cover
Contact Name
Ahmad Saleh Harahap
Contact Email
ahmadsaleh@unib.ac.id
Phone
+6285216150612
Journal Mail Official
buletin_pt@unib.ac.id
Editorial Address
Gedung Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu Jl WR Supratman Kandang Limun, Kota Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Buletin Peternakan Tropis (Bulletin of Tropical Animal Science)
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 27221733     EISSN : 27220788     DOI : -
Buletin Peternakan Tropis (Bul. Pet. Trop.) (Bulletin of Tropical Animal Science) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Badan Penerbitan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu berkolaborasi dengan Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Buletin Peternakan Tropis merupakan jurnal yang menerbitkan artikel ilmiah berdasarkan peer-review double blind yang bertujuan untuk menyebarluaskan semua informasi yang berkontribusi pada pemahaman dan pengembangan peternakan di daerah tropis dengan menerbitkan makalah penelitian asli, artikel telaah pustaka. kasus lapangan dan gagasan asli. Jurnal ini mencakup semua aspek yang berkaitan dengan Peternakan dan Veteriner di daerah tropis. Buletin Peternakan Tropis terbit dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Mei dan Nopember. Focus and Scope: Produksi Ternak, Nutrisi dan Teknologi Pakan Ternak, Sosial Ekonomi Peternakan, Teknologi Hasil Peternakan, Genetika dan Pemuliaan Ternak, Reproduksi Ternak, Teknologi Hasil Ikutan Ternak, Hijauan Pakan Ternak, Aneka Hewan Potensial, Kesehatan Ternak
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2023)" : 14 Documents clear
Sifat Fisik dan Organoleptik Bakso Daging Puyuh dengan Penggunaan Jenis Tepung yang Berbeda. Rahayu, Risma Dewi Nur; Suharyanto; Warnoto; Bilyaro, Woki
Buletin Peternakan Tropis Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/bpt.4.2.176-187

Abstract

This study aims to identify the physical and organoleptic characteristics of quail meatballs using various types of flour. The research was conducted in June 2021 with 4 treatments with 3 replications, i.e., meatballs using 20% tapioca flour (PO), 14% tapioca flour + 6% sago flour (P1), 14% tapioca flour + 6% corn flour (P2), 14% tapioca flour + 6% taro flour (P3). The observed variables were pH, moisture content, water binding capacity, emulsion stability, and organoleptic characteristics consisting of color, aroma, taste, texture, chewiness and generally appearance. Physical characteristics data were analyzed by variance (anova) and further test with Duncan's Multiple Range Test (DMRT), organoleptic data were analyzed descriptively. The results showed that the use of various types of flour in quail meatballs had a significant (P<0.05) effect on the pH, moisture content and emulsion stability value, but no significant (P>0.05) effect on the water binding capacity value. Hedonic quality organoleptic characteristics show the use of various types of flour in quail meatballs has an effect on aroma and chewiness, with no effect on color, taste, texture. The hedonic test shows that the use of different types of flour in quail meatballs has an effect on color and general appearance, but not on aroma, taste, texture, chewiness. The conclusion was the use of various types of flour in quail meatballs had an effect on pH value, moisture content, and emulsion stability, with no effect on water binding capacity. The use of 14% tapioca flour and 6% corn flour produced quail meatballs with the highest emulsion stability value and was highly favored by panelists.   Keywords: meatballs, physicochemical, organoleptic, quail, flour.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas fisik dan organoleptik bakso daging puyuh yang menggunakan jenis tepung yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2021. Penelitian menggunakan 4 perlakuan dengan 3 ulangan, yaitu bakso menggunakan tepung tapioka 20% (PO), tepung tapioka 14% + tepung sagu 6% (P1), tepung tapioka 14% + tepung jagung 6% (P2), tepung tapioka 14% + tepung talas 6% (P3). Variabel yang diamati yaitu pH, kadar air, daya mengikat air, stabilitas emulsi, dan sifat organoleptik berupa warna, aroma, rasa, tekstur, kekenyalan dan penampilan umum. Data sifat fisik dianalisis ragam (anova) dan uji lanjut dengan Duncan's Multiple Range Test (DMRT), data organoleptik dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan jenis tepung yang berbeda pada bakso daging puyuh berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai pH, kadar air dan nilai stabilitas emulsi, tetapi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai daya mengikat air. Sifat organoleptik mutu hedonik menunjukkan penggunaan jenis tepung yang berbeda pada bakso daging puyuh berpengaruh terhadap aroma dan kekenyalan, tetapi tidak pada warna, rasa, tekstur. Uji hedonik menunjukkan penggunaan jenis tepung yang berbeda pada bakso daging puyuh berpengaruh terhadap warna dan penampilan umum, tetapi tidak pada aroma, rasa, tekstur, kekenyalan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan jenis tepung yang berbeda pada bakso daging puyuh berpengaruh terhadap nilai pH, kadar air, dan stabilitas emulsi, tetapi tidak pada daya mengikat air. Penggunaan tepung tapioka 14% dan tepung jagung 6% menghasilkan bakso daging puyuh dengan nilai stabilitas emulsi paling tinggi dan sangat disukai panelis.   Kata kunci: bakso, fisikokimia, organoleptik, puyuh, tepung
Pengaruh Substitusi Tepung Tapioka dengan Tepung Uwi Ungu terhadap Aktivitas Antioksidan dan Sifat Fisikokimia Bakso Daging Ayam selama Penyimpanan Suhu Dingin Nurmasytha, Andi; Hajrawati, Hajrawati; Malaka, Ratmawati
Buletin Peternakan Tropis Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/bpt.4.2.188-198

Abstract

Meatball is a processed meat product that has a relatively short shelf life (prone to spoilage). One of the causes of spoilage in meatballs is oxidation, especially during storage. Natural antioxidant compounds found in purple sweet potato flour are capable of inhibiting oxidation and improving the physicochemical properties of meatballs. This research aimed to evaluate the influence of substituting tapioca flour with purple sweet potato flour on the antioxidant activity and physicochemical properties of chicken meatballs during refrigerated storage (4°C). The substitution treatments of purple sweet potato flour were 0%, 25%, 50%, and BHT 0.01%, with storage durations of 0, 6, 12, and 18 days. The parameters tested included antioxidant activity (DPPH), pH value, color (L*, a*, and b*), and TBARS value. The results showed that substituting tapioca flour with purple sweet potato flour significantly affected the DPPH value, L*, a*, b*, and TBARS, but did not significantly impact the pH value of the meatballs. Based on the research findings, it can be concluded that substituting tapioca flour with purple sweet potato flour can enhance the antioxidant activity, physicochemical properties, and shelf life of chicken meatballs for up to 18 days at 4°C. Purple sweet potato flour also shows potential to replace the use of synthetic antioxidants (BHT 0.01%) in meatball production.   Keywords: antioxidant activity, physicochemical properties, meatballs, purple yam flour.   ABSTRAK Bakso merupakan produk olahan daging yang memilki masa simpan yang relatif singkat (mudah rusak). Kerusakan pada bakso salah satunya akibat oksidasi terutama selama masa penyimpanan. Senyawa antioksidan alami yang dimiliki tepung uwi ungu mampu menghambat oksidasi dan memperbaiki sifat fisikokimia pada bakso. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh substitusi tepung tapioka dengan tepung uwi ungu terhadap aktivitas antioksidan dan sifat fisikokimia bakso daging ayam selama penyimpanan suhu dingin (4°C). Perlakuan substitusi tepung uwi ungu yaitu 0%, 25%, 50% dan BHT 0,01% dengan lama penyimpanan 0, 6, 12, dan 18 hari. Parameter yang diuji yaitu aktivitas antioksidan (DPPH), nilai pH, warna (L*, a* dan b*) dan nilai TBARS. Hasil penelitian menunjukkan substitusi tepung tapioka dengan tepung uwi ungu secara signifikan berpengaruh pada nilai DPPH, L*, a*, b* dan TBARS, tetapi tidak memberikan pengaruh signifikan pada nilai pH bakso. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan substitusi tepung tapioka dengan tepung uwi ungu mampu meningkatkan aktivitas antioksidan, sifat fisikokimia dan masa simpan bakso daging ayam hingga 18 hari pada suhu 4°C. Tepung uwi ungu juga berpotensi menggantikan penggunaan antioksidan sintetis (BHT 0,01%) pada pembuatan bakso.   Kata kunci: aktivitas antioksidan, sifat fisikokimia, bakso daging ayam, tepung uwi ungu
Red Jungle Fowl Offspring Maintenance System And Production In The Community In Bengkulu Sutriyono, Sutriyono; Santoso, Urip; Putranto, Heri Dwi; Suherman, Dadang
Buletin Peternakan Tropis Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/bpt.4.2.166-175

Abstract

The red junglefowl is a wild fowl and has been tamed and produces offspring, and is kept by the people of Bengkulu. The aim of the research is to identify and evaluate  rearing management and production  of red jungle fowl offspring in communities in Bengkulu. Research respondents were determined using the snowball sampling method, and fifty respondents were obtained. Data was obtained through observation, discussion and interviews, and filling in prepared forms; namely food management, housing, disease prevention, utilization and production. The results showed that the RJF offspring kept by the community were used for crossbreeding with local chickens (47%), production of chicks (28%), as hunting chickens (62%), and ornamental chickens (82%). Chickens are kept in 4 ways: (1) housed during the day and night, (2) chickens are kept free during the day and housed at night, (3) chickens are kept free at any time, and (4) chicken is placed on a perch. Feed given is commercial feed (BR1), corn, rice, brown rice, bran, crickets and ant eggs. Average egg production is 34 eggs/ hen/year, and chick production is estimated at 27 chicks/hen/year, and population growth is 2.68%/year. In conclusion, the community raising chicken is traditional, the quantity and quality of feed is not sufficient, the cages are very simple, disease prevention and safety protection are inadequate. As a local chicken, the average egg production is high, hatchability and chick production are high, but population development is slow. Poor chick rearing management and the aim of raising RJF offspring cause population development to be slow.   Keywords: Community, management and production, rearing, RJF Offspring   ABSTRAK Ayam hutan merah  merupakan unggas liar yang telah dijinakkan dan menghasilkan keturunan, serta dipelihara oleh masyarakat Bengkulu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi manajemen pemeliharaan dan produksi peranakan ayam hutan merah yang dipelihara oleh masyarakat Bengkulu. Responden penelitian ditentukan dengan metode snowball sampling, dan diperoleh lima puluh responden. Data diperoleh melalui observasi, diskusi dan wawancara, serta pengisian formulir yang telah disiapkan; meliputi pengelolaan pakan, kandang, pencegahan penyakit, pemanfaatan dan produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keturunan RJF yang dipelihara masyarakat digunakan untuk kawin silang dengan ayam lokal (47%), produksi anakan (28%), sebagai ayam berburu (62%), dan ayam hias (82%). Ayam dipelihara dengan 4 cara: (1) dikandangkan pada siang dan malam hari, (2) ayam dibebaskan  pada siang hari dan dikandangkan malam hari, (3) ayam dibebaskan pada siang dan malamnya, dan (4) ayam ditempatkan pada tenggeran. Pakan yang diberikan adalah pakan komersial (BR1), jagung, beras, beras merah, dedak, jangkrik dan telur semut. Produksi telur rata-rata 34 butir/ekor/tahun, produksi anak ayam diperkirakan 27 ekor/ekor/tahun, dan pertumbuhan populasi 2,68%/tahun. Kesimpulannya, peternakan ayam masyarakat masih bersifat tradisional, kuantitas dan kualitas pakan belum mencukupi, kandang sangat sederhana, pencegahan penyakit dan perlindungan keamanan belum memadai. Sebagai ayam lokal rata-rata produksi telurnya tinggi, daya tetas dan produksi anakannya tinggi, namun perkembangan populasinya lambat. Manajemen pemeliharaan anak ayam yang buruk dan tujuan membesarkan keturunan RJF menyebabkan perkembangan populasi menjadi lambat.   Kata kunci: Komunitas, Manajemen dan Produksi, Pemeliharaan, Keturunan ayam hutan merah
Deskripsi Manajemen Budidaya Burung Cinta (Love Bird) Sebagai Ternak Potensial Putranto, Heri Dwi; Brata, Bieng; Hakim, Nurmeilisari; Sutriyono, Sutriyono; Kurniati, Novitri; Yumiati, Yossie
Buletin Peternakan Tropis Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/bpt.4.2.127-134

Abstract

Love birds are a species of bird which is endemic to the African continent. This study aimed to find out and analyze love bird management methods which are generally carried out by love bird keepers and breeders. The study site was determined purposively in Kepahiang Regency, Bengkulu Province. Field research in the form of interviews using questionnaires were conducted among 15 respondents. Data collection from respondents was carried out using the snowball sampling method. Data were recapitulated  and analyzed descriptively. Data shows that all breeders fed white millet (grains) combined with finely chopped vegetables ad libitum with a frequency of once aday (n = 14) and a frequency of 2 times/day (n = 1). As the main feed, millet is given an average of 72.5 g/bird/day. There were 31 cages used for cultivation based on 3 main functions, namely daily maintenance cages, holding cages and matchmaking cages. Based on the type or shape, there were capsule cages (23 units) and plot-shaped cages (8 units). Cage sanitation recorded in the form of cleaning the cage were carried out once aday by 12 breeders (80%) in the morning (07.00 - 08.00 WIB). A total of 2 breeders (13.33%) during the day (11.00-12.00 WIB) and 1 breeder (6.67%) in the afternoon (17.00-18.00 WIB).  Researchers noted that there was 1 management activity that is similar as the management activity for birds in general, namely the match making activity. Furthermore, no mastering, sun bathing or shower  activities were found. It can be concluded that the main food for lovebirds was grain which is given ad libitum and the birds were kept in cages that are adapted to their function and rearing activities.   Keywords: Management, Love Bird, Potential Animal   ABSTRAK Burung cinta merupakan spesies burung yang berhabitat asli di benua Afrika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menganalisis metode budidaya burung cinta yang secara umum dilakukan oleh peternak dan penangkar burung cinta. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Penelitian lapangan berupa wawancara mempergunakan kuisioner dilakukan pada 15 orang responden. Koleksi data dari responden dilakukan dengan metode snowball sampling. Data direkapitulasi dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Data menunjukkan bahwa seluruh peternak memberikan pakan milet putih (biji-bijian) dikombinasikan dengan sayuran yang dicacah kecil ad libitum dengan frekuensi pemberian sebanyak 1 kali/hari (n = 14) dan frekuensi 2 kali/hari (n = 1). Sebagai pakan utama, milet diberikan rerata sebanyak 72,5 gr/ekor/hari. Terdapat 31 buah kandang yang dipergunakan untuk budidaya berdasarkan atas 3 fungsi utama yaitu kandang pemeliharaan harian, kandang umbaran dan kandang penjodohan. Berdasarkan jenis atau bentuknya terdapat  kandang kapsul (23 buah), dan kandang berbentuk petak (8 buah). Tindakan sanitasi kandang berupa membersihkan kandang dilakukan 1 kali/hari oleh 12 peternak (80%) pada pagi hari (jam 07.00 - 08.00 WIB).  Sebanyak 2 peternak (13,33%) pada siang hari (11.00-12.00 WIB) dan 1 peternak (6,67%) pada sore hari ( 17.00-18.00 WIB). Jenis penyakit yang menyerang burung cinta budidaya antara lain penyakit mata (13,33%) dan gangguan pernapasan (6,67%) yang diatasi mempergunakan herbal berupa daun sirih (80%) dan obat Super N (20 %). Peneliti mencatat terdapat 1 aktifitas budidaya yang sama dengan aktifitas budidaya burung peliharaan secara umum yaitu aktifitas penjodohan (match making). Selanjutnya, tidak ditemukan aktifitas budidaya mastering, sun bathing atau shower. Dapat disimpulkan bahwa pakan utama burung cinta adalah biji-bijian yang diberikan ad libitum dan burung dipelihara dalam kandang yang disesuaikan dengan fungsi dan aktifitas pemeliharaannya.   Kata kunci: Budidaya, Burung Cinta, Manajemen, Ternak Potensial

Page 2 of 2 | Total Record : 14