cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
MENGANGKAT ATRAKTOR BUDAYA DAN KOMUNITAS DI KAWASAN GLODOK UNTUK WADAH EKSPLORATIF KESENIAN DAN EDUKASI GENERASI MUDA Yordy Christian; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24259

Abstract

In looking at the developments that have occurred in the Glodok area until now there has been a degradation of Chinese culture which was caused by several aspects of the past, and cannot be separated from the role of the younger generation. Looking at what is there now, with the persistence of Chinese culture, one can see that empathy will be included in terms of cultural values that are passed on to the younger generation and become learning for all levels of society who are interested in more modernism as a form of renewal value. The role of architecture is needed in empathizing with the degraded Chinese culture in the Glodok Chinatown area. The method used to research the issues raised is a mixture of qualitative and quantitative cultural essence values which can later be contained as substance values in buildings and empathy for culture to be preserved. The empathy that is felt from the cultural degradation in the area will later be aimed at cultural actors, parents and the current generation who find it difficult to see the value of Chinese culture in Jakarta. The search is based on the early development of Chinese history in Jakarta. The selected site can respond to the issues raised regarding the degradation of Chinese culture and the problems that occur within the Glodok environment so that the site can have empathetic value conveyed in designing the building. The resulting spatial program responds to issues of cultural degradation that occur, recognition and preservation of culture as things to be emphatic. Keywords:  Chinese; culture; degradation; empathy; Glodok Abstrak Dalam melihat perkembangan yang terjadi di Kawasan Glodok hingga kini terjadi degradasi budaya Tionghoa yang diakibatkan beberapa aspek masa lampau, dan tidak terlepas juga dari peran generasi muda. Melihat apa yang ada sekarang dengan masih adanya ketahanan kebudayaan Tionghoa dapat dilihat empati akan masuk dalam hal nilai kebudayaan yang diwariskan ke generasi muda dan manjadi pembelajaran untuk semua lapisan masyarakat yang tertarik dalam lingkup hal yang lebih modernisme sebagai bentuk nilai pembaharuannya. Peran arsitektur dibutuhkan dalam berempati terhadap budaya Tionghoa yang terdegradasi di kawasan pecinan Glodok. Metode yang digunakan untuk meneliti perihal isu yang diangkat ialah campuran yakni kualitatif dan kuantitatif Nilai esensi kebudayaan yang nantinya dapat tertuang sebagai nilai substansi dalam bangunan dan empati terhadap budaya untuk dilestarikan. Empati yang dirasakan dari adanya degradasi budaya pada kawasan tersebut nantinya ditujukan kepada pelaku kebudayaan, orang tua dan generasi kini yang sulit melihat nilai budaya Tionghoa di Jakarta. Pencarian didasari perkembangan awal mula sejarah Tionghoa di Jakarta. Tapak yang dipilih dapat merespon mengenai isu yang diangkat tentang degradasi budaya Tionghoa dan permasalahan yang terjadi dalam lingkup Glodok sehingga tapak dapat mempunyai nilai empati yang disampaikan dalam mendesain bangunan. Program ruang yang dihasilkan merespon isu tentang degradasi budaya yang terjadi, pengenalan dan pelestarian budaya sebagai hal untuk diempatikan.
KAJIAN STRATEGI DESAIN JUHANI PALLASMA DALAM PERANCANGAN FASILITAS KESEHATAN MENTAL MAHASISWA Gabriella Angelene Sinanta; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24260

Abstract

A medical condition called depression can have a negative impact on a person's thoughts, behavior, emotions, and mental health. Currently, there is a significant increase in the number of depression cases among university students. The Research and Assessment Team (TRACK) of the Department of Studies and Strategic Action of BEM Faculty of Psychology UI 2019 found that two out of three UI students experience high psychological distress. Many adolescents suffer from depression, but few seek professional help because the negative stigma in society prevents them from getting the help they need. Limited counseling space is a problem because each individual has different needs in dealing with mental health problems. So this project is designed as a depression prevention and recovery facility for UI students by using the Juhani Pallasma design strategy as a design foundation using the Phenomenological observation method with observations and interviews with UI health clinics and the Behavioral Architecture design method to map the dominant depression problems in students. Then, through the Space Perception design concept to create an atmosphere that supports the recovery process. The purpose of this design is to create a facility that serves as a means of prevention and recovery for students who experience depression. This facility aims to change the negative views that may exist and increase public awareness about the importance of mental health issues. In addition, this facility also provides a space for them to reduce pressure and tension as a first step in dealing with depression or as part of the recovery process from depression. Keywords:  depression; juhani pallasma; prevention; recovery; UI students Abstrak   Kondisi medis yang disebut depresi dapat memiliki dampak negatif pada pikiran, perilaku, emosi, dan kesehatan mental seseorang. Saat ini, terdapat peningkatan yang signifikan dalam jumlah kasus depresi di antara mahasiswa. Tim riset dan Kajian (TRACK) Departemen Kajian dan Aksi Startegis BEM Fakultas Psikologi UI 2019 menemukan bahwa dua dari tiga mahasiswa UI mengalami psychological distress yang tinggi. Banyak remaja yang menderita depresi, tetapi sedikit yang mencari bantuan dari professional karena stigma negative di masyarakat menghambat mereka untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan. Ruang konseling yang terbatas menjadi permasalahan dikarenakan setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam menangani permasalahan kesehatan mentalnya. Sehingga proyek ini dirancang sebagai fasilitas pencegahan dan pemulihan depresi bagi mahasiswa UI dengan menggunakan strategi perancangan desain Juhani Pallasma sebagai landasan perancangan dengan menggunakan metode pengamatan Fenomenologi dengan observasi dan wawancara dengan klinik kesehatan UI serta metode desain Arsitektur Perilaku untuk melakukan pemetaan terkait permasalahan depresi yang dominan pada mahasiswa. Lalu, melalui konsep desain Space Perception agar tercipatanya suasana yang mendukung proses pemulihan. Tujuan dari rancangan ini adalah menciptakan fasilitas yang berfungsi sebagai sarana pencegahan dan pemulihan bagi mahasiswa yang mengalami depresi. Fasilitas ini bertujuan untuk mengubah pandangan negatif yang mungkin ada serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya isu kesehatan mental. Selain itu, fasilitas ini juga memberikan ruang bagi mereka untuk mengurangi tekanan dan ketegangan sebagai langkah awal dalam menghadapi depresi atau sebagai bagian dari proses pemulihan dari depresi.  
STRATEGI PEMBERDAYAAN PEMUDA TIDAK SEKOLAH DALAM MENDUKUNG PROGRAM KAMPUNG KITA DI KECAMATAN JATIUWUNG Nathasya Nathasya; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24261

Abstract

Youth not having access to school has become a pervasive problem in education systems around the world. While dropping out of school can result in high unemployment rates, especially in Indonesia. Responding to the challenges of this issue, a new strategy is needed to achieve the goal of reducing the unemployment rate as well as the dropout rate which is closely related to being empathetic towards it. in the manufacturing industry on the basis of empathy as spatial planning that adapts to the needs of the activities within it. By using quantitative and qualitative research methods, collecting data through a survey of empathy subjects, namely youth who have dropped out of school. Then a strategy can be produced to overcome this problem by designing a training and mentoring forum that embraces fields with a high proportion of workforce needs. Keywords:  dropout; empathy; manufacturing industry; training; unemployment Abstrak Pemuda yang tidak berkesempatan sekolah telah menjadi masalah yang meluas dalam sistem pendidikan di seluruh dunia. Sementara putus sekolah dapat mengakibatkan tingginya angka pengangguran, terutama di Indonesia. Menanggapi tantangan isu ini, diperlukan sebuah strategi baru dalam mencapai tujuan yaitu mengurangi angka pengangguran sekaligus angka putus sekolah yang berkaitan erat dengan bersikap empati terhadap hal tersebut.Tujuan dari perancangan penelitian strategi ini adalah untuk memberdayakan pemuda tidak sekolah untuk dapat merencanakan karir dengan memanfaatkan kebutuhan urgensitas di industri manufaktur dengan dasar empati sebagai perencanaan ruang yang menyesuaikan dengan kebutuhan aktivitas di dalamnya. Dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, mengumpulkan data melalui survey terhadap subjek empati yaitu pemuda putus sekolah. Maka dapat dihasilkan sebuah strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah merancang sebuah wadah pelatihan dan pendampingan yang merangkul bidang dengan kebutuhan proporsi tenaga kerja tinggi.  
POTENSI RELOKASI PKL KEBON KACANG SEBAGAI LAPANGAN KERJA YANG LAYAK DENGAN KONSEP MOVEABLE ARCHITECTURE DI JALAN TELUK BETUNG BOULEVARD Alexander Jaya Kusli; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24262

Abstract

The addition of street vendors or PKL in metropolitan cities in Indonesia is increasing over time. The existence of these street vendors is often described with negative impressions. One of them is the existence of Kebon Kacang street vendors or better known as “GI Side” street vendors. This roadside hawker plays an important role in the survival of the area and the daily life of its people. Therefore, DKI Jakarta Government's decision to evict the Kebon Kacang street vendors in early 2023 is considered unethical and detrimental to many parties. Through this research, the authors conducted a study through an empathetic architectural approach to find the best solution for the Kebon Kacang street vendors. From the results, the proposed solution was in the form of a Kebon Kacang street vendor relocation project which was previously located on Jl. Kebon Kacang Raya to Jl. Teluk Betung Boulevard which is located not far from the initial location. The relocation of street vendors is considered to be able to solve the problems while still being empathetic to the needs of traders and the community. In addition, to overcome the problem of land prices that are not proportional to the income, Moveable Architecture concept is applied in the design to create projects that are non-permanent and help project and site flexibility. Taking into account of robustness, resistance to climate and weather, as well as efficiency in the moving process, the resulting project uses shipping container as the main module in forming the mass compositions. Keywords:  culinary; moveable architecture; relocation; shipping container; street vendor Abstrak Penjamuran pedagang kaki lima atau PKL di kota-kota metropolitan di Indonesia seiring waktu semakin meningkat. Keberadaan PKL ini sering kali digambarkan dengan kesan negatif. Salah satu diantaranya adalah keberadaan PKL Kebon Kacang atau yang lebih dikenal sebagai PKL “Samping GI”. Kawasan jajanan pinggir jalan ini berperan penting dalam kelangsungan hidup kawasan serta kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Oleh karena itu, keputusan Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan penggusuran PKL Kebon Kacang pada awal tahun 2023 dinilai tidak etis dan merugikan banyak pihak. Melalui penelitian ini, penulis melakukan studi melalui pendekatan arsitektur empati untuk menemukan solusi terbaik bagi para PKL Kebon Kacang. Dari hasil studi, penyelesaian yang diajukan berupa proyek relokasi PKL Kebon Kacang yang sebelumnya berada di Jl. Kebon Kacang Raya ke Jl. Teluk Betung Boulevard yang terletak tidak jauh dari lokasi awal. Relokasi PKL dinilai dapat menyelesaikan permasalahan yang ada namun tetap berempati terhadap kebutuhan para pedagang dan masyarakat sekitar. Selain itu, untuk mengatasi permasalahan harga tanah yang tidak sebanding dengan pendapatan pedagang, konsep Arsitektur Bergerak diterapkan dalam desain untuk menghasilkan proyek yang bersifat non-permanen dan membantu fleksibilitas proyek dan tapak. Dengan mempertimbangkan faktor kekokohan, ketahanan terhadap iklim dan cuaca, serta efisiensi dalam proses perpindahan, proyek yang dihasilkan menggunakan modul kontainer sebagai modul utama dalam pembentukan gubahan massa.  
RETHINKING TYPOLOGY DESAIN RUANG KERJA DENGAN PENDEKATAN PANCA INDERA Jason Brilliando; James Erich D. Rilatupa
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24263

Abstract

Over time, the trend of working remotely, or what is commonly known as remote working is increasing. Work is an effort made to make a living from a financial standpoint. When working, workers often experience stress. A survey conducted by SIRCLO in October 2020 showed that around 50% of workers in Indonesia experience stress during WFH activities. The high number of work stress that occurs makes the issue of work stress cannot be ignored. The latest workspace design typologies, developing technology, and the internet have led to the option of working remotely so the need for flexible workspaces for workers and workers' welfare conditions are the main considerations in this era. However, the fact that 50% of workers experience work stress indicates that the workspace design is not optimal. The purpose of this writing is to create a workspace design that can relieve work stress and increase work productivity with a five-sensory approach. Humans can feel the space around them because of the five senses that receive information, such as color, sound, texture, temperature, darkness, and light space. This information will be received by the brain and affect emotions. The design method used is the multisensory design method and rethinking typology to assist the authors in producing designs. The research was conducted using qualitative research methods with the hope of finding office design elements to update existing standards. Keywords:  multi-sensory; remote workers; stress; typology; work space Abstrak   Seiring berjalannya waktu, tren bekerja jarak jauh atau yang biasa dikenal dengan remote working semakin meningkat. Bekerja adalah usaha yang dilakukan untuk menyambung kehidupan dari sisi finansial. Saat bekerja, pekerja sering kali mengalami stres. Survei yang dilakukan oleh SIRCLO pada bulan Oktober 2020 menunjukkan bahwa sekitar 50% pekerja di Indonesia mengalami stres selama kegiatan WFH. Tingginya angka stres kerja yang terjadi membuat isu stres kerja tidak dapat diabaikan. Tipologi desain ruang kerja terkini, teknologi dan internet yang berkembang menyebabkan opsi bekerja jarak jauh sehingga perlunya ruang kerja yang fleksibel bagi pekerja dan kondisi kesejahteraan pekerja menjadi pertimbangan utama pada era ini. Namun, fakta bahwa 50% pekerja mengalami stres kerja menunjukkan bahwa desain ruang kerja belum optimal. Tujuan penulisan ini adalah membuat desain ruang kerja yang dapat meredakan stres kerja dan meningkatkan produktivitas kerja dengan pendekatan panca indera. Manusia dapat merasakan ruang di sekitarnya karena panca indera yang menerima informasi, misalnya warna, suara, tekstur, suhu, gelap dan terang suatu ruang. Informasi-informasi tersebut akan diterima oleh otak dan memberikan pengaruh terhadap emosi. Metode desain yang digunakan adalah metode multisensory design dan rethinking typology untuk membantu penulis dalam menghasilkan desain. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian kualitatif dengan harapan menemukan elemen perancangan kantor untuk memperbaharui standar yang ada.
PENGARUH PERANCANGAN WARNA INTERIOR RUMAH SAKIT HEWAN TERHADAP PEMULIHAN KONDISI PSIKOLOGIS HEWAN PELIHARAAN Mohammad Iqbal; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24265

Abstract

Pet ownership has become a new trend in Indonesia in recent years, including married couples choosing to own pets. Most couples want a pet because it can provide emotional warmth and a loyal friend. Pets such as dogs or cats can provide unconditional love and become beloved members of the family. Raising a pet requires attention and responsibility. Couples who decide to have a pet must be responsible for the care and basic needs of their pet. The availability of information about the benefits and needs of pets on online platforms has sparked the interest of many married couples in pets. However, raising pets for married couples in Indonesia also has several challenges, such as: Maintenance costs and lack of adequate animal healthcare services and facilities. Therefore, it is important for couples to think carefully before getting a pet and make sure they are prepared to give their pet the care and responsibility it needs. Pet abandonment can be caused by several factors such as; the pet owner's ignorance of the pet owner's obligations, difficulties in care and costs, or problems related to the animal's health or inappropriate behavior. The vulnerable conditions to which pets are exposed can be extremely hazardous to the health and welfare of the animals themselves and threaten the health and safety of humans and the environment. Abandoned pets can transmit various diseases to other animals and humans. Abandoned animals are also more susceptible to disease due to a lack of vaccinations and proper healthcare. Abandoned pets can damage the environment, such as plants and buildings. Basic needs not met: Abandoned pets may not have enough food, water, safe shelter or medical attention. Keywords: abandoned; animal healthcare; pets; welfare Abstrak   Kepemilikan hewan peliharaan menjadi tren baru di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pasangan suami istri yang memilih untuk memiliki hewan peliharaan. Kebanyakan pasangan menginginkan hewan peliharaan karena dapat memberikan kehangatan emosional dan sahabat yang setia. Hewan peliharaan seperti anjing atau kucing dapat memberikan cinta tanpa syarat dan menjadi anggota keluarga tercinta. Membesarkan hewan peliharaan membutuhkan perhatian dan tanggung jawab. Pasangan yang memutuskan untuk memiliki hewan peliharaan harus bertanggung jawab atas perawatan dan kebutuhan dasar hewan peliharaannya. Ketersediaan informasi tentang manfaat dan kebutuhan hewan peliharaan di platform online memicu minat banyak pasangan suami istri terhadap hewan peliharaan. Namun memelihara hewan peliharaan untuk pasangan suami istri di Indonesia juga memiliki beberapa tantangan, seperti: Biaya pemeliharaan dan kurangnya pelayanan dan fasilitas kesehatan hewan yang memadai. Oleh karena itu, penting bagi pasangan untuk berpikir dengan hati-hati sebelum memelihara hewan peliharaan dan memastikan mereka siap memberikan perawatan dan tanggung jawab yang dibutuhkan hewan peliharaan mereka. Pengabaian hewan peliharaan dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti; ketidaktahuan pemilik hewan peliharaan tentang kewajiban pemilik hewan peliharaan, kesulitan dalam perawatan dan biaya, atau masalah yang berkaitan dengan kesehatan atau perilaku hewan yang tidak sesuai. Kondisi rentan dimana hewan peliharaan terpapar bisa sangat berbahaya bagi kesehatan dan kesejahteraan hewan itu sendiri serta mengancam kesehatan dan keselamatan manusia dan lingkungan. Hewan peliharaan yang terbengkalai dapat menularkan berbagai penyakit ke hewan lain dan manusia. Hewan terlantar juga lebih rentan terhadap penyakit karena kurangnya vaksinasi dan perawatan kesehatan yang tepat. Hewan peliharaan yang terbengkalai dapat merusak lingkungan, seperti tanaman dan bangunan. Kebutuhan dasar tidak terpenuhi: Hewan peliharaan terlantar mungkin tidak memiliki cukup makanan, air, tempat berlindung yang aman, atau perhatian medis.  
PERAN DESAIN BIOFILIK TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS HIDUP LANSIA Carissa Bella Levaldrik; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24268

Abstract

Globally, there has been a demographic change in which the elderly population is increasing. Indonesia itself has entered the old population structure since 2021. So that the health and welfare of the elderly is one of the important things in current social problems. One way to help the elderly achieve Healthy Aging is to provide opportunities for the elderly to be able to stay active and have interactions with other people. Research shows that having contact with nature can be beneficial for improving human mood, cognition and health to improve human quality of life. However, not all elderly people have easy access to nature, so assistance is needed, such as using the concept of biophilic design in design. Biophilic design is a form of architectural design that considers humans as organisms and focuses on efforts to achieve happiness and well-being through the mental and physical aspects of the body. The purpose of this research is to find out the relationship between nature and humans and the impact of biophilic design in improving the quality of life of the elderly and how to apply the principles of biophilic design in design so that it can benefit the elderly. The method used is the case study method which analyzes 2 case studies using the principles of biophilic design by Stephen Kellert in the book Nature by Design: The Practice of Biophilic Design. Data collection was carried out through literature studies in the form of data and reports that can support this research topic. The results showed that biophilic design can create different experiences and spatial atmospheres according to the application of attributes in the principles of biophilic design. In addition, biophilic design can present the presence of nature which can improve the quality of life of the elderly. Keywords:  biophilic; biophilic design; elderly; nature Abstrak   Secara global, telah terjadi perubahan demografi dimana penduduk lanjut usia semakin meningkat. Indonesia sendiri telah memasuki struktur penduduk tua sejak tahun 2021. Sehingga kesehatan dan kesejahteraan hidup lansia menjadi salah satu hal penting dalam masalah sosial saat ini. Salah satu cara untuk membantu lansia mencapai Healthy Ageing adalah dengan memberikan kesempatan bagi lansia untuk bisa tetap aktif dan memiliki interaksi dengan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa memiliki kontak dengan alam dapat bermanfaat untuk memperbaiki suasana hati, kognisi dan kesehatan manusia sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun, tidak semua lansia memiliki akses yang mudah terhadap alam, sehingga diperlukan adanya bantuan seperti menggunakan konsep desain biofilik dalam perancangan. Desain biofilik merupakan suatu bentuk desain arsitektur yang menganggap manusia sebagai organisme dan berfokus pada upaya mencapai kebahagiaan serta kesejahteraan melalui aspek mental dan fisik tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara alam dan manusia serta dampak dari desain biofilik dalam meningkatkan kualitas hidup lansia dan cara mengaplikasikan prinsip-prinsip desain biofilik dalam perancangan sehingga bisa bermanfaat bagi lansia. Untuk metode yang digunakan adalah metode studi kasus yang menganalisis 2 studi kasus menggunakan prinsip-prinsip desain biofilik oleh Stephen Kellert dalam buku Nature by Design: The Practice of Biophilic Design. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur berupa data dan laporan yang dapat mendukung topik penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan desain biofilik dapat menciptakan pengalaman dan suasana ruang yang berbeda sesuai dengan pengaplikasian atribut dalam prinsip desain biofilik. Selain itu, desain biofilik dapat menghadirkan keberadaan alam yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.
PERUBAHAN RUANG-RUANG KELAS TERKAIT PERKEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN PADA ERA DIGITAL Ione Susanto; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24269

Abstract

Currently, Indonesia is in a relatively low position in the field of education. Indonesian students have lagged far behind other countries in the quality of education. This lag has been increasingly felt since we entered the digital era. The government's efforts to improve the quality of education in Indonesia start with improving the education curriculum to adapt to the digital era. However, not only the education system has changed but also the students and teachers. Changes in learning character and student needs are the main factors. When combining places, activities, and actors, current school facilities are still unable to support learning with changes that occur in actors and curriculum. Schools as an important aspect of learning continue to be built to embrace the increasing number of students. Currently, changes that are occurring to students and the curriculum also make school effectiveness questionable, because schools are currently unable to accommodate the needs of students with a new learning system. The purpose of this study is to determine the design of classrooms that are by the development of the learning system in the digital era. The method used in this research is a case study in classrooms in the digital era. Data collection is done through literature studies such as databases, reports, or articles that are relevant to the research topic. Keywords:  classroom; digital age; learning system Abstrak   Saat ini Indonesia sedang berada pada posisi yang relatif rendah dalam bidang pendidikan. Siswa Indonesia telah tertinggal jauh dengan negara lain dalam kuliatas pendidikan. Ketertinggalan tersebut semakin terasa sejak kita memasuki era digital. Upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dimulai dari membenahi kurikulum pendidikan menyesuaikan dengan era digital. Namun, tidak hanya sistem pendidikan saja yang berubah tapi juga dengan siswa dan gurunya. Perubahan karakter belajar dan kebutuhan siswa menjadi faktor utama. Ketika menggabungkan tempat, kegiatan, dan pelaku, fasilitas sekolah saat ini masih belum dapat mendukung pembelajaran dengan perubahan yang terjadi pada pelaku dan kurikulum. Sekolah sebagai aspek penting dalam pembelajaran terus dibangun guna merangkul jumlah siswa yang kian meningkat, saat ini perubahan yang terjadi pada siswa dan kurikulum juga membuat efektivitas sekolah dipertanyakan, karena nyatanya sekolah saat ini belum mampu mewadahi kebutuhan siswa dengan sistem pembelajaran baru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perancangan ruang kelas yang sesuai perkembangan sistem pembelajaran pada era digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus pada ruang kelas pada era digital. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur seperti basis data, laporan, atau artikel yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara perubahan sistem pembelajaran dengan kebutuhan ruang pembelajaran.
KETAHANAN PANGAN DAN FASIILITAS BUDIDAYA CACING KAMPUNG CACING Muhammad Akbar Husaini; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24270

Abstract

In the current global era, a country cannot meet its food needs only from domestic food production so that when a global food crisis occurs, the country's food needs are threatened. country. Because by developing and maintaining domestic food production can help in food security. Meanwhile, FAO said that in 2023 there will be an increased possibility of a global food crisis, besides that at the G20 event, food security will be one of the points of discussion. Some components of human nutritional needs are carbohydrates, fiber, fat, vitamins and protein. Fish is a source of protein whose consumption is quite significant in Indonesia. So that the ability to produce protein sources is important to maintain. One component that is often overlooked in food security is fish seed feed, fish seed feed is very influential in the development process of cultivated fish. One form of seed feed is Tubifex sp worms. In the city of Tangerang, to be precise, on the outskirts of the Cisadane river, there are worm seekers who supply freshwater fish farming sites, but the results of searching for worms are erratic due to the condition of the river currents. In addition, the number of worms in the river continues continuously taken there is a possibility that it will decrease or until there is no more. This problem is the subject of empathy in this project. Keywords:  cultivation; food; resilience; Tubifex sp; village; worm Abstrak   Pada masa yang global saat ini suatu negara tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan nya hanya dari produksi pangan dalam negri sehingga ketika terjadi krisis pangan global kebutuhan pangan negara menjadi terancam, Sehingga jika terjadi krisis global suatu negara tentunya akan terpengaru secara buruk jika tidak mempersiapkan produksi pangan dalam negri. Oleh karena  dengan mengembangkan dan menjaga produksi pangan dalam negri dapat membantu dalam ketahanan pangan. Sementara itu FAO mengatakan pada tahun 2023 akan terjadi meningkatnya kemungkinan terjadinya krisis pangan global selain itu pada acara G20 ketahanan pangan menjadi salah satu point pembahasaan. Beberapa komponen kebutuhan gizi manusia adalah karbohidrat, serat, lemak, citamin dan protein. Ikan menjadi salah satu sumber protein yang konsumsinya cukup signifikan di indonesia. Sehingga kemampuan memproduksi sumber protein tersebut menjadi hal yang pentinng untuk dijaga. Salah satu komponen yang sering dilupakan pada ketahanan pangan adalah pakan bibit ikan, pakan bibit ikan menjadi hal yang sangat berpengaruh pada proses perkembangan ikan budidaya. Salah satu bentuk pakan bibit adalah cacing Tubifex sp. Di kota tangerang tepatnya di pinggiran sungai Cisadane terdapat pencari cacing yang memasok tempat budidaya ikan air tawar, namun hasil dari pencarian cacing tidak menentu karena kondisi arus sungai, selain itu jumlah cacing di sungai jika terus menerus diambil ada kemungkinan akan berkurang atau samapai tidak ada lagi. Masalah tersebut yang menjadi subjek empati pada proyek ini.
EMPATI DI KAMPUNG SAWAH TERHADAP PERKEMBANGAN KAWASAN DI ABAD KE 21 MELALUI PROYEK MUSEUM Andhika Nicholas; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24271

Abstract

The area of Kampung Sawah used to be covered by rice fields, now it has turned into a luxurious residential area for the residents of Bekasi City. This area has long been known for its agricultural products which have the potential to be the main livelihood for the local population. To avoid the potential of the area being forgotten over time, it is necessary to build a building that can save the movement from time to time in the Kampung Sawah area. The building is in the form of a museum which contains the history and development of agriculture in the Kampung Sawah area. It is hoped that the museum project can become a place to store stories of the development and culture of the Kampung Sawah area from time to time, commemorate and introduce agricultural potential and its products and introduce agriculture in Kampung Sawah to the younger generation as a means of village potential and education for the wider community. The agricultural museum is a place to study the agricultural history of Kampung Sawah, from traditional to modern farming tools, farming techniques methods, etc. In the long run, the Kampung Sawah Agricultural Museum project can become an educational tourist spot for local people and also outside the region. Keywords:  agricultural; farmer; museum; Sawah Village Abstrak   Wilayah Kampung Sawah dulu wilayahnya ditutupi oleh sawah-sawah sekarang sudah berubah menjadi pemukiman mewah warga Kota Bekasi. Sejak dulu kawasan ini dikenal dengan hasil pertaniannya yang berpotensi sebagai mata pencaharian utama bagi penduduk setempat. Untuk menghindari potensi kawasan menjadi terlupakan seiring baerjalannya waktu, maka dibutuhkan membangun suatu bangunan yang dapat menyimpan pergerakan dari masa ke masa wilayah Kampung Sawah. Bangunan berupa sebuah museum yang berisi mengenai sejarah dan perkembangan pertanian di wilayah Kampung Sawah. Diharapakan proyek museum dapat menjadi tempat untuk menyimpan cerita perkembangan dan budaya wilayah Kampung Sawah dari masa ke masa, mengenang dan memperkenalkan potensi pertanian dan hasilnya serta mengenalkan pertanian di Kampung Sawah kepada generasi muda sebagai sarana potensi desa dan edukasi bagi masyarakat luas. Museum pertanian menjadi tempat untuk mempelajari sejarah pertanian Kampung Sawah, mulai dari alat pertanian tradisional hingga modern, metode teknik  bercocok tanam, dll. Dalam jangka panjang, proyek Museum Pertanian Kampung Sawah dapat menjadi tempat wisata edukasi bagi masyarakat lokal dan juga luar daerah.