cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
TEMPAT USAHA YANG FLEKSIBEL BAGI GENERASI MUDA Wilbert Lowira; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24239

Abstract

Many young generation face challenges in the world of work due to a lack of understanding of work and adequate adaptation skills. They have difficulty adapting to a new work culture, different rules and procedures, and the demands of co-workers and supervisors. these difficulties also arise in adjusting to longer working hours and higher assignments. Disagreements about directions given by colleagues or superiors often lead to awkwardness at work, which can end in self-reference or dismissal. As a result, their potential is difficult to realize and they have difficulty earning income due to difficulties in adapting to real work life. Therefore we need a platform that can develop the potential of the young generation themselves, as well as take advantage of the potential that exists in them at this time to continue to earn income while they are going through the action phase (looking for a job or have just lost a job). Due to this phenomenon, field surveys, interviews, and collection of documents related to the fresh graduates themselves have been carried out. The purpose of this data collection is to answer the needs in terms of spatial and spatial organization as well as the opportunities that exist today which are intended to make it easier for young generation to achieve their potential development and adapt in the world of work. Keywords: adapt; potential development; work life; young generation Abstrak Banyak generasi muda yang menghadapi tantangan dalam dunia kerja karena kurangnya pemahaman tentang kerja dan keterampilan adaptasi yang memadai. Mereka mengalami kesulitan beradaptasi dengan budaya kerja baru, aturan dan prosedur yang berbeda, serta tuntutan rekan kerja dan supervisor. Kesulitan ini juga muncul dalam menyesuaikan diri dengan jam kerja yang lebih panjang dan tugas yang lebih tinggi. Perbedaan pendapat tentang arahan yang diberikan oleh rekan atau atasan seringkali menyebabkan rasa canggung dalam bekerja, yang dapat berakhir dengan pengunduran diri atau pemecatan. Akibatnya, potensi mereka sulit terwujud dan mereka kesulitan dalam memperoleh penghasilan karena kesulitan dalam beradaptasi dengan kehidupan kerja nyata. Oleh karena itu diperlukan suatu wadah yang bisa mengembangkan potensi diri generasi muda itu sendiri, serta memanfaatkan potensi yang ada pada mereka saat ini untuk tetap mendapatkan penghasilan selagi mereka melalui fase pengangguran (mencari pekerjaan atau baru saja kehilangan pekerjaan). Dikarenakan adanya fenomena tersebut telah dilakukan survei lapangan, wawancara, dan pengumpulan dokumen yang berkaitan dengan fresh graduate itu sendiri. Tujuan pengumpulan data tersebut yakni untuk menjawab mengenai serta peluang yang ada pada zaman sekarang yang diperuntukan untuk memudahkan generasi muda dalam mengembangkan potensi diri dan beradaptasi pada dunia kerja.
RUMAH BELAJAR SEBAGAI UPAYA UNTUK MELINDUNGI PENDERITA TUNADAKSA Kenly Andrianus; Himaladin Himaladin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24240

Abstract

Physically disabled people are people who have movement disorders due to paralysis, deformities and/or body functions, and limb abnormalities. The Jakarta city is the city with the most disabled people in Indonesia. Even so, the city of Jakarta is very minimal in providing facilities and amenities to help the lives of people with disabilities with disabilities. Building aspects related to the comfort, safety and convenience of disabled people are often forgotten in public buildings. Apart from that, social discrimination, difficulty in care, and lack of awareness of disabled people with disabilities also contribute to the low quality of life for people with disabilities. This inhospitable environment for disabled people also affects their well-being and ability to live independently. Therefore, attention to the needs of disabled people and a supportive environment for them is very important and needed. With architectural empathy, it is expected to be able to design a building that focuses on the needs of the disabled. This design will later use the Inclusive Architecture concept so that it can focus on the needs of building users. In addition to using the concept of Inclusive Architecture, the authors also use the spatial protection design method. This spatial protection method will later be applied to the circulation system and the form of this building. Keywords: architecture inclusive; emphaty architecture; physically disabled people; spatial protection Abstrak Tunadaksa adalah orang yang memiliki gangguan gerak akibat kelumpuhan, kelainan bentuk dan/atau fungsi tubuh, serta kelainan anggota gerak. Kota Jakarta merupakan kota dengan penderita tunadaksa terbanyak di Indonesia. Meskipun begitu kota Jakarta sangat minim dalam penyediaan sarana dan fasilitas untuk membantu kehidupan penyandang disabilitas tunadaksa. Aspek bangunan yang berhubungan dengan kenyamanan, keamanan dan kemudahan penderita tunadaksa, seringkali terlupakan dalam bangunan umum. Selain itu, diskriminasi sosial, sulitnya perawatan, serta kurangnya kesadaran atas penderita tunadaksa ini, juga turut menyebabkan rendahnya kualitas hidup penyandang disabilitas tunadaksa. Lingkungan yang tidak ramah bagi penyandang tunadaksa ini juga ikut mempengaruhi kesejahteraan dan kemampuan mereka untuk hidup mandiri. Oleh karena itu, perhatian terhadap kebutuhan penyandang tunadaksa dan lingkungan yang supportif bagi mereka sangat penting dan dibutuhkan. Dengan empati arsitektur, diharapkan dapat merancang sebuah bangunan yang berfokus pada kebutuhan penderita tunadaksa tersebut. Perancangan ini nantinya akan menggunakan konsep Arsitektur Inklusif agar bisa berfokus pada kebutuhan pengguna bangunannya. Selain penggunaan konsep Arsitektur Inklusif, penulis juga menggunakan metode desain proteksi spasial. Metode proteksi spasial ini nantinya akan diterapkan pada sistem sirkulas dan bentuk dari bangunan ini.
KONSEP EKSISTENSI-OTENTIK HEIDEGGER DALAM ARSITEKTUR: SEBUAH RUANG UNTUK MEMAHAMI KEHIDUPAN MELALUI KEMATIAN Varrel Levan; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24241

Abstract

This research is based on an architectural design that focuses on empathy towards humans who lose themselves in daily life. The design aims to provide a reflection experience on human existence through programs based on Heidegger's concepts. The purpose of this study is to investigate how to create space for visitors to contemplate and realize their own existence through different experiences and carefully designed spatial arrangements. The research is conducted by studying Heidegger's concepts and how architecture can assist humans in reflecting on their existence. The use of architectural design methods based on Heidegger's concepts and visitors' experiences is employed to achieve the objective, based on spatial perception methods. In daily life, humans often forget their existence and attachment to the surrounding environment. This research aims to result in an architecture project that is able to give a deep reflective experience for the visitors to contemplate and realize their existence based on Heidegger’s concept. Keywords:  authentic-existence; being; routinity Abstrak Penelitian ini didasarkan pada sebuah rancangan arsitektur yang berfokus pada empati terhadap manusia yang kehilangan dirinya dalam keseharian. Rancangan ini berusaha memberikan pengalaman refleksi terhadap diri dan eksistensi manusia melalui program-program yang didasarkan pada konsep-konsep Heidegger. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari bagaimana cara memberikan ruang bagi pengunjung untuk merenungkan dan menyadari eksistensi mereka sendiri melalui pengalaman yang berbeda dan pengaturan ruang yang dirancang. Penelitian dilakukan dengan mengkaji konsep-konsep Heidegger dan bagaimana arsitektur dapat membantu manusia merenungkan eksistensinya. Penggunaan metode desain arsitektur yang berbasis pada konsep-konsep Heidegger dan pengalaman pengunjung dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, didasarkan dengan metode persepsi spasial. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia seringkali lupa untuk memperhatikan eksistensi dan keterikatan mereka dengan lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan memberikan hasil berupa rancangan arsitektur yang dapat memberikan pengalaman refleksi yang mendalam bagi pengunjung untuk merenungkan dan menyadari eksistensi mereka berdasarkan konsep Heidegger. Diharapkan bahwa rancangan ini dapat memperluas pemahaman manusia tentang keterikatan mereka dengan lingkungan sekitar dan memberikan kesadaran yang lebih dalam tentang eksistensi mereka.
PENERAPAN KONSEP DESAIN SIMBIOSIS EMPATI-MUTUALISTIK TERHADAP HUBUNGAN ANTARA MANUSIA DAN KUCING DALAM ARSITEKTUR Vanessa Raharja; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24242

Abstract

The reciprocal relationship between humans and cats has been formed since the Neolithic era and reached its peak of mutualism during the reign of Ancient Egypt. Technological advancements have disrupted the long-standing relationship between humans and cats as their roles have been replaced. This has contributed to the increase in feral cats in urban areas, including Jakarta. Stray cats roaming around not only damage the environment but also face mistreatment from society. Up to now, the issue of feral cats has not been optimally addressed by the government. However, the community should also contribute to cat management with a more thoughtful response. Therefore, this research is conducted with the aim of creating an empathetic space where humans and cats can interact with each other. The design program will be interconnected and related, demonstrating how humans and cats can empathize with one another. This research will be conducted using a descriptive qualitative approach and a design concept method with a mutualistic symbiosis approach. The design will also be influenced by the culture of Ancient Egypt as a remnant of the mutualistic relationship between humans and cats. This will be realized through concrete programs that can provide visitors with new experiences in a space that optimizes the interaction between history, humans, and cats. Office workers, young adults, and families are the primary target audience for this design program.In relation to this, the design location is situated in the Mampang Prapatan District, Bangka Sub-district, which is an area of arts, culture, tourism, and office businesses. Keywords: cat perspective; empathy; healing; mutualistic; symbiosis Abstrak Hubungan timbal balik antara manusia dan kucing sudah terbentuk sejak zaman neolitikum, dan berada pada puncak mutualisme pada masa pemerintahan Mesir Kuno. Kemajuan teknologi menyebabkan hubungan lama antara manusia dan kucing menjadi rusak, karena perannya yang tergantikan. Hal ini berkontribusi atas peningkatan kucing liar di wilayah perkotaan, salah satunya Jakarta. Kucing yang berkeliaran merusak lingkungan tapi juga ditindas oleh masyarakat. Sampai saat ini permasalahan mengenai kucing liar belum dapat ditangani secara optimal oleh pemerintah. Sedangkan masyarakat seharusnya turut berkontribusi dalam penanganan kucing dengan respon yang lebih bijak. Untuk itu, penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk menghasilkan ruang berempati dimana manusia dan kucing dapat saling berinteraksi. Sehingga program dalam perancangan akan saling berhubungan dan terkait, menunjukkan bagaimana manusia dan kucing saling berempati satu sama lain. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif pendekatan kualitatif, serta metode perancangan konsep dengan pendekatan simbiosis mutualistik. Perancangan juga akan dipengaruhi dengan budaya dari Mesir Kuno sebagai bentuk peninggalan hubungan antara manusia dan kucing yang mutualistik. Hal ini diwujudkan dengan program konkrit yang dapat membuat pengunjung merasakan pengalaman baru dalam ruang yang dapat mengoptimalkan interaksi antara sejarah, manusia dan kucing. Pegawai kantor, anak muda, dan keluarga menjadi target utama dalam program perancangan ini. Terkait dengan hal ini, lokasi perancangan berada di Kecamatan Mampang Prapatan, kelurahan Bangka yang merupakan kawasan seni budaya, wisata, sekaligus area bisnis perkantoran.
MITOS BHATARI SRI DAN BUDAYA SUBAK BALI DALAM WUJUD ARSITEKTUR Elren Joni; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24243

Abstract

In Balinese culture, Subak and Bhatari Sri are two important symbols that are often used in traditional ceremonies. Subak is a traditional irrigation system that has been used for centuries to irrigate rice fields and gardens in rural areas. Meanwhile, Bhatari Sri is a goddess who is considered the patroness of agriculture and abundance. Jatiluwih, a region in Bali, is famous for its beautiful and fertile rice fields, which have been recognized as a World Heritage Site by UNESCO. The symbolism of Subak and Bhatari Sri attracts tourists to this area as it reflects the rich cultural values that are important in the daily lives of Balinese people. When tourists visit Jatiluwih, they can learn about the Subak irrigation system and how the Balinese community maintains its sustainability. They can also witness traditional ceremonies involving Bhatari Sri, such as the Ngembak Geni ceremony held annually to celebrate the abundance of the harvest. By promoting the symbolism of Subak and Bhatari Sri as a tourist attraction, Jatiluwih can attract tourists who want to learn about Balinese culture and experience its lush natural beauty. It can also assist the local community in preserving its cultural heritage and earning income from a sustainable tourism industry. The purpose of this research is to understand the concept and also know the myth of Bhatari Sri and Balinese Subak culture in the form of architecture. The research method used is descriptive qualitative with observation data collection techniques and documentation studies. The results of this research are that the Balinese people uphold the traditions inherited from their ancestors and also take good care of nature which is adjusted to the concept of tri hita in architectural buildings in the Balinese region. Keywords: balinese culture; goddess bhatari sri; subak irrigation system; sustainable tourism industry jatiluwih rice fields Abstrak Dalam budaya Bali, Subak dan Bhatari Sri adalah dua simbol penting yang sering digunakan dalam upacara tradisional. Subak adalah sistem irigasi tradisional yang telah digunakan selama berabad-abad untuk mengairi sawah dan kebun di daerah pedesaan. Sementara itu, Bhatari Sri adalah dewi yang dianggap sebagai pelindung pertanian dan kelimpahan. Jatiluwih, sebuah wilayah di Bali, terkenal dengan sawahnya yang indah dan subur, yang telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Simbolisme Subak dan Bhatari Sri menarik wisatawan ke daerah ini karena mencerminkan nilai-nilai budaya yang kaya yang penting dalam kehidupan sehari-hari orang Bali. Ketika wisatawan mengunjungi Jatiluwih, mereka dapat belajar tentang sistem irigasi Subak dan bagaimana komunitas Bali mempertahankan keberlanjutannya. Mereka juga dapat menyaksikan upacara adat yang melibatkan Bhatari Sri, seperti upacara Ngembak Geni yang diadakan setiap tahun untuk merayakan kelimpahan panen. Dengan mempromosikan simbolisme Subak dan Bhatari Sri sebagai objek wisata, Jatiluwih dapat menarik wisatawan yang ingin belajar tentang budaya Bali dan mengalami keindahan alamnya yang subur. Ini juga dapat membantu komunitas lokal dalam melestarikan warisan budayanya dan memperoleh pendapatan dari industri pariwisata yang berkelanjutan. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memahami konsep dan juga mengetahui mitos Bhatari Sri dan budaya Subak Bali dalam wujud arsitektur. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi dan studi dokumentasi. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu masyarakat Bali memegang teguh tradisi warisan dari leluhur mereka dan juga menjaga alam dengan baik yang disesuaikan dengan konsep tri hita dalam bangunan arsitektur di wilayah Bali.
ARSITEKTUR SEBAGAI TEMPAT PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI Stephanie Aritonang Fernando; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24244

Abstract

All parents must really love and want to give the best for their children. In order to provide the best, parents have to work from morning to evening to support their children and provide financial support. However, as a parent, feelings of anxiety arise because you have to always be away from your child, you feel confused about what to do, you are afraid that your baby will be sad and lonely. While the cognitive and motor development of children at an early age is very important because it will determine how the child grows later. Not a few families leave their children with their grandmother or hire a babysitter because they think this is the best solution for their condition of having to work. Abroad, both parents who work usually leave their children at daycare. In Daycare children usually spend time According to a 2020 study that analyzed 25 states across the country, 8.4 million children under the age of five are in need of child care. However, only about 5.9 million childcare slots are available. Thus, around 2.7 million children, or 31.7%, cannot access quality child care due to the limited number of child care slots. This shows that when both parents have to work, they need help to raise or educate their children. In this study, a qualitative method was used by implementing the behavior in the case study taken in this study, namely Daycare. This aims to help design a daycare that supports their development, especially for children who have been abandoned by their parents. Keywords: children development; daycare; empathic architecture Abstrak Semua orang tua pasti sangat menyayangi dan ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Demi memberikan yang terbaik, orang tua harus bekerja dari pagi hingga sore untuk menghidupi sang anak dan memberikan dukungan finansial. Namun sebagai orang tua, perasaan cemas timbul karena harus selalu jauh dari anak, merasa bingung harus bagaimana, takut sang buah hati sedih dan kesepian. Sementara perkembangan kognitif dan motorik anak di usia dini sangat penting karena akan menentukan bagaimana tumbuhnya anak nantinya. Tidak sedikit keluarga yang menitipkan anak kepada nenek atau mempekerjakan seorang babysitter karena menurut mereka hal ini merupakan sebuah solusi yang paling baik untuk kondisi mereka yang harus bekerja. Di luar negeri kedua orang tua yang bekerja biasanya menitipkan anak pada daycare dan dalam daycare tersebut anak-anak biasanya menghabiskan waktu. Menurut sebuah studi tahun 2020 yang menganalisis 25 negara bagian di seluruh negeri, 8.4 juta anak di bawah usia lima tahun membutuhkan perawatan anak. Namun, hanya sekitar 5.9 juta slot penitipan anak yang tersedia. Dengan demikian, sekitar 2.7 juta anak, atau 31.7%, tidak dapat mengakses penitipan anak yang berkualitas karena terbatasnya jumlah slot penitipan anak. Hal ini menunjukkan bahwa ketika kedua orang tua harus bekerja, mereka membutuh bantuan untuk membesarkan atau mendidik anak mereka. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan mengimplementasikan kepada prilaku pada studi kasus yang diambil dalam penelitian ini adalah daycare. Ini bertujuan membantu merancang tempat penitipan anak yang mendukung perkembangan mereka, terutama bagi anak-anak yang ditinggalkan orang tua.
KOMPROMI LOKALITAS DAN MODERNITAS PADA DESA ADAT PUBABU-BESIPAE DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR Celine Anatta; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24245

Abstract

Life in society is inseparable from customs and traditions that shape the cultural values and local wisdom within a group or community. Indonesia is rich in customs and traditions, from Sabang to Merauke. Customs are the inherited habits or ideas that serve as guidelines for life in a society. For example, the indigenous community of Besipae in the Pubabu Customary Forest, East Nusa Tenggara, has the concept of the triangle of life, consisting of humans, livestock, and the forest, which are interdependent on each other. As a result, the management and preservation of the Besipae customary forest have been carried out by the indigenous community from one generation to another.However, the threats to customary forests have been increasing, and higher authorities wish to intervene in the lives of indigenous communities with land dispute issues. The government plans to invest in and commercialize the area without considering the pre-existing values. This article conveys that customs and culture are memories that will always be part of human life and should be respected and preserved. The data collection method used in this article is qualitative interpretative research. The purpose of this article is to serve as a foundation for compromising customs and local wisdom with modernity without erasing the existing history. Thus, a traditional village with a neo-vernacular architectural approach can be created to reconcile locality and modernity. Keywords:  besipae; compromise; tradition Abstrak Kehidupan dalam bermasyarakat tidak terlepas dari adat istiadat dalam membentuk nilai-nilai kebudayaan dan kearifan lokal dalam suatu kelompok atau komunitas masyarakat. Indonesia kaya akan adat istiadat dari Sabang sampai Merauke. Adat merupakan kebiasaan atau gagasan yang turun temurun dan menjadi pedoman hidup dalam masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat adat Besipae di Hutan Adat Pubabu, Nusa Tenggara Timur yang memiliki konsep segitiga kehidupan, yaitu manusia, ternak, dan hutan yang saling tergantung satu dengan yang lain. Oleh karena itu, pengelolaan dan pemeliharaan hutan adat di Besipae telah dilakukan oleh masyarakat adat dari generasi ke generasi secara terus-menerus. Namun, ancaman terhadap hutan adat semakin meningkat, dan pihak dengan wewenang yang lebih tinggi ingin mengintervensi kehidupan masyarakat adat dengan permasalahan sengketa lahan. Pemerintah berencana untuk berinvestasi dan mengkomersialkan kawasan tersebut tanpa mempertimbangkan nilai-nilai yang telah ada sebelumnya. Artikel ini menyampaikan bahwa adat dan budaya merupakan sebuah memori yang tidak akan lepas dari kehidupan manusia sehingga harus dihormati serta dipertahankan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam artikel ini yaitu kualitatif interpretatif. Artikel ini bertujuan sebagai landasan dalam mengkompromikan adat dan kearifan lokal dengan modernitas tanpa menggeser sejarah yang telah ada. Sehingga tercipta desa wisata adat dengan pendekatan arsitektur neo-vernakular untuk mengkompromikan lokalitas dan modernitas.
PENGARUH KEBERADAAN MAKAM DAN MITOSNYA TERHADAP KEBERTAHANAN WARGA DI DESA BEDONO Jovano Nathanael; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24246

Abstract

Bedono Village was originally a portrait of the life of a prosperous coastal community. Village life is filled with various activities that make the sea a source of livelihood. The village comprises groups of fishermen, farmers and fish traders, and small-medium industry players who process catches. The wheels of the local economy revolve around it so that residents can stay in the village to meet their needs. In 1998, it was the beginning of the change for the people of Bedono Village. Abrasion and land subsidence due to human activities consumed 2116.54 hectares of their native land. One by one, they started leaving their homeland, leaving the sea, looking for a safer place for their future. Besides the village, which has been partially submerged, a tomb stands upright and does not sink. It is the tomb of Sheikh Abdullah Mudzakir, a respected scholar who dedicated his life to spreading Islamic teachings. Those who already consider myth as "local wisdom" believe it is sacred and seek blessings from the tomb. The presence of the tomb has a power that makes them choose to stay in the village to protect their tomb and homeland. The spirit of survival was born from a mythical existence that was spread. Through myths, humans can learn to appreciate nature and its power. Through myths, villagers have the guarantee of the present and the future to survive in their last land. This paper will examine the impact of the presence of the tomb on the economic and social life of Bedono residents and find out how the spirit of survival born from a myth, and belief can lead them to form new spaces in the future. The method that has been used in this paper is internet searching by taking online journals and e-books as references, taking printed media such as books as references, and live surveys & interviews at the site location. The result of the research is an architecture design recommendation with a design scheme that is divided into cable cars, 3 towers, and fishing coordinates. Keywords: myth; sink; tomb; village Abstrak Desa Bedono pada mulanya merupakan sebuah potret kehidupan masyarakat pesisir yang makmur. Kehidupan desa dipenuhi oleh berbagai aktivitas yang menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian. Desa tersusun dari kelompok-kelompok nelayan, petambak, dan pedagang ikan, dan pelaku industri kecil-menengah yang mengolah hasil tangkap. Roda perekonomian lokal berputar di dalamnya sehingga warga tidak perlu keluar desa untuk memenuhi kebutuhannya. Tahun 1998, adalah awal mula perubahan warga Desa Bedono, abrasi dan penurunan muka tanah dari hasil ulah manusia memakan habis 2116.54 hektar tanah kelahiran mereka. Satu per satu mulai meninggalkan tanah kelahiran mereka, mencari tempat yang lebih aman. Disamping desa yang sebagian sudah tenggelam, terdapat sebuah makam yang berdiri tegak dan tidak tenggelam. Makam tersebut merupakan makam Syekh Abdullah Mudzakir, ulama yang dihormati atas pengabdiannya menyebarkan ajaran Islam. Mereka yang sudah menganggap mitos sebagai "kearifan lokal", mempercayainya sebagai sesuatu yang keramat dan mencari berkah dari makam tersebut. Kehadiran makam tersebut memiliki kekuatan yang membuat mereka tetap memilih bertahan di desa untuk menjaga makam dan tanah kelahiran mereka. Semangat kebertahanan lahir dari sebuah eksistensi mitos yang tersebar. Lewat mitos, manusia bisa belajar menghargai alam dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Lewat mitos, warga desa memiliki jaminan masa kini dan masa depan, untuk tetap bertahan di tanah terakhir mereka. Tulisan ini akan mengkaji dampak dari kehadiran makam tersebut terhadap kehidupan ekonomi dan sosial warga Bedono dan mencari tahu bagaimana semangat kebertahanan yang lahir dari sebuah mitos dan kepercayaan dapat membawa mereka membentuk ruang baru di masa depan. Metode yang digunakan dalam penelitian untuk mengumpulkan data adalah melalui penelusuran situs internet dengan mereferensikan kepada  jurnal online, dan e-book, referensi dari media cetak berupa buku, dan melalui survei dan wawancara secara langsung ke lokasi penelitian. Hasil penelitian merupakan rekomendasi perancangan arsitektur dengan skema perancangan yang terbagi menjadi kereta gantung, 3 menara, dan “fishing coordinate”.
PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKUALAR DALAM PERANCANGAN LIMA FASE BERDUKA PADA KONTEKS WISATA KUBURAN BAYI KAMBIRA DI TANA TORAJA Cynthia Cynthia; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24247

Abstract

Passiliran is a ritual of Toraja tribe which has been lost. In the past, babies who died before growing their teeth were buried in hollowed-out tree trunks covered with palm fiber. The Kambira Baby Graveyared is one of the historical evidences that this ritual was once practiced and is now become one of the tourist attractions in Tana Toraja. Although the government has designated this location as one of the Kaero tourist destinations in Sangalla, its appeal has diminshied due to other more well-known rituals and tourist objects such as rambu solo and tongkonan houses. As a result, the location is now abandoned, with only one tree trunk still standing, while others have fallen and become fragile. History and culture are important because they are the heritage and identity of a nation and reflect its people way of living. This article will examine and propose a development plan for the Kambira Baby Graveyard Tourist Area, adopting Kubler-Ross’s five stages of grief in designing space programs, starting from denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. Each program will represent the corresponding grief stage as a journey from West to East. The design process is based on the application of neo-vernacular architecture as a form of appreciation for Toraja’s rich culture and architecture. The design proposal includes cultural suitability, the use of local materials and knowledge of tectonics, harmony with nature, ornamentation, and correlation with current practices. Keywords: death; kambira; grief; neo-vernacular; toraja Abstrak Passiliran adalah ritual suku Toraja yang telah hilang. Dahulu, bayi-bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi akan dimakamkan dalam batang pohon yang dilubangi dan ditutup dengan ijuk. Kuburan Bayi Kambira adalah salah satu bukti sejarah bahwa ritual ini telah dilakukan, dan hingga kini menjadi salah satu daya tarik wisata di Tana Toraja. Meskipun pemerintah telah mencanangkan lokasi ini sebagai salah satu destinasi wisata Kaero di Sangalla, daya tariknya tenggelam akibat adanya ritual dan objek wisata yang lebih di kenal seperti rambu solo dan rumah tongkonan. Alhasil, lokasi ini menjadi terbengkalai dengan hanya satu batang pohon tersisa yang masih berdiri tegak, dengan beberapa pohon lainnya tumbang dan sudah rapuh. Sejarah dan budaya merupakan hal yang penting karena merupakan warisan dan identitas sebuh bangsa serta merupakan cerminan kehidupan dari masyarakatnya. Tulisan ini akan membedah dan mengajukan rancangan pengembangan area Wisata Kuburan Bayi Kambira dengan mengadopsi lima fase berduka Kubler-Ross dalam perancangan program ruang, di mana fase berduka dimulai dari fase denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Masing-masing program ruang akan merepresentasikan fase tersebut dalam bentuk suatu kesatuan perjalanan duka dari arah Barat ke Timur. Proses perancangan mengacu pada penerapan arsitektur neo-vernakular sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya dan arsitektur Toraja yang kaya. Perancangan tersebut menghasilkan proposal desain yang mencakup kesesuaian dengan budaya, penggunaan material lokal dan pengetahuan tentang tektonika, keserasian dengan alam, penggunaan ornamen, serta korelasinya dengan praktik masa kini.
PENGEMBALIAN RTH PADA KAWASAN LOKAL KAMPUNG BENDUNGAN HILIR DENGAN PENDEKATAN AI DAN ARSITEKTUR Sutiana Sutiana; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24248

Abstract

The current rapid technological developments have brought significant changes in the development of cities in the world. Cities are getting smarter and more advanced thanks to the rapid adoption of technology. However, the definition of a city is no longer limited to where the capitalists live. According to Amos Rapoport, cities are large, dense and permanent settlements inhabited by groups of socially diverse individuals. Thus, marginal communities or urban kampung residents have an important role in shaping the memory and identity of a city which is an integral part of the city's cultural and social landscape. However, with the transformation in the modern era, marginal communities and urban village residents are faced with new challenges. Facing a future that is always full of challenges with limited resources. This is experienced by urban villages in Bendungan Hilir, Central Jakarta, living between the progress and decline of the capital city in order to survive with other residents. But in the end they had to face eviction by the government to make room for more advanced city developments. What is the survival for the villagers after the evictions and how can they adapt to the growing advances in artificial intelligence technology? How can they utilize the existing potential to sustain their lives amidst a future full of progress? Therefore, this project aims to restore green areas but still maintain existing life by making the most out of future technology. So that residents continue to contribute through life and their environment and adapt to the progress of the city. Keywords:  locality; future; technology Abstrak Perkembangan teknologi yang pesat telah membuat perubahan yang relevan dalam perkembangan kota di dunia. Kota-kota semakin cerdas dan maju berkat adopsi teknologi yang pesat. Namun, definisi kota tidak lagi terbatas pada tempat tinggal kaum kapitalis. Berdasarkan Amos Rapoport, kota merupakan pemukiman padat, besar, dan permanen yang dihuni oleh golongan perseorangan yang beragam secara sosial. Maka masyarakat marginal atau warga kampung kota memiliki peran penting dalam membentuk memori dan identitas sebuah kota yang merupakan bagian integral dari lanskaap sosial dan budaya kota. Namun dengan adanya transformasi di era modern, masyarakat marginal dan warga kampung kota dihadapkan pada tantangan baru. Menghadapi masa depan yang selalu penuh dengan tantangan dengan sumber daya yang terbatas. Hal tersebut dialami oleh kampung kota di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat dengan hidup di antara kemajuan dan kemunduran ibu kota demi bertahan hidup bersama warga lainnya. Namun pada akhirnya harus menghadapi penggusuran oleh pemerintah untuk memberikan ruang bagi perkembangan kota yang lebih maju. Bagaimana kelangsungan hidup bagi para warga kampung setelah penggusuran dan bagaimana mereka dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi artificial intelligence yang semakin berkembang? Bagaimana mereka dapat memanfaatkan potensi yang ada untuk mempertahankan kehidupan mereka di tengah masa depan yang penuh dengan kemajuan? Maka dari itu, proyek ini bertujuan untuk mengembalikan area hijau namun tetap mempertahankan kehidupan yang ada dengan memanfaatkan potensi teknologi masa depan secara maksimal. Sehingga warga tetap berkontribusi melalui kehidupan serta lingkungannya dan beradaptasi dalam kemajuan kota.