cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
STUDI POTENSI WISATA PANTAI BATU BALUBANG GURABALA, KELURAHAN TOMAJIKO, KECAMATAN PULAU HIRI, MALUKU UTARA Noftaria Arini Amin; I G. Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22380

Abstract

This study aims to explore the tourism potential of Batu Balubang Gurabala Beach as a new tourist destination on Hiri Island. Based on these questions, this study formulates questions about the supporting and inhibiting factors for planning the development of tourism products at Batu Balubang Gurabala Beach. In this study, the authors adopted qualitative and quantitative research methods. Qualitative methods were used to obtain data regarding the management of Batu Balubang Gurabal Beach tourism objects with in-depth interviews (Deep Interview). Quantitative research was conducted to obtain data on the perception of visitors at Batu Balubang Gurabala Beach tourism object through the distribution of questionnaires. Based on the results of this study, the authors found that Batu Balubang Gurabala Beach should be developed as a new tourist destination that can attract tourists from physical conditions such as natural phenomena, panoramas and geographical locations, climate, waters, tourist attractions, accessibility, history, accommodation and natural charm. Keywords : Batu Balubang Gurabala Beach; Study of Tourism Area Potential; Tomajiko Village 2022, diterima untuk diterbitkan: 03-09-2022 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi wisata Pantai Batu Balubang Gurabala sebagai destinasi wisata baru di Pulau Hiri. Berdasarkan pertanyaan tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan tentang faktor pendukung dan penghambat perencanaan pengembangan produk destinasi wisata Pantai Batu Balubang Gurabala. Dalam penelitian ini, penulis mengadopsi metode penelitian kualitatif dan kuantitatif, Metode kualitiatif digunakan untuk mendapatkan data mengenai pengelolaan objek wisata Pantai Batu Balubang Gurabala dengan wawancara mendalam (Deep Interview). Kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan data mengenai persepsi pengunjung di Objek wisata Pantai Batu Balubang Gurabala melalui penyebaran kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian ini, penulis menemukan bahwa Pantai Batu Balubang Gurabala berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata baru yang dapat menarik wisatawan dari segi kondisi fisik seperti fenomena alam, panorama dan letak geografis, iklim, perairan, daya tarik wisata, aksesibilitas, sejarah, akomodasi dan pesona alam.
PENATAAN FISIK PULAU PAHAWANG SEBAGAI AREA PENDUKUNG KEGIATAN WISATA BAHARI Faisal Radhiansyah; I G Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22402

Abstract

The management of coastal areas makes a major contribution to the regional economy. The development of maritime-based tourism in Lampung Province is carried out through tourism activities on Pahawang Island which has abundant natural tourism potential, such as mangrove forests, white sand, and the underwater world. In order to develop the tourism areas, one thing that needs to be considered is maintaining the existing natural ecosystem, especially in Dusun  Jeralangan which is starting to run out of innovation in developing the tourism activities. The purpose of this research is to look at the existing condition of the Pahawang Island Tourism Area, to compare and benchmark similar tourism areas and to propose the concept of physical arrangement and facilities that will be conceptualized in the master plan to increase the attractiveness of the area. This study used descriptive analysis to elaborate the results of the analysis carried out. The results of the study indicate that there are still facilities that need to be developed both in terms of supporting aspects of accessibility, public facilities, telecommunications, clean water, and health facilities. This is evidenced by the preferences of visitors seen from the customer satisfaction index value of 43% indicating that visitors and the public are not satisfied with several aspects of Pahawang Island. Based on this, the concept and arrangement plan is carried out by taking into account the projection needs until 2025. The supporting aspects that need to be developed in the Pahawang Island Tourism Area need to be carried out in order to support existing marine tourism activities. Keywords:  Tourism; Marine tourism; Lampung province; Physical Arrangement; Importance Performance Analysis Abstrak Pengelolaan wilayah pesisir memberikan kontribusi besar terhadap perkenomian wilayah. Pengembangan pariwisata berbasis bahari di Provinsi Lampung dilakukan melalui kegiatan wisata di Pulau Pahawang yang memiliki potensi wisata alam melimpah yaitu hutan bakau, pasir putih, dan dunia bawah laut. Pengembangannya perlu di perhatikan untuk teteap menjaga ekosistem alam yang ada khususnya pada Dusun Jeralangan yang mulai kehabisan inovasi dalam mengembangkan wisata. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat kondisi eksisting Kawasan Wisata Pulau Pahawang, melakukan perbandingan benchmarking dengan wisata serupa, serta mengusulkan konsep penataan fisik dan sarana yang dituangkan kedalam masterplan guna meningkatkan daya tarik Kawasan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk mengelaborasi hasil analisis yang dilakukan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat kondisi fasilitas yang perlu dilakukan pengembangan baik dari aspek pendukung aksesibilitas, fasilitas umum, telekomunikasi, air bersih, dan sarana kesehatan. Hal ini dibuktikan dengan preferensi pengunjung dilihat dari nilai costumersatisfaction index sebesar 43% mengindikasi pengunjung dan masyarakat kurang puas pada beberapa aspek di Pulau Pahawang. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan konsep dan rencana penataan dengan memperhatikan kebutuhan proyeksi sampai tahun 2025. Aspek pendukung yang perlu di kembangkan di Kawasan Wisata Pulau Pahawang perlu untuk dilakukan dalam rangka menunjang kegiatan wisata bahari yang ada.
PENYUSUNAN MASTERPLAN KAWASAN WISATA TANJUNG BAJAU, KOTA SINGKAWANG, KALIMANTAN BARAT Bui Lip Ebdupus; I G. Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22404

Abstract

Tanjung Bajau is a tourist area located in Sedau Village, South Singkawang District, Singkawang City, West Kalimantan. Tanjung Bajau is one of the tourist destinations in Sinka Island Park. Tanjung Bajau is known as a tour with very beautiful natural beauty, especially at sunset. That's because Tanjung Bajau is a tourist destination with 2 parts, namely the beach and the mountain. However, better planning is needed for Tanjung Bajau tourism objects, especially in facilities and infrastructure, accessibility and accommodation. Based on the analysis, the Tanjung Bajau tourist area has 4 (four) zoning plans in its arrangement, namely the recreation zone, the beach zone, the Chinatown zone, and the service zone. Where from each zoning there are functions of recreation, water play, research, education, and culture. Not only that, the Tanjung Bajau Tourism area is also analyzed based on its natural conditions, namely topographical analysis. The analysis aims to obtain the functions and concepts that will be planned according to the natural conditions in the Tanjung Bajau Tourism Area. Keywords:  functions of recreation, water play, research, education, and culture; topographical; zoning plans Abstrak Tanjung Bajau merupakan kawasan wisata yang ada pada Kelurahan Sedau Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Tanjung Bajau merupakan salah satu destinasi wisata yang ada di Sinka Island Park.Tanjung Bajau dikenal sebagai wisata dengan keindahan alam yang sangat indah terutama saat mata hari terbenam. Hal itu dikarenakan Tanjung Bajau merupakan destinasi wisata dengan 2 bagian yaitu pantai dan gunung. Namun masih diperlukan perencanaan penataan yang lebih baik untuk objek wisata tanjung bajau terutama pada sarana dan prasana, aksesbilitas dan Akomodasi.Berdasarkan hasil analisis, kawasan wisata Tanjung Bajau memiliki 4 (empat) zonasi dalam rencana penataannya yakni zona rekreasi, zona pantai, zona chinatown, dan zona pelayanan. Dimana dari masing-masing zonasi terdapat fungsi rekreasi, bermain air, penelitian, edukasi, dan budaya. Tak hanya itu, kawasan Wisata Tanjung bajau juga dianalisis berdasarkan kondisi alamnya, yakni berdasarkan analisis topografi. Dimana analisis tersebut bertujuan untuk mendapatkan fungsi dan konsep yang akan direncanakan sesuai dengan kondisi alam pada Kawasan Wisata Tanjung Bajau.
PENATAAN KAMPUNG WISATA TEMATIK PULO GEULIS, KELURAHAN BABAKAN PASAR, KECAMATAN BOGOR TENGAH, KOTA BOGOR Adiba Handari; Priyendiswara Agustina Bella
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22405

Abstract

Bogor City is one of the cities in West Java Province. This city has the potential as a tourist city, with a wide selection of types of tourism in the city of Bogor, besides its location is also not far from the capital city of Indonesia. The city of Bogor has a characteristic that it is one of the most popular cities because it is famous for its natural attractions. In addition, the city of Bogor also saves a lot of history and other uniqueness. But day by day, the high demand for housing is increasing, so that more and more slums appear in the city of Bogor. Seeing this phenomenon, the Bogor City Government has a plan to develop Thematic Tourism Areas that are in accordance with the conditions of each region. This effort is made to improve the quality of life, welfare, and to support the economy of the city of Bogor. One of them is Kampung Pulo Geulis, this village has a high historical value. So that the Bogor City Government has designated it as one of the Thematic Tourism Villages, whose direction is to introduce history and also a form of real tolerance for the people in Pulo Geulis Village. However, a good Thematic Tourism Village has not yet been realized due to a lack of coordination, communication, and appropriate proposals between residents, the Government, and the Private Party. In addition, the lack of facilities and infrastructure that can support the formation of the Tourism Village in Pulo Geulis, the absence of shared open spaces makes tourism activities in Pulo Geulis not optimal. This research is a descriptive study using a qualitative approach. The data were obtained from the results of interviews, surveys of the object of study, and observing the existing data. Interviews were conducted with the Secretary of the Babakan Pasar Village, the Head of RW 04, the Head of Pokdarwis, the Head of the RT, and also the residents of Kampung Pulo Geulis. Based on the results of the analysis, the Kampung Pulo Geulis area already has potential that can be developed to become a Tourism Village. The author conducted several analyzes including location and site analysis, where the analysis aims to determine environmental conditions, land use plans, and appropriate structuring plans for Kampung Pulo Geulis. Keywords:  Arrangement; Tourism Village; Thematic Village; Facilities and infrastructure Abstrak   Kota Bogor adalah salah satu Kota yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Kota ini memiliki potensi sebagai Kota wisata, dengan beragam pilihan jenis wisata yang terdapat di Kota Bogor, selain itu lokasinya juga tidak jauh dari Ibu Kota. Kota Bogor memiliki ciri khas yaitu merupakan salah satu Kota yang di gemari karena terkenal dengan wisata alamnya. Selain itu, Kota Bogor juga menyimpan banyak sejarah dan keunikan lainnya. Namun semakin hari, tingginya kebutuhan akan hunian semakin meningkat, sehingga semakin banyak permukiman kumuh di Kota Bogor. Melihat fenomena ini, Pemerintah Kota Bogor memiliki rencana untuk mengembangkan Kawasan Wisata Tematik yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayahnya. Upaya ini dilakukan guna meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan, serta untuk menunjang perekonomian Kota Bogor. Salah satunya adalah Kampung Pulo Geulis, kampung ini memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sehingga Pemerintah Kota Bogor menetapkannya sebagai salah satu Kampung Wisata Tematik, yang dimana arahnya adalah untuk memperkenalkan sejarah dan juga wujud toleransi nyata masyarakat yang terdapat di Kampung Pulo Geulis. Namun belum terwujudnya Kampung Wisata Tematik yang baik dikarenakan kurangnya koordinasi, komunikasi, serta usulan yang tepat antara warga, Pemerintah, dan Pihak Swasta. Selain itu, minimnya sarana dan prasarana yang mampu menunjang terbentuknya Kampung Wisata di Pulo Geulis, tidak adanya ruang terbuka bersama membuat kegiatan wisata di Pulo Geulis menjadi tidak maksimal. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data-data diperoleh dari hasil wawancara, survei terhadap objek studi, dan melakukan observasi terhadap data-data yang ada. Berdasarkan hasil analisis, kawasan Kampung Pulo Geulis sudah memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi Kampung Wisata.
ANALISIS PERGERAKAN PEJALAN KAKI DALAM MENGAKSES KAWASAN STASIUN JURANGMANGU Dimas Rifqi Satrio Notokusumo; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22407

Abstract

South Tangerang City is an area that has a good level of connectivity between sub-districts because it is connected with public transportation modes such as Commuter Lines, TransJakarta, Minibus, etc. The condition of connectivity the area, it can be seen based on the level of accessibility to transit points that can be passed by pedestrians and other vehicles. Jurangmangu Station is one of the Commuter Lines Station that has a high level of passenger productivity, especially that lives in  Bintaro and Ciputat areas. According to the institute for Transportation and Development Policy, pedestrian service standards at bus stops and train stations are within a radius of 500 meters. However, the existing conditions around the Jurangmangu Station area do not meet the standard requirements for pedestrian facilitites within the service standard radius, thus affecting the level of accessibility around Jurangmangu Station such as traffic jams. This study was conducted to analyze the current level of accessibility around the Jurangmangu Station Area, observe connectivity between modes of transportation, and plan the facilities for pedestrian paths within the service radius. Then the study conducted using quantitative and qualitative analysis methods. Based ont the studies that have been carried out, that the level of accessibility around the Jurangmangu Station Area is still in the bad category, the condition of the pedestrian path does not meet the standards, and the lack of pedestrian facilities within the standard radius of pedestrian services. Keywords:  Accessibility; Pedestrian Path; Pedestrian; Jurangmangu Station Abstrak Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu wilayah yang memiliki tingkat konektivitas antar kecamatan yang sudah cukup baik karena dilengkapi dengan moda transportasi publik seperti Kereta Commuter Line, TransJakarta, Angkutan Kota, dll. Untuk mengetahui kondisi konektivitas suatu wilayah dapat dilihat berdasarkan tingkat aksesibilitas menuju titik transit yang dapat dilalui oleh pejalan kaki maupun kendaraan bermotor lainnya. Stasiun Jurangmangu merupakan salah satu stasiun kereta Commuter Line yang memiliki tingkat produktivitas penumpang cukup tinggi, khususnya untuk daerah Bintaro Jaya dan Ciputat. Standar pelayanan jalur pejalan kaki pada halte dan stasiun menurut Institute for Transportation and Development Policy yaitu dalam radius 500 meter. Namun, pada kondisi eksisting di sekitar Kawasan Stasiun Jurangmangu belum memenuni standar kebutuhan fasilitas pejalan kaki didalam radius standar pelayanan sehingga mempengaruhi tingkat aksesibilitas di sekitar Stasiun Jurangmangu seperti halnya kemacetan lalu lintas.  Studi ini dilakukan untuk menganalisis tingkat aksesibilitas yang sedang terjadi di sekitar Kawasan Stasiun Jurangmangu, mengamati konektivitas antar moda transportasi, dan merencanakan fasilitas untuk jalur pejalan kaki yang terdapat dalam radius pelayanan. Kemudian studi yang dilakukan menggunakan metode analisis kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan studi yang telah dilakukan, bahwa tingkat aksesibilitas disekitar Kawasan Stasiun Jurangmangu masih berada dalam kategori buruk, kondisi jalur pejalan kaki yang belum memenuhi standar, serta kurangnya fasilitas pejalan kaki dalam radius standar pelayanan pejalan kaki.
STUDI SISTEM TRANSPORTASI DI KAWASAN STASIUN BEKASI DENGAN KONSEP TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) Angeline Gracia Samudra; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22408

Abstract

The problem of congestion can be overcome by improving the integration of macro transportation systems and realized by the concept of Transit Oriented Development (TOD). Directions fot the development of TOD already exist in various regions in Indonesia, one of which is in the Bekasi Station area, located in Bekasi City, West Java, which is stated in Presidential Regulation of the Republic of Indonesia No. 55 of 2018 concerning the Greater Jakarta Transportation Master Plan for 2018-2029. The Bekasi Station area is planned to be a city-scale transit node with the main mode of transportation, namely trains. The poor condition of the transportation system in the Bekasi Station area is a direct factor for the development of TOD in this area. This can be seen from the traffic jams in the Bekasi Station area. Congestion is also common every day, especially during peak hours in the afternoon from 17.00 to 20.00 WIB. The Bekasi Stasion area has the potential to be developed with the TOD concept because in this area there is still an empty area of 24.33 hectares that can be developed (survey results, 2022). Therefore, this study aims to analyze the condition of the regional transportation system which consists of a system of activities, a network system and a movement, and to find out the development strategy based on the TOD concept in the Bekasi Station area. The analysis in this study uses qualitative and quantitative methods. The results of this study are a strategy to fix transportation system problems in the Bekasi Station area with the concept of Transit Oriented Development (TOD). Keywords: Integration, Transportation System, Transit Oriented Development Abstrak Persoalan kemacetan dapat diatasi dengan memperbaiki integrasi sistem transportasi makro dan diwujudkan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). Arahan pengembangan TOD sudah terdapat di berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya ialah di kawasan Stasiun Bekasi yang terletak di Kota Bekasi, Jawa Barat yang tercantum dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek Tahun 2018-2029. Kawasan Stasiun Bekasi direncanakan menjadi simpul transit berskala kota dengan moda transportasi utama yaitu kereta api. Kondisi sistem transportasi yang buruk di kawasan Stasiun Bekasi menjadi faktor arahan pengembangan TOD di kawasan ini. Hal tersebut dapat terlihat dari masih ditemukannya kemacetan pada kawasan Stasiun Bekasi. Kemacetan juga biasa terjadi setiap hari terutama pada  peak hour pada sore pukul 17.00-20.00 WIB. Kawasan Stasiun Bekasi juga memiliki potensi untuk dikembangkan dengan konsep TOD karena dalam kawasan ini masih terdapat lahan kosong seluas 24,33 hektar yang dapat dikembangkan (hasil survei, 2022). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sistem transportasi kawasan yang terdiri atas sistem kegiatan, sistem jaringan dan pergerakan, dan untuk mengetahui strategi pengembangan berdasarkan konsep TOD di Kawasan Stasiun Bekasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini berupa strategi untuk membenahi permasalahan sistem transportasi di kawasan Stasiun Bekasi dengan konsep Transit Oriented Development (TOD).
STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN DAN INVESTASI PERUMAHAN ALFARISI GRAND RESIDENCE TAMBUN SELATAN, KABUPATEN BEKASI Ajeng Dwifebrianti; Priyendiswara Agustina Bella
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22410

Abstract

Housing is one of the main human needs as a place to live, so the need for housing is increasing from time to time, especially in developing areas. Bekasi Regency is one of the buffer cities that has also experienced regional development, especially in the road infrastructure sector, one of which is the construction of a new toll road, namely the Cibitung-Cililitan Toll Road. The development of toll road infrastructure facilitates community mobility, especially in the Bekasi Regency area. Seeing this potential, a housing development is planned on land located on Jalan Raya Jejalen-Jabir, Sumberjaya Village, South Tambun District, Bekasi Regency. The land is close to the construction of a new toll road with the closest toll gate access to the Gabus Toll Gate approximately 3.5 kilometers from the land. The development trend of the residential property market around the land also provides opportunities with market demand for lower-middle class housing properties in the land location area. The main objective of this feasibility study is to determine the potential and constraints that exist both physically, legally, market opportunities, and financial development. The feasibility analysis is carried out based on the analysis of the physical, legal, market, and financial aspects of the investment using qualitative methods and the discounted cash flow method for investment feasibility analysis. The results of this study are in the form of feasibility status and several recommendations for the development of land to be developed into residential land. Keywords:  Development; Feasibility Study; Investment; Residential Abstrak Rumah menjadi salah satu kebutuhan utama manusia sebagai tempat tinggal, sehingga kebutuhan akan tempat tinggal semakin meningkat dari waktu ke waktu khususnya pada kawasan yang sedang berkembang. Kabupaten Bekasi merupakan salah satu kota penyangga yang turut mengalami perkembangan kawasan terutama pada sektor infrastruktur jalan, salah satunya pembangunan jalan tol baru yaitu Jalan Tol Cibitung-Cililitan. Pembangunan infrastruktur jalan tol mempermudah mobilitas masyarakat khususnya pada kawasan Kabupaten Bekasi. Melihat potensi tersebut maka direncanakan pengembangan perumahan pada lahan yang berlokasi di Jalan Raya Jejalen-Jabir, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Lahan tersebut berada dekat dengan pembangunan jalan tol baru dengan akses pintu tol terdekat Pintu Tol Gabus berjarak kurang lebih 3,5 kilometer dari lahan. Tren pengembangan pasar properti perumahan di sekitar lahan juga memberikan peluang dengan adanya permintaan pasar terhadap properti rumah kelas menengah-bawah di kawasan lokasi lahan. Tujuan utama studi kelayakan ini adalah untuk mengetahui potensi dan kendala yang ada baik secara fisik, legalitas, peluang pasar, dan finansial pengembangan. Analisa kelayakan dilakukan berdasarkan analisis pada aspek fisik, legalitas, pasar, dan finansial investasi dengan metode kualitatif dan metode discounted cash flow untuk analisis kelayakan investasi. Hasil studi ini berupa status kelayakan dan beberapa rekomendasi terhadap perkembangan lahan yang akan dikembangkan menjadi lahan perumahan.
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN DESA WISATA BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (OBJEK STUDI: DESA WISATA CIBUNTU, KECAMATAN PASAWAHAN, KABUPATEN KUNINGAN PROVINSI JAWA BARAT) Alyaa Syabrina Nabiila; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22436

Abstract

Tourism has the potential for both national and regional income sources, because it causes economic growth rates by creating demand for consumption or investment. Therefore, it needs to be developed better in order to have optimal results for the government and society. One of the management of community-based tourism or Community Based Tourism (CBT). CBT is a tourism activity in which the community has a role in managing at the community level which aims for welfare. One of the villages that implements CBT is the Cibuntu Tourism Village, which is located in Pasawahan District, Kuningan Regency, West Java Province. Cibuntu Tourism Village in its management involves BUMDes and Pokdarwis. Cibuntu Tourism Village has received several awards both at the national and international levels. Therefore, the main objective in this study is to identify the suitability of the award criteria obtained by referring to the standard ASEAN CBT performance criteria, secondly to know the criteria that can be improved on the management that is owned by referring to the ASEAN CBT performance criteria standards and thirdly to assess the success of tourism village management through visitor perceptions and preferences. This research uses qualitative and quantitative methods. The qualitative method was obtained by conducting a survey to the location and conducting interviews with related parties, while the quantitative method was obtained by distributing questionnaires to visitors to the Cibuntu Tourism Village. The results of this study are expected to obtain conformity of the award criteria with the ASEAN CBT performance criteria standards, knowing the criteria from the ASEAN CBT performance criteria standards that can be improved on their management, the existence of a questionnaire design that refers to the ASEAN CBT performance criteria standards used to determine perceptions and preferences visitors to the successful management of Cibuntu Tourism Village. Keywords: Tourism Village Management; Cibuntu Tourism Village; Community Based Tourism; Success Abstrak Pariwisata memiliki potensi baik bagi sumber pendapatan nasional maupun daerah, karena menyebabkan timbulnya laju pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan permintaan baik itu dikonsumsi atau investasi. Oleh karenanya, perlu dikembangkan lebih baik agar memiliki hasil yang optimal untuk pemerintah maupun masyarakat. Salah satu pengelolaan wisata berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT). CBT merupakan aktivitas pariwisata yang mana masyarakat memiliki peran dalam mengelola pada tingkat komunitas yang bertujuan untuk kesejahteraan. Salah satu desa yang mengimplementasikan CBT adalah Desa Wisata Cibuntu yang berlokasi di Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Desa Wisata Cibuntu dalam pengelolaannya melibatkan BUMDes dan Pokdarwis. Desa Wisata Cibuntu telah mendapat beberapa penghargaan baik itu ditingkat nasional maupun internasional. Maka dari itu, tujuan utama dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi kesesuaian kriteria penghargaan yang didapatkan dengan mengacu kepada standard kriteria kinerja CBT ASEAN, kedua mengetahui kriteria yang dapat ditingkatkan terhadap pengelolaan yang dimiliki mengacu pada standard kriteria kinerja CBT ASEAN dan ketiga menilai keberhasilan pengelolaan desa wisata melalui persepsi dan preferensi pengunjung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif diperoleh dengan melakukan survey ke lokasi dan melakukan wawancara dengan pihak terkait, sedangkan metode kuantitatif diperoleh dengan penyebaran kuesioner ke pengunjung Desa Wisata Cibuntu. Hasil dari penelitian ini diharapkan mendapatkan kesesuaian kriteria penghargaan yang dengan standard kriteria kinerja CBT ASEAN, mengetahui kriteria dari standard kriteria kinerja CBT ASEAN yang dapat ditingkatkan terhadap pengelolaan yang dimiliki, adanya desain kuesioner yang mengacu kepada standard kriteria kinerja CBT ASEAN digunakan untuk mengetahui persepsi dan preferensi pengunjung terhadap keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Cibuntu.
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN DESA WISATA BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (OBJEK STUDI: DESA WISATA TINALAH, KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULON PROGO, PROVINSI D.I YOGYAKARTA) Cahyo Satrio Pinilih Bagus Prabowo; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22439

Abstract

Tourism Village is a form of integration of accommodation, attractions, and other supporting facilities that are in an order of social life that blends with existing traditions and procedures. According to the 2016 ASEAN Community Based Tourism Standard, Community Based Tourism means a tourism activity that is managed directly by the community. One of the tourism management systems is the Community Based Tourism (CBT) system, which is located in the Tinalah Tourism Village in Purwoharjo Village (Village), Samigaluh District, Kulon Progo Regency, Yogyakarta D.I Province. There is a good synergy between the managers of the Tourism Village, Pokdarwis and the local government, making the Tinalah Tourism Village receive several awards. The main objective of this research is the first to identify the suitability of the award criteria obtained by referring to the ASEAN CBT performance criteria standards, then the second to determine the criteria that can be improved on the management of the Tinalah Tourism Village which refers to the ASEAN CBT performance criteria standards and the third is to assessing the success of tourism village management through visitor perceptions and preferences. This research uses qualitative and quantitative methods. Qualitative data was obtained from conducting field surveys to locations and conducting interviews with related parties, while quantitative data was obtained from the results of distributing questionnaires to visitors. The results of this study are expected to determine the suitability of the award criteria obtained with the ASEAN CBT performance criteria standards, to find out the criteria that can be improved on the management owned by the Tinalah Tourism Village referring to the ASEAN CBT performance criteria standards, and to know the perceptions and preferences of visitors to the success of the management. Tinalah Tourism Village through a questionnaire design that refers to the standard performance criteria of ASEAN CBT. Keywords: Community-Based Tourism; Management Tourism Village; Success; Tinalah Tourism Village Abstrak Desa Wisata merupakan bentuk integrasi dari akomodasi, atraksi, serta fasilitas pendukung lainnya yang berada dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat yang menyatu dengan tradisi dan tata cara yang ada. Menurut Buku ASEAN Community Based Tourism Standard tahun 2016, Community Based Tourism berarti suatu kegiatan pariwisata yang dikelola langsung oleh masyarakat. Salah satu pengelolaan wisata dengan sistem Commnunity Based Tourism (CBT), yaitu terdapat pada Desa Wisata Tinalah di Kalurahan (Desa) Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi D.I Yogyakarta. Adanya sinergi yang baik antara pengelola Desa Wisata, Pokdarwis dan pemerintah setempat, menjadikan Desa Wisata Tinalah mendapatkan beberapa penghargaan. Tujuan utama dalam penelitian ini yang pertama adalah untuk mengidentifikasi kesesuaian kriteria penghargaan yang didapatkan dengan mengacu kepada standard kriteria kinerja CBT ASEAN, lalu yang kedua untuk mengetahui kriteria yang dapat ditingkatkan terhadap pengelolaan Desa Wisata Tinalah yang mengacu pada standard kriteria kinerja CBT ASEAN serta yang ketiga untuk menilai keberhasilan pengelolaan desa wisata melalui persepsi dan preferensi pengunjung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif didapat dari melakukan survei lapangan ke lokasi serta melakukan wawancara dengan pihak terkait, sedangkan data kuantitatif didapat dari hasil penyebaran kuesioner ke pengunjung. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui kesesuaian kriteria penghargaan yang didapatkan dengan standard kriteria kinerja CBT ASEAN, dapat mengetahui kriteria yang dapat ditingkatkan terhadap pengelolaan yang dimiliki oleh Desa Wisata Tinalah mengacu pada standard kriteria kinerja CBT ASEAN, serta dapat mengetahui persepsi dan preferensi pengunjung terhadap keberhasilan pengelolaan Desa Wisata Tinalah melalui adanya desain kuisioner yang mengacu kepada standard kriteria kinerja CBT ASEAN.
STUDI PASAR TRADISIONAL DALAM MEMPERTAHANKAN JUMLAH PEDAGANG DAN PENGUNJUNG (STUDI KASUS: PASAR JEMBATAN BESI) Mita Rahmalia; Parino Rahardjo; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22446

Abstract

The number of traditional markets in DKI Jakarta has regressed a lot. This happened because in terms of the physical condition of the market buildings has an age of more than 25 years causing management disruption and impacting to internal acitivites market. Efforts that need to be made to maintain the existence of traditional markets are to carry out physical improvements of large-scale physical buildings to support activities in the market such as management activities, availability of market facilities and infrastructure. Based on this phenomenon, there is an interest in conducting research precisely in one of the traditional markets, namely the Jembatan Besi Market. Jembatan Besi Market is a traditional market owned and managed by PD. Pasar Jaya. This market is included in the environmental scale market which has a service range that is sufficient for the Jembatan Besi Village area. The scope of activities in the market are filled with active sellers and crowds of visitors from the nearest environment. Therefore, this study aims to identify management in the Jembatan Besi Market in an effort to maintain the existence of traditional markets and determine consumen perceptions as an effort to maintain the number of sellers and buyers. One of the ways to maintain the number of sellers and buyers in Jembatan Besi Market is to conduct a study using qualitative research methods and determine recommendations for development concepts in accordance based on SNI Pasar Rakyat in order to support the activities. Keywords:  Traditional Market; Buyers; Sellers Abstrak Persebaran jumlah pasar tradisional di DKI Jakarta banyak mengalami kemunduran. Hal ini dipengaruhi dari segi kondisi fisik bangunan pasar memiliki usia lebih dari 25 tahun sehingga menyebabkan penyusutuan terhadap pengelolaan  dan berdampak terhadap kegiatan internal penghuni pasar. Upaya yang perlu dilakukan untuk mempertahankan eksistensi pasar tradisional adalah dengan melakukan perbaikan fisik bangunan skala besar untuk menunjang aktivitas dalam pasar seperti kegiatan pengelolaan, ketersediaan sarana dan prasarana pasar. Dengan adanya fenomena tersebut, maka timbul ketertarikan dalam melakukan penelitian tepatnya pada salah satu pasar tradisional yaitu Pasar Jembatan Besi. Pasar Jembatan Besi merupakan jenis pasar tradisional yang dimiliki dan dikelola oleh PD. Pasar Jaya. Pasar ini termasuk kedalam pasar skala lingkungan yang memiliki jangkauan pelayanan mencakupi seluruh wilayah Kelurahan Jembatan Besi. Cakupan pelaku kegiatan pasar berasal dari area lingkungan pasar terdekat sehingga berpengaruh terhadap aktivitas dalam pasar yang dipenuhi oleh aktifnya pedagang dan ramainya pengunjung. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan dan kondisi fisik serta mengetahui persepsi pedagang dan pengunjung sebagai pelaku kegiatan Pasar Jembatan Besi. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mempertahankan jumlah pedagang dan pengunjung pasar dengan melakukan studi menggunakan metode penelitian kualitatif dan hasil akhir berupa rekomendasi konsep pengembangan sesuai dengan SNI Pasar Rakyat demi menunjang kegiatan pelaku pasar.

Page 92 of 134 | Total Record : 1332