cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
METODE WALDORF PEDAGOGY DALAM TAHAP PENDEKATAN DESAIN WADAH PENGEMBANGAN KETERAMPILAN ANAK PEMULUNG Adi Chandra; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24221

Abstract

The phenomenon of children working on the streets is a global phenomenon. The number of working children as scavengers in Jakarta, according to BPS in 2022, recorded 289 children with an average age of 6 to 18 years. North Jakarta, Cilincing District, is the largest contributor, with 48 percent. The main factor in child development that is not fulfilled educationally, spiritually, physically, or socially is the economic condition of the family. Insufficient economic problems require that parents include their children to work and make children a medium to earn money for survival. Children living in poverty are often trapped in a situation full of suffering and a bleak future and think that education is no longer important to them. this will continue to happen, and will continue to experience social inequality. This study aims to provide the right solution to breaking the cycle of poverty through empathetic architecture and the Waldorf pedagogy approach that puts forward three aspects of the user that are interrelated between children, parents, and nature. Therefore a concept is produced that can accommodate and provide practical skills training with the abilities they have and are interested in and develop children to the stage of the world of work so they can earn a decent living with the talents they have in the future. Keywords: Child Labor, Scavengers, Skills, Waldorf Pedagogy Abstrak Fenomena anak-anak bekerja di jalanan merupakan suatu gejala global. Tercatat Jumlah anak pekerja sebagai pemulung di Jakarta menurut BPS pada tahun 2022 terdapat 289  anak dengan rata-rata usia 6 sampai 18 tahun. Jakarta Utara, Kecamatan Cilincing merupakan penyumbang terbesar dengan angka 48 persen. Faktor utama perkembangan anak yang tidak terpenuhi secara edukasi, rohani, jasmani maupun sosial yaitu kondisi ekonomi keluarga. Permasalahan ekonomi yang tidak mencukupi mengharuskan mereka para orang tua mengikutsertakan anak untuk bekerja dan menjadikan anak sebagai media untuk mencari uang demi keberlangsungan hidup. Anak-anak yang hidup dalam kemiskinan sering kali terperangkap dalam situasi penuh penderitaan serta masa depan yang suram dan mengganggap pendidikan tidak lagi penting bagi mereka. hal tersebut akan terus terjadi dan akan terus mengalami ketimpangan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi tepat dalam memutuskan mata rantai lingkaran kemiskinan mereka melalui arsitektur yang berempati dan pendekatan metode waldorf pedagogy yang mengedepankan ketiga aspek user yang saling berkaitan antara anak, orang tua, dan alam. Maka dari itu dihasilkan konsep yang dapat mewadahi serta memberikan sebuah pelatihan keterampilan praktis dengan kemampuan yang mereka miliki dan minati serta mengembangkan para anak-anak ketahap dunia kerja dan agar dapat memperoleh penghidupan yang layak dengan kemampuan bakat yang mereka miliki dimasa mendatang.
PASAR ASEMKA JALAN LAYANG: KEKACAUAN DAN DISRUPSI YANG MENGHIDUPKAN KARAKTER RUANG PASAR ANALOG DI ERA DIGITAL Catherine Tjen; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24222

Abstract

Around 6.7 million or 57% of market traders who were still operating reported a decrease in income of around 70%-90% compared to the normal situation because people's behavior began to shift from buying offline to online, causing economic disruption. Limited land in areas busy with economic traffic makes traders must find ways to survive. Asemka Market is one of the locations experiencing a similar situation. Pasar Asemka is famous for its wholesale center for goods, now accessories have decreased, especially with the inconvenience and mismatch between sellers and buyers in carrying out buying and selling activities better and more effectively. This research breaks through how sellers in the analog market can survive and buyers can feel more comfortable in shopping at the analog market with the character of a market space that is generally considered messy and messy. The aim of the research is to trace messiness and disruption as spatial characters of Asemka Market using observational methods along with documentation to find out the trading system, activities, and behavior of sellers in Asemka Market, activities and behavior of buyers who come, what goods are sold, and how circulation is carried out. what happened in Asemka Market and its surroundings. So that the characteristics and categories of sellers and buyers there can be applied to designs such as the flexibility of materials that help traders to create merchandise and become prototypes that can be used for empty areas that occur in big cities can be effective. As well as the comfort of circulation and the accessibility of migrants and buyers in the market and its surroundings, more attention is paid so as not to offend passing vehicles. Additional functions are also implemented so that the market can have life in some of its parts and provide other experiences for newcomers who visit. Keywords: Disruption; Messiness; Market; Redefine; Redesign Abstrak Sekitar 6,7 juta atau 57% pedagang pasar yang masih beroperasi melaporkan penurunan pendapatan sekitar 70%-90% dibandingkan dengan situasi normal karena perilaku masyarakat yang mulai bergeser dari kebiasaan membeli secara offline menjadi cenderung online menyebabkan disrupsi ekonomi. Keterbatasan lahan di area ramai lalu lintas ekonomi membuat para pedagang harus mencari cara untuk tetap bertahan hidup Pasar Asemka menjadi salah satu lokasi yang mengalami hal yang serupa. Pasar Asemka terkenal akan pusat grosir barang aksesoris kini mengalami penurunan terutama dengan ketidaknyamanan dan ketidaksesuaian ruang penjual dan pembeli dalam melakukan aktivitas jual beli dengan lebih baik dan efektif. Pada penelitian ini mempertanyakan bagaimanakah cara agar penjual di pasar analog tetap dapat bertahan dan pembeli dapat merasa lebih nyaman dalam berbelanja ke pasar analog dengan karakter ruang pasar yang umumnya dianggap kacau dan berantakan. Tujuan penelitian adalah untuk menelusuri messiness dan disrupsi sebagai karakter ruang dari Pasar Asemka dengan menggunakan metode pengamatan beserta dokumentasi untuk mengetahui sistem berdagang, aktivitas, dan perilaku penjual di Pasar Asemka, aktivitas dan perilaku pembeli yang datang, barang apa saja yang dijual, dan bagaimana sirkulasi yang terjadi di Pasar Asemka dan sekitar. Sehingga ciri-ciri dan kategori penjual dan pembeli disana dapat diterapkan pada desain seperti fleksibilitas bahan yang membantu para pedagang untuk menkreasikan barang dagang dan menjadi prototipe yang bisa digunakan bagi area kosong yang terjadi di kota-kota besar dapat efektif. Serta kenyamanan sirkulasi dan pencapaian pendatang dan pembeli didalam pasar dan disekitar lebih diperhatikan agar tidak menyinggung kendaraan yang lewat. Penambahan fungsi-fungsi juga diterapkan agar pasar dapat memiliki kehidupan dibeberapa potongannya dan memberikan pengalaman lain bagi para pendatang yang berkunjung.
KONSEP INTERGENERATIONAL DAN GEROTRANSCENDENCE PADA PERANCANGAN TEMPAT KETIGA BAGI LANSIA PENSIUNAN DI JAKARTA Qimberly Yonata Johan; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24228

Abstract

The daily differences between workers and the elderly make it difficult for a retiree to adapt. This can cause the elderly to feel isolated and become stressed. The aging process which has an impact on the physical and psychological condition of an elderly person is also a limitation for the retired elderly to be able to carry out productive activities. Because of these conditions, the elderly are often considered vulnerable and weak, when in fact there are still many elderly who are able and want to do activities productively. The elderly themselves still have social responsibilities towards other generations, whereas an elderly person should guide the next generation based on the experiences they have. Therefore, currently we need a place for the elderly to retire in urban areas to be able to carry out their activities productively and carry out their role as the person in charge of intergeneration. This study uses a qualitative approach, which is obtained based on literacy of urban elderly, intergenerational, and third place architecture, observations and interviews of retired elderly in the Jabodetabek area. The findings obtained are in the form of the role of the elderly in the social life of the community as a syntonist between generations which makes people's lives harmonious. This role makes the elderly have a response in the form of caring or generativity towards the next generation. The existence of an important responsibility towards society makes the elderly feel gerotranscendence, where they can see the aging process as something positive. In daily life, the space used by the elderly is also inaccurate due to collapsed places. This causes adjustments to their own third places. Thus, the resulting program design will have spatial and spatial proximity between the first, second, and third places. Keywords:  elderly; generativity; gerotranscendence; intergenerational; third place Abstrak Perbedaan keseharian yang dimiliki oleh seorang pekerja dan lansia mengakibatkan seorang pensiunan terkadang sulit untuk dapat beradaptasi. Hal ini dapat menyebabkan lansia merasa terisolasi dan menjadi stress. Proses penuaan yang berdampak pada kondisi fisik dan psikis seorang lansia juga menjadi sebuah keterbatasan bagi lansia pensiunan untuk dapat beraktivitas secara produktif. Karena kondisi tersebut, sering kali lansia dianggap rentan dan lemah, padahal nyatanya masih banyak lansia yang mampu dan ingin beraktivitas secara produktif. Lansia sendiri masih memiliki tanggung jawab secara sosial terhadap generasi lainnya, dimana seorang lansia harusnya membimbing generasi selanjutnya berdasarkan pengalaman yang mereka miliki. Maka dari itu, saat ini diperlukan sebuah wadah bagi lansia pensiun di area urban untuk dapat beraktivitas secara produktif dan menjalankan perannya sebagai penanggung jawab dari intergenerasi. Penelitian ini menggunakan pendakatan secara kualitatif, yang diperoleh berdasarkan literasi terhadap lansia urban, intergenerasi, dan arsitektur third place, observasi serta wawancara terhadap lansia pensiun di area Jabodetabek. Temuan yang didapatkan berupa peran lansia dalam kehidupan sosial masyarakat sebagai sintonis antar generasi yang membuat kehidupan masyarakat menjadi harmonis. Peran ini membuat lansia memiliki respons berupa kepedulian atau generativity terhadap generasi selanjutnya. Adanya tanggung jawab yang penting terhadap masyarakat membuat lansia merasakan gerotranscendence, di mana mereka dapat melihat proses penuaan sebagai sesuatu yang positif. Dalam kesehariannya, ruang yang digunakan oleh lansia juga sudah tidak akurat karena terjadi collapsed places. Hal ini menyebabkan harus adanya penyesuaian terhadap third places mereka sendiri. Dengan demikian, rancangan program yang dihasilkan akan memiliki kedekatan ruang dan tempat antara tempat pertama, kedua, dan ketiga.
KONSEP SENSORIS TERAPEUTIK ARSITEKTUR PADA PERANCANGAN PLAYSCAPE BAGI ANAK TUNAGRAHITA Jessica Juan Haryanto; Olga Nauli Komala
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24232

Abstract

Children with intellectual retardation, including mentally retarded children, still do not have equal opportunities to acquire the same basic life skills as other children. Lack of function in the design of both indoor and outdoor spaces can hinder children's participation in school and can reduce their quality of life. This research will examine the design of play and learning spaces for mentally retarded children that are appropriate and in accordance with differences in sensory and motor responses. The method in this research is to use a descriptive research method with a qualitative approach that focuses on problems and facts found through observation and observation. In solving the problem the approach used in this design is through a sensory therapeutic architectural approach, namely by absorbing the environment and focusing on humans through the five senses. It is hoped that this multisensory approach will lead to better development in promoting social, cognitive and emotional development and encouraging them to engage easily in society. Keywords:  architectural; education; mental retardation; sensory therapeutic Abstrak Anak-anak dengan kondisi keterbelakangan intelektual termasuk anak tuna grahita masih tidak memiliki kesempatan yang setara untuk memperoleh keterampilan hidup dasar yang sama dengan anak lainnya. Minimnya fungsi dalam desain baik ruang dalam maupun ruang luar yang sesuai dapat menghalangi partisipasi anak di sekolah dan dapat menurunkan kualitas hidup mereka. Penelitian ini akan mengkaji perancangan ruang bermain dan belajar bagi anak tunagrahita yang layak dan sesuai dengan perbedaan dalam respons sensorik dan motorik. Metode dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang difokuskan pada permasalahan dan fakta yang ditemukan melalui pengamatan dan observasi. Dalam penyelasaian masalah pendekatan yang digunakan dalam perancangan ini adalah melalui pendekatan sensori terapeutik arsitektur, yaitu dengan mengedepankan lingkungan dan berfokus pada manusia melalui panca indera. Pendekatan multisensor ini diharapkan akan mengarah pada pengembangan yang lebih baik dalam mempromosikan perkembangan sosial, kognitif, dan emosional  serta mendorong mereka untuk terlibat dengan mudah dalam masyarakat.
STRATEGI DESAIN DALAM MENINGKATKAN KENYAMANAN DALAM PERANCANGAN FASILITAS PUSAT RELAKSASI Michelle Ham; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24233

Abstract

Stress is a natural thing experienced by humans and needs to be dealt with before it becomes something more negative. One of the common factors for increased stress is the COVID-19 pandemic that is sweeping the world. In addition, space comfort during stress reduction activities also plays an important role in optimizing the effects of these activities. Therefore this study aims to find out how to deal with low to moderate levels of stress and how to design a comfortable space for stress reduction activities in a relaxation center. The research was conducted using the case study method with the following indicators: 1) Buildings prioritize total sensory experience; 2) Buildings are aimed at users with low and moderate levels of stress; 3) The building has a program related to relaxation activities; 4) Buildings have spaces for social interaction; 5) The building has a visual relationship with nature, natural elements, and organic form as a parameter of comparison. The conclusion of the research states that low to moderate levels of stress can be handled with stress management techniques, which are ways to relieve stress through activities such as yoga, meditation, or therapy. Then architectural design that emphasizes comfort in a relaxation center can be done by applying biophilic design in the big concept of therapeutic architecture. Keywords: biophilic design; stress management techniques; stress; therapeutic architecture Abstrak Stres merupakan hal yang wajar dialami oleh manusia dan perlu ditangani sebelum menjadi hal yang lebih negatif. Salah satu faktor umum bertambahnya stres adalah pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Selain itu, kenyamanan ruang selama aktivitas penurunan stres juga berperan penting dalam mengoptimalkan efek dari kegiatan tersebut. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara menangani stres tingkat rendah hingga sedang dan bagaimana merancang ruang yang nyaman bagi aktivitas penurunan stres dalam pusat relaksasi. Penelitian dilakukan dengan cara menggunakan metode studi kasus dengan indikator berikut: 1) Bangunan mengutamakan pengalaman sensori total; 2) Bangunan ditujukan terhadap user dengan stres tingkat rendah dan sedang; 3) Bangunan memiliki program yang berkaitan dengan kegiatan relaksasi; 4) Bangunan memiliki ruang untuk berinteraksi sosial; 5) Bangunan memiliki hubungan visual dengan alam, unsur alami, dan berbentuk organik sebagai parameter komparasi. Kesimpulan dari penelitian menyatakan bahwa stres tingkat rendah hingga sedang dapat ditangani dengan teknik manajemen stres, yaitu cara meredakan stres lewat kegiatan seperti yoga, meditasi, atau terapi. Kemudian perancangan arsitektur yang mementingkan kenyamanan dalam pusat relaksasi dapat dilakukan dengan menerapkan desain biofilik dalam konsep besar arsitektur terapeutik.
STRATEGI DESAIN DALAM MENGHIDUPKAN KEBUDAYAAN BETAWI Rebecca Cendra; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24234

Abstract

The rampant developments in the capital city seem to be a disaster that has eroded Betawi culture. Many Betawi people have had to let go of their land and move to the outskirts of Jakarta. Without realizing it, this turned out to have caused the Betawi arts and traditions to fade away. Therefore, this study aims to determine architectural design strategies that can maintain the existence of Betawi culture. The method used is qualitative with data collection techniques through observation of secondary data. The data obtained were then analyzed descriptively using indicators: 1) Location suitability; 2) The mass layout pattern of buildings and spaces according to the locality; 3) Materials that reflect locality; 4) The shape and visual of the building considering the locality; and 5) Space program that is able to accommodate the demands of needs and accommodate cultural activities. The results of the research show that the way to maintain the existence of Betawi culture is not just providing a cultural platform, but also empowering the community so that their economy and welfare are maintained. Keywords: architecture; betawi; culture; economy; locality Abstrak Pembangunan yang marak terjadi di Ibu Kota seakan menjadi bencana yang menggerus kebudayaan Betawi. Banyak masyarakat Betawi yang harus mengikhlaskan lahannya dan pindah ke pinggir kota Jakarta. Tanpa disadari, hal ini ternyata menyebabkan tradisi dan kesenian Betawi semakin memudar. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi perancangan arsitektur yang dapat mempertahankan eksistensi kebudayaan Betawi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dari data sekunder. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan indikator: 1) Kesesuaian lokasi; 2) Pola tata massa bangunan dan ruang yang sesuai dengan lokalitas; 3) Material yang mencerminkan lokalitas; 4) Bentuk dan visual bangunan yangmempertimbangkan lokalitas; serta 5) Program ruang yang mampu mewadahi tuntutan kebutuhan dan mewadahi aktivitas kebudayaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa cara untuk mempertahankan eksistensi budaya Betawi bukan hanya sekadar menyediakan wadah kebudayaan saja, tetapi juga melakukan pemberdayaan terhadap masyarakatnya agar perekonomian dan kesejahteraan mereka tetap terjaga.
PENERAPAN KONSEP PERSEPSI RUANG ANAK TERHADAP RUANG BERMAIN DAN BELAJAR UNTUK ANAK YATIM PIATU USIA DINI Jennifer Theresia Susanto; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24235

Abstract

Children are God's gift that must be cared for and raised wholeheartedly. Meeting their needs is the duty of parents. However, many children are unlucky and have to experience the hardships of life, both at an early age and almost at maturity. The presence of parents in the lives of abandoned orphans at an early age can never be felt by these children. There are those who have lost their parents due to economic difficulties, met irresponsible parents and even had an accident. This results in the disruption of children's development both physically and psychologically. Poor psychological conditions can affect the process of motor development in early childhood. Apart from fulfilling their main need, which is to live in, often the supporting needs in the form of play and study spaces pay little attention to the comfort of their design. This phenomenon may often be underestimated and left alone. The purpose of this research is to find the form of application of design indicators for play and learning space for disadvantaged early childhood. It is hoped that through this research, the design of facilities for neglected early age orphans can be better in the future. The research was conducted using the case study method to analyze the application of the concept of children's spatial perception to the precedent studies of several buildings that had early childhood primary users. The conclusion of this study is that the application of the concept of child spatial perceived in each building has differences in the form of application of design indicators. Through these indicators the maximum application of this concept can be achieved to help the process of growth and development of these children. Keywords: early age; orphan; spatial perception Abstrak Anak-anak adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga dan dibesarkan dengan sepenuh hati. Memenuhi kebutuhan mereka sudah menjadi kewajiban dari para orang tua. Namun, banyak anak-anak yang tidak beruntung dan harus merasakan kesulitan dalam hidupnya baik yang masih di usia dini hingga yang sudah hampir menginjak dewasa. Kehadiran orang tua di hidup anak-anak yatim piatu usia dini yang terlantar tidak pernah dapat dirasakan anak-anak ini. Ada yang harus kehilangan orang tuanya karena kesulitan ekonomi, bertemu dengan orang tua tidak bertanggung jawab hingga kecelakaan. Hal ini berakibat pada terganggunya perkembangan anak baik secara fisik maupun psikis. Keadaan psikis yang buruk dapat mempengaruhi proses perkembangan motorik anak usia dini. Diluar dari pemenuhan kebutuhan utama mereka yaitu berhuni, seringkali juga kebutuhan penunjang berupa ruang bermain dan belajar kurang diperhatikan kenyamanan desainnya. Fenomena ini mungkin seringkali dianggap remeh dan dibiarkan begitu saja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bentuk penerapan dari indikator-indikator desain ruang bermain dan belajar bagi anak-anak usia dini yang tidak beruntung. Dengan harapan melalui penelitian ini maka perancangan sarana untuk anak-anak yatim piatu usia dini yang terlantar dapat menjadi lebih baik ke depannya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus untuk menganalisis penerapan konsep child spatial perception pada studi preseden beberapa bangunan yang memiliki user utama anak-anak usia dini. Hasil kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan konsep child spatial perception pada setiap bangunan memiliki perbedaan-perbedaan dalam bentuk penerapan indikator desainnya. Melalui indikator-indikator tersebut penerapan konsep ini dapat dicapai secara maksimal untuk membantu proses tumbuh dan kembang anak-anak ini.
MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PEMULUNG DI BANTAR GEBANG DENGAN PENDEKATAN KAMPUNG TUMBUH Grisvian Gilchrist Agustin; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24236

Abstract

Bantar Gebang TPST will soon be full with the remaining 10 million tons of capacity from 49 million tons. This has led to a high hill of garbage in Bantar Gebang. The effect of this pile of garbage has an impact on the surrounding community and scavengers. Air and water pollution occurs around the Bantar Gebang TPST. The impact of this pollution makes the quality of life around Bantar Gebang decline. Mountains of trash located in several zones will be rearranged into green open spaces. The scavengers' housing in Bantar Gebang uses materials such as zinc, cloth and wood that are not suitable, causing problems with comfort. In addition, the residential area of ​​the scavengers is in an unhealthy area, so that Architecture can improve the quality of life for scavengers in Bantar Gebang by exploiting the potential that exists in Bantar Gebang. Improve the occupancy of scavengers in Bantar Gebang and appreciate the expertise of scavengers to improve the quality of life for scavengers in Bantar Gebang. The method used is a survey and literature review of the condition of scavengers and the environment in Bantar Gebang. With the pattern of arranging the scavengers' dwellings that extend in a direction perpendicular to the road, the area can be used as a place for waste sorting to be carried out by his wife and family. Thus the designed architectural solution is a 2x2 meter module system with a knock down system. With a module system that increases flexibility for the possibility of growing a scavenger village. Keywords: knockdown; pollution; quality; TPST Abstrak TPST Bantar Gebang akan segera penuh dengan sisa kapasitas 10 juta ton dari 49 juta ton. Hal ini telah menyebabkan tingginya bukit sampah di Bantar Gebang. Efek dari tumpukan sampah ini ternyata berdampak ke masyarakat sekitar dan para pemulung. Pencemaran udara dan air terjadi di sekitaran TPST Bantar Gebang. Dampak dari pencemaran ini membuat kualitas hidup di sekitar Bantar Gebang menurun. Gunung sampah yang berada di beberapa zona akan ditata kembali menjadi ruang terbuka hijau. Hunian para pemulung yang berada di Bantar Gebang menggunakan bahan-bahan seperti seng, kain dan kayu yang kurang layak sehingga menimbulkan permasalahan terhadap kenyamanan. Selain itu area hunian para pemulung ini berada di daerah yang kurang sehat, sehingga Arsitektur dapat meningkatkan kualitas hidup para pemulung di Bantar Gebang dengan memanfaatkan potensi yang ada di Bantar Gebang. Meningkatkan hunian para pemulung di Bantar Gebang dan menghargai keahlian para pemulung untuk meningkatkan kualitas hidup para pemulung di Bantar Gebang. Metode yang digunakan adalah survey dan tinjauan literatur terhadap kondisi pemulung dan lingkungan di Bantar Gebang. Dengan pola penyusunan hunian para pemulung yang memanjang dengan arah tegak lurus dengan jalan, area tersebut dapat digunakan sebagai tempat pemilahan sampah yang dikerjakan oleh istri dan keluarganya. Dengan demikian solusi arsitektur yang dirancang berupa sistem modul 2x2 meter dengan sistem knockdown. Dengan sistem modul sehingga meningkatkan fleksibilitas untuk kemungkinan tumbuhnya sebuah kampung pemulung.
PENERAPAN ARSITEKTUR EMPATI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP NELAYAN DADAP TANGERANG Amara Felica Salim; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24237

Abstract

Indonesia is a maritime country with 17,000 islands and a coastline of more than 99,000 km so it has potential in the fisheries sector. Therefore, many people work as fishermen. Unfortunately, this potential has not been utilized properly due to the lack of balance of attention in development and development in coastal areas. This affects the living conditions of fishermen. The Dadap Tangerang Fisherman's Village was chosen as the object of observation because it is compatible with the issues raised. The research was carried out using the case study method in which the researcher made observations on a case that occurred in a certain place in a certain period of time. Data collection was carried out through literature, interviews, and observation with the focus of the study being fishermen on the Dadap coast. From the analysis and empathy strategies that have been carried out, it is found that fishermen have limitations in accessing resources which results in a low quality of life and welfare. The results of the case studies show that each fishing village has its own locality value. Therefore, architecture must be able to see opportunities for coastal areas by maintaining locality values and the area's relationship with the surrounding area. The role of empathetic architecture in solving this problem is to provide space that can improve the quality of life of fishing communities through improving the quality of living space for fishing communities without leaving their habits. Keywords: dadap; fishermen; life Abstrak Indonesia merupakan negara maritim dengan 17.000 pulau dan garis pantai lebih dari 99.000 km sehingga memiliki potensi dalam bidang perikanan. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Sayangnya potensi tersebut kurang dimanfaatkan dengan baik karena kurang seimbangnya perhatian dalam pembangunan dan pengembangan pada wilayah pesisir. Hal ini mempengaruhi kondisi kehidupan nelayan. Kampung Nelayan Dadap Tangerang dipilih sebagai objek pengamatan karena memiliki kecocokan terhadap masalah yang diangkat. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus dimana peneliti melakukan pengamatan pada suatu kasus yang terjadi di tempat tertentu dalam suatu periode waktu. Perolehan data dilakukan melalui literatur, wawancara, dan observasi dengan fokus studi merupakan nelayan di pesisir Dadap. Dari analisis dan strategi empati yang sudah dilakukan diperoleh hasil bahwa para nelayan memiliki keterbatasan dalam mengakses sumber daya yang mengakibatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya rendah. Hasil stiudi kasus menunjukkan bahwa setiap kampung nelayan memiliki nilai lokalitasnya masing - masing. Oleh karena itu, Arsitektur harus bisa melihat peluang wilayah pesisir dengan mempertahankan nilai lokalitasnya dan hubungan kawasan dengan kawasan sekitarnya. Peran arsitektur empati dalam menyelesaikan masalah ini adalah dengan menyediakan ruang yang dapat meningkatkan kualitas hidup komunitas nelayan melalui peningkatan kualitas ruang berhuni komunitas nelayan tanpa meninggalkan kebiasaannya.
EKSPRESI CAHAYA PADA GALERI BAGI ANAK DOWN SINDROM I Made Wahyudi Gelgel; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24238

Abstract

Down syndrome is a disorder that occurs in mental retardation caused by chromosomal abnormalities on number 21. Mental retardation becomes a significant problem, especially in developing countries like Indonesia. Children with down syndrome have limitations in social, cognitive, and physical development. The challenges in the delayed development of children with down syndrome require an environment designed to cater to their needs. Despite their limitations, children with down syndrome have unique abilities, such as being visual learners, imitating movements, and being highly interested in light, which are essential elements in design. Architectural empathy has an impact on children with down syndrome by understanding their needs through the empathetic process, allowing designers to comprehend their daily lives and create spaces that fulfill those needs. Expressing emotions can be difficult for children with down syndrome, even though it is a crucial way for them to communicate. Providing spaces for creative expression, such as painting, singing, and dancing, becomes essential in accommodating their expressive needs. Therefore, it is proposed to create an exession gallery with appropriate lighting to facilitate the expressive needs of children with down syndrome, along with necessary therapy facilities and consultation services. Keywords: architecture empathy; down syndrome children; needs of children with down syndrome Abstrak Down syndrome adalah kelainan yang terjadi pada retardasi mental disebabkan oleh kelainan kromosom pada no. 21. Retardasi mental menjadi masalah dengan implikasi yang besar terutama pada negara berkembang seperti Indonesia, Anak-anak dengan kondisi down syndrome memiliki keterbatasan masalah dalam perkembangan sosial, kognitif, dan fisik. Masalah dalam keterlambatan perkembangan anak down syndrome membutuhkan perancangan lingkungan yang memperhatikan kebutuhan mereka. Dibalik keterbatasan yang mereka miliki, anak down syndrome tetap mempunyai keistimewaan yaitu menjadi visual learner, peniru gerakan, dan sebagian besar tertarik terhadap cahaya, tiga keistimewaan ini menjadikan elemen penting dalam desain. Empati arsitektur memberikan dampak kepada anak down syndrome, melalui proses empati, pengalaman dari kebutuhan mereka, sehingga akan mengetahui semua keseharian anak down syndrome sehingga akan tercipta apa dari kebutuhan mereka. Anak down syndrome juga memiliki kesulitan dalam berekspresi, padahal ini adalah cara anak untuk mengungkapkan emosinya, dengan berekspresi melakukan aktivitas dan menghasilkan sebuah karya menjadi salah satu untuk mewadahinya, seperti melukis, menyanyi, dan menari, sehingga diusulkan galeri ekspresi dengan cahaya yang bisa mewadahi kebutuhan ekspresi anak down syndrome dan kebutuhan kelengkapan fasilitas terapi serta fasilitas untuk konsultasi.

Page 100 of 134 | Total Record : 1332