cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
ANALISIS KEBUTUHAN PENYARINGAN UDARA UNTUK MENGATASI POLUSI UDARA SEBAGAI STRATEGI AKUPUNKTUR KOTA DI KAWASAN INDUSTRI PULOGADUNG Stefanie Fedora; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22243

Abstract

Industrial area is one of the sources of air pollution in the city of Jakarta. Poor air quality has a negative impact on public health. Air filtration technology can be used as a solution to deal with air pollution problems around industrial areas. Air filtration technology Combined Flue Gas Cleaning (FGC) system is a way to overcome air pollution problems by analyzing the needs of air filtration in the Pulogadung Industrial Estate. Based on the application of air filtering technology and an analysis of the need for filtering technology, it can certainly provide a solution in the form of suppressing the amount of air pollution resulting from industrial activities, which will also have implications for improving air quality in the city of Jakarta. In addition, it also aims to inspire other industrial areas by implementing the Combined Flue Gas Cleaning (FGC) air filtration technology system. The green architectural approach in this design is carried out through the use of green materials as an instrument for reducing emissions in industrial areas. This study uses the literature method and secondary data analysis methods by zoning the Pulogadung Industrial Estate, and using the shape grammar design method. The combination of the results of the analysis produces urban acupuncture points in the Pulogadung Industrial Estate, with a radius and capacity that can be reached by the Combined Flue Gas Cleaning (FGC) air filtering technology, so that the connection between air filtration technology and urban acupuncture works in the Pulogadung Industrial Estate. Keywords: Green Architecture; Industrial Estate Pollution; Pollution Filtration; Urban Acupuncture Abstrak Kawasan industri merupakan salah satu sumber polusi udara di Kota Jakarta. Buruknya kualitas udara memberikan dampak yang negatif  bagi kesehatan masyarakat. Teknologi penyaringan udara dapat dijadikan sebagai solusi untuk menangani permasalahan polusi udara di sekitar kawasan industri. Teknologi penyaringan udara Combined Flue Gas Cleaning (FGC) sistem merupakan cara untuk menanggulangi permasalahan polusi udara dengan melakukan analisis kebutuhan penyaringan udara di Kawasan Industri Pulogadung. Berdasarkan penerapan teknologi penyaringan udara tersebut serta adanya analisis kebutuhan teknologi penyaringan tentunya dapat memberikan solusi berupa penekanan jumlah polusi udara hasil aktivitas industri, yang juga akan berimplikasi pada peningkatan kualitas udara di Kota Jakarta. Selain itu, juga bertujuan untuk menginspirasi kawasan industri lainnya dengan menerapkan sistem teknologi penyaringan udara Combined Flue Gas Cleaning (FGC). Pendekatan arsitektur hijau pada perancangan ini dilakukan melalui penggunaan material hijau sebagai instrumen penekan emisi di kawasan industri. Penelitian ini menggunakan metode literatur dan metode analisis data sekunder dengan menzoning Kawasan Industri Pulogadung, serta menggunakan metode perancangan shape grammar. Penggabungan hasil analisis menghasilkan titik-titik urban akupunktur pada Kawasan Industri Pulogadung, dengan radius dan kapasitas yang dapat dijangkau oleh teknologi penyaringan udara Combined Flue Gas Cleaning (FGC) tersebut, sehingga diperoleh keterhubungan antara teknologi penyaringan udara dengan urban akupunktur bekerja dalam Kawasan Industri Pulogadung.
PEMBARUAN KAMPUNG MATI VIETNAM DENGAN PEMBANGUNAN PANTI “JOMPO” DI JAKARTA TIMUR Melita Michele; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22244

Abstract

Urbanization which is the movement of people to big cities continues to occur, in the administrative area of ​​DKI Jakarta. According to the Sectoral Statistics of DKI Jakarta Province (2020), East Jakarta has the largest number of immigrants in DKI Jakarta with the total of 2,215 people. Increasing population can increase population density which can then lead to environmental quality degradation. A lot of land in East Jakarta is targeted to build more residential properties than tourist attractions which can attract outsiders to East Jakarta. Applying 'urban acupuncture' can help develop and improve settlement problems experienced in East Jakarta by finding a place that has the potential to be developed. Vietnam's Dead Village is one of the potential areas that is remote, neglected and no longer useful for the environment and the people around this area. The village could be reused as an 'urban acupuncture' intervention to help revive East Jakarta Kampung Mati Vietnam has a history of being the first pilot home for the elderly in Indonesia. Therefore, the renewal of this nursing home program was implemented to restore the memory and history of this place, as well as to overcome the problems that caused the previous nursing home to fail. Furthermore, an urban agriculture program was implemented with the aim of increasing reforestation and independent food production, as well as a trading area as a public program to unite the area around Vietnam's Dead Village. Keywords:   Vietnam’s Dead Village; Nursing Home Abstrak Urbanisasi yang merupakan perpindahan penduduk ke kota besar terus terjadi, Wilayah administrasi DKI Jakarta. Menurut Statistik Sektoral Provinsi DKI Jakarta (2020), Jakarta Timur memiliki jumlah penduduk pendatang terbanyak di DKI Jakarta sebanyak 2.215 jiwa. Meningkatnya jumlah penduduk dapat meningkatkan populasi densitas yang kemudian dapat mengakibatkan degradasi kualitas lingkungan. Lahan di Jakarta Timur banyak ditargetkan untuk membangun properti hunian lebih banyak lagi dari pada tempat wisata untuk menarik masyarakat luar ke Jakarta Timur. Menerapkan ‘akupuntur perkotaan’ dapat membantu mengembangkan dan memperbaiki masalah-masalah permukiman yang dialami Jakarta Timur dengan mencari suatu tempat yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Kampung Mati Vietnam adalah salah satu wilayah berpotensi yang terpencil, terbengkalai dan tidak lagi bermanfaat untuk lingkungan dan penduduk di sekitar kawasannya. Kampung tersebut dapat digunakan kembali sebagai intervensi ‘akupuntur perkotaan’ untuk membantu menghidupkan kembali Jakarta Timur. Kampung Mati Vietnam ini memiliki sejarah yang dulunya merupakan percontohan panti jompo pertama di Indonesia. Maka dari itu, diterapkan program panti jompo yang diperbarui untuk mengembalikan memori dan sejarah yang ada pada tempat ini, serta mengatasi masalah-masalah yang membuat panti jompo sebelumnya gagal. Selanjutnya diterapkan program pertanian perkotaan dengan tujuan meningkatkan penghijauan dan produksi bahan pangan mandiri, serta area perdagangan sebagai program publik untuk menyatukan kawasan sekitar Kampung Mati Vietnam ini.
FASILITAS DAUR ULANG AIR DAN SAMPAH DI MUARA BARU Vanesa Vanesa; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22245

Abstract

Clean water is an important factor in human life, such as for drinking, cooking and washing, but in many areas it is still difficult to get clean water. The clean water crisis does not only occur in areas far from water sources, but also in areas close to water sources such as Muara Baru. This is because existing water sources such as salty seawater and polluted water sources cannot be consumed. Water pollution is caused by many factors, most of which are human activities, such as throwing household waste into water sources without being treated first. In fact, rivers are also their source of water, and consumption of this polluted water can cause various long-term diseases in the community itself and the ecosystem. Muara Baru also has a waste problem that is not managed properly and is widespread in the environment. This project aims to identify the causes and implications of the difficulty of obtaining clean water using methods that observe actual conditions in an area and collect data to obtain solutions to problems. Problem solving is solved by using an architecture developed using the urban acupuncture method so that it can be solved thoroughly, evenly distributed and affordable by various levels of society. In addition, with the urban acupuncture method, problems can be resolved for the long term to the next generations. Keywords:  Muara Baru Quality of Life; Waste; Water Abstrak Air bersih merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia, seperti untuk minum, memasak dan mencuci, namun di banyak daerah masih sulit untuk mendapatkan air bersih. Krisis air bersih tidak hanya terjadi di daerah yang jauh dari sumber air, tetapi juga di daerah yang dekat dengan sumber air seperti, Muara Baru. Hal ini dikarenakan sumber air yang ada seperti air laut yang asin dan sumber air yang tercemar tidak dapat dikonsumsi. Pencemaran air disebabkan oleh banyak faktor yang sebagian besar merupakan aktivitas manusia seperti membuang limbah rumah tangga ke sumber air tanpa diolah terlebih dahulu. Padahal, sungai juga merupakan sumber air mereka, dan konsumsi air yang tercemar ini dapat menyebabkan berbagai penyakit jangka panjang pada masyarakat itu sendiri dan ekosistem. Muara Baru juga memiliki masalah sampah yang tidak dikelola dengan baik dan tersebar luas di lingkungan. Proyek ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab dan implikasi dari sulitnya memperoleh air bersih dengan menggunakan metode yang mengobservasi keadaan sebenarnya pada suatu kawasan dan pengumpulan data untuk mendapatkan pemecahan permasalahan. Pemecahan permasalahan diselesaikan dengan arsitektur yang dikembangkan dengan metode urban acupuncture sehingga dapat terselesaikan secara menyeluruh, terdistribusi secara merata dan terjangkau berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, dengan metode urban acupuncture, permasalahan dapat teratasi untuk jangka panjang sampai kegenerasi-generasi selanjutnya.
NEW JOHAR - WADAH EDUKASI DAN KREATIVITAS DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR DEKONSTRUKTIVISME Willy Willy; F. Tatang H. Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22246

Abstract

Johar Baru is one of the most densely populated residential areas in Southeast Asia. The high level of density faced by Johar Baru raises other problems such as juvenile delinquency, low quality of human resources, economic inequality, unemployment, crowded and slum environments, and health problems. Johar Baru has another name known as the “Kampung Tawuran” or “Brawl Village” becauseof the fighting problem is difficult to eradicate. The condition of low education and weak skills makes the young group of people in the Johar Baru area vulnerable and stigmatized. It also cannot be separated from the socio-economic context of the people who have slum and dense living conditions. The anticipatory steps that have been taken have not been able to reduce the existing brawl. So that preventive measures are needed that not only focus on the brawl itself, but also on restoring the degradation of people who are easily provoked. Urban Acupuncture is used as an approach in this design with the help of mapping and daily methods to restore the degradation caused by the proneness of brawls in Johar Baru. With a deconstructivism architecture approach, this project aims to be an architectural solution that can act as a forum for brawl mitigation efforts in Johar Baru through spatial design and preventive programs; replace the negative daily life of society with positive and productive activities. Keywords: acupuncture; brawl; preventive Abstrak Kecamatan Johar Baru termasuk sebagai salah satu wilayah pemukiman terpadat se-Asia Tenggara. Tingginya tingkat kepadatan yang dihadapi Kecamatan Johar Baru menimbulkan permasalahan lain yakni seperti kenakalan remaja, kualitas SDM yang rendah, kesenjangan ekonomi, pengangguran, lingkungan padat dan kumuh, serta permasalahan kesehatan. Johar Baru memiliki sebutan lain yang dikenal sebagai kampung tawuran karena masalah tawuran yang sulit untuk diberantas. Kondisi rendahnya pendidikan dan lemahnya keterampilan membuat kelompok warga usia muda di kawasan Johar Baru menjadi rentan dan terstigma. Hal tersebut juga tidak bisa lepas dari konteks sosial ekonomi masyarakat yang memiliki kondisi kehidupan yang kumuh dan padat. Langkah antisipatif yang sudah diupayakan tidak dapat mengurangi tawuran yang ada. Sehingga dibutuhkan tindakan preventif yang bukan hanya memusatkan perhatian pada tawuran itu sendiri, namun juga pada pemulihan degradasi masyarakat yang mudah terprovokasi. Akupunktur Perkotaan digunakan sebagai pendekatan dalam perancangan ini dengan bantuan pemetaan dan metode keseharian untuk memulihkan degradasi yang timbul akibat rawannya tawuran di Johar Baru. Dengan pendekatan arsitektur dekonstruktivisme, proyek ini bertujuan untuk menjadi solusi arsitektur yang bisa berperan sebagai wadah kegiatan upaya mitigasi tawuran di Johar Baru melalui perancangan spasial dan program preventif; menggantikan keseharian negatif masyarakat dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan produktif.
REAKTIVASI AREA PALMA-PURWOKERTO MELALUI URBAN AKUPUNKTUR Shanti Debby Suwandi; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22248

Abstract

The Palma Area is located in the center of Purwokerto City, Central Java. This area has various images attached to the local community since it was first operated. Before the independence of the Republic of Indonesia, this area was a resident of Kranji Village, then it was converted into the Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) railway line to facilitate the delivery of sugar by the Dutch East Indies government. After that, this area was developed and changed its name to East Purwokerto Station. During the independence of the Republic of Indonesia, this area caught fire and caused a decrease in the number of visitors, so it was turned into a warehouse for PT Pupuk Sriwijaya. In the end, the function of this area was completely transformed into a shop or commercial area while maintaining the authenticity of the station building. The name Palma is taken from one of the famous and victorious photo printing shops of its time. Due to the failure of the project to be built, these places keep the station area that has been evicted and shops whose buildings are still there. At this time, the city of Purwokerto is experiencing infrastructure development and increasing population growth. This is also supported by the surrounding areas which consider the City of Purwokerto as a center of trade and education. As an area visited by the people of Purwokerto City and its surroundings, the Palma Area is experiencing a decline in existence and degradation of activity and physical activity. Therefore, action is needed to improve the quality and quantity so that the Palma Area can come back to life. Through the Urban Acupuncture method, the Palma Area is planned to be a public activity point that has a commercial area and public space for the people of Purwokerto. Thus, the Palma Area can again become an attraction for Purwokerto. Keywords: Acupuncture; Crowded; Palma; Purwokerto Abstrak Area Palma terletak di pusat Kota Purwokerto, Jawa Tengah. Area ini memiliki berbagai citra yang melekat pada masyarakat setempat sejak pertama kali dioperasikan. Sebelum kemerdekaan RI, area ini merupakan sebuah permukiman penduduk bernama Desa Kranji, kemudian dialihfungsikan menjadi jalur kereta api Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) untuk mempermudah pengiriman gula oleh pemerintahan Hindia-Belanda. Setelah itu, area ini dikembangkan dan berganti nama menjadi Stasiun Purwokerto Timur. Saat kemerdekaan RI, area ini dibakar dan sempat mengalami penurunan jumlah pengunjung, sehingga fungsinya dialihkan menjadi Gudang PT Pupuk Sriwijaya. Hingga pada akhirnya, fungsi area ini berubah total menjadi pertokoan atau area komersial dengan tetap menjaga keaslian gedung stasiun. Nama Palma diambil dari salah satu toko cetak foto yang terkenal dan jaya pada masanya. Karena kegagalan proyek yang akan dibangun, tempat ini berujung menyisakan area stasiun yang telah digusur dan pertokoan yang bangunannya masih ada. Di masa ini, Kota Purwokerto mengalami perkembangan infrastruktur dan pertambahan penduduk yang terus meningkat. Hal ini juga didukung oleh daerah-daerah di sekitarnya yang menjadikan Kota Purwokerto sebagai pusat perdagangan dan pendidikan sehingga, menimbulkan banyak titik aktivitas dan keramaian di Kota Purwokerto. Namun, tidak demikian dengan Area Palma cenderung mengalami kemunduran eksistensi dan degradasi aktivitas dan fisik. Oleh karena itu, diperlukan tindakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas agar Area Palma dapat hidup kembali. Melalui metode Urban Akupunktur, Area Palma direncanakan menjadi sebuah titik aktivitas publik yang memiliki area komersial dan ruang publik bagi masyarakat Purwokerto. Dengan demikian, Area Palma dapat kembali menjadi daya tarik Kota Purwokerto.
REVITALISASI KAWASAN PECINAN SURYAKENCANA BOGOR SEBAGAI SEBUAH STRATEGI DALAM MENINGKATKAN CITRA KAWASAN Ryan Salim; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22250

Abstract

Suryakencana Street in the Suryakencana Chinatown Area, Bogor City is famous for its culinary delights. Although currently the culinary diversity in Suryakencana continues to grow, the presence of other culinary spots in Bogor has made Suryakencana's culinary name start to fade. To be able to restore and strengthen the image of the Suryakencana Area as a tourist visit route, new attractors are needed. The existence of the new attractor can improve the image of the Chinatown area, elevate Chinatown culture and make the Suryakencana area a culinary tourism area and Chinatown culture. The urban acupuncture method is used in selecting points that need to be "healed" as well as selecting new functions as attractors with the aim of improving the image of the faded Chinatown area. The selection of cultural functions as attractors is realized in a cultural center that is not only a place for cultural performances, but also can accommodate the needs of the local community for the need for shared space, expression space, and commercial space. Suryakencana Cultural Center can be a new magnet for this area. This cultural center will also be a link between the northern area of ​​the area where there are temples and markets, with the southern area which is the culinary area. The presence of this cultural center makes the culture in the Suryakencana Chinatown area to survive in line with the development of the city of Bogor. Keywords: Acupuncture; Attractor; Chinatown; Culture; Suryakencana Abstrak Jalan Suryakencana di Kawasan Pecinan Suryakencana, Kota Bogor terkenal akan kulinernya. Walaupun saat ini keragaman kuliner di Suryakencana terus bertambah namun kehadiran titik kuliner lain di Bogor menjadikan nama besar kuliner Suryakencana mulai pudar. Untuk dapat mengembalikan dan memperkuat citra Kawasan Suryakencana sebagai jalur kunjungan wisata, diperlukan attractor baru. Keberadaan attractor baru tersebut dapat meningkatkan citra kawasan pecinan, mengangkat budaya pecinan dan menjadikan kawasan Suryakencana sebagai kawasan wisata kuliner dan budaya pecinan. Metode  urban acupuncture digunakan dalam memilih titik yang perlu di “sembuhkan” serta pemilihan fungsi baru sebagai attractor dengan tujuan meningkatkan citra kawasan pecinan yang sudah pudar. Pemilihan fungsi budaya sebagai attractor diwujudkan dalam sebuah cultural centre yang tidak hanya menjadi tempat pertunjukan budaya, tetapi juga bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat setempat akan kebutuhan ruang bersama, ruang ekspresi, serta ruang komersil. Suryakencana Cultural Center dapat menjadi magnet baru bagi kawasan ini. Cultural centre ini juga akan menjadi penghubung antara area utara kawasan yang mana terdapat vihara dan pasar, dengan area selatan yang merupakan area kuliner. Kehadiran Cultural Centre ini membuat budaya pada Kawasan Pecinan Suryakencana dapat bertahan sejalan dengan berkembangnya Kota Bogor.
PENATAAN ALUN-ALUN, PASAR DAN HUNIAN SEBAGAI TITIK TEMU KOMUNITAS MASYARAKAT EMPANG KOTA BOGOR Grace Edria; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22254

Abstract

The Empang neighborhood, also known as the Arab Village, is a part of Bogor that is notorious for being a slum and a filthy place to live and conduct business. When describing the region's early development, it should be noted how involved it was in government affairs. Physical degradation such as abandoned towns, disorganized traditional markets, and inoperable squares are some ways that its development has slowed down over time rather than improved. In the city of Bogor, contemporary marketplaces are currently expanding quickly while old markets are falling behind. Concern must be expressed over the decline of enthusiasts, particularly among the current generation of traditional markets. The old market in the Empang neighborhood is seen as being unattractive because it is excessively filthy, stinky, and dirty and because it does not meet modern needs. The Great Mosque of Empang, An Noer Mosque, and Habib Abdullah's Tomb are all nearby historical landmarks, therefore this project has a great deal of potential to engage with the neighborhood as a welcoming location that offers open space for the locals. A plan to reorganize the residential area, commerce, and services of the Empang Area is developed using the Urban Acupuncture approach. With this design, it is intended that the location will once again serve as a hub for the interaction and gathering of the Empang community. The Empang area can become a dynamic, well-organized place and a new face for the Empang area, which has long since lost its identity, through the Urban Acupuncture strategy. Keywords:  The Square; Bogor; Dwelling; Empang Area; Market Abstrak Kawasan Empang atau yang biasa disebut dengan kampung Arab merupakan kawasan yang di kenal sebagai kawasan pemukiman serta perdagangan dan jasa yang kumuh dan kotor di Kota Bogor. Dalam paparan sejarah pertumbuhannya, semula kawasan Empang sangat aktif kegiatan pemerintahannya. Seiring berjalannya waktu, perkembangannya tidak menunjukkan ke arah yang lebih baik, namun mengalami penurunan dari berbagai aspek, salah satunya yaitu mengalami degradasi fisik, seperti permukiman yang terbengkalai, pasar tradisional yang berantakan dan alun-alun yang tidak berfungsi. Di masa ini, keberadaan pasar modern di Kota Bogor berkembang pesat sedangkan pasar tradisional  semakin tertinggal. Menurunnya peminat peminat khususnya generasi  sekarang akan pasar tradisional harus menjadi perhatian. Pasar tradisional Kawasan Empang yang dinilai sudah terlalu kotor, bau, jorok, tidak mengikuti kebutuhan zaman sehingga menjadi tidak lagi menarik. Berlokasi dekat peninggalan bersejarah, Masjid Agung Empang, Masjid An Noer, dan makam Habib Abdullah menjadikan proyek ini sangat potensial untuk dapat berkolerasi dengan lingkungan sekitar sebagai tempat nyaman yang menyediakan area terbuka bagi masyarakat sekitar. Melalui pendekatan urban akupunktur disusun rencana penataan kembali lingkungan hunian, perdagangan dan jasa kawasan Empang. Dengan penataan ini diharapkan kawasan dapat kembali menjadi sebuah titik temu bagi masyarakat Empang untuk berinteraksi dan berkumpul. Melalui pendekatan urban akupunktur kawasan Empang dapat menjadi area yang hidup dan lebih tertata serta mampu menjadi wajah baru untuk Kawasan Empang yang sejak lama kehilangan identitasnya.
STRATEGI AKUPUNKTUR KOTA DALAM UPAYA REVITALISASI STRIP URBAN DI KAWASAN STASIUN TANGERANG Subhasita Devi Dhammayanti; Priscilla Epifania Ariaji
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22261

Abstract

Tangerang Station Area, which is located in the heart of the Old City of Tangerang, is a transportation center area that is bustling with human activities every day and various types of vehicles. However, the surrounding environment, which consists of a row of old shops, has now experienced physical and functional degradation. The area is currently at a saturation point, with the same activities repeating itself for years without any changes and a slow economy being a factor in the decline in quality of life. Urban acupuncture is an intervention that is small in nature and spreads to several points around the area, to create new activities and attractions for the local area. Using an everyday architectural approach to identify elements of physical, social, and daily activities so that they can be used in the urban revitalization process. Revitalization in historical areas is carried out through changes in form and adaptive reuse of parts of the area that have been degraded. In the design, the typology concept used is in the form of modern industrial and color games, so that there is a contrasting communication between the old and new building typologies which will later act as a new attraction for the area so as to increase the value and diversity that affects the quality of life. All aspects then formed the development of an urban strip with the shape of a line in the Tangerang Station Area. Keywords: revitalization of historical areas; Tangerang Train Station Area; urban acupuncture;  urban strip Abstrak Kawasan Stasiun Kota Tangerang yang terletak di jantung Kota Lama Tangerang, merupakan daerah pusat transportasi yang setiap harinya ramai oleh lalu lalang aktivitas manusia dan berbagai jenis kendaraan. Namun, lingkungan sekitarnya yang terdiri dari deretan pertokoan lama, sekarang ini telah mengalami degradasi fisik dan fungsi. Kawasan tersebut tengah berada pada titik jenuh, dengan kegiatan yang sama selama bertahun-tahun berulang didalamnya tanpa adanya perubahan serta perekonomian yang lambat menjadi faktor penyebab penurunan kualitas kehidupan kawasan. Akupunktur kota berupa intervensi yang sifatnya kecil dan menyebar dilakukan terhadap beberapa titik bangunan di sekitar kawasan, untuk menciptakan kegiatan dan daya tarik baru bagi kawasan yang sifatnya lokal. Menggunakan pendekatan arsitektur keseharian untuk mengidentifikasi elemen fisik, sosial, dan kegiatan sehari-hari sehingga dapat digunakan dalam proses membentuk revitalisasi perkotaan. Revitalisasi pada kawasan bersejarah, dilakukan melalui bentuk renovasi dan adaptive re- use terhadap bagian dari kawasab yang telah terdegradasi. Pada perancangannya, konsep tipologi yang digunakan berupa industrial modern dan permainan warna, sehingga terjadi komunikasi kontras antara tipologi bangunan lama dan baru yang nantinya berperan sebagai daya tarik baru bagi kawasan sehingga meningkatkan nilai dan keberagaman yang mempengaruhi kualitas kehidupan. Semua hal ini terjadi dan membentuk perkembangan strip urban dengan bentuk satu garis di Kawasan Stasiun Kota Tangerang.
PENATAAN KEMBALI AREA PASAR MUARA KARANG DENGAN PENDEKATAN WALKABLE CITY Meliza Darmalim; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22265

Abstract

Muara Karang is a residential area in Penjaringan, North Jakarta that it’s infrastructure remain unchanged for the past 20 years. However, motorized vehicles is getting higher due to Muara Karang’s strategic location between Pluit and Pantai Indah Kapuk (PIK) and continues to Jakarta Outer Ring Road. This imbalance caused degradation, which is traffic congestion on Muara Karang Raya Street. To improve this degradation, urban acupuncture is needed in critical point which is Muara Karang Market Area that located in the middle of Muara Karang Raya Street. The proposed intervention strategy is to redesign Muara Karang Market Area to recover the congested circulation. Using Walkable City approach which prioritizes pedestrians to reduce the use of private motorized vehicles in Muara Karang. Redesign Muara Karang Market Area has 3 main programs which are market, culinary centers, and shop-house that already exist and add open green space that doesn’t exist in Muara Karang. So the new Muara Karang Market Area can be oasis for the people and provide another spatial experience in urban life. Muara Karang Market Area is a place for economic, social and cultural activities and recreation place for the local communities. ‘HAVEN Muara Karang’ is expected to improve traffic congestion on Muara Karang Raya Street and become a new attractor for peoples that can improve Muara Karang. Keywords:  Circulation; Congestion; Market; Muara Karang; Walkable City Abstrak Muara Karang merupakan salah satu kawasan residensial di kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara yang infrastukturnya cenderung tidak berubah selama 20 tahun terakhir ini. Namun mobilitas kendaraan semakin tinggi akibat letaknya yang strategis diantara Pluit dan Pantai Indah Kapuk (PIK) serta menerus hingga Jalan Lingkar Luar Kota Jakarta. Ketidakseimbangan ini menjadi sumber degradasi yaitu kemacetan di Jl. Muara Karang Raya. Untuk memperbaiki sirkulasi yang terhambat tersebut, urban akupuntur diperlukan pada titik kritis yaitu Pasar Muara Karang yang letaknya di tengah Jl. Muara Karang Raya. Strategi intervensi yang diusulkan adalah dengan melakukan penataan kembali Area Pasar Muara Karang sehingga degradasi sirkulasi yang tercipta dapat dipulihkan. Pendekatan yang digunakan adalah Walkable City, yaitu mengutamakan para pejalan kaki guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di Kawasan Muara Karang. Penataan kembali Area Pasar Muara Karang meliputi 3 program utama yaitu pasar, pusat kuliner dan ruko eksisting serta penambahan ruang terbuka hijau yang tidak ada di Muara Karang sehingga dapat menjadi oasis dan memberikan pengalaman ruang lain di kehidupan perkotaan. Area Pasar Muara Karang menjadi tempat beraktivitas secara ekonomi, sosial, dan budaya serta menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat setempat dan sekitarnya. Diharapkan dengan adanya proyek ‘HAVEN Muara Karang’ dapat memperbaiki kemacetan di Jl. Muara Karang Raya serta menjadi atraktor baru bagi masyarakat kota yang dapat meningkatkan Muara Karang.
WISATA PERKOTAAN SEBAGAI KONSEP PENGEMBANGAN PUSAT AKTIVITAS TRANSIT RAWA BOKOR Juan Angelo; Nafiah Solikhah
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22271

Abstract

The Rawa Bokor area which is located in Benda District, Tangerang City is directly adjacent to Soekarno-Hatta International Airport and the City of Jakarta, so it has great potential to not only improve the image of Tangerang City in the national eye, but also internationally and has the potential to improve the economic conditions of the surrounding population. . From this potential, it can be seen that in the future, the Rawa Bokor Area can become a place to capture transit activities that can support Soekarno-Hatta International Airport. Although it has potential as a transit supporter, the existing condition of the area currently only has accommodation and is not sufficient to accommodate transit activities that are more than just resting, such as a quick exploration container while waiting for flight hours. To respond to these problems, the approach used is the Urban Acupuncture method, with a focus on Urban Tourism. The program concept that is suitable for the characteristics of transit activities in the Rawa Bokor area is Sightseeing Tourism, and uses Biophilic Architecture and Sustainable Building as design references. This is because the Bokor Swamp Area has several other shortcomings, such as insufficient vegetated land, and most buildings in this area are not feasible (not sustainable). The main program produced is the Contemporary Art Gallery and supporting programs such as Local Retail Area, Indoor – Outdoor Spa, and Workspace, which are expected to provide visitors from abroad and within the country a place for exploration, relaxation, rest, and other transit activities. , so as to improve the image of the City of Tangerang, as well as the economic conditions of this area and its surroundings. Keywords:  Activity; Airport; Gallery; Potency; Tourism Abstrak Daerah Rawa Bokor yang terletak di Kecamatan Benda, Kota Tangerang berbatasan langsung dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Kota Jakarta, sehingga berpotensi besar untuk tidak hanya meningkatkan citra Kota Tangerang di mata nasional, tetapi juga di mata internasional serta berpotensi untuk meningkatkan kondisi ekonomi penduduk sekitar. Dari potensi tersebut dapat dilihat bahwa pada masa yang akan datang, Daerah Rawa Bokor dapat menjadi sebuah wadah untuk menangkap aktivitas transit yang dapat mendukung Bandara Internasional Soekarno-Hatta.  Meskipun memiliki potensi sebagai pendukung transit, kondisi eksisting daerah saat ini hanya memiliki tempat penginapan dan tidak cukup untuk menampung aktivitas transit yang lebih dari sekedar beristirahat, seperti wadah eksplorasi secara cepat ketika menunggu jam terbang. Untuk menanggapi permasalahan tersebut, pendekatan yang digunakan adalah metode Urban Aqupuncture, dengan fokus Urban Tourism. Konsep program yang cocok pada karakteristik aktivitas transit Daerah Rawa Bokor adalah Sightseeing Tourism, dan menggunakan Biophilic Architecture dan Sustainable Building sebagai acuan desain. Hal ini dikarenakan Daerah Rawa Bokor memiliki beberapa kekurangan lainnya seperti lahan vegetasi yang kurang, dan kebanyakan bangunan pada daerah ini sudah tidak layak (tidak sustain). Program utama yang dihasilkan adalah Contemporary Art Gallery dan program pendukung seperti Local Retail Area, Indoor – Outdoor Spa, dan Workspace, yang diharapkan dapat memberikan pengunjung baik dari luar maupun dalam negeri sebuah wadah untuk aktivitas eksplorasi, bersantai, istirahat, dan kebutuhan kegiatan transit lainnya, sehingga dapat meningkatkan citra Kota Tangerang, juga kondisi perekonomian daerah ini dan sekitarnya.

Page 89 of 134 | Total Record : 1332