cover
Contact Name
Muhajir
Contact Email
qathruna@uinbanten.ac.id
Phone
+628121907168
Journal Mail Official
qathruna@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral Sudirman No. 30 Panancangan Cipocok Jaya, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42118
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Qathrun Jurnal Keilmuan dan Pendidikan Islam
ISSN : 2406954X     EISSN : 27765563     DOI : http://dx.doi.org/10.32678/qathruna
Core Subject : Education,
QATHRUNÂ: Jurnal Keilmuan dan Pendidikan Islam invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies in the areas of Islamic Education, which cover the following research focuses: Learning strategy of Islamic education Development of Islamic education curriculum Curriculum implementation of Islamic Education Development of learning media and resources of Islamic education Islamic education learning evaluation Practices of Islamic education learning in school Inclusive education in Islamic education Action research in Islamic education
Articles 126 Documents
SIGNIFIKANSI PERGURUAN TINGGI ISLAM DALAM PENGEMBANGAN SOSIAL BUDAYA Muhajir Muhajir
QATHRUNÂ Vol 1 No 01 (2014): Januari-Juni 2014
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perguruan Tinggi Agma Islam (PTAI) merupakan lembaga akademik yang memiliki kontribusi besar dalam melahirkan intelektualis, khususnya dalam membangkitkan semangat keberagamaan . PTAI cukup banyak melahirkan para alumni yang interes pada bidang-bidang sosial budaya, sehingga banyak muncul pengamat sosial dari alumni PTAI. Kiprah pemikiran para alumni PTAI banyak mewarnai dalam bidang kehidupan sosial keagamaan, organisasi sosial keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, PERSIS, PERTI, Matla’ul Anwar dan lain-lain. Lahirnya pengamat sosial budaya dan keagamaan dari para alumni PTAI, tidak hanya bersifat lokal (Indonesia) melainkan juga bersifat internasional. Para alumni PTAI seperti Mukti Ali, Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, Bahtiar Effendy dan, adalah bukti bahwa kompetensi mereka dibidang kehidupan sosial dan keagamaan sudah diakui eksistensinya oleh masyarakat Indonesia dan bahkan sudah diakui oleh dunia. Ketrampilan para alumni PTAI dalam memberikan solusi terhadap masalah-masalah sosial budaya, juga cukup profesional, karena pendekatan yang mereka gunakan tidak hanya menggunakan teori-teori sosial saja melainkan dipadukan antara teori sosial dan teori keagamaan.
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI MULTIKULTURAL UNTUK MEMPERBAIKI PERILAKU SANTRI Syaiful Anwar
QATHRUNÂ Vol 8 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/qathruna.v8i1.4854

Abstract

This study aims to 1) determine the multicultural values planting model in Daar El Qolam Islamic Boarding School. 2) knowing the implementation of multicultural values found in Daar El Qolam Islamic Boarding School. 3) knowing the impact of planting and implementing multicultural values on the personality of students in the El Qolam Daar Islamic Boarding School. This type of research is descriptive with a qualitative approach. While the sources of research are leaders, Islamic boarding schools, head of care, head of worship, principals, teachers / teachers and students. Data collection techniques are done through interviews and observation and documentation. Data analysis techniques were performed using data collection, data reduction, data presentation and data inference. The findings in this study are the values of multicultural education found in Islamic Boarding Schools da el-Qolam are exemplary methods and methods of habituation. The impact of the cultivation of multicultural education is the growth of mutual tolerance, respect and acceptance of others, mutual cooperation is not hostile and not mutual there are conflicts due to differences in culture, ethnicity, language, customs. Hopefully this research is useful for Daar el-Qolam Islamic boarding school in particular and also beneficial for other educational institutions so that multicultural education can be implemented properly and correctly.
IMPLEMENTASI METODE SOROGAN PADA PEMBELAJARAN TAHSIN DAN TAHFIDZ PONDOK PESANTREN Sugiati Sugiati
QATHRUNÂ Vol 3 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

sorogan dalam pembelajaran tahsīn dan tahfīdz Al Qur’ān, 2) Faktor pendukung dan penghambat penerapan metode sorogan, serta 3) hasil dalam pembelajaran tahsīn dan tahfīdz Al Qur’ān menggunakan metode sorogan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Dalam pengumpulan data digunakan metode wawancara (interview), dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan pertama, implementasi metode sorogan dalam pembelajaran tahsin al-Qur’an meliputi: Persiapan menyiapkan meliputi: jilid atau Al Qur’ān , buku prestasi santri, buku rekap guru,waktu. Pelaksanaan meliputi: Salam dari guru, berdoa bersama, membaca secara; membaca secara individu, komentar guru. Tindak lanjut tahsīn; memberi tugas untuk membaca halaman selanjutnya atau mengulang kembali sampai benar dan lancar; menerima setoran bacaan, mencatat di dalam buku prestasi santri, membagikan kembali buku prestasi santri.Kedua, implementasi metode sorogan dalam pembelajaran tahfidaz al-Qur’an meliputi santri memilih materi-materi yang akan diperdengarkan ke hadapan guru, menghafal dengan lancar materi yang dtentukan, memberikan setoran hafalan, mengulang kembali setoran hafalan, melakukan nyema antar santri, melakukan deresan secara sendiri atau bersama. Ketiga, faktor pendukung implementasi metode sorogan dalam pembelajaran tahsin dan taqhfid al-Qur’an pada santri meliputi: Mampu mengosongkan benaknya dari pikiran‑pikiran yang menggangu, memilik niat yang ikhlas; memiliki keteguhan dan kesabaran; istiqamah; menjauhkan diri dari maksiat dan sifat-sifat tercela, mendapat izin orang tua wali, telah ampu membaca dengan baik; sanggup mengulang-ulang materi yang sudah dihafal; dilakukan di tempat yang baik. Faktor penghambat implementasi metode sorogan dalam pembelajaran tahsin dan taqhfid al-Qur’an pada santri meliputi: Santri yang kurang siap; Tidak fokus dlam menyetorkan hafalan; Adanya kesalahfahaman antara santri; Perbedaan kemampuan antara santri yang satu dengan santri yang lainnya. Keempat, Hasil pembelajaran tahsin dan tahfidz al-Qur’an menggunakan metode sorogan terlihat pada: keaktifan para santri, interaksi santri dengan guru, memberikan setoran hafalan baru, ‘deresan’ atau mengulang hafalan, tahfidz santri sesuai dengan kaidah-kaidah.
KONTROVERSI MENGENALKAN PENDIDIKAN SEKS KEPADA ANAK DI LEMBAGA PENDIDIKAN Fahmi Fahmi; Hunainah Hunainah
QATHRUNÂ Vol 4 No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya kasus pelecehan seksual anak yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia menimbulkan pikiran dan perasaan para orang tua murid dan guru serta masyarakat menjadi khawatir sehingga sebagian menginginkan perlunya mengenalkan pendidikan seks kepada anak di lembaga pendidikan dan sebagian menolak mengenalkan pendidikan seks kepada anak di lembaga pendidikan karena itu semua pada dasarnya mereka memiliki perhatian terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak mereka serta rasa khawtir yang sangat besar. Selain itu, mengenalkan pendidikan seks kepada anak dianggap masih tabu atau asing di lingkungan masyarakat.
PENDIDIKAN INTELEKTUAL DALAM PERSPEKTIF ALI IBN ABI THALIB Islahudin Islahudin; Muhajir Muhajir
QATHRUNÂ Vol 8 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/qathruna.v8i1.4783

Abstract

This study aims to determine the intellectual education of Ali bin Abi Thalib. The research method uses data collection techniques in the form of studying and collecting data through reading materials sourced from primary books and secondary books related to the themes discussed. This type of research is qualitative with library research, namely collecting data or scientific papers from the library, and analyzing it with content analysis. The results of his research are that the purpose of education is to humanize humans and deliver them to true happiness (al-sa'adah al-abadiyah). The curriculum used is an educational curriculum that is not much different from the curriculum of the Prophet Muhammad. The educational method used is sima'ah, which is a method that emphasizes the listening dimension, siyahah, which is an observation method based on wandering experience and siyadah, is a method of instilling authority in the realm of leadership.
PANDANGAN ULAMA TENTANG JILBAB: TREND GAYA BUSANA DAN PERILAKU KEAGAMAAN SANTRI Iis Islahudin
QATHRUNÂ Vol 6 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/qathruna.v6i1.3951

Abstract

The purpose of this study is to explain the limits of the genitals of Muslim women and the headscarf from various perspectives of the views of the scholars, which are studied in multiple interpretations. Understanding the Muslim hijab is one of the knowledge that can be owned by every individual and is one of the knowledge that is considered important. By having an understanding of the veil and genitals, it is hoped that santriwati will be able to behave religiously in accordance with the Shari'a and their fashion styles in accordance with the rules determined by Islamic law. The research method used in this research study is a qualitative approach. The number of research respondents was 20 santriwati. The research location is in the Raudhatul Jannah Malingping Islamic Boarding School. Data collection used is through interviews, observation, and documentation study. Data analysis used is through triangulation of data which is then converted into a conclusion in the form of a proposition as the final form of qualitative study. The results of this study are that the scholars have different opinions about the limits of Muslim genitalia which have implications for the use of the hijab, the majority of scholars say that the hijab is mandatory with the boundaries of the face and palms visible, some scholars say that the face and palms are included in the genitals. . A small number of scholars say that the use of the headscarf is not mandatory, therefore the exposed hair, hands and feet can be seen because it is not part of the genitals for women. 1) the opinions of the scholars who oblige the veil are Ibn Abbas, Sayyid Qutb, Ibn Katsir, Wahbah Az-Zuhaili, and Yusuf Qaradhawi, 2) The opinions of scholars who do not require the hijab are Quraish Syihab, Nurkholis Madjid, Muhammad Sa'id Al-Asmawi, and Muhammad Shahrur.
IMPLEMENTASI NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM PAI Annisa Nur Awaliyah Amri; Ali Muhtarom
QATHRUNÂ Vol 8 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/qathruna.v8i1.4798

Abstract

The purpose of the study was to describe the findings of multicultural education values ​​contained in the 2017 PAI & Budi Pekerti textbook for high school level which can be applied at SMK Negeri 12 Kab. Tangerang. The formulation of the problem of this research is whether there is the value of multicultural education in the 2017 PAI & Budi Pekerti textbook at the high school level, and how to apply the value of multicultural education in SMK Negeri 2 Kab. Tangerang. This research is a field research using a qualitative approach with a qualitative descriptive type of research. The data and data sources in this study were obtained from the 2017 Islamic Religion and Morals Education subject book at the high school level. The results of the study are expected to provide an understanding of the importance of inculcating the values ​​of multicultural education in the 2017 PAI textbooks at SMK N 12 Kab. Tangerang. The results of the study show that: 1) The multicultural values ​​developed in the book are the values ​​of democracy, tolerance, gender equality, and justice. 2) Implementation of PAI learning that is integrated with multicultural values ​​is carried out through the preparation of lesson plans, learning processes and learning evaluations. 3) The implementation of the values ​​of multicultural education in the learning carried out by the teacher has been adjusted to the lesson plan, the steps taken by the teacher in the implementation of learning are: the value of democracy, the value of tolerance, and the value of justice.
BENARKAH TUHAN SESATKAN RIZKI MANUSIA Nana Suryapermana
QATHRUNÂ Vol 3 No 02 (2016): Juli-Desember 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuhan menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya. Manusia dituntut untuk wajib patuh dan mengabdi, dan menyembahnya dengan tulus ikhlas tanpa kecuali baik perempuan , mapun laki laki, baik yang sehat maupun yang sakit , bahkan mungkin yang sedang menghadap syakaratul mautpun jika bisa atas kehendak Tuhan diwajibkan terus mengabdi dan menyebah Tuhan dengan mengagugkan nama Tuhan, entah ibadah sholatnya dengan hati, dengan kedipan mata, dengan gerakan tangan saja atau hanya dengan menyebut nama Tuhan. Sebagai bukti, bahwa yang sedang syakaratul maut itu suka diajarkan ke telinganya Kalimat Lailahaillallah Muhammadarasullallah, ini pertanda bahwa manusia hingga mau di jemput ajalpun wajib mengingat dan menyembah kepada Allah. Oleh karena itu wajar saja jika Allah menurunkan ayat yang artinya: “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. ( Al-Quran : 56) “ Mungkin tidak berlebihan jika saya sampaikan pendapat seorang pakar pendidikan Islam tentang mengapa Allah menciptakan manusia. Akbar (1992 : 227 ) mengatakan bahwa “ Allah menciptakan manusia , karena Allah itu Esa, sebagai Yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa dan Dia menginginkan kesenangan dan keutuhan dari apa yang Dia cipta. Pernyataan ini sah – sah saja adanya, karena berdasarkan pemikiran dan keilmuannya. Bahkan siapapun memiliki hak untuk menyatakan dalam hal yang berbeda. Begitu juga menurut saya, bahwa Allah menciptakan manusia kedunia yang diawali dengan menciptakan Adam bukan saja harus beribadah semata seperti yang tercatat dalam ayat tersebut diatas, tetapi Allah menciptakan manusia itu hanya karena Allah ingin diakui oleh umatnnya bahwa Dia ada. Dia ingin semua makhluk yang ada di dunia ini mengakui eksistensiNya. Dia ingin manusia bahkan semua makhluknya mengagungkan namaNya. Ingin semua makhluk hidup yang ada dimuka bumi bahkan yang ada di alam ghaibpun turut menyembah dan memuji, lalu mensyukuri dan mengakui bahwa Dia ( Allah) itu ada dan berkuasa. Jika Dia tidak menciptakan mahluknya, siapa yang akan mengatakan bahwa Dia itu ada, Siapa yang akan menyembahNya.Jadi benar apa yang dikatakan Akbar ( 1992 : 56) , “ Allah ingin kesenangan dengan menciptakan manusia “. Artinya dengan menciptakan manusia dan segala isinya , maka Dia akan dipuji dan dipuja oleh makhluknya,oleh karena itu bagi yang memuji, mengagungkan dan menyembahNya dengan baik, maka dijanjikan berbagai macam kesenangan di Syurga dari mulai minuman, makanan, pakaian hingga bidadari yang selalu dalam keadaan Perawan sekalipun selalu dipakai/digauli dan tidak pernah merasakan Menstruasi ataupun Mencret (Zainuddin, MZ). Semua itu hadiah terbesar dan terdahsyat dari Allah. Allah merasa senang, karena makhluknya senantiasa memuji dan menyembahNya dengan keimanan dan ketaqwaan.
HUBUNGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN PENDIDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Budiman Budiman
QATHRUNÂ Vol 5 No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Kewarganegaraan memiliki sedikit kesamaan dalam hal tujuannya yaitu menanamkan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat dan bernegara serta budi pekerti atau akhlak yang luhur. Di samping menanamkan sikap budi pekerti yang luhur, Pendidikan Kewarganegaraan juga membentuk anak didik agar dapat memahami, mengamalkan dan melestarikan nilai-nilai Pancasila sehingga menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab mencakup pada dimensi pengetahuan kewarganegaraan, ketrampilan kewarganegaraan dan nilai-nilai kewarganegaraan. Sedangkan didalam Pendidikan Agama Islam, untuk kepentingan pendidikan dalam mencapai dan mengamalkan moral atau akhlak dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan melalui proses ijtihad, para ulama mengembangkan materi Pendidikan Agama Islam pada tingkat yang lebih rinci (Depdiknas, 2003:2). Akhlak dalam Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Kewarganegaraan mengandung unsur yang sama. Hal ini sesuai dengan sifat bangsa Indonesia yang religius sehingga moral Pancasila lebih banyak mengacu pada tatanan nilai yang ada dalam agama. Dengan demikian karena secara materiil atau kajian isinya merupakan pendidikan yang sama-sama berorientasi dalam membentuk peserta didik dan warga negara yang baik, beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan konstitusi dan falsafah bangsa Indonesia.
POTENSI DASAR MANUSIA MENURUT IBNU TAIMIYAH DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM Nandang Kosim; Lukman Syah
QATHRUNÂ Vol 3 No 01 (2016): Januari-Juni 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Basic human potential which is commonly referred to in the Qur'an nature scattered in 19 letters and 19 paragraphs. Forms of the word is the word fatara 18 times, said fatiru 6 times, said yatafattarna 2 times, and said infatarat, futur, munfatir, and the nature of each 1 times. Basic human potential in the view of Ibn Taymiyyah is the innate potential that exists within the human inborn. The basic potential to lead to good or things that are positive on the basis of instinct and tendency of monotheism, that instinct compliance and serve God without any polytheism. However, in the actualization and realization in real life tended to deviate from the purpose of human creation. The social environment, as represented by parents, which cause children to be Jews, Christians, and Zoroastrians. In addition, including the potential 'Aql, Ghadhab potential and the potential that lust in man. Implications their basic human potential according to the thinking of Ibn Taymiyyah, it could be easily directed at establishing Islamic educational philosophy that is more humanistic-teosentric which follow the flow of convergence. So the individual's personality is the result of a convergence between nature as the laws, namely nature, with the influence of the surrounding nature (the environment).

Page 3 of 13 | Total Record : 126