cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENATAAN KOLAM RETENSI SEBAGAI TAMAN KOTA DENGAN KONSEP INTEGRASI INFRASTRUKTUR DAN TAMAN AKTIF (STUDI KASUS: TANDON LENGKONG, TANGERANG SELATAN) Rianti Alda Lestari; Suryono Herlambang; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22306

Abstract

The Lengkong reservoir consists of two reservoirs which are divided into two areas, so they are called Tandon Lengkong Wetan and Tandon Lengkong Karya. The reservoir is a water infrastructure that functions as a conservation of water resources and flood control by collecting water from housing activities to be flowed to Angke River. To take advantage of the function of the reservoir in addition to only being a water infrastructure, construction was carried out in the reservoir area to be used as a city park so that it could be used by residents as a place for recreation and exercise. To become a city park, several facilities are needed to support the needs of visitors, but in the existing conditions the existing facilities in Tandon Lengkong Wetan and Karya are still very limited and do not have an optimal arrangement and integrate between the two both physically and functionally. The purpose of this study is to identify the physical characteristics and existing conditions of infrastructure from Tandon Lengkong Wetan and Karya by involving visitor participation to provide proposals for the addition of complementary infrastructure and proposed master plans for arrangement with the concept of green infrastructure. The results of this study are in the form of a conclusion and proposed structuring master plan that divides the object of study into three zones, namely conservation zones, transition zones, and active zones where there are several concepts applied, namely the concept of flood control and water filters, the concept of conservation, the concept of sports, the concept of recreation, and the concept of supporting facilities. Keywords:  Planning; Retention Pond; Tandon Lengkong; Urban Park; Water Infrastructure Abstrak Tandon Lengkong terdiri dari dua buah tandon yang terbagi ke dalam dua wilayah sehingga disebut sebagai Tandon Lengkong Wetan dan Tandon Lengkong Karya. Tandon tersebut merupakan sebuah infrastruktur air yang berfungsi sebagai konservasi sumber daya air serta pengendali banjir dengan menampung air dari hasil aktivitas perumahan untuk selanjutnya dialirkan ke Kali Angke. Agar dapat memanfaatkan fungsi tandon selain hanya menjadi infrastruktur air, maka dilakukan pembangunan pada kawasan tandon untuk dijadikan sebagai taman kota agar dapat dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat berekreasi dan berolahraga. Untuk menjadi sebuah taman kota dibutuhkan beberapa fasilitas guna menunjang kebutuhan para pengunjung, namun pada kondisi eksistingnya fasilitas yang ada pada Tandon Lengkong Wetan dan Tandon Lengkong Karya masih sangat terbatas serta belum memiliki penataan yang optimal dan mengintegrasikan antar keduanya baik secara fisik maupun fungsi. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik fisik dan kondisi eksisting sarana prasarana dari Tandon Lengkong Wetan dan Tandon Lengkong Karya dengan melibatkan partisipasi pengunjung untuk memberikan usulan penambahan sarana prasarana pelengkap serta usulan masterplan penataan dengan konsep infrastruktur hijau. Hasil dari penelitian ini berupa sebuah kesimpulan dan usulan masterplan penataan yang membagi objek studi menjadi tiga zona, yaitu zona konservasi, zona transisi, dan zona aktif dimana terdapat beberapa konsep yang diterapkan, yaitu konsep pengendali banjir dan penyaring air, konsep konservasi, konsep olahraga, konsep rekreasi, dan konsep fasilitas pendukung.
PERANCANGAN GALERI EDUKASI DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR SOSIAL DI KAWASAN PASAR KEMBANG, YOGYAKARTA Catherine Felia Witiyas; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22309

Abstract

Every country in the world has many historical places including Indonesia. This historic place does not escape from events that reflect bad behavior that is difficult to tolerate, such as a place of prostitution. One of the famous areas is the Pasar Kembang or Sarkem which is located in the heart of Yogyakarta. The existence of Sarkem creates a bad public assessment of the lives of related people in the sex industry and the area where they live around. Based on this background, the authors take two problem formulations. How the development of the Red Light District Sarkem affects the community and the surrounding environment and how to change the negative image of Sarkem to be positive with the Urban Acupuncture approach in providing new facilities. The goal is to answer the problems that occur with the hypothesis of providing a new attractor with other positive activities. The literature review used in this journal is Urban Acupuncture, Configuration, Movement, Attractor (CMA) Theory, Public Space, Red Light District Area, and Educational Gallery. The research method used is the Activity, Interaction, User, Environment, Object (AIUEO) and Qualitative method. The results of this study are that the Red Light District Sarkem greatly affects people's views and reduces the quality of life of the surrounding community so the authors look for solutions by providing new attractors and adding facilities in the area such as the Museum of Love and Woman's Sexual Health which can improve the lives and quality of the surrounding community. Keywords:  Pasar Kembang Area; Prostitution; Social Architecture; Social Life; Urban Acupuncture Abstrak Setiap negara di dunia memiliki banyak tempat bersejarah termasuk negara Indonesia. Tempat bersejarah ini tidak luput dari adanya kejadian yang mencerminkan dari adanya perilaku buruk yang sulit untuk ditoleransi seperti adanya tempat prostitusi. Salah satu daerah yang terkenal adalah Pasar Kembang atau Sarkem yang letaknya di jantung kota Yogyakarta. Adanya tempat prostitusi di Sarkem menimbulkan penilaian masyarakat yang buruk terhadap kehidupan orang-orang terkait di industri seks dan wilayah tempat tinggal di sekitar Sarkem. Berdasarkan latar belakang ini, penulis mengambil dua rumusan masalah yaitu bagaimana perkembangan Red Light District Sarkem mempengaruhi masyarakat dan lingkungan sekitar dan bagaimana mengubah citra negatif Sarkem menjadi positif dengan pendekatan Urban Acupuncture dalam menyediakan fasilitas baru. Tujuannya untuk menjawab permasalahan yang terjadi dengan hipotesa menyediakan atraktor baru dengan kegiatan positif lainya. Kajian literatur yang digunakan dalam jurnal ini adalah Urban Acupuncture, Teori Configuration, Movement, Attractor (CMA), Ruang Publik, Kawasan Red Light Districts, dan Galeri Edukasi. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Activity, Interaction, User, Environment, Object (AIUEO) dan Kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah Red Light Districts Sarkem sangat mempengaruhi pandangan masyarakat dan menurunkan kualitas hidup masyarakat sekitar sehingga penulis mencari solusi dengan memberikan atraktor baru dan menambah fasilitas di kawasan Pasar Kembang seperti Museum of Love and Woman’s Sexual Health yang dapat meningkatkan kehidupan dan kualitas masyarakat sekitar.
METAVERSE DAN TEKNOLOGI DALAM DESAIN PASARAYA MANGGARAI David Drago Suherman; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22314

Abstract

Pasaraya Manggarai is a shopping center which is a branch of Pasaraya Grande. Pasaraya was originally a shopping center building with the first department store system in Jakarta and is one of the buildings that has become the center of attention in the Manggarai area. But with current technological advances, Pasaraya, which used to look modern, is now considered old-fashioned and no longer attractive to young people, especially compared to other big malls in Jakarta. In addition, Pasaraya also did not provide many other facilities besides the shopping center itself, so the building had some difficulty attracting the public and eventually closed. Therefore, this project aims to make this shopping center more attractive by redesigning the building. This can be in the form of entertainment, dinner, and others. By looking at the technology developments of our current era, the planned design would implement various technologies to attract visitors’ attention merged with the Trans-programming method. This ensures the building is resistant and can adapt to changing times. The technology applied would mainly be Virtual Reality, Augmented Reality, and Mixed Reality Technology with the metaverse Concept. This technology is expected to provide a building atmosphere that has never existed before and make visitors feel like they are in another world. Keywords:  Architecture; Metaverse; Pasaraya; Shopping; Technology Abstrak Pasaraya Manggarai adalah sebuah pusat perbelanjaan yang merupakan cabang dari Pasaraya Grande. Pasaraya pada awalnya merupakan salah satu bangunan pusat perbelanjaan dengan sistem departement store pertama di Jakarta, dan merupakan salah satu bangunan yang menjadi pusat perhatian di area Manggarai. Tetapi dengan kemajuan teknologi saat ini, Pasaraya yang dahulu terlihat modern, sekarang sudah dianggap kuno dan tidak lagi menarik bagi kaum muda, apa lagi jika dibandingkan dengan mall-mall besar lain di Jakarta. Selain itu Pasaraya juga tidak menyiapkan banyak fasilitas lain selain dari pusat perbelanjaan itu sendiri, sehingga bangunan mengalami kesulitan untuk menarik perhatian masyarakat, dan akhirnya tutup. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk membuat pusat perbelanjaan ini lebih menarik dengan mendesain kembali bangunan. Hal ini dapat berupa entertainment, diner, dan lain lain. Dengan melihat perkembangan jaman kita saat ini juga, desain yang direncanakan akan mengimplementasikan berbagai macam teknologi untuk menarik perhatian pengunjung yang akan disatukan dengan metode Trans-programming. Hal ini dilakukan untuk memastikan bangunan tahan dan dapat beradaptasi dengan perubahan jaman. Teknologi yang diterapkan secara utama akan berupa teknologi Virtual Reality, Augemnted Reality, dan Mixed Reality dengan konsep metaverse. Penerapan teknologi ini diharapkan dapat memberikan suasana bangunan yang belum pernah ada sebelumnya, dan membuat pengunjung seperti berada pada dunia lain.
KONSEP SHOP AND FOOD TRUCK SEBAGAI RUANG BARU KOMUNITAS PECINTA MUSIK DAN MAKANAN DI PASAR SANTA Patricia Beatrice; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22320

Abstract

Along with the times, more and more new tourist or recreational places are opening, and old places are being abandoned. One of them is Pasar Santa, a market with a reasonably well-known existence for food and antiques, especially antique musical instruments, since 2014, then slowly abandoned by the public. The author uses the urban acupuncture method to solve problems in Santa Market as a meeting point for the music and food lover community, with the experimental method applying the concept of a shop and food truck, which still maintains the unique history and image of the area. Keywords:  Community; Market; Music; Recreation; Shop and Food Truck Abstrak Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak tempat-tempat wisata atau rekreasi baru yang buka dan tempat-tempat lama akan ditinggalkan. Salah satunya yaitu Pasar Santa, pasar ini merupakan sebuah pasar yang memiliki eksistensi yang cukup terkenal terhadap makanan dan barang-barang antik khususnya alat musik antik sejak tahun 2014, lalu perlahan ditinggalkan oleh masyarakat. Penulis memakai metode urban akupuntur untuk menyelesaikan permasalahan di Pasar Santa sebagai titik temu komunitas pecinta musik dan makanan, dengan metode eksperimental menerapkan konsep shop and food truck, yang tetap mempertahankan kekhasan sejarah dan citra kawasan.
ARSITEKTUR NARASI DI PASAR BUKU KWITANG Alicia Arleeta; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22322

Abstract

Kwitang Book Market-Senen is now no longer a book centre for Jakarta. Physical and social degradation as well as reduced economic activity in the Kwitang Book Market began with the regional control carried out by the DKI Regional Government and the lack of action taken by both the government and economic actors to adapt in the digital era. This research aims to re-create the Kwitang Book Market as a Jakarta book centre with the concept of spatial travel. This concept emphasizes the tourist attraction of reading books at the Kwitang Book Market. The spatial journey is processed through the memory of the heyday of Kwitang. The genius loci of the area and the formation of the communal space of books. The method used is the descriptive qualitative method with the help of pictures, maps, and diagrams. In addition, there is also a phenomenological method to explore the Senen area and the Kwitang Book Market. The design method used is narrative architecture which tells the culture of reading books and the sundries of the world of books. The conclusion of this research is to revive the book centre; it is necessary to update social activities and adapt economic actors in the digital era. The solution found in the research is to create a communal space that supports book social activities and the concept of travel with a book reading culture so that the atmosphere that occurs in the area is not artificial and varied. Keywords: Book Market; Community; Kwitang; Narration Abstrak Pasar Buku Kwitang-Senen sekarang sudah tidak lagi menjadi sentra buku Jakarta. Degradasi fisik dan sosial serta berkurangnya kegiatan ekonomi di Pasar Buku Kwitang diawali dengan adanya penertiban kawasan yang dilakukan oleh Pemda DKI dan kurangnya tindakan yang dilakukan baik pemerintah maupun pelaku ekonomi untuk beradaptasi di era zaman digital. Tujuan dari penelitian ini adalah menjadikan kembali Pasar Buku Kwitang sebagai sentra buku Jakarta dengan konsep perjalanan spasial. Konsep ini menekankan pada atraksi wisata membaca buku di Pasar Buku Kwitang. Perjalanan spasial diolah melalui memori masa jaya Kwitang, genius loci kawasan dan pembentukan ruang komunal buku. Metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan bantuan gambar, peta, dan diagram. Selain itu juga metode fenomenologi untuk menelusuri kawasan Senen dan Pasar Buku Kwitang. Metode perancangan yang digunakan adalah arsitektur narasi yang menceritakan kultur membaca buku dan serba serbi dunia buku. Kesimpulan dari penelitian ini adalah untuk menghidupkan kembali sentra buku, perlu adanya pembaruan kegiatan sosial dan adaptasi pelaku ekonomi di era digital. Solusi yang ditemukan dalam penelitian yaitu membuat ruang komunal yang mengayomi kegiatan sosial buku dan konsep perjalanan dengan kultur membaca buku sehingga suasana yang terjadi di dalam kawasan tidak semu dan bervariasi.
BERMAIN DALAM MEMORI PASAR MAINAN GEMBRONG DENGAN PENERAPAN SPATIAL EXPERIENCE Aktaria Oktafiani; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22332

Abstract

The Gembrong Market site in the Jatinegara area, East Jakarta, is an area that has become a variety of destinations that come to buy cheap toys. However, the potential of the Gembrong Market will not always have; the development of road infrastructure at one time is a seller's product to continue peddling his wares. The research was conducted to find out how the innovation efforts in restoring the memory of the Gembrong Market in terms of architecture as well as how to integrate interactions between communities into it. The qualitative descriptive method is used to obtain field data to find facts and phenomena that describe the actual situation. Spatial Experience is an intermediary in the design method to realize how the old Gembrong Market atmosphere entered a design. To accommodate street vendors, especially those from Gembrong Market, to restore the image of the known cheap toy market. The concept of playing is applied by racing track toys into a building philosophy, where users would feel joy with the games or games. The results show that the toy market building, which is applied with the concept of playing, can attract the surrounding community, especially children, because of the play facilities that can look attractive to users and visitors who would come to the Gembrong Toy Market with the aim of shopping and playing. Keywords: Market; Memory; Play; Spatial Experience Abstrak Situs Pasar Gembrong dalam kawasan Jatinegara, Jakarta Timur merupakan kawasan perbelanjaan yang menjadi berbagai tujuan pelancong yang datang untuk memperoleh mainan murah. Namun potensi yang dimiliki Pasar Gembrong tidak selamanya memiliki eksistensi, adanya perkembangan infrastruktur jalan di dekatnya menjadi suatu penghambat para penjual untuk tetap menjajakan dagangannya. Penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana upaya inovasi dalam mengembalikan memori Pasar Gembrong dalam segi arsitektur sekaligus cara menyatukan interaksi antar masyarakat kedalamnya. Menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan memperoleh data lapangan untuk mengetahui fakta dan fenomena yang menggambarkan kondisi sebenarnya. Spatial Experience menjadi perantara dalam metode desain untuk mewujudkan bagaimana suasana Pasar Gembrong lama masuk ke dalam sebuah perancangan. Dirancang dengan tujuan mewadahi bagi pedagang kaki lima khususnya yang berasal dari Pasar Gembrong demi mengembalikan citra akan pasar mainan murah yang dikenal. Menerapkan konsep bermain dengan mengaplikasikan mainan racing track ke dalam sebuah filosofi bangunan, dimana pengunjung dan pengguna akan merasakan kegembiraan dengan permainan ataupun perbelanjaan yang ada di dalamnya. Hasil menunjukkan bahwa bangunan pasar mainan yang diaplikasikan dengan konsep bermain dapat menarik masyarakat sekitar kawasan khususnya anak-anak dikarenakan fasilitas bermain yang dapat terlihat menarik bagi pengguna maupun pengunjung yang akan datang ke dalam Pasar Mainan Gembrong dengan tujuan berbelanja maupun bermain.
PENATAAN KAWASAN WISATA DENGAN PENDEKATAN ADAPTASI BENCANA TSUNAMI STUDI KASUS KAWASAN PANTAI PAAL, KABUPATEN MINAHASA UTARA Judah Yosia Wanjoyo; Suryono Herlambang; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22349

Abstract

The Paal Beach area is one of the tourist areas that has great natural potential seen from the coastal landscape with white sand, underwater beauty, and the surrounding hills which add to the increasingly diverse tourist experience. However, it does not yet have adequate infrastructure, facilities and infrastructure. In addition, the great potential for tourism development on a national scale also needs to pay attention to the risk factors for disasters which are quite large, especially on the Paal coast which reaches a wave height of up to 8 meters so that it has vulnerability to tsunamis. Therefore, the main objective in this study is to identify the existing conditions in the Paal Beach Tourism Area at the macro, mezzo, and micro scope in various aspects to be a reference in the analysis process and make a proposal for a planning master plan concept with a tsunami disaster adaptation approach in the Coastal Tourism Area. However, Paal is still able to integrate the main characters on the beach and hills through accessibility, space utilization, infrastructure, and supporting facilities for tourism activities. This research is a qualitative and quantitative research. Qualitative data was obtained by conducting field surveys to locations and conducting interviews with related parties, while quantitative data was obtained by distributing questionnaires to visitors. The results of this study are in the form of a planning master plan concept with a tsunami disaster adaptation approach in the Paal Beach Tourism Area by integrating the main characters on the beach and hills through accessibility, space utilization, infrastructure, and supporting facilities for tourism activities. Keywords: Tourism Spatial Planning; Paal Beach; Tsunami Disaster Adaptation Approach Abstrak Kawasan Pantai Paal menjadi salah satu area wisata yang memilki potensi alami yang besar dilihat dari lansekap pesisir pantai dengan pasir yang putih, keindahan bawah laut, dan bukit – bukit di sekitarnya yang menambah pengalaman wisatawan yang semakin beragam. Akan tetapi kawasan ini belum memiliki infrastruktur, sarana dan prasarana yang memadai. Selain itu, potensi besar terhadap pengembangan wisata skala nasional juga perlu memperhatikan faktor resiko bencana yang cukup besar terutama pada pada pesisir Pantai Paal yang mencapai ketinggian gelombang hingga 8 meter sehingga memilki kerawanan terhadap tsunami. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi eksisting pada Kawasan Wisata Pantai Paal pada lingkup makro, mezzo, dan mikro di berbagai aspek untuk menjadi acuan dalam proses analisis dan membuat usulan konsep masterplan perencanaan dengan pendekatan adaptasi bencana tsunami pada Kawasan Wisata Pantai Paal namun tetap dapat mengintegrasikan karakter utama pada pantai dan bukit melalui aksesbilitas, pemanfaatan ruang, infrastruktur, dan fasilitas pendukung untuk kegiatan wisata. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh dengan melakukan survey lapangan ke lokasi dan melakukan wawancara dengan pihak terkait, sedangkan untuk data kuantitatif diperoleh dengan penyebaran kuesioner ke pengunjung. Hasil dari penelitian ini berupa konsep masterplan perencanaan dengan pendekatan adaptasi bencana tsunami pada Kawasan Wisata Pantai Paal dengan mengintegrasikan karakter utama pada pantai dan bukit melalui aksesbilitas, pemanfaatan ruang, infrastruktur, dan fasilitas pendukung untuk kegiatan wisata.
STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN WISATA AIR TERJUN BERDASARKAN KONSEP KBM ECOTOURISM (OBJEK STUDI : AIR TERJUN CILEMBER, KABUPATEN BOGOR) Ajeng Ambarwati; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22351

Abstract

Cilember Waterfall Tourism Area is one of the leading tourist areas managed by the Independent Business Unit (KBM) Ecotourism Perum Perhutani, located on Jalan Raya Puncak KM. 15, Megamendung Village, Megamendung District, Bogor Regency with an area of ​​7.39 Ha and an altitude of -/+ 8000 masl. The attractiveness and uniqueness of the Cilember Waterfall Tourism Area is that because there are 7 streams of waterfalls there are other supporting objects that can be enjoyed such as Butterfly Breeding, Playground Area, Flying Fox, archers, Hobbit Houses and lodging with glamping concepts in the form of wooden villas and area camping. Thus, the Cilember Waterfall Tourism Area has the potential to apply the concept of KBM Ecotourism, which has a management concept, namely paying attention to the balance between the natural environment in the tourist area by improving the quality of professional management in the form of improving customer experience, customer spending and revenue generators. The manager of the Cilember Waterfall area has the hope of creating tourism management based on the concept of KBM Ecotourism, in order to improve the quality of management by carrying out professional and structured management, but still increasing the sustainability of the natural environment around the Cilember Waterfall Area. Keywords: Ecotourism, Kawasan Wisata Air terjun Cilember, Management Strategy Concept Abstrak Kawasan Wisata Air Terjun Cilember merupakan salah satu kawasan wisata unggulan yang dikelola oleh Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Ecotourism Perum Perhutani, berlokasi di Jalan Raya Puncak KM. 15, Desa Megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor dengan memiliki luas 7,39 Ha dan ketinggian -/+ 8000 mdpl. Daya tarik dan keunikan dari Kawasan Wisata Air Terjun Cilember yaitu terdapat 7 aliran air terjun terdapat objek pendukung lainnya yang dapat dinikmati seperti Penangkaran Kupu – Kupu, Area Playground, Flying Fox, Pemanah, Rumah Hobbit dan penginapan dengan konsep glamping  berupa villa kayu serta Area Camping. Sehingga, Kawasan Wisata Air Terjun Cilember memiliki potensi dalam penerapan konsep KBM Ecotourism memiliki konsep pengelolaan yaitu memperhatikan keseimbangan antara lingkungan alam yang berada di kawasan wisata dengan meningkatkan mutu pengelolaan profesional yaitu berupa, meningkatkan Customer Experience, Customer Spending dan Revenue Generator. Pengelola pada Kawasan Air Terjun Cilember ini memiliki harapan dapat menciptakan pengelolaan wisata berdasarkan konsep dari KBM Ecotourism, agar dapat meningkatkan mutu pengelolaan dengan dilakukannya pengelolaan yang profesional dan terstruktur, tetapi tetap meningkatkan kelestarian lingkungan alam sekitar Kawasan Air Terjun Cilember.
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN PADA DESA WISATA BERBASIS MASYARAKAT (OBJEK STUDI : DESA WISATA BATULAYANG, KECAMATAN CISARUA, KABUPATEN BOGOR) Putri Adira; Suryono Herlambang; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22368

Abstract

Batulayang Tourism Village is a tourist village area whose management is community-based which involves the local or local community actively in making a decision. This village is located in Cisarua District, Bogor Regency. With good relations and cooperation between the community, village government and district government. Batulayang Tourism Village was certified by the Ministry of Tourism and Creative Economy (Kemenparekraf) as a sustainable tourism village in realizing sustainable and prosperous tourism. The management and development of Batu Layang Tourism Village is supported by the strength of community participation, as well as village and government institutions, academics and the community. In realizing the sustainability, sustainability and culture of the environment, this village has an Ecovillage community that can preserve the natural environment in Batu Layang Tourism Village. Thus, the authors are interested in conducting a study on the success of community-based Batulayang Tourism Village management. This study aims to determine the role of Community Groups in Cooperation and Communication to support the success of Batulayang Tourism Village Management, determine the factors that influence the success of tourism villages in realizing a sustainable tourism village, and assess success in terms of visitor perceptions and preferences. This research is a descriptive research that combines qualitative and quantitative approaches. The qualitative research approach was collected through a survey to the location of the Tourism Village study object by conducting in-depth interviews with related parties, while the quantitative research approach was carried out by filling out questionnaires by tourists. The results of this study will obtain the factors that influence the success in managing community-based Batulayang Tourism Village in realizing a Sustainable Tourism Village. Keywords:  Batulayang Tourism Village;  Community Based Tourism Management ;   Success; Stakeholders Partnership Abstrak Desa Wisata Batulayang merupakan kawasan desa wisata yang pengelolaannya berbasis masyarakat yang melibatkan masyarakat lokal atau setempat secara aktif dalam pengambilan sebuah keputusan.  Desa ini terletak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Dengan adanya hubungan serta kerja sama yang baik antara masyarakat, pemerintah desa dan pemerintah kabupaten. Desa Wisata Batulayang mendapatkan sertifikasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai desa wisata berkelanjutan dalam mewujudkan pariwisata yang lestari dan sejahtera.  Pengelolaan serta pengembangan Desa Wisata Batu Layang selain didukung kekuatan partisipasi masyarakat adapun Lembaga desa & pemerintah, Akademisi serta komunitas. Dalam mewujudkan kelestarian, keberlanjutan serta berbudaya lingkungan Desa ini terdapat komunitas Ecovillage yang dapat menjaga kelestarian lingkungan alam di Desa Wisata Batu Layang. Dengan demikian, penulis tertarik guna  melakukan studi terhadap keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Batulayang berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran serta kelompok masyarakat dalam Kerja sama dan Komunikasi untuk menunjang keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Batulayang, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan desa wisata dalam mewujudkan desa wisata yang berkelanjutan, dan menilai keberhasilan dari sisi persepsi dan preferensi pengunjung. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang mengombinasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan penelitian kualitatif dikumpulkan melalui survey ke lokasi objek studi Desa Wisata dengan melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pihak terkait, sedangkan untuk penedekatan penelitian kuantitatif dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh wisatawan. Hasil dari penelitian ini akan memperoleh faktor–faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pengelolaan Desa Wisata Batulayang berbasis masyarakat dalam mewujudkan Desa Wisata Berkelanjutan.
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN WISATA BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (CBT) (STUDI KASUS: DESA WISATA PANDANSARI, KECAMATAN PAGUYANGAN, KABUPATEN BREBES, JAWA TENGAH) Dimas Rizky Aprianto; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22369

Abstract

Indonesia is famous for being a country rich in infinite natural beauty and has great potential to advance Indonesia's tourism sector. Currently, the tourism sector plays an important role in increasing the economic income of the country and regions. The development of the tourism sector, namely tourism villages in the regions, is expected to advance the economy of the surrounding community due to the participation of the surrounding community in managing their own tourism villages. Pandansari Tourism Village located in Brebes Regency is one of the tourist villages managed by the local community by adhering to the concept of Community Based Tourism (CBT) by forming a tourism awareness group or what is often called Pokdarwis. The concept of CBT is a community-based tourism management concept characterized by community participation in terms of planning, implementing, supervising and utilizing the results obtained. In the management of Pandansari Tourism Village, it is not yet known the suitability of the criteria used in the success of this village referring to the ASEAN CBT Performance Principles Standard. Therefore, the purpose of this study is firstly to assess the suitability of the award criteria obtained by Pandansari Tourism Village, secondly to find out whether there are criteria that can be increased in the management of Pandansari Tourism Village which refers to the ASEAN CBT Performance Standards, thirdly assess the success of pandansari tourism village management with visitor perceptions. This research is based on descriptive research through qualitative and quantitative approaches. Qualitative data collection was obtained by direct survey in Pandansari Tourism Village and conducting interviews with authorized parties, for qualitative data collection was carried out by filling out questionnaires by direct visitors, where the questionnaire compilation refers to the ASEAN CBT performance standards. The results of the study found that in terms of criteria, it was in accordance with applicable standards and confirmed by visitors' perceptions of the successful management of Pandansari Tourism Village. Keywords: Community Based Tourism (CBT); Pandansari Tourism Village Management; Pandansari Tourism Village; Success Abstrak Indonesia terkenal dengan negara yang kaya akan keindahan alam yang tak terhingga dan memiliki potensi besar untuk memajukan sektor pariwisata Indonesia. Saat ini, sektor pariwisata berperan penting dalam meningkatkan pendapatan ekonomi negara maupun daerah. Perkembangan sektor pariwisata yaitu desa wisata di daerah diharapkan dapat memajukan perekonomian masyarakat sekitar dikarenakan keikutsertaan masyarakat sekitar dalam mengelola desa wisata mereka sendiri. Desa Wisata Pandansari yang berlokasi di Kabupaten Brebes merupakan salah satu desa wisata yang dikelola oleh masyarakat setempat dengan menganut konsep Community Based Tourism (CBT) dengan membentuk kelompok sadar wisata atau yang kerap disebut Pokdarwis. Konsep CBT merupakan konsep pengelolaan wisata berbasis masyarakat yang ditandai dengan partisipasi masyarakat dalam hal perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pemanfaatan hasil yang diperoleh. Dalam pengelolaan Desa Wisata Pandansari belum diketahui kesesuaian kriteria yang digunakan dalam keberhasilan desa ini mengacu pada Standard Prinsip Kinerja CBT ASEAN. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini pertama adalah untuk menilai kesesuaian kriteria penghargaan yang didapat oleh Desa Wisata Pandansari, kedua untuk mengetahui apakah ada kriteria yang bisa ditigkatkan dalam pengelolaan Desa Wisata Pandansari yang mengacu pada Standard Kinerja CBT ASEAN, ketiga menilai keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Pandansari dengan persepsi pengunjung. Penelitian ini berbasis penelitian deskriptif melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data kualitatif didapatkan dengan cara survey langsung di Desa Wisata Pandansari dan melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang berwenang, untuk pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan pengisian kuisioner oleh pengunjung langsung, dimana penyususnan Kuisioner mengacu pada Standard kinerja CBT ASEAN. Hasil penelitian didapatkan bahwa dari segi kriteria sudah sesuai dengan standard yang berlaku dan terkonfirmasi dengan persepsi pengunjung mengenai keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Pandansari.

Page 91 of 134 | Total Record : 1332