cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
EMPATI ARSITEKTUR DALAM PENINGKATAN KOMPETENSI LULUSAN SMK/SMA MELALUI PENYEDIAAN WADAH PELATIHAN TENAGA KERJA Yoseph Karunia; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24249

Abstract

In big cities such as DKI Jakarta, the number of high school and vocational high school graduates is increasing every year, while employment opportunities for them are increasingly limited. This resulted in unemployment due to various factors. The high demands of job providers also mean that not all of these graduates are able to compete for jobs in the formal sector. The lack of experience in working in the formal sector and the many competitors in finding a job, make it difficult for all graduates to find a job. This research is based on empathy for the condition of high school and vocational high school graduates in getting jobs in the formal sector. With this research, it can increase the opportunities for vocational and high school graduates to enter the world of work. The research method uses a qualitative approach, both in data collection, data analysis and interpretation processes. An architectural empathy approach is applied in developing the concept of designing workforce training facilities for SMA and SMK graduates. Keywords: emphaty; laborraining; unemployment Abstrak Di berbagai kota besar seperti DKI Jakarta, jumlah lulusan sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan setiap tahun semakin meningkat sementara penyerapan lapangan kerja bagi mereka semakin terbatas. Hal ini mengakibatkan pengangguran karena adanya berbagai faktor. Tuntutan penyedia lapangan kerja yang tinggi juga menyebabkan tidak semua lulusan tersebut mampu bersaing mendapatkan pekerjaan di sektor formal. Kurangnya pengalaman dalam bekerja di sektor formal dan banyaknya saingan dalam mencari pekerjaan, berakibat semua lulusan sulit dalam mencari pekerjaan. Riset ini didasari pada rasa empati kepada kondisi lulusan sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan dalam mendapatkan pekerjaan di sektor formal. Dengan adanya riset ini diharapkan dapat meningkatkan kesempatan lulusan SMK dan SMA untuk masuk ke dunia kerja. Metode riset menggunakan pendekatan kualitatif, baik dalam pengumpulan data, analisis data dan proses interpretasi. Pendekatan empati arsitektur diterapkan dalam menyusun konsep perancangan fasilitas pelatihan tenaga kerja bagi lulusan SMA dan SMK.
STUDI SPATIAL PERCEPTION DALAM PENYEDIAAN RUANG AKTIVITAS BAGI TUNA RUNGU DI KELAPA GADING Michael Geraldo; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24250

Abstract

Every human being must have felt that there is something lacking in them, some people feel lacking because of difficulties and some people are also grounded because of thoughts or psychological influences. Both have a real impact on their own suffering. Having a deficiency of one of our five main senses must have a pretty significant impact. This book is written to discuss one of them, which is the rhetoric on the senses of hearing. Having this hearing impairment can be due to genetic factors (derivatives); congenital (from within the womb); or what we can as long as we live our lives. This prevents recipients from socializing and some people in the community may even stay away from them, because they find it difficult to communicate with them. This can make her suffering feel isolated, fearful, and give up to struggle to live her life. As my fellow humans have a sense of empathy for them, i can imagine how difficult it is for them to live their day-to-day lives in the midst of a civilization that relies on sound as the primary sign or signal to communicate. Then you have to help them and give them the "ears to see." Keywords:  empthy; hearing disorder; spatial perception Abstrak Setiap manusia pasti pernah merasa ada sesuatu yang kurang dalam diri mereka, ada yang memang merasakan kekurangan karena mengalami kesulitan dan ada juga yang dilandasi karena pikiran atau pengaruh psikologis. Keduanya memiliki dampak yang nyata pada diri penderitanya. Memiliki kekurangan dari salah satu lima panca indera utama kita pasti memiiki dampak yang cukup signifikan. Tulisan ini ditulis untuk membahas salah satunya yaitu kekuranagn pada indera pendengaran. Memiliki gangguan pendengaran ini bisa dikarenakan faktor genetik ( turunan ); kongenital (dari sejak dalam kandungan ); maupun yang kita dapat selama kita menjalani kehidupan. Hal ini menghambat penerita untuk bersosialisasi dan beberapa orang dalam masyarakat pun mungkin menjauhi mereka, karena merasa sulit untuk berkomunikasi dengan mereka. Hal ini bisa membuat penderitanya merasa diasingkan, ketakutan, dan menyerah untuk berjuang menjalani kehidupannya. Sebagai sesama manusia saya memiliki rasa empati terhadap mereka, saya membayangkan betapa sulitnya bagi mereka untuk menjalani kehidupan sehari - harinya di tengah peradaban yang mengandalkan bunyi sebagai tanda atau sinyal utama untuk berkomunikasi, bahkan beberapa rambu lalu lintas pun juga menggunakan bunyi sebagai penanda. Maka harus membantu mereka dan memberikan meraka "telinga untuk melihat."
PENDEKATAN KAMUFLASE DALAM PERANCANGAN RUANG AMAN BAGI PENYINTAS KEKERASAN SEKSUAL DI JAKARTA Glenda Vania; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24251

Abstract

Violence is one of the global issues that is often difficult to overcome, partly because there are variables that are difficult to predict, such as subject, place, and time. There are various types of violence, one of which is sexual violence. In Indonesia itself, the average number of sexual violence cases has increased each year and has become the first most reported violence case from 2020 to 2022 (SIMFONI-PPA, 2023). Unfortunately, this data is not comprehensive enough due to information sources that are still not integrated with each other and even though there has been an increase in the number of cases, existing laws and facilities still lack empathy for victims. Even though the impact felt by victims varies, victims often experience severe trauma in which they feel like losing their place in the world, which makes it difficult for them to return to their normal activities. Through this, victims need to be a priority as well. Qualitative methods obtained through secondary sources are used to obtain in-depth information about victims and camouflage design method will be applied in the design of one-stop emergency facilities as a form of empathy for sexual violence victims. By using existing methods, the authors hope to be able to frmulate a design concept for facilities that are empathetic and in accordance with the needs of the victims so that later they can recover from their wounds and continue their lives by finding their respective places in society. Keywords:  camouflage; human psychology; rehabilitation; sexual violence Abstrak Kekerasan menjadi salah satu permasalahan global yang kerap terjadi dan sulit untuk diatasi, salah satunya karena terdapat variabel yang sulit untuk diprediksi, seperti subjek, tempat, dan waktu. Ada berbagai macam jenis kekerasan, salah satunya adalah kekerasan seksual (sexual violence). Di Indonesia sendiri, kasus kekerasan seksual rata-rata mengalami peningkatan jumlah dari tahun ke tahun dan menjadi kasus kekerasan terlapor terbanyak pertama dari tahun 2020 hingga 2022 (SIMFONI-PPA, 2023). Sayangnya, data ini masih kurang menyeluruh akibat sumber informasi yang masih belum terintegrasi satu sama lain dan walaupun mengalami peningkatan jumlah kasus, hukum serta fasilitas yang ada masih kurang berempati kepada korban. Meskipun dampak yang dirasakan korban beragam, tetapi sering kali korban mengalami trauma yang berat hingga merasa kehilangan tempat di dunia, sehingga mereka sulit untuk kembali beraktivitas secara normal seperti sediakala. Melihat realita ini, maka korban perlu menjadi prioritas juga. Metode kualitatif yang diperoleh melalui sumber sekunder digunakan untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai korban dan metode perancangan kamuflase akan diterapkan dalam desain fasilitas one-stop emergency sebagai bentuk empati bagi para korban kekerasan seksual. Dengan menggunakan metode yang ada, penulis berharap dapat merumuskan konsep desain fasilitas yang berempati dan sesuai dengan kebutuhan para korban agar nantinya dapat bangkit dari luka dan melanjutkan hidupnya dengan kembali menemukan tempatnya masing-masing dalam masyarakat.
STUDI ARSITEKTUR EPHEMERAL DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN BERHUNI BAGI TUNAWISMA DI JAKARTA BARAT Michelle Rusli; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24252

Abstract

Humans will actually continue to look for ways to get a better life. One of them is by moving to a place that feels better and has potential. Big cities are often the target for some people who wander to start a new life, one of them is the city of Jakarta. With all the diversity in Jakarta, this city cannot be separated from the socio-economic problems that are also experienced by various parties, including the marginalized. Marginalized people themselves are people who are marginalized when they fail to achieve a welfare life such as the homeless or commonly called the homeless. The bum comes from the word "midfielder" which means "a wanderer, a wanderer" (Onghokham, 1986). Thus, the homeless can also be defined as someone who does not have a permanent and proper place to live (Hanson-Easey et al., 2016) such as living on a shopping terrace, under a bridge, park bench, etc. For reasons of frugality, it indirectly impacts the welfare of the homeless. Referring to the book Motivation and Personality by Maslow (1970), humans have 5 hierarchies of needs that must be met, especially basic needs (such as food and shelter) so that other needs can be met as well. By moving places frequently, homeless people become more flexible to potential situations and utilize the resources around them in the process of dismantling and installing a temporary (ephemeral) architectural space. Through ephemeral architecture with the concept of in-compatibility, the author seeks to present a temporary living space as a form of fulfilling the basic needs of the homeless. With the help of data obtained from the results of surveys and interviews, the authors present a habitable space program by utilizing the surrounding resources and paying attention to the boundaries that exist in an environment. keywords: dwelling; ephemeral architecture; homeless Abstrak Manusia sejatinya akan terus mencari cara untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Salah satunya dengan cara berpindah ke tempat yang dirasa lebih baik dan memiliki potensi. Kota besar seringkali menjadi sasaran bagi sebagian orang yang mengembara untuk memulai kehidupan baru, salah satunya Kota Jakarta. Dengan segala keanekaragaman di Jakarta, membuat kota ini tidak terlepas dari masalah sosial ekonomi yang turut dialami oleh berbagai pihak termasuk kaum marginal. Kaum marginal sendiri merupakan orang-orang yang terpinggirkan ketika tidak berhasil mencapai suatu kesejahteraan hidup seperti gelandangan atau biasa disebut tunawisma. Gelandangan berasal dari kata “gelandang” dengan arti “yang mengembara, yang berkelana” (Onghokham, 1986). Sehingga, tunawisma dapat didefinisikan juga sebagai seorang yang tidak memiliki tempat tinggal tetap dan layak (Hanson-easey et al., 2016) seperti tinggal di teras pertokoan, kolong jembatan, bangku taman, dll. Dengan alasan berhemat, secara tidak langsung berdampak pada kesejahteraan hidup tunawisma. Merujuk kepada buku Motivation and Personality oleh Maslow (1970), manusia memiliki 5 hierarki kebutuhan (Hierarchy of Needs) yang harus dipenuhi terutama kebutuhan dasar (seperti makanan dan tempat tinggal) agar kebutuhan lain dapat terpenuhi juga. Dengan perpindahan tempat yang sering dilakukan, tunawisma menjadi lebih fleksibel terhadap keadaan potensial dan memanfaatkan sumber daya yang ada disekitarnya dalam proses pembongkaran dan pemasangan suatu ruang arsitektural secara sementara (ephemeral). Melalui arsitektur ephemeral dengan konsep in-compatibility, penulis berupaya menghadirkan ruang berhuni sementara sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan dasar tunawisma. Dengan dibantu data yang didapatkan dari hasil survei serta wawancara, penulis menghadirkan program ruang berhuni dengan memanfaatkan sumber daya sekitar serta memperhatikan batasan yang ada di suatu lingkung-bangun.
PENERAPAN STRATEGI WAYFINDING DALAM PERANCANGAN FASILITAS TERAPI RAMAH PENDERITA ALZHEIMER Sebastian Joe; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24253

Abstract

Alzheimer’s is a disease that affects memory function and causes short-term memory to deteriorate. Alzheimer’s disease often affects people 60 years of age and older, and it is predicted that by 2050, that number will have doubled. There hasn’t been a precise cure for this ailment, despite the extensive research that has been done. Alzheimer’s patients typically struggle to navigate even familiar environments, making it challenging to reach their destination without getting lost or confused. This research uses phenomenological research methods and everydayness architectural design methods. The simplicity of an Alzheimer’s-friendly design can be observed in how simple it is to enter a location without becoming lost. This has to do with how well a building’s circulation works. It is envisaged that navigation may aid Alzheimer’s patients in becoming more autonomous and enabling them to reach their destination. It is envisaged that through enhancing architectural features such as spatial organization, form articulation, signs, landmarks, colours, and lighting, Alzheimer’s rehabilitation can be developed, further enhancing the welfare of Alzheimer’s patients. keywords:  alzheimer; disorientation; everydayness; therapy; wayfinding Abstrak Alzheimer merupakan penyakit gangguan daya ingat yang menyebabkan adanya degradasi memori sehingga memiliki ingatan jangka pendek. Umumnya penyakit Alzheimer diderita oleh lansia berusia 60 tahun ke atas dan dalam perkiraan, pada tahun 2050 akan meningkat hingga 2 kali lipat. Namun, dibalik banyaknya penelitian yang sudah dilakukan, sampai saat ini belum ditemukan penanganan khusus untuk menyembuhkan penyakit ini. Penderita Alzheimer umumnya mengalami masalah dalam menemukan jalan untuk mencapai suatu titik, bahkan pada tempat yang familiar bagi mereka sehingga mereka sulit untuk sampai ke lokasi tujuan tanpa tersesat dan kebingungan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian fenomenologi serta metode perancangan arsitektur keseharian. Kemudahan desain pada suatu rancangan untuk Alzheimer dapat dilihat dari kemudahannya untuk mencapai ke suatu ruang tanpa menciptakan adanya kebingungan. Hal ini berkaitan dengan adanya efektivitas suatu sirkulasi pada suatu bangunan. Dengan adanya bantuan wayfinding diharapkan dapat membantu para penderita Alzheimer agar mereka dapat menjadi lebih mandiri, sehingga mereka dapat sampai ke titik tujuan mereka. Dengan meningkatkan aspek elemen arsitektur seperti spasial, artikulasi bentuk, signage, landmark, warna, dan pencahayaan diharapkan dapat menciptakan rehabilitasi Alzheimer yang semakin meningkatkan kesejahteraan penderita Alzheimer.
KRITERIA DESAIN KAMAR RAWAT PENDERITA SKIZOFRENIA David Priatama Sutarman; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24254

Abstract

Mental disorders, including schizophrenia, are significant health challenges in Indonesia. Schizophrenia is a complex mental disorder that affects millions of adults globally. However, despite the relatively high prevalence of schizophrenia, the accessibility and quality of mental health services in Indonesia, especially Jakarta, remain problematic. This study aims to enhance the well-being of individuals with schizophrenia in Jakarta through architectural design that caters to their specific needs, particularly in room design criteria. The design methods are Spatial Perception and neuroarchitecture aspects that can contribute to creating an environment that supports the recovery of individuals with schizophrenia and facilitates their reintegration into society. Through literature review and case studies, this research seeks to identify the appropriate room design criteria and address critical aspects such as safety, functionality, lighting, ventilation, and open spaces for social interaction. Emphasizing the design criteria for the rooms can help reduce stress and improve comfort for individuals with schizophrenia, thus aiding in their overall recovery. This research endeavours to raise awareness in society about schizophrenia and mental health in general and prioritize the development of specialized spaces for individuals with schizophrenia in the construction of mental health facilities in Indonesia. Keywords:  architecture; designing; mental disorder; schizophrenia; society Abstrak   Gangguan mental, termasuk skizofrenia, merupakan salah satu tantangan kesehatan yang signifikan di Indonesia. Skizofrenia adalah gangguan mental kompleks yang mempengaruhi jutaan orang dewasa secara global. Namun, meskipun prevalensi skizofrenia yang cukup tinggi, aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan mental di Indonesia, terutama di Jakarta, masih menjadi permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penderita skizofrenia di Jakarta melalui perancangan arsitektural yang sesuai dengan kebutuhan mereka, terutama dalam kriteria desain kamar. Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah Spatial Perception dan neuroarsitektur yang dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan penderita skizofrenia dan memfasilitasi reintegrasi mereka ke dalam masyarakat. Melalui kajian literatur dan studi kasus, penelitian ini mencari kriteria desain kamar yang tepat dan memperhatikan aspek-aspek penting seperti keamanan, fungsi, pencahayaan, ventilasi, dan ruang terbuka yang memungkinkan interaksi sosial. Penekanan pada kriteria desain kamar ini dapat membantu mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kenyamanan bagi penderita skizofrenia, sehingga membantu pemulihan mereka secara keseluruhan. Melalui penelitian ini, diharapkan kesadaran masyarakat tentang skizofrenia dan kesehatan mental secara keseluruhan dapat meningkat, dan perhatian terhadap perancangan ruang khusus untuk penderita skizofrenia menjadi prioritas dalam pembangunan fasilitas kesehatan mental di Indonesia.
PENERAPAN ARSITEKTUR PERILAKU TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTER ANAK AUTISM SPECTRUM DISORDER (ASD) Celine Geraldine; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24255

Abstract

Children with Autism Spectrum Disorder (ASD) have unique characteristics different from other children of their age. They tend to be more sensitive and easily distracted by things that can cause them to lose focus. This unusual character makes it difficult for them to be in a space or the environment in general, and it can trigger anxiety and unstable emotions. ASD children need a unique room design according to their needs and character. The existence of this phenomenon strengthens the reason for the need for the application of behavioural architecture in supporting the unique characteristics of ASD children. Appropriate space and adequate environmental conditions would make ASD children more organized, comfortable, and safe in their daily lives, increasing their development in academics and non-academics. Applying the behavioural architecture to the design for children with ASD requires a study. The research method used is the phenomenological research method, which directs researchers to feel directly and make observations and interviews on an event or experience that others own. Phenomenology is done by living with ASD children for a certain period. Through this research, data were obtained regarding the unique characteristics of ASD children along with their needs and limitations. The study's results are the application of design based on colour selection, lighting, spatial layout, spatial proportions, texture, materials, furniture, circulation, ambience, transitions, and markers. Keywords: autism; behavioral architecture; character; phenomenology; space Abstrak   Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) memiliki karakter khusus yang berbeda dari anak-anak seusianya. Mereka cenderung lebih sensitif dan mudah terganggu oleh berbagai hal yang dapat menyebabkan kehilangan fokus. Karakter yang tidak umum ini membuat mereka kesulitan berada di ruang ataupun lingkungan pada umumnya, sehingga dapat memicu kegelisahan dan emosi yang tidak stabil. Hal inilah yang menyebabkan anak ASD membutuhkan rancangan ruang khusus sesuai dengan kebutuhan dan karakter mereka. Adanya fenomena tersebut memperkuat alasan dibutuhkannya penerapan arsitektur perilaku dalam menunjang karakter khusus anak ASD. Ruang yang sesuai serta kondisi lingkungan yang memadai akan membuat anak ASD menjadi lebih teratur, nyaman, dan aman dalam kesehariannya sehingga perkembangan mereka akan meningkat baik secara akademis maupun non akademis. Dalam menerapkan arsitektur perilaku ke dalam rancangan untuk anak ASD dibutuhkan sebuah penelitian. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian fenomenologi dimana metode ini mengarahkan peneliti untuk merasakan secara langsung, melakukan observasi dan wawancara pada suatu kejadian atau pengalaman yang dimiliki oleh orang lain.  Fenomenologi dilakukan dengan tinggal bersama dengan anak ASD dalam jangka waktu tertentu. Melalui penellitian tersebut diperoleh data mengenai karakter khusus anak ASD beserta kebutuhan dan keterbatasan yang mereka miliki. Hasil penelitian merupakan penerapan terhadap desain berdasarkan pemilihan warna, pencahayaan, tata letak ruang, proporsi ruang, tekstur, material, furniture, sirkulasi, suasana dan transisi serta penanda.
DESAIN PROTOTIPE PENJARA PEREMPUAN DENGAN PENDEKATAN RETHINKING TYPOLOGY DAN ARSITEKTUR EMPATI Michael Michael; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24256

Abstract

Women Prison Architecture is the design and structure of a prison building specifically intended to hold female prisoners. Women's prisons are designed with the special needs, security and welfare of female prisoners in mind. Women's prisons in Indonesia have various problems, especially the physical environment that has not followed the standards so that the conditions of this prison become less humane for women prisoners. This phenomenon of problems occurs due to a lack of empathy and understanding of the definition of punishment towards the needs of women in Indonesia. Empathy is an integral part of architecture, because without empathy in the design process it can lead to architectural design failures that can reduce the quality of life of building users. This paper discusses the design of a prototype women's prison with a rethinking typology and empathy architecture approach. The first step of Rethinking Typology of women's prisons by dissecting each element of the typology of women's prisons based on the needs of women prisoners and the next step is completed through; programming; configuration of a new typology of women's prison architecture. The purpose of this Rethinking Typology is to produce a prototype of a women's prison that meets the standards and needs of women today. The new prototype emphasizes humanitarian standards and the needs of women. The new prototype is designed to respond to nature in order to create a healthy atmosphere for women prisoners. The surveillance system utilizes anti-authoritarian principles through the use of technology to create a non-intimidating prison environment. The design is also supported by re-empowering architectural programming so that women prisoners can be productive while in prison. This prototype can provide a balance of conducive living spaces that can help encourage women prisoners in the recovery or rehabilitation process for reintegration into the community. Keywords: empathic architecture; prison prototype; rethinking typology; women prison architecture; women prisoners Abstrak Arsitekur Penjara Perempuan merupakan sebuah desain dan struktur bangunan penjara yang ditujukan khusus untuk menahan tahanan perempuan. Penjara perempuan dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan, keamanan, dan kesejahteraan khusus dari narapidana perempuan. Penjara perempuan di Indonesia memiliki berbagai permasalahan terutama permasalahan lingkungan fisik yang sudah tidak mengikuti standar sehingga kondisi penjara ini menjadi kurang manusiawi terhadap narapidana perempuan. Fenomena permasalahan ini terjadi dikarenakan oleh kurangnya empati dan pemahaman mengenai definisi hukuman terhadap kebutuhan perempuan di Indonesia. Empati merupakan sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari arsitektur, karena tanpa adanya empati dalam proses perancangan dapat mengakibatkan kegagalan desain arsitektur yang dapat menurunkan kualitas kehidupan pengguna bangunannya. Tulisan ini membahas tentang desain prototipe penjara perempuan dengan pendekatan rethinking typology dan arsitektur empati. Langkah pertama dari Rethinking Typology penjara perempuan dengan cara membedah setiap elemen tipologi penjara perempuan berdasarkan kebutuhan narapidana perempuan dan langkah selanjutnya penyelesaian melalui; penyusunan program; konfigurasi tipologi arsitektur penjara perempuan baru. Tujuan dari Rethinking Typology ini untuk menghasilkan sebuah prototipe penjara perempuan yang memenuhi standar dan kebutuhan perempuan masa kini. Prototipe baru ini menekankan pada standar kemanusiaan dan kebutuhan perempuan. Prorotipe baru ini didesain agar merespon alam agar dapat menciptakan atmosfer yang sehat bagi narapidana perempuan. Sistem pengawasan yang digunakan dengan prinsip anti-otoriter melalui penggunaan teknologi sehingga dapat menciptakan suatu lingkungan penjara yang tidak mengintimidasi. Desain ini didukung juga oleh pemrograman arsitektur yang dapat memberdayakan kembali sehingga narapidana perempuan menjadi produktif ketika berada di dalam penjara. Prototipe ini dapat memberikan sebuah keseimbangan ruang hidup kondusif yang dapat membantu mendorong narapidana perempuan dalam proses pemulihan atau rehabilitasi untuk integrasi kembali ke lingkungan masyarakat.
DESAIN PROTOTIPE SEKOLAH DASAR ANTI-PERUNDUNGAN MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR EMPATI DAN PERILAKU Jordan Agnios; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24257

Abstract

Most cases of bullying occurred in schools at the elementary level. This happens because most of the child's time is spent at school. This paper is about research in finding criteria for anti-bullying school prototypes. From an architectural point of view, negative space can influence a person's negative behavior. Some of the location points that are in the spotlight are the stairs, toilets, corridors, canteens, and classrooms. The data used in this study are secondary data obtained through interviews with psychologists, literature, and case studies. The data is used to design prototypes of school spaces that can help prevent cases of bullying. With this issue, the method that will be used is the architectural method of empathy, behavior, and psychology. These three deisgn methods are used with the aim of creating a school environment that avoids the creation of negative spaces so that bullying behavior can be controlled architecturally and the environment created feels safe as well as fun for children. The result of this study is a prototype of an anti-bullying elementary school that has the characteristics of a safe and comfortable environment for students. The elementary school environment is designed in such a way as to pay attention to social interactions between students, reduce negative spaces, and all rooms get passive supervision. In addition, social spaces are also designed to facilitate activities that can reduce stress and improve students' mental health as well as provide a place for parents in the school environment. Keywords: anti-bullying space; behavioral architecture; empathy architecture; negative space; prototype elements Abstrak Kasus perundungan terbanyak terjadi pada sekolah di tingkat SD (Sekolah Dasar). Hal ini terjadi karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah. Tulisan ini berisi tentang riset dalam mencari kriteria desain prototipe sekolah anti-perundungan. Dari segi arsitektur, ruang negatif dapat mempengaruhi perilaku negatif dari penghuninya. Beberapa titik lokasi yang menjadi sorotan adalah tangga, toilet, koridor, kantin, dan ruang kelas. Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui wawancara dengan ahli psikologi, literatur, dan studi kasus. Data tersebut digunakan untuk merancang prototipe ruang sekolah yang dapat membantu mencegah kasus perundungan. Metode yang akan dipakai adalah dengan menggunakan pendekatan arsitektur empati, perilaku, dan psikologi. Ketiga pendekatan desain ini dipakai bertujuan untuk menciptakan suatu lingkungan sekolah yang menghindari terciptanya ruang negatif sehingga perilaku perundungan dapat dikontrol secara arsitektural serta lingkungan yang diciptakan terasa aman sekaligus menyenangkan bagi anak-anak. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah prototipe sekolah dasar anti-perundungan yang memiliki karakteristik lingkungan yang aman dan nyaman bagi para siswa. Lingkungan sekolah dasar dirancang sehingga memperhatikan interaksi sosial antar siswa, mengurangi ruang-ruang negatif, dan seluruh ruangan mendapatkan pengawasan pasif. Selain itu, ruang-ruang sosial juga dirancang untuk memfasilitasi kegiatan yang dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental para siswa serta menyediakan tempat bagi orang tua siswa di lingkungan sekolah.
KAJIAN KRITERIA DESAIN RUANG BELAJAR ANAK AUTISTIK INDONESIA DENGAN MENGUNAKAN PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU DALAM PENERAPAN PERANCANGAN FASILITAS EDUKASI Jovian Alexander Nugroho; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24258

Abstract

This study discusses the criteria for designing educational buildings for children with autism using a behavioral architectural approach. Autistic children need a safe, comfortable and nurturing environment to support the development and refinement of their social skills. The right educational building design can provide an optimal learning environment for autistic children. The behavioral architectural approach was chosen because it focuses on the needs and behavior of individuals in the physical environment. In this study, research was conducted on the characteristics of autistic children and how they affect the design of educational buildings. Some of the factors analyzed include sensory, social, and physical environment factors. Sensory factors include sound, light, texture, and color, while social factors include social interaction and the need for privacy. Physical environmental factors include accessibility, security, and flexibility. The research method used was literature study, field observations, and interviews with parents of autistic children and teaching staff. Design criteria analyzed include the use of color, light, sound, texture, layout and shape of the building. The results of the analysis show that a good autism education building design must pay attention to these factors. Good lighting and sound, a clear room layout, and soothing and soothing colors and textures are important in creating a supportive environment for a child with autism. In addition, the shape of the building must also pay attention to the needs of autistic children for a safe and comfortable space. Keywords: autistic; behavior architecture; criteria; education facility Abstrak Penelitian ini membahas kriteria perancangan bangunan pendidikan bagi anak ASD dengan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku. Anak ASD membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman, dan asuh untuk mendukung perkembangan dan penyempurnaan keterampilan sosialnya. Desain fasilitas edukasi yang tepat dapat memberikan lingkungan belajar yang optimal bagi anak ASD. Pendekatan arsitektur perilaku dipilih karena berfokus pada kebutuhan dan perilaku individu dalam lingkungan fisik. Pada penelitian ini dilakukan penelitian mengenai karakteristik anak ASD dan bagaimana pengaruhnya terhadap desain bangunan edukasi. Beberapa faktor yang dianalisis meliputi faktor sensori, sosial, dan lingkungan fisik. Faktor sensori meliputi suara, cahaya, tekstur, dan warna, sedangkan faktor sosial meliputi interaksi sosial dan kebutuhan akan privasi. Faktor lingkungan fisik meliputi aksesibilitas, keamanan, dan fleksibilitas. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan orang tua anak ASD dan staf pengajar. Kriteria desain yang dianalisis meliputi penggunaan warna, cahaya, suara, tekstur, tata letak dan bentuk bangunan. Hasil analisis menunjukkan bahwa desain bangunan pendidikan ASD yang baik harus memperhatikan faktor-faktor tersebut. Pencahayaan dan suara yang baik, tata letak ruangan yang jelas, serta warna dan tekstur yang dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anak ASD.