cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
REDESAIN PASAR PALMERAH SEBAGAI BAGIAN DARI REVITALISASI KAWASAN PALMERAH Jonathan Kent; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22293

Abstract

Palmerah Palmerah Market is one of the economic centers of the region that has a major influence on the surrounding environment. This market was revitalized in 1999, and now the market has expired. This also affects the changes in the function of space that occur in the market. And have an impact on the pattern of buying and selling activities in the Palmerah Market. In addition, the physical condition of the market building experienced a lot of decline, causing the condition of the Palmerah Market to continue to lose its existence. The declining market conditions have a negative impact on the environment. Starting from the narrowing of pedestrian paths and vehicle lanes, to the accumulation of garbage and creating slum points and congestion. In order for various land functions in the Palmerah area to function optimally, a redesign of the Palmerah Market is needed with an Urban Acupuncture approach. Where the building can synergize with other functions in the form of offices and public spaces with the transprogramming design method. It is also directly connected to the functions of the surrounding buildings. The existence of Palmerah Market as a regional magnet in the middle of the TOD area is a vital area for the region and opens up new potential for the region. So, Redesign Palmerah Market is able to become an important point for the Region and bring new goals to the Palmerah area. Keywords: Market; Palmerah; Redesign; Urban Acupuncture Abstrak Pasar Palmerah adalah salah satu pusat perekonomian kawasan yang mempunyai pengaruh besar bagi lingkungan sekitarnya. Pasar ini pernah direvitalisasi pada tahun 1999, dan saat ini masa pakai pasar telah habis. Hal tersebut juga berpengaruh pada perubahan fungsi ruang yang terjadi dalam pasar. Dan berdampak pada pola aktivitas jual beli dalam Pasar Palmerah. Selain itu, Kondisi fisik bangunan pasar mengalami banyak penurunan, sehingga menyebabkan kondisi Pasar Palmerah terus kehilangan eksistensinya. Selain itu, kondisi pasar yang kian menurun membawa dampak buruk bagi lingkungannya. Mulai dari penyempitan  jalur pedestrian dan jalur kendaraan, hingga penumpukan sampah dan tercipta titik - titik kumuh serta kemacetan. Agar berbagai fungsi lahan  pada  kawasan  Palmerah berfungsi dengan optimal maka dibutuhkanlah Redesign Pasar Palmerah dengan pendekatan Urban Acupuncture. Dimana bangunan dapat bersinergi dengan fungsi lainnya berupa perkantoran dan ruang publik dengan metode perancangan transprogramming. Juga terkoneksi secara langsung dengan fungsi bangunan sekitarnya. Keberadaan Pasar Palmerah sebagai magnet kawasan di tengah kawasan TOD menjadi area vital bagi kawasan dan membuka potensi baru bagi kawasan. Sehingga Redesain Pasar Palmerah mampu menjadi titik  penting bagi Kawasan dan membawa tujuan baru bagi Kawasan Palmerah.
PERANCANGAN RUANG EDU-REKREASI SAMPAH PLASTIK SEBAGAI USAHA MENGHIDUPKAN KAWASAN PESISIR MUARA ANGKE Evan Christopher; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22294

Abstract

Muara Angke is one of the largest fishing boat harbor areas in Jakarta which is abundant in the potential of its natural resources. However, the potentials that are owned are starting to be closed and less developed. This is due to the pile of garbage in the coastal area of Muara Angke which causes the quality of the surrounding environment to degrade. Piles of garbage regularly come from the flow of 13 rivers in Jakarta which empties into the Jakarta Bay every time the West Wind season arrives. Based on the data, the composition of the existing waste piles is dominated by plastic type waste as much as 46-57%. In addition to the dominating composition of plastic waste, there is also a strong indication of the increasing amount of plastic waste since the pandemic due to changes in people’s behaviour during the pandemic (online shopping, food packaging, etc.). Responding to the existing condition, handling is needed to overcome the environmental degradation that occurs. The handling needed is a treatment that can pull back the movement of the population to the coastal area of Muara Angke. The approach used in this treatment is urban acupuncture. Through the urban acupuncture approach, the location of the intervention that needs to be improved and the types of functions that can be offered are obtained. Keywords:  Degradation; Muara Angke; Urban Acupuncture; Waste Abstrak Muara Angke merupakan salah satu kawasan pelabuhan kapal ikan terbesar di Jakarta yang melimpah akan potensi sumber daya alam yang dimiliki. Namun, potensi-potensi yang dimiliki mulai tertutup dan kurang berkembang. Hal ini disebabkan oleh adanya tumpukan sampah di kawasan pesisir Muara Angke yang menyebabkan kualitas lingkungan sekitar mengalami degradasi. Tumpukan sampah rutin hadir dari aliran 13 sungai di Jakarta yang bermuara di teluk Jakarta setiap musim angin Barat tiba. Berdasarkan data, komposisi tumpukan sampah yang ada didominasi oleh sampah jenis plastik sebanyak 46-57%. Selain komposisi sampah plastik yang mendominasi, juga ada indikasi kuat mengenai meningkatnya jumlah sampah plastik semenjak masa pandemi oleh karena perubahan perilaku masyarakat selama pandemi (belanja online, bungkus makanan, dan lain-lain.). Merespon kondisi yang ada, diperlukan penanganan untuk mengatasi degradasi lingkungan yang terjadi. Penanganan yang diperlukan adalah penanganan yang dapat menarik kembali pergerakan penduduk ke kawasan pesisir Muara Angke. Melalui pendekatan urban acupuncture, didapatkan titik lokasi intervensi yang perlu diperbaiki serta jenis fungsi yang dapat ditawarkan.
PENERAPAN AKUPUNKTUR PERKOTAAN DALAM PERANCANGAN RITEL MAKANAN DAN RUANG INTERAKTIF DANAU SUNTER BARAT Raissa Tjandra; Aswin Hinanto Tjandra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22298

Abstract

Sunter, known as a strategic and elite area has an area that was previously developed, but is now experiencing degradation in the provision of public space, retail, and entertainment space in fulfilling the needs of densely populated surrounding areas, namely in the West Sunter Lake area. This area has the potential to develop has not developed because over time there has been no development, arrangement, or physical improvement, especially along the main road in the retail commercial area and the lack of provision of public space. The crowd in this area disappears with the emergence of new competitors in other areas that are newer and follow the times. This is further exacerbated by the problem of land disputes that cause vacant land to be used as a dumping ground for illegal waste.The purpose of this research is to revive the retail commercial area, provide public open space in meeting the needs of social space, create activities that can become new attractors in regional livelihoods, and support the existence of JIS and ITF. The research method used is urban acupuncture by determining the location, determining the observation area within a 3 km radius, and identifying acupuncture points that are experiencing problems. The results show that the merging of retail and public open space can be used as a space to revive the retail commercial and fulfill the needs of social space, interaction, and entertainment of the West Lake Sunter community to the fullest. Keywords:  Open Public Space; Retail; Urban Acupuncture Abstrak Sunter yang dikenal sebagai sebuah kawasan strategis dan elit memiliki area yang dulunya maju, namun sekarang mengalami degradasi pada penyediaan ruang publik, ritel, dan ruang hiburan dalam pemenuhan kebutuhan pemukiman padat sekitar yaitu di daerah Danau Sunter Barat. Daerah yang memiliki potensi untuk maju ini tidak berkembang dikarenakan seiring berjalan waktu tidak adanya pengembangan, penataan, atau perbaikan fisik terutama di sepanjang jalan utama area komersial ritel dan minimnya penyediaan ruang publik. Keramaian di daerah ini menghilang dengan munculnya pesaing - pesaing baru di daerah lain yang lebih baru dan mengikuti perkembangan zaman. Hal ini semakin diperburuk dengan adanya permasalahan sengketa tanah yang menyebabkan lahan kosong dijadikan tempat pembuangan sampah liar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghidupkan kembali area komersial ritel, menyediakan ruang terbuka publik dalam pemenuhan kebutuhan ruang sosial, menciptakan aktivitas yang dapat menjadi atraktor baru dalam penghidupan kawasan, dan mendukung keberadaan JIS dan ITF. Metode penelitian yang digunakan adalah akupunktur perkotaan dengan penentuan lokasi, penetapan area pengamatan dalam radius 3 km, dan mengidentifikasi titik akupunktur yang mengalami permasalahan. Hasil penelitian menunjukkan penggabungan ritel dan ruang terbuka publik dapat dijadikan ruang untuk menghidupkan kembali komersial ritel dan pemenuhan kebutuhan ruang sosial, interaksi, dan hiburan masyarakat Danau Sunter Barat secara maksimal.
REVITALISASI TEMPAT PELELANGAN IKAN UNTUK PENINGKATAN SEKTOR KOMERSIL DAN PARIWISATA WILAYAH DADAP Owen Winata; Aswin Hinanto Tjandra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22299

Abstract

Geographically speaking, Indonesia is a maritime country with a body of water larger than its land area. but unfortunately the potential of Indonesia's coastal marine products has not been fully utilized. This is not an exception in the Dadap Fisherman's Village, which is one of the sub-districts of Kosambi District, Tangerang Regency. The position which is located at the edge of the North Coast of Java Island and adjacent to the DKI Jakarta province is very strategic for trade routes. But it is unfortunate that its abundant potential has not been utilized properly. One aspect of the cause is the lack of attention to coastal settlement areas which are the starting point for activities in this marine and fisheries zone. Not only that, the unavailability of facilities to accommodate the economic activities of the residents of this village causes a dead impression on the Fisherman's Village because there are no visitors who come and cause the wheels of the community's economy to not move. This project aims to create a marine product trading center that is integrated with a touch-pool area and communal and educational area as a fishery trading support facility that can attract tourists from all walks of life, even those who just want to relieve fatigue and improve the quality of life of Dadap’s community in its social and economic context and respond to the problems that arise. The method used in this project is a qualitative descriptive method. Keywords: Fishing Village; Poverty; Retail; Tourism Abstrak Secara geografis, negara Indonesia merupakan sebuah negara maritim dengan badan air yang lebih luas dari zona daratnya, tetapi potensi dari kekayaan hasil laut pesisir Indonesia belum dimanfaatkan dengan maksimal. Perihal ini bukan sebuah pengecualian di kampung Nelayan Dadap yang merupakan bagian dari Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Posisi yang terletak pada tepi pantai utara pulau Jawa dan bersebelahan dengan provinsi DKI Jakarta ini sangat strategis untuk jalur perdagangan. Tetapi sangat disayangkan potensi melimpah tersebut belum dimanfaatkan dengan baik. Salah satu aspek penyebabnya adalah minimnya perhatian terhadap kawasan permukiman pesisir yang merupakan titik awal dari aktifitas dalam zona kelautan serta perikanan ini. Tidak hanya itu, tidak tersedianya sarana untuk mewadahi aktivitas perekonomian para penduduk kampung ini menyebabkan kesan mati pada Kampung Nelayan dikarenakan tidak terdapatnya pengunjung yang datang dan menyebabkan roda perekonomian masyarakatnya tidak bergerak. Proyek ini bertujuan untuk membuat sebuah pusat jual beli hasil laut yang terintegrasi dengan area touch-pool dan communal and educational area sebagai fasilitas pendukung jual beli perikanan yang dapat menarik wisatawan dari segala kalangan, bahkan yang sekadar ingin menghilangkan penat serta dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kampung Dadap secara sosial dan ekonominya serta menanggapi problematika yang timbul tersebut. Metode yang digunakan di proyek ini adalah metode deskriptif kualitatif.
PENERAPAN METODE AKUPUNKTUR PERKOTAAN DALAM PERANCANGAN PUSAT RITEL, EDUKASI, DAN REKREASI OTOMOTIF DI SAWAH BESAR Alverta Amelia Yandarmadi; Aswin Hinanto Tjandra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22300

Abstract

Sawah Besar is one of the automotive sector areas in Central Jakarta that has begun to experience a decline, for example, it is one of the parts store centers "Wisma Sawah Besar" which was once successful in the past but has experienced degradation. In this region, it can be seen that the culinary sector is more advanced so that the image of the automotive area has begun to fade, does not yet have an area attractor, and there is less public space. Therefore, there needs to be design and program interventions without forgetting the past and still looking at the future where the transition to the era of electrification is a challenge for the automotive industry. This project aims to revive degraded buildings through activities that do not yet exist in the region so that it can meet the need for public space and the attractiveness of the area. The data collection activity uses the Urban Acupuncture method which analyzes various conditions and characteristics ranging from the Sawah Besar area to find selected location points. The design method that will be used is Everyday Architecture by looking at the great needs of the community for new spaces and programs. After conducting the analysis, a proposed mixed program automotive retail and edutainment programs are produced. It will then produce the concept of a program of space, the form and composition of mass, outer space, and inner space. This project is expected to become a new attractor, meet the needs of public space, and help restore the fading image of the Sawah Besar automotive area. Keywords:  Automotive; Electrification; Public Space; Urban Acupuncture Abstrak Sawah Besar merupakan salah satu kawasan sektor otomotif di Jakarta Pusat yang mulai mengalami penurunan, contohnya adalah salah satu pusat toko onderdil “Wisma Sawah Besar” yang pernah berjaya dulu namun mengalami degradasi. Pada kawasan ini terlihat sektor kuliner lebih berkembang sehingga citra kawasan otomotif mulai memudar, belum memiliki atraktor kawasan, dan kurang akan ruang publik. Oleh karena itu perlu ada intervensi desain dan program tanpa melupakan masa lalu dan tetap melihat masa depan dimana peralihan menuju era elektrifikasi menjadi tantangan bagi industri otomotif. Proyek ini bertujuan untuk menghidupkan kembali bangunan yang terdegradasi melalui kegiatan yang belum ada di kawasan ini sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan ruang publik dan daya tarik kawasan. Dalam kegiatan pengumpulan data menggunakan metode akupunktur perkotaan yang menganalisis berbagai macam kondisi dan karakteristik mulai dari kawasan Sawah Besar hingga menemukan titik lokasi terpilih. Metode perancangan yang akan digunakan adalah arsitektur keseharian dengan melihat besar kebutuhan masyarakat akan ruang dan program baru. Setelah melakukan analisis dihasilkan usulan program campuran antara ritel, edukasi, dan rekreasi yang berhubungan dengan otomotif. Kemudian akan menghasilkan konsep program ruang, bentuk dan komposisi massa, ruang luar, dan ruang dalam. Proyek ini diharapkan dapat menjadi atraktor baru, memenuhi kebutuhan ruang publik, dan membantu mengembalikan citra kawasan otomotif Sawah Besar yang mulai memudar.
PENERAPAN METODE TRANSPROGRAMMING & ARSITEKTUR EKOLOGI DALAM PERANCANGAN SENTRA KERAJINAN & KULINER UMKM SEMPER TIMUR Andrew Laksmana Budiman; Aswin Hinanto Tjandra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22301

Abstract

Cilincing is a sub-district located in the administrative area of North Jakarta which has existed for a long time. Now, Cilincing sub-district is a national integrated industrial area that produces convection with various companies. However, from the past until now, Cilincing is one of the sub-districts in North Jakarta which has a large number of slum areas, as well as many economically disadvantaged residents among other sub-districts. So that does not experience development in terms of structuring the population area  and the economy of the community. The government's role in solving this problem is still nil. The Semper Timur region, which is one of the ward in the Cilincing sub-district, has experienced degradation in its social and economic environment. With poor environmental conditions, as well as low human resources, the local community's economy does not develop. Behind all that, the local community has handicrafts, special foods, as well as the many micro and small business units in the area, so that it can be unique to this region. The revitalization process of this area uses the transprogramming method and ecological architecture, which presents a space for the community to introduce local crafts and culinary delights, then provides educational space to help create quality human resources, so that this area can become one of the community's tourist destinations that can create a new identity and improvement in terms of the environment and regional economy. Keywords:  Area; Environment;  Communities;  Economy Abstrak Cilincing merupakan sebuah kecamatan yang terletak pada kawasan administrasi Jakarta Utara yang sudah ada sejak dulu. Kini, kecamatan Cilincing merupakan kawasan industri terpadu nasional yang memproduksi konveksi dengan beragam perusahaan baik nasional maupun perusahaan penanaman modal asing. Namun sejak dulu hingga sekarang, Cilincing merupakan salah satu wilayah kecamatan di Jakarta Utara yang memiliki jumlah lingkungan kumuh, serta penduduk dengan perekonomian kurang mampu yang banyak diantara kecamatan lainnya. Sehingga kawasan tidak mengalami perkembangan dalam segi penataan wilayah penduduk (fisik) serta perekonomian dari masyarakatnya (non fisik). Peran pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini juga masih nihil. Wilayah Semper Timur, yang merupakan salah satu kelurahan di kecamatan Cilincing yang mengalami degradasi pada lingkungan sosial dan ekonominya. Dengan kondisi lingkungan yang buruk, juga sumber daya manusia yang rendah membuat perekonomian masyarakat setempat tidak berkembang. Dibalik semua itu, masyakarat setempat memiliki kerajinan, makanan khas, serta banyaknya unit usaha mikro kecil yang banyak pada kawasan, sehingga dapat menjadi keunikan pada wilayah ini. Perencanaan revitalisasi kawasan ini menggunakan metode transprogramming serta arsitektur ekologi, yang menghadirkan wadah ruang UMKM bagi masyarakat untuk memperkenalkan kerajinan dan kuliner setempat, kemudian menyediakan ruang edukasi untuk dapat membantu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga dapat membuat kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata masyarakat lokal ataupun luar yang dapat menciptakan identitas baru serta peningkatan dari segi lingkungan dan perekonomian kawasan.
REVITALISASI BANGUNAN TAMAN FESTIVAL BALI DI PADANG GALAK MELALUI PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE Fitria Dewi; Aswin Hinanto Tjandra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22302

Abstract

The existence of a tourist cultural center is essential for the Balinese people. Bali is known to the world through culture as the most dominant attraction. Balinese people and tourists have an attachment to Balinese culture and natural elements that cannot be found anywhere else. In Bali, precisely in Padang Galak, tourism culture can only be seen twice a year, so this area is challenging to get the attention of tourists on weekdays, which causes Padang Galak to look close. On the one hand, Padang Galak, historically known as a tourism center, has now disappeared and is known as a mystical area due to the many buildings that have been degraded and abandoned by their owners, one of which is the Bali Festival Park which is the largest festival park in Bali. The research method used is descriptive qualitative research and also through contextual and urban acupuncture approaches and carries the Tri Mandala concept. The results of the research are effort to revive the Bali Festival Park building through revitalization by connecting and creating harmony between the project and the environment, old and new, and the history of the present and the future through more flexible functions. In this way, Bali Festival Park and Padang Galak will find their way and dispel the mythical rumors circulating so that they can restore their tourism identity. Keywords:  Bali Festival Park; Contextual; Revitalization; Tourism; Urban Acupuncture Abstrak Keberadaan pusat kebudayaan pariwisata sangatlah penting bagi masyarakat Bali, hal ini dikarenakan Bali dikenal oleh dunia melalui kebudayaan sebagai daya tarik yang paling dominan. Pada dasarnya masyarakat Bali dan wisatawan memiliki keterikatan pada kebudayaan dan unsur alam Bali yang tidak didapatkan di tempat lain. Di Bali, tepatnya di Padang Galak kebudayaan pariwisata hanya dapat dilihat dua kali dalam setahun, sehingga kawasan ini sulit mendapat perhatian wisatawan pada hari biasa, yang mengakibatkan Padang Galak terlihat tertutup. Padang Galak dalam sejarah dikenal akan pusat pariwisata, akan tetapi kini sudah menghilang dan dikenal sebagai kawasan mistis akibat banyaknya bangunan yang terdegradasi dan ditinggalkan oleh pemiliknya, salah satunya ialah Taman Festival Bali yang merupakan sebuah taman festival terbesar di Bali. Metode penelitian yang diguanakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dan juga melalui pendekatan kontekstual dan urban acupuncture serta mengungsung konsep Tri Mandala. Hasil penelitian merupakan upaya untuk menghidupkan kembali bangunan Taman Festival Bali melalui revitalisasi dengan menghubungkan serta menciptakan keharmonisan antara proyek dengan lingkungan, lama dengan baru serta sejarah masa kini dengan masa depan melalui fungsi yang lebih fleksibel. Dengan cara ini, Taman Festival Bali dan Padang Galak akan menemukan jalannya sendiri, menghilangkan rumor mistis yang beredar sehingga dapat mengembalikan kembali identitas pariwisatanya.
PERAN HUNIAN VERTIKAL DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN TERHADAP KUALITAS HIDUP DAN KESADARAN MASYARAKAT AKAN KURANGNYA PENGHIJAUAN Elvira Velda Hamdani; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22303

Abstract

Jakarta, as the capital and center of activity, faces a number of urban challenges, including a growing population, increased housing and employment needs, rising urban land prices, congestion, limited green open space, and environmental degradation. Since population growth is not proportional to the government's ability to meet housing needs, slum settlements have emerged. Good urban planning needs to be balanced with sustainable planning. One of the solutions that can be implemented is urban planning that optimizes land and cities that are accessible by pedestrians. Increasing the quality of settlements can improve the quality of life and the quality of the city itself. The method used in this study is a qualitative research method. Vertical housing is one of the solutions in dealing with the lack of land for settlements along with green space. Arrangement of slum settlements at appropriate points in urban areas is expected to significantly reduce the number of slums in a city. Furthermore, housing is a strategic location to begin educating people on healthy living. Keywords:  Green Open Space; Quality Of Life; Slums; Sustainable Architecture; Urban Planning; Vertical Occupancy Abstrak Jakarta, sebagai ibukota dan pusat kegiatan, memiliki beberapa isu perkotaan seperti peningkatan jumlah populasi penduduk, meningkatnya kebutuhan hunian dan lapangan pekerjaan, naiknya harga lahan perkotaan, kemacetan, ruang terbuka hijau yang terbatas, dan degradasi lingkungan. Tingginya pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan kemampuan pemerintah dalam menyediakan kebutuhan hunian, hal ini menyebabkan munculnya permukiman yang kumuh. Penataan kota yang baik perlu diseimbangkan dengan perencanaan yang berkelanjutan. Penataan perkotaan yang mengoptimalkan lahan dan kota yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan. Dengan meningkatnya kualitas permukiman dapat meningkatkan kualitas hidup dan kualitas dari kota itu sendiri. Metode yang digunakan pada penulisan ini ialah metode penulisan kualitatif. Hunian vertikal menjadi salah satu solusi dalam menangani kurangnya lahan bagi permukiman dan juga ruang hijau. Penataan permukiman kumuh pada titik-titik yang tepat di perkotaan diharapkan dapat mengurangi angka kekumuhan suatu kota dengan signifikan. Dan juga hunian merupakan tempat yang strategis untuk mulai menyadarkan masyarakat dalam hidup sehat.
STUDY DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI PENDUDUK KAMPUNG MARUGA DENGAN KEHADIRAN KOTA BARU BSD Aditya Martin Kelana
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22304

Abstract

The need for a large residence in the city of Jakarta has led to large-scale development in the city of Tangerang, South Tangerang and other places around the city of Jakarta. This is what makes the author's basis for conducting a Social and Economic Impact Study with the Presence of the New City of BSD, the location of the object of the Study is Maruga Village, Ciater Village, Serpong District, South Tangerang City. This research is useful to find out how the residents who live in settlements that are located between Developer housing, how the people in Maruga Village can survive and compete with the presence of Kota Baru BSD. The method used in this study was an in-depth qualitative survey of the community where the author also lived there for more than 1 month to obtain data and see the behavior of the people living in the village. The author also calculates the Human Development Index (IMP) of Kampung Maruga by looking at Education, Age, Level of Expenditure. Keywords: Kampong; City; Residential Abstrak Kebutuhan akan tempat tinggal yang besar di Kota Jakarta hal ini menyebabkan terjadinya pembangunan secara besar – besaran yang ada di Kota Tangerang , Tangerang Selatan dan Tempat lain sekitar Kota Jakarta. Hal ini lah yang menjadikan dasar penulis untuk melakukan sebuah Studi Dampak Sosial dan Ekonomi dengan Kehadiran Kota Baru BSD, lokasi objek Studi Kampung Maruga Kelurahan Ciater Kecamatan Serpong , Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini berguna untuk mecari tau bagaimana warga yang tinggal di Pemukiman yang berada di antara perumahan Developer bagaimana masyarkat di Kampung Maruga tersebut dapat bertahan dan bersaing dengan adanya kehadiran Kota Baru BSD. Metode yang digunakan dalam penelitian ini Survey Kualitatif yang dalam terhadap masyarakat dimana penulis juga ikut tinggal disana sealama 1 bulan lebih untuk mendapatkan data dan melihat perilaku penduduk yang tinggal di Kampung tersebut. Penuli juga menghitung indeks manusia pembangunan (IMP) Kampung Maruga dengan melihat Pendidikan, Usia, Tingkat pengeluaran.
PERANCANGAN RUANG BERSAMA KOMERSIAL DAN RUANG DAUR ULANG LIMBAH KONVEKSI DI KALIANYAR DENGAN PENDEKATAN AKUPUNKTUR PERKOTAAN Salsabila Salsabila; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22305

Abstract

One of the impacts that occur due to urbanization is population density and the need for housing increases.  Urban areas that offer jobs, as well as places to live, bring people to settle.  One of the areas experiencing this phenomenon is Kalianyar.  Kalianyar is the most populous urban ward in DKI Jakarta.  The density that occurs in Kalianyar is exacerbated by the degradation of housing quality.  This degradation is caused by the presence of a home convection industry which causes the accumulation of convection waste.  To intervene in low-quality settlements in Kalianyar, several strategies of Urban Acupuncture, Contextual, and Placemaking approaches are used.  Based on the analysis of the area, the strategy taken is to improve regional circulation, create pedestrian paths, and provide space that can accommodate communal commercial activities and the processing of convection fabric waste. In addition, the strategy to support regional activities is by placing several parking points and providing shuttle transportation in the form of motorbike tours.  All of these strategies are placed in several locations in the area because Kalianyar is a dense ward.  This proposed strategy aims to improve Kalianyar by overcoming existing degradation and making an area that has more value. Keywords:  Commercial Space; Communal Space; Convection Waste; Recycle Space; Urban Acupunture Abstrak Salah satu dampak yang terjadi akibat urbanisasi adalah kepadatan penduduk dan kebutuhan akan tempat tinggal meningkat. Kawasan perkotaan yang menawarkan lapangan pekerjaan sekaligus tempat tinggal mendatangkan masyarakat untuk menetap. Salah satu kawasan yang mengalami fenomena tersebut adalah Kelurahan Kalianyar. Kalianyar merupakan kelurahan terpadat di DKI Jakarta. Kepadatan yang terjadi di Kalianyar diperkeruh dengan adanya degradasi berupa penurunan kualitas perumahan. Degradasi ini diakibatkan oleh adanya industri konveksi rumahan yang menyebabkan penumpukan limbah konveksi. Untuk mengintervensi permukiman berkualitas rendah di Kalianyar, digunakan beberapa strategi pendekatan yaitu Akupunktur Perkotaan, Kontekstual, dan Placemaking. Berdasarkan analisis kawasan, strategi yang dilakukan adalah memperlancar sirkulasi kawasan, membuat jalur pedestrian, pengadaan ruang yang dapat mewadahi kegiatan komunal, komersial, dan proses pengolahan limbah kain konveksi. Selain itu, strategi untuk mendukung aktivitas kawasan adalah dengan menempatkan beberapa titik parkir dan menyediakan transportasi antarjemput berupa motor wisata. Seluruh strategi ini ditempatkan di beberapa lokasi di kawasan dikarenakan Kalianyar adalah kelurahan yang padat. Strategi yang diusulkan ini bertujuan untuk membenahi Kelurahan Kalianyar dengan mengatasi degradasi yang ada dan menjadikan kawasan yang memiliki nilai lebih.

Page 90 of 134 | Total Record : 1332