cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
EMPATI DALAM PENGEMBANGAN PASAR IKAN APUNG DI AREA KAMAL MUARA Jonathan Yang; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24272

Abstract

Traditional fishermen in Kamal Muara face various significant challenges in carrying out their fishing activities, which directly affect their life conditions. In this context, an empathetic architectural approach can play an important role in designing sustainable and inclusive solutions to improve their well-being. There are 2 main factors that hinder the growth of fishermen's welfare, the first is the economic factor where fluctuations in fish prices, high production costs, low access to business capital and credit, and market uncertainty are economic factors that hinder the success of the fishing profession. Both environmental factors where climate change, environmental damage such as degradation of marine habitats and decreased fish stocks, as well as restrictions on access to fishing areas are environmental factors that hinder the sustainability of the fishing profession. The empathic architectural design proposes the development of a floating fish market in Kamal Muara which is able to provide equal access and opportunities for traditional fishermen in managing and utilizing the floating fish market. In addition, the design must also pay attention to the needs of the environment and the surrounding nature, and create spaces that are connected, inclusive, and respect equality among market users. Keywords: empathic architecture; economic factors; environmental factors; fish markets; traditional fishing Abstrak Para nelayan tradisional di Kamal Muara menghadapi berbagai tantangan yang signifikan dalam menjalankan kegiatan perikanan mereka, yang secara langsung mempengaruhi kondisi kehidupan mereka. Dalam konteks ini, pendekatan arsitektur yang empatik dapat memainkan peran penting dalam merancang solusi yang berkelanjutan dan inklusif untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Terdapat 2 faktor utama yang menghambat pertumbuhan kesejahteraan para nelayan, pertama faktor ekonomi dimana fluktuasi harga ikan, biaya produksi yang tinggi, rendahnya akses terhadap modal usaha dan kredit, serta ketidakpastian pasar merupakan faktor-faktor ekonomi yang menghambat keberhasilan profesi nelayan. Kedua faktor lingkungan dimana perubahan iklim, kerusakan lingkungan seperti degradasi habitat laut dan penurunan stok ikan, serta pembatasan akses ke wilayah perikanan menjadi faktor-faktor lingkungan yang menghambat keberlanjutan profesi nelayan. Desain arsitektur empati mengusulkan pengembangan pasar ikan apung di Kamal Muara yang mampu memberikan akses dan kesempatan yang sama bagi para nelayan tradisional dalam mengelola dan memanfaatkan pasar ikan apung. Selain itu, desain tersebut juga harus memperhatikan kebutuhan lingkungan dan alam sekitar, serta menciptakan ruang yang keterhubungan, inklusif, dan menghargai kesetaraan antar pengguna pasar.
PERAN ARSITEKTUR EMPATI TERHADAP PETANI TAMBAK DAN MASYARAKAT DESA TANJUNG BURUNG Sugiharta Sugiharta; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24273

Abstract

Degradation and social inequality is one thing that very often occurs in every region, especially in districts. The degradation in question is the decline in the quality of a person in processing something. And social inequality that occurs due to differences economically and socially. Tanjung Bird has a wealth of marine products that are quite abundant, not only land fish from ponds such as milkfish, tilapia, shrimp, and so on. The location is close to the coast of Tanjung Burung and directly adjacent to the mouth of the Cisadane river. Therefore, making Tanjung Burung one of the places that produces marine and pond products which is well known for its abundant results. Over time and the development of the times, Tanjung Burung experienced a decline in terms of economic and social. The existence of land acquisition to be used as a place for real estate development, has an impact on the welfare of the people of Tanjung Burung village. Therefore, the designer designed a facility to provide a forum for the needs of fish farmers or fishermen and revive the activities of the people of Tanjung Burung village who experience social inequalities towards real estate development, one of which is by designing a Fish Market. It is hoped that with the construction of the Fish Market, it can improve the economy of the residents of Tanjung Burung village and can be utilized by the existence of real estate development so that it is mutually beneficial to one another. Keywords: degradation; empathy; social gap; Tanjung Burung; Fish Market Abstrak Degradasi dan kesenjangan sosial merupakan salah satu hal yang sangat sering terjadi disetiap wilayah, terutama daerah kabupaten. Degradasi yang dimaksud adalah kemenurunan kualitas seseorang dalam mengolah sesuatu. Dan kesenjangan sosial yang terjadi akibat adanya perbedaan secara ekonomi maupun secara sosial. Tanjung burung memiliki kekayaan hasil laut yang cukup melimpah, tidak hanya itu ikan darat dari hasil tambak seperti ikan bandeng, nila, udang, dan sebagainya. Lokasinya berdekatan dengan pesisir pantai Tanjung Burung dan berdekatan langsung dengan muara sungai Cisadane. Oleh sebab itu menjadikan Tanjung Burung sebagai salah satu tempat penghasil hasil laut dan tambak yang cukup dikenal dengan hasilnya yang melimpah. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, Tanjung Burung mengalami penurunan dari segi ekonomi dan sosial. Adanya pembebasan lahan untuk dijadikan tempat pembangunan real estate, berdampak pada kesejahteraan masyarakat desa Tanjung Burung. Oleh karena itu perancang merancang sebuah Fasilitas untuk memberikan wadah terhadap kebutuhan petani atau nelayan ikan dan menghidupkan kembali kegiatan masyarakat warga desa Tanjung Burung yang mengalami kesenjangan sosial terhadap pembangunan real estate salah satunya dengan merancang Pasar Ikan. Berharap dengan adanya pembangunan Pasar Ikan, dapat meningkatkankan perekonomian warga desa Tanjung Burung dan dapat dimanfaatkan oleh adanya pembangunan real estate sehingga saling menguntungkan satu dengan yang lainnya.
PENERAPAN HEALING ARCHITECTURE PADA MASA PRE - POST PARTUM Victoria Virginia; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24274

Abstract

Birth is the most anticipated moment for a mother and her family. The numerous adjustments a mother goes through during pregnancy and even after childbirth can lead to anxiety and stress, which may result in psychological disorders such as baby blues and postpartum depression. The approach of healing architecture in maternity accommodations, both during the prepartum (before birth) and postpartum (after birth) periods, can have an impact on the psychological well-being of the mother and her family. How can the aspects of healing architecture be implemented in building design and programs designed to meet the needs of the mother and contribute to indirect recovery by providing a comfortable environment? Incorporating elements of nature in the building design creates a natural impression and contributes to the healing process for mothers during these crucial periods. Various activity programs will be provided in the maternity accommodations for mothers during the pre- and postpartum periods to maintain their physical and mental well-being through enjoyable activities. These activities include yoga, spa treatments, and workshops that enhance the mother's physical readiness for childbirth and postpartum recovery, as well as activities that promote mental well-being, such as therapy and hypnobirthing classes to prepare the mother mentally. Keywords: healing architecture; prepartum; postpartum Abstrak   Kelahiran adalah momen yang paling ditunggu bagi seorang ibu dan keluarga. Banyaknya proses penyesuaian ibu saat kehamilan bahkan sesudah kelahiran menimbulkan kecemasan hingga stress yang dapat berakhir pada gangguan psikologis seperti baby blues dan postpartum depression. Pendekatan healing architecture pada fasilitas penginapan ibu yang sedang berada di masa prepartum (sebelum kelahiran) dan postpartum (setelah kelahiran) dapat berpengaruh terhadap psikologis ibu dan keluarga. Bagaimana aspek - aspek healing architecture dapat diterapkan pada desain bangunan dan program yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan ibu dapat menjadi pemulihan secara tidak lansung karena ibu berada pada lingkungan yang nyaman. Pendekatan alam pada elemen - elemen bangunan menimbulkan kesan natural dan menjadi healing bagi ibu yang berada pada masa - masa krusial. Pada penginapan untuk ibu pada masa pre - post partum akan disediakan berbagai program aktivitas yang dapat menjaga kondisi ibu pada masa tersebut baik secara fisik dan mental karena program yang menyenangkan. Diantaranya adalah aktivitas yoga, spa, dan aktivitas workshop yang dapat meningkatkan kesiapan fisik ibu dalam menghadapi kelahiran maupun pemulihan fisik pasca melahirkan hingga aktivitas bagi mental ibu seperti terapi dan kelas hypnobirthing yang menyiapkan ibu secara mental.
WISATA BAHARI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI NELAYAN CISOLOK- PELABUHANRATU Jessica Jessica; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24275

Abstract

Cisolok is part of Pelabuhanratu Bay which is now part of UNESCO, where UNESCO wants to make Pelabuhanratu Bay a wonderful Indonesia-based tourism zone called Ciletuh-Geopark. Meanwhile, Tourism Development in the Pelabuhanratu Bay area is being designed in such a way that Pelabuhanratu has a tourist area development. This resulted in an idea for the development of marine tourism, especially in Cisolok. This marine tourism arises as a result of fishermen on the Cisolok coast who experience difficulties in carrying out their work and make their economic and social value decrease every year. Besides that, there are also several designs that failed, such as lobster cultivation to the construction of the cisolok dock. If this phenomenon is carried out further, it will make it more difficult for local fishermen to live their lives, especially in terms of social and economy. Even though the potential for fish and nature that they produce is quite a lot, with their beautiful geographical conditions, they can also be used as a place and identity for their region. So that one of the architectural solutions that can overcome this phenomenon is to change the development of the local area by providing advice and supporting infrastructure for fishermen, especially the Cisolok Pelabuhan Ratu fishermen so that local fishermen get supporting facilities both as a convenience for them to work and provide them with opportunities to attract the wider community to local fishermen through docks, tourist attractions, and fish markets. In this discussion, a marine tourism plan in the form of water and aquariums is designed to provide welfare for fishermen and the Cisolok Pelabuhan Ratu community without changing their living habits every day. Keywords:  Cisolok; fisherman; life; Pelabuhanratu; tourism Abstrak Cisolok merupakan bagian dari Teluk Pelabuhanratu yang sekarang menjadi bagian dari UNESCO, dimana UNESCO ini ingin menjadikan Teluk Pelabuhanratu menjadi zona wisata berbasis wonderful Indonesia yang bernamakan Ciletuh-Geopark. Sementara itu, Pengembangan Pariwisata pada daerah Teluk Pelabuhanratu ini sedang dirancang sedemikan rupa agar Pelabuhanratu memiliki pengembangan daerah wisata. Hal ini mengakibatkan, adanya ide untuk pengembangan wisata bahari khususnya di Cisolok. Wisata bahari ini muncul akibat para nelayan di pesisir pantai Cisolok yang mengalami kesulitan dalam menjalankan pekerjaan mereka dan membuat nilai ekonomi dan sosial mereka menurun setiap tahunnya. Selain itu ada juga berapa perancangan yang gagal dilakukan seperti budidaya lobster hingga pembuatan dermaga cisolok. Fenomena ini jika dilaksanakan lebih lanjut akan membuat para nelayan setempat makin kesulitan dalam menjalani hidup terutama dalam segi sosial dan ekonomi. Padahal potensi ikan dan alam yang mereka hasilkan cukup banyak dengan kondisi geografis mereka yang indah juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat dan identitas wilayah mereka. Sehingga salah satu solusi arsitektur yang dapat menanggulangi fenomena tersebut adalah merubah pengembangan wilayah setempat dengan memberikan saran dan prasarana penunjang bagi nelayan khususnya nelayan Cisolok Pelabuhan ratu ini agar nelayan setempat mendapatkan fasilitas penunjang baik sebagai kemudahan mereka dalam bekerja maupun memberikan mereka peluang daya tarik kepada masyarakat luas terhadap nelayan setempat melalui dermaga, tempat wisata, maupun pasar ikan. Pada pembahasan kali ini, sebuah perencanaan wisata bahari dalam bentuk air dan akuarium yang dirancang guna memberikan kesejahteraan bagi nelayan dan masayarakat Cisolok Pelabuhan Ratu tanpa merubah kebiasaan hidup mereka tiap harinya.
PEMBAHARUAN TEMPAT PRODUKSI TAHU DAN TEMPE KAMPUNG RAWA DENGAN ARSITEKTUR EMPATI Charles Chou; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24276

Abstract

Kampung Rawa is a well-known place for tofu and tempeh production in Johar Baru, Central Jakarta. Since COVID-19 hit, the production of tofu and tempeh has become sluggish, which has caused sales to decline. There are other issues such as production sanitation and waste disposal that affect the site's water quality. The purpose of this study is to overcome the problems that occur in tofu and tempeh production sites by using Empathy Architecture through a user-centered design method that emphasizes user-focused design processes. With Empathy Architecture, the design will adapt to the habits of workers while addressing existing problems. Through the culinary tourism program and processing of production waste, it is hoped that sales of tofu and tempeh in Kampung Rawa can increase and sanitation problems can be resolved so as to increase the number of consumers who come to Kampung Rawa. It is hoped that the success of the program can improve the economic conditions in Kampung Rawa. Keywords: empathy architecture; user-centered design waste treatment; tofu and tempeh production; culinary tour Abstrak Kampung Rawa merupakan tempat yang terkenal sebagai tempat produksi tahu dan tempe yang berada di Johar Baru, Jakarta Pusat. Semenjak COVID-19 melanda, produksi tahu dan tempe menjadi lesu yang membuat angka penjualan juga menurun. Terdapat permasalahan lainnya seperti sanitasi produksi dan pembuangan limbah yang mempengaruhi kualitas air lokasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di tempat produksi tahu dan tempe dengan menggunakan Arsitektur Empati melalui metode user- centered design yang menitikberatkan proses desain yang menfokuskan pengguna. Dengan Arsitektur Empati, desain akan beradaptasi mengikuti kebiasaan pekerja sambil mengatasi permasalahan yang ada. Melalui program wisata kuliner dan pengolahan limbah produksi diharapkan angka penjualan tahu dan tempe Kampung Rawa dapat meningkat dan masalah sanitasi dapat teratasi sehingga dapat meningkatkan jumlah konsumen yang datang ke Kampung Rawa. Diharapkan dengan keberhasilan program tersebut dapat meningkatkan kondisi ekonomi di Kampung Rawa.
FASILITAS PRODUKSI KERAJINAN ROTAN UNTUK KAUM DISABILITAS Christopher Andrew Susanto; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24277

Abstract

A person's opportunity to work and produce a piece of work in his life is influenced by the abilities and skills of each individual. Every individual has the same opportunity as other individuals. In the world of work, efficiency in doing work is one of the important things so it cannot be denied, where someone who has good performance and performance will replace someone who has a low level of performance and performance. This is a problem that will be faced by everyone, but there are certain things that can affect a person's performance such as differences in a person's physical condition. With deficiencies in physical condition, a person's performance in doing a job will certainly be hampered and this obstacle will cause efficiency problems in a job. This will be felt by someone who has limitations in his physical condition. Some people are reluctant to hire someone with a disability because of a fear of sub-optimal performance at work. Even though a person with a disability in fact still has enormous potential and needs to be used as best as possible. To encourage and optimize the potential of a person with a disability, facilities are needed that can support their basic needs. One way to fix this problem is rattan crafts. So far, rattan handicrafts have opened up new job opportunities for many people, especially people with disabilities who have physical and educational limitations. With this job, people with disabilities can develop themselves and their interests. To support this, adequate facilities are needed and in accordance with the needs of disabilities. These supporting facilities are expected to increase the interest and effectiveness of craftsmen so that they are more optimal in carrying out an activity. Keywords:  disability; efficiency; physical condition; potential; supporting facilities Abstrak Kesempatan seseorang untuk bekerja dan menghasilkan sebuah karya dalam hidup nya dipengaruhi oleh kemampuan dan keterampilan masing-masing individu. Setiap individu memiliki kesempatan yang sama dengan individu lainnya. Dalam dunia kerja, efisiensi dalam melakukan pekerjaan adalah salah satu hal penting sehingga tidak bisa di pungkiri, dimana seseorang yang memiliki kinerja dan performa bagus akan menggantikan seseorang yang tingkat performa dan kinerjanya kurang. Hal ini adalah permasalahan yang akan dihadapi oleh semua orang, namun terdapat hal-hal tertentu yang dapat mempengaruhi kinerja dari seseorang seperti perbedaan kondisi fisik seseorang. Dengan adanya kekurangan dalam kondisi fisik, kinerja seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan tentunya akan terhambat dan hambatan ini akan menuliskan permasalahan efisiensi dalam sebuah pekerjaan. Hal ini akan sangat terasa oleh seseoran yang memiliki keterbatasan dalam kondisi fisiknya. Beberapa orang enggan untuk mempekerjakan seseorang disabilitas karena adanya ketakutan akan kinerja yang kurang optimal dalam melakukan pekerjaan. Padahal seseorang disabilitas nyatanya masih memiliki potensial diri yang sangat besar dan perlu dIpergunakan sebaik mungkin. Untuk mendorong dan juga mengoptimalkan potensi diri seorang disabilitas, diperlukan fasilitas yang dapat menunjang kebutuhan dasar mereka. Salah satu cara untuk memperbaiki permasalahan ini adalah kerajinan rotan. Selama ini kerajinan rotan telah banyak membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang, terutama kaum disabilitas yang memiliki keterbatasan fisik dan Pendidikan. Dengan adannya pekerjaan ini,kaum disabilitas dapat mengembangkan diri serta minat mereka. Untuk mendukung terjadinya hal tersebut, diperlukan fasilitas yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan disabilitas. Fasilitas penunjang ini diharapkan dapat meningkatkan minat serta efektifitas para pengrajin agar lebih optimal dalam mengerjakan suatu aktivitas.
REHUMANISASI LINGKUNGAN ANAK TERLANTAR: PENGINGKATAN KUALITAS HIDUP ANAK MELALUI ARSITEKTUR EMPATI Moses Sahat Alexsandro; Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24278

Abstract

Homeless children are a highly vulnerable group in society and often face difficulties in accessing quality education. The harsh living conditions of these children have sacrificed their childhood and forced them to live on the streets to meet their basic needs. Additionally, the lack of attention from parents who exploit their children for family economic purposes is a significant problem. In this context, this research aims to design solutions through an empathetic architecture approach to address the challenges faced by homeless children, both in the education system and personal development, including their interests and talents. Through the empathetic architecture approach, a comprehensive learning environment will be implemented to help homeless children break free from the harsh environment. This learning environment will provide support in the education system and children's personal development, including identifying and nurturing their interests and talents. The topic of rehumanizing homeless children is translated into the design of an innovative and inspiring learning environment that accommodates the needs of homeless children in Cilincing. Considering factors such as comfort, safety, and creative stimulation for the children. Additionally, the empathetic architecture approach will prioritize inclusivity, child participation, and environmental sustainability. Keywords:  education; environment; neglected; rehumanization Abstrak   Anak-anak terlantar adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan dan seringkali mengalami kesulitan dalam memperoleh akses ke edukasi yang berkualitas. Lingkungan buruk dalam tempat tinggal anak terlantar telah mengorbankan masa kecil serta memaksa anak untuk hidup di jalanan demi memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, kurangnya perhatian dari orang tua yang memanfaatkan anak dalam perekonomian keluarga menjadi permasalahan yang signifikan. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk merancang solusi melalui pendekatan arsitektur empati untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh anak terlantar, baik dalam sistem edukasi maupun pengembangan diri, termasuk minat dan bakat yang dimiliki oleh anak-anak tersebut. Melalui pendekatan arsitektur empati, perancangan lingkungan belajar yang menyeluruh akan diimplementasikan untuk membantu anak-anak terlantar keluar dari lingkungan buruk. Lingkungan belajar ini akan memberikan dukungan dalam sistem edukasi dan pengembangan diri anak-anak, termasuk mengidentifikasi dan mendorong minat dan bakat. Topik tentang merehumanisasi anak yang terlantar diterjemahkan menjadi perancangan lingkungan belajar yang inovatif dan inspiratif yang mengakomodasi kebutuhan anak-anak terlantar di Cilincing. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti kenyamanan, keamanan, dan stimulasi kreatif bagi anak-anak. Selain itu, pendekatan arsitektur empati akan memberikan perhatian khusus pada aspek inklusivitas, partisipasi anak, dan keberlanjutan lingkungan.  
PERANCANGAN RUANG EDUKASI DAN INTERAKSI MAHASISWA SEBAGAI RUANG KETIGA DI JAKARTA BARAT Gabriella Baptista Varani; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24279

Abstract

The learning process is one of the important activities in a student’s daily life. The higher level of education would get more academic demands that will lead to the regular learning processes and concentration needed. The needs for good quality of learning process is also experienced by college students. Based on the level of the study period time, college students are divided into first, middle, and final levels. Each level has a different way of learning. Sometimes stress or pressure arises due to academic demands and the difficulties experienced by college students in their learning process. A comfortable ambiance in the study room is needed to support the learning process and reduce student’s stress. Based on this phenomenon, college students are starting to look for other places outside their campus and homes that can accommodate their learning needs and reduce stress. Public buildings and facilities are chosen by them as a place for their learning activities. The use of public spaces has begun to function as study spaces because college students consider these places more comfortable and flexible for studying individually or in groups. The higher the need, a public facility that is built for college student learning activity is needed. Not just as a space, but specifically designed to be able to support various ways of learning and be able to reduce the student’s stress. Keywords:  flexible; learning; public; space; student Abstrak Kegiatan belajar tidak lepas dari kehidupan sehari-hari pelajar, terutama mahasiswa. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka tuntutan akademik semakin besar sehingga proses belajar yang rutin dan konsentrasi yang cukup diperlukan. Keperluan akan tingginya kebutuhan belajar turut dialami oleh mahasiswa perguruan tinggi. Berdasarkan tingkatannya masa studinya, mahasiswa terbagi menjadi tingkat pertama, menengah, dan akhir. Masing-masing tingkatan memiliki cara belajar yang berbeda. Tidak jarang timbul stres atau tekanan yang dialami akibat tuntutan akademik dan kesulitan yang dialami oleh mahasiswa dalam proses belajar. Kenyamanan dalam ruang belajar diperlukan untuk menunjang proses belajar dan meminimalisir stres mahasiswa. Berdasarkan fenomena tersebut, mahasiswa kini mulai mencari tempat lain di luar kampus dan rumah yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar dan mengurangi stres yang terjadi dalam prosesnya. Bangunan dan fasilitas publik dipilih oleh mahasiswa untuk melangsukan kegiatan belajarnya. Akibatnya penggunaan ruang publik mulai banyak yang terfungsikan sebagai ruang belajar karena mahasiswa menganggap tempat tersebut lebih nyaman, leluasa dan fleksibel untuk belajar secara individu maupun berkelompok. Semakin tingginya kebutuhan tersebut, maka diperlukan suatu fasilitas publik yang dibangun untuk kegiatan belajar mahasiswa. Tidak sekedar ruang saja, tetapi yang terdesain secara khusus untuk dapat menunjang berbagai cara belajar dan mampu mengurangi stres yang dialami oleh mahasiswa.
PENDEKATAN ARSITEKTUR MELALUI PERABAAN PADA SEKOLAH DASAR KHUSUS TUNANETRA Graciela Graciela; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24280

Abstract

One part of society that needs attention is an extraordinary child, especially in terms of spatial design and circulation. This can be combined with a design that uses the healing therapeutic concept, namely the extraordinary abilities possessed by each extraordinary child, starting from social interaction, psychology and mindset. Extraordinary children need an education center with adequate facilities so that they can develop the potential of extraordinary children so that they can increase their self-confidence and be able to produce works that are useful for society. The educational facilities accommodated must think about a design according to their needs and adequate circulation to make it easier for them to move. To realize this, it is necessary to conduct research on space requirements and then realize these space requirements as a design plan. With the help of programs that stimulate other senses by special children, they will be more confident and independent in the outside environment and may not always depend on others. In this study, the authors presented the concept of healing therapeutics at this special education center for the blind by using a qualitative descriptive method, which means collecting data through literature studies and field observations. Keywords: education; extraordinary children; facilities; healing therapeutic Abstrak Salah satu bagian dari masyarakat yang perlu diperhatikan adalah anak luar biasa terutama dalam rancangan keruangan dan sirkulasinya. Hal ini dapat dipadukan dengan desain yang menggunakan konsep healing therapeutic yaitu dengan keluarbiasaan yang dimiliki oleh masing-masing anak luar biasa mulai dari hal interaksi sosial, psikologis dan pola pikir. Anak luar biasa perlu adanya pusat pendidikan yang fasilitasnya memadai sehingga dapat mengembangkan potensi dari anak luar biasa agar mereka bisa meningkatkan kepercayaan diri yang dapat menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat. Fasilitas pendidikan yang diwadahi harus memikirkan rancangan desain sesuai dengan kebutuhan mereka dan sirkulasi yang memadai untuk memudahkan mereka dalam mobilitas. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya penelitian dalam kebutuhan ruang lalu mewujudkan kebutuhan ruang tersebut sebagai rancangan desain. Dengan dibantu oleh program-program yang merangsang indera-indera lain oleh anak-anak luar biasa, mereka akan lebih percaya diri dan mandiri di lingkungan luar dan mungkin tidak selalu bergantung kepada orang lain. Dalam penelitian ini, penulis membawakan konsep healing therapeutic pada pusat pendidikan khusus tunanetra ini dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berarti mengumpulkan data yang dilakukan dengan studi literatur dan juga observasi lapangan.
PENERAPAN THERAPEUTIC ARCHITECTURE TERHADAP PERANCANGAN GERIATRIC CLUB HOUSE Michael Ricardo; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24281

Abstract

The phenomenon for the design of the geriatric association house associated with statistical data on the growth of elderly people in Indonesia, to be precise in the city of Jakarta. The number reaches 9.2% of the total population and exceeds the national average of only 7%. Then, the lack of social space needs facilities to improve the quality of life of the elderly at the end of their lives. Facilities supporting these needs must be able to accommodate and pay attention to the standard needs and special needs of the activities of the elderly. The method used is the process of applying an object approach designed with a literature study and precedent study approach. The design of the social facility "Geriatric Club House" uses an appropriate therapeutic architectural approach. The Geriatric Club House is a gathering place for people who have stable health conditions but need help with their daily activities and to improve their quality of life at the end of their lives. The concept of therapeutic architecture, especially elements of architectural therapy, is used in the design of this facility. This approach focuses on the design elements of the therapeutic architecture. Spatial planning is designed by taking into account safety standards for the elderly.  The building facade is designed using natural lighting and ventilation systems, thus creating a comfortable and healthy atmosphere. The use of coarse-fine materials is also considered in the design to provide beneficial sensory stimuli for the elderly. In addition, the garden is also presented as a medium for recovery and therapy. The application of a therapeutic architectural approach in this design can be felt by users, both the elderly and other visitors. This creates an empathetic architecture towards geriatricians, taking into account their needs and comforts. Keywords: club house; elderly; emphatic architecture; geriatric; therapeutic architecture Abstrak Perancangan rumah perkumpulan geriatri, dilatar belakangi oleh data statistik pertumbuhan lansia di Indonesia tepatnya di Kota Jakarta. Jumlahnya mencapai 9,2% dari total penduduk dan melebihi rata-rata nasional yang hanya sebesar 7%. Lalu, kurangnya fasilitas kebutuhan ruang sosial untuk meningkatkan kualitas hidup lansia di akhir masa hidupnya. Fasilitas pendukung kebutuhan tersebut harus mampu mewadahi dan memperhatikan kebutuhan standar maupun kebutuhan khusus dari kegiatan lansia. Metode yang digunakan adalah proses pengaplikasian dalam objek yang dirancang dengan pendekatan studi literatur dan studi preseden. Perancangan fasilitas sosial, Geriatric Club House menggunakan pendekatan arsitektur terapeutik yang tepat. Geriatric Club House adalah tempat berkumpul yang ditujukan untuk orang-orang yang memiliki kondisi kesehatan stabil namun membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari serta untuk meningkatkan kualitas hidup di akhir masa hidup mereka. Konsep arsitektur terapeutik, khususnya elemen-elemen terapi arsitektur, digunakan dalam perancangan fasilitas ini. Pendekatan ini berfokus pada elemen-elemen desain arsitektur terapi. Penataan ruang didesain dengan memperhatikan standar keamanan bagi lansia. Fasad bangunan dirancang dengan menggunakan sistem pencahayaan dan penghawaan alami, sehingga menciptakan suasana yang nyaman dan sehat. Penggunaan material yang kasar-halus juga dipertimbangkan dalam desain untuk memberikan stimulus sensorik yang bermanfaat bagi lansia. Selain itu, taman juga dihadirkan sebagai media pemulihan dan terapi. Penerapan konsep arsitektur terapeutik pada perancangan ini dapat dirasakan oleh para pengguna, baik lansia maupun pengunjung lainnya. Hal ini menciptakan arsitektur yang empatik terhadap geriatri, dengan memperhatikan kebutuhan dan kenyamanan mereka.