan kebutuhan yang  akan dibutuhkan anak dari segi kesehatan, penyaluran hobi, interaksi sosial, dan edukasi.  Sehingga anak dapat merasakan belajar tidak hanya sekedar teori akan tetapi juga dapat disalurkan dalam bentuk aktivitas lainnya. 
HOTEL RESOR DI PANTAI MAJU SEBAGAI WATERFRONT ARCHITECTURE DENGAN PENDEKATAN METAPHORE Danang Widiatmoko
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10267

Abstract

Pantai Maju is one of the islands on the north coast of Jakarta as a result of sea reclamation, so that the land in Pantai Maju is surrounded by marine waters, which architecturally represent an interesting natural potential. Designing a resort hotel on Pantai Maju will be interesting by applying waterfront architecture concept, especially on sites that are on the water side or sea side. A metaphorical approach needs to be done in architectural design, because with the location on the waterfront, it is very interesting if the figure of the resort hotel building has a strong form identity. The design method used is a series of design stages, starting from site potential analysis; analysis of design concepts; space program analysis; circulation analysis; analysis of the building mass. The conclusion of the design is a resort hotel in Pantai Maju which applies the concept of waterfront architecture and architecture metaphore. Keywords: hotel; metaphore; reclamation; resort; waterfrontAbstrakPantai Maju adalah salah satu pulau di pantai utara Jakarta sebagai hasil dari reklamasi laut, sehingga daratan di Pantai Maju dikelilingi oleh perairan laut, yang secara arsitektur merupakan potensi alam yang menarik. Perancangan Hotel Resor di pantai Maju sangat tepat apabila menerapkan konsep waterfront, terutama pada tapak yang berada di tepi perairan. Pendekatan metafora perlu dilakukan dalam perancangan arsitekturnya, sebab dengan lokasi tapak yang berada di tepi perairan, sangat menarik apabila sosok bangunan (figure) hotel resor tersebut mempunyai identitas bentuk yang kuat. Metode perancangan yang digunakan adalah; a) Segmen Kawasan Pantai Indah Kapuk; b) Diagram Isu Kawasan dan Konsep Penyelesaian Isu; c) Analisis Konsep Perancangan; d) Analisis Pemilihan Tapak dan Tapak Terpilih; e) Analisis Tapak; f) Konsep Massa Bangunan; g) Konsep Metafora; h) Zoning dan Program Ruang; i) Façade, Eksterior dan Interior. Kesimpulan dari perancangan adalah Hotel resort di Pantai Maju yang menerapkan konsep waterfront architecture, dan architecture metaphore.
SARANA OLAHRAGA DAN PUJASERA “LOOP” Maria Carol; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10796

Abstract

The emerge of the new generations intensify the change of lifestyle and growth. This phenomenon can be seen from people’s awareness of health, especially in sport and food they’re consume. This is also catalysed by the world’s pandemic, Covid-19. On the other hand, there’re still inadequate facility and support (low supply), compared to people’s urge to participate in sport and healthy living (high demand), and also the fast foods’ or junk foods’ high supply. Therefore, spaces and facilities are needed to accommodate the people’s and the new generation’s urge for a better living ahead. Using hybrid method, two different system can be conjoined, developing a new system so that one can enjoy, appreciate, and their needs become accommodated. The union between the indoor & outdoor sport facility and the food area providing choices of healthy foods will become one-of-a-kind attraction to the visitors and users. Keywords: Facility, Food; Healthy Living; Generations; Sport  AbstrakMunculnya generasi baru memperkuat perkembangan dan pergeseran pola hidup. Fenomena ini dapat dilihat dari mulai meningkatnya kesadaran akan pentingnya cara hidup sehat, khususnya olahraga dan asupan makanan sehat. Hal ini kemudian dipercepat lagi perkembangannya dengan adanya pandemi Covid-19 ini. Namun fasilitas dan penunjang pola hidup seperti ini masih jauh lebih sedikit (low supply) dibanding dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam sektor olahraga (high demand) dan tingginya supply makanan cepat saji (high supply) yang kurang sehat yang dapat dilihat dari tingkat pengeluaran per kapita masyarakat terhadap makanan cepat saji. Oleh karena itu dibutuhkannya wadah dan fasilitas yang diharapkan dapat mengakomodasi pergeseran gaya hidup generasi kini maupun yang akan datang. Dengan menggunakan metode hybrid, wadah yang dibutuhkan dapat digabungkan sehingga menghasilkan suatu wadah yang baru yang kemudian dapat digunakan untuk menikmati, mengapresiasi, serta mewadahi kedua sektor tersebut. Kesatuan antara fasilitas olahraga baik dalam ruang maupun luar ruang dan area pujasera yang menyediakan makanan-makanan yang juga ikut mendukung pola hidup sehat, dapat menjadi daya tarik tersendiri dari bangunan bagi pengunjung dan pengguna.
KOMUNITAS SOSIAL “SIGER” DI LAMPUNG Hiskia Given Stehan; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10758

Abstract

Basically, humans are not far from all kinds of things that are related to social matters, both personally and in groups, and have been around for centuries, which have been summarized or adhered to by the traditions that characterize humans in a place. However, over time, the early traditions became lost and replaced in the form of global modernization which indirectly changed the form of early social activities. Because of this shift in social activities, the relationship with the community at the top level shifted slightly because the traditional relationship also shifted. It is the problem that has arisen as a result of this shift that causes human dwelling begin to change. Therefore, the aim of this result is to fuse social problems between the community at the top level and the surrounding community with modern forms within the scope of traditions which are the source of social life. Because within the scope of the people of Lampung, the unifier of the community is the symbol of Siger which will be the center of the design results.Keyword: Dwelling; Humans; Modernization; Siger; Traditions Abstrak Manusia pada dasarnya tidak jauh dari segala macam hal yang bersangkutan pada hal sosial, baik secara personal dan kelompok, dan sudah ada sejak dari abad lama yang dirangkum atau dianut secara adat tradisi yang menjadi ciri khas manusia di suatu tempat.  Namun seiring berjalannya waktu, tradisi awal menjadi menghilang tergantikan dalam bentuk modernisasi dari global yang secara tidak langsung mengganti bentuk kegiatan sosial awal. Karena adanya pergeseran kegiatan sosial tersebut, maka hubungan dengan masyarakat dengan tingkat atas sedikit bergeser karena hubungan tradisi yang juga bergeser. Masalah yang timbul akibat pergesaran inilah yang membuat bentuk berhuni manusia mulai berubah. Maka dari itu, tujuan dari hasil ini untuk melebur masalah sosial antara masyarakat dengan tingkat teratas maupun masyarakat sekitarnya dengan bentuk yang modern dalam lingkup adat tradisi yang menjadi sumber kehidupan bersosial. Karena dalam lingkup masyarakat Lampung, maka sebagai pemersatu masyarakat adalah berlambang Siger yang akan menjadi pusat dari hasil perancangan.
RUMAH SINGGAH DIGITAL KOMUNITAS DESAIN Rakha Winggal Prafitrarto; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10913

Abstract

Alternative forms of housing continue to develop along with the emergence of various problems from the massive vertical housing development in cities today, ranging from physical problems to the area to social problems among residents of vertical housing themselves. The domination of private space and the lack of public space has created a passive residential environment with minimal interaction. This has resulted in a lack of social control among residents who have made vertical housing a place that is prone to crime, such as several apartments in Jakarta which are known as locations for hidden prostitution, and even suicides. The city of Jakarta is one of the cities that has experienced massive vertical housing development. There needs to be a solution to solve settlement problems in the city of Jakarta through the scientific field of architecture with the concept of digital housing for communities. The purpose of this study is to implement the concept of digital shelter for communities supported by supporting theories oriented to human interaction in an architectural design object system in the form of vertical housing supported by digital equipment or technology. Keywords: Digital; Interactive; Living AbstrakAlternatif bentuk hunian terus berkembang seiring dengan timbulnya beragam permasalahan dari pembangunan hunian vertikal yang masif di perkotaan saat ini, mulai dari permasalahan fisik bangunan terhadap kawasan hingga permasalahan sosial di antara penghuni hunian vertikal sendiri. Dominasi ruang privat dan minimnya ruang publik telah menciptakan lingkungan hunian yang pasif dan minim interaksi. Hal ini menimbulkan kurangnya kontrol sosial di antara penghuni yang telah menjadikan hunian vertikal sebagai tempat yang rawan akan tindak kriminalitas, seperti beberapa apartemen di Kota Jakarta yang dikenal sebagai lokasi prostitusi terselubung, bahkan kasus bunuh diri. Kota Jakarta merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan hunian vertikal yang cukup massif. Perlu adanya solusi untuk menyelesaikan permasalahan permukiman di Kota Jakarta melalui bidang keilmuan arsitektur dengan konsep hunian digital untuk komunitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengimplementasikan konsep Hunian digital untuk Komunitas yang didukung oleh teori-teori pendukung yang berorientasi pada interaksi manusia di dalam sistem objek perancangan arsitektur berupa hunian vertikal yang di dukung dengan peralatan atau teknologi digital.
ARSITEKTUR SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KECERDASAN ANAK Nathania Shareen Rimbani; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10726

Abstract

Kehidupan manusia di dunia tidak bisa terlepas dari lingkungannya yang terus berkembang seiring berkembangnya teknologi. Pendidikan menjadi salah satu cara dalam meningkatkan kualitas sumber daya yang mampu beradaptasi dan berkompetisi dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup dalam perkembangan lingkungan di dunia. Tujuan pendidikan nasional jelas menyampaikan bahwa pendidikan dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan rakyatnya baik itu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EI) dan kecerdasan spiritual (SI). Namun dalam praktiknya, institusi pendidikan lebih mengarah pada peningkatan IQ, melupakan EI dan SI yang sebenarnya tidak bisa terlepaskan satu dengan yang lainnya. Perubahan akibat digitalisasi dalam konsep pendidikan ini memunculkan suatu permasalahan dasar secara spasial yaitu perubahan tipologi sekolah atau ruang kegiatan sebagai lingkungan belajar. Bentuk arsitektur pendidikan anak yang dapat mengakomodasi kebutuhan emosional dan akademis anak berdasarkan kecerdasannya menjadi permasalahan desain utama. Sekolah Pukka Cisauk merupakan fasilitas pendidikan untuk anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dalam mendukung peningkatan kecerdasan pada anak demi kualitas kehidupan yang lebih baik. Sistem pendidikan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis proyek (PBL) dengan proses pembelajaran menitikberatkan pada siswa. Perbedaan identitas setiap individu diakomodasi dalam pembentukan ruang berdasarkan 8 kecerdasan majemuk yang diintegrasikan dengan prinsip belajar kolaboratif, kreatif, partisipatif, pengalaman, multiliterasi, personalisasi, menyenangkan dan interdisiplin dalam mencapai tujuan membentuk anak yang produktif, afektif dan kreatif.

Page 3 of 11 | Total Record : 102